Apakah Disiplin Sama dengan Hukuman?

tired_mom.jpg Dalam kegiatan sehari-hari mendidik dan mengasuh anak kita seringkali berhadapan dengan berbagai perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Karena itu sering timbul dalam pemikiran untuk “mendisiplinkan” anak tersebut. Namun sayangnya banyak sekali orangtua tidak memahami benar apa makna disiplin yang sebenarnya. Orangtua dan pihak-pihak lain yang sering berurusan dengan anak gagal membedakan disiplin dengan hukuman.

Bahkan sejumlah kamus pun gagal melakukan pembedaan ini. Salah satunya adalah The New Oxford American Dictionary, kata dicipline (disiplin) didefinisikan sebagai “praktik melatih orang untuk mematuhi aturan dengan menggunakan hukuman untuk memperbaiki ketidakpatuhan”. Oleh karena itu tak heran dengan definisi semacam ini maka seringkali pendisiplinan dikaitkan dengan alat-alat yang dipakai untuk membuat para pelaku kejahatan jera : penyalahan, membuat malu dan bahkan hukuman fisik.

Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Anak kita adalah seorang murid bagi orangtuanya. Agar ini dapat terjadi maka sebagai orangtua kita selayaknya menjadi pemimpin yang berharga untuk dipatuhi dan diteladani oleh anak-anak kita.

Perbedaan mendasar antara disiplin dengan hukuman adalah :
• Hukuman mengajarkan suatu pelajaran melalui pemaksaan emosional atau kekerasan fisik, hukuman mungkin terlihat bisa menghentikan perilaku yang tidak diinginkan saat ini namun sudah pasti tidak mencegahnya terulang lagi di masa mendatang. Berdasarkan berbagai riset para pakar psikologi hukuman bukan cara yang efektif agar anak bertingkah laku baik untuk jangka panjang.
• Disiplin menggunakan kebijaksanaan untuk mengajarkan nilai-nilai yang memperlihatkan betapa seorang anak dapat menentukan sendiri pilihannya dengan baik sesuai dengan perkembangan emosinya saat itu. Oleh karena itu tak ada “cara yang benar “ yang bisa berfungsi sepanjang waktu untuk semua situasi

Saya jadi teringat dengan seorang klien kecil berusia 5 tahun, ia dikeluhkan oleh ayah dan ibunya sebagai anak yang susah diatur, sulit diberitahu, pemarah dan sukanya hanya main boneka dan menonton film.
Saat pertama kali melihat wajahnya di ruangan saya biasa menerima klien maka saya langsung tertarik dengan gadis kecil ini. Matanya berbinar menandakan kecerdasan dan senyumnya merekah menandakan keceriaan khas anak kecil. Saya tak yakin anak ini susah diatur dan sulit diajak bekerja sama seperti yang dikeluhkan orangtuanya.

Saya langsung menyapa kedua orangtuanya dan kemudian langsung mengalihkan perhatian padanya. Setelah berbincang santai dengannya beberapa saat saya mengirimnya ke dalam ruangan lain untuk bermain bersama dengan putera saya Fio dan Aldo. Dan sekarang saya hanya bertiga bersama kedua orangtuanya. Tak berapa lama saya mendapati kedua orangtuanya over-expectation (berpengharapan lebih) terhadap anaknya yang baru berusia 5 tahun.

“Saya ini sakit tenggorokan dan berusaha mencari cara agar sembuh sendiri tanpa ke dokter karena ingin menghemat biaya. Saya berusaha menjaga makanan yang masuk dan banyak minum air putih. Kemarin dia membuat saya jengkel sekali. Sudah tahu dirinya batuk ehhh …… malah makan es krim. Saya berkali-kali mengingatkan untuk menjaga makanannya namun ia tetap saja bandel. Ia harusnya mengerti bagaimana orangtua susah mencari uang. Kami sudah berulang kali menceritakan bagaimana kami bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup ehhhh ……… dia malah seenaknya saja dan tidak mau mengerti kesulitan orangtua. Akhirnya kemarin saya bentak dia dan saya katakan kalau ia lebih baik di luar saja tidak usah pulang rumah kalau hanya bisa menyulitkan orangtua saja” kata sang ayah menceritakan kejadian yang membuatnya sangat jengkel dengan puteri kecilnya.

Saya hanya bisa terdiam dan berusaha memahami jalan pikiran sang ayah yang lagi frustrasi di depan saya. Kemudian sang istri menanyakan pada sang suami, “Tapi kenapa kamu kemarin menawarkan es krim padanya walaupun sudah tahu bahwa ia batuk?”

“Lho saya kan berusaha mendisiplinkan dia. Saya mau tahu kalau dia lagi batuk seperti itu apakah dia bisa mengontrol diri atau tidak? Eh …… kok malah tidak mengerti kalau sedang dites!”

“Lho kamu ini gimana sih, lha si Ellen itu sukanya es krim kok malah kamu tawari. Kamu ini memang cari perkara kok. Kamu sendiri kemarin makan krupuk sama telor goreng walaupun kamu tahu kamu sedang batuk. Terus anakmu tanya kenapa makan gorengan kamu marah!”

“Lha gimana tidak marah. Ia anak kecil mau tahu urusan orangtua. Kan sudah tidak ada pilihan makanan lain di rumah. Ia harusnya mengerti dong kalau kamu sedang sibuk dan tidak sempat masak. Saya sebenarnya juga tidak ingin makan gorengan tapi terpaksa karena tidak ada makanan lain. Kalau saya sakit lebih parah kan yang susah juga seisi rumah”, kata sang suami menimpali.

Ketika mendengar jawaban dari ayah ini saya sebenarnya ingin tertawa tapi saya tahu itu tidak boleh. Saya hanya tersenyum kecil saja dan mencegah pertengkaran suami istri tersebut agar tidak meledak menjadi perang dunia di ruangan saya.

Jika Anda perhatikan sang ayah terlalu egois dan mau menang sendiri. Ia menetapkan peraturan yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Ia tidak memberikan si anak kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran diri sesuai dengan usianya. Itulah “aturan plastis” yang sering dibuat orangtua demi keuntungan dirinya. Aturan plastis itu seperti karet yang lentur. Kalau orangtua yang berbuat maka pasti ada penjelasan masuk akalnya dan anak dituntut mengerti penjelasan tersebut dengan keterbatasan cara berpikirnya tapi kalau anak yang berbuat maka ia pasti disalahkan tanpa mempertimbangkan hal lain.

Dari percakapan singkat itu saja kita tak perlu kuliah psikologi untuk tahu siapa penyebab masalah Ellen, yang menurut laporan orangtuanya, susah diatur. Bagaimana menurut Anda, pembaca?

Disiplin positif berarti bekerja dengan komunikasi yang baik, mendengarkan anak, mangamati anak dan menetapkan batasan yang jelas terhadap perilaku anak. Saat membangun sebuah komunikasi perhatikan tipe kepribadian dan bahasa cinta anak agar terhindar dari masalah yang lebih rumit karena pemaknaan yang kurang pas dari pihak anak. Materi detai tentang tipe kepribadian anak dan bahasa cinta bisa Anda pelajari dalam Parents Club Multimedia Course.

Inilah rencana tindakan umum yang bisa kita lakukan untuk membangun suatu situasi kondusif bagi terlaksananya disiplin positif :
1. Sosialisasi tindakan
• Sejak dini sosialisasikan apa yang hendak tuju ketika anak-anak itu bertumbuh dan berkembang. Hal ini tergantung dari persepsi yang dimiliki orangtua tentang berbagai aspek kehidupan. Secara bertahap sesuai dengan perkembangan mereka ajarkan kebaikan, pentingnya menghargai kebutuhan dan pendapat orang lain serta kasih sayang. Jangan menetapkan sesuatu tanpa sosialisasi terlebih dahulu karena akan mengagetkan anak.

2. Penetapan batas
• Kunci penting di sini adalah keberanian dan kesadaran diri orangtua. Ingatlah bahwa semua anak itu menguji batasan yang ditetapkan untuk dirinya, terutama pada anak yang masih kecil (ini mungkin terdengar agak menjengkelkan Anda, tapi itulah anak-anak). Hal itu menjadi bagian dari proses perkembangan mereka.
• Tips yang bisa berguna untuk Anda kembangkan adalah :
– Batasan yang ditetapkan harus adil
– Aturan yang dibuat harus beralasan dan sesuai dengan kemampuan anak
– Perintah yang diberikan harus jelas, positif dan tegas.

Perintah tidak jelas contohnya, “Mama mau kamu bersikap baik!”. Bagi seorang anak usia 6 tahun pun ini masih membingungkan. Ia tidak tahu maksud dari “baik” itu apa. Kata ini sangat relatif. Anda harus menjelaskan poin- poin yang Anda maksud dengan kata “baik”. Apakah yang Anda maksud meletakkan kembali mainan yang telah selesai digunakan atau mengucapkan terima kasih setiap menerima pemberian atau permisi jika hendak lewat di depan orang yang lebih tua atau apa lagi . ? Hal ini juga berlaku terhadap kata “sopan”. Seringkali orangtua mengatakan pada anaknya “Kamu harus sopan, Nak!” tanpa dibarengi dengan penjelasan dan batasan tentang kesopanan.

3. Beri kesempatan mereka mengalami akibat alami dari perbuatannya
• Ijinkan mereka menanggung akibat dari perilakunya jika mereka mencoba melanggarnya. Mereka akan belajar dari pengalaman buruknya. Yang penting setelah mereka mengalami akibatnya jangan diolok-olok. Olokan semacam, “Nah, rasakan sendiri akibatnya kalau tidak mau menurut Papa/Mama!”, malah akan menimbulkan kesedihan mendalam dan bahkan luka batin dalam diri anak kita. Cukup katakan,” Mama / papa ikut sedih kamu mengalami hal ini. Apa yang bisa kamu pelajari dari hal ini agar lain kali kamu bisa lebih baik lagi? Bagaimana Mama/ Papa membantumu agar lain kali tidak terulang lagi?”, setelah itu jika perlu peluklah dirinya untuk membuatnya tetap merasa aman dan diterima apa adanya.

4. Penghargaan
• Dekapan dan ciuman selalu merupakan sebuah penghargaan besar bagi seorang anak. Penghargaan berupa hadiah secara perlahan perlu Anda gantikan dengan perhatian positif saat perilakunya mengalami kemajuan. Kita harus waspada terhadap situasi ketika anak-anak hanya akan melakukan sesuatu demi mendapatkan penghargaan. Untuk hal ini Andalah yang tahu batasannya berdasarkan kepekaan yang Anda kembangkan sendiri.

5. Otoritas
• Tegakkan otoritas Anda sebagai orangtua pada saat yang tepat. Gunakan bahasa tubuh dan intonasi suara yang tepat pada saat yang tepat pula untuk menunjukkan bahwa Anda serius dengan ucapan Anda. Ingatlah selalu “seorang anak senantiasa menguji batasan terhadap dirinya dengan perilakunya”

21 thoughts on “Apakah Disiplin Sama dengan Hukuman?”

  1. Wiwin Nuryati

    Saya sangat tertarik dengan penjabaran2 yang bapak buat, saya sebagai seorang ibu sangat terkesan sekali. Memang kadang kita sebagai orang tua terutama kaum ibu kurang sabar mengahadapi kebandelan2 anak kita, sampai kita kadang tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapinya ujung2nya pukul/cubitan yang akan kita lakukan.
    Dengan membaca artikel ini saya baru tahu/dapat memahami bagaimana cara menghadapi anak yang baru berkembang, saya punya anak 3 yang pertama kembar sudah umur 10 tahun 1 laki2 baru 1 tahun, kebandelan anak laki2 itu jauh berbeda dengan perempuan ternyata ya pak baru 1thn aja kita udah mulai kewalahan menghadapinya. Sekali lagi saya sangat bersyukur bisa membaca artikel ini terima kasih banyak.

  2. Dear Ibu Wiwin,
    Pernyataan Ibu saya percayai mewakili perasaan ibu-ibu lain di seluruh Indonesia. Memang jika kita tak tahu harus bagaimana menghadapi anak-anak maka kita akan frustrasi dan akhirnya tindakan fisik yang akan kita ambil. Semoga artikel yang kami sediakan di web ini bisa membantu banyak orangtua walaupun dengan ruang terbatas. Oleh karena itu kami minta bantuan Anda untuk menyebarkan informasi tentang web ini ke seluruh rekan orangtua yang Anda kenal agar mereka pun memperoleh manfaat sehingga bangsa ini bisa menjadi lebih baik di generasi berikutnya. Setuju? Nantikan artikel berikutnya yang lebih seru lagi! Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga dari team SekolahOrangtua.com

  3. Terima kasih pak untuk artikelnya. Baru pertama kali saya menghukum anak saya (usia 10) tahun karena tidak berani memberitahu saya tentang perbuatan dia di sekolahnya yang mendapatkan hukuman dari gurunya. saya sangat menyesal sudah mencubit dia sampai biru, walaupun sesudahnya saya obatin juga.

    setelah saya membaca artikel di atas, saya tahu saya yang salah tidak memberikan perhatian yg cukup kepada anak saya. saya membiarkan dia sendiri seolah olah dia sudah paham apa yang harusnya dia perbuat untuk dirinya.

    Seharusnya saya memberikan dia perhatian dan teladan.

    Terima kasih sekali lagi pak.

  4. yth pak aries

    artikel bapak sangat berguna sekali dalam membuka pikiran saya. Saya ingin konsultasi masalah terkait dengan diri saya dan kehidupan keluarga Saya. Saya adalah Ayah dari 2 putra (8 dan 6 tahun). Saya juga punya pekerjaan tetap yang cukup bagus dan penghasilan yang sangat memadai. Permasalahan saya adalah terkait dengan kebiasaan saya yang memberikan hukuman fisik (memukul pantat) anak saya (terutama yang pertama) apabila anak saya ini melakukan ‘kenakalan’ yang (menurut saya) sudah teralu, misalnya menjahili adiknya. Hal ini seringkali terjadi, namun setelah ‘memberikan hukuman’ tersebut saya menjadi sedih dan seringkali menangis (saat tafakur sendirian ataupun saat sholat). Bahkan sering berhari-hari masih teringat dengan kejadian tersebut. Seringkali saya punya komitmen untuk tidak memberikan hukuman fisik ataupun suara keras kepada anak-anak saya, namun tatkala emosional masih saja secara refleks melakukan lagi… duh sedih rasanya. Saya sudah mengerti/faham dari sejak masih bujangan dulu bahwa memberikan hukuman fisik/keras kepada anak akan memberikan luka bathin (dan lahir) kepada anak-anak. Puncaknya, beberapa waktu lalu saya menghukum kedua anak saya dan kejadian ini semakin menguatkan komitmen saya untuk BERHENTI dari kebiasaan yang tidak baik tersebut. Mohon Bapak berkenan memberikan nasihat yang implementatif untuk: 1. Saya lebih bisa mengkontrol emosi saat melihat “kenakalan” anak, sehingga tidak mudah memberikan hukuman fisik atau bertindak kasar kepada buah hati saya tersebut. 2. Bagaimana memulihkan trauma psikis yang dialami anak saya terkait dengan kelakuan saya tersebut, mengingat mereka sudah “relatif lama” mengalaminya. Sebagai tambahan informasi, saat saya masih kecil (sampai beranjak remaja) seringkali menerima hukuman fisik yang (menurut saya) “sangat keras” dari ayah saya, misalkan saat SMP saya pernah dipukul menggunakan balok bambu yang ada pakunya sehingga tangan saya berdarah-darah, belum lagi tempelengan yang mampir di kepala saya (Catatan: saya anak pertama laki-2 dari 3 bersaudara). Memang sih, kalo dibandingkan dengan kekerasan saya terhadap anak-anak saya, memang masih jauh namun saya sudah sangat bersalah dengan kebiasaan saya tersebut. Informasi juga, bahwa biasanya anak-anak sangat saya sayangi dan cukup dekat bahkan mereka seringkali mengekspresikan kepada saya. Besar harapan saya untuk mendapatkan jawaban dari Bapak sehingga saya kembali bisa mendidik anak-anak saya dengan baik.

    Terima kasih atas jawabanya

    M. Adhi

  5. utami wildan octaviani

    Ass…!!
    pak ariesandi,saya ingin menanyakan bagai mana cara mengetahui tingkat kesadaran dan keterpaksaan santri terhadap pelaksanaan disiplin?? dan bagai mana cara menemukan solusi terbaik? jalan apa dulu yang harus di ambil?????
    terima kasih atas perhatiannya.dan saya mohon bantuannya.
    wasss!!!

  6. Pak… bagaimana cara menangani anak yang menolak diberikan TIME OUT atau GROUNDED PUNISHMENT. Saya berusaha untuk tidak lagi memakai hukuman fisik atau bentakan. Karena efek negatifnya langsung terlihat pada diri anak saya saat disekolah. Harus dengan disiplin yang bagaimana lagi agar dia mau dengar kata-kata saya. Terima kasih.

  7. Dear pak Aries,
    membaca artikel bapak membuat sy sedih krn ingat bgmn dulu saya sering ‘mendisiplinkan’ anak pertama sy (laki2, sekarang 13 th) dengan beberapa hukuman , fisik atau verbal, yg mungkin melukai hatinya. Meskipun di bbrp kesempatan sy sudah minta maaf padanya, ttp skrng kalo dia emosi, seringkali dia tdk bisa mengendalikan diri shg terjadi ‘ledakan dahsyat’. Sy sedih sekali dan ingin menyembuhkan luka hatinya. Bagaimana caranya ya, pak? Apa perlu dengan terapi khusus? Sy tinggal di Jogjakarta. Apa ada cara yg bisa bapak rekomend? Sbg tambahan, anak sy tsb berprestasi bagus di sklh (waktu SD selalu ranking I, meskipun sekarang – SMP kl VII agak menurun, kondisi ksehatannya kurang bagus, dia sering sakit, cenderung pemalu dan tertutup, jg perfeksionis) Saya benar2 mohon bantuan bapak. TK!

  8. Dear pak Aris. artikel bpk bermanfaat sekali buat saya. Saya seorang guru TK yang punya anak didik bikin kelas sering heboh dan gurunya kesal. saya sempat ngobrol sama ibu anak dan ternyata ibunya ngeluh dgn sikap anaknya yang sama di rumah. Ibunya tanya bagaimana biar anaknya bisa lebih mudah diatur dan disilpin. Sang ibu sering menghukum dgan fisik dan melabelisasi negatif pada anak. Sampai bingung apa lagi yg mesti dilkukan untuk merubah perilaku anak. Melalui artiklel ini saya jadi tahu tips yang bisa saya berikan buat ibu tersebut. semoga berhasil menyadarkan sang ibu dan merubah perilaku anak menjdi lebih baik.

  9. Dear Pak Aries,
    ktika 2 anak saya lulus sd, saya sekolahkan diluar kota dan mereka tinggal dgn tantenya.saya tidak pernah melakukan hukuman fisik thd anak2 saya seperti yang Bpk jabarkan.tetapi tindakan saya itu saya sesalkan sekarang karena pada saat mrk tinggal dgn tantenya, ternyata mrk mendapat perlakuan hukuman fisik.salah satunya dikurung di kamar mandi.kebetulan anak saya tersebut phobia kecoa.anak saya sampe memukul tembok sbg pelampiasan ketidak puasannya atau mungkin ingin membalas tapi tidak berani jadi tembok yang jadi sasarannya.kebetulan anak saya laki.kakaknya perempuan sampai telpon saya secara sembunyi2 menceritakan hal tersebut dan menyarankan kepada saya untuk membawa pulang adiknya saja.
    Yang ingin saya tanyakan;
    1. apakah tindakan saya menitipkan anak saya ke tantenya adalah salah satu dari hukuman fisik?
    2. kalo ‘ya’ bgm saya harus menyembuhkannya?(karena anak saya tersebut akg sudah umur 26 thn dan 2 bulan lagi akan menikah)
    3. bgm jg menyembuhkan trauma fisik yg dilakukan tantenya?saya tahu bhw hal tersebut dpt dilakukan dgn hypnotherapy, tapi apakah org tua sdri bisa melakukannya terhadap anak sdri?
    Saran Bpk sangat saya harapkan karena saya tidak menginginkan anak saya akan berbuat hal yang sama thd anak2nya kelak
    Terimakasih

  10. Pak Aries Yth.
    Sy ibu rmh tgga dengn 3 org anak 2 laki2 dan si bungsu perempuan usia 4,6 dan 9 thn.
    Bagaimana cara efektif dan benar dalam menghukum anak , apabila mereka melakukan suatu tindakan yg membahayakan saudaranya. Seperti misalnya ketika anak sy yg berusia 6 thn sdg belajar lalu diganggu oleh adiknya, krn dia sedang memegang pensil maka dia langsung saja menusukkan pensil tersebut ke tangan adiknya, untung saja hanya sedikit tergores atau dia pernah sambil bercanda hampir saja menginjak perut adiknya untung saja adiknya langsung barguling sehingga tdk sampai terinjak perutnya, saya melihat sendiri semua kejadian tersebut yg berlangsung begitu cepat.

    Atau anak saya yg berusia 9 thn menakali adiknya, krn tindakannya berbahaya secara otomatis sy sentil telinganya tp tdk keras pak, hanya ingin menegaskan pada anak sy kalau sy marah dan tindakannya salah. Tetapi dia bukannya menyesal malah balik berusaha menyentil telinga saya.. Duuh rasanya saya ingin marah sekali sekaligus ingin menangis.. Kenapa anak saya berani melawan seperti itu ya pak. Kadang kalau dia nakal sy langsung beri hukuman tdk boleh manonton tv atau tdk boleh main game, tetapi dia malah marah2, masuk kamar dan menutup pintu keras2 lalu ngambek tidak mau makan atau tdk mau belajar. Bagaimana saya harus bersikap pak .
    Sungguh waktu saya kecil kalau dimarahi orang tua krn bersalah pasti saya akan menunduk dan diam. Mengapa anak sekarang ( menurut crita teman2 sy juga) cenderung lebih berani melawan ortu. Tetapi mereka begitu takut kalau dimarahi guru di sekolah. Mohon masukan yg berarti buat saya dan suami pak, trima kasih banyak.

  11. dear Ibu Indri,
    Kasus yang terjadi pda anak Ibu juga terjadi pada anak jaman dulu – hanya saja tak terekspose. Mengapa anak sekarang cenderung lebih berani melwan orangtua? Yang jelas yang salah bukan anaknya tapi ortunya. Bagaimana cara mendidiknya kok sampai anaknya berani melawan.

    Salah satu perbedaan besar antara jaman dulu dan sekarang adalah situasi perekonomian dan perubahan teknologi. Orangtua jaman dulu bisa relatif lebih memerhatikan anak dan relatif tidak stress. Orangtua jaman sekarang relatif sibuk dengan dirinya sendiri mengutak-atik HP, chatting dan berfacebook ria sehingga anaknya kurang diperhatikan kebutuhan emosionalnya.

    Ingatlah bahwa perilaku anak adalah cerminan dari apa yang diperolehnya dari orangtua. Hal yang mendasar untuk dipenuhi dalam diri anak (dan juga orang dewasa) adalah kebutuhan emosi.

    BAgaimana kita melakukannya? Salah satunya adalah dengan mengisi tangki cintanya. Silakan Ibu pelajari DVD Tangki CInta Anak yang bisa dibeli di web sekolahorangtua.com atau silakan baca tentang hal ini lebih dalam lagi di buku saya “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”

    salam hangat
    ariesandi

  12. Saya sangat beruntung dapat mengetahui artikel ini, karena ternyata selama ini saya banyak sekali melakukan kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak. Saya punya anak 2, yang pertama perempuan berusia 9 tahun dan yang ke 2 laki-laki berusia 9 bulan. Anak perempuan saya ini saya rasakan kurang ajar akhir-akhir ini ditambah lagi lebih sering berbohong, ya akhirnya sering kena bentak dan kadang-kadang saya pukul atau saya cubit untuk upahnya atas kelakuannya. Namun dengan membaca artikel diatas saya menjadi intropeksi diri, hal ini tentunya untuk kebaikan anak saya. saya yakin belum terlambat untuk melakukan perubahan cara saya pada anak perempuan saya, dan tentunya untuk si kecil.
    Sekali lagi terimakasih untuk artikelnya

  13. Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog.

    Halo Ibu Zainab,
    Sungguh beruntung anak-anak ibu, memiliki ibu yang mau menyadari kesalahannya dan mau belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

    Selamat mencoba ibu.

  14. Artikelnya bagus Pak…. Saya baru saja merasakan penyesalan yang luar biasa ketika pagi ini saya melihat paha anak saya (cewek 4 th) biru krn saya cubit kemarin ketika dia bertingkah di mall menangis teriak2 sampai semua melihat ke kami. Sambil saya gendong dia, saya cubit pantatnya berapa kali dengan kerasnya dan sampai di mobil saya pukul juga pantatnya dengan keras… Setelah di rumah saya hukumlagi dia dengan memasukkan dia ke kamar mandi..
    Pak, mohon bagaimana caranya mendidik anak tanpa menghukum secara fisik..Apakah mengurung di kamar mandi salah?
    Saya benar2 menyesal dan mohon ampun sama Tuhan..Rasanya saya spt penganiaya yang jahat sekali…
    Mohon Pak masukannya…

  15. Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog.

    Ibu Sari yang baik,

    Memang ketika kejengkelan dalam diri kita sudah menguasai hati kita, kita akan dengan mudah menumpahkan kejengkelan itu pada orang lain, entah dengan omelan atau melalui fisik.

    Amarah ini memiliki akar masalah sebelumnya. Penyebab akar masalah ini bisa karena pengalaman pengasuhan yang pernah dialami dimasa lalu atau perasaan negatif dalam diri misalnya malu, takut yang dialihkan pada orang lain. Akar masalah inilah yang harus dibereskan agar kita tidak mudah terpicu oleh hal-hal yang tidak perlu direaksi sedemikian keras.
    Untuk mengantisipasi amarah ini, ibu bisa menerapi diri sendiri dengan mendengarkan CD mengatasi Emosi Negatif dalam Mendidik Anak.
    Atau jika akar masalahnya terlalu dalam dan berkonflik maka ibu membutuhkan terapis profesional untuk menetralisirnya.

    Hal lain yang bisa ibu lakukan adalah selalu mendengarkan anak. Terkadang anak mengkomunikasikan sesuatu kepada kita namun kita tidak menyadarinya. Hingga di satu titik, anak sudah capek karena orangtua tidak menyadari keinginannya, si anak meledak dengan bertingkah laku menyebalkan. Jika ibu mengalami hal serupa, coba ibu cek keadaan fisik anak.
    APakah ia kelelahan, menginginkan sesuatu, atau ia sedang bad mood.
    Pahami keinginan anak itu dan arahkan agar lebih adaptif dalam pemenuhannya.

    Sebenarnya, bahan ini merupakan materi yang dibahas di SUper Family Class. JIka ibu ingin tahu lebih detil, mari bergabung di SFC karena rubrik ini tidak akan cukup untuk menjelaskan semuanya.
    Selain itu, di SFC, ibu juga akan diterapi menggunakan ICT yang akan menetralisir emosi-emosi negatif yang biasanya ada dalam pengasuhan.

    Yuk gabung dengan para orangtua lainnya ya.

  16. Dear Pak Aries,
    Terima kasih untuk kiriman artikelnya, artikel ini sangat membantu dan membuka wawasan saya untuk mengetahui lebih jauh arti disiplin, sehingga saya dapat membimbing anak-anak dalam hal disiplin.
    Saya mempunyai 2 anak (laki-laki & perempuan) yang berumur 9, 7 tahun yang masih perlu sekali dibantu dalam mendisiplinkan diri.

  17. tanya dunk pa Aries… untuk baby usia 6 bulan, apa sudah bisa diajak disiplin?
    konkretnya seperti apa ya? trims.

  18. Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog.

    Ibu Ifa yang baik,

    Untuk usia 6 bulan yang bisa ibu lakukan adalah membentuk pondasi disiplin terlebih dahulu yaitu rasa saling percaya antara ibu dan anak.

    Disiplin bisa diterapkan jika anak sudah memahami arti perkataan seseorang dan bisa diajak untuk berdiskusi.

    Jadi yang perlu ibu lakukan adalah membangun kepercayaan terlebih dahulu. Untuk usia 6 bulan lakukan dengan memberikan jadwal teratur dalam hal makan, minum, mandi (kebutuhan fisik anak) dan berikan pula respon yang konsisten, tidak menampakkan wajah terpaksa ketika harus mengganti popoknya.
    Hal terpenting lainnya adalah membangun rasa aman dalam diri anak bahwa dirinya adalah anak yang diinginkan dan disayangi.

    Semoga bisa membantu

  19. Selamat pagi bu Sandra, sy tidak tahu di mana saya harus tulis pertanyaan ini, jadi saya tulis di sini saja ya bu walaupun tidak ada kaitannya dengan artikel ini
    Sy mempunyai putri yang berusia 4 tahun, dia seringkali mengimajinasikan sesuatu yang tidak terjadi, misalnya: jika dia meminta susu, terkadang istri saya yang membuatkan, terkadang saya juga membuatkan..tapi jika putri saya ingin saya yg membuatkan tapi sudah terlanjur istri saya yang membuatkan maka ia akan mengatakan : ” tadi papi yang membuatkan susunya” padahal realitanya adalah mamanya yg membuatkan susunya.
    contoh lain: jika ia mau masuk kamar bersamaan dengan saya atau istri, tapi terkadang kami sudah terlebih dahulu menutup pintunya sehingga putri kami harus membuka pintu sendiri, dia akan mengatakan ” tadi Shannon masuk dengan papi atau mami” padahal realitanya dia membuka pintu sendiri dan masuk sendiri (tidak bersamaan dengan kami).
    Pertanyaan kami: apakah hal ini tidak bermasalah dengan perkembangan psikologis atau dari sisi lain bu ? karena kami kuatir dengan kebiasaannya ini, jika berbahaya kelak apakah ada cara untuk menghilangkannya secara permanen ? Mohon nasihatnya bu Sandra..atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.

Comments are closed.