Kategori: Relationship

  • “A. P. A. Method” Kunci Membangun Strong Relationship

    Lebih daripada IQ, Kesadaran dan Kemampuan Emosional menangani perasaan / emosi akan menentukan Keberhasilan dan Kebahagiaan dalam segala jalur kehidupan…

    John Gottman, Ph.D

    Belajar mengekspresikan, merasakan, dan melepaskan emosi negatif merupakan kemahiran penting yang dibutuhkan setiap anak untuk belajar.

    Cara ini membangkitkan potensi kreatif dalam diri anak dan mempersiapkan dia untuk menghadapi tantangan hidup dengan berhasil…

    John Gray, Ph. D

    Suatu hari, seorang ibu datang bersama temannya untuk mengkonsultasikan putranya, yang kurang lebih berusia 9 tahun. Dengan raut wajah yang terkesan lelah, sebut saja nama ibu tersebut dengan ibu Dina. Ibu Dina menceritakan permasalahan antara ia dan anaknya.

    Bu Dina merasa frustasi dengan sikap anaknya yang sudah berani melawannya. Dan seringkali terkesan mencari cara untuk membuat ibunya ini marah. Bu Dina merasa sudah mencoba berbagai macam cara untuk “mengendalikan” anaknya, sebut saja namanya Andre, tapi semua itu seakan-akan sia-sia. “Bukannya semakin “takut” dengan saya tapi semakin berani dan meningkat sikap melawannya” kata bu Dina.

    Pada kasus lain, sebut saja klien kami bernama Shelly. Ia menceritakan kalau selama ini ia merasa tidak memiliki keberanian untuk mengambil satu keputusan, ia merasa sering ragu-ragu.

    Sikap seperti ini sebenarnya sudah ia rasakan sejak kecil. Ia selalu takut untuk berbuat salah, karena kalau melakukan kesalahan baik yang sudah ia ketahui ataupun belum, maka orangtuanya selalu memarahinya dan tak jarang sambil memukulnya. Kalau sudah seperti itu, ia jadi sangat takut dan bersikap “menerima”. Maka untuk menghindari amarah dan pukulan dari orangtuanya, Shelly memutuskan dirinya untuk tidak banyak “berulah”. Supaya mendapat kesan “anak baik” dimata orangtuanya. Dan, ternyata orangtuanya memang benar-benar menganggapnya “anak baik“.

    Dua contoh kasus diatas, sering kami jumpai di ruang konseling. Ada dua kondisi dari dua sikap yang berbeda dari anak-anak menanggapi sikap orangtua mereka.

    Apakah bapak/ibu sering juga menjumpai kondisi seperti itu di keluarga saudara atau teman Anda ? atau Apakah hal ini juga terjadi di rumah Anda ?

    Semakin kita marah, bukannya semakin membaik tapi semakin menjadi-jadi ulah / kenakalannya. Atau anaknya menjadi anak yang sangatpendiam”, “penurut”.

    Menengok Ke Dalam

    Mari kita lihat permasalahan yang terjadi dengan sudut pandang lebih dalam. Coba kita perhatikan ketika anak kita masih bayi, untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, ia melakukan “sesuatu yang menarik perhatian” kita. Saat itu kita mau mengerti tindakan bayi kita itu dengan pengertian bahwa bayi kita “membutuhkan” sesuatu.

    Mengapa saat itu kita mau mengerti dengan sikapnya ? karena kita beranggapan bahwa mereka masih bayi dan masih belum bisa mengutarakan keinginannya dengan kata-kata yang tepat. Saat itu, kita mau memakluminya, seakan-akan kita adalah orangtua yang “penuh pengertian“.

    Seiring dengan bertambahnya usia ditambah dengan sudah sekolah, kita beranggapan / berasumsi, bahwa “bayi kita” yang sudah tumbuh jadi anak-anak itu “seharusnya“ sudah tahu dan mengerti, kalau menginginkan atau membutuhkan sesuatu, harus disampaikan dengan komunikasi yang baik, yaitu dengan mengatakannya.

    Sehingga ketika “bayi kita” yang sudah tumbuh jadi anak-anak itu melakukan tindakan “nakal” maka kita berasumsi / beranggapan kalau anak kita itu anak nakal / menantang kita / sudah menyimpang / anak yang tidak mau mengerti orangtua / sengaja membuat kita marah dll. Maka umumnya orangtua akan mengambil tindakan represif ( memberi tekanan, hukuman dll ), saya percaya orangtua yang di sini tidak ada…………………………..”tidak ada bedanya”, no no no, sekedar joke ok, supaya Anda tidak tegang.

    Ketika kita mengambil tindakan represif, maka anak akan mengambil 2 macam sikap, yaitu: – Melawan – Menurut

    Ketika kita melakukan tindakan represif, anak kita menjadi bingung dengan tindakan kita. Mengapa ? Karena ada perbedaan dan perubahan perilaku kita ketika menghadapi perilaku nakal mereka.

    Saat itu, anak berpikir bahwa orangtuanya pasti mau dan bisa memperhatikan, mengerti, memahami kebutuhannya seperti ketika mereka masih bayi, ketika mereka masih belum paham bagaimana mengungkapkan kebutuhan mereka. Tapi… yang terjadi adalah sebaliknya. Orangtua malah bersikap represif dalam menanggapi perilaku nakal yang mereka tunjukkan. Bagi anak-anak, ini adalah suatu perubahan dan kejadian yang membingungkan.

    Mengapa hal diatas bisa terjadi ? Apa benar, bahwa anak-anak itu, tidak tahu harus bagaimana mengutarakan kebutuhan emosinya ?

    Kalau mau tahu jawaban yang sesungguhnya, mudah sekali. Coba kita cek ke dalam diri kita yang terdalam, sejujurnya apakah para orangtua pembaca rutin mengajarkan, memberi contoh kepada anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya ?

    Ketika kita jarang apalagi hampir tidak pernah melatih anak-anak untuk mengungkapkan perasaan, maka sudah dapat dipastikan anak-anak tidak akan bisa mengungkapkan kebutuhan perasaannya.

    Yang terjadi di sini adalah salah mempersepsikan ( persepsi=resiko salah tinggi ). Yang sering terjadi, ketika anak-anak “berulah” sesungguhnya mereka sedang mengkomunikasikan perasaannya. Perasaannya membutuhkan sesuatu dari orangtuanya.

    Misal saja, ketika perasaan anak sedang membutuhkan pengakuan, tapi reaksi yang diberikan orangtuanya adaah amarah. Maka jelas disini ada ketidakcocokan antara kebutuhan dan pemenuhannya. Ketidakpasan inilah yang menyebabkan anak-anak menjadi semakin “berulah”. Melihat hal ini, orangtua semakin beranggapan, kalau anaknya semakin nakal/membangkang dst, dst… tak ada selesainya.

    Di sisi lain, anak-anak beranggapan orangtuanya tidak cinta pada mereka, mereka merasa tidak nyaman, tidak aman dengan orangtuanya, orangtua tidak mengerti mereka dst dst…..

    Apakah benar para orangtua terkasih ?

    Keluarga Harmonis

    Apa dan bagaimana Keluarga Harmonis itu ? Ketika, orangtua menyadari peran dan tanggungjawab terhadap diri sendiri dan anak-anak, secara fisik dan mental serta hubungan keduanya, maka terciptalah satu hubungan yang laras, yang seimbang, itulah Kondisi Harmonis.

    Saya memiliki contoh, yaitu Kel. Bpk. Ariesandi Setiono ( Founder SekolahOrangtua ), kebetulan saya mengenal keluarga ini dengan baik. Keluarga pak Aries beranggotakan 5 orang, suami-istri dan 3 orang anak. Sejak dini, keluarga pak Aries mengajarkan keterbukaan dan penerimaan total untuk semua anggota keluarganya. Sehingga komunikasi yang terjadi berjalan sangat baik. Masing-masing keunikan anggota keluarga dipahami dan diterima apa adanya. Peran orangtua bukan penguasa namun sebagai Pelatih Kesuksesan bagi anak-anaknya. Perbedaan bukan dipandang sebagai penghambat jalannya sistem keluarga, justru dipandang sebagai kekayaan keluarga. Jadinya, keluarga ini merasa kaya. Seiring waktu, kondisi ini tidak saja membuat para anggota keluarga semakin erat / kompak tapi kemakmuran-nya pun berkembang dengan sangat baik sekali. Inilah yang saya maksudkan sebagai Keluarga yang Seimbang ( Harmonis )….Mau….???

    The Way of Success Family Principles

    Untuk mencapai apa yang kita inginkan, secara garis besar ada 2 sumber yang kita butuhkan, yaitu :

    1. Sumber Dalam ( Internal Resources )
    2. Sumber Luar ( External Resources )

    Pengalaman saya di lapangan, saya lebih banyak menjumpai orang yang berpikir, bahwa untuk meraih impiannya ( Success Family ), maka yang paling penting adalah memiliki skill yang mampu “ menguasai / mengontrol “ orang lain ( pasangan / anak-anak ).

    Fokusnya lebih pada peningkatan “ Kemampuan External “, karena sebagian besar orang berpikir, bahwa dengan memiliki skill yang mampu mengontrol seseorang maka, mereka dengan mudah meraih apa yang diinginkan.

    Idealnya untuk meraih apa yang kita inginkan ( tak terkecuali Keluarga Harmonis ), dibutuhkan Kesimbangan, Kekuatan Internal dan External diri kita.

    7 Principles Success Family

    1. Kesadaran Pribadi
    2. Tanggung Jawab
    3. Visi – Misi Keluarga
    4. Komunikasi Efektif
    5. Relationship
    6. Keuangan
    7. Family Coach

    Dalam artikel saya kali ini, saya hanya menyinggung perihal Membangun Relasi yang kuat / erat ( Prinsip 5 ) khususnya antara orangtua dan anak.

    Salah satu syarat terciptanya Strong Relationship adalah Penerimaan Total.

    Penerimaan Total artinya kita mau memahami dan menerima perbedaan antar pribadi. Dan perbedaan itu dianggap sebagai sebuah karunia alam semesta untuk saling mendukung dan melengkapi untuk tercapainya sebuah Kesuksesan Besar ( Keluarga ).

    Untuk itu, kita perlu melihat kedalam diri kita sendiri, seperti apa Karakter kita, seperti apa Gaya / Style Komunikasi kita dan seperti apa Bahasa Cinta kita. Dan kita juga perlu mengetahui dan memahami milik anggota keluarga kita.

    Apabila kita sudah sampai pada tahap itu, maka kita akan mudah untuk saling mengerti, saling memahami dan saling mendukung. Dan kita telah menghilangkan satu penghambat besar terwujudnya Keluarga Harmonis.

    Ketika salah satu anggota keluarga, misal anak, bersikap “nakal / berulah”, maka kita bisa lebih menahan diri untuk mau melihat lebih jauh dibalik kenakalannya. Disana kita akan menemukan dengan lebih jelas, apa yang sesungguhnya ia butuhkan ? Apakah mungkin “Tangki Cinta”nya lagi kosong ? dll. Dengan mengetahui lebih jelas dan pasti ( bukannya menduga-duga / ber-persepsi ) maka, anak akan merasa dirinya Aman, diCintai tanpa syarat dan diAkui ( 3 Kebutuhan Utama Manusia ). Dengan diisinya Kebutuhan Dasar ini, maka bukan saja masalah lebih cepat diatasi, yang lebih penting adalah anak akan tumbuh dengan emosi yang sehat. Hal ini jelas sangat bermanfaat untuk perkembangan potensi diri anak. Anak lebih yakin dengan masa depannya dan lebih simple untuk meraih kesuksesan.

    First Step to Harmony Relationship

    1. Munculkan state mau mendengar dan mengerti
    2. Ajukan APA :

    Akui Perasaannya, contoh : Ketika anak berulah, kita bisa minta dia untuk tenang terlebih dulu, dengan mengatakan, “John…, papa/mama minta kamu untuk tenang, kamu mau kan ?”…. ”Kamu ingin papa/mama bisa mengerti apa yang kamu inginkan, iya kan ? “…. “Ok, kamu sekarang tenang dulu….. dan papa/mama siap mendengar, agar bisa mengerti apa yang kamu rasakan dan butuhkan “…. ( pada tahap ini, anak merasa dirinya dimengerti dan aman emosinya )

    Pahami Perasaannya, dengan mau mendengar dan mengerti apa yang dirasakan dan dibutuhkan anak, maka kita bisa memahami perasaan anak kita. Munculkan rasa empati. Katakan pada anak… ”Ok John, papa/mama bisa memahami apa yang sedang kamu alami ini. Ketika papa/mama mengalami masalah seperti itu, bisa jadi papa/mama akan merasakan seperti apa yang kamu rasakan saat ini… ( pada tahap ini, anak akan jauh lebih tenang dan jauh lebih terbuka dengan orangtua. Ia merasa dirinya dipahami / diterima )

    Arahkan Dirinya, dengan mau mengakui dan memahami apa yang dirasakan anak, maka anak dengan senang hati dan terbuka untuk menerima arahan Anda sebagai orangtuanya. “Ok John, agar lain waktu kamu bisa mendapatkan apa yang kamu ingin rasakan maka kamu bisa melakukan …………( isinya saran Anda ), ok…apakah ini cukup jelas bagi kamu ?… “Bagaimana perasaanmu sekarang ?… Ok, apakah kamu merasa jauh lebih nyaman / enak ?… Apakah perasaan seperti ini yang kamu inginkan ?… Benar, seperti ini yang kamu inginkan ?… Ok John, papa/mama yakin kamu semakin hari semakin hebat… Tutup dengan pelukan hangat, penuh kasih sayang

    Silahkan dicoba untuk dibuktikan Metode yang simple dan efektif ini. Bila Anda merasa sharing artikel ini bermanfaat, apalagi kalau Anda merasakan langsung manfaatnya ( terbukti ), maukah Anda sampaikan dan beritahukan ke saudara ataupun teman-teman Anda ?

    Thank U, Salam hangat, Hemmarata, Succes Coach

  • Seminar Semarang: Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi

    Seminar Semarang:
    Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi

    thumb super parenting smg 26 sept 10

    Klik Gambar Untuk Memperbesar

    Orangtua, pernahkah Anda mengalami hal berikut:

    • Anak Anda lebih suka main video game daripada belajar?
    • Anda sering kali harus memaksa dan mengingatkan anak untuk belajar?
    • Anak Anda hanya bisa berkonsentrasi sebentar dalam belajar?
    • Anak Anda susah sekali dinasehati dan diatur?

    Sekarang Anda akan segera mengetahui rahasia menangani semua permasalahan ini!

    Hari / Tgl : Minggu, 26 September 2010
    Waktu : 13.00 – 16.00 WIB
    Tempat : International Brand Academy (IBA) Concert Hall (Seberang Rinjani View). Jl. Rinjani 18 Semarang

    Pembicara : Daniel Go, SE., MBus., CHt.
    (Seorang praktisi di bidang terapi, teknologi pikiran dan parenting yang berpengalaman menangani berbagai kasus klien anak dan dewasa).
    Penulis buku “Embryo of Success – Reveal A Success Blueprint from Your Childhood” terbitan Gramedia

    Investasi:
    Early Bird s/d 22 September 2010 Rp 150.000

    Pendaftaran dan Info hubungi:
    Ibu Lina : 024 7027 6790
    Ibu Pauline : 081 5652 3766
    Reni : 0813 2669 9711

  • Negara dengan Kualitas Pendidikan Terbaik di dunia

    Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia?

    Finlandia. Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa. Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.

    Finlandia
    Finlandia

    Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.

    Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?
    Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

    Apa gerangan kuncinya?

    Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang online casino bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!

    Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.

    Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

    Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
    Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.

    42-22243084

    Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.

    Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.

    Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

    Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.

    Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

  • Menyadari dan Mensyukuri Kekurangan

    Bagi yang merayakan, segenap team SekolahOrangtua.com mengucapkan

    “Selamat Memperingati Trisuci Waisak 2553 BE/2009”

    dan sebagai hadiah dari segenap team SekolahOrangtua.com  terimalah suatu renungan yang kami sadur dari buku “Membuka Pintu Hati” karya Ajahn Brahm.

    Seusai upacara sebuah pernikahan ayah mempelai wanita memanggil menantu laki-lakinya yang baru saja diresmikan pernikahannya.

    Ia menyeret sang menantu baru ke pojok ruangan dan mengatakan “Kamu mungkin sangat mencintai anak saya, bukan?” dan si pemuda yang sangat bahagia di hari istimewa tersebut langsung menimpali “Hm, tentu Ayah, saya sangat mencintainya”.

    Lalu si mertua melanjutkan ,”Dan mungkin kamu berpikir bahwa dialah wanita paling hebat di dunia”.

    “Yeaaa, dia begitu sempurna dalam segala hal. Saya telah memutuskan yang terbaik untuk diri saya dan untuk dirinya”, sambung si pemuda yang hatinya sangat berbunga-bunga.

    “Itulah yang kamu rasakan sewaktu baru menikah. Namun setelah beberapa tahun, kamu akan mulai melihat kekurangan-kekurangan anak saya. Saat kamu mulai menyadarinya, saya ingin kamu ingat yang berikut ini, Menantuku : jika dia tidak punya kekurangan-kekurangan itu  maka dia mungkin sudah menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik dari dirimu!”, si mertua mengatakan dengan nada sungguh-sungguh dan penuh casino online kasih sayang.

    Moral dari cerita ini adalah bahwa kita perlu bersyukur atas kekurangan-kekurangan pasangan kita, karena jika sedari awal mereka tidak memiliki kekurangan-kekurangan itu maka mereka sudah pasti akan menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik daripada kita.

    Hal ini juga terjadi pada anak-anak kita. Saat mereka memiliki sikap atau perilaku buruk yang tidak kita harapkan sekarang ini maka sadarilah bahwa kita pun memiliki peran atas terbentuknya hal itu pada dirinya. Introspeksi diri dan perbaikan atas sikap kita akan membantunya mengubah sikap atau perilaku buruk tersebut.

    Jika artikel ini Anda pikir bisa sangat bermanfaat juga bagi rekan, sahabat atau sanak saudara Anda maka tolonglah untuk memberitahukan pada mereka website SekolahOrangtua.com ini.

    salam hangat penuh cinta untuk para orangtua Indonesia,

    Ariesandi dan team SekolahOrangtua.com

  • Menjadi WIL untuk Suami Sendiri

    Menjadi WIL untuk Suami SendiriWeekend ini saya habiskan berkumpul dengan teman-teman semasa sekolah. Walaupun hanya 5 orang perempuan, namun ramainya seperti ada 30 orang berkumpul… Maklum, selain sudah lama tidak bertemu, kami memang termasuk jajaran perempuan yang paling cerewet di sekolah.

    Pertemuan kami diawali dengan keceriaan saling menanyakan kabar dan melepas kangen setelah beberapa lama tidak bertemu, yang dilanjutkan dengan makan bersama dan duduk manis di restoran dengan cerita yang terus berlanjut. Semakin lama, cerita pun semakin masuk ke berbagai hal pribadi menyangkut kehidupan rumah tangga dan relasi pasangan.

    Saat itu saya lebih banyak mendengarkan berbagai cerita dari keempat teman saya, hingga seorang teman saya tiba-tiba saja menangis. Dengan ‘baik hati’-nya ketiga teman saya ini menyerahkan Agnes (sebut saja teman saya dengan nama itu) kepada saya untuk dihentikan tangisnya.

    Usut punya usut, ternyata Agnes merasa tidak dicintai oleh suaminya dan dia selalu curiga suaminya punya WIL (Wanita Idaman Lain). Setelah bercerita panjang lebar, saya pun mencoba menyimpulkan ceritanya dan mengatakan ulang kepada Agnes.

    Jadi kamu mau suami kamu mencintai kamu?
    Selama ini kamu sudah minta dicintai, tetapi dia tidak menggubris…
    Kamu bahkan pernah memelas untuk diperhatikan…
    Kamu bahkan sering menangis di depannya dan mengatakan kamu merasa tidak dicintai…
    Kamu putus asa karena apapun yang kamu lakukan, suamimu tetap tidak mencintai kamu, dan kamu juga sudah mengatakan itu kepadanya…

    Agnes menjawab dengan tatapan ’menyalahkan’ saya, ”Lha khan kamu yang bilang bahwa saya harus terbuka pada suami atas apa yang saya rasakan”

    Saya hanya bisa tersenyum..

    Memang benar kita harus terbuka terhadap pasangan atas perasaan yang kita alami, tetapi cara yang digunakan Agnes menurut saya adalah salah dan bahkan membuat suaminya makin menjauh dan tidak tahu harus berbuat apa.

    Saya lantas bertanya pada Agnes, ”Kalau kamu curiga suamimu punya WIL, lalu menurutmu kira-kira WIL seperti apa yang bisa menarik dan membuat suami kamu berpaling padanya?”

    Masih dengan wajah sedih, Agnes berpikir sejenak dan menjawab ” Mungkin dia perempuan yang menarik secara fisik, pandai berdandan, orang yang ceria, orang yang bisa membantu pekerjaan suami saya, yang bisa mendengarkan keluhan-keluhannya dan bisa membuatnya tertawa dan membuat suami saya merasa nyaman berada didekatnya, pandai merayu dan yang pasti dia pasti bisa memuaskan nafsu sex-nya!” katanya dengan sedikit jengkel saat mengucapkan kata yang terakhir.

    Saya memeluknya dan berbisik di telinga Agnes, ”Kalau begitu, jadilah WIL untuk suamimu sendiri”.

    Agnes pun menarik tubuhnya dan memandang saya dengan mata melotot. Untuk beberapa saat, dia diam tertegun dan tiba-tiba dia tersenyum dan kembali memeluk saya. Rasanya dia telah mengerti maksud saya. Sungguh bahagia rasanya.

    Bisa dibayangkan, percakapan selanjutnya sangatlah menarik dan menyenangkan. Kami sibuk mengatur strategi untuk Agnes menjadi WIL bagi suaminya. Kami merencanakan dandanan yang cocok buat Agnes, mencari baju yang membuat dirinya menjadi lebih menarik, membeli lingerie dan membuat daftar kegiatan yang sebaiknya dilakukan Agnes untuk tetap membuat mood-nya dalam keadaan baik, salah satunya mengikuti kelas dansa dan yoga, menyusun trik seksi untuk making love dan membuat pertemuan rutin dengan kami untuk bergosip yang best online casino positif. Pertemuan hari ini berakhir sangat seru dan mengasyikkan. Dan yang paling membahagiakan, Agnes pulang dengan ceria dan terlihat sangat percaya diri.

    Sering kali kita tidak sadar saat kita meminta dicintai, kita melakukannya dengan salah. Jangan pernah berharap bahwa dengan memasang wajah memelas dan menunjukkan betapa kita menderita karena tidak dicintai, maka pasangan kita akan dengan senang hati memenuhi kebutuhan kita.

    Saat kita meminta dicintai dan mengungkapkan rasa kecewa terhadap pasangan dengan cara yang salah, mendadak yang terjadi adalah pasangan menjadi semakin jauh.

    Kenapa?

    Karena pasangan kita merasa terpojok dan disalahkan atas perasaan yang terjadi pada kita. Bayangkan saja, apa enaknya sih disalahkan atas sesuatu yang tidak bisa kita kontrol.

    Maksudnya, apa bisa kita mengontrol perasaan orang lain?
    Apa bisa kita memaksa pasangan untuk mencintai kita?
    Apa bisa kita memaksa seseorang menyukai kita?
    Apa bisa memaksa pasangan untuk bahagia?
    Apa bisa kita bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kesedihan seseorang?

    Jawabannya, sudah pasti tidak bisa.

    Kita bisa memaksa pasangan mengatakan “I love U”
    Kita bisa memaksa pasangan memeluk kita
    Kita bisa memaksa pasangan menemani kita jalan
    Tetapi soal perasaan dan hati, siapa yang tahu?

    Kenapa kita tidak melakukan sesuatu agar perubahan terjadi?

    Saya sangat suka dengan kata-kata ini ”Perubahan terjadi saat kita mengubah diri kita sendiri”

    Kita ubah diri kita agar layak dicintai
    Kita ubah penampilan kita agar “enak” dipandang
    Kita ubah sikap kita agar membuat pasangan merasa diterima
    Kita bisa memberikan senyum terindah pada pasangan setiap saat
    Kita bisa mencintai pasangan dengan tulus tanpa minta balasan
    Kita bisa menyiapkan makanan kesukaannya
    Kita bisa membelikannya hadiah kejutan
    Kita bisa menjadi pendengar terbaik untuk pasangan
    Kita bisa memberikan kecupan sayang setiap saat
    Kita bisa memberikan pelukan mesra setiap pagi dan malam
    Kita bisa mengatakan “I love you” dan bukannya “Do you love me?”

    Selamat mencintai dan semoga berbahagia.

    Salam penuh cinta,
    Ely

    Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya!

  • 10 Tips Menjadi Pasangan yang Lebih Baik

    42-19039558_1.jpg - 23.54 Kb 1. Realistislah terhadap satu sama lain.

    Janganlah mencoba untuk mengubah pasangan anda menjadi seseorang yang anda inginkan. Marilah hadapi kenyataan. Janganlah harapkan pasangan anda jadi Pamela Anderson ataupun Brad Pitt! Cintai pasangan apap adanya. Ada sesuatu yang lebih yang dimiliki oleh pasangan anda yang tak dimiliki oleh siapapun di dunia ini!

    1. Selalu bicara secara terbuka namun tetap dengan respek
    2. Bagi pria ini bukanlah suatu hal yang mudah mengingat pria lebih suka diam ketika memecahkan masalah. Namun wanita sungguh berbeda. Janganlah membuat asumsi sendiri mengenai perasaan pasangan anda. Belajarlah untuk mengekspresikan perasaan anda dengan tepat sehingga pasangan anda menjadi makin mudah memahami ketika anda marah, terluka, tersinggung ataupun bahagia. This works with the girls. Jika anda berhenti berkomunikasi dari hati ke hati itulah awal dari sebuah perpisahan.

    3. Lakukan sesuatu yang menarik secara bersama-sama
    4. Carilah sesuatu yang bisa anda lakukan bersama-sama. Anda bisa melakukan olahraga favorit bersama-sama. Ataupun melakukan suatu hobi yang anda berdua sama-sama senang. Nikmati ketika melakukan hal itu. Bisa jadi anda berdua cukup menonton VCD di ruang keluarga! Atau mungkin jalan bergandengan tangan di mall seperti masih pacaran. Berhati-hatilah jika anda lebih suka menghabiskan lebih banyak waktu dengan sahabat anda daripada dengan pasangan anda. Itu sebuah tanda yang kurang baik.

    5. Jangan terlalu perfeksionis
    6. Belajarlah untuk menerima apa yang dilakukan oleh pasangan anda walaupun itu hanyalah separo dari yang anda ingin dia lakukan. Seringkali kita menuntut pasangan kita untuk selalu memencet pasta gigi dari bagian paling bawah. Ketika ia memencetnya dari manapun, “Yang penting kan keluar pasta giginya!” demikian pendapatnya, cobalah untuk memakluminya. Dalam sebuah relasi ada beberapa hal dimana kita harus bisa saling bisa memberi dan menerima.

    7. Tunjukkan cinta anda
    8. Bagi anda para pria cobalah membawa pulang bunga kesukaan istri anda. Bisa juga coklat atau makan malam romantis bersama atau apapun yang dia sukai. Bagi anda para wanita manjakan pasangan anda dengan memasakkan makanan favoritnya secara spesial atau berikan kartu Valentine atau sesuatu yang dia inginkan tetapi belum sempat terbeli. Jika anda mengetahui bahasa cinta dominannya maka berikan secara kontinu. Ada 5 bahasa cinta dimana salah satu adalah bahasa cinta dominan kita. Kelimanya adalah sentuhan fisik, kata-kata pendukung, waktu berkualitas, pelayanan, hadiah. Menunjukkan secara kontinu rasa peduli pada orang yang anda cintai adalah suatu hal yang sangat menyenangkan.

    9. Saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
    10. Janganlah membuat lelucon tentang rambut atau kulit pasangan anda di depan orang lain atau anak-anak. Meskipun maksudnya murni hanya bercanda tetapi pikiran bawah sadarnya bisa menangkap maksud yang berbeda. Hal ini bisa jadi menggerogoti rasa percaya dirinya. Mencintai adalah menghargai perasaan online casino satu sama lain dan menjadi peka terhadap perasaan pasangan kita.

    11. Kuburlah masa lalu.
    12. Berhentilah mengungkit-ungkit masa lalu yang negatif. Tak ada seorang pun yang ingin diingatkan tentang segala sesuatu yang membuatnya merasa malu. Apapun yang sudah terjadi telah selesai!

    13. Hilangkan kecemburuan.
    14. Setiap dari kita mempunyai rasa ketidaknyamanan pada sebuah permulaan relasi namun jangan biarkan rasa tidak nyaman dan tidak aman tersebut berubah menjadi kecemburuan. Kecemburuan seperti racun yang secara perlahan menyebar ke seluruh sendi-sendi relasi anda. Percayailah pasangan anda. Mencintai adalah memiliki rasa percaya pada pasangan.

    15. Jaga komitmen satu sama lain.
    16. Janganlah membuat sebuah janji yang kita rasakan tak mampu untuk dipenuh. Jika dipaksakan maka ini akan mengurangi respek pasangan kita. Menjaga kepercayaan dan saling menghormati adalah bentuk komitmen dari sebuah relasi yang sehat. Jika pasangan kita mulai merasakan bahwa ia tak penting bagi kita maka bersiaplah utnuk kehilangan hatinya.

    17. Jujurlah.
    18. Jujur itu bukan berarti harus mengatakan bagaimana jelek dan amburadulnya wajah pasangan anda saat ia baru bangun tidur. Maksud dari kejujuran di sini adalah kejujuran untuk mengungkapkan perasaan terdalam kita. Jika merasa marah katakan bahwa kita sedang merasa marah. Jika merasa terlukan katakan bahwa kita merasa terluka. Katakanlah dengan sikap tenang tanpa teriak-teriak. Jika kita tidak bisa jujur pada pasangan kita lalu kepada siapa kita harus jujur? Mencintai adalah tentang menjadi jujur pada diri sendiri dan pasangan

    Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !

  • Inikah Nasib Semua Ibu Rumah Tangga?

    tired_mom.jpgSumber Cerita: Aku Baik-baik Saja – Buku Chicken Soup for the Parent’s Soul

    Menjadi ibu adalah pengalaman paling penuh emosi dalam hidup seseorang. Seorang ibu menjadi anggota semacam mafia wanita – Janet Suzman

    Rumah berantakan, piring-piring kotor.
    Aku terlalu tua untuk ini, umurku tiga puluh lebih !
    Mobil tidak bersih, rambutku kusut,
    Dan aku sudah membelanjakan uang belanja minggu depan.

    Pakaian kotor harus dicuci, anak-anak terlalu jorok,
    Dan aku tak pernah punya waktu santai untuk berandai-andai.
    Untuk semua pekerjaanku, waktuku tidak pernah cukup,
    Pekerjaan tak pernah selesai, selalu ada yang belum beres.

    Aku mengaca dan apa yang kulihat?
    Seorang wanita asing bertampang kusut, di manakah diriku dulu yang cantik?
    Semakin bergegas aku, semakin ketinggalan aku.
    Hari ini adalah esok, dan aku belum bisa mengejarnya.

    Anak-anakku cepat menjadi besar,
    Aku merindukan masa kanak-kanak mereka yang hilang demi adu cepat itu.
    Aku bekerja dan membersihkan rumah dan memasak, dan aku berkata
    “Belajar dan bersihkan kamar kalian!” tak ada waktu untuk bermain.

    Yah, entah mengapa, Tuhan memilih AKU untuk mengasuh tiga anak-anakNYA ini?
    Aku hanya seorang manusia dan seorang ibu rumah tangga, tapi kenyataannya aku ini juga seorang sopir, koki, tukang kebun, guru, wasit dari pertengkaran anakku dan perawat yang pandai menyembuhkan luka.

    Kadang-kadang, aku lupa bahwa jauh di dalam diriku,
    Ada seorang wanita dengan bermacam-macam perasaan dan tadi malam,
    wanita itu menangis.
    Dia lelah, kesepian dan merasa tidak dihargai.
    Dia ingin melihat bunga mekar dari biji yang ditanamnya.

    Kemudian di tengah kekacauan dalam kecepatan y ang membingungkan,
    Anak-anakku memandangku dan tepat ketika aku membutuhkannya,
    mereka berkata “Ibu, aku sayang ibu” dan … aku merasa BAIK-BAIK SAJA!

    Sukarto: Seorang ibu seringkali merupakan super human di rumah karena begitu banyak yang harus dilakukannya, termasuk mengasuh tambahan satu anak lagi yang dipanggilnya suami. Seringkali sebagai seorang suami dan anak-anak, kita tidak menyadari bagaimana capeknya baik fisik maupun perasaan dari seorang ibu yang mengasuh anak-anak jaman sekarang yang penuh energi yang terus bergerak dan hanya diam setelah kehabisan energi yaitu tidur…. zzzz… zzz… Dan di masa-masa kedamaian seperti itu, seorang ibu yang juga ingin istirahat seringkali harus melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan saat anak-anaknya bangun, seperti membersihkan dan merapikan rumah. Dan tidak lama saat makhluk kecil itu berenergi penuh lagi, rumah yang baru saja bersih, jadi seperti tidak pernah dibersihkan arrgghh …

    Marilah kita bersama-sama menghargai ibu atau mama kita yang telah menjalani proses yang luar biasa dalam membesarkan kita. Say: I Love You Mom…. Dan untuk para suami, hargai juga peran istri Anda yang telah bekerja keras tetapi mungkin tidak pernah cerita ke Anda karena dia tidak ingin menambah beban pikiran Anda. Say: I Love You

    Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !