Penulis: Sandra M.,MPsi,Psikolog

  • Normalkah perkembangan anakku ?

    Pertanyaan ini sering ditanyakan orangtua yang memiliki anak usia bawah 5 tahun kepada saya. Munculnya pertanyaan ini berkaitan dengan semakin beragamnya informasi tentang perkembangan anak dan penyimpangannya, sehingga semakin banyak orangtua yang merasa khawatir mengenai tumbuh kembang buah hatinya. Ditambah lagi anak usia demikian, masih belum bisa diajak berkomunikasi dengan lancar karena keterbatasan kosa kata. Ada pengalaman nyata seorang teman saya, ia kerapkali menanyakan mengapa anaknya belum bisa bicara dengan lancar. Usut punya usut ternyata anaknya masih belum genap 2 tahun dan jenis kelamin laki-laki. Ya… wajar saja jika bicaranya masih sepatah 2 patah kata dan memang biasanya perkembangan bahasa anak laki-laki memang lebih lambat dibandingkan anak perempuan. Kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti karena sekarang anak itu sudah berusia 4 tahun, tumbuh menjadi anak yang lincah, sehat dan fasih berbicara. Nah.. siapa yang khawatir berlebihan ?

    Ok, mari kita definisikan ulang mengenai normal dan tidak normal. Normal dapat diartikan tumbuh sesuai dengan kebanyakan orang atau rata-rata, tidak mengalami kelebihan atau kekurangan pertumbuhan. Orang yang buta sejak kecil berarti ia mengalami kekurangan sedangkan anak yang mampu mengingat hal-hal yang tidak biasa misalnya nama presiden di dunia, dapat digolongkan kelebihan. Pertumbuhan normal memiliki jumlah populasi yang terbesar. Coba bayangkan sebuah gambar gunung yang dipotong vertikal menjadi 3 bagian, bagian kiri, tengah dan kanan. Yang dikatakan normal adalah bagian yang terbesar dari gunung yaitu bagian tengah. Sedangkan bagian kiri dan kanan yang lebih kecil ukurannya adalah bagian yang tidak normal (karena kelebihan atau kekurangan). Daerah gunung sebelah kiri adalah daerah pertumbuhan anak-anak yang memiliki kekurangan misalnya IQ yang rendah. Sedangkan bagian sebelah kanan adalah bagian yang kelebihan misalnya IQ yang tinggi. Penentuan anak tergolong daerah kiri dan kanan membutuhkan prosedur pengamatan yang lebih panjang sebelum sebuah diagnosis diluncurkan karena hal ini berkaitan dengan kekurangan atau kelebihan yang terjadi di tubuh fisiologis anak. Sedangkan masalah yang terjadi pada anak yang termasuk bagian tengah kebanyakan lebih disebabkan oleh pola asuh dan hubungan orangtua-anak.

    Bagaimana menentukan anak kita termasuk bagian kiri, tengah atau kanan ? Untuk masalah ini, gunakan intuisi. Ingat intuisi adalah gabungan dari pengetahuan dan pengalaman. Dari mana mendapatkan pengetahuan dan pengalaman ? Ya… dengan belajar mengenai perkembangan anak yang normal dari beragam sumber. Intuisi kita sebagai orangtua adalah jurus ampuh dalam membentuk masa depan anak. Coba kita ingat kembali pengalaman Thomas Edison dan Albert Einstein, intuisi orangtuanya terutama ibu, menyelamatkan masa depan kedua anak itu, bukan ? Bagaimana misalnya jika kedua ibu tersebut mendengarkan perkataan guru anak-anak mereka ? Tentunya sekarang kita mungkin tidak akan menikmati benda yang disebut dengan lampu dan mungkin juga kita tidak akan mengetahui mengenai Teori Relativitas Einstein dong.

    Saya bisa memahami posisi para orangtua ketika dihadapkan pada masalah anak yang menurut mereka tidak normal. Reaksi pertama mereka adalah panik. Kemudian mencari informasi, entah bertanya dengan tetangga, orangtua, teman atau profesional. Saran yang paling masuk akal dan diberikan oleh pihak yang dipAndang memiliki otoritas adalah yang dilaksanakan. Eitt… tunggu dulu… saran itu belum tentu benar lho.

    Mari kita runut satu persatu kejadian diatas. Kepanikan terjadi karena kita tidak memiliki data dalam otak kita cara menangani masalah yang terjadi. Karena tidak tahu apa-apa kita bingung kemudian menggunakan cara yang sudah diketahui untuk mengatasinya dan masalah lain muncul karena belum tentu benar. Untuk itu, reaksi yang berikutnya adalah benar yaitu mencari informasi. Nah.. dimana informasi itu didapat ? Kita dapat mencari informasi dengan bertanya kemudian lakukan cek ricek dari sumber lain yang bisa dipercaya misal dari buku, majalah, internet. Jangan dengarkan bisikan malas yang sering terlintas dalam benak kita jika berhubungan dengan BELAJAR karena ini adalah masalah masa depan anak kita.

    Kedua, jika kita meminta bantuan profesional (terutama jika kita curiga masalah anak kita termasuk daerah kiri atau kanan), kita harus mengingat satu hal penting ini. Mintalah pada ahli tersebut untuk mengamati perilaku anak kita dalam suasana dimana anak kita bisa menjadi diri mereka sendiri, nyaman, dan senang. Jika sang ahli menghasilkan diagnosis hanya dengan mendengarkan perkataan kita, seperti dokter badan, maka sebaiknya kita mencari ahli lain yang lebih kompeten. Mendiagnosis kebutuhan khusus seorang anak membutuhkan observasi yang mendalam bukan hanya berdasarkan simptom yang disampaikan oleh orangtua. Hal ini berbeda dengan pergi ke dokter badan, dokter hanya mendengarkan gejala, memeriksa bagian-bagian tubuh yang dinyatakan sakit kemudian memberikan diagnosis dan resep. Mendiagnosis masalah anak (yang tergolong daerah gunung kiri dan kanan) kadang-kadang membutuhkan waktu 1 hari bahkan 2 hari karena hal ini bukanlah masalah mudah. Diagnosis itu harus didasarkan pada nama kebutuhan dari anak, penyebab kebutuhan itu muncul dan perencanaan penanganan yang tepat bagi anak. Rumit kan ? Tidak kok … bagi yang sudah terbiasa dengan dunia anak.

    Ada pengalaman berharga bagi saya sehingga sangat membantu saya lebih berhati-hati dalam mendiagnosis masalah anak. Saya memiliki klien seorang  anak perempuan, cantik dan manis, yang memiliki kebutuhan khusus daerah sebelah kiri. Anak ini berusia 5 tahun menjelang 6 tahun. Mengalami keterlambatan bahasa dan menunjukkan kecemasan yang tinggi terhadap tempat baru. Di kelas ia sering terlambat dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Pernah ketika emosinya memuncak, ia mencakar gurunya untuk melampiaskan emosinya. Ia sangat takut terhadap kata belajar dan dokter. Mamanya telah membawanya untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater di Surabaya. Hasil diagnosis psikiater ini adalah si anak mengalami autisme ringan. Hasil diagonsis ini berbeda dengan saya. Setelah saya berinteraksi dengan si anak, melakukan beberapa tes dan pengamatan, saya menyimpulkan bahwa anak ini tidak mengalami autis, hanya mengalami kecemasan yang berlebihan dan memiliki tingkat kecerdasan yang kurang. Keterbatasannya dalam kecerdasan dan kecemasannya inilah yang menyebabkan ia tidak dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya. Bagaimana mungkin seorang anak autis dapat menyatakan perasaannya mengenai ketakutannya terhadap dokter dan mampu berinteraksi, bermain dan tertawa dengan anak sebayanya ? Kurang tepatnya melakukan diagnosis semacam ini yang menyebabkan saya merasa sedih. Anak-anak jadi tidak mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.

    Nah… jika menemui pengalaman serupa dengan anak kita maka yang pertama harus Anda lakukan adalah tenang, cari informasi, cek ricek, nilailah masalah ini termasuk daerah kiri, tengah atau kanan kemudian lakukan penanganan. Jika termasuk daerah kiri dan kanan maka sebaiknya kita mencari ahli yang kompeten. Jika kita menilai masalah anak hanya masalah normal/rata-rata/semua orang mengalami maka kita dapat menangani sendiri. Semuanya ini akan lebih baik jika sebelumnya kita telah membekali diri  dengan pengetahuan melalui belajar terus menerus. Memenuhi kebutuhan fisik (makanan minum, pakaian, rumah) dan psikis anak (mengisi tangki cinta: mengajaknya bermain, berkomunikasi dengan baik, memberikan kejutan, memberikan waktu spesial pada tiap anak untuk berdua dengan Anda – lihat DVD Tangki Cinta Anak).

    Tapi saya tetap merasa takut kalau-kalau ada pekembangan menyimpang dari anak saya, apalagi jika karena saya tidak tahu kalau itu menyimpang atau tidak ? kemudian saya membiarkannya bla bla bla … gimana donk? Untuk itulah, kita harus tetap belajar mengenai perkembangan yang dikatakan normal dan tidak normal. Saat ini banyak majalah yang membahas mengenai perkembangan balita bahkan terdapat seri yang khusus membahas perkembangan balita dari A hingga Z. Persenjatai diri kita dengan pengetahuan.

    Kita juga harus belajar untuk mengendalikan rasa cemas mengenai pertumbuhan anak kita. Ingat rasa cemas yang berlebihan terhadap perkembangan buah hati dapat mempengaruhi kesehatan psikis anak kita lho. Anak-anak usia demikian ini masih peka terhadap perasaan orang lain yang ada di sekelilingnya. Jika kita, sebagai ibu, sedang stress dan tidak bahagia, anak kita pada saat kondisi itu akan menjadi rewel. Namun jika kita sebagai ibu, sedang dalam kondisi tenang dan nyaman dengan diri sendiri maka dapat dipastikan anak kita akan lebih mudah diajak kerjasama. Kecemasan itu bisa dihilangkan dengan terus belajar mengenai perkembangan anak sehingga kita tidak buta dan memiliki wawasan kemana arah perkembangan anak kita.

    Tentang kepekaan seorang anak, saya pribadi pernah membuktikan hal itu. Waktu itu saya dalam keadaan tertekan karena adanya deadline penyelesaian tesis saya. Perasaan tertekan dan cemas ini ditangkap oleh murid-murid saya yang berusia bervariasi (2,5th ,4th , 5th). Murid saya yang berusia lebih muda menunjukkan empatinya dengan minta dipangku dan saya dipeluk olehnya. Sedangkan murid saya yang paling tua, tiba-tiba duduk disebelah bangku saya, memeluk saya dan berkata,”Siani paling sayang sama Bu Sandra”. Nah lo… bagaimana mata saya tidak berkaca-kaca. Saya yang dalam kondisi sedang kosong tangki cinta terhadap diri saya sendiri mendapatkan siraman embun yang benar-benar membuat saya terharu. Saya ini bukan ibu dari murid-murid saya, tetapi mereka peka terhadap perasaan saya. Apalagi Anda yang menjadi ibu bagi anak-anak Anda. Benar begitu ?

    Masa depan anak kita terletak dari pembentukan yang kita lakukan sekarang. Masa anak-anak adalah masa paling cocok untuk menanamkan hal baik dalam diri anak karena ia masih sangat dekat dengan kita. Setelah ia dewasa, kita hanya bisa mendoakan dia dari kejauhan karena ia sudah memiliki kehidupannya sendiri. Belajarlah terus… karena belajar tidak pernah mati dan belajar bisa mengalahkan rasa cemas. Enjoy aja lagi…

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga, Sandra

  • Gaya Pengasuhan dan Masa Depan Anggota Keluarga(2)

    Para orangtua tercinta yang tergabung dalam sekolahorangtua.com tentunya sudah tak sabar ingin tahu lanjutan dari pembahasan tentang gaya pengasuhan bukan? Nah inilah lanjutan pembahasan hal tersebut.

    withson2.jpg2. Gaya Pengasuhan Authoritative
    Pernahkah Anda mengalami hari pertama masuk kerja? Coba bayangkan jika hari pertama masuk kerja, kita dihadapkan dengan atasan yang ramah menjelaskan segala peraturan serta konsekuensinya, batasan dan harapan kinerja kita di perusahaan tersebut. Selain itu kita juga diberi hak untuk bertanya dan berdiskusi mengenai sumbangan-sumbangan yang dapat kita berikan kepada perusahaan. Bagaimana perasaan dan reaksi kita?

    Saat tahu batasan dan harapan terhadap diri kita, maka kita jadi merasa lebih bebas untuk bertindak dan berani memutuskan. Kita menjadi bebas menjadi diri sendiri dan kreatif menyumbangkan saran-saran bagi perkembangan perusahaan. Dan, yang terpenting kita merasa dihargai dan nyaman tumbuh di dalamnya serta mungkin mempercayakan kehidupan finansial kita pada perusahaan tersebut.

    Apa jadinya jika gaya bos yang ramah, responsif, namun juga tegas, diterapkan di rumah? Tentunya, suasana yang menyenangkan akan tercipta. Hubungan harmonis akan terjalin.

    Beberapa dari kita mungkin agak sedikit bingung dengan istilah yang mirip antara gaya pengasuhan pertama yang authoritarian dengan gaya yang kedua ini yaitu authoritative. Walaupun dari segi nama, gaya yang satu ini mirip dengan authoritarian, namun dari segi makna, keduanya sangatlah berbeda. Kesamaan keduanya adalah sama-sama menaruh harapan tinggi pada anaknya dan menerapkan peraturan dengan tegas. Perbedaan pertama : orangtua authoritative menambahkan peraturannya dengan penjelasan yang masuk akal sesuai usia anak dan plus… pilihan bagi si anak untuk memutuskan.

    Dengan adanya proses ini maka anak menjadi jelas tentang batasan-batasan atau standar yang diterapkan oleh orangtuanya serta memahami hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pembatasan ini sangat membantu anak untuk mengembangkan rasa aman dan percaya diri dalam berhubungan dengan orang lain. Kebiasaan untuk membantu anak membebaskan untuk memilih juga sangat bermanfaat untuk perkembangan jangka panjang anak. Anak terlatih untuk mengambil keputusan dan mempertimbangkan baik buruknya. Tentunya, hal ini juga menjadi bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan sosialisasi mereka.

    Bagaimana perasaan kita sebagai anak jika mengalami hal seperti ini,“Menurut mama, mengganti sprei setiap 1 minggu sekali atau 2 minggu sekali itu penting. Pada kain sprei yang telah dipakai 2 minggu, ada banyak kulit mati kita yang menempel, belum lagi keringat dan mungkin air liur yang menempel … iiihhh. Coba deh bayangkan kalau kotoran itu nempel di kulit kita … kulit kita bisa kena penyakit kulit. Jadi … gimana ? Kamu lebih suka mengganti sprei 1 minggu sekali atau 2 minggu sekali ? Keduanya masih batas aman kok !”. Bedakan dengan perkataan ini,”Kan, sudah mama bilang … ganti sprei 2 minggu sekali. Kamu sekarang sudah besar. Masa, gak bisa ganti sendiri ? Masa harus diingatin terus … dasar jorok … Ingat ya… 2 minggu sekali, sprei harus kamu ganti sendiri tanpa mama ingatin lagi. Ini terakhir kali mama ingatin kamu lho. Kamu kan sudah besar. Sadar sendiri dong!”. Walaupun nasihat kedua disampaikan dengan nada rendah, sopan dan lembut, pasti anak yang mendengarnya tetap merasa tidak dihargai dan diserang habis-habisan.

    Perbedaan kedua dari orangtua authoritative dan authoritatian terletak pada responsivitas orangtua terhadap kebutuhan emosi si anak. Orangtua authoritative responsif terhadap kebutuhan emosi  anak sehingga menciptakan sebuah ikatan emosi yang hangat dan rasa saling percaya. Sikap tanggap dan responsif terhadap kebutuhan anak (karena membantu mengisi tangki cintanya — lihat DVD Tangki Cinta) dapat menjadikan anak lebih bahagia, enjoy dan nyaman dengan diri sendiri. Mari kita perhatikan sebuah komunikasi seperti yang berikut ini: “Papa tahu kamu tidak suka jika diharuskan pulang pukul 08.00 malam karena kamu masih ingin jalan-jalan dengan teman-temanmu malam minggu ini (empati). Dan sesuai dengan kesepakatan yang sudah kita buat sebelumnya, kamu tetap harus pulang sebelum pukul 08.00 tapi jika berkaitan dengan tugas sekolah, kamu boleh pulang pukul 09.00 (peraturan tetap peraturan). Kalau memang masih ada yang harus dilakukan dan kamu butuh waktu lebih, kamu harus ditemani oleh salah satu dari mama atau papa (kesepakatan tetap kesepakatan). Dan maaf, untuk malam ini, mama dan papa sedang ada acara jadi tidak bisa menemani kalian (empati). Soo… kamu harus tetap pulang pukul 08.00 malam ini. Lain kali, jika mama atau papa sedang bisa temani kamu, kamu boleh ajak teman-teman jalan-jalan sampai pukul 09.00… oke?”. Dari komunikasi tersebut si anak akan tetap merasa bahwa perasaannya diperhatikan oleh orangtuanya.

    Dalam bernegosiasi mengenai peraturan, orangtua authoritative tetap konsisten dalam menerapkan kesepakatan yang telah dibuat namun mereka masih mengijinkan anak untuk tetap menikmati masa anak-anaknya dalam pengawasan dan pengendalian mereka. Dengan kata lain, kesepakatan yang dibuat berdasarkan niatan win-win solution.
    Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak yang diasuh dengan orangtua authoritative akan menghasilkan anak yang percaya diri, aman dengan diri sendiri dan lingkungan mereka sehingga mereka dapat menjalin relasi dengan lebih sehat. Mereka juga biasanya memiliki prestasi di sekolah, juga mampu memiliki perkembangan psikis yang sehat di masa mendatang. Selain itu, anak-anak ini juga cenderung memiliki perilaku yang sehat dan dapat diterima oleh masyarakat.

    3. Gaya Orangtua Permisif / permissive / nondirective
    Orangtua yang memiliki gaya permisif  merupakan orangtua yang dianggap “baik” dan “didambakan” oleh semua anak di dunia. Pada dasarnya, orangtua tipe ini merupakan orangtua yang takut mengalami penolakan dari anaknya dan ingin senantiasa disukai/disayangi oleh anak-anak mereka. Rasa takut ini menyebabkan orangtua bersedia memberikan apapun kepada anak-anaknya tanpa menuntut mereka untuk mengikuti keinginan orangtua. Baik kan ?
    Orangtua jenis ini, jarang memberikan peraturan-peraturan dan batasan perilaku. Kalau pun mereka memberikan peraturan seringkali kurang dijalankan dengan tegas dan tidak ada konsekuensi dari pelanggaran. ‘Konflik’ bagi orangtua jenis ini adalah tabu. Mereka merasa lebih baik menurut daripada harus melakukan konfrontasi dan cara ini biasanya lebih mudah bagi mereka untuk dilakukan daripada adu mulut dengan anak mereka.
    Anak-anak ini terbiasa untuk dipenuhi keinginannya oleh orangtua tanpa melewati proses rasa sakit atau perjuangan. Dan ini menyebabkan mereka tumbuh menjadi anak yang kurang matang dan kurang bisa menghormati otoritas. Hal ini terlihat dari ketidak- mampuan mereka dalam mengendalikan keinginan-keinginan mereka serta ketidak- mauan mereka untuk bertanggungjawab terhadap perilaku mereka. Mereka lebih suka untuk menyalahkan orang lain terhadap kesalahan yang telah mereka perbuat. Dampaknya relasi pertemanan yang dirajut dengan orang jenis ini, menjadi timpang karena tidak ada proses take and give. Dalam bahasa sehari-hari, orang jenis ini biasa dicap sebagai orang yang mau menang sendiri, keras kepala dan tidak mau disalahkan. Mereka memang terlihat kuat dimata masyarakat umum namun sebenarnya mereka memiliki emosi yang rapuh.
    Emosi yang rapuh ini menyebabkan mereka tetap tergantung pada orangtua mereka hingga dewasa. Karena seringkali rasa aman dalam berelasi hanya didapat dari orangtua yang tidak pernah menilai dan menyalahkan maka anak-anak produk pengasuhan ini memiliki hubungan yang erat dan dekat dengan orangtua mereka hingga dewasa. Mereka sangat tergantung pada orangtua sebagai sumber dari rasa aman emosional mereka.

    4. Gaya Pengasuhan Neglectful/Uninvolved
    Mari kita lihat sebuah situasi lain dari seorang  bos yang tidak pedulian pada anak buahnya. Bos yang tidak memberikan batasan tapi juga tidak mau diajak diskusi. Anak buahnya pasti mengalami kebingungan tentang apa yang harus dikerjakan, dan tujuan apa yang harus dicapai. Ujung-ujungnya kekacauan di kantor. Sama dengan anak yang memiliki orangtua seperti ini, di akhir perjalanan menuju dewasa akan menciptakan monster yang kebingungan. Tipe orangtua ini lebih berdampak buruk dibandingkan dengan orangtua permisif karena tidak adanya ikatan emosi ditambah dengan penerapan batasan yang kabur. Mereka hanya menyediakan kebutuhan fisik untuk anak saja. Orangtua hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pribadinya daripada berusaha memahami kebutuhan anak.
    Ketika dewasa, biasanya anak-anak ini sering mencari pelarian dari rasa kesepian dan mencari penerimaan dari orang lain. Akibatnya mereka sering terlibat dalam masalah-masalah perilaku dibandingkan dengan anak yang memiliki orangtua authoritative. Masalah perilaku tersebut misalnya seks bebas dan penggunaan obat terlarang ataupun kenakalan remaja lainnya. Hal ini dilakukan hanya untuk mencari penerimaan. Secara  emosi mereka mudah untuk mengalami depresi dan sering merasa ditolak. Dalam banyak kejadian, anak-anak tumbuh dengan perasaan ingin melawan, menentang, dan rasa marah yang bergejolak kepada orangtua karena merasa telah diabaikan dan dikucilkan oleh orangtua.

    So bagaimana dengan kita sendiri? Termasuk tipe apakah kita? Ketika saya menjadi pengajar di sebuah sekolah, beberapa komentar ditujukan kepada saya, seperti “Wah, pasti nakal-nakal ya muridnya ?”, “Gimana… kalau ada anak yang suka nangisan, gak mau sekolah ?”. Ketika menghadapi pertanyaan ini, saya jadi bingung untuk menjawab. Bagi saya, tidak ada anak yang nakal, kenakalan yang ‘diciptakan’ seorang anak  hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya ada di dunia ini. Berikan perhatian dan batasan yang jelas kepadanya maka si anak akan merasa disayang dan akan menjadi normal-lah perilakunya. Senada dengan kutipan dari buku Nanny 911, “Anak nakal bukan dilahirkan namun diciptakan.” Berdasarkan pengalaman saya, orangtua yang menerapkan batasan secara jelas dan menyediakan waktu berkualitas bagi anak-anaknya akan menghasilkan anak yang bahagia, kritis, mudah untuk diajak kerjasama dan ramah. Lihatlah DVD Tangki Cinta dan baca buku Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia untuk memperdalam hal penting yang bisa memengaruhi masa depan Anda dan anak Anda ini.

    salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Sandra M.,MPsi.,Psikolog (Partner Konselor dan Terapis SekolahOrangtua.com)

  • Gaya Pengasuhan dan Masa Depan Anggota Keluarga

    angry parents.jpgApa hubungannya masa depan saya dan anak-anak dengan gaya saya mengasuh anak? Sebuah pertanyaan yang wajar, jika kita mencermati pernyataan judul di atas. Jika anak kita menjadi orang yang bahagia, tahu apa tujuan hidupnya, menghasilkan karya yang berguna bagi bangsa, tentunya kita turut menjadi bahagia juga kan di masa depan ? Coba bayangkan apabila anak kita tumbuh menjadi orang yang miskin, pemurung, tidak tahu harus bekerja di bidang apa, tidak tahu cara memilih pasangan hidup, tentunya, kita di masa depan akan ikut menjadi tidak bahagia dan mengalami penyesalan seumur hidup, bukan?

    Memiliki anak yang bahagia, tahu tujuan hidupnya dan mampu berkarya adalah hasil pengasuhan yang kita lakukan sejak anak masih dalam perlindungan kita. Jika kita salah mengasuhnya maka ia akan menjadi apa yang telah kita asuhkan. Ambil contoh Obama, jika Obama tetap diasuh oleh ibunya dan tinggal di Indonesia, ia tentunya akan menjadi Obama yang berbeda dengan Obama sekarang. Pengasuhan yang diterima olehnya, mengharuskan ia untuk bisa mengakomodasi perbedaan yang ada disekelilingnya. Ia yang berkulit hitam harus bisa bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan tempat kakek neneknya tinggal yang jelas-jelas berkulit putih. Hasilnya, bisa dilihat dalam kabinet yang dibentuknya. Ia berencana menyatukan orang-orang hebat yang memiliki pandangan berbeda dengan dirinya menjadi 1 kabinet.

    Saat ini, Obama mengusulkan Hillary Clinton, mantan rivalnya dalam pencalonan presiden dari partai Republik. Bahkan, McCain yang jelas-jelas memiliki pendapat berbeda dengannya, direncanakan akan direkrut sebagai salah satu mentri dalam kabinetnya. Hebat bukan ? Coba imajinasikan, jika Obama tetap tinggal di Indonesia dan menjalani proses pendewasaan di sini. Mungkinkah Obama menjadi pribadi yang berbeda?
    Pernahkah anda mendengarkan orangtua yang menuntut anaknya seperti ini, ”Pokoknya … kamu harus pulang ke rumah sebelum jam 8”. Tanpa ada penjelasan mengenai mengapa anak harus pulang jam 8. Atau tidak memberikan anak pilihan keputusan yang bisa dipilih, ”Papa mau kamu masuk kuliah jurusan ABC. TITIK.” Atau, orangtua yang berkata kepada anak usia SMP,”Ya sudah … terserah kamu! Yang menurut kamu baik, jalankan saja.” Tanpa penjelasan dan batasan mengenai apa yang baik dan jelek. Padahal usia ini masih mencari mengenai hal yang baik dan tidak baik. Ketiga orangtua ini memiliki gaya mengasuh yang berbeda kepada anaknya.

    Untuk lebih menyederhanakan, gaya pengasuhan dapat diibaratkan (namun tidak dapat disamakan) dengan gaya kepemimpinan di kantor. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita sebagai karyawan, kita berjumpa dengan bos atau atasan kita yang memiliki gaya memimpin berbeda. Ada yang otoriter, yang tidak memiliki empati kepada anak buah sehingga setiap tugas atau perintah harus dilaksanakan dengan segera (seperti dalam film The Devils Who Wear Prada).

    Ada juga bos yang bisa memahami anak buahnya sekaligus mampu bertindak tegas, bisa membedakan urusan personal atau urusan profesional. Ada juga bos yang bisa disetir oleh anak buah. Atau bos yang tidak peduli pada hasil kerja anak buah sudah berkualitas atau tidak, yang penting mereka tetap bekerja dan tetap dibayar penuh tiap bulannya. Gaya kepemimpinan ini tentunya akan berpengaruh pada suasana kantor serta berpengaruh pada hasil pekerjaan anak buah yang dipimpin bukan ?

    Nah, gaya pengasuhan adalah cara yang kita gunakan dalam merawat, berkomunikasi, dan mendidik anak kita. Mengapa sampai muncul penelitian tentang gaya pengasuhan ? Karena hal ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan anak ketika dewasa. Penelitian mengenai gaya pengasuhan ini telah dilakukan sejak tahun 1930-an. Salah seorang peneliti yang teorinya banyak digunakan hingga sekarang dan dianggap paling populer adalah Diana Baumrind. Penelitiannya dilakukan pada tahun 1968 dan hingga sekarang, hasil penelitiannya ini masih digunakan oleh masyarakat umum dan dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa.

    Gaya pengasuhan menurut Baumrind, dibedakan menjadi 4 kategori yaitu gaya authoritarian, gaya authoritative, gaya permissive, dan gaya neglectful/uninvolved. Perbedaan dasar ke-empat gaya pengasuhan ini adalah terletak pada harapan orangtua dan kehangatan kasih sayang yang ditunjukkan oleh orangtua.

    1. Gaya Pengasuhan Authoritarian.
    Orangtua yang memiliki gaya pengasuhan ini dapat disamakan dengan bos yang tegas dan kejam. Beliau dengan jelas menerapkan visi perusahaan dan dia dengan tegas menjalankan semua peraturan yang memang harus dilakukan tanpa pandang bulu. Tiap anak buah harus menaati tanpa kecuali. Bos tipe ini tidak dapat diajak diskusi dan tidak boleh ada yang mempertanyakan alasan pemberlakuan peraturan. Ya… bisa dibayangkan, tipe anak buah yang dipimpinnya. Penurut, tidak berani ambil keputusan, hanya berani menentang dibalik punggung bos. Atau melakukan korupsi kecil-kecilan asal tidak ketahuan sebagai tanda melawan bos.

    Gaya bos seperti itu, juga terbawa sampai di rumah dan digunakan untuk memperlakukan istri/suami dan anaknya. Biasanya pemikiran yang melandasi adalah anak tidak tahu yang benar dan baik, jadi harus menuruti keinginan orangtua, menjalankan peraturan yang diberikan tanpa boleh dipertanyakan atau diberikan hak untuk memilih. Selain tegas menerapkan peraturan dan keinginannya orangtua tipe ini juga kurang memiliki hubungan emosional yang hangat dengan anaknya. Mereka cenderung mengabaikan kebutuhan emosi anak, menerapkan kondisi cinta bersyarat dan menggunakan ancaman untuk tidak memberikan cinta atau perhatian jika anak tidak mau menurut. Komunikasi dengan anaknya pun tidak jauh berbeda dengan yang dialami salah seorang klien saya, dibumbui dengan sedikit manipulasi dan ancaman terselubung “Kalau kamu mau disayang sama mama dan papa, kamu harus menjadi anak yang baik dan penurut.”

    Atau “Papa dan mama paling suka lho… sama anak yang mau mendengarkan kata-kata papa mamanya, nggak nakal, sayang sama adiknya/kakaknya.”

    Atau “Papa jadi sayang sama kamu karena kamu bisa mendapatkan nilai 8 untuk ulangan matematika tadi.”

    Tentunya, anak yang terus menerus menerima perlakuan ini berkembang menjadi anak yang kurang memiliki rasa aman, memiliki konsep diri yang kurang sehat, kurang percaya diri, dan cenderung mengkaitkan kepemilikkan materi atau status sebagai simbol rasa amannya.

    Apabila keadaan ini terus berlanjut, anak tumbuh menjadi pribadi penurut, pasif, biasanya tidak bermasalah dalam beradaptasi dengan norma atau kebalikannya cenderung menentang otoritas. Keduanya sama-sama kurang trampil dalam bersosialisasi. Mereka juga biasanya tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak tahu apa yang baik untuk diri mereka ataupun tujuan hidup mereka. Mereka sering mengalami kebingungan mengenai hal yang benar dan salah. Orang yang tumbuh dengan keadaan demikian tentunya tidak akan mengalami kebahagiaan dalam hidupnya.

    Orang yang tumbuh menjadi pribadi yang penurut dan pasif akan lebih senang jika orang lain yang mengambil keputusan untuk dirinya. Akibatnya, hubungan yang dibina oleh orang seperti ini akan menjadi sebuah hubungan yang rapuh, mudah mengalami konflik. Bahkan ketika memasuki pernikahan, mereka cenderung memilih pasangan yang suka mengontrol dan kasar. Atau, kemungkinan kecil, orang yang tumbuh cenderung melawan secara terang-terangan kepada orangtua dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh orangtua. Misalnya kabur dari rumah atau menjalin hubungan dengan pasangan yang jelas-jelas tidak disukai oleh orangtua. Biasanya gaya pengasuhan ini lebih banyak berdampak negatif kepada anak laki-laki daripada anak perempuan. (bersambung)

    Sandra M.,MPsi, Psikolog