Kategori: Artikel

  • Setiap Anak Memiliki Talentanya

    Setiap Anak Memiliki Talentanya

    “Kamu ini malu-maluin…. Nilaimu selalu buruk. Dasar tidak berguna!”, salah seorang Ibu mengumpat saking kesalnya kepada anaknya, yang nilai akademisnya kurang sesuai dengan yang ia harapkan. Ia sudah berusaha sekuat tenaga agar anaknya bisa menyamai teman-temannya, hingga ia lupa bahwa anaknya memiliki talenta lain yang sangat potensial untuk dikembangkan, yaitu menari.

    Para Orangtua, terkadang mata kita menjadi buta ketika orientasi keberhasilan yang kita tetapkan untuk anak-anak kita hanyalah keberhasilan akademis.

    “Ya setidaknya sama lah dengan yang lain”, salah seorang Bapak memberikan alasan. Coba simak sebuah pengalaman berikut.

    Seorang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro di sebuah Perguruan Tinggi merasa kewalahan dengan mata kuliah yang digelutinya. Ia merasa telah salah memilih jurusan. Ayahnya mengetahui kegundahan anaknya. Ia tahu bahwa anak memiliki ketertarikan bermain keyboard. Ia pernah memperhatikan anaknya ketika anaknya masih di Sekolah Dasar, betapa anaknya terpesona oleh permainan keyboard salah seorang anak yang kebetulan tampil dalam sebuah acara yang dihadiri olehnya dan keluarganya.

    Namun, anaknya tidak pernah mengungkapkan keinginan itu padanya. Dan akhirnya ia pun melupakannya. “Jon, apakah kamu ingin les piano atau sejenisnya?”, Tanya Bapak tersebut kepada anaknya yang sudah menjadi mahasiswa. Sang anak sangat terkejut. Ia telah memendam keinginan tersebut sangat lama, sejak masih duduk di bangku SD.

    “Bapak mau membelikanmu piano atau keyboard, asal kamu bisa menyelesaikan kuliahmu dengan baik”, lanjut Sang Bapak. Dengan penuh gembira, mahasiswa tersebut menyanggupi syarat yang diajukan oleh Sang Bapak. Demikianlah, setelah ia dibelikan sebuah keyboard, mengikuti kursus, dan bisa memainkan keyboardnya, secara signifikan nilai-nilai semua mata kuliah pun membaik. Dan, ia pun bisa lulus dengan nilai yang baik pula. Bahkan, ia bisa mencari uang untuk membantu membiayai kuliahnya, dengan keyboardnya.

    Galilah talenta anak-anak Anda. Boleh jadi, ketika talenta tersebut berkembang, saat itu pula potensi lainnya ikut berkembang. Karena, kegembiraan adalah sumber energi bagi seorang anak untuk mengembangkan segala potensi yang ada padanya.

    Video berikut ini menggambarkan betapa seorang anak yang pada awalnya dianggap pecundang, pada akhirnya justru menjadi motivator bagi temannya untuk melakukan hal sebagaimana dirinya. Selamat menyimak

  • Mengajarkan Anak Meminta Maaf

    Banyak orang mengatakan bahwa “meminta maaf” itu mudah. Namun, bagi sebagian orang, yang belum bersedia belajar untuk melakukannya, memang dirasa sangat sulzt. Sebagai orangtua, mengajarkan anak meminta maaf memang sebuah kewajiban. Mengapa? Karena, melalui sikap meminta maaf, anak belajar untuk merendahkan hati, belajar mengoreksi diri, dan belajar untuk tidak menang sendiri.

    Permintaan maaf bukanlah berbicara tentang “aku yang salah” dan “mereka yang benar”, melainkan belajar tentang nilai kehidupan. Nilai sebuah relasi. Maka, dengan meminta maaf kita sudah memenangkan sebuah nilai relasi
    melebihi ego kita. Kita menang atas diri kita sendiri. Itulah yang perlu ditanamkan kepada anak-anak kita.

    Sesulit apakah mengajarkan nilai kerendahhatian melalui perbuatan minta maaf? Video yang ada di bawah ini menggambarkan betapa sulitnya seorang Ayah mengajarkan anaknya meminta maaf. Ia bahkan mengatakan, “Ayo ucapkan I am sorry…. Buka mulut kamu, ucapkan sorry….
    Apa sih susahnya membuka mulut dan mengucapkan sorry?”.
    Ayah itu gigih sekali dan terus mengulang permintaannya kepada salah satu anaknya yang telah melakukan perbuatan yang kurang menyenangkan terhadap saudaranya.

    Di saat sang anak sudah menyadari pentingnya meminta maaf, kemudian ia meminta maaf kepada saudaranya, di saat yang sama ada seorang perempuan yang menabraknya. Ini adalah tantangan baru bagi Ayahnya untuk konsekuen mengajarkan pentingnya “meminta maaf”. Ayah itu meminta kepada perempuan asing tersebut untuk meminta maaf.

    Sayang, perempuan itu tidak menanggapinya dengan baik. Demi tegaknya prinsip dalam pembelajaran yang ia berikan kepada anak-anaknya, Ayah ini lalu melapor kepada Manager Toko. Namun, Manager Toko juga tidak berhasil membuat perempuan itu meminta maaf kepada gadis kecilnya.

    Akhirnya……. Peristiwa mengharukan terjadi. Petugas keamanan, atas perintah Sang Manager Toko, menangkap perempuan asing tersebut dengan tuduhan telah bersikap tidak sopan. Ketika perempuan tersebut meronta karena diborgol oleh petugas keamanan, gadis kecil itu mendekat. Gadis kecil itu mengatakan persis sama yang dikatakan Ayahnya kepadanya. “Nyonya…. Aku hanya ingin Nonya mengatakan sorry…. Tinggal membuka mulut dan mengatakan sorry….”. Dan…. Perempuan itu mengatakan maaf sambil menangis dalam pelukan gadis kecil itu.

    Kata “maaf” memang mudah diucapkan, namun, ternyata juga butuh keberanian untuk mengucapkannya. Keberanian untuk merendahkan hati dan melepaskan semua atribut yang melekat dalam diri kita, sangat dibutuhkan untuk mengucapkan kata sederhana…….”maaf…”.
    Simak tayangan video ini.

  • Pilih Mana? Cinta Diam-Diam atau Cinta Ekspresif?

    Pembelajaran Komunikasi Efektif dengan Anak (Bunda Ve) Setiap orangtua memiliki caranya masing-masing untuk mengungkapkan kasih sayangnya pada anak. Ada orangtua yang mengirimkan cintanya secara diam-diam kepada anak. Ada pula orangtua yang lebih suka memperlihatkan kasih sayangnya secara terang-terangan. Menurut Anda, lebih efektif yang manakah dari kedua cara tersebut? Orangtua yang memilih cara diam-diam berpendapat bahwa dengan cara itu mereka bermaksud untuk mendidik anak-anaknya agar mandiri, tidak cengeng, dan tegar. Sementara orangtua yang lebih suka secara terbuka mengungkapkan kasih sayangnya, mereka berpendapat bahwa anak-anak belum mampu membaca yang tersirat, mereka lebih mudah memahami yang tersurat atau yang terlihat dan yang dirasakan. Ketika anak merasakan bahwa orangtuanya sungguh mencintainya, diharapkan anak tumbuh dengan rasa percaya diri, hubungan dengan orangtua pun bisa lebih hangat. Dua-duanya memiliki alasan yang boleh jadi sama baiknya. Namun, sangat riskan untuk pilihan yang pertama, karena, kita tidak tahu sampai kapan kita bisa terus bersama mereka. Bugaimana jika setelah kita tiada, anak baru memahami maksud kita? Apakah itu tidak meninggalkan penyesalan yang sangat dalam pada anak? Dan apakah kita tidak ingin merasakan kegembiraan anak ketika mereka menapaki jenjang perkembangan hidupnya? Video berikut ini menggambarkan betapa seorang Ayah begitu mencintai anaknya, dengan cara diam-diam. Beruntung si anak masih memiliki waktu untuk memahami semua maksud baik Ayahnya. Bagaimana jika tidak? Apakah Anda mau mengambil resiko memilih cara ini? Silakan simak video berikut ini. Salam Hebat Untuk Anda

  • 6 Solusi Jitu Mengatasi Anak Yang Malas Belajar

    Solusi Jitu Mengatasi Anak yang Malas Belajar – Anak yang malas belajar merupakan masalah yang sering orang tua hadapi, hal ini karena banyak faktor yang mempengaruhi anak menjadi malas untuk belajar seperti lebih suka bermain, menonton TV, dan masih banyak hal lainnya.

    Anak yang malas belajar selalu beranggapan bahwa belajar seperti membaca dan menulis merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan. Untuk itu sebagai orang tua, Bunda harus tahu bagaimana caranya agar belajar menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan bagi anak, sehingga anak bisa menganggap belajar adalah sebuah kebutuhan yang harus Mereka lakukan. lalu bagaimana agar anak mau belajar di rumah dan sekola ? Berikut adalah solusi jitu mengatasi anak yang malas belajar

    1. Reward
    Bagi orang tua yang bingung tentang cara membujuk buah hatinya agar mau belajar, reward adalah cara yang cukup ampuh. Anda dapat menawarkan hadiah jika sang anak berhasil meraih nilai yang baik dikelas. Dengan begitu anak akan menjadi lebih bersemangat dan tidak malas belajar lagi.

    2. Dampingi anak belajar
    Dengan selalu mendampingi anak ketika belajar, anak akan menjadi merasa lebih diperhatikan oleh orang tuanya. Hal ini akan mempengaruhi psikologi anak dan mendorong dirinya untuk semangat belajar. Biasakan untuk mengajari anak dengan penuh kesabaran dan ciptakan suasana menyenangkan agar tidak membosankan.

    3. Jadilah orang tua yang sabar dan tidak emosional
    Ketika mengajarkan seorang anak untuk menyelesaikan tugas sekolahnya, jangan memarahinya. Memarahinya hanya akan membuat anak menjadi merasa kapok dan enggan untuk belajar lagi.

    4. Beli buku dengan hiasan yang menarik
    Belilah buku-buku yang dapat menggugah selera belajar anak. Misalnya, jika buah hati anda menyukai tokoh kartun spiderman, maka yang perlu anda lakukan adalah membeli perlengkapan sekolah dengan motif tokoh kartun tersebut. dengan begitu anak akan mudah tergugah untuk selalu belajar.

    5. Ciptakan suasana belajar sambil bermain
    Untuk mencegah kebosanan dan mencuri waktu bermain buah hati untuk belajar. Sebagai contoh, belilah mainan yang memiliki nilai edukasi seperti balok susun yang diurutkan huruf alfabet dan jenis mainan ini. hal ini cukup ampuh untuk melatih daya ingat anak dalam menghafal huruf alfabet.

    6. Game edukasi
    Bagi anak yang fanatik dengan game, anda dapat mengunduh berbagai jenis game edukasi yang saat ini banyak tersedia di google playstore. Dengan memanipulasi belajar dalam versi game seperti ini, anak akan merasa bermain padahal dirinya juga belajar. Trik ini sudah banyak digunakan dan banyak orang tua yang mengakui trik ini sebagai salah satu trik ampuh untuk membuat anak menjadi semangat belajar.

    Demikian ulasan tentang solusi jitu mengatasi anak malas belajar yang dapat anda terapkan dirumah. Jika anak sudah meyukai belajar di rumah, tidak menutup kemungkinan ia juga senang untuk belajar di sekolah. selamat mencoba!

    Sumber : http://www.nitips.com/solusi-jitu-mengatasi-anak-yang-malas-belajar/

  • Bagaimanakah Cara Mendidik Anak Nakal agar Menjadi Baik?

    Cara mendidik anak nakal memang tidak mudah dan memerlukan sedikit usaha ekstra jika dibandingkan dengan mendidik anak yang memiliki kepribadian yang biasa- biasa saja bahkan lebih cenderung mudah diatur. Dalam penerapannya, banyak sekali orang tua yang tidak mampu sabar dalam mengendalikan anak yang nakal dan mereka cenderung melakukan kekerasan kepada anak sebagai salah satu solusi terbaik dalam mendisiplinkan anak yang nakal. Sebagian besar orang tua mungkin menganggap bahwa hal ini merupakan hal yang benar, namun apakah demikian? Benarkah mendidik anak yang nakal dengan jalan kekerasan akan membuat mereka menjadi lebih disiplin? Jawabannya tentu tidak. Mendisiplinkan anak yang nakal dengan jalan kekerasan justru akan membuat anak semakin tidak takut dengan siapapun, bahkan cenderung menjadi bandel. Dalam hal ini, orang tua harus menerapkan cara yang berbeda dalam menghadapi anak yang nakal namun bukan dengan jalan melakukan kekerasan seperti main pukul terhadap anak, karena hal tersebut akan berdampak sangat buruk pada pertumbuhan anak. Untuk mendisiplinkan anak yang nakal. Terdapat beberapa cara yang perlu diterapkan agar anak mnjadi disiplin dan sembuh dari kenakalannya. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya yang nakal menjadi disiplin, bukan? Hal ini karena memiliki anak yang nakal terkadang membuat orang tua depresi karena merasa salah dalam mendidik anak. Cara mendidik anak nakal agar nurut Disadari atau tidak, penyebab anak menjadi penurut atau bahkan menjadi nakal memang sedikit banyak terjadi karena campur tangan orang tua dalam menerapkan pola asuh kepada anak. Untuk itu, bagi para rang tua khususnya para ibu yang memiliki anak yang nakal, hendaknya kita harus siap dan lebih sabar dalam mengembalikan kepribadian anak menjadi pribadi yang disiplin yang taat. Lantas bagaimanakah cara mendidik anak yang nakal agar mereka mamp menjadi anak yang patuh dan disiplin sehingga dapat membanggakan kedua orang tuanya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kali ini kita akan membahas mengenai seputar anak yang nakal, penyebab anak menjadi nakal serta bagaimana cara mengatasi anak yang nakal sehingga mereka dapat kembali menjadi anak yang disiplin dan patuh terhadap kedua orang tuanya. Sebelum mengetahui cara mendidik anak yang nakal, pertama kali yang harus diketahui oleh orang tua adalah dengan mencari tahu apa yang menjadi penyebab sang anak menjaid nakal. Terdapat beberapa sebab mengenai anak yang tumbuh menjadi anak yang nakal pada usia- usia tertentu yang pada awalnya mereka sebenarnya adalah anak yang baik. Di antara sebab- sebab tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 1. Ketika masih bayi atau berusia sekitar di bawah lima tahun, anak sudah dibiasakan oleh orang tua dengan menuruti semua kemauan anak. Hal ini sering terjadi terutama bagi orang tua yang tidak tega melihat anakanya menangis sehingga mereka lebih memilih untuk menuruti apa yang diinginkan sang anak. Dengan memanjakan anak seperti ini, secara tidak langsung orang tua tengah mendidik anak menjadi anak yang semua keinginannya harus dipenuhi dan jika tidak, mereka akan mengancam kedua orang tuanya dengan mengeluarkan jurus andalan, yakni menangis. Hal inilah yang membuat sang anak tumbuh menjadi pribadi yang nakal ketika mereka memasuki usia pra sekolah. Mereka akan senang merengek dan tak jarang dari mereka yang berteriak- teriak meminta dibelikan sesuatu tanpa mempedulikan kondisi orang tua saat itu. Yang terpenting adalah kebutuhannya, apapun keadaannya. Dengan membiasakan anak dimanja sejak kecil, akan menumbuhkan pribadi yang egois. 2. Orang tua tidak menegur sang anak bahkan cenderung mentertawai mereka pada saat mereka mengucapkan kata- kata yang tidak patut. Hal ini tak jarang pula terjadi pada masyarakat kita terutama dari kalangan orang tua yang kurang berpendidikan. Mereka cnderung membiarkan dan mentertawakan anak mereka ketika anak- anak mereka berkata yang tidak sopan dan bahkan berkata- kata kotor. Dengan sikap orang tua yang seperti itu, maka anak akan menganggap bahwa apa yang ia lakukan bukanlah suatu kesalahan sehingga anak akan cenderung mengulangi perkataan- perkataan tersebut sehingga akan terbawa sampai ia dewasa. Melakukan pembiaran terhadap fenomena ini akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang arogan dan tidak memiliki tata krama. 3. Kurangnya penerapan pelajaran ruhani kepada sang anak. Sebagai orang tua, tentu kita semua tahu bahwa agama merupakan satu- satunya pegangan hidup yang mampu menuntun seseorang untuk menuju ke arah yang lebih baik. Hal ini perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Apabila anak tidak diperkenalkan mengenai agama semenjak ia masih kecil, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tak terkendali sehingg tak jarang dari mereka yang tumbuh menjadi anak yang nakal. 4. Terlalu sering bertengkar di hadapan sang anak juga merupakan salah satu faktor utama anak tumbuh menjadi anak yang nakal. Kejadian ini sering dialami oleh orang tua yang memiliki kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis dimanamereka terlalu sering brtengkar di hadapan sang anak sehingga sang anak berpikir bahwa keluarga mereka dipenuhi dengan kebencian- kebencian yang mengakibatkan sang anak menjadi berontak sebagai bentuk protes terhadap perilaku kedua orang tuanya. Apabila kita mengamati anak- anak di sekitar kita yang kedua orang tuanya memiliki kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis, maka hal ini sering kita jumpai pada anak- anak mereka. 5. Terlalu sering memberikan uang saku yang berlebihan kepada sang anak dan memfasilitasi mereka dengan hal- hal yang sesungguhnya tidak terlalu mereka butuhkan juga menjadi penyebab utama sang anak tumbuh menjadi pribadi yang nakal. Hal ini biasanya terjadi di kota- kota besar yang mana anak tumbuh di dalam sebuah keluarga yang kedua orang tuanya merupakan orang- orang yang fokus pada karir. Orang tuasemacam itu cenderung memfasilitasi anak- anaknya dengan segala kelebihan dan kecukupan dengan menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan kasih sayang dengan terpenuhinya hal- hal tersebut. Padahal, membiasakan anak dengan barang mewah justru akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki jiwa sosial dan tak jarang dari mereka akan tumbuh menjadi anak yang nakal dan tak terkendali. Kelima faktor di atas merupakan beberapa dari sekian banyak faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi nakal. Setelah mengetahui beberapa faktor yang membuat anak tumbuh menjadi anak yang nakal, maka langkah orang tua selanjutnya adalah dengan mulai menghentikan kebiasaan yang menjadi penyebab anak menjadi nakal tersebut dengan menerapkan beberapa cara mendidik anak nakal. Perlu diingat bahwa mengembalikan anak nakal menjadi penurut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, terlebih ketika mereka masih berusia anak- anak. Untuk itu, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh oleh orang tua dalam mengatasi anak- anak yang nakal. – Cara pertama yang dapat ditempuh dalam mengatasi anak yang nakal adalah dengan menetapkan peraturan- peraturan yang tegas di rumah untuk membatasi perilaku anak yang dirasa sudah terlewat batas. Pada tahap pertama hal ini tentu akan sangat sulit diterima oleh sang anak, namun dengan menerapkan hukuman, maka mau tidak mau sang anak akan mematuhi peraturan- peraturan yang ditetapkan oleh kedua orang tua. Yang perlu menjadi catatan dalm hal ini adalah tegas bukan berarti keras, namun lebih ke arah bijaksana. Penerapan hukuman yang diberikan kepada anak bukan dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan dalam bentuk lain seperti memotong uang jajan, mengurangi waktu bermain serta mencabut beberapa fasilitas yang biasanya digunakan oleh anak seperti menghentikan untuk memakai sepeda selama beberapa hari, dan lain- lain. Hal ini akan membuat anak berfikir untuk lebih memilih mematuhi peraturan daripada mendapatkan konsekuensi yang ia anggan merugikan dirinya sendiri. – Cara kedua yang dapat diterapkan dalam memberikan treatment terhadap anak yang nakal adalah dengan memberikan anak suatu tanggung jawab dalam skala ringan yang sesuai dengan usia mereka. Sebagai contoh, apabila anak terbiasa dengan menaruh sepatu, tas dan tidak berganti seragam sepulang sekolah, maka anak akan kehilangan sepatunya atau tas atau barang kesayangannya yang lain. Dengan melatih anak untuk membiasakan diri menaruh peralatan sekolah pada tempatnya serta berganti baju sepulang sekolah, maka anak akan merasa bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri sehingga lama kelamaan anak akan cenderung menjadi anak yang bertanggung jawab. Dengan demikian, anak yang nakal terutama yang tidak disiplin akan berubah menjadi anak yang disiplin serta penuh tanggung jawab. Selain menetapkan peraturan- peraturan, tak ada salahnya jika orang tua menjadi pendengar yang baik bagi sang anak karena bisa jadi sang anak menjadi nakal akibat kurangnya perhatian dari orang tua atau anak tidak memiliki tempat untuk bercerita mengenai apa yang dialaminya sehari- hari. Luangkanlah waktu brsma sang anak untuk mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah sang anak dan berikanlah solusi terbaik dari permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dengan menjadi pendengar dan penasehat yang baik, hati anak yang semula kaku dan berontak akan luluh karena mereka akan berfikir bahwa ternyata masih ada orang yang mau mendengarkan perkataannya. Jangan selalu menjadi penasehat yang menuturi sang anak dengan petuah- petuah, namun jadilah pendengar yang baik pula bagi mereka. Dengan demikian, kenakalan mereka perlahan- lahan akan mereda. Dalam menarik anak yang nakal agar ia kembali menjadi anak yang baik, perlu diingat bahwa orang tua hendaknya tidak terlalu kasar kepada anak, namun tidak terlalu lembut kepada mereka. Bersikaplah di tengah- tengah, yakni tetap lembut namun juga tegas terhadap mereka apabila mereka melakukan kesalahan. Dengan demikian, sang anak akan menyadari kesalahan- kesalahan yang mereka lakukan dan mereka akan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka. Sehingga, sang anak akan mampu mengendalikan diri mereka sendiri dan akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki jiwa yang stabil dan berpendirian kuat. Dengan menerapkan beberapa solusi untuk menghentikan anak yang nakal dan mengubah mereka menjadi anak yang baik dan patuh, maka orang tua akan mendapatkan anak yang baik, berkepribadian serta memiliki tata krama yang terpuji dalam masyarakat. Untuk mewujudkan itu semua, hendaknya mulai sekarang orang tua perlu menerapkan beberapapenyebab dan cara mendidik anak nakal. Sumber :http://mutiarabijaksana.com/2014/06/20/bagaimanakah-cara-mendidik-anak-nakal-agar-menjadi-baik/ Salam Hebat untuk Anda

  • Mendidik Anak Ala Positive Parenting

    Tidakkah Anda akan merasa lebih baik ketika orang yang otoritasnya lebih tinggi dari Anda, misal, orangtua atau bos bisa berbicara dengan nada yang nyaman? Tidakkah Anda akan merasa lebih bisa menerima ajaran atau masukan dari guru atau orang yang lebih tua dari Anda jika hal itu disampaikan dengan nada yang kalem? Begitu pun yang dirasa oleh anak Anda mengenai sikap orangtuanya. Dr. Adriana S. Ginanjar, Koordinator Klinik Terpadu Fakultas Psikolog Universitas Indonesia mengatakan, bahwa sikap positive parenting, bisa membantu menerapkan disiplin efektif dan interaksi menyenangkan antara orangtua dan anak. Dalam presentasinya di Rumah Belajar Persada, Jatibening, beberapa waktu lalu, dr. Adriana menyampaikan bahwa positive parenting, yakni pola pengasuhan anak yang menekankan pada sikap positif. Menurutnya, positive parenting bisa dilakukan dengan membantu anak merasa bangga atas dirinya dengan menunjukkan sikap positif dan penuh kasih sayang. Tak lupa pula untuk memberi perhatian lebih saat anak mengikuti aturan, memberi bantuan, dan menunjukkan afeksi. Sementara dalam pembentukan disiplin, orangtua mengajarkannya dengan konsisten dengan konsekuensi yang jelas. Langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk mengasuh anak dengan cara positive parenting menurut dr. Adriana adalah: 1. Mengenali Perkembangan Anak Kenali kemampuan anak, baik kemampuan kognitif, keterampilan fisik, perkembangan emosi, caranya berinteraksi dengan orang lain, juga masalah-masalah khusus yang dihadapinya. 2. Meluangkan Waktu Berkualitas Orangtua sebaiknya mau membuka diri untuk mengetahui dunia si kecil. Agar bisa mencoba melihat dunia dari kacamatanya. Cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan menyediakan waktu khusus bagi anak, memberikan perhatian penuh saat meluangkan waktu berkualitas tersebut, isi dengan kegiatan menyenangkan, dan dilakukan dengan rutin. Dr. Adriana menyarankan untuk menciptakan waktu khusus sebelum tidur dengan membacakan dongeng sebelum tidur bagi anak yang masih balita. Atau bagi anak yang sudah remaja, cobalah sesekali membaca buku yang ia sedang baca, misal chicklit atau novel. 3. Memberi Dukungan dan Pujian Tak hanya orang dewasa yang butuh diberikan pujian dan dukungan. Anak-anak pun seperti itu. Mereka butuh afirmasi dan apresiasi, terlebih dari orang yang mereka anggap penting. Dr. Adriana juga menekankan, saat akan memberikan pujian, pastikan tujuannya tepat dan spesifik. Kenali pula karakter anak, hal ini sangat penting, pada saat ingin menyampaikan pujian pada anak pun amat perlu untuk menyesuaikan cara Anda dengan karakternya. Ada anak yang suka dipuji langsung, tapi tidak di hadapan banyak orang, dan sebaliknya. Dukungan dan pujian merupakan cara untuk mengarahkan tapi tidak memaksa anak, plus merupakan cara untuk memberikan semangat agar bangkit kembali ketika ia sedang terjatuh. 4. Menjadi Model yang Baik Bagaimana ia bisa percaya atas apa perkataan dan nasihat orangtuanya jika Anda tidak melakukan sendiri apa yang diperintahkan kepadanya? Ketika Anda ingin anak bisa berlaku sesuai yang diinginkan, sebaiknya Anda tidak hanya bicara tetapi mencontohkan dengan tingkah laku. Cobalah untuk membuka diri dan tidak “jaim” kepada anak, agar ia terbiasa untuk berdiskusi dan bertanya dengan Anda. Dengan memberi contoh yang baik, Anda juga sekaligus mendorongnya untuk menjadi anak teladan. 5. Memberikan Konsekuensi Logis Dr. Adriana menyarankan agar Anda tidak terlalu mengekang anak. Ketika Anda sudah memberitahukan konsekuensi dari tindakan-tindakan tertentu dan ia tetap melakukan tindakan tersebut, asalkan masih dalam batas yang aman, biarkan ia merasakan konsekuensi tersebut. Kadang hal ini diperlukan untuk meredam rasa penasaran si kecil. Pastikan sangsi atau konsekuensi tersebut masih dalam batasan logis dan bisa dimengerti oleh si anak. Ini akan membantu si kecil belajar bertingkah laku. Cara ini tergolong cukup efektif. 6. Fokus Pada Tingkah Laku Positif Jangan hanya melarang. Berikan pujian atau reward atas tindakan-tindakan positif yang baik dari si kecil. Saat akan memberikan reward, pastikan dalam bentuk yang tepat dan benar-benar disukai si kecil. Mencoba tawar-menawar dengan si kecil untuk melakukan sesuatu yang ia suka dengan tindakan yang Anda tahu sulit untuk ia lakukan akan menjadi motivasi baginya. Namun, jangan sampai untuk segala hal harus diberikan iming-iming. Abaikan tingkah laku negatif dari anak yang memancing konflik berulang. 7. Bersikap Tegas Terapkan aturan secara konsisten. Tegurlah anak jika ia berbuat salah dan itu merupakan hal aturan yang sudah disepakati. Jangan lupa untuk bersikap adil pada semua anggota keluarga. 8. Tanamkan Nilai-nilai Ajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan, seperti sopan santun, tolong-menolong, berbagi, saling mengasihi, dan toleransi. Caranya? Berikan contoh konkret dengan menjadi model. Cara lainnya bisa juga dengan pergi menjalankan ritual agama bersama keluarga. 9. Lakukan Diskusi dan Negosiasi Diskusi dan negosiasi adalah hal yang wajar dilakukan. Saat seperti ini, penting untuk menghargai pendapat anak dan fleksibel dalam menerapkan aturan. Dengarkan pendapat si anak dan mencoba mencari pemecahan permasalahan bersama. Ajar anak untuk bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain. Untuk anak yang sudah besar, bicarakan konsekuensi jika ada negosiasi seputar aturan. 10. Ciptakan Komunikasi Efektif Yang namanya komunikasi efektif dengan lawan bicara, butuh kesepakatan. Dalam hubungan personal, tentu komunikasi akan lebih efektif jika terjadi dalam dua arah. Selain Anda harus bisa menyampaikan pesan dengan jelas dan berharap ia bisa mengerti, Anda juga harus bisa mendengarkan dengan hati. Mendengarkan dengan hati adalah berusaha menangkap apa yang dirasakan oleh si anak, dengan tidak emosi, fokus dan konsentrasi kepadanya, tidak terbagi dengan hal-hal lain. 11. Disiplin Jelas & Konsisten Ketika membuat aturan di dalam keluarga, pastikan aturannya cukup jelas dan fleksibel, juga terdapat kesepakatan di antara keluarga. Jika orangtua ada ketidaksepakatan, pastikan tidak bertengkar di depan anak. Jika ada konsekuensi, beritahukan dan sepakai sejak awal. Hal-hal semacam ini akan membantu mendorong anak untuk mandiri. Dr. Adriana menyimpulkan, dalam hal aturan, jika disampaikan dengan jelas dan sudah disepakati bersama, lalu dijalankan dengan konsisten, akan menjadi hal yang positif. Sumber : http://wawansuwanda316.blogspot.com/2011/03/mendidik-anak-ala-positive-parenting.html Salam Hebat untuk Anda

  • 5 Cara Mendidik Anak Supaya Patuh

    Mendidik anak Bukan dengan menghukum atau cara kekerasan.

    Anak yang patuh bukanlah dibentuk dengan cara kekerasan atau hukuman. Kepatuhan pada anak justru bisa dimunculkan dari kesadaran dalam diri anak tersebut. Orangtua sebaiknya mendidik kepatuhan anak dengan cara yang membuatnya menyadari bahwa kepatuhan adalah nilai positif.

    Sayangnya hal itu tidaklah tidaklah mudah. Semua harus melewati proses yang membutuhkan kesabaran dan usaha ekstra, dan tentunya hal ini bukanlah hal yang tidak mungkin.

    Berikut adalah cara untuk melatih dan membuat anak supaya menjadi lebih patuh:

    1. Konsisten
    Untuk melatih anak supaya lebih patuh Anda harus konsisten dalam menentukan peraturan. Bila hari ini Anda melarangnya bermain di jalanan, maka minggu depan peraturan ini harus tetap dijalankan, karena anak selalu mencari celah untuk bisa melanggar aturan yang dibuat orangtuanya.

    2. Bersikap lembut
    Anak umumnya tidak dapat merespon dengan baik bila kita menghadapi mereka dengan bentakan atau amarah. Tegas bukan berarti harus bersikap keras, Anda bisa lebih lembut. Coba untuk mengerti perasaan mereka dan tekankan bahwa mereka harus bisa mengikuti peraturan dan arahan Anda.

    3. Beri contoh
    Ini adalah cara yang paling efektif untuk membuat anak patuh. Beri contoh pada mereka apa yang harus mereka perbuat. Jangan sampai mereka justru melihat Anda melakukan hal yang Anda larang kepada mereka.

    4. Puji mereka
    Jangan ragu untuk memuji dan membesarkan hati mereka ketika mereka melakukan hal yang kita inginkan. Dengan begitu mereka akan merasa lebih dihargai atas usahanya.

    5. Menjelaskan hal kepada mereka
    Jelaskan kepada mereka maksud dan tujuan baik Anda menetapkan aturan pada mereka, sehingga mereka mengerti kenapa mereka harus mematuhi peraturan yang Anda buat.

    Sumber : 5 Cara Mendidik Anak Supaya Patuh | Perempuan | Beritasatu.com

    Salam Hebat untuk Anda

  • Tips dan cara menjadi sosok Orangtua yang Baik, Bijaksana dan Teladan

    1. Tahu kapan waktunya untuk serius dan bercanda

    Sosok orangtua yang bijak tentu harus tahu kapan waktunya untuk serius dan bercanda. Untuk mengkombinasikan keduanya juga bukan hal yang mudah. Saat menyangkut hal yang bersifat prinsipil dan penting dalam kehidupan sang anak, peranan orang tua sangatlah dibutuhkan untuk menjadi penasehat yang baik dengan pemikiran yang matang, bukan sebagai penentu sebuah keputusan. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Economic and Social Research Councils tahun 2011, sosok orang tua yang gemar bercanda dengan anaknya justru bisa memicu pola pikir anak untuk menjadi lebih kreatif dan kritis.

    2. Berpikir positif

    Orangtua dituntut untuk selalu berpikir positif dan menyikapi segala hal yang menyangkut kehidupan sang anak dengan bijak. Tuntun dan berikanlah anak ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan yang baik dan benar, terutama dalam hal pendidikan dan kehidupan sosialnya. Orangtua yang baik tentu tak akan berlaku kasar dan egosentris kepada anaknya karena sadar jika perilaku demikian justru akan berakibat buruk bagi psikologis sang anak. Perilaku dan segala tindak tanduk orangtua akan terekam selamanya dalam memori sang anak dan sangat berpengaruh terhadap pembentukan mental sang anak. Sebagaimana tercermin dalam sebuah peribahasa, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.

    3. Cerminkan kasih sayang yang tulus

    Kasih sayang yang tulus adalah “modal” utama bagi sang anak untuk menjadi kuat, tabah dan tak merasa sendiri dalam menjalani hidup. Sikap yang mencerminkan kasih sayang dari orang tua akan membentuk emosi yang positif akan membantu anak untuk tetap ulet menghadapi semua tantangan dalam hidup dan di masa-masa sulit mereka.

    4. Relakan mereka untuk persils

    Saat sang anak beranjak dewasa, sosok orang tua tetap tak akan terkurangi bagi anaknya. Meskipun demikian, biarkanlah sang anak mengambil keputusan bagi hidup mereka sendiri. Berikanlah anak ruang bagi sang anak berpikir untuk dirinya sendiri. Misalnya saat sang anak diterima disebuah perguruan tinggi di luar kota.

    Adalah hal yang wajar setiap orang tua tentu akan merasakan kecemasan saat harus melepas anaknya, padahal justru hal ini belum tentu hal yang buruk karena sang anak akan mendapatkan pengalaman baru yang kelak akan berguna bagi sang anak berkeluarga dan dituntut untuk mandiri. Tetap menjadi bijak dalam menyikapi hal ini dan menyadari bahwa tak selamanya orang tua dapat mengawasi anaknya 24 jam sehari.

    Seorang pujangga pernah menulis sepenggal nasehat bijak bagi orangtua sebagai berikut,
    Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.
    Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.
    Berikanlah kasih sayangmu, tapi jangan paksakan kehendakmu.
    Karena mereka punya alam pikiran sendiri.
    Sepatutnya kau berikan tempat bagi raganya, tetapi tidak untuk jiwanya.

    5. Posisi ibu yang mampu memberikan kehangatan dalam keluarga

    Posisi ibu merupakan posisi yang paling krusial dalam rumah tangga dan pembangunan mental serta psikologi sang anak. Hal ini sangat logis mengingat ibu merupakan sosok yang paling sering bersama dan merawat anak dirumah. Ibu yang baik mampu berkomunikasi dengan anak dengan penuh kasih sayang, harmonis dan menjadi “jembatan” penghubung yang baik antara sang anak dan sang ayah. Merasa disayangi, dimengerti, dijaga dan dikasihi merupakan faktor penting bagi sang anak untuk berkembang menjadi anak yang baik dan berbakti kepada orangtua.

    6. Menahan emosi dan tahu bagaimana melontarkan argumentasi

    Sebuah keluarga tentu tak selamanya harmonis. Saat timbul sebuah konflik, orang tua dituntut untuk dapat menjaga emosi dan tahu bagaimana caranya melontarkan argumentasi. Meskipun marah, namun tetaplah dalam porsi orang tua yang mana harus bijaksana dalam mengungkapkan argumentasi kepada sang anak. Hindari argumen yang bersifat negatif dan mengintimidasi jiwa dan mental sang anak.

    7. Tak ada yang sempurna

    Janganlah menuntut akan kesempurnaan karena hakikatnya tak ada yang sempurna di dunia ini. Hal ini berlaku untuk semua hal termasuk diri Anda ataupun sang anak. Janganlah menyiksa diri sendiri dengan target, pencapaian dan ekspektasi yang terlalu besar. “Tak ada gading yang tak retak”, tetap sadari akan hal tersebut dan memaklumi jika setiap orang memiliki kelemahan, begitu juga dengan diri Anda.

    8. Kenali pribadi anak

    Mungkin banyak dari orang tua yang seakan-akan tahu benar bagaimana cara mencukupi semua kebutuhan sang anak dan membesarkannya. Namun pada kenyataannya tak semua orang tua dapat dengan mudah mengenali kepribadian sang anak. Setiap orang tentu memiliki kepribadian yang berbeda-beda, oleh karenanya pahami dan selamilah karakter masing-masing anak sehingga Anda tahu kapan dan bagaimana caranya melakukan pendekatan dan bersikap kepada anak.

    9. Meminta maaf

    Menua kemudian kelak menjadi orangtua adalah hal yang hampir pasti dijalani oleh setiap orang, begitu pun halnya dengan anak-anak Anda. Belajarlah dari pengalaman saat Anda pernah menjadi seorang anak di masa lalu dimana mungkin Anda juga pernah melakukan apa yang dilakukan saat ini oleh anak Anda. Berbuat salah adalah hal yang manusiawi, wajar dan bisa saja terjadi kepada siapapun orangnya tanpa memandang usia. Jika Anda merasa memiliki salah terhadap anak, meminta maaflah. Meminta maaf bukanlah hal yang memalukan yang dapat mencederai harga diri yang dimiliki oleh orangtua, namun meminta maaf yang tulus justru akan membuat Anda menjadi orangtua yang sempurna dimata sang anak.

    Demikianlah artikel sederhana mengenai beberapa tips dan cara menjadi sosok orangtua yang baik, teladan dan bijaksana bagi anaknya. Silakan diterapkan dan semoga tulisan sederhana ini bisa memberikan manfaat, khususnya bagi Anda dan keluarga.

    Penulis: Tri Haryadi
    Sumber : http://www.berjibaku.com/2014/03/tips-dan-cara-menjadi-sosok-orang-tua.html

    Salam Hebat untuk Anda

  • Anak yang Suka Memberontak Berawal dari Cara Asuh yang Salah

    Ketika seorang anak mulai beranjak remaja, muncul kekhawatiran pada benak sebagian besar para orang tua. Kekhawatiran akan masa depan anak-anaknya menyebabkan orang tua berusaha mendidik anak-anak mereka semenjak usia dini dengan sebaik mungkin, namun terkadang orang tua tidak menyadari atau bahkan melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putri mereka.

    Kesalahan-kesalahan dalam mendidik yang tidak disadari oleh orang tua inilah yang menyebabkan anak-anak tidak menghargai bahkan memberontak terhadap orang tua mereka.?Anak adalah aset berharga Anda di masa depan. Anak-anak akan meneruskan garis keturunan keluarga Anda, jika orang tua salah dalam mendidik anak-anaknya bukannya membahagiakan keluarga yang diperoleh malah bisa mendatangkan aib bagi keluarga.
    Membuat anak untuk patuh atau jera bukan dibentuk dengan cara kekerasan atau dengan hukuman untuk menakut-nakuti. Kepatuhan seorang anak haruslah berasal dari kesadaran dalam diri anak tersebut dan menjadi tugas orang tua untuk membantu anak-anak memahami nilai-nilai kepatuhan tersebut.?

    Ada banyak cara dan saran yang bisa Anda peroleh, namun tentu saja tidak seluruhnya sesuai untuk diterapkan dalam keluarga Anda, pandai-pandailah memilah dan kenali dengan baik situasi keluarga Anda, bijaksanalah.?
    Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda pertimbangkan untuk membantu dalam mengasuh putra-putri Anda :

    1. Seorang anak bukanlah diri Anda?
    Anak-anak yang Anda lahirkan ke dalam dunia ini terlahir sebagai individu, oleh karena itu pahamilah bahwa memaksakan kehendak Anda kepada anak Anda tidak akan pernah mendatangkan kebaikan. Pahamilah karakter anak Anda dan carilah tahu ketertarikannya akan sesuatu, kemudian bimbinglah mereka untuk meraihnya.

    2.Jadilah teladan?
    Seorang anak ibarat spon yang sangat mudah menyerap air. Hal-hal yang baik dan buruk dalam masa pertumbuhan mereka akan mereka serap dan hal itu membentuk karakter dan perilaku mereka nantinya. Bersikaplah lembut, jadilah sabar terutama kepada pasangan Anda, jadilah penuh cinta kasih dan panjang sabar, ramahlah terhadap semua orang, murah hati dan rendah hatilah. Ketika anak-anak Anda melihat teladan Anda yang baik mereka akan
    tergoda untuk melakukan hal yang serupa.

    3. Konsisten?
    Menjadi orang tua harus tegas dan konsisten. Dalam hal membuat peraturan di dalam rumah tangga peran orang tua sangat dominan, namun bukan berarti saran dan masukan dari anak-anak dikesampingkan, libatkan anak-anak Anda dalam membuat peraturan dan ketika sebuah peraturan di dalam rumah tangga telah disepakati bersama, maka mintalah mereka semua untuk konsisten melaksanakannya, terutama Anda sebagai orang tua.
    Jika Anda seorang perokok dan melarang anak-anak Anda untuk merokok, sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk segera berhenti merokok. Seorang anak melihat Anda sebagai sosok yang perlu dihormati, ditiru dan diteladani. jika Anda tidak bisa memberikan teladan yang konsisten, maka Anda patut untuk khawatir anak Anda akan memiliki alasan yang kuat untuk tidak mematuhi Anda.

    4. Beri teguran dengan halus?
    Kehidupan ini adalah masa di mana kita semua sedang belajar. Anak-anak Anda masih baru di dunia ini dan belum berpengalaman dan seringkali melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Ketika anak-anak Anda melakukan kesalahan, tugas orang tualah untuk menegur dan mengingatkan mereka, teguran-teguran Anda sebaiknya tidak diucapkan dengan kemarahan, lakukanlah dengan kelemahlembutan dan tutur kata yang baik. Sumpah serapah dan makian hanya akan membuat perasaan anak-anak Anda terluka, itu hanya akan membangkitkan amarah dan dendam dalam diri anak-anak Anda.

    5. Beri pujian?
    Manusia mana yang tidak suka bila dipuji, oleh karena itu pujilah anak-anak Anda dengan wajar ketika mereka berhasil melakukan sesuatu, dengan memberikan pujian tidak hanya akan membangkitkan rasa percaya diri anak-anak Anda tapi juga akan membuat anak-anak Anda menghargai orang-orang di sekitarnya.

    6. Jangan malu untuk meminta maaf?
    Ada kalanya orang tua juga melakukan kesalahan, ketika Anda melakukan kesalahan dan diketahui oleh anak-anak Anda jangan malu untuk meminta maaf kepada mereka. Dengan cara ini Anda menunjukkan kepada mereka arti sebuah kebesaran hati, anak-anak Anda akan semakin menghormati Anda.

    7. Ciptakan hubungan yang dekat dengan anak-anak Anda?
    Seharusnya antara orang tua dan anak tidak ada jurang pemisah, kedekatan antara orang tua dan anak sebaiknya menjadi prioritas utama. Jika hubungan antara orang tua dan anak terjalin harmonis maka komunikasi dua arah akan terjalin dengan baik.?Pada dasarnya tidak ada manusia yang diciptakan dengan karakteristik yang sama, oleh karena itu pola pendidikan terhadap satu orang dengan orang yang lain dapat berbeda-beda. Kenalilah anak-anak Anda dengan baik janganlah memaksakan kehendak Anda kepada anak-anak Anda.
    Jika Anda para orang tua pernah mengalami perlakuan yang tidak baik dari orang tua Anda sebelumnya, jangan lampiaskan pengalaman Anda kepada anak-anak Anda, cukuplah Anda yang mengalaminya dan pastikan anak-anak Anda mendapatkan perlakuan yang baik dari Anda.?Anak-anak akan selalu mengingat hal-hal yang pernah Anda ajarkan apakah itu baik atau buruk seumur hidup mereka.

    Jika Anda menginginkan anak-anak Anda untuk patuh dan menghormati Anda didiklah mereka dengan teladan, karena teladan lebih ampuh daripada ratusan peraturan yang tidak dijalankan secara konsisten.

    Sumber : http://keluarga.com/pengasuhan/anak-yang-suka-memberontak-berawal-dari-cara-asuh-yang-salah

    Salam Hebat untuk Anda

  • “Cara Menjadi Orangtua yang Sukses Mendidik Anak”

    Sifat dan perilaku seseorang telah terbentuk sejak anak-anak. Orangtua yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, akan menghasilkan individu yang baik ketika dewasa.?? Sebagai orang tua, Anda memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masa depan anak Anda. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui langkah-langkah yang tepat dalam mendidik anak.?? Berikut 7 konsep praktis untuk menjadi orangtua yang sukses mendidik anak : 1. Jadilah konsisten??Anak selalu ingin tahu hal-hal baru yang masih asing baginya dan akan menanyakan banyak hal kepada Anda. Sebagai orang tua, Anda harus konsisten terhadap jawaban Anda. Jangan sekali-kali menjadi orang tua yang plin-plan ketika menjawab pertanyaan anak yang dilontarkan berulang kali.?? 2. Tetapkan batas??Batasan disini dapat berupa peraturan maupun proteksi fisik terhadap anak. Menurut Jim Cunningham, seorang penulis, penelitian pengaruh pagar pembatas taman bermain di sekolah terhadap anak.??Ketika pagar dihilangkan, anak-anak cenderung cemas dan meras tidak aman dalam bermain. Ketika keesokan harinya pagar tersebut kembali di pasang, anak merasa aman kembali dan bermain dengan bebas di taman.??Sama seperti proteksi fisik tersebut, dalam hati anak juga merasa tidak ingin hidup di dunia tanpa batas. Anak-anak ingin orang tuanya menetapkan batasan untuk melindungi, memelihara dan membimbing dirinya hingga menjadi dewasa.?? 3. Jangan memaksa anak menjadi seperti diri Anda??Seringkali orang tua menganggap bahwa anak-anaknya merupakan versi kecil dari dirinya. Orang tua cenderung memperlakukan anaknya sesuai dengan apa yang diinginkannya ketika masih kanak-kanak.??Padahal anak Anda tentu berbeda dengan Anda ketika muda karena perbedaan generasi dan lingkungan juga yang mempengaruhi sifat anak. Harapan orang tua tersebut biasanya hanya mengarah pada kekecewaan karena tidak sesuai dengan bayangan Anda.?? 4. Mendorong perilaku positif pada anak??Orang tua nbso online casino reviews hendaknya mencari tau hal-hal baik dan yang tidak pada anak. Kemudian Anda perlu mendorong perilaku positifnya dengan cara memberikan pujian dan sebagainya.?? 5. Memberikan sedikit hukuman terhadap kesalahan anak??Jika anak melakukan kesalahan sekali atau dua kali, Anda hanya perlu menasehatinya saja dan memberitahu hal yang benar. Tetapi jika kesalahan anak tersebut terus diulangi, Anda dapat memberikan sedikit hukuman yang sifatnya positif seperti mengurangi jam bermainnya di luar.??Hal ini akan membuat anak Anda berpikir ulang untuk melakukan kesalahan yang sama.?? 6. Jangan timbulkan kesenjangan antara kedua orang tua??Jika ibu mengatakan tidak dan ayah mengatakan iya, anak akan cenderung mendekat ke ayah karena mendapatkan apa yang diinginkannya. Orang tua harus sepaham dalam mengajar dan mendidik anak.??Tujuannya adalah agar tercipta kestabilan dalam keluarga. Ini mungkin sulit jika anak dihadapkan dalam situasi perceraian, tetapi demi anak-anak kedua orang tua harus mengesampingkan perbedaan dan sepaham.?? 7. Jaga perilaku Anda??Anak-anak cenderung megikuti perilaku orang tuanya. Jika Anda berbohong, menipu, mengumpat, mencuri, atau bahkan membuat pilihan gaya hidup yang tidak sehat, anak cenderung berpikir bahwa tidak apa-apa jika melakukan hal yang sama dengan orang tuanya. Sumber : (detikhealth) Salam Hebat untuk Anda