Kategori: Artikel

  • Hyper-parenting

    Hyper-parenting atau dikenal juga dengan intensive parenting atau hyper-vigilance mengacu pada pola asuh anak dimana orangtua memiliki derajat kontrol tinggi terhadap anak. Intinya, orangtua berusaha keras untuk mencermati apapun yang dilakukan oleh anak dan segala hal yang diberikan kepada anak, dalam usaha untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang mungkin bisa terjadi sekarang atau yang akan datang. Alasan utama orangtua melakukan hal tersebut tentunya didasari oleh rasa sayang terhadap anak dan keinginan agar sang anak atau balita, tumbuh menjadi generasi yang lebih baik, terutama dibandingkan dengan keadaan dirinya dahulu. Hanya saja, orangtua macam ini memiliki tingkat kecemasan yang terlalu tinggi, sehingga cenderung mengejar hal tersebut dengan alasan emosional. Selain itu, hyper-parenting terjadi karena orangtua merasa tidak puas dengan pola asuh yang mereka dapatkan semasa kecil. Bisa jadi mereka tidak puas dengan karir atau kehidupan mereka secara keseluruhan. Akibatnya, semua obsesi ditambah ketidakberuntungan itu dibebankan kepada anak. Orangtua berharap anak-anak bisa mendapatkan apa yang mereka tidak dapatkan. Padahal belum tentu hal ini sesuai dengan kebutuhan, keinginan, minat bahkan bakat anak. Apakah Anda termasuk kedalam orangtua jenis ini? – Batas toleransi Pada dasarnya, orangtua memang harus memberi stimulasi untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Namun Anda perlu memerhatikan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh anak. Bukan hanya apa yang penting atau baik untuk anak menurut pandangan kita. Selain itu, Anda juga harus paham bahwa semua yang dilakukan ada prosesnya. Akan membutuhkan waktu yang panjang untuk mencapai hasil yang maksimal dan seringkali yang disebut waktu panjang itu tahunan bahkan belasan tahun. Oleh karena itu, jangan terlalu memaksakan anak untuk mendapatkan target-target luar biasa dalam waktu singkat. Jika anak tumbuh menjadi individu yang terlalu luar biasa, perhatikan pula hal apa yang hilang dari dirinya. Coba lihat perkembangan emosionalnya, apakah masih dalam tahapan sesuai usianya? Jika perkembangan emosionalnya tidak sesuai, maka Anda perlu mencemaskannya. Apapun keinginan atau mimpi orangtua yang berkaitan dengan anak, sebaiknya murni berlandaskan rasa kasih sayang dan alasan ingin melihat anak balita tumbuh kembang dengan maksimal. Bukan berdasarkan kecemasan diri sendiri atau ambisi yang berlebihan, apalagi karena ego semata. Tidak apa-apa jika Anda mengikutsertakan anak kursus berenang dengan tujuan agar ia dapat menikmati liburan di pantai atau waterpark, bukan karena bertujuan agar anak lebih unggul dari anak lain. Tidak hanya itu, memberikan kesempatan pada anak atau balita untuk belajar mengambil keputusan sendiri, memberi kesempatan bagi anak untuk beristirahat yang cukup ditengah kegiatan yang Anda jadwalkan dan membiarkan anak mengekspresikan perasaannya tanpa diatur orangtua juga merupakan hal yang perlu Anda perhatikan saat Anda memiliki rencana-rencana untuk anak. Sumber : www.ayahbunda.co.id Salam Hebat untuk Anda

  • Bijak Beli Mainan Anak

    Membahagiakan anak dengan membelikan mainan adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa cinta Anda sebagai mama. Karenanya, Anda tidak pernah berhitungan ketika mengeluarkan uang untuk belanja mainan.

    Hasilnya? Lemari penuh sesak oleh mainan. Seringkali, sebagian besar mainan jarang sekali-bahkan ada yang tidak pernah disentuh si kecil. Karena itu, menurut Andy Nugroho, CFP, perencana keuangan dari MRE Financial & Business Advisory, mama perlu bijak dalam membelanjakan uang untuk membeli mainan anak.

    Mainan tidak bisa dipisahkan dari dunia anak-anak. Sekarang ini, terutama di kota-kota besar, tren untuk membeli mainan bagi si kecil sudah bergeser dari mainan yang merangsang saraf motorik (mobil-mobilan, kelereng, atau sepeda) menjadi mainan yang berbasis teknologi (gadget dan video game).

    Lalu, pasar Indonesia yang kian terbuka terhadap produk impor membuat beragam jenis mainan bermunculan. Hal ini casino pa natet menarik perhatian para orang tua, terutama mama. Nafsu belanja mendadak muncul dan ingat anak saat melihat mainan lucu di display toko. Atau, niat semula ke mal hanya untuk cuci mata dan makan bisa berubah jadi belanja beneran begitu anak merengek minta dibelikan mainan.

    Menurut Andy, kesalahan seperti ini kerap dilakukan orang tua. “Mereka membelikan mainan untuk anak berdasarkan emosi, yakni karena dorongan emosi yang berlebihan, seperti rasa sayang yang sangat atau merasa iba pada anaknya yang tidak memiliki mainan yang sama dengan teman-temannya. Atau, ini cara cepat untuk menghentikan ‘teror’ anak bila keinginan dan kemauannya tidak dituruti,” katanya.

    Agar tidak boros dalam membeli mainan, Anda perlu lebih mengendalikan emosi Anda sendiri. Harus ada kesadaran bahwa sebesar apa pun rasa cinta dan kasih sayang Anda pada anak, tidaklah tepat bila Anda membanjirinya dengan mainan apa pun yang ia minta.

    Selain membuat anggaran belanja membengkak, pembelian mainan yang sesuka hati juga bisa memengaruhi karakter anak nantinya. Ia terbiasa selalu menuntut agar keinginannya dipenuhi oleh orang lain, tidak peduli bagaimana pun caranya.

    Anda juga perlu memberi batasan pada anak, kapan dan pada saat bagaimana ia bisa mendapat mainan baru. Selain itu, lakukan tarik ulur pada anak, kapan bisa bersikap keras untuk menolak keinginannya dan kapan harus mengabulkannya.

    Sehingga, anak paham mengapa di suatu saat keinginannya dikabulkan dan mengapa di saat lainnya ditolak. “Memberi pemahaman tentang boleh-tidaknya mendapatkan mainan baru ini harus terus menerus diberikan pada anak,” imbuh Andy.

    Sumber : www.parenting.co.id

    Salam hebat untuk Anda

  • Dibalik Perilaku Seorang Anak

    “Anak saya susah dimotivasi dan keras kepala. Kalau sudah maunya A maka ya harus A, tak bisa digoyang. Saya lebih suka adiknya yang lebih gampang saya atur. Bagaimana sih caranya mengendalikan anak saya yang besar itu?” Demikian salah satu pertanyaan peserta seminar saya tentang anaknya yang susah diatur dan keras kepala. Hmm … sahabat Sekolah Orangtua apakah Anda pernah mengalami atau menjumpai kasus seperti di atas ? Beberapa orangtua bingung bagaimana harus mengatasi anaknya. Seringkali tanpa disadari akhirnya mereka memiliki “kesukaan” terhadap salah seorang anaknya yang menurut orangtua lebih bisa memahami instruksi dan nasehat orangtua. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa setiap anak diciptakan unik dan berbeda walaupun itu dari satu rahim yang sama. Dan karena itu pendekatan untuk memotivasi mereka juga harus berbeda sesuai dengan sifat bawaannya masing-masing. Saat orangtua mengatakan “masa kamu seperti itu tak bisa” bisa jadi si kakak langsung bergerak karena merasa tertantang. Sementara si adik jika diberitahu dengan cara yang sama malah akan down dan merasa dirinya tak mampu. Akhirnya beberapa orangtua bingung dan secara dangkal berpendapat mengapa ia memperlakukan kakak dan adiknya sama tapi kok hasilnya berbeda. Setiap anak memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Untuk memudahkan pemetaan karakter anak maka di buku Rahasia Mendidik Anak agar Sukses Bahagia saya memberikan pengetahuan tentang “karakter alami”. Berikut saya akan membahas salah satu karakter alami yang diistilahkan Phlegmatis atau si Pencinta Damai. Ciri Anak Phlegmatis : – Berkisar 30-35% dari total populasi – Mudah diatur – Fleksibel – Sangat manis, Namun jika dia berkeras terhadap sesuatu, ia bisa juga sekeras gunung batu. – Orang yang tertutup dan berorientasi orang – Senang mengerjakan satu hal pada suatu waktu tertentu – Senang dan ahli mengerjakan sesuatu yang monoton atau tetap dan tanpa banyak variasi – Orang yang ingin menyenangkan orang – Benci konflik – Sangat menginginkan keamanan dan sangat baik menyimpan rahasia – Pendukung dan suka melayani – Ia adalah orang yang setuju dengan orang lain, Ia mencari cara untuk bekerja sama dan membantu – Bersifat pemalu – Sopan dan punya aturan yang baik dalam pergaulan – Sering tampak tidak punya pendirian (ini semua karena mereka ingin menyenangkan orang lain) – Kebutuhan dasarnya adalah penghargaan. Mereka perlu merasa dibutuhkan dan dihargai upayanya – Kekuatannya adalah mudah diajak bergaul – Dapat diandalkan – Dapat menjadi pemimpin yang hebat, karena memimpin sebagai pelatih dan bukan sebagai diktator – Sangat suka membantu orang yang berada dalam kesulitan – Walau mereka tahu telah diperalat oleh orang lain, mereka tidak marah karena mereka yakin bahwa suatu saat semua akan berbuah dengan manis baginya – Lebih suka mengetahui bila keadaan berjalan dengan baik – Mereka mencari solusi yang paling sederhana dari setiap masalah yang dihadapi – Sangat konservatif – Tipe diplomat, dapat melihat hal dari sudut pandang orang lain – Mereka sangat sabar dan juga dapat sangat humoris – Tampak agak egois dan mementingkan diri sendiri (ini bukan karena mereka terlalu mementingkan diri mereka sendiri tetapi karena mereka hanya mencoba untuk melindungi kepentingan dan stabilitas mereka sendiri) – Mereka sering sangat low-profile Bagaimana dengan karakter lainnya ? Saya akan bahas di artikel berikutnya atau jika sudah tak sabar lagi untuk mengetahui karakter anak Anda dan bagaimana harus memotivasi mereka sesuai dengan karakter alaminya maka silakan simak selengkapnya di buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses Bahagia” yang telah diterbitkan oleh Gramedia atau bisa didapatkan di www.sekolahorangtua.com Salam Hebat untuk Anda

  • Anak Sopan Berkat Contoh Orang Tua

    Dalam menggunakan kata-kata sapaan yang sopan, balita perlu pembiasaan. Lebih penting lagi orang tua konsisten berperilaku santun karena merupakan contoh bagi anak.

    Orang tua punya tugas pengasuhan agar putra-putrinya berperilaku baik dan sopan. Tapi, apa sih arti bersikap sopan dan sikap sopan seperti apa yang perlu dikuasai balita dua tahun?

    Melihat orang dewasa. Bergaul dapat mulai diajarkan seiring berkembangnya kemampuan anak berkomunikasi. Begitu anak bisa berbicara, ia bisa belajar mengucapkan kata-kata sapaan seperti selamat siang atau sampai jumpa. Namun dalam menggunakan kata-kata tersebut, diperlukan pembiasaan. Tentu sulit bagi anak untuk menyapa orang lain, bila dalam keluarga Anda tidak ada kebiasaan tersebut.

    Hingga usia tiga tahun, anak akan melihat dan meniru apa yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya. Mereka adalah contoh bagi anak. Maka jangan harap anak Anda bisa sopan kalau Anda sendiri tak tahu bagaimana bersikap sopan pada orang lain.

    Sebagian orang dewasa berperilaku sangat paradoks. Pada satu sisi berharap anakbersikap ramah, meski ia sendiri tidak berlaku demikian. Misalnya, Anda tak perlu kesal bisa seorang anak (bukan anak Anda) tidak menyapa Anda lebih dulu. Apa salahnya bila Anda yang menyapa lebih dulu?

    Beri penjelasan. Pada usia kira-kira dua tahun, anak sudah bisa menangkap penjelasan Anda. Misalnya, mengapa harus makan menggunakan sendok dan garpu. Atau, tidak boleh mencecap lidah karena bisa mengganggu kenyamanan makan orang lain.

    Bila ia menyakiti orang lain, misalnya mengambil barang milik orang lain tanpa meminta, Anda perlu mulai menerangkan dari perspektif orang lain. Katakan, bila teman anak bilang ingin meminjam mainan, apakah anak lebih senang dibanding jika si teman langsung mengambilnya tanpa meminta?

    Anda bisa memanfaatkan acara bermain sebagai bagian anak belajar sopan santun. Misalnya, ketika bermain memberi-menerima. Ketika meminta, ajarkan anak mengucapkan “Boleh minta?” dan ketika menerima mengucapkan “Terima kasih”

    Agar anak lebih cepat dapat menangkap pelajaran sopan-santun, perlihatkanlah mimik wajah yang jelas. Seperti ketika mengatakan, “Halo! Apa kabar?”, ucapkan dengan mata membesar dan suara yang lantang. Mimik semacam ini perlu dipelajari anak untuk mengungkapkan sopan santun, bukan sebagai riasan belaka, namun muncul dari dalam dirinya.

    Sumber : www.ayahbunda.co.id

    Salam Hebat untuk Anda.

  • MENDIDIK ANAK UNTUK BERTANGGUNGJAWAB

    Rasa tanggung jawab tidak tumbuh begitu saja dalam diri seseorang. Anak-anak yang tidak dilatih bertanggungjawab sedari kecil, tentu dewasanya tidak akan menjadi pribadi yang bertanggungjawab pula. Sebaliknya, anak-anak yang diajarkan dan dilatih untuk memiliki tanggung jawab sejak kecil, di masa mendatang mereka pun akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang bertanggungjawab.

    Bagaimana caranya menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak-anak?

    1. Memberikan tugas rumah tangga. Jika Anda berpikir anak-anak tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Anda salah besar. Pekerjaan yang bagaimana dulu, harus kita pilah-pilah. Anak-anak bisa diserahkan tugas-tugas yang ringan, sesuai dengan umur dan kemampuannya. Anak balita misalnya, sudah bisa Anda ajari untuk bertanggungjawab atas kerapihan mainan-mainannya. Anak yang lebih besar bisa Anda serahi tugas membuang sampah, atau membantu Anda menyapu rumah, atau mencuci piring. Memberinya tugas rumah tangga adalah cara terbaik untuk menumbuhkan tanggung jawab. Dan ini sangat bermanfaat baginya di masa mendatang, yakni melatih keterampilan mendasar dalam tugas rumah tangga, jika kelak mereka memiliki rumah tangga sendiri.

    2. Penguatan positif. Anak-anak biasanya mencari penguatan dan pembenaran dari orangtuanya atas apa yang mereka lakukan. Saat mereka berbuat sebuah kebaikan, mereka ingin orangtuanya melihat dan menghargai “kerja kereas” mereka. Untuk itu, tidak ada salahnya orangtua memberikan pujian kepada anak atas prestasi dan usaha keras mereka dalam berbuat kebaikan. Dengan demikian, anak-anak merasa dihargai, dan berikutnya mereka akan berusaha melakukan yang terbaik lagi.

    3. Penghargaan akademis. Salah satu tanggung jawab yang paling penting bagi anak-anak adalah sekolah mereka. Pada dasarnya, sekolah adalah pekerjaan mereka. Nah, manakala mereka berhasil mencapai prestasi-prestasi, tidak ada salahnya kita memberikan penghargaan atau perayaan bagi mereka. Tidak harus selalu berwujud uang atau benda-benda. Anda bisa menuliskan sebuah surat mini berisi kebanggaan Anda terhadapnya. Anak-anak biasanya tersentuh dengan penghargaan-penghargaan sekecil apapun dari orangtua mereka.

    4. Relawan dan kerja paruh waktu. Anak-anak bisa diajarkan menjadi relawan kecil-kecilan. Misalnya, membantu Anda mengumpulkan pakaian pantas pakai untuk sumbangan, atau mengumpulkan koin untuk disumbangkan ke panti asuhan. Untuk anak-anak yang lebih besar, remaja, misalnya, Anda bisa mengijinkannya untuk bekerja paruh waktu di rumah makan, atau tempat-tempat yang memungkinkan bagi anak seusianya. Kesempatan seperti ini sangat bagus untuk memupuk rasa tanggung jawabnya.

    5. Membuka tabungan. Anda bisa membelikan anak-anak Anda celengan dengan bentuk yang lucu-lucu, dan meminta anak-anak untuk menabungkan uang mereka disana. Dengan demikian, mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dari uang yang mereka sisihkan sendiri. Hal-hal kecil seperti ini sangat membantu untuk menumbuhkan tanggung jawab, dan mengurangi ketergantungan serta kebiasaan meminta-minta.

    Sumber : www.rumahbunda.com

    Salam Hebat Untuk Anda

  • Strategi Komunikasi antara Anak dan Orang Tua Yang Tepat

    Kemajuan teknologi saat ini sangat mempengaruhi gaya hidup (lifestyle) kehidupan manusia di semua lini kehidupan. Serba cepat dan tak dibatasi waktu adalah ciri teknologi saat ini..Tak bisa dipungkiri, derasnya arus globalisasi telah merubah pola dan cara berpikir manusia termasuk saat berkomunikasi.
    Hal inilah yang terkadang menjadi kendala bagi tiap-tiap anggota keluarga, khususnya anak-anak menyampaikan pikiran dan keinginan mereka.

    Komunikasi yang baik dan tepat sasaran sangatlah dipengaruhi beberapa faktor diantaranya:
    1. Perkembangan setiap pribadi dalam memandang masalah atau topic yang disampaikan.
    2. Peranan anggota keluarga dalam menanggapi opini atau ide-ide anggota keluarganya.
    3. Media komunikasi yang memudahkan untuk berhubungan.
    4. Tema atau topik setiap inti permasalahan yang dihadapi.
    5. Faktor eksternal, yang online casino sangat mempengaruhi terciptanya kondisi yang kondusif untuk menciptakan suasana komunikasi yang terarah. Hal itulah yang perlu diperhatikan agar komunikasi bisa berjalan dengan baik.

    Manusia dengan segala problemanya sangatlah komplesitas yang semua berawal dari masalah komunikasi karena sesuai pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinterkasi dengan lingkungan sekitarnya. Kematangan pribadi serta mindsetnya akan sangat menentukan perilaku setiap manusia saat berkomunikasi untuk pengambilan keputusan. Banyaknya permasalahan yang dihadapi termasuk pendangan terhadap masalah itu sendiri justru akan memperlebar inti dari pokok pemasalahan.
    Keluarga sebagai suatu kesatuan yang utuh dimana pertama kali seorang anak tumbuh berkembang sebelum mengenal dunia luar. Cara pendidikan serta mindset anak-anak pertama kali diperkenalkan di lingkungan keluarga. Orang tua lah sebagai cikal bakal terbentuknya pribadi seorang anak yang membentuk karakter dan pola pikir seorang anak sebagai pribadi yang utuh

    Sumber : www.vemale.com

    Salam Hebat untuk Anda

  • Penyebab Anak Sering Marah dan Mengamuk

    Ini dia Penyebab Anak Sering Marah dan Mengamuk. Tak hanya para orang tua dan orang dewasa saja yang bisa marah, anak-anak ternyata juga bisa merasakan marah. Beberapa anak bahkan sering marah dan mengamuk. Kemarahan pada anak biasanya ditunjukkan dengan menjerit, menangis sekencang-kencangnya, bergulung-gulung di lantai atau melempar barang-barang. Lalu apa sajakah yang menjadi penyebab anak sering marah dan mengamuk? Penyebab anak sering marah dan mengamuk : 1. Meniru perilaku orang tua Anak adalah peniru ulung. Anak akan meniru atau mencontoh setiap perilaku orang tuanya. Begitu juga dengan kebiasaan marah. Jika orang tua sering marah, anak juga akan meniru perilaku orang tuanya dengan menjadi anak yang pemarah dan sering mengamuk. Hal ini terjadi karena anak berasumsi bahwa marah merupakan hal yang wajar yang biasa dilakukan oleh orang tuanya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli yang termuat dalam jurnal Development And Psychopathology As, anak cenderung menjadi pemarah dan sering mengamuk disebabkan karena ayah dan ibunya juga sering marah. Perilaku orang tua yang sering marah ini akan ditiru oleh anak sehingga anak juga menjadi anak yang sering marah dan mengamuk. 2. Keinginan yang tidak dituruti orang tu Beberapa anak akan menjadi marah dan mengamuk jika keinginannya tidak dituruti oleh orang tuanya. Menurut mereka marah dan mengamuk merupakan salah satu cara yang efektif agar keinginan mereka bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Para orang tua harus bijaksana menanggapi sikap anak yang demikian, hal ini karena jika orang tua selalu menuruti keinginan anak agar dia berhenti menangis dan mengamuk, maka ini akan menjadi sebuah kebiasaan sebagai perwujudan agar keinginannya dituruti oleh orang tuanya. 3. Rasa ingin tahu yang tidak terjawab Rasa ingin tahu anak tentang segala sesuatu yang tidak di jawab oleh orang tua akan menimbulkan kekecewaan pada diri Anak yang berujung pada kemarahan. Untuk itu para orang tua tidak boleh mengabaikan rasa ingin tahu anak agar anak tidak menjadi pemarah dan sering mengamuk. 4. Ketakutan dan kegelisahan Ketakutan dan kegelisahan akan suatu hal membuat anak menjadi tidak tenang, akibatnya anak akan mengungkapkannya dalam bentuk kemarahan dengan harapan agar mendapatkan perhatian dari orang tuanya serta agar bisa menghilangkan ketakutan dan kegelisahan yang dialaminya. 5. Gangguan susana hati. Adanya gangguan suasana hati yang terjadi pada anak membuat anak mudah marah, apalagi jika tidak mendapat tanggapan dari orang tua, justru kemarahan anak semakin menjadi hingga membuat anak mengamuk. 6. Mencari perhatian Kesibukan yang dilakukan oleh orang tua terkadang membuat anak kurang mendapatkan perhatian. Kurangnya perhatian orang tua membuat anak berusaha mencari perhatian. Salah satu cara efektif untuk menarik perhatian orang tua adalah dengan menangis dan mengamuk. Menangis dan mengamuk akan membuat orang tua memperhatikan anak serta menuruti keinginan anak. 7. Menunjukkan ketidaksukaannya akan sesuatu Hal yang tidak disukai anak seperti pergi ke dokter, potong rambut dll, jika dipaksakan oleh orang tua juga bisa menjadi penyebab anak sering marah dan mengamuk. Jangan sampai mengatasi kemarahan anak dengan kemarahan pula, sebab hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, justru anak akan menjadi semakin marah dan mengamuk. Menghindari penyebab anak sering marah dan mengamuk juga bisa menjadi salah satu cara agar anak Anda tidak sering marah dan mengamuk. Salam Hebat untuk Anda

  • Pelukan Baik Untuk Perkembangan Anak

    Sudah berapa kali Anda memeluk anak hari ini? Pelukan merupakan obat mujarab loh …. untuk mengurangi rasa sakit dan membuat anak tumbuh percaya diri dan bahagia.
    Berikut manfaat pelukan yang anda berikan untuk anak:
    • Merangsang perkembangan sel otak
    • Mengurangi stress.
    • Merangsang rasa kantuk.
    • Membangun konsep diri yang positif.
    • Mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas dan frustasi.
    • Mengatasi rasa takut.
    • Transfer energi. (me)
    Agar pelukan Anda berdaya penyembuh, sebelum memeluk anak:
    1. Singkirkan hal-hal yang mengggangu pikiran seperti urusan pekerjaan yang belum selesai, urusan rumah yang menumpuk, gagal menjaga pola makan dan rencana-rencana yang tertunda.
    2. Bebaskan tangan dari semua benda yang selama ini paling sering ada di tangan seperti blackberry, telepon genggam, tas tangan, kunci atau majalah.
    Peluklah anak sebelum berangkat kerja, ini akan membuat orangtua fokus pada pekerjaan, bahagia, dan menjadi produktif.

    Sumber : http://www.ayahbunda.co.id/

  • Di Jepang, Karir Sarjana Perempuan yang Paling Baik adalah Ibu Rumah Tangga!

    Apa rencanamu setelah berhasil memeroleh gelar sarjana? Daftar CPNS? Bisa. Bekerja di perusahaan? Oke juga. Merintis usaha dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain? Menarik! Atau, terutama untuk jobseeker perempuan, menjadi ibu rumah tangga fulltime? Nggg….. Ketika memilih untuk mengabdikan diri sepenuhnya sebagai ibu rumah tangga, beberapa orang mungkin akan menyayangkan pilihanmu. Terutama di era seperti sekarang di mana akses pendidikan dan kesempatan berkarir bagi perempuan sudah lebih terbuka. Orang akan berpikir, memangnya tidak sayang dengan gelar yang sudah susah-payah digapai? Maka tak jarang kita temukan perempuan yang menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Beda halnya dengan perempuan Jepang. Menurut buku “Membangun Budaya Berbasis Nilai” karya Fidelis E. Waworu, Jepang memiliki kebijakan ryosai kentro atau istri yang baik dan ibu yang arif. Sistem pendidikan dan kebudayaan Jepang sepenuhnya mengandalkan perempuan dalam membesarkan anak. Merujuk pada kalimat tersebut maka bisa dikatakan bahwa masa depan Jepang dibentuk oleh tangan para perempuannya. Para ibu Jepang memiliki keyakinan bahwa keberhasilan seorang ibu akan diukur dari keberhasilan anaknya di lingkungan luar rumah. Maka dari itu, perempuan Jepang melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi agar bisa mendidik anak-anak mereka secara berkualitas. Bahkan, mereka tak segan-segan untuk mundur dari pekerjaan untuk mendedikasikan diri pada keluarga sebagai ibu rumah tangga. Karena, bagi mereka, menjadi ibu rumah tangga sama profesionalnya dengan menjadi wanita karir. Ilmu yang mereka pelajari di perguruan tinggi diaplikasikan melalui cara mereka mengatur urusan rumah tangga dan mendidik anak. Para ibu Jepang ini biasa disebut kyoiku mama atau education mama. Di rumah, para kyoiku mama ini mendidik anaknya dengan disiplin sehingga karakter anak terbentuk dengan baik. Pihak sekolah pun akhirnya tak perlu lagi terlalu dipusingkan dengan masalah pendisiplinan murid-muridnya. Hal tersebut pun memberi dampak pada kegiatan belajar-mengajar di Jepang yang menjadi lebih efektif dan efisien. Itulah mengapa anak-anak di Jepang mengagumi dan memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan ibu mereka. Para ibu Jepang ini merupakan manajer di rumah mereka sendiri. Bila bagi beberapa orang hal tersebut bukanlah sebuah prestasi yang ‘wah’, bagi ibu Jepang hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Nah, sudah lihat kan, ternyata gelar sarjana tak hanya untuk pegawai kantoran saja. Namun perlu diperhatikan bahwa apapun yang hendak kamu lakukan dengan gelar sarjanamu adalah keputusan yang harus kamu tentukan sendiri. Supaya tidak terlanjur berkubang dalam penyesalan, pikirkan secara baik-baik ya! Bagaimana pendapat Anda? silakan beri komentar di bawah tentang fenomena yang terjadi di Jepang tersebut. Penulis : Elyzabeth Winda Editor : Vinia Rizqi, Rifki amelia Sumber : http://careernews.web.id/youknow/view/2794-di-jepang-karir-sarjana-perempuan-yang-paling-baik-adalah-ibu-rumah-tangga

  • Kesalahan Fatal Orangtua yang Membuat Anak Malas Belajar dan Kurang Bertanggung Jawab (Bagian 3) – Tips Praktis Komunikasi

    Artikel ini adalah kelanjutan dari 2 artikel sebelumnya. Saya harap Anda sudah membaca 2 artikel sebelumnya – yang mengulas tentang kasus terapi seorang anak yang dilaporkan malas, kurang bertanggung jawab dan membangkang orangtuanya – untuk mendapatkan sebuah gambaran utuh tentang apa yang saya bahas di artikel ini. Saya menyampaikan di penghujung artikel ke 2 bahwa sumber masalah dari kasus tersebut adalah komunikasi. Saya sangat percaya setiap orangtua mencintai anaknya, bermaksud memberikan yang terbaik untuk anaknya dan bersedia melakukan apapun agar anaknya kelak sukses dalam hidupnya. Namun seringkali maksud baik orangtua tersebut tidak tersampaikan karena jeleknya keterampilan komunikasi. Saat orangtua memberikan nasehat pada anak maka : – Hal tersebut sudah dianggap komunikasi – Orangtua “berpikir” anak pasti paham karena nasehat diberikan dalam bahasa Indonesia yang normal – Orangtua “berpikir” anak pasti mau melakukan karena itu baik untuk anak sehingga ketika anak tak melakukan orangtua merasa diabaikan, tak didengarkan dan akibatnya marah pada anak Orangtua tidak menyadari bahwa anak : – Memiliki pikiran yang cara kerjanya bahkan orangtua pun tak tahu bagaimana pikiran itu menyimpan informasi – Memiliki kebutuhan emosi dasar yang harus terpenuhi lebih dahulu baru kemudian bisa memproses informasi yang diterima – Memiliki sebuah kepribadian yang unik yang bisa jadi sangat berbeda dengan orangtua dan saudaranya. Sehingga apa yang baik dan bisa diterapkan pada saudaranya atau bahkan pada orangtuanya belum tentu bisa berhasil jika diterapkan pada anak yang bersangkutan – Belum memiliki wawasan dan cara pikir seperti orangtua Sebaliknya saat anak menerima nasehat atau pun kata-kata dari orangtua seringkali merasa : – tidak dipahami – tidak dianyomi – diperlakukan tidak adil – tidak dipercaya – diremehkan kemampuannya – disudutkan Dan akhirnya karena ketidaksinkronan hal di atas maka komunikasi menjadi penghalang di antara orangtua – anak. Orangtua merasa mencintai anaknya dan telah melakukan banyak untuk anak sementara anaknya dianggap kurang menghargai orangtua. Sedangkan di pihak lain, si anak merasa tidak dicintai, tidak dipahami dan tidak punya otoritas untuk memutuskan apa yang ia sukai. Jadiiiiiii …… gak nyambung deh. Tak salah kan kalau muncul masalah di antara anak – orangtua. Jadi apa yang penting dalam sebuah komunikasi orangtua – anak. Hal yang sangat mendasar yang saya mau ingatkan pada Anda semua adalah : – perilaku anak adalah respon dari sikap, tindakan dan ucapan orangtuanya – perilaku anak muncul karena ada kebutuhan emosi yang hendak dikatakan anak pada orangtua namun karena keterbatasan anak akhirnya mereka tidak mampu mengatakannya tapi menampilkan perilaku yang diharapkan anak dimengerti oleh orangtuanya – saat orangtua semata-mata menanggapi perilaku anak maka orangtua gagal untuk memahami apa sebenarnya masalah utama si anak kesalahan paling banyak yang terjadi dalam komunikasi orangtua – anak adalah : – orangtua melabel anaknya tanpa sehingga malah memperkuat perilaku buruk si anak. Contoh : kamu itu ceroboh ya, kamu itu anak bandel, kamu itu bisanya hanya makan saja, kamu itu anak malas – orangtua menuduh tanpa klarifikasi. Contoh : kamu ya yang buat adikmu menangis, kamu kemarin pasti tak belajar ya sehingga ulanganmu jelek, – orangtua langsung memberikan solusi tanpa bertanya pada anak bagaimana perasaannya dan apa yang diinginkannya (tergantung usia) : kamu ikut les piano saja karena itu bagus sebab dulu papa ingin belajar piano tapi kakek tak sanggup biayai (ada agenda tersembunyi untuk menuntaskan hasrat masa lalu orangtua) – orangtua membandingkan anak dengan dalih untuk memotivasi : coba kamu lihat adikmu tanpa diminta langsung belajar sendiri, coba kamu lihat si Anton dia begitu mandiri dan berani tampil, kamu jangan bodoh-bodoh seperti si Dungu itu ya Dan masih banyak lagi kalau mau didaftar. Nah kalau begitu apa prinsip utama komunikasi agar anak merasa aman, dicintai, dipahami namun tetap dapat diarahkan sesuai potensinya? Prinsip utamanya adalah dengarkan perasaan anak dan akui perasaan tersebut. Perasaan anak adalah faktor utama yang mendorong anak memunculkan suatu perilaku tertentu. Contoh seorang anak mengeluh karena tak bisa menguasai pelajaran matematika. Anak tersebut mengatakan, “aduhh susah banget sih matematika ini!” Respon orangtua kebanyakan: – kamu sih anak bego dan malas ( melabel) – kamu pasti kalau dikelas tak pernah mendengarkan guru (menuduh) – coba kamu belajar lagi lebih tekun jangan keburu mengeluh (memberi solusi) – ihhh kenapa sih kamu tak serajin temanmu untuk belajar matematika (membandingkan) Respon yang harusnya Anda lakukan adalah “mendengarkan perasaan” anak. Mengapa anak mengatakan seperti itu ? pasti ada sebuah perasaan yang mendorongnya. Tanggapi perasaan itu. Jadi tanggapan yang mungkin adalah : – kamu merasa sudah belajar banyak tapi masih tetap tak bisa menguasai ya ? – kamu merasa jengkel dengan dirimu sendiri ya ? – kamu merasa tak ada yang bisa bantu kamu memahami soal-soal matematika itu ya ? Nah kemungkinan-kemungkinan tanggapan seperti di atas akan membuat si anak merasa dianyomi, dipahami dan diakui perasaannya. Akibatnya adalah si anak akan membuka diri dan percakapan dari hati ke hati akan terjadi. Jika Anda sebagai anak bisakah Anda merasakan perbedaan tanggapan yang terjadi dibandingkan dengan respon orangtua kebanyakan? Masih ingin belajar lebih banyak lagi? Kali ini saya akan memberikan AUDIO “Kesalahan Fatal Orangtua yang Membuat Anak Malas Belajar dan Kurang Bertanggung Jawab”. Mau? Salam hebat untuk Anda Ariesandi dan Tim Sekolah Orangtua Indonesia