Kategori: Artikel

  • Stop ! Jangan Nilai dan Label Anakku Tersayang !

    “Anak Anda hiperaktif ya ?” Bisik seorang dokter spesialis kulit kepada saya dan suami saya.

    Kaget juga ketika ditanya seperti itu oleh seorang pihak yang kami percaya untuk mengobati kulit anak kami, Kaizen, yang terkena gigitan serangga.

    Hampir 2 tahun, kami membesarkan Kaizen dan tidak sedikitpun kami melihat adanya gejala hiperaktif dalam diri Kaizen. Padahal saya seorang psikolog yang bergerak di dunia anak-anak dan hidup didalamnya. Minat saya dan niat saya adalah ingin membantu orangtua mendidik anak-anak mereka dengan lebih baik lagi. Eee… ada seorang dokter spesialis kulit yang dengan seenaknya sendiri menilai dan melabel anak saya tercinta, hanya dari pertemuan sekali seumur hidup, cuman 5 menit saja.

    Saat itu Kaizen masih berusia 1 tahun 6 bulan. Masa dimana anak-anak ingin memegang segala sesuatu, ingin menaiki segala sesuatu dan ingin semuanya. Pokoknya semua hal adalah baru baginya sehingga menarik untuk dipegang, dilihat dan dinaiki. 

    “Bukan dok, AKTIF bukan hiperaktif.” Demikian jawaban saya sambil sedikit menahan dongkol. Untung saja, dokter itu tidak menanyakan lebih lanjut. Jika iya… mungkin bisa saya kuliahi beliaunya dari A hingga Z tentang anak Hiperaktif.

    Namun… dari pertemuan singkat itu, membuat saya merenung kembali tentang kejadian yang menimpa saya.
    Bagaimana jika pasangan yang ditanya itu bukan kami ?
    Bagaimana jika anak yang dilabel seperti itu bukan Kaizen melainkan anak orang yang lain yang kebetulan memiliki karakteristik aktif seperti Kaizen kemudian di label Hiperaktif oleh dokter spesialis kulit itu ?

    Saya bisa membayangkan orangtua itu pasti akan merasa ada yang salah dengan anaknya. Kemudian segera memeriksakan anaknya kepada pihak-pihak yang dianggap berkompeten. Ketika hasilnya mengatakan bahwa anaknya normal. Orangtua merasa tidak percaya,”Bagaimana bisa normal ? Ini dokter yang mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh dengan anak saya. Dokter spesialis lagi. Anak saya ini tidak bisa diam, pegang sana pegang sini. Kalau diajak ngomong tidak mau liat kearah saya. Diam hanya kalau tidur saja. Kalau sudah bangun tidur, rumah sudah dapat dipastikan berantakan kaya kapal pecah. PERIKSA ULANG ! apa saya perlu bawa ke psikiater atau psikolog lain ?”.

    Ada pengalaman yang terjadi dengan teman saya yang menikah dengan orang asing dan tinggal disana, ikut suami. Anak pertamanya baru berbicara dengan lancar ketika usianya menjelang 3 tahun.

    Apakah ini normal ? Yup… anak ini masih tergolong normal karena sehari-hari ia menggunakan bahasa indonesia dengan ibunya sedangkan jika dengan ayahnya ia menggunakan bahasa mandarin. Saya berani mengatakan anak ini normal karena ia tanggap ketika diminta melakukan sesuatu tapi ia kesulitan untuk mengekspresikan bahasanya. Keadaan ini berarti si anak masih berproses mencerna kata-kata yang ada dikepalanya, antara bahasa indonesia atau bahasa mandarin. Ketika kognitifnya telah mampu mencerna, terbukalah lidah dan bibir si anak, banyak kata yang keluar dari bibir mungilnya.  

    Ada lagi kasus tentang anak usia 2 tahun 4 bulan yang sulit makan, jam tidur yang terbalik antara pagi dan malam, yang jika diajak berbicara tidak mau menatap mata lawan bicaranya, ketika diminta melakukan sesuatu tidak mau tapi ketika tidak diminta, anak ini bisa melakukan dengan benar. Pengasuh barunya sudah merasa ada yang tidak beres dengan anak asuhnya ini dan sudah bingung bagaimana cara membuat anak ini bisa berperilaku normal seperti anak kebanyakan. Tentu saja niat baik pengasuh tidak tepat sasaran karena anak ini sebenarnya adalah anak normal yang berada dalam pengasuhan orangtua yang kurang perhatian. Ayah ibunya sibuk bekerja, sehari-hari ia lebih sering bersama neneknya. Permainannya yang tersering dimainkan adalah playstation. Kondisi keluarga si anak inilah yang menyebabkan anak ini menjadi sedikit terlambat dalam beberapa aspek perkembangannya.

    Orangtua yang baik, terkadang kita ini terlalu mendengarkan orang lain ketimbang anak sendiri. Terkadang pula kita ini tidak mempercayai kemampuan anak kita dan buru-buru menilai anak kita memiliki kekurangan dan bermasalah. Bahkan jika yang melabel anak kita adalah seorang psikolog ataupun psikiater pun, anda harus bersikap tidak percaya dan mencari bukti kebenaran dari label mereka.

    Bagaimana caranya ? BELAJAR !

    Cari tahu tentang perilaku dan ciri anak yang dianggap berkebutuhan khusus. Observasi langsung anak yang memang benar-benar memiliki kebutuhan khusus. Belajar juga ciri anak normal pada umumnya. Terkadang anak normal pun bisa terlihat mirip dengan anak berkebutuhan khusus.
    Jika anda telah memiliki cukup bukti barulah anda bisa mengambil keputusan hendak diasuh dan dididik seperti apa anak kita sesuai dengan kebutuhannya.

    Terakhir ! Refleksikan diri anda. Apakah kita telah menjadi orangtua yang baik bagi anak kita ?

    Fenomena banyaknya anak yang dilabel berkebutuhan khusus mulai meningkat akhir-akhir ini. Ada kemungkinan peningkatan ini bukan disebabkan memang banyak anak lahir dengan kebutuhan khusus melainkan banyak orangtua yang terlalu sibuk untuk bekerja dan sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya, orangtua lupa untuk belajar mengenai perkembangan anak sesuai usianya dan memantaunya.

    Kurangnya pengetahuan ini mengakibatkan orangtua tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh anak usia tertentu tapi mereka menuntut anak-anak mereka mampu berperilaku baik, sopan dan penurut.

    Baik, sopan dan penurut, bukanlah perilaku ajaib yang bisa terjadi dalam sekejap mata. Perilaku ini harus dilatih dan dikembangkan. Ada masanya untuk usia berapa kita sudah mulai bisa mengajarkannya. 

    Perilaku “nakal” yang ditampilkan oleh anak seringkali merupakan akibat dari perilaku kita sendiri. misal anak usia 2 tahun, tidak mau mendengarkan nasihat dari kita, suka melanggar hal-hal yang kita larang untuk dipegang.

    Coba cek ! apakah anda terlalu sering melarang anak kita untuk memegang hal-hal yang sedikit kotor ? Apakah Anda terlalu sering melarang anak untuk tidak naik-naik kursi/meja/jendela ? Apakah Anda terlalu sering untuk meminta anak cuci tangan karena telah memegang tanah ?

    Terlalu seringnya anak usia 1-2 tahun dilarang ini dan itu, bisa menyebabkan anak mengembangkan perilaku membangkang, yang pada akhirnya akan menjadi karakter bandel.

    Masa 1-2 tahun adalah masa eksplorasi bagi anak. Jadi merupakan hal yang wajar jika semua hal adalah baru dan menarik bagi dirinya karena dia memang baru saja melepaskan diri dari sangkarnya. Dari semula yang tidak bisa berjalan kemudian bisa berjalan bebas tanpa harus dipegangi lagi.

    Simpanlah kata larangan Anda hanya untuk hal-hal yang berbahaya dan untuk hal-hal yang memang belum waktunya disentuh. Jika Anda melakukan ini,  niscaya anak akan mendengarkan ketika kita melarang untuk memegang sesuatu.

    Jika kita menerapkan ini maka kita telah menangkal salah satu hukum pikiran manusia (yang aneh) yaitu “Semakin Dilarang Semakin Menarik”.  
    Jadi apa yang harus kita lakukan dengan penilaian orang lain  yang belum tentu benar dan terkadang ngawur itu ?

    Kita tidak bisa menghindari penilaian orang karena penilaian itu adalah hak setiap orang. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana sikap kita dalam menanggapi penilaian mereka yang menurut kita kurang tepat. Kitalah yang paling mengenal diri anak kita bukan orang lain. Kita lah yang paling lama bersama anak kita, jadi jangan biarkan penilaian orang lain membuat kita ragu-ragu terhadap anak kita. Keraguan kita akan sangat jelas terbaca oleh anak kita melalui perilaku kita. Keraguan kita akan berakibat anak pun akan meragukan dirinya sendiri.

    Kita sendiripun sering ragu terhadap diri kita sendiri, mungkin saja hal ini diakibatkan diri kita terlalu sering diragukan  oleh orangtua kita sendiri pada masa lampau.

    Anak-anak itu memiliki perkembangan yang sangat pesat baik fisik maupun psikis. Label yang diberikan secara sembarangan bisa membuat anak kita berhenti berkembang. Apalagi jika label itu menyangkut psikisnya.

    Tahukah Anda bahwa perkembangan yang optimal itu ditopang oleh pondasi psikis yang baik ?
    Tubuh memang boleh cacat tapi pikiran harus tetap prima.
    Pikiran yang prima akan memudahkan kita untuk menangani setiap tantangan kehidupan yang ada.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda Sekeluarga
    Sandra Mungliandi

  • Anak Nakal Dilahirkan?

    “Aduh duhh….”. Keluh seorang ibu sambil mengelus dada. “Napa, jeng ?”. Tanya tetangga sebelah rumah dengan nada perlahan. “Jantungnya bermasalah ?”. “E… Bapak Santoso. Nggak pak…”. Jawab ibu tersebut sambil tersenyum malu. “Saya cuman sedang sedih, jengkel dan marah. Campur aduk dah pak. Saya ini kok bisa melahirkan anak yang nakal ? Anak saya ini loh, pak. Bikin saya gemes melihat dan mendengar perilaku anak saya setiap hari. Mulai dari gak mau disuruh belajar, suka bohong, tidak punya semangat kalau ngadepin kesulitan, tidak disiplin ngikutin aturan. Hampir tiap hari saya mendapatkan laporan dari gurunya dan hampir setiap hari saya harus teriak-teriak di dalam rumah untuk mendisiplinkan anak saya. Saya jadi gak tahan ada di rumah, penginnya kerja melulu. Daripada pulang, kemudian ketemu anak saya… terus harus ngadepin kenakalan anak saya.” Cerocos ibu itu tanpa bisa di rem. Benarkah anak nakal dilahirkan ? Setiap anak memang dilahirkan. Tidak ada seorang anak yang hidup di dunia ini tanpa melalui proses kelahiran. Jadi kalimat diatas 50 % tepat tapi 50 % lainnya salah ! Kenakalan ada dalam diri anak bukan karena dilahirkan. Bukan karena takdir. Bukan juga karena turunan / warisan dari kakek nenek moyang. Kenakalan terjadi karena pembentukan dari lingkungan. Karena kenakalan tidak termasuk warisan gen maka tentu saja bisa dicegah agar tidak terbentuk. Bagaimana mencegahnya? Kenakalan pada anak terjadi, hampir selalu diawali dengan satu kesalahan yaitu kesalahan dalam proses komunikasi. Komunikasi sendiri merupakan suatu proses yang membutuhkan kemampuan memahami dan menyampaikan ide/perasaan kepada orang lain. Kesalahan terbesar dan terbanyak yang dilakukan oleh orangtua dalam berkomunikasi adalah kegagalan untuk memahami anak terlebih dahulu (memahami karakter anak, memahami bahasa cinta anak, dan memahami kebutuhan anak). Berapa banyak dari kita yang meminta anak untuk memahami kita terlebih dahulu dan mengerti keinginan kita. Pernahkah kita meminta anak seperti ini : “Ibu yang melahirkan kamu, jadi ibu yang paling mengerti keinginan kamu.“ Atau, “Ayah yang menyekolahkan kamu sampai tinggi. Ayah juga yang memberi kamu makan nasi bukan batu. Jadi sudah sepantasnya kamu berbakti dan taat kepada ayah !”. Ketika kita gagal memahami anak maka anak akan berusaha mencari AKAL agar bisa dipahami oleh kita yaitu dengan melakukan hal yang tidak kita sukai atau sebaliknya. Akal-akal yang nakal inilah yang membuat kita pusing 7 keliling. Apa saja yang perlu kita pahami terlebih dahulu dalam diri anak agar komunikasi bisa berjalan dengan mulus ?

    • Tipe kepribadian anak Anda sehingga Anda bisa mengetahui apa yang disukai atau dibenci oleh anak Anda. Anda juga akan mengerti bagaimana memberikan motivasi sesuai dengan tipe kepribadian anak Anda.
    • Cara salah yang sering digunakan orangtua dalam menasehati anaknya mengakibatkan anak tumbuh menjadi seseorang yang sering ragu-ragu, tidak percaya diri dan sulit mengambil keputusan.
    • Cara berkomunikasi agar anak mau mendengarkan dan fokus dengan apa yang disampaikan orangtua.
    • Mengenali bahasa cinta anak Anda. Berbicara dengan bahasa cinta yang tepat akan membuat anak benar-benar merasa dicintai oleh orangtuanya.

    Jadi, jika ada SATU SKILL PENTING yang harus dimiliki oleh setiap orangtua, skill itu adalah bisa berkomunikasi efektif dengan anak. Anak menjadi merasa dicintai dan dimengerti oleh orangtuanya. Itulah SKILL TERPENTING yang perlu dimiliki oleh semua orangtua. Semoga artikel singkat ini bermanfaat dan memberikan perspektif baru bagi Anda semua dalam berkomunikasi dengan anak Anda. Silakan beri komentar Anda tentang artikel ini di bagian bawah. Kami akan senang sekali mendengar komentar Anda. NB: Oh ya, Sekolah Orangtua memiliki paket Effective Communication in Parenting yang menjelaskan secara detil semua hal yang berhubungan dengan cara komunikasi efektif dengan anak. Lebih dari 6 jam pembelajaran bisa Anda peroleh dari paket DVD dan CD tersebut. Dalam rangka menyambut Ulang Tahun Kota Surabaya tgl 31 Mei nanti, Sekolah Orangtua akan melakukan SALE dan BIG DISCOUNT sebesar 40% untuk Paket Effective Communication in Parenting ini . Jadi dari harga semula Rp 500.000,- menjadi Rp 300.000,- (Hemat Rp 200.000,-). Detil dari paket ini bisa dilihat di halaman paket ini. SALE DISKON 40% HANYA selama 3 hari saja yaitu Selasa tanggal 31 Mei, Rabu 1 Juni dan Kamis 2 Juni. Bagaimana prosedur pembelian? Bisa dibaca di halaman Cara Berbelanja. Semoga bermanfaat! Sukses selalu buat Anda!

  • Mana Model Pengasuhan Sementara yang Cocok untuk Ibu Bekerja ?

    Dunia ini memang sudah sangat berubah, jika dibandingkan dengan keadaan 15 tahun yang lalu. Peran pencari nafkah saat ini, tidak lagi diemban oleh ayah seorang saja. Ibu pun sudah harus ikut turun gunung agar asap dapur tetap mengepul dan gaya hidup bisa terakomodasi. Penghasilan dari 1 pintu saja, tidak cukup untuk digunakan di jaman sekarang.

    Konsekuensi dari perubahan ini paling berdampak pada kehidupan anak. Anak tidak lagi sering bertemu dengan ayah ibunya. Ia lebih sering bergaul dengan pengasuh, nanny, ataupun baby sitternya dibandingkan dengan kita. Bahkan tak jarang, pertemuan keluarga inti yang lengkap, hanya bisa dilakukan di hari sabtu minggu. Itupun jika tidak ada perjanjian bisnis mendadak atau panggilan bos di hari libur. Ironis bukan ?

    Ya…. Ada sisi baiknya sich dari perubahan fenomena ini yaitu munculnya lapangan kerja baru bagi para pengasuh anak. Jadi tidak perlu ke luar negeri menjadi TKI/TKW, cukup di dalam negeri mengasuh (dan kalau bisa mendidik) anak bangsa penentu masa depan negara ini. Atau munculnya Rumah Anak/Tempat Penitipan Anak.

    Nah… permasalahan yang sering muncul dalam pengasuhan modern ini adalah memilih pengasuh yang cocok dan top ! Ketepatan dalam memilih pengasuh akan sangat membantu anak mengembangkan dirinya agar berkembang optimal. Kesalahan memilih pengasuh, tentu saja akan berdampak pada masa depan anak.

    Contoh nyata (dan memang benaran terjadi !) mengenai kesalahan dalam memilih pengasuh terjadi pada Raja Inggris, George VI, ayah dari ratu Elizabeth II sekarang. “Lo kok bisa ? itu kan raja. Bisa juga ya salah memilih pengasuh.”

    Yup. Nanny (panggilan pengasuh di Inggris) yang dipilih untuk mengasuh Raja George VI bukan nanny yang peduli ataupun berkarakter nurturing. Ia bertipe nanny yang keras dan tidak memahami kebutuhan anak. Akibat dari kesalahan dalam memperlakukan George kecil, George tumbuh dewasa dengan mengidap penyakit stutering/gagap. Gangguan bicara ini harus diidap oleh George hingga ia dewasa bahkan ketika ia dilantik menjadi raja. Demikian dahsyatnya kesalahan pengasuhan di masa kecil yang berdampak pada keseluruhan hidup seorang anak.

    Pada dasarnya, pengasuh dan anak merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena keterbatasan seorang anak maka ia membutuhkan orang dewasa untuk mendampinginya sebelum ia menginjak dunia dewasa itu sendiri. Siapapun pengasuhnya, bisa anda sendiri sebagai orangtua maupun seseorang profesional yang anda bayar karena anda tidak memiliki waktu untuk mengasuh, anda perlu cermat dalam mengenali karakteristik yang sesuai.

    Anak dan pengasuhnya itu dapat diibaratkan penari balet berpasangan yang biasa disebut pas de deux. Penari wanita dapat menari dengan bebas, melompat kesana kemari dan berputar ke kanan kiri, hal ini karena kerjasama yang jempolan dengan penari prianya. Coba anda bayangkan jika penari pria tidak memiliki karakter penari balet yang baik yaitu kemampuan menari, kemampuan untuk membaca timing (waktu) kapan si penari wanita akan meloncat, dan kemampuan fisik untuk mengangkat tubuh si penari wanita. tentu penari wanita akan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan tariannya.

    Pengasuh itu sama seperti penari pria, ia harus mampu menopang penari wanita tapi juga perlu menjaga keharmonisan gerakannya agar dapat memperindah tarian itu.

    Jadi… pengasuh seperti apa yang akan Anda pilih untuk menemani buah hati Anda sepanjang hari ?

    Saat ini, pilihan pengasuh sudah beragam. Kita bisa memilih memasukkan anak di sebuah Tempat Penitipan Anak (TPA), membayar nanny profesional, baby sitter part time, atau pembantu rumah tangga.

    Rumah Anak

    Dalam artikel ini, saya lebih sreg menggunakan istilah Rumah Anak dibandingkan dengan Tempat Penitipan Anak karena penggunaan kata titip berkesan seperti barang.

    Jadi poin utama untuk memilih RA yang baik adalah apakah mereka memperlakukan anak-anak disana sebagai seorang individu atau sebagai barang yang sekedar dititipkan. Cari tahu mengenai masalah ini dengan melihat program yang ditawarkan oleh mereka. Jangan tergiur dengan fasilitas yang disediakan karena fasilitas tidak menjamin perlakuan terhadap anak.

    Anak-anak itu sangat sederhana (kalau memang tidak dibiasakan bermain dengan barang elektronik). Mainan apapun bisa menjadi mainan bagi mereka. Bahkan bawang merah ataupun peralatan dapur sudah bisa menjadi mainan bagi anak usia toddler (1.5-3 tahun).

    Perlakuan apa yang perlu kita cek ?

    1. Karakter pengasuh/nanny : ramahkah ia ? Strategi apa yang telah ia siapkan untuk menghadapi perilaku rewel anak ?
    2. Person in charge/penanggung jawab tempat
    3. Program kegiatan harian anak.
    4. Kebersihan tempat.
    5. Penanganan emergency

    Keunggulan dari RA ini adalah adanya sistem pengawasan dari Penanggung jawab sehingga kesalahan bisa segera dibetulkan. Anak pun bisa enjoy karena banyak teman dan permainan.

    Nanny Profesional vs Baby Sitter Part Time

    Di Indonesia terjadi kesalahan penggunaan istilah pengasuh ini. Istilah baby sitter lebih banyak digunakan untuk menjelaskan pengasuh yang seharian menjaga dan merawat anak. Padahal pada kenyataannya, istilah yang tepat untuk pengasuh, penjaga dan perawat anak yang bertanggung jawab pada kegiatan sehari-hari anak adalah nanny. Sedangkan baby sitter merupakan pengasuh anak yang hanya bekerja menjaga dan merawat anak beberapa jam sehari sesuai perjanjian dan kebutuhan. Karena bertugas menjaga hanya beberapa jam, biasanya bisa menggunakan tenaga remaja ataupun mahasiswi.

    Untuk nanny, biasanya telah memiliki bekal keterampilan mengasuh anak. Yang kurang dicermati adalah kesehatan, karakter dan pola pikir dari nanny. 2 hal ini biasanya luput dari perhatian orangtua ketika menscrening seorang nanny.

    Kesehatan disini menyangkut kesehatan fisik dan kesehatan mental. Pengetahuannya mengenai kebersihan anak, kesehatan anak dan kemampuannya untuk menjaga kebersihan anak, peralatan yang digunakan anak dan lingkungan tinggal anak.

    Karakter yang sebaiknya dimiliki oleh seorang nanny adalah ceria, sabar dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak.

    Pola pikir yang perlu dimiliki oleh seorang nanny adalah kemauannya untuk belajar hal baru dan beradaptasi dengan aturan baru. Karena setiap rumah pasti memiliki aturan dan cara memperlakukan anak berbeda-beda.

    Selain itu, pola pikir yang perlu dicek dari si nanny adalah apa definisi seorang anak bagi si nanny. Apakah hanya sekedar seorang anak yang perlu diperhatikan kebersihannya saja ? ataukah sekedar seorang manusia yang perlu diperhatikan kesehatan dan perlu diberikan stimulasi kecerdasan ?

    Nilai nilai hidup yang dianut oleh si Nanny juga perlu dicek oleh kita. Jika nanny memiliki nilai hidup : hidup ini harus dinikmati, tidak perlu lah terlalu keras bekerja, nanti bisa stres. Jika ia memiliki nilai hidup seperti ini maukah anda memintanya menjaga si kecil ?

    Di RA, screening ini juga perlu kita lakukan untuk melihat apakah karakter pengasuh yang disediakan oleh RA cocok dan sejalan dengan nilai-nilai hidup kita.

    Pembantu Rumah Tangga

    Mempekerjakan pembantu rumah tangga untuk mengurus rumah sekaligus menjaga anak kita memiliki keuntungan sekaligus kerugian.

    Keuntungan yang bisa kita peroleh adalah harga murah yang kita bayar untuk 2 pekerjaan sekaligus. Keuntungan kedua adalah jika kita mendapatkan PRT yang jempolan, bagus dalam proses berpikirnya maka anakpun akan ketularan kecerdasannya. Bagaimana jika tidak ?

    Kerugiannya adalah biasanya fokus perhatian yang terpecah bisa menyebabkan PRT menggunakan cara menakut-nakuti anak agar anak mau dan menurut kepadanya sehingga PRT pun bisa mengerjakan tugas RT.

    Cara mana yang paling benar ?

    Tidak ada yang paling benar dalam memilihkan pengasuh yang paling cocok dengan kita. Yang ada adalah mencari model pengasuh yang tepat dengan karakter anak, karakter kita, dan situasi kita. Pilihan ada di tangan kita. Karena pengasuhan paling ideal adalah diasuh oleh ayah ibu sendiri. Nanny ataupun RA hanya lah sekedar alat untuk membantu kita. Jadi pilihlah alat yang cocok dan sesuai dengan anak dan diri Anda.

    Alat bantu untuk sreening yang populer saat ini adalah graphologi, deteksi karakter manusia melalui tulisan tangannya. Ada karakter tulisan tangan tertentu yang sebaiknya dihindari ketika mempekerjakan seorang pengasuh. Untuk saat ini, Graphologi adalah cara deteksi yang paling mudah dan sudah terbukti keakuratannya dalam pekerjaan saya mendeteksi pengasuh.

    Semoga apa yang sudah dijelaskan sejauh ini bermanfaat bagi Anda. Tolong beri komentar atau feedback di bawah ini, pendapat Anda tentang artikel ini dan apakah Anda ingin mendapatkan artikel lebih lanjut ttg topik ini atau topik lainnya.

    Salam Hangat Penuh Cinta

  • Baru Terbit Buku Embryo of Success – baca sinopsisnya

    the_embryo_of_success_rahasia_mempersiapkan_kesuksesan_sejak_diniSetiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi sukses saat besar nanti. Definisi sukses menurut setiap orangtua juga beragam tergantung persepsi masing-masing.

    Ada yang berpendapat bahwa sukses itu berkecukupan dalam segi finansial dan materi, atau berhasil dalam membangun kerajaan bisnis. Ada juga yang berpendapat bahwa sukses itu jika punya budi pekerti baik dan menolong banyak orang. Tidak jarang juga yang berpendapat bahwa sukses itu jika mampu membina rumah tangga yang harmonis. Atau yang ini : sehat jasmani dan rohani secara seimbang.

    Apapun persepsi tentang sukses yang Anda, Para Orangtua, sekarang pegang, berarti Anda pasti tidak mau hal di bawah ini terjadi pada anak Anda saat mereka dewasa nanti :

    • Jatuh bangun terus membangun bisnis tanpa arah yang jelas
    • Sudah bekerja amat keras namun selalu tidak mampu menghasilkan uang yang cukup untuk membiayai hidupnya
    • Ditipu orang terus
    • Emosional, sensitif dan mudah meledak marah untuk hal-hal kecil sehingga hidupnya terhambat
    • Tidak jujur dan dibenci banyak orang
    • Rumah tangga berantakan bahkan berakhir dengan perceraian sehingga anak-anaknya ikut menjadi korban
    • Kecanduan narkoba
    • Terbelenggu masalah obesitas/kegemukan sehingga kesehatan terganggu
    • Tidak mampu mengambil keputusan
    • Tidak punya motivasi untuk maju
    • Dan masih ada ratusan masalah lainnya yang jika disebutkan, dijamin Anda akan berdoa memohon supaya semua itu dijauhkan dari hidup Anda dan anak Anda.

    Para Orangtua yang terhormat, sadarkah Anda bahwa masa depan yaitu pola kesuksesan maupun pola kegagalan anak Anda saat ia dewasa nanti, semuanya sudah mulai terbentuk saat ia berada dalam kandungan ibunya?

    Ya betul, Anda tidak salah baca. Kesuksesan dan kegagalan seseorang sudah mulai terpola saat ia masih berupa EMBRIO! Dalam kandungan ibunya! Dan siapa yang menentukan seperti apa pola yang akan terbentuk dalam diri sang embrio itu? Betul sekali…. Anda sebagai orangtuanya, baik ibu maupun ayahnya.

    Jadi jika hari ini Anda sependapat dengan kami bahwa amat penting mendukung kesuksesan anak sejak dini, berapapun usia anak Anda sekarang, serta Anda adalah tipe orangtua yang bersedia melakukan yang terbaik bagi anak, maka ada satu langkah yang amat sederhana, murah, tidak menyita waktu dan tenaga banyak, namun amat penting untuk Anda lakukan sekarang juga.

    Apakah langkah itu? Kunjungi toko buku terdekat dan dapatkan buku THE EMBRYO OF SUCCESS yang ditulis oleh terapis dan konselor keluarga berpengalaman Daniel Go dan Timothy Wibowo.

    Apa yang ditulis di buku THE EMBRYO OF SUCCESS, berdasarkan kisah nyata pengalaman penulisnya melakukan terapi dan konseling pada banyak keluarga, membuka mata kita semua bahwa hal-hal kecil dalam hidup sehari-hari jika keliru dilakukan akan membawa dampak yang amat fatal bagi masa depan anak kita. Sebaliknya jika dilakukan dengan benar bisa membuat anak berkembang luar biasa.

    THE EMBRYO OF SUCCESS tidak hanya membahas kasus anak dan orangtua. Banyak kasus lain diulas di sana termasuk di antaranya adalah kasus bisnis, keuangan, masalah penyimpangan perilaku dan emosi pada orang dewasa, kasus kegemukan dan lain sebagainya.

    Hanya jika Anda siap mental, mau terbuka dan jujur pada diri sendiri, serta memiliki integritas, itulah waktunya Anda belajar dari THE EMBRYO OF SUCCESS. Mengapa? Karena banyak fakta-fakta di sana yang diungkap yang akan mengagetkan Anda.

    THE EMBRYO OF SUCCESS menunggu orang yang tepat untuk membukanya. Jadi jika Anda merasa sudah siap sekarang, tunggu apa lagi? Bertindaklah sekarang dan selamat menjalani perubahan yang luar biasa dalam hidup Anda bersama orang-orang yang Anda kasihi.

    “Jika dalam seumur hidup Anda hanya ingin membaca satu buku yang bisa mengubah hidup Anda, sekarang Anda sudah memegang buku itu.”

    Fredy Agus Susanto
    Project Manager, Jakarta

  • Seminar Semarang: Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi

    Seminar Semarang:
    Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi

    thumb super parenting smg 26 sept 10

    Klik Gambar Untuk Memperbesar

    Orangtua, pernahkah Anda mengalami hal berikut:

    • Anak Anda lebih suka main video game daripada belajar?
    • Anda sering kali harus memaksa dan mengingatkan anak untuk belajar?
    • Anak Anda hanya bisa berkonsentrasi sebentar dalam belajar?
    • Anak Anda susah sekali dinasehati dan diatur?

    Sekarang Anda akan segera mengetahui rahasia menangani semua permasalahan ini!

    Hari / Tgl : Minggu, 26 September 2010
    Waktu : 13.00 – 16.00 WIB
    Tempat : International Brand Academy (IBA) Concert Hall (Seberang Rinjani View). Jl. Rinjani 18 Semarang

    Pembicara : Daniel Go, SE., MBus., CHt.
    (Seorang praktisi di bidang terapi, teknologi pikiran dan parenting yang berpengalaman menangani berbagai kasus klien anak dan dewasa).
    Penulis buku “Embryo of Success – Reveal A Success Blueprint from Your Childhood” terbitan Gramedia

    Investasi:
    Early Bird s/d 22 September 2010 Rp 150.000

    Pendaftaran dan Info hubungi:
    Ibu Lina : 024 7027 6790
    Ibu Pauline : 081 5652 3766
    Reni : 0813 2669 9711

  • Ibu, Bagaimana Kabarmu?

    Ibu selalu menyertaimu. Ibumu adalah bisikan daun-daun, ketika kau mencari angin berjalan-jalan. Ia adalah aroma segar yang keluar dari kaus kakimu yang putih tercuci bersih. Ibumu hidup dalam tawamu, dan mengkristal dalam tetes air matamu. Ibumu adalah tempat tinggalmu yang pertama. Dari sana kamu datang, dan dia adalah terang yang menuntun setiap langkah hidupmu. Dialah cinta pertamamu, takkan ada yang dapat memisahkanmu darinya. Waktu, jarak, bahkan kematian takkan memisahkan kamu dari ibumu. Kamu akan membawa dia di dalam dirimu selalu. Begitulah kurang lebih isi sajak yang ditulis oleh Sherry Martin. Ibu adalah hidup kita, dia akan menyertai kita ke mana-mana. Itu berlaku untuk siapa saja. Tak terkecuali juga pemain bola. Bagi pemain bola, ternyata ibu juga segala-galanya. Ibu, dialah yang pertama kali ditelepon oleh Ramires (23), ketika dalam pertandingan uji coba menjelang Piala Dunia 2010, Brasil menaklukkan Tanzania 5-1. Tanzania memang bukan lawan yang sepadan bagi Brasil. Namun, itu bukan soal. Yang penting, Ramires ingin membuat Yudith, ibunya, bangga dan bahagia. Apalagi dalam pertandingan uji coba itu, Ramires sendiri memborong dua gol. Oleh karena itu, ia segera membagikan kebahagiaan kepada ibunya yang tinggal jauh di seberang sana. Demikian juga halnya dengan Samuel Eto’o. Pada masa kecil Eto’o hidup di perkampungan kumuh wilayah Douala, kota terbesar di Kamerun. Hidupnya sangat miskin dan ibunya harus mati-matian mencari uang untuk menghidupi keluarganya. ”Setiap kali saya mencetak gol, apalagi gol yang amat menentukan, saya selalu memikirkan ibu saya. Gambar ibu selalu terbayang di mata saya. Ketika saya mencetak gol, saya terkenang, bagaimana pada pagi-pagi buta, ibu pergi meninggalkan rumah, untuk menjual ikan, agar ia bisa menghidupi keluarga. Tanpa dia, tak ada saya sekarang,” aku Eto’o kepada penulis Christian Ewers yang mewawancarainya. Eto’o bilang, setiap pertandingan adalah pertarungan. Ia tak ingin mengalah. Ia ingin bertahan seperti ibunya, yang demikian tabah bekerja di pasar, sampai mendapatkan uang untuk keluarganya. Jadi bagi Eto’o, setiap gol yang ia peroleh bagaikan sekeping mata uang, yang dulu dicari dengan susah payah oleh ibunya. Gol itu terasa sebagai pembebasan dari belenggu kemiskinannya. Cacau ternyata juga mempunyai pengalaman yang mirip dengan Eto’o. Cacau asli Brasil, dilahirkan dari keluarga amat miskin di desa kecil, 40 kilometer dari Sao Paulo. Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan Cacau sendiri pernah menjadi pedagang asongan di jalan-jalan raya Sao Paulo. ”Waktu saya mencetak ke gawang Australia, ibulah yang datang pertama kali ke dalam pikiran saya. Lalu saya teringat akan kedua saudara saya dan bersamaan dengan itu timbullah segala kenangan akan kemiskinan dan penderitaan yang pernah saya lalui,” kata Cacau. Ia tak tahu, mengapa gol itu serasa sebagai sebuah kebahagiaan yang dapat menutupi penderitaan yang dulu harus ditanggung oleh ibunya. Kenangan akan kasih ibu semacam itu juga terjadi pada gelandang Inggris, Frank Lampard. Menurut bibinya, Sandra Redknapp, Lampard sangat terpukul ketika dua tahun lalu ibunya meninggal karena pneumonia. ”Ia sangat membutuhkan dukungan ibunya sehingga dalam Piala Dunia kali ini, ia pasti merasa sangat kehilangan dukungan itu,” tutur Sandra Redknapp, yang merupakan istri Harry Redknapp—paman Lampard—pelatih Tottenham Hotspurs. Kata Sandra, Pat, ibu Lampard, selalu hadir setiap kali Lampard bertanding sejak Lampard masih anak-anak. Pada Piala Dunia di Jerman, empat tahun lalu, Pat juga datang menyaksikan pertandingan anaknya. ”Pat sangat bangga akan anaknya. Sekarang Pat sudah tiada, padahal Frank selalu membutuhkannya. Jadi saya yakin, dalam Piala Dunia kali ini, Pat juga datang dan menjaga Frank, serta berharap, Frank memperoleh hasil yang terbaik,” kata Sandra pada awal perhelatan Piala Dunia 2010. Dan bagaimana dengan Arjen Robben? Setelah Bayern Muenchen keluar sebagai juara Liga Jerman, lalu bersiap-siap menghadapi final Liga Champions melawan Inter Milan, Robben pernah bilang demikian, ”Andaikan nanti saya bisa menikmati juara Liga Champions dan kemudian menjadi juara di Piala Dunia 2010, tak ada lagi yang akan saya buat, kecuali meninggalkan semuanya lalu pulang ke rumah ibu saya.” Bagi pemain bola, ibu ternyata adalah tempat, yang selalu mengajak mereka pulang. Ibu adalah naungan, di mana mereka merasa aman dan tenteram. Ibu juga selalu mengikuti mereka ketika mereka bersusah payah merebut dan memainkan bola. Juga ketika ibu telah tiada, mereka tetap percaya akan kehadirannya. Ibu melebihi kemampuan dan kehebatan mereka. Kalau ibu mengawal mereka, mereka merasa pasti bahwa mereka akan menemukan jalan menuju kemenangan. Ibu, yang lemah lembut dan penuh kasih itu, adalah puisi di tengah lapangan bola yang keras dan penuh pertarungan. Dan gol adalah persembahan cinta yang ingin mereka haturkan kepada ibunya. Mother, how are you today? Ibu, bagaimana kabarmu? Lagu ini ternyata adalah kata-kata cinta, yang juga menjadi isi hati para pemain bola. Para Orangtua Pembelajar, artikel diatas merupakan tulisan seorang penulis yang saya kagumi sejak saya berada di bangku kuliah, Sindhunata. Kali ini, beliau mengupas topik mengenai pentingnya ibu dalam kehidupan seorang anak. Saya yakin, kita semua memiliki ibu atau bahkan telah menjadi ibu saat ini atau jika anda adalah suami, anda juga memiliki istri yang menjadi ibu dari anak-anak anda. Gelar ibu yang disandang seorang wanita merupakan anugerah yang tiada duanya. Melaluinya lahir atau tumbuh seorang anak yang akan menentukan masa depan dunia. So… para ibu, peran yang anda emban bukanlah peran sembarangan yang bisa digantikan oleh siapapun. Pepatah bilang, ibu dapat menggantikan siapapun tapi ibu tidak dapat tergantikan oleh siapapun. Belajar terus yuk… agar anak-anak kita dapat menjadi yang terbaik yang bisa mereka jadi. Saya berharap juga semoga tulisan ini bisa menginspirasi kita semua untuk selalu menghormati dan menghargai wanita yang dipanggil ibu, mama, bunda. Salam hangat penuh cinta untuk para ibu di seluruh Indonesia. Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog. Oleh SINDHUNATA * Editor: lhw * Sumber : Kompas Cetak

  • Workshop Balikpapan: CARA MUDAH DAN EFEKTIF dalam MENDIDIK ANAK

    Workshop:
    CARA MUDAH DAN EFEKTIF dalam MENDIDIK ANAK


    Klik Gambar Untuk Memperbesar
    Klik Gambar Untuk Memperbesar

    Free Sesi Terapi melepas emosi negatif orangtua

    Bisakah Anda BENAR-BENAR MERASA BAHAGIA & SUKSES
    jika Anda memiliki permasalahan keluarga seperti berikut ini:

    • Anak MANJA dan TIDAK MANDIRI.
    • PRESTASI dan MOTIVASI ANAK JEBLOK.
    • Anda sering BERTENGKAR dengan PASANGAN tentang masalah anak.
    • Anak CUEK, MARAH dan MEMBANTAH jika DINASEHATI.
    • Anak MALAS dan TIDAK PUNYA SEMANGAT JUANG.

    CARA MUDAH DAN EFEKTIF dalam MENDIDIK ANAK

    Melalui Workshop ini, kami berharap dapat membantu para orangtua untuk memahami proses pendidikan anak sehingga lebih banyak lagi keluarga bahagia yang terbentuk. Workshop ini merupakan workshop tentang mendidik dan membesarkan anak yang berfokus pada psikologi perkembangan anak dan teknik berkomunikasi yang lebih efektif.

    Pulang dari seminar ini Anda akan:
    1. Lebih mudah menangani anak Anda baik di rumah ataupun di sekolah.
    2. Mempunyai waktu lebih luang untuk Anda sendiri karena Anda sudah tau teknik yang “Bring your student’s DH 680 form to the alpine school district as soon as you can so your child’s first day of alpine school district will be a positive experience,” said Glover. tepat untuk mendidik anak Anda.
    3. Mengetahui kebutuhan mendasar dari anak.
    4. Mengetahui bagaimana cara memenuhi kebutuhan mendasar tersebut.
    5. Mengerti dan memahami bagaimana membuat anak tumbuh dengan lebih percaya diri, harga diri sehat dan termotivasi dari dalam sebelum anak menginjak usia remaja.
    6. Mengetahui apa yang harus Anda pentingkan di masa sekarang demi masa depan anak kelak saat dewasa.

    Hari: Sabtu, 7 Agustus 2010
    Jam: 09.00 – 15.00 WIB
    Tempat: Hotel Sagita, Balikpapan Jl. Mayjend Sutoyo No 69 Balikpapan
    Ruang: Garuda Ballroom

    Pembicara: Jimmy K Santosa, C.Ht
    Certified Trainer Sekolah Orangtua, Certified Hypnotherapist

    Untuk pendaftaran hubungi:
    Bpk Boge – 0811543483
    Bpk Dharma – 081334551833
    Ibu Yani – 081347758888
    Ibu Yuli – 081352579040
    Ibu Sally – 08195519788
    Ibu Anastasia – 0542 7022777

  • Pertengkaran Orangtua Menciptakan Hambatan Mental Pada Anak

    Jam menunjukkan pukul 19.00 ketika seorang klien yang sebelumnya telah mengadakan janji temu masuk ke ruang terapi saya. “Selamat malam Pak…., apa kabar, apa yang dapat saya bantu untuk Bapak” sapa saya mengawali pembicaraan. Dengan suasana santai dan nyaman, klien tersebut kemudian menceritakan permasalahan yang tengah dialami seputar usaha pribadi yang dimilikinya.

    “Saya bukan berasal dari keluarga kaya Pak” lanjutnya dalam pembicaraan kami. “Semuanya saya awali dari nol dengan modal usaha yang sangat minim”. “Hingga akhirnya saya dapat terus berkembang membangun usaha sendiri yang saat ini memiliki banyak cabang di Jogjakarta”.

    Dari cerita klien tersebut saya kemudian justru mendapatkan satu inspirasi yang sangat luar biasa. Berawal dari statusnya yang hanya sebagai pegawai biasa di sebuah counter handphone dengan gaji pas-pas an hingga akhirnya memiliki usaha sendiri dengan banyak cabang, ditambah beberapa mobil dan rumah mewah, dengan usia yang relatif masih muda, jauh dibawah saya. Wow menarik bukan?

    “Beberapa waktu ini usaha yang saya jalankan sedikit mengalami hambatan, Pak” ujarnya. “Saya merasa bahwa harusnya saya bisa lebih maju dan berkembang. Namun sekarang ini rasanya kok mandek ya, stuck nggak bergerak. Masa dalam dua tahun terakhir ini tidak ada perkembangan sama sekali?”….. “Memang sih hasilnya masih cukup baik, namun dengan kapasitas modal dan karyawan yang ada, harusnya terjadi peningkatan juga dalam usaha saya ini. Kalau tidak nanti ke depannya akan semakin berat dalam persaingan”
    Pembicaraan terus berlanjut dan saya mencoba menggali informasi lebih banyak lagi. Pada akhirnya saya menemukan suatu penjelasan yang cukup unik yang saya rasakan sebagai sumber penyebab dari tidak berkembangnya usaha yang dijalankan tersebut.

    Begini ceritanya, setelah menempati kantor baru sebagai pusat kegiatan usahanya tiga tahun lalu, banyak rekan dan sahabat yang datang berkunjung hampir setiap hari. Wajar saja bila pada akhirnya mereka sangat kagum dengan perkembangan dan hasil yang telah dicapai oleh klien saya ini. Mengingat bagaimana kondisinya sejak awal merintis usaha, mungkin tidak salah bila saya istilahkan “from zero to hero” he he he… Mau tak mau pujianpun mengalir dari masing-masing teman dan sahabatnya. “Wah anda memang hebat ya Pak”, “Sukses yang luar biasa Pak”, “Bisnis anda sangat besar sekali” adalah beberapa komentar dan pujian yang sering disampaikan padanya.

    Namun bagaimana cara klien saya menanggapinya ternyata justru menjadi bumerang di kemudian hari yang tidak pernah disadarinya. “Ah enggak kok” jawabnya. Atau “Biasa aja lah”, “Jangan terlalu memuji”, “Saya masih belum apa-apa”, “Ah saya nggak ada apa-apanya”, jawaban-jawaban inilah yang sering dan berkali-kali klien saya ucapkan menanggapi pujian-pujian tersebut. Dan itu terus berlanjut hingga saat sebelum bertemu saya.

    Yang menarik adalah mengapa klien mengucapkan itu berkali-kali? Bukankah ini memperkuat atau bahkan bisa menyebabkan mental blok baru? Sebab dengan mengacu pada prinsip kerja pikiran, sesuatu yang dilakukan berulang kali (repetisi) secara konsisten, maka hal tersebut dapat menjadi suatu hal yang diyakini (belief). Dalam konteks bila keyakinan itu bersifat negatif, secara otomatis akan menjadi mental block yang menghambat kemajuan diri kita dan apa yang kita lakukan.

    Nah saya mulai menggali lebih dalam mengapa klien mengucapkan itu berkali-kali. Saya menanyakan beberapa pertanyaan untuk mempertajam analisa dan dugaan saya tentang proses terbentuknya mental blok itu. Saya tanya lebih detail apa perasaannya saat mengucapkan kalimat tersebut sebab bila kita perhatikan jawaban-jawaban yang diberikan klien saya ini dalam menanggapi pujian yang ditujukan kepadanya, semuanya berkonotasi negatif bukan?

    Saya paham bahwa sebagai orang timur dan khususnya karena klien saya ini berasal dari Jogjakarta, mungkin maksud dari jawaban tersebut adalah untuk menunjukkan kerendahan hati dan menghindari kesan sombong atau tinggi hati. Namun intuisi saya sebagai terapis menangkap sesuatu yang sepertinya menjadi petunjuk penting untuk menyelesaikan kasus ini. Lagi pula suatu kalimat yang diulang berkali-kali dapat berubah menjadi belief dan mental blok yang benar-benar diwujudkan secara tidak sadar. Bahwa usahanya itu masih biasa saja, masih belum apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Disinilah terjadi proses sabotase diri yang tidak pernah disadari klien sama sekali.

    Singkat cerita saya kemudian melakukan terapi pada klien saya tersebut untuk menghilangkan belief dan mental blok yang menjadi penghambat kemajuan usahanya.

    Dengan salah satu tehnik terapi yang saya pelajari di kelas Akademi Hipnoterapi Indonesia, saya menemukan root cause atau akar permasalahan yang menyebabkan atau melatar belakangi ucapan-ucapan tersebut.

    Ternyata kejadian yang memicu semua ini dialami oleh klien saya pada saat dia berusia delapan tahun. Klien melihat pertengkaran kedua orangtuanya untuk yang kesekian kalinya. Namun yang online casino kali ini dilihatnya adalah yang paling heboh dan seru hingga akhirnya kedua orangtuanya bercerai dan usaha mereka mengalami kebangkrutan.

    Kejadian ini begitu membekas, memunculkan perasaan tidak berdaya, tidak mampu, tidak percaya diri, tidak dapat berbuat apa-apa atas peristiwa yang terjadi. Sebagai seorang anak ia tentu mengharapkan kedua orangtuanya rukun. Namun apa daya ia tak sanggup membuat itu terjadi. Dan …… bennnnngggggg! Sebuah perasaan tak mampu terbentuk melalui serangkaian self talk pada anak tak berdaya ini. Ditambah dengan emosi negatif yang dirasakan saat itu maka lengkaplah sudah proses terbentuknya citra diri pada si anak. Citra diri – saya tak mampu, saya biasa saja – ini tertanam kuat dalam memori pikiran dan berguna sebagai landasan berpikir dan bertindak saat anak kecil 8 tahun ini beranjak dewasa.

    Citra diri inilah yang kelak akan terwujud dalam kehidupan seseorang. Ini seperti sebuah ramalah yang menjadi kenyataan.

    Akhirnya saya membantu klien melihat kejadian itu dengan sudut pandang berbeda dan kemudian memaknai ulang peristiwa tersebut dengan kesadaran dewasanya. Lalu setelah itu saya minta klien membantuk gambaran mental baru yang ia inginkan dengan teknik tertentu juga yang terlalu teknik diceritakan di sini. Singkat cerita terapi berakhir dan klien merasa plong. Seakan sebuah batu besar yang selama ini digendong kemana-mana telah diletakkan dan tak perlu dibawa lagi.

    Dua bulan setelah sesi terapi berakhir, di awal Juni 2010 saya mendapatkan kabar bahwa usaha yang dijalankan oleh klien saya mulai ada peningkatan dan berjalan sesuai yang diharapkan. Pesanan tiba-tiba saja datang dari pihak-pihak yang tidak pernah berhubungan sama sekali. Bahkan kinerja karyawan pun membaik. Malah pada akhirnya klien saya ini menyampaikan bahwa dia sedang mengatur waktu dan meminta saya untuk memberikan training beserta sesi terapi untuk keseluruhan karyawannya.

    Kasus klien saya ini mengingatkan saya pada cerita Aladin dan lampu wasiat. Dimana Sang Jin akan mewujudkan dan mengabulkan permintaan yang disampaikan. “Your wish is my command”.
    Demikian juga dengan hukum yang ada di alam semesta ini. Bukankah apa yang kita pikirkan dan ucapkan adalah apa yang akan kita dapatkan dan diwujudkan dalam hidup kita? Oleh karenanya berhati-hatilah dengan apa yang Anda pikirkan dan ucapkan, karena semuanya dapat menjadi suatu keyakinan yang akan diwujudkan dalam kehidupan nyata.

    Dan setelah menyadari dampak dari ucapan dan pikiran yang muncul maka carilah dengan kesadaran diri awal mula mengapa itu terjadi. Tak ada sebuah akibat terjadi tanpa sebab, betul?

    Bagaimana jika kesadaran diri kita tak sanggup menjangkau area dimana penyebab itu terjadi? Nah itulah saatnya kita membutuhkan pihak profesional untuk mencari dan melepaskan beban emosional tersebut.

    Salam hangat penuh cinta untuk para orangtua Indonesia
    Andreas S.(Certified Trainer Sekolah Orangtua Jogjakarta dan Champion Mindset Coach)

  • Jakarta: Seminar Super Parenting

    Seminar The Secret of SUPER PARENTING

    flyer-superparent-ok
    Klik Gambar Untuk Memperbesar

    Jangan Cintai Anak Anda, Namun Buatlah Dia Merasa Dicintai Apakah kejadian di bawah ini sering terjadi pada anak-anak Anda?

    • Tidak mudah menuruti perintah orangtua?
    • Malas dan tidak termotivasi belajar?
    • Merasa tanpa beban walau ulangannya jelek?
    • Sering menjadi “pelawak” atau “nakal” untuk menarik perhatian?
    • Mengatakan “tidak tahu”, “males ah”, atau “biasa” kalau Anda bertanya sesuatu?

    Apakah kejadian di bawah ini sering terjadi pada anak-anak Anda?

    • Tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi permasalahan anak?
    • Karir dan pekerjaan Anda tak bisa optimal karena memikirkan masalah anak?
    • Komunikasi dengan anak dan pasangan terasa hambar dan dingin?
    • Menjalani hidup ini hanya sebagai rutinitas belaka?

    Manfaat apa yang didapat dari seminar ini?

    • Lebih mudah menangani anak di rumah dan di sekolah.
    • Lebih mudah mengerti dan memahami jalan pikiran anak dan orang lain.
    • Metode yang dipelajari mudah diterapkan, sederhana dan hasilnya langsung terlihat.
    • Memiliki anak-anak yang tumbuh dengan percaya diri tinggi, harga diri sehat termotivasi setiap saat dalam dirinya, mandiri kreatif serta energik.
    • Memberikan keyakinan bahwa apa yang kita lakukan saat ini akan
    • memberikan pondasi yang kokoh bagi anak di masa depannya.

    • Meningkatkan efektifitas dan produktifitas tempat kerja.

    SEGERA dan PASTIKAN ! Anda dapatkan tiketnya dan hadir di : SEMINAR The Secret of SUPER PARENTING Hari / Tgl : Sabtu, 31 Juli 2010 Waktu : 09.00 – 12.00 ( sesi 1 ) / 14.00 – 17.00 ( sesi 2 ) Tempat : Hotel Ciputra, Jl. Letjen S. Parman, Jakarta. Pembicara : Gobind Vashdev, the HeartWorker – Certified Trainer SekolahOrangtua.com – Penulis buku laris Happiness Inside http://gobindvashdev.com/ http://happinessinside.wordpress.com/ Keterangan lebih lanjut, hub.i : Santo : 0818 77 59 27 ( sms only ) Wulan : 021 2737 0101 Ratih : 0818 0748 9999 email : superparenting2010@gmail.com

  • MENYAYANGI DAN MEMPERHATIKAN ANAK TIDAK PENTING…!

    “Bagaimana tidak keterlaluan anak saya ini pak ?! Saya sudah menyekolahkan dia ke Singapura dan semua fasilitas sudah saya sediakan, tapi…apa nyatanya ? Saya tidak minta ke dia yang muluk-muluk, harapan saya supaya ia bisa sukses, berhasil menjadi orang yang terpandang. Namun semua harapan itu lenyap kalo melihat dia seperti sekarang ini. Sia-sia saya mengirim dia ke Singapura sejak kecil.” Cuplikan kasus diatas adalah sebagian kecil keluhan selama 2 jam, seorang ibu yang menterapikan anaknya ke tempat saya. Ini adalah fenomena umum yang sering terjadi dalam sebuah keluarga yang terapi ke tempat kami dan jumlahnya sudah ratusan. Seringkali banyak orangtua menaruh harapan yang tinggi pada anak mereka tanpa melibatkan anak itu sendiri. Dengan bungkusan alasan “Kan’ semua demi masa depan anak, demi kesuksesan anak.” Apakah benar demi anak ? Apa bukan memenuhi ego kita ? Padahal makna sukses bagi setiap orang berbeda-beda, tak terkecuali anak kita. Masalah kebanyakan orangtua adalah selalu merasa lebih tahu mengenai yang terbaik untuk anak kita daripada anak itu sendiri. Dengan dalih, kita lebih berpengalaman karena usia kita lebih tua dibandingkan anak kita yang umurnya masih bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Kita lupa, setiap manusia diciptakan unik. Kita masing-masing memiliki kelebihan, kekurangan dan potensi sendiri. Pengalaman adalah guru, itu benar tapi tidak semua pengalaman kita cocok dengan kondisi anak kita. Pengalaman tidak selalu menjadi guru yang terbaik. Pada kasus di atas, saat kami ngobrol di dalam ruang terapi, Roy ( bukan nama sebenarnya ) justru ia merasa hal yang berbeda dengan pemikiran orangtuanya. Saat ia dikirim ke Singapura, justru ia mengalami TEKANAN HIDUP yang LUAR BIASA !!! Roy sebenarnya tidak siap dilepas untuk hidup mandiri tanpa orangtua. Setiap hari ia menangis namun orangtuanya selalu hanya memberi nasihat dan mendorong ia untuk tetap bertahan. Orangtuanya berdalih bahwa hal itu hanya sementara, nanti toh akan terbiasa (inilah nasihat klasik yang sering orangtua lontarkan saat mereka ingin agar anaknya bisa memenuhi harapannya.) Yang terjadi kemudian, Roy diusianya ke 18 ditarik pulang dengan kondisi sudah hancur mentalnya. Orangtuanya masih beranggapan bahwa Roy menjadi seperti ini karena kesalahannya sendiri. Apakah masalahnya selesai saat Roy ditarik pulang ??? TIDAK !!! Masalah menjadi lebih parah, karena kemudian ia terlibat penggunaan obat penenang sampai akhirnya harus masuk program rehabilitasi. Inikah yang dinamakan MENYAYANGI DAN MEMPERHATIKAN ANAK ??? Kalau seperti ini, mungkin lebih baik tidak menyayangi dan memperhatikan anak. Lho kenapa ? Anda penasaran ? Mari kita mencermati kalimat “Saya menyayangi dan memperhatikan anakku”. Siapa yang menjadi subjek atau fokus utama dalam kalimat itu ? Ya, saya. Saya sebagai orangtua. Sedangkan anak hanyalah sebagai objek atau penerima dari rasa sayang dan perhatian itu. Kata “Menyayangi dan Memperhatikan“ lebih mengandung makna sesungguhnya demi kepentingan kita. Jadi kita perlu berhati-hati karena ada kemungkinan cara/gaya kita mencintai anak kita tidak sesuai dengan kebutuhan anak kita. Padahal keinginan kita yang sesungguhnya adalah membuat anak merasa disayangi dan diperhatikan bukan ? Jadi kalimat yang lebih tepat adalah “ Anak-anak perlu MERASA DISAYANGI DAN DIPERHATIKAN oleh kita, orangtua“ . Di sini anak-anak adalah subyeknya. Jadi menyayangi dan memperhatikan anak dapat menyebabkan kita terjebak pada keinginan kita untuk mencurahkan kasih sayang itu tapi tidak memperhatikan apakah curahan kasih itu telah tepat guna atau belum. Apalah guna kita menyayangi anak tapi ia tidak merasa disayang . Jadi yang terpenting adalah bagaimana membuat anak itu merasa disayangi oleh kita. Selama ini kebanyakan orangtua mengatakan hal sebagai berikut, “Pokoknya, saya sudah merasa menyayangi dan memperhatikan, tidak peduli mereka merasa atau tidak “, sama artinya kita memposisikan anak kita sebagai obyek ego kita, bukan sebagai seseorang yang penting yang perlu kita cari tahu cara untuk membuat dia merasa disayang. Karena itulah, kenapa banyak orangtua mengeluh,”Kenapa ya ? Anak saya merasa bahwa saya belum menyayangi mereka dengan optimal ?”. Demikian pula anak-anak juga mengeluhkan orangtuanya bahwa mereka tidak merasa telah disayangi oleh orangtua mereka. Jika kita mampu menjadikan anak kita sebagai subjek (fokus utama) yang perlu disayangi maka kita akan mencari tahu cara-cara dan hal-hal yang dapat membuat ia merasa dicintai dan diperhatikan. Jika kita merasa bahwa kita telah menyayangi dan memperhatikan anak ada kemungkinan kita mencintai dan menyayangi anak dengan cara/gaya kita (yang belum tentu cocok dengan gaya anak kita). Dengan kata lain anak hanyalah sebagai pihak objek/pasif yang menerima curahan kasih sayang. Karena siapa sih yang mau jadi obyek ? Dulu, kita adalah obyek binaan orangtua, orangtua kita adalah obyek binaan kakek / nenek kita dan seterusnya dan seterusnya. Kita sekarang tanpa sadar melakukannya pada anak-anak kita ( pembalasan nih ye ! ), betul ? Menjadi objek sama seperti sebuah boneka yang selalu mendapatkan curahan kasih sayang dari pemiliknya. Boneka itu selalu dibawa kemana-mana, dimandiin, diberi baju, diajak main. Tapi apakah itu kebutuhan dari si boneka ? Apakah boneka merasa bahagia ? Jika si pemilik proaktif dan si boneka dapat bicara maka si pemilik perlu memperlakukan si boneka sebagai subjek dengan memperhatikan atau menanyakan hal-hal yang dapat membuat boneka itu bahagia. Jadi mana yang lebih penting, mencintai /memperhatikan anak atau anak merasa dicintai dan diperhatikan oleh kita ? Tentunya dicintai dan diperhatikan oleh kita. Mari kita telusuri kembali pemahaman dan tujuan kita membangun keluarga, untuk mencapai kebahagian bukan ?. Kebahagiaan bisa tercipta ketika ada cinta dan perhatian. Berikut ini adalah tips instan untuk mengetahui apakah anda sudah mencintai dan menyayangi anak anda. Tanyakanlah kepada buah hati anda pertanyaan berikut ini, pertama,”Apakah ia sudah merasa dicintai dan disayangi oleh Anda”. Kedua, “Kapan saat kamu merasa sangat disayang dan dicintai oleh mama dan papa”. Atau “Apa yang perlu kami lakukan agar kamu merasa dicintai dan disayangi oleh mama dan papa ?”. Cara lain yang dapat membantu Anda untuk membuat anak merasa disayang dan dicintai adalah BELAJAR mengenai pengasuhan !. Anda dapat belajar pengasuhan melalui program-program yang telah dirancang dengan cermat oleh Tim Sekolah Orangtua untuk membantu orangtua menjalin kedekatan emosi dengan anak-anak mereka. Salah satu program yang dapat diikuti adalah Super Family Class dan Super Parenting. Namun jika anda memiliki keterbatasan waktu maka Sekolah Orangtua juga menyediakan sarana pembelajaran yang dapat bapak dan ibu pelajari dari rumah. Khusus untuk membantu menjalin kedekatan emosi dengan anak, terdapat CD audio Tangki Cinta atau teknik berkomunikasi dengan anak. Silahkan memilih program ataupun produk sekolah orangtua yang paling cocok dengan gaya anda. Salam hangat, Hemmarata, C Ht ( Family Hypnotherapist & Certified Trainer Sekolah Orangtua )