Kategori: Tanya Jawab

Jawaban dari Pertanyaan yang diemail / difax oleh anggota Hypnoparenting Club.

  • Seminar Semarang: Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi

    Seminar Semarang:
    Rahasia Orangtua Efektif Memotivasi Anak Meraih Prestasi

    thumb super parenting smg 26 sept 10

    Klik Gambar Untuk Memperbesar

    Orangtua, pernahkah Anda mengalami hal berikut:

    • Anak Anda lebih suka main video game daripada belajar?
    • Anda sering kali harus memaksa dan mengingatkan anak untuk belajar?
    • Anak Anda hanya bisa berkonsentrasi sebentar dalam belajar?
    • Anak Anda susah sekali dinasehati dan diatur?

    Sekarang Anda akan segera mengetahui rahasia menangani semua permasalahan ini!

    Hari / Tgl : Minggu, 26 September 2010
    Waktu : 13.00 – 16.00 WIB
    Tempat : International Brand Academy (IBA) Concert Hall (Seberang Rinjani View). Jl. Rinjani 18 Semarang

    Pembicara : Daniel Go, SE., MBus., CHt.
    (Seorang praktisi di bidang terapi, teknologi pikiran dan parenting yang berpengalaman menangani berbagai kasus klien anak dan dewasa).
    Penulis buku “Embryo of Success – Reveal A Success Blueprint from Your Childhood” terbitan Gramedia

    Investasi:
    Early Bird s/d 22 September 2010 Rp 150.000

    Pendaftaran dan Info hubungi:
    Ibu Lina : 024 7027 6790
    Ibu Pauline : 081 5652 3766
    Reni : 0813 2669 9711

  • Apa yang Salah dengan Diri Saya?

    daydream.jpgYth. Pak Aries

    Anak saya 6.5 thn, kelas 1. Setiap hari di sekolah tugas yang diberikan gurunya hampir tidak pernah selesai. Setiap pulang sekolah harus saya temani di kelas untuk menyelesaikan catatannya.
    Sebenarnya kalau menulis dia cukup cepat, hanya untuk mau mengerakkan tangannya untuk menulis sulit sekali. Otak-atik pensil, gosok2 buku (bukunya sering bolong disetip), goyang-goyang bangku, melamun. Pokoknya ada saja.
    Saya merasa sudah sabar selama 2 bulan. Dan akhir2 ini saya sudah sangat sulit menahan emosi saya untuk tidak marah. Apalagi sekarang hampir setiap hari ulangan. Ulangan yang tidak selesai, tentu nilainya jelek. Ini memb
    uat saya kesal, karena merasa harusnya dia bisa, tapi tidak mau menulis.
    Puncaknya kemarin, belajar pelajaran PKN untuk ulangan hari ini. Guru lesnya sudah mengajari 1.5 jam, lima agama, masing2 dengan tempat ibadah, pemuka agama, dan kitab suci. Tidak ada yang diingat. Saya lalu mengajari sendiri, sudah dengan hati kesal. Tapi, anaknya tidak bisa konsen. Saya jadi kalap, anak saya pukul.

    Saya sendiri merasa ada yang salah dengan diri saya. Ada yang salah dengan cara saya. Pagi ini sebelum berangkat, saya katakan padanya, ‘Tidak peduli nilainya berapa, yang penting sudah berusaha. Mama tetap sayang’. Yah, saya sudah pasrah saja.
    Bagaimana caranya mengubah diri saya?

    Terima kasih,
    An

  • Mengatasi Anak yang Tertutup dengan Orangtua

    girl2.jpgYth. Bapak-bapak Ariesandi dan Sukarto, Kami mendaftar sebagai anggota Parents Club pada tgl. 15 Agustus 2007. Harapan kami dapat menjadi orang tua yang baik dalam mendidik anak2. Ada masalah dengan seorang anak kami yang ingin dikonsultasikan dengan bapak2. Mohon maaf surat ini agak panjang. Anak kami yang kedua, seorang perempuan berumur 15 th baru masuk kelas I SMA Negeri di Jakarta. Anak ini sangat aktif dalam kegiatan fisik seperti olah raga dan menari. Tetapi sangat susah meluangkan waktu untuk pelajaran sekolah. Pada waktu masih sekolah di SMP, dia hanya belajar pada saat akan ujian. Prestasinya biasa2 saja. Sejak beberapa bulan lalu, dia membentuk suatu community dengan teman2 yang dikenalnya melalui internet. Mereka adalah anak2 remaja, semuanya lelaki kecuali anak saya yang perempuan. Setiap Sabtu sore mereka berkumpul di suatu mal di Jakarta Selatan untuk membicarakan rencana kegiatan. Katanya mereka bermaksud menyelenggarakan suatu event pertunjukan musik. Kami tidak mengenal teman2nya karena anak kami tidak mau kami langsung berkomunikasi dengan mereka. Acara pertemuan mereka berlangsung sampai malam sekitar jam 20.00 dan anak kami tidak mau dijemput pulang, diantar oleh temannya sampai ke rumah dengan kendaraan umum. Jarak dari mal tsb ke rumah ditempuh minimum 1 jam perjalanan. Dalam diskusi dengan anak, kami melihat ada manfaat untuk dia ikut kegiatan itu; hanya kuatir karena dia anak perempuan dan pulangnya malam. Sebelumnya, dia dibatasi hanya boleh ikut sampai jam 17.00, tetapi dia protes. Menurutnya pembicaraan mereka belum selesai dan masih banyak yang dibahas. Pada waktu mulai masuk sekolah pertengahan Juli lalu, anak kami menyatakan berhenti dari community nya. Kami sangat senang mendengar hal itu. Ternyata kemudian dia tidak jadi berhenti karena, katanya, semua teman2nya sangat mengharapkan dia ikut terus. Nampaknya dia bangga dengan peranannya dalam community itu dan tidak mau berhenti. Beberapa hari terakhir ini hubungan kami sebagai orang tua dengan dia semakin kurang baik. Pada hari Sabtu tgl. 18 Agustus lalu, sekitar jam 14.00 dia pamitan menuju ke mal dengan naik angkutan umum. Dia membawa dua orang teman perempuan dari sekolahnya dan berjanji akan pulang jam 18.00. Karena belum pulang, pada jam 20.00 kami telpon. Katanya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Pada jam 21.30 dia mengirim sms dengan HP temannya mengatakan akan bermalam di rumah salah seorang teman sekolahnya dan akan pulang ke rumah esok pagi. Kami tidak bisa menghubungi dia karena HP nya tidak aktif. Sebenarnya kami tidak setuju dia menginap di rumah temannya, hanya tidak berdaya karena tidak dapat menghubungi. Pada hari Minggu tgl. 19 Agustus pagi kami datang ke rumah temannya, ternyata dia tidak ada di sana. Kata temannya, semalam dia pulang sendiri dan anak kami ke rumah teman perempuan yang baru dikenalnya di mal. Kami sangat bingung mencari anak yang tidak bisa dihubungi. Akhirnya pada siang hari, salah seorang temannya di community berhasil dihubungi. Anak kami mengirim sms kepadanya dan minta diantar ke rumah. Setelah sampai di rumah, anak kami tidak mau memberitahu dengan jelas apa yang telah terjadi. Teguran kami (tidak keras) membuatnya marah dan kemudian memutuskan menginap di rumah teman sekolahnya. Pada hari ini, Senin tgl. 20 Agustus dia masuk sekolah langsung dari rumah temannya. Kami berharap semoga sore ini setelah selesai sekolah dia langsung pulang ke rumah. Kami harus bersikap bagaimana kepadanya? Bagaimana saran bapak-bapak atas masalah kami ini? Mungkinkah anak kami dapat disadarkan dengan hypnotherapist? Kami sangat kuatir dengan pergaulannya dan minatnya yang kurang pada pelajaran sekolah. Sekali lagi kami mohon maaf atas surat yang panjang ini. Mudah2an dapat segera mendapat petunjuk dari bapak-bapak dan atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasi. Hormat kami, Bapak JLM dan Ibu SP Anggota Parents Club Jakarta

  • Anak Saya Kurang Bisa Berkonsentrasi

    anak_belajar.jpgKepada: Bpk Ariesandi dan Sukarto
    Saya punya anak yang tingginya tidak ideal, artinya tidak sesuai dengan umurnya ( umurnya 7 thn, tingginya 100 cm) karena disekolah selalu dibilang cebol atau kecil tapi untuk hal ini saya tidak terlalu mengkhawatirkannya, karena untuk roulette saat ini saya menganggap dia sudah bisa menerimanya kalau diejek temannya. Tetapi yang saya khawatirkan saat ini karena semua guru mata pelajaran mengatakan bahwa anak saya konsentrasinya kurang sehingga banyak mata pelajaran yang kurang. Padahal mengenai IQ waktu dites anak saya termasuk diatas rata2. Teman saya menyarankan saya untuk memberi vit untuk konsentrasi, apa itu perlu? kalau tidak apa solusi terbaik agar anak saya bisa konsentrasi dengan baik mohon jawabannya. Terimakasih

  • Kenapa Anak Berprestasi Berubah Jadi Biasa-Biasa Saja?

    momwithson.jpgPak Ariesandi Yth.,
    Saya, seorang ibu berumur 47 tahun mempunyai 2 orang putra (20 tahun & 16 tahun). Pada tahun 2001 karena “tugas” Bapak pindah ke Batam, tinggal kami bertigadi Jakarta. Pada tahun 2006 giliran sang kakak “kuliah” di Bandung, sekarang tinggal kami berdua. Kakak pulang ke Jakarta 1 minggu 1 x, Bapak 1 bulan 1 x.

    Mhn bantuan atas permasalahan yg saya hadapi.

    Si bungsu, Andrew, kelas 1 SMA, pd waktu S.D. kelas 2 – 5 tidak pernah bermasalah dlm pelajaran dan sangat mandiri (belajar sendiri sejak SD kelas 3). Pelajaran paling yg disukai s/d saat ini adalah Matematika. Pada waktu kelas 1 SMP pernah ikut olympiade matematika, tapi hanya sampai dibabak penyisihan. Sewaktu SMP menjadi anak yang pendiam (sebelumnya “ceria”). Pelajaran di sekolah “biasa-biasa” saja. Saya sempat kaget beberapa waktu lalu, Andrew pernah nyeletuk, kalau diingat-ingat aku sempet kesel dengan temen-teman waktu kelas 6 (di St. Ursula). Rupanya peristiwa dijauhi sekelompok
    temen-teman perempuan (karena keringatnya bau selesai olahraga) membekas dihatinya.

    Yang menjadi pertanyaan saya, apakah ini mempengaruhi “jiwa” Andrew, sekarang menjadi minder&tidak percaya diri atau ada faktor lain?

    Satu hal lagi yg membuat saya kewalahan, Andrew type anak penurut, apapun yang disuruh tidak pernah dibantah, tapi tidak pernah dilakukan. Contoh: pd waktu belajar, pegang buku, tapi tidak tahu pikirannya melayang kemana. Tambahan informasi, sejak tinggal berdua, saya overprotected terhadap Andrew.

    Sejak ikut seminar di Bellagio, sebagaimana saran Bapak, saya sekarang sedang berusaha melepaskan Andrew agar melakukan pekerjaan rumah sendiri agar lebih bertanggung jawab. Saya juga melakukan hypnosleep tapi tidak pernah berhasil karena Andrew sangat peka, digoyang sedikit saja langsung bangun. Apa yg harus saya lakukan?

    Demikian, terima kasih atas jawaban Bapak

    Pertanyaan dari : L.L
    Anggota Parents Club Jakarta

  • Bagaimana Mengatasi Anak yang Suka Gigit Kukunya?

    bite_fingernail.jpgSaya mempunyai problem dengan kebiasaan buruk anak saya, perempuan, saat ini berusia 6 th. Anak saya mempunyai kebiasaan menggigit kuku tangan dan kaki, juga sering mengelupas kulit di jari2nya. Kebiasaan ini baru muncul pada usia 4,5 th. Kami sudah berusaha dengan berbagai cara untuk mencegahnya, dengan berbicara secara baik dengan nada bicara rendah disertai reward hingga nada keras dengan berbagai hukuman (bukan fisik) seperti tdk memperbolehkan menonton TV. Tapi cara2 tersebut hanya bertahan sementara dan akan kembali dilakukannya. Mohon sarannya ya. Apakah perlu kami membawanya ke psikiater?? Terima kasih atas segala perhatiannya. Salam, Aling

  • Cara Menghadapi Anak Yang Bersifat Kolerik

    crying kids.jpgSelamat pagi Bp. Aries & Bp.Sukarto Mau nanya lagi nih, bagaimana menghadapi anak yang bersifat kolerik dengan senjata utama menangis atau memukul oleh orangtua yang plegmatis (menghindari konflik). Banyak terima kasih untuk jawabannya yang segera dan yahud. Salam hangat Dari.Ag.Surabaya

  • Anak Saya Sulit Konsentrasi?

    play videogame.jpgSelamat pagi P Aries & P Sukarto Saya mau nanya lagi: Anak saya kalau disuruh mewarnai di sekolah, yang pertama dilakukan adalah melihat hasil karya teman temannya sehingga sering kehabisan waktu untuk mewarnai gambarnya sendiri. Apakah anak saya kurang konsentrasi? Apa yang harus saya lakukan? Pertanyaan kedua: Anak dari adik calon ipar yang umurnya hampir sama dengan anak saya les Kumon. Saat ini anak tersebut dapat menulis dari 1 – 100 juga dapat menulis namanya sendiri. Padahal anak saya baru tahap pengenalan huruf 1 – 9 (untuk menulis baru sampai 3) dan pengenalan abjad (20 huruf untuk huruf besar dan 16 huruf untuk huruf kecil). Apakah hal ini wajar saja? Terima kasih untuk jawabannya yang segera. Ag.dari Surabaya

  • Bagaimana Agar Anak Mau Minum Obat

    drink medicine.jpgSelamat pagi Bapak berdua,

    Saya mau tanya nih, kalau anak tidak mau minum obat bagaimana?
    Saya pernah mempraktekkan apa yang dicontohkan Bapak Tung Desem yaitu dengan menggunakan boneka anaknya. Cara mobile casino tersebut berhasil di awalnya, namun berikutnya oleh anak saya yang disuruh giliran minum obat hanya bonekanya saja sedang dia sendiri tidak minum. Saran Bapak bagaimana?

    Salam hangat

    Ag.dari Surabaya

  • Anak-anak yang Manis di Hadapan Orangtuanya

    question01.jpgPak Aries, Banyak contoh anak-anak yang sangat manis dihadapan orangtua-nya, akan tetapi diluar berperilaku berbeda. Karena pada dasarnya setiap manusia secara pribadi mempunyai rasa, karya dan karsa, yang tentunya bisa tidak terpengaruh oleh orang lain. Terus, peran orang tua yang bagaimana, yang sebaiknya dilakukan sehingga bisa sinergi dengan perkembangan anak tersebut. dari Yt