Kategori: Parenting

  • Setiap Anak Memiliki Talentanya

    Setiap Anak Memiliki Talentanya

    “Kamu ini malu-maluin…. Nilaimu selalu buruk. Dasar tidak berguna!”, salah seorang Ibu mengumpat saking kesalnya kepada anaknya, yang nilai akademisnya kurang sesuai dengan yang ia harapkan. Ia sudah berusaha sekuat tenaga agar anaknya bisa menyamai teman-temannya, hingga ia lupa bahwa anaknya memiliki talenta lain yang sangat potensial untuk dikembangkan, yaitu menari.

    Para Orangtua, terkadang mata kita menjadi buta ketika orientasi keberhasilan yang kita tetapkan untuk anak-anak kita hanyalah keberhasilan akademis.

    “Ya setidaknya sama lah dengan yang lain”, salah seorang Bapak memberikan alasan. Coba simak sebuah pengalaman berikut.

    Seorang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro di sebuah Perguruan Tinggi merasa kewalahan dengan mata kuliah yang digelutinya. Ia merasa telah salah memilih jurusan. Ayahnya mengetahui kegundahan anaknya. Ia tahu bahwa anak memiliki ketertarikan bermain keyboard. Ia pernah memperhatikan anaknya ketika anaknya masih di Sekolah Dasar, betapa anaknya terpesona oleh permainan keyboard salah seorang anak yang kebetulan tampil dalam sebuah acara yang dihadiri olehnya dan keluarganya.

    Namun, anaknya tidak pernah mengungkapkan keinginan itu padanya. Dan akhirnya ia pun melupakannya. “Jon, apakah kamu ingin les piano atau sejenisnya?”, Tanya Bapak tersebut kepada anaknya yang sudah menjadi mahasiswa. Sang anak sangat terkejut. Ia telah memendam keinginan tersebut sangat lama, sejak masih duduk di bangku SD.

    “Bapak mau membelikanmu piano atau keyboard, asal kamu bisa menyelesaikan kuliahmu dengan baik”, lanjut Sang Bapak. Dengan penuh gembira, mahasiswa tersebut menyanggupi syarat yang diajukan oleh Sang Bapak. Demikianlah, setelah ia dibelikan sebuah keyboard, mengikuti kursus, dan bisa memainkan keyboardnya, secara signifikan nilai-nilai semua mata kuliah pun membaik. Dan, ia pun bisa lulus dengan nilai yang baik pula. Bahkan, ia bisa mencari uang untuk membantu membiayai kuliahnya, dengan keyboardnya.

    Galilah talenta anak-anak Anda. Boleh jadi, ketika talenta tersebut berkembang, saat itu pula potensi lainnya ikut berkembang. Karena, kegembiraan adalah sumber energi bagi seorang anak untuk mengembangkan segala potensi yang ada padanya.

    Video berikut ini menggambarkan betapa seorang anak yang pada awalnya dianggap pecundang, pada akhirnya justru menjadi motivator bagi temannya untuk melakukan hal sebagaimana dirinya. Selamat menyimak

  • Mengajarkan Anak Meminta Maaf

    Banyak orang mengatakan bahwa “meminta maaf” itu mudah. Namun, bagi sebagian orang, yang belum bersedia belajar untuk melakukannya, memang dirasa sangat sulzt. Sebagai orangtua, mengajarkan anak meminta maaf memang sebuah kewajiban. Mengapa? Karena, melalui sikap meminta maaf, anak belajar untuk merendahkan hati, belajar mengoreksi diri, dan belajar untuk tidak menang sendiri.

    Permintaan maaf bukanlah berbicara tentang “aku yang salah” dan “mereka yang benar”, melainkan belajar tentang nilai kehidupan. Nilai sebuah relasi. Maka, dengan meminta maaf kita sudah memenangkan sebuah nilai relasi
    melebihi ego kita. Kita menang atas diri kita sendiri. Itulah yang perlu ditanamkan kepada anak-anak kita.

    Sesulit apakah mengajarkan nilai kerendahhatian melalui perbuatan minta maaf? Video yang ada di bawah ini menggambarkan betapa sulitnya seorang Ayah mengajarkan anaknya meminta maaf. Ia bahkan mengatakan, “Ayo ucapkan I am sorry…. Buka mulut kamu, ucapkan sorry….
    Apa sih susahnya membuka mulut dan mengucapkan sorry?”.
    Ayah itu gigih sekali dan terus mengulang permintaannya kepada salah satu anaknya yang telah melakukan perbuatan yang kurang menyenangkan terhadap saudaranya.

    Di saat sang anak sudah menyadari pentingnya meminta maaf, kemudian ia meminta maaf kepada saudaranya, di saat yang sama ada seorang perempuan yang menabraknya. Ini adalah tantangan baru bagi Ayahnya untuk konsekuen mengajarkan pentingnya “meminta maaf”. Ayah itu meminta kepada perempuan asing tersebut untuk meminta maaf.

    Sayang, perempuan itu tidak menanggapinya dengan baik. Demi tegaknya prinsip dalam pembelajaran yang ia berikan kepada anak-anaknya, Ayah ini lalu melapor kepada Manager Toko. Namun, Manager Toko juga tidak berhasil membuat perempuan itu meminta maaf kepada gadis kecilnya.

    Akhirnya……. Peristiwa mengharukan terjadi. Petugas keamanan, atas perintah Sang Manager Toko, menangkap perempuan asing tersebut dengan tuduhan telah bersikap tidak sopan. Ketika perempuan tersebut meronta karena diborgol oleh petugas keamanan, gadis kecil itu mendekat. Gadis kecil itu mengatakan persis sama yang dikatakan Ayahnya kepadanya. “Nyonya…. Aku hanya ingin Nonya mengatakan sorry…. Tinggal membuka mulut dan mengatakan sorry….”. Dan…. Perempuan itu mengatakan maaf sambil menangis dalam pelukan gadis kecil itu.

    Kata “maaf” memang mudah diucapkan, namun, ternyata juga butuh keberanian untuk mengucapkannya. Keberanian untuk merendahkan hati dan melepaskan semua atribut yang melekat dalam diri kita, sangat dibutuhkan untuk mengucapkan kata sederhana…….”maaf…”.
    Simak tayangan video ini.

  • Pilih Mana? Cinta Diam-Diam atau Cinta Ekspresif?

    Pembelajaran Komunikasi Efektif dengan Anak (Bunda Ve) Setiap orangtua memiliki caranya masing-masing untuk mengungkapkan kasih sayangnya pada anak. Ada orangtua yang mengirimkan cintanya secara diam-diam kepada anak. Ada pula orangtua yang lebih suka memperlihatkan kasih sayangnya secara terang-terangan. Menurut Anda, lebih efektif yang manakah dari kedua cara tersebut? Orangtua yang memilih cara diam-diam berpendapat bahwa dengan cara itu mereka bermaksud untuk mendidik anak-anaknya agar mandiri, tidak cengeng, dan tegar. Sementara orangtua yang lebih suka secara terbuka mengungkapkan kasih sayangnya, mereka berpendapat bahwa anak-anak belum mampu membaca yang tersirat, mereka lebih mudah memahami yang tersurat atau yang terlihat dan yang dirasakan. Ketika anak merasakan bahwa orangtuanya sungguh mencintainya, diharapkan anak tumbuh dengan rasa percaya diri, hubungan dengan orangtua pun bisa lebih hangat. Dua-duanya memiliki alasan yang boleh jadi sama baiknya. Namun, sangat riskan untuk pilihan yang pertama, karena, kita tidak tahu sampai kapan kita bisa terus bersama mereka. Bugaimana jika setelah kita tiada, anak baru memahami maksud kita? Apakah itu tidak meninggalkan penyesalan yang sangat dalam pada anak? Dan apakah kita tidak ingin merasakan kegembiraan anak ketika mereka menapaki jenjang perkembangan hidupnya? Video berikut ini menggambarkan betapa seorang Ayah begitu mencintai anaknya, dengan cara diam-diam. Beruntung si anak masih memiliki waktu untuk memahami semua maksud baik Ayahnya. Bagaimana jika tidak? Apakah Anda mau mengambil resiko memilih cara ini? Silakan simak video berikut ini. Salam Hebat Untuk Anda

  • Tips dan cara menjadi sosok Orangtua yang Baik, Bijaksana dan Teladan

    1. Tahu kapan waktunya untuk serius dan bercanda

    Sosok orangtua yang bijak tentu harus tahu kapan waktunya untuk serius dan bercanda. Untuk mengkombinasikan keduanya juga bukan hal yang mudah. Saat menyangkut hal yang bersifat prinsipil dan penting dalam kehidupan sang anak, peranan orang tua sangatlah dibutuhkan untuk menjadi penasehat yang baik dengan pemikiran yang matang, bukan sebagai penentu sebuah keputusan. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Economic and Social Research Councils tahun 2011, sosok orang tua yang gemar bercanda dengan anaknya justru bisa memicu pola pikir anak untuk menjadi lebih kreatif dan kritis.

    2. Berpikir positif

    Orangtua dituntut untuk selalu berpikir positif dan menyikapi segala hal yang menyangkut kehidupan sang anak dengan bijak. Tuntun dan berikanlah anak ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan yang baik dan benar, terutama dalam hal pendidikan dan kehidupan sosialnya. Orangtua yang baik tentu tak akan berlaku kasar dan egosentris kepada anaknya karena sadar jika perilaku demikian justru akan berakibat buruk bagi psikologis sang anak. Perilaku dan segala tindak tanduk orangtua akan terekam selamanya dalam memori sang anak dan sangat berpengaruh terhadap pembentukan mental sang anak. Sebagaimana tercermin dalam sebuah peribahasa, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.

    3. Cerminkan kasih sayang yang tulus

    Kasih sayang yang tulus adalah “modal” utama bagi sang anak untuk menjadi kuat, tabah dan tak merasa sendiri dalam menjalani hidup. Sikap yang mencerminkan kasih sayang dari orang tua akan membentuk emosi yang positif akan membantu anak untuk tetap ulet menghadapi semua tantangan dalam hidup dan di masa-masa sulit mereka.

    4. Relakan mereka untuk persils

    Saat sang anak beranjak dewasa, sosok orang tua tetap tak akan terkurangi bagi anaknya. Meskipun demikian, biarkanlah sang anak mengambil keputusan bagi hidup mereka sendiri. Berikanlah anak ruang bagi sang anak berpikir untuk dirinya sendiri. Misalnya saat sang anak diterima disebuah perguruan tinggi di luar kota.

    Adalah hal yang wajar setiap orang tua tentu akan merasakan kecemasan saat harus melepas anaknya, padahal justru hal ini belum tentu hal yang buruk karena sang anak akan mendapatkan pengalaman baru yang kelak akan berguna bagi sang anak berkeluarga dan dituntut untuk mandiri. Tetap menjadi bijak dalam menyikapi hal ini dan menyadari bahwa tak selamanya orang tua dapat mengawasi anaknya 24 jam sehari.

    Seorang pujangga pernah menulis sepenggal nasehat bijak bagi orangtua sebagai berikut,
    Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.
    Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.
    Berikanlah kasih sayangmu, tapi jangan paksakan kehendakmu.
    Karena mereka punya alam pikiran sendiri.
    Sepatutnya kau berikan tempat bagi raganya, tetapi tidak untuk jiwanya.

    5. Posisi ibu yang mampu memberikan kehangatan dalam keluarga

    Posisi ibu merupakan posisi yang paling krusial dalam rumah tangga dan pembangunan mental serta psikologi sang anak. Hal ini sangat logis mengingat ibu merupakan sosok yang paling sering bersama dan merawat anak dirumah. Ibu yang baik mampu berkomunikasi dengan anak dengan penuh kasih sayang, harmonis dan menjadi “jembatan” penghubung yang baik antara sang anak dan sang ayah. Merasa disayangi, dimengerti, dijaga dan dikasihi merupakan faktor penting bagi sang anak untuk berkembang menjadi anak yang baik dan berbakti kepada orangtua.

    6. Menahan emosi dan tahu bagaimana melontarkan argumentasi

    Sebuah keluarga tentu tak selamanya harmonis. Saat timbul sebuah konflik, orang tua dituntut untuk dapat menjaga emosi dan tahu bagaimana caranya melontarkan argumentasi. Meskipun marah, namun tetaplah dalam porsi orang tua yang mana harus bijaksana dalam mengungkapkan argumentasi kepada sang anak. Hindari argumen yang bersifat negatif dan mengintimidasi jiwa dan mental sang anak.

    7. Tak ada yang sempurna

    Janganlah menuntut akan kesempurnaan karena hakikatnya tak ada yang sempurna di dunia ini. Hal ini berlaku untuk semua hal termasuk diri Anda ataupun sang anak. Janganlah menyiksa diri sendiri dengan target, pencapaian dan ekspektasi yang terlalu besar. “Tak ada gading yang tak retak”, tetap sadari akan hal tersebut dan memaklumi jika setiap orang memiliki kelemahan, begitu juga dengan diri Anda.

    8. Kenali pribadi anak

    Mungkin banyak dari orang tua yang seakan-akan tahu benar bagaimana cara mencukupi semua kebutuhan sang anak dan membesarkannya. Namun pada kenyataannya tak semua orang tua dapat dengan mudah mengenali kepribadian sang anak. Setiap orang tentu memiliki kepribadian yang berbeda-beda, oleh karenanya pahami dan selamilah karakter masing-masing anak sehingga Anda tahu kapan dan bagaimana caranya melakukan pendekatan dan bersikap kepada anak.

    9. Meminta maaf

    Menua kemudian kelak menjadi orangtua adalah hal yang hampir pasti dijalani oleh setiap orang, begitu pun halnya dengan anak-anak Anda. Belajarlah dari pengalaman saat Anda pernah menjadi seorang anak di masa lalu dimana mungkin Anda juga pernah melakukan apa yang dilakukan saat ini oleh anak Anda. Berbuat salah adalah hal yang manusiawi, wajar dan bisa saja terjadi kepada siapapun orangnya tanpa memandang usia. Jika Anda merasa memiliki salah terhadap anak, meminta maaflah. Meminta maaf bukanlah hal yang memalukan yang dapat mencederai harga diri yang dimiliki oleh orangtua, namun meminta maaf yang tulus justru akan membuat Anda menjadi orangtua yang sempurna dimata sang anak.

    Demikianlah artikel sederhana mengenai beberapa tips dan cara menjadi sosok orangtua yang baik, teladan dan bijaksana bagi anaknya. Silakan diterapkan dan semoga tulisan sederhana ini bisa memberikan manfaat, khususnya bagi Anda dan keluarga.

    Penulis: Tri Haryadi
    Sumber : http://www.berjibaku.com/2014/03/tips-dan-cara-menjadi-sosok-orang-tua.html

    Salam Hebat untuk Anda

  • Anak yang Suka Memberontak Berawal dari Cara Asuh yang Salah

    Ketika seorang anak mulai beranjak remaja, muncul kekhawatiran pada benak sebagian besar para orang tua. Kekhawatiran akan masa depan anak-anaknya menyebabkan orang tua berusaha mendidik anak-anak mereka semenjak usia dini dengan sebaik mungkin, namun terkadang orang tua tidak menyadari atau bahkan melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putri mereka.

    Kesalahan-kesalahan dalam mendidik yang tidak disadari oleh orang tua inilah yang menyebabkan anak-anak tidak menghargai bahkan memberontak terhadap orang tua mereka.?Anak adalah aset berharga Anda di masa depan. Anak-anak akan meneruskan garis keturunan keluarga Anda, jika orang tua salah dalam mendidik anak-anaknya bukannya membahagiakan keluarga yang diperoleh malah bisa mendatangkan aib bagi keluarga.
    Membuat anak untuk patuh atau jera bukan dibentuk dengan cara kekerasan atau dengan hukuman untuk menakut-nakuti. Kepatuhan seorang anak haruslah berasal dari kesadaran dalam diri anak tersebut dan menjadi tugas orang tua untuk membantu anak-anak memahami nilai-nilai kepatuhan tersebut.?

    Ada banyak cara dan saran yang bisa Anda peroleh, namun tentu saja tidak seluruhnya sesuai untuk diterapkan dalam keluarga Anda, pandai-pandailah memilah dan kenali dengan baik situasi keluarga Anda, bijaksanalah.?
    Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda pertimbangkan untuk membantu dalam mengasuh putra-putri Anda :

    1. Seorang anak bukanlah diri Anda?
    Anak-anak yang Anda lahirkan ke dalam dunia ini terlahir sebagai individu, oleh karena itu pahamilah bahwa memaksakan kehendak Anda kepada anak Anda tidak akan pernah mendatangkan kebaikan. Pahamilah karakter anak Anda dan carilah tahu ketertarikannya akan sesuatu, kemudian bimbinglah mereka untuk meraihnya.

    2.Jadilah teladan?
    Seorang anak ibarat spon yang sangat mudah menyerap air. Hal-hal yang baik dan buruk dalam masa pertumbuhan mereka akan mereka serap dan hal itu membentuk karakter dan perilaku mereka nantinya. Bersikaplah lembut, jadilah sabar terutama kepada pasangan Anda, jadilah penuh cinta kasih dan panjang sabar, ramahlah terhadap semua orang, murah hati dan rendah hatilah. Ketika anak-anak Anda melihat teladan Anda yang baik mereka akan
    tergoda untuk melakukan hal yang serupa.

    3. Konsisten?
    Menjadi orang tua harus tegas dan konsisten. Dalam hal membuat peraturan di dalam rumah tangga peran orang tua sangat dominan, namun bukan berarti saran dan masukan dari anak-anak dikesampingkan, libatkan anak-anak Anda dalam membuat peraturan dan ketika sebuah peraturan di dalam rumah tangga telah disepakati bersama, maka mintalah mereka semua untuk konsisten melaksanakannya, terutama Anda sebagai orang tua.
    Jika Anda seorang perokok dan melarang anak-anak Anda untuk merokok, sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk segera berhenti merokok. Seorang anak melihat Anda sebagai sosok yang perlu dihormati, ditiru dan diteladani. jika Anda tidak bisa memberikan teladan yang konsisten, maka Anda patut untuk khawatir anak Anda akan memiliki alasan yang kuat untuk tidak mematuhi Anda.

    4. Beri teguran dengan halus?
    Kehidupan ini adalah masa di mana kita semua sedang belajar. Anak-anak Anda masih baru di dunia ini dan belum berpengalaman dan seringkali melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Ketika anak-anak Anda melakukan kesalahan, tugas orang tualah untuk menegur dan mengingatkan mereka, teguran-teguran Anda sebaiknya tidak diucapkan dengan kemarahan, lakukanlah dengan kelemahlembutan dan tutur kata yang baik. Sumpah serapah dan makian hanya akan membuat perasaan anak-anak Anda terluka, itu hanya akan membangkitkan amarah dan dendam dalam diri anak-anak Anda.

    5. Beri pujian?
    Manusia mana yang tidak suka bila dipuji, oleh karena itu pujilah anak-anak Anda dengan wajar ketika mereka berhasil melakukan sesuatu, dengan memberikan pujian tidak hanya akan membangkitkan rasa percaya diri anak-anak Anda tapi juga akan membuat anak-anak Anda menghargai orang-orang di sekitarnya.

    6. Jangan malu untuk meminta maaf?
    Ada kalanya orang tua juga melakukan kesalahan, ketika Anda melakukan kesalahan dan diketahui oleh anak-anak Anda jangan malu untuk meminta maaf kepada mereka. Dengan cara ini Anda menunjukkan kepada mereka arti sebuah kebesaran hati, anak-anak Anda akan semakin menghormati Anda.

    7. Ciptakan hubungan yang dekat dengan anak-anak Anda?
    Seharusnya antara orang tua dan anak tidak ada jurang pemisah, kedekatan antara orang tua dan anak sebaiknya menjadi prioritas utama. Jika hubungan antara orang tua dan anak terjalin harmonis maka komunikasi dua arah akan terjalin dengan baik.?Pada dasarnya tidak ada manusia yang diciptakan dengan karakteristik yang sama, oleh karena itu pola pendidikan terhadap satu orang dengan orang yang lain dapat berbeda-beda. Kenalilah anak-anak Anda dengan baik janganlah memaksakan kehendak Anda kepada anak-anak Anda.
    Jika Anda para orang tua pernah mengalami perlakuan yang tidak baik dari orang tua Anda sebelumnya, jangan lampiaskan pengalaman Anda kepada anak-anak Anda, cukuplah Anda yang mengalaminya dan pastikan anak-anak Anda mendapatkan perlakuan yang baik dari Anda.?Anak-anak akan selalu mengingat hal-hal yang pernah Anda ajarkan apakah itu baik atau buruk seumur hidup mereka.

    Jika Anda menginginkan anak-anak Anda untuk patuh dan menghormati Anda didiklah mereka dengan teladan, karena teladan lebih ampuh daripada ratusan peraturan yang tidak dijalankan secara konsisten.

    Sumber : http://keluarga.com/pengasuhan/anak-yang-suka-memberontak-berawal-dari-cara-asuh-yang-salah

    Salam Hebat untuk Anda

  • “Cara Menjadi Orangtua yang Sukses Mendidik Anak”

    Sifat dan perilaku seseorang telah terbentuk sejak anak-anak. Orangtua yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, akan menghasilkan individu yang baik ketika dewasa.?? Sebagai orang tua, Anda memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masa depan anak Anda. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui langkah-langkah yang tepat dalam mendidik anak.?? Berikut 7 konsep praktis untuk menjadi orangtua yang sukses mendidik anak : 1. Jadilah konsisten??Anak selalu ingin tahu hal-hal baru yang masih asing baginya dan akan menanyakan banyak hal kepada Anda. Sebagai orang tua, Anda harus konsisten terhadap jawaban Anda. Jangan sekali-kali menjadi orang tua yang plin-plan ketika menjawab pertanyaan anak yang dilontarkan berulang kali.?? 2. Tetapkan batas??Batasan disini dapat berupa peraturan maupun proteksi fisik terhadap anak. Menurut Jim Cunningham, seorang penulis, penelitian pengaruh pagar pembatas taman bermain di sekolah terhadap anak.??Ketika pagar dihilangkan, anak-anak cenderung cemas dan meras tidak aman dalam bermain. Ketika keesokan harinya pagar tersebut kembali di pasang, anak merasa aman kembali dan bermain dengan bebas di taman.??Sama seperti proteksi fisik tersebut, dalam hati anak juga merasa tidak ingin hidup di dunia tanpa batas. Anak-anak ingin orang tuanya menetapkan batasan untuk melindungi, memelihara dan membimbing dirinya hingga menjadi dewasa.?? 3. Jangan memaksa anak menjadi seperti diri Anda??Seringkali orang tua menganggap bahwa anak-anaknya merupakan versi kecil dari dirinya. Orang tua cenderung memperlakukan anaknya sesuai dengan apa yang diinginkannya ketika masih kanak-kanak.??Padahal anak Anda tentu berbeda dengan Anda ketika muda karena perbedaan generasi dan lingkungan juga yang mempengaruhi sifat anak. Harapan orang tua tersebut biasanya hanya mengarah pada kekecewaan karena tidak sesuai dengan bayangan Anda.?? 4. Mendorong perilaku positif pada anak??Orang tua nbso online casino reviews hendaknya mencari tau hal-hal baik dan yang tidak pada anak. Kemudian Anda perlu mendorong perilaku positifnya dengan cara memberikan pujian dan sebagainya.?? 5. Memberikan sedikit hukuman terhadap kesalahan anak??Jika anak melakukan kesalahan sekali atau dua kali, Anda hanya perlu menasehatinya saja dan memberitahu hal yang benar. Tetapi jika kesalahan anak tersebut terus diulangi, Anda dapat memberikan sedikit hukuman yang sifatnya positif seperti mengurangi jam bermainnya di luar.??Hal ini akan membuat anak Anda berpikir ulang untuk melakukan kesalahan yang sama.?? 6. Jangan timbulkan kesenjangan antara kedua orang tua??Jika ibu mengatakan tidak dan ayah mengatakan iya, anak akan cenderung mendekat ke ayah karena mendapatkan apa yang diinginkannya. Orang tua harus sepaham dalam mengajar dan mendidik anak.??Tujuannya adalah agar tercipta kestabilan dalam keluarga. Ini mungkin sulit jika anak dihadapkan dalam situasi perceraian, tetapi demi anak-anak kedua orang tua harus mengesampingkan perbedaan dan sepaham.?? 7. Jaga perilaku Anda??Anak-anak cenderung megikuti perilaku orang tuanya. Jika Anda berbohong, menipu, mengumpat, mencuri, atau bahkan membuat pilihan gaya hidup yang tidak sehat, anak cenderung berpikir bahwa tidak apa-apa jika melakukan hal yang sama dengan orang tuanya. Sumber : (detikhealth) Salam Hebat untuk Anda

  • Hyper-parenting

    Hyper-parenting atau dikenal juga dengan intensive parenting atau hyper-vigilance mengacu pada pola asuh anak dimana orangtua memiliki derajat kontrol tinggi terhadap anak. Intinya, orangtua berusaha keras untuk mencermati apapun yang dilakukan oleh anak dan segala hal yang diberikan kepada anak, dalam usaha untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang mungkin bisa terjadi sekarang atau yang akan datang. Alasan utama orangtua melakukan hal tersebut tentunya didasari oleh rasa sayang terhadap anak dan keinginan agar sang anak atau balita, tumbuh menjadi generasi yang lebih baik, terutama dibandingkan dengan keadaan dirinya dahulu. Hanya saja, orangtua macam ini memiliki tingkat kecemasan yang terlalu tinggi, sehingga cenderung mengejar hal tersebut dengan alasan emosional. Selain itu, hyper-parenting terjadi karena orangtua merasa tidak puas dengan pola asuh yang mereka dapatkan semasa kecil. Bisa jadi mereka tidak puas dengan karir atau kehidupan mereka secara keseluruhan. Akibatnya, semua obsesi ditambah ketidakberuntungan itu dibebankan kepada anak. Orangtua berharap anak-anak bisa mendapatkan apa yang mereka tidak dapatkan. Padahal belum tentu hal ini sesuai dengan kebutuhan, keinginan, minat bahkan bakat anak. Apakah Anda termasuk kedalam orangtua jenis ini? – Batas toleransi Pada dasarnya, orangtua memang harus memberi stimulasi untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Namun Anda perlu memerhatikan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh anak. Bukan hanya apa yang penting atau baik untuk anak menurut pandangan kita. Selain itu, Anda juga harus paham bahwa semua yang dilakukan ada prosesnya. Akan membutuhkan waktu yang panjang untuk mencapai hasil yang maksimal dan seringkali yang disebut waktu panjang itu tahunan bahkan belasan tahun. Oleh karena itu, jangan terlalu memaksakan anak untuk mendapatkan target-target luar biasa dalam waktu singkat. Jika anak tumbuh menjadi individu yang terlalu luar biasa, perhatikan pula hal apa yang hilang dari dirinya. Coba lihat perkembangan emosionalnya, apakah masih dalam tahapan sesuai usianya? Jika perkembangan emosionalnya tidak sesuai, maka Anda perlu mencemaskannya. Apapun keinginan atau mimpi orangtua yang berkaitan dengan anak, sebaiknya murni berlandaskan rasa kasih sayang dan alasan ingin melihat anak balita tumbuh kembang dengan maksimal. Bukan berdasarkan kecemasan diri sendiri atau ambisi yang berlebihan, apalagi karena ego semata. Tidak apa-apa jika Anda mengikutsertakan anak kursus berenang dengan tujuan agar ia dapat menikmati liburan di pantai atau waterpark, bukan karena bertujuan agar anak lebih unggul dari anak lain. Tidak hanya itu, memberikan kesempatan pada anak atau balita untuk belajar mengambil keputusan sendiri, memberi kesempatan bagi anak untuk beristirahat yang cukup ditengah kegiatan yang Anda jadwalkan dan membiarkan anak mengekspresikan perasaannya tanpa diatur orangtua juga merupakan hal yang perlu Anda perhatikan saat Anda memiliki rencana-rencana untuk anak. Sumber : www.ayahbunda.co.id Salam Hebat untuk Anda

  • Anak Sopan Berkat Contoh Orang Tua

    Dalam menggunakan kata-kata sapaan yang sopan, balita perlu pembiasaan. Lebih penting lagi orang tua konsisten berperilaku santun karena merupakan contoh bagi anak.

    Orang tua punya tugas pengasuhan agar putra-putrinya berperilaku baik dan sopan. Tapi, apa sih arti bersikap sopan dan sikap sopan seperti apa yang perlu dikuasai balita dua tahun?

    Melihat orang dewasa. Bergaul dapat mulai diajarkan seiring berkembangnya kemampuan anak berkomunikasi. Begitu anak bisa berbicara, ia bisa belajar mengucapkan kata-kata sapaan seperti selamat siang atau sampai jumpa. Namun dalam menggunakan kata-kata tersebut, diperlukan pembiasaan. Tentu sulit bagi anak untuk menyapa orang lain, bila dalam keluarga Anda tidak ada kebiasaan tersebut.

    Hingga usia tiga tahun, anak akan melihat dan meniru apa yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya. Mereka adalah contoh bagi anak. Maka jangan harap anak Anda bisa sopan kalau Anda sendiri tak tahu bagaimana bersikap sopan pada orang lain.

    Sebagian orang dewasa berperilaku sangat paradoks. Pada satu sisi berharap anakbersikap ramah, meski ia sendiri tidak berlaku demikian. Misalnya, Anda tak perlu kesal bisa seorang anak (bukan anak Anda) tidak menyapa Anda lebih dulu. Apa salahnya bila Anda yang menyapa lebih dulu?

    Beri penjelasan. Pada usia kira-kira dua tahun, anak sudah bisa menangkap penjelasan Anda. Misalnya, mengapa harus makan menggunakan sendok dan garpu. Atau, tidak boleh mencecap lidah karena bisa mengganggu kenyamanan makan orang lain.

    Bila ia menyakiti orang lain, misalnya mengambil barang milik orang lain tanpa meminta, Anda perlu mulai menerangkan dari perspektif orang lain. Katakan, bila teman anak bilang ingin meminjam mainan, apakah anak lebih senang dibanding jika si teman langsung mengambilnya tanpa meminta?

    Anda bisa memanfaatkan acara bermain sebagai bagian anak belajar sopan santun. Misalnya, ketika bermain memberi-menerima. Ketika meminta, ajarkan anak mengucapkan “Boleh minta?” dan ketika menerima mengucapkan “Terima kasih”

    Agar anak lebih cepat dapat menangkap pelajaran sopan-santun, perlihatkanlah mimik wajah yang jelas. Seperti ketika mengatakan, “Halo! Apa kabar?”, ucapkan dengan mata membesar dan suara yang lantang. Mimik semacam ini perlu dipelajari anak untuk mengungkapkan sopan santun, bukan sebagai riasan belaka, namun muncul dari dalam dirinya.

    Sumber : www.ayahbunda.co.id

    Salam Hebat untuk Anda.

  • MENDIDIK ANAK UNTUK BERTANGGUNGJAWAB

    Rasa tanggung jawab tidak tumbuh begitu saja dalam diri seseorang. Anak-anak yang tidak dilatih bertanggungjawab sedari kecil, tentu dewasanya tidak akan menjadi pribadi yang bertanggungjawab pula. Sebaliknya, anak-anak yang diajarkan dan dilatih untuk memiliki tanggung jawab sejak kecil, di masa mendatang mereka pun akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang bertanggungjawab.

    Bagaimana caranya menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak-anak?

    1. Memberikan tugas rumah tangga. Jika Anda berpikir anak-anak tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Anda salah besar. Pekerjaan yang bagaimana dulu, harus kita pilah-pilah. Anak-anak bisa diserahkan tugas-tugas yang ringan, sesuai dengan umur dan kemampuannya. Anak balita misalnya, sudah bisa Anda ajari untuk bertanggungjawab atas kerapihan mainan-mainannya. Anak yang lebih besar bisa Anda serahi tugas membuang sampah, atau membantu Anda menyapu rumah, atau mencuci piring. Memberinya tugas rumah tangga adalah cara terbaik untuk menumbuhkan tanggung jawab. Dan ini sangat bermanfaat baginya di masa mendatang, yakni melatih keterampilan mendasar dalam tugas rumah tangga, jika kelak mereka memiliki rumah tangga sendiri.

    2. Penguatan positif. Anak-anak biasanya mencari penguatan dan pembenaran dari orangtuanya atas apa yang mereka lakukan. Saat mereka berbuat sebuah kebaikan, mereka ingin orangtuanya melihat dan menghargai “kerja kereas” mereka. Untuk itu, tidak ada salahnya orangtua memberikan pujian kepada anak atas prestasi dan usaha keras mereka dalam berbuat kebaikan. Dengan demikian, anak-anak merasa dihargai, dan berikutnya mereka akan berusaha melakukan yang terbaik lagi.

    3. Penghargaan akademis. Salah satu tanggung jawab yang paling penting bagi anak-anak adalah sekolah mereka. Pada dasarnya, sekolah adalah pekerjaan mereka. Nah, manakala mereka berhasil mencapai prestasi-prestasi, tidak ada salahnya kita memberikan penghargaan atau perayaan bagi mereka. Tidak harus selalu berwujud uang atau benda-benda. Anda bisa menuliskan sebuah surat mini berisi kebanggaan Anda terhadapnya. Anak-anak biasanya tersentuh dengan penghargaan-penghargaan sekecil apapun dari orangtua mereka.

    4. Relawan dan kerja paruh waktu. Anak-anak bisa diajarkan menjadi relawan kecil-kecilan. Misalnya, membantu Anda mengumpulkan pakaian pantas pakai untuk sumbangan, atau mengumpulkan koin untuk disumbangkan ke panti asuhan. Untuk anak-anak yang lebih besar, remaja, misalnya, Anda bisa mengijinkannya untuk bekerja paruh waktu di rumah makan, atau tempat-tempat yang memungkinkan bagi anak seusianya. Kesempatan seperti ini sangat bagus untuk memupuk rasa tanggung jawabnya.

    5. Membuka tabungan. Anda bisa membelikan anak-anak Anda celengan dengan bentuk yang lucu-lucu, dan meminta anak-anak untuk menabungkan uang mereka disana. Dengan demikian, mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dari uang yang mereka sisihkan sendiri. Hal-hal kecil seperti ini sangat membantu untuk menumbuhkan tanggung jawab, dan mengurangi ketergantungan serta kebiasaan meminta-minta.

    Sumber : www.rumahbunda.com

    Salam Hebat Untuk Anda

  • Pelukan Baik Untuk Perkembangan Anak

    Sudah berapa kali Anda memeluk anak hari ini? Pelukan merupakan obat mujarab loh …. untuk mengurangi rasa sakit dan membuat anak tumbuh percaya diri dan bahagia.
    Berikut manfaat pelukan yang anda berikan untuk anak:
    • Merangsang perkembangan sel otak
    • Mengurangi stress.
    • Merangsang rasa kantuk.
    • Membangun konsep diri yang positif.
    • Mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas dan frustasi.
    • Mengatasi rasa takut.
    • Transfer energi. (me)
    Agar pelukan Anda berdaya penyembuh, sebelum memeluk anak:
    1. Singkirkan hal-hal yang mengggangu pikiran seperti urusan pekerjaan yang belum selesai, urusan rumah yang menumpuk, gagal menjaga pola makan dan rencana-rencana yang tertunda.
    2. Bebaskan tangan dari semua benda yang selama ini paling sering ada di tangan seperti blackberry, telepon genggam, tas tangan, kunci atau majalah.
    Peluklah anak sebelum berangkat kerja, ini akan membuat orangtua fokus pada pekerjaan, bahagia, dan menjadi produktif.

    Sumber : http://www.ayahbunda.co.id/