Kategori: Parenting

  • Kesalahan Fatal Orangtua yang Membuat Anak Malas Belajar dan Kurang Bertanggung Jawab (Bagian 3) – Tips Praktis Komunikasi

    Artikel ini adalah kelanjutan dari 2 artikel sebelumnya. Saya harap Anda sudah membaca 2 artikel sebelumnya – yang mengulas tentang kasus terapi seorang anak yang dilaporkan malas, kurang bertanggung jawab dan membangkang orangtuanya – untuk mendapatkan sebuah gambaran utuh tentang apa yang saya bahas di artikel ini. Saya menyampaikan di penghujung artikel ke 2 bahwa sumber masalah dari kasus tersebut adalah komunikasi. Saya sangat percaya setiap orangtua mencintai anaknya, bermaksud memberikan yang terbaik untuk anaknya dan bersedia melakukan apapun agar anaknya kelak sukses dalam hidupnya. Namun seringkali maksud baik orangtua tersebut tidak tersampaikan karena jeleknya keterampilan komunikasi. Saat orangtua memberikan nasehat pada anak maka : – Hal tersebut sudah dianggap komunikasi – Orangtua “berpikir” anak pasti paham karena nasehat diberikan dalam bahasa Indonesia yang normal – Orangtua “berpikir” anak pasti mau melakukan karena itu baik untuk anak sehingga ketika anak tak melakukan orangtua merasa diabaikan, tak didengarkan dan akibatnya marah pada anak Orangtua tidak menyadari bahwa anak : – Memiliki pikiran yang cara kerjanya bahkan orangtua pun tak tahu bagaimana pikiran itu menyimpan informasi – Memiliki kebutuhan emosi dasar yang harus terpenuhi lebih dahulu baru kemudian bisa memproses informasi yang diterima – Memiliki sebuah kepribadian yang unik yang bisa jadi sangat berbeda dengan orangtua dan saudaranya. Sehingga apa yang baik dan bisa diterapkan pada saudaranya atau bahkan pada orangtuanya belum tentu bisa berhasil jika diterapkan pada anak yang bersangkutan – Belum memiliki wawasan dan cara pikir seperti orangtua Sebaliknya saat anak menerima nasehat atau pun kata-kata dari orangtua seringkali merasa : – tidak dipahami – tidak dianyomi – diperlakukan tidak adil – tidak dipercaya – diremehkan kemampuannya – disudutkan Dan akhirnya karena ketidaksinkronan hal di atas maka komunikasi menjadi penghalang di antara orangtua – anak. Orangtua merasa mencintai anaknya dan telah melakukan banyak untuk anak sementara anaknya dianggap kurang menghargai orangtua. Sedangkan di pihak lain, si anak merasa tidak dicintai, tidak dipahami dan tidak punya otoritas untuk memutuskan apa yang ia sukai. Jadiiiiiii …… gak nyambung deh. Tak salah kan kalau muncul masalah di antara anak – orangtua. Jadi apa yang penting dalam sebuah komunikasi orangtua – anak. Hal yang sangat mendasar yang saya mau ingatkan pada Anda semua adalah : – perilaku anak adalah respon dari sikap, tindakan dan ucapan orangtuanya – perilaku anak muncul karena ada kebutuhan emosi yang hendak dikatakan anak pada orangtua namun karena keterbatasan anak akhirnya mereka tidak mampu mengatakannya tapi menampilkan perilaku yang diharapkan anak dimengerti oleh orangtuanya – saat orangtua semata-mata menanggapi perilaku anak maka orangtua gagal untuk memahami apa sebenarnya masalah utama si anak kesalahan paling banyak yang terjadi dalam komunikasi orangtua – anak adalah : – orangtua melabel anaknya tanpa sehingga malah memperkuat perilaku buruk si anak. Contoh : kamu itu ceroboh ya, kamu itu anak bandel, kamu itu bisanya hanya makan saja, kamu itu anak malas – orangtua menuduh tanpa klarifikasi. Contoh : kamu ya yang buat adikmu menangis, kamu kemarin pasti tak belajar ya sehingga ulanganmu jelek, – orangtua langsung memberikan solusi tanpa bertanya pada anak bagaimana perasaannya dan apa yang diinginkannya (tergantung usia) : kamu ikut les piano saja karena itu bagus sebab dulu papa ingin belajar piano tapi kakek tak sanggup biayai (ada agenda tersembunyi untuk menuntaskan hasrat masa lalu orangtua) – orangtua membandingkan anak dengan dalih untuk memotivasi : coba kamu lihat adikmu tanpa diminta langsung belajar sendiri, coba kamu lihat si Anton dia begitu mandiri dan berani tampil, kamu jangan bodoh-bodoh seperti si Dungu itu ya Dan masih banyak lagi kalau mau didaftar. Nah kalau begitu apa prinsip utama komunikasi agar anak merasa aman, dicintai, dipahami namun tetap dapat diarahkan sesuai potensinya? Prinsip utamanya adalah dengarkan perasaan anak dan akui perasaan tersebut. Perasaan anak adalah faktor utama yang mendorong anak memunculkan suatu perilaku tertentu. Contoh seorang anak mengeluh karena tak bisa menguasai pelajaran matematika. Anak tersebut mengatakan, “aduhh susah banget sih matematika ini!” Respon orangtua kebanyakan: – kamu sih anak bego dan malas ( melabel) – kamu pasti kalau dikelas tak pernah mendengarkan guru (menuduh) – coba kamu belajar lagi lebih tekun jangan keburu mengeluh (memberi solusi) – ihhh kenapa sih kamu tak serajin temanmu untuk belajar matematika (membandingkan) Respon yang harusnya Anda lakukan adalah “mendengarkan perasaan” anak. Mengapa anak mengatakan seperti itu ? pasti ada sebuah perasaan yang mendorongnya. Tanggapi perasaan itu. Jadi tanggapan yang mungkin adalah : – kamu merasa sudah belajar banyak tapi masih tetap tak bisa menguasai ya ? – kamu merasa jengkel dengan dirimu sendiri ya ? – kamu merasa tak ada yang bisa bantu kamu memahami soal-soal matematika itu ya ? Nah kemungkinan-kemungkinan tanggapan seperti di atas akan membuat si anak merasa dianyomi, dipahami dan diakui perasaannya. Akibatnya adalah si anak akan membuka diri dan percakapan dari hati ke hati akan terjadi. Jika Anda sebagai anak bisakah Anda merasakan perbedaan tanggapan yang terjadi dibandingkan dengan respon orangtua kebanyakan? Masih ingin belajar lebih banyak lagi? Kali ini saya akan memberikan AUDIO “Kesalahan Fatal Orangtua yang Membuat Anak Malas Belajar dan Kurang Bertanggung Jawab”. Mau? Salam hebat untuk Anda Ariesandi dan Tim Sekolah Orangtua Indonesia

  • Kesalahan Fatal Orangtua yang Membuat Anak Malas Belajar dan Kurang Bertanggung Jawab “Bagian (2)”

    Sri memang anak yang hebat. Review game yang ia tulis di blognya menggunakan bahasa Inggris. Sebuah prestasi yang hebat untuk anak seusianya. Sementara saya memerhatikan blognya dan menlihat-lihat isi dan komentar para pengunjung blognya ia terus bercerita tentang blognya.

    Saya kemudian bertanya dalam bahasa Inggris sekalian untuk menguji Sri, “So you played those games for the sake of good reviews ?”

    “Yes, I had to try first and sometime it need a couple of days to found any shortcomings in a game and then I made reviews. It make my parents angry because they thought I wasted my time”, jawab Sri.

    “Why don’t you tell the truth?”, tanya saya .

    “They never listen to me”, jawabnya sambil menunjukkan sinar mata marah yang membuat saya agak terkejut.

    Sedemikian dalamkah luka hatinya?

    Lalu saya berpikir bahwa bagaimanapun orangtua Sri harus tahu hal ini agar mereka bisa mendapatkan gambaran seimbang tentang apa yang dilakukan anaknya.

    Saya kemudian menjelaskan pada Sri bahwa apa yang dilakukannya adalah hal hebat dan ia tetap harus menjalankan tugas kewajiban pribadinya sebagai pelajar dan juga harus bersosialisasi karena hidup bukan hanya sekedar di depan laptop menulis review dari sebuah game. Saya menawarkan sebuah perjanjian pada Sri tentang apa yang harus dilakukannya. Saya tak melarangnya melakukan apa yang ia suka namun saya juga menyadarkan Sri tentang menjalani kehidupan yang seimbang di semua aspek hidupnya.

    Sri memberikan ijin pada saya untuk bercerita pada kedua orangtuanya dan menjadi mediator dalam hal ini.

    Singkat cerita saya bertemu dengan kedua orangtuanya lagi dan menceritakan apa yang saya dapatkan dari percakapan dengan Sri.

    Saya kaget saya ayahnya menceritakan juga bahwa Sri sebelumnya dibawa ke seorang psikolog dan dilarang menggunakan laptop selama beberapa minggu. Akhirnya Sri berontak dan malah semakin menentang kedua orangtuanya.

    Sampai pernah suatu ketika ayahnya membanting laptop Sri saking jengkelnya. Tetapi itu pun tak menyurutkan niat Sri untuk tetap meminta laptopnya dikembalikan dan diijinkan pakai baru ia mau sekolah.

    Saat saya bertanya pada ayahnya, “Tahukah Bapak sebenarnya apa sih yang dilakukan Sri?”

    Ayahnya menjawab bahwa Sri hanya bermain game.

    Kemudian saya membuka laptop saya lagi dan menyodorkan pada ayahnya tentang apa yang dilakukan Sri di blognya.

    Komentar pertama yang meluncur dari mulut ayah dan ibunya adalah, “Itu yang buat Sri? Anak saya?”

    Saya menjawab dengan tegas bahwa memang itu yang buat Sri. Sebuah blog dengan review atas banyak game dan ditulis dalam bahasa Inggris.

    Ayah dan ibunya terbelalak dan saya melihat kedua orangtua tersebut menatap layar laptop saya dengan mengucurkan air mata.

    Yang saya ingat adalah ayah Sri yang menggumam terus menerus,”Ini anak saya yang buat?”

    Saya sampai menegaskan berulang kali bahwa itu memang Sri yang buat dan saya sudah mengujinya dengan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris yang ditanggapi Sri dengan lancar.

    Dan sekali lagi mereka juga tak pernah tahu bahwa Sri sangat lancar dan fasih berbahasa Inggris!

    Whatttttt????

    Saya tersambar petir. Mereka kedua orangtuanya yang hidup bersama Sri dan membesarkan Sri bertahun-tahun tak pernah tahu kehebatan anaknya???

    Akhirnya sang ayah mengatakan,”Selama ini kami hanya mengetahui keburukan Sri dan tak pernah mau tahu apa kehebatannya. Kami menghakiminya dan membawanya kesana kemari dan hanya mengatakan masalah keburukan Sri semata”.

    Saat sang ayah mengatakan hal tersebut tangisnya benar-benar tak terbendung. Dan sang ibu menimpali,”Kami berdosa pada Sri. Pantas saja ia membangkang karena ia pasti merasa kami tak mau memahaminya”

    Ohhh … saya hanya bisa terdiam.

    Satu lagi orangtua yang akhirnya menyadari bahwa apa yang selama ini mereka lakukan dan pikirkan terhadap anaknya sangat keliru.

    Orangtua yang selama ini menggembar-gemborkan tahu apa yang terbaik untuk anaknya ternyata tak tahu apapun tentang anaknya kecuali keburukan anaknya.

    Semua itu hanya masalah komunikasi yang kurang sinkron. Ya … sebagian besar masalah anak-orangtua adalah karena ketidaksinkronan komunikasi.

    Apa yang terjadi? Akhirnya maksud baik orangtua tidak tersampaikan pada anak karena komunikasi yang kurang tepat. Akhirnya anak salah memaknai maksud baik orangtua. Hal ini bisa dimaklumi karena keterbatasan pola pikir dan wawasan anak. Kita tak bisa mengharapkan anak memiliki pola pikir dewasa seperti kita bergaul dengan orang sebaya.

    Anak-anak tetaplah anak-anak dengan segala keterbatasan wawasannya. Justru kitalah sebagai orangtua yang perlu memahami cara pikiran bekerja dan menggunakan komunikasi yang sesuai dengan cara kerja pikiran itu untuk membimbingnya ke level yang lebih tinggi.

    Dan perlu dicatat disini bahwa yang saya maksud memahami anak TIDAK BERARTI menuruti semua kehendak anak. Memahami anak adalah mengerti apa yang ia butuhkan dan kemudian menggunakan keterampilan komunikasi yang tepat untuk membimbing mereka ke level pemikiran yang lebih tinggi sehingga mereka mampu mengeluarkan potensi terbaik dirinya.

    Nah para orangtua sekalian mengingat pentingnya keterampilan komunikasi tersebut maka bertahun-tahun yang lalu saya memutuskan mengajarkan hal tersebut pada banyak orangtua termasuk pada orangtua yang datang ke klinik saya.

    Ikuti artikel berikutnya yang akan membahas tips komunikasi praktis.

    Mau ? atau mau banget ? qiqiqiqiqi …

    Salam hebat untuk Anda

    Ariesandi dan Tim Sekolah Orangtua Indonesia?

  • Kesalahan Fatal Orangtua yang Membuat Anak Malas Belajar dan Kurang Bertanggung Jawab “Bagian (1)”

    Suatu hari seorang anak bersama dengan orangtuanya berada klinik konseling saya. Masalah yang dikeluhkan orangtua atas anak ini Aladdin malas belajar, suka membangkang di rumah dan juga di sekolah serta menyendiri tak mau bergaul.

    Selain itu juga kurang peduli pada diri sendiri sehingga tak akan makan kalau tidak dipaksa, tidak mau mandi kalau tidak dimarahi sampai suara serak dan juga termasuk malas melakukan hal-hal yang untuk kepentingan peribadinya. dan seakan tak punya tujuan hidup. Anak ini cewek berusia 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Anak ini hanya bergaul dengan laptopnya.

    Orangtuanya menyatakan pada saya bahwa mereka sudah bosan menasihati si anak. Termasuk menggunakan berbagai macam ancaman dan hukuman yang ujungnya tak mempan juga.

    Setelah saya ngobrol dengan kedua orangtuanya (si anak menunggu di luar ruangan) maka saya kemudian meminta waktu untuk berbincang dengan anaknya.

    Awalnya si anak diam saja saat saya ajak bercakap-cakap. Hanya menganggukan dan menggelengkan kepala. Dan matanya melihat ke bawah ke arah kakinya. Upppssss … tantangan juga nih kata saya dalam hati.

    Lalu saya terpikir untuk membuka laptop karena dari percakapan dengan orangtuanya saya mendapatkan cerita anak ini suka banget dengan laptop.

    “Sri (nama samaran), om punya laptop nih. Biasa kamu kalau buka laptop sukanya baca apa atau lihat apa? Kamu punya akun facebook ya ?”, pancing saya membuka percapakan lagi.

    Dan kembali lagi saya hanya mendapati jawaban berupa anggukan dan gelengan kepala yang membuat saya bingung.

    Lalu saya pancing lagi dengan beberapa pertanyaan seputar laptop dan mengajukan beberapa pernyataan yang intinya saya menjamin bahwa dia boleh cerita apapun pada saya dan saya akan berusaha memahaminya dan berjanji tak akan mengatakan apapun pada kedua orangtuanya.

    Tiba-tiba saya dibuat terkejut dengan tatapan matanya yang menatap tajam ke saya dan mengatakan, “ Om janji gak tak akan cerita pada siapapun?”

    Wuahhhhh … ini dia yang saya tunggu.

    “yup … om janji. Kamu boleh cerita apapun dan aman”, kata saya.

    “ Oke, Om saya sebenarnya tidak seperti yang disangka oleh guru-guru saya dan mama papa saya. Saya buka laptop karena saya mengerjakan sesuatu”, kata Sri.
    “Maksud kamu apa? Kamu menjalankan bisnis online?”, tanya saya.

    “Om janji ya tidak akan cerita pada siapapun juga. Saya akan beritahu Om. Tapi janji ya”, kata Sri sambil menatap tajam pada saya.

    Saya kagum juga karena anak ini berani menatap tajam pada saya dan mengatakan sesuatu dengan serius.

    Luar biasa sekali, anak ini bukan anak sembarangan. Pasti anak ini punya sesuatu yang tidak diketahui oleh orang-orang dekatnya – kata saya dalam hati.

    Dengan menatap tajam dan serius saya menjawab, “Kamu bisa percaya pada Om. Om akan pegang janji untuk tidak bercerita pada siapapun juga. Dan jika Om mau cerita pada mama papamu maka Om akan minta ijin pada kamu. Jika kamu tidak memberikan ijin maka Om tak akan pernah cerita”.

    “Om sebenarnya saya membuat sebuah review game dalam blog pribadi saya. Saya sudah menuliskannya sejak 2 tahun lalu. Dan blog saya sekarang mulai dijadikan tolok ukur para gamer yang akan membeli sebuah game. Mereka melihat review saya terlebih dahulu untuk mengambil keputusan membeli sebuah game”, jawab Sri.

    Saya hanya terdiam melongo dengan mata terbuka lebar………

    Saya tak mampu berkata apapun, hanya menatap tajam pada Sri, bocah 11 tahun yang kurus ceking. Saya hampir meneteskan air mata. Bahkan pada saat saya menuliskan kisah ini, kenangan bercakap-cakap dengan Sri terputar kembali dan mata saya berair.

    ‘Anak sehebat ini di label dengan berbagai hal negatif seperti yang disampaikan oleh orangtuanya pada saya’ kata saya dalam hati.

    Ohhhh … betapa sebagai orangtua seringkali kita kurang mau menggali lebih dalam dan memahami anak-anak kita.

    Apakah Anda pernah merasakan seperti yang saya ungkapkan di atas ?

    Mau tahu kisah kelanjutan Sri dan mengapa ia menjadi sedemikian tertutupnya pada guru dan kedua orangtuanya ? Apa yang dilakukan orangtuanya selama ini?

    Ikuti kisahnya pada artikel berikutnya.

  • Senjata Penting yang Perlu Dimiliki Setiap Orangtua dalam Mendidik dan Mengasuh Anak

    Halo Apa kabar? Ariesandi disini.

    Saya ingin sharing suatu cerita hari ini.

    Suatu saat ada orangtua yang ingin ngobrol/konsultasi dengan saya setelah sebuah seminar. Saat dia mulai bercerita, saya mendengar suatu keluhan yang berbeda dari orangtua satu ini.

    Children like to argueDia bilang begini “Mengasuh anakku ini seperti sedang berperang. Ada banyak teriakkan, suara tangisan, jeritan dan suara-suara heboh lainnya. Saya juga musti sering susun strategi untuk membujuk anak saya untuk mau makan, untuk belajar atau merapikan mainan setelah berantakan semua. Wah pusing deh, udah mirip kayak perang!!”

    Walaupun saya belum pernah ikut berperang, saat saya mendengar keluhan seperti itu, saya tiba-tiba langsung terbayang sebuah medan perang dimana terjadi “peperangan” antara orangtua dan anak. Maafkan imajinasi saya he..he..

    Saya tahu persis bahwa mendidik dan mengasuh anak memang seringkali membuat frustasi, jengkel, pingin marah aja dan lain sebagainya, tetapi menyamakannya dengan sebuah perang, terus terang adalah hal baru bagi saya 🙂

    Nah mengikuti metafora/perumpamaan yang digunakan itu, saya lantas berpikir, jika ini sebuah perang, tentu akan diperlukan sebuah “senjata” ya. Senjata yang efektif untuk mengalahkan “musuh” eh salah he..he..

    Sebuah senjata yang perlu dimiliki oleh setiap orangtua agar efektif dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Anda ingin tahu senjata apa itu?

    Ada dua sebenarnya, yang pertama adalah Cinta Tak Bersyarat atau Unconditional Love. Anak sangat membutuhkan Cinta Tak Bersyarat dari orangtuanya. Dengan memberikan ini saja, saya jamin akan terjadi perubahan yang sangat besar pada diri anak Anda.

    Nah yang kedua adalah Keahlian untuk menetralkan atau melepaskan emosi negatif yang terjadi baik pada diri Anda sebagai orangtua ataupun yang terjadi pada anak Anda.

    Sebagian besar orang sebelum menjadi orangtua sudah memiliki tumpukan emosi negatif dalam dirinya seperti perasaan kecewa, perasaan tidak berdaya, rendah diri, perasaan benci, jengkel, marah pada orangtuanya atau orang lain. Sehingga saat menjadi orangtua, seringkali tumpukan emosi negatif ini muncul kembali saat mengasuh dan mendidik anak, terutama saat anak berperilaku tidak sesuai dengan yang diinginkan.

    Sebagai contoh kecil saja.

    Suatu kejadian pada anak yang bagi orangtua lain biasa saja, misal anak dapat nilai ulangan jelek, bisa jadi ini hal besar bagi Anda karena dulu mungkin waktu kecil, Anda sering ditertawain teman atau dimarahin orangtua saat dapat nilai ulangan jelek. Hal ini bisa memicu timbulnya kembali emosi negatif di dalam diri Anda sehingga Anda menjadi marah besar pada anak Anda karena dia dapat nilai ulangan jelek.

    Contoh lain.

    Anda sedang mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di kerjaan/bisnis Anda. Anda sumpek, jengkel atau marah pada situasi yang terjadi pada diri Anda. Lalu Anda pulang dan anak hanya sedikit rewel saja, Anda bisa jadi marah besar dan memukul dia, setelah itu baru Anda menyesal. Pernah alami seperti ini?

    Jadi bisa Anda lihat, PENTING sekali bagi kita sebagai orangtua untuk memiliki sebuah “senjata” atau keahlian untuk menetralkan atau melepaskan emosi negatif yang ada pada diri kita agar bisa mendidik dan mengasuh anak dengan lebih efektif.

    Nah bagaimana jika emosi negatif itu ada dalam diri anak? IN SUCH STATES, OUR LIABILITY AND THE LIABILITY OF OUR SUBSIDIARIES, PARENT health insurance company AND AFFILIATES, IS LIMITED TO THE FULLEST EXTENT PERMITTED BY SUCH STATE LAW. Misal anak dipukuli oleh temannya di sekolah sehingga ada rasa takut setiap kali ke sekolah? Atau anak takut kegelapan? Atau anak menjadi tidak percaya diri jika disuruh maju ke depan kelas karena sering ditertawain teman-temannya?

    Ada emosi negatif disana bukan? Bagaimana Anda sebagai orangtua membantu anak Anda untuk bisa melepas atau menetralkan emosi negatif tersebut? Perlu punya “senjata” atau keahlian tersebut bukan?

    Itulah sebabnya, selama bertahun-tahun, saya melakukan riset, uji coba, pembelajaran yang terus menerus untuk mencari sebuah solusi yang mudah dan bisa dipraktekkan bagi banyak orang, kapanpun dan dimanapun, untuk bisa melepas emosi negatif dalam dirinya ataupun orang lain.

    Akumulasi pengalaman, riset dan pembelajaran serta praktek ke ribuan orang, menghasilkan sebuah teknik atau “senjata” yang ampuh yang saya beri nama Instant Change Technique (ICT).

    Sebuah teknik untuk melepaskan atau menetralkan emosi negatif pada diri Anda atau orang lain (seperti anak Anda) dalam sekejab/instan. Hal ini bisa Anda lakukan kapanpun dan dimanapun. Bisa diterapkan untuk hal mendidik/mengasuh anak, bisa diterapkan untuk menyembuhkan penyakit psikosomatis (sakit karena faktor psikologis/pikiran), bisa untuk menyembuhkan phobia, mengaktifkan magnet kemakmuran Anda dan masih banyak lagi.

    BukuICTJika Anda tertarik untuk mempelajari teknik ICT ini, saat ini saya sedang akan me-launching buku terbaru “Instant Change Technique: Manage Your Emotion in a Blink” dimana Anda bisa melakukan Pre-Order untuk mendapatkan harga spesial bonus audio The Money Attractor.

    Anda bisa membaca informasi selengkapnya (isi buku, harga, cara order dll) di link berikut:
    http://www.Ariesandi.com/PreOrder

    Jadi saya summarykan, bahwa untuk menjadi orangtua yang sukses dalam mendidik dan mengasuh anak Anda menjadi yang terbaik, Anda perlu dua “senjata penting” yaitu:
    1) Unconditional Love atau Cinta Tak Bersyarat
    2) Keahlian untuk Melepas atau Menetralkan Emosi Negatif pada diri kita sendiri dan pada anak kita

    Dan solusi yang bisa saya berikan saat ini adalah melalui teknik Instant Change Technique (ICT) yang informasinya bisa Anda baca di:
    http://www.Ariesandi.com/PreOrder

    Apakah artikel atau sharing ini bermanfaat bagi Anda? Silakan beri komentar di bawah ini atau Anda bisa berbagai pengalaman Anda juga. Terimakasih sebelumnya.

  • Sharing Ny NN

    Cerita Orangtua Tunggal yang Sukses Kota khatulistiwa, di Senin pagi ini diguyur hujan, membuatku teringat salah seorang teman terbaik yang sempat saya kunjungi di hari Minggu kemarin. Seorang ibu dengan dua orang putra tinggal dirumah tipe “RSS” (rumah sangat sederhana, salah satu program perumahan Orde Baru) sejak 23 th lalu dan baru selesai kreditnya. Rumah itu hampir tidak pernah direhab, sehingga mudah dicari dalam kompleks yang cukup besar. Cari saja rumah yang paling sederhana, paling kecil tanpa pagar pasti dapat diketemukan. Tapi apakah isi juga kerdil seperti rumahnya? Jawabannya, tidak! Ibu, yang menempati rumah tersebut sejak diabaikan orang suaminya (20th lalu), tidak pernah meratapi nasibnya, tidak pernah neko-neko, tidak penah dendam, tidak pernah tawakal. Alhasil dari semua pengorbanannya, sang anak sulung telah lulus S1 dengan IP sangat memuaskan. Bekerja di bank swasta dengan gaji lumayan dan sudah membuat perencanaan untuk merehab rumah kecil penuh kenangan kasih seorang ibu itu, “Ibu, 50% gaji saya ibu tabung untuk rehab rumah, jadi dihari tua ibu tidak pusing lagi dengan rumah.” Demikian perkataan si anak kepada ibunya. Hari minggu kemarin ibu tersebut berkata “Mendengar kata-kata anakku seperti itu, terasa semua perjuangan dan kepahitan hidupku telah terbayarkan, walau rumah belum direhab”. Saya berharap perjuangan ibu ini, akan saya tulis disini sebagai bahan sharing untuk ibu-ibu yang senasib dengan ibu tersebut, karena saya kenal benar dan berdampingan dekat dengan ibu tersebut. Karena kebersamaan (bekerja di satu ruangan yang sama selama belasan tahun) kami dalam waktu yang panjang. Bagaimana seorang ibu yang sedang hamil anak kedua dikhianati suami, ia terus berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya karena tidak rela anaknya disebut anak yatim. Dengan gaji hanya seorang staff, ia harus memenuhi biaya hidup sehari-hari seperti membayar sekolah anak sulung dan menggunjungi dokter kandungan dengan rutin, karena dengan sadar dan sabar menjaga kandungan agar anak kedua yang tak berdosa bisa dilahirkan dengan sehat. Selain itu ia tetap membayar cicilan rumah. Saya sungguh salut pada kemampuan Ny NN dalam mengatur hidupnya, membuat saya merasa tidak berhak untuk mengeluh, karena kami berdua memiliki latar belakang kehidupan yang hampir mirip. Pendidikan kami sama, tapi rejeki masih sedikit berpihak pada saya, karena secara jabatan saya lebih tinggi. Saya dan suami bahu-membahu berbagi untuk semua hal. Ketika anak kedua lahir, tidak ada pilihan untuk berdiam di rumah mengasuh buah hati yang baru saja lahir. Ia tetap harus bekerja, sedangkan anaknya dititipkan di penitipan. Keadaan ini tidak membuat Ny. NN tidak masuk kerja, apalagi tidak terlambat masuk kerja. Pulang kantor dilakoninya dengan tabah, walaupun ia harus bedesak-desakan di angkutan umum. Kadang terpaksa harus membawa pakaian ganti, supaya seragam kantor biasa dipakai 2 hari. Tidak pernah ngeluh dalam menghadapi pekerjaan dan deadline laporan. Hanya 1 hal yang tidak bisa dilakukan oleh Ny. NN yaitu tidak bisa lembur hari Minggu. Sebagai ibu, ia memenuhi hampir semua kebutuhan anak-anaknya, siapkan sarapan dan bekal makan siang. Pakaian anaknya selalu rapi dan yang lebih salut lagi anak-anaknya tidak pernah meninggalkan sholat. Yang bersangkutan hampir tidak mendapatkan dukungan dari manapun, kecuali sepasang orangtuanya sendiri yang mengasihinya dan membiarkan ysb mengambil keputusan atas kondisi rumah tangganya. Walaupun sebenarnya, baik kami teman dekatnya atau orangtuanya, sangat mendukung dia mengugat cerai suaminya. Dengan harapan dia lebih leluasa dan lebih bebas, karena NN sudah tidak mendapat nafkah lahir batin. Tapi, NN lebih memilih tidak bercerai dan tidak ada orang yang benar-benar tahu alasannya.. NN selalu bilang, “Jalani aja hidup dengan tawakal, apapun bisa kita lalui. Hidupku, untuk anak-anakku, agar mereka tetap mendapat kasih sayang walau hanya dari seorang ibu,” Saya pikir kisah hidup Ny. NN sangat layak untuk inspirasi kita semua karena NN bisa mengikhlaskan penderitaan dirinya dan tetap memberi kasih sayang kepada kedua buah hatinya, sementara suami wara-wiri sama istri muda. Kami pernah mendengar percakapan NN dengan seorang ibu yang senasib,”Adalah lebih mudah menjelaskan kepada anak-anak kalau kita ini Janda yang di tinggal mati suami”. Bagi yang berkeluarga saya kira bisa merasakan apa makna percakapan yang dilontarkan NN diatas. Sekian dulu, Salam kasih buat semua Ibu Febry

  • Sharing Agung Hendriyanto: Berjuang Mencapai Impian

    Dear Orang Tua yang Bijak, SEMANGAT PAGI!

    Ijinkan saya untuk berbagi pengalaman dalam membantu putra ke-2 saya, Galih Pradnya (8 th), untuk berjuang mencapai impiannya.

    ===

    Galih Pradnya, saat ini duduk di bangku kelas III SD St Aloysius Bandung, memiliki hobi bermain catur dan bercita-cita menjadi Juara Nasional. Cita-cita yang luar biasa, namun perlu KERJA KERAS dan KETEKUNAN untuk mewujudkannya.

    Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Galih rajin berlatih dan secara rutin mengikuti berbagai pertandingan. Galih dan kami-pun harus pintar membagi waktunya dengan kegiatan sekolah. Entah sudah berapa banyak Galih ijin dari sekolah untuk mengikuti berbagai pertandingan. Untunglah pihak sekolah cukup bijak untuk memberikan ijin, walaupun tugas-tugas sekolah tetap harus dikerjakannya. Setiap pulang dari pertandingan, Galih-pun harus siap menyalin pelajaran yang ditinggalkannya. Luar biasa semangatmu Nak!

    Pada tanggal 8-17 September 2011 yang lalu, Galih kembali ijin dari sekolah karena harus mengikuti KEJURNAS CATUR ke-42 di Palembang Sumatera Selatan. Kejurnas Catur ke-42 ini merupakan Kejurnas Catur ke-3 kalinya yang diikuti Galih, setelah tahun 2009 (Palangkaraya) dan 2010 (Manado).

    Di Kejurnas 2009 & 2010, Galih belum berhasil menjadi juara dan hanya mampu masuk posisi 5 besar. Karena tahun ini merupakan tahun terakhir Galih bertanding di KU G (

    Dalam KEJURNAS CATUR ke-42, pertandingan kelompok yunior dilakukan dalam 9 babak dan dibagi selama 5 hari. Artinya, selama 5 hari, setiap pemain akan bertanding sebanyak 9 kali dan hasil akhirnya akan dihitung berdasakan point yang dikumpulkan. Hitungan point-nya adalah menang=1, draw=0.5 dan kalah=0. Jika ada point yang sama, maka juara akan ditetapkan berdasarkan Tie-Break.

    Jumat 9 September 2011, setelah mengalami penundaan dan jadual molor dari yang ditetapkan, babak ke-1 akhirnya dapat dimulai tepat pukul 19.15 WIB.Babak ke-1 ini dapat dimenangkan Galih, sehingga mendapat point 1. Merupakan awal yang baik dan bekal berharga untuk memasuki babak-babak berikutnya.

    Sabtu tanggal 10 September 2011 dipertandingkan 2 babak, yaitu babak 2 (jam 09.00 WIB) dan babak 3 (jam 14.00 WIB). Setelah bertanding sekitar 1,5 jam, diluar dugaan, di babak ke-2 ini Galih mengalami kekalahan! Walaupun tidak sampai menangis, ekspresi kekecewaan jelas terpancar dari raut wajahnya. Rupanya tekanan dan tanggung jawab yang besar untuk merebut medali emas, membuat Galih terbebani dan tidak bermain lepas seperti biasanya.

    Refleks saya rengkuh kepalanya, “Tidak apa-apa Nak, jalan masih panjang. Masih ada 7 babak lagi. Kamu masih bisa menjadi Juara”. Kami kemudian mengajaknya pulang untuk beristirahat, melupakan kekalahan dan bersiap untuk pertandingan babak ke-3.

    Kekalahan di babak ke-2 ini sempat menjatuhkan mental Galih dan membuat-nya patah semangat. Dari target-nya menjadi Juara Nasional, keinginannya turun menjadi hanya masuk 5 besar, alias sama dengan KEJURNAS sebelumnya.

    “Targetnya masuk 5 besar saja ya, ternyata susah”, begitu kata Galih. Wah, mana SEMANGAT-mu yang berkobar-kobar itu Nak? Apakah SEMANGAT dan KERJA KERAS-mu selama satu tahun dihapuskan hanya dengan satu kekalahan saja?

    Untuk mengembalikan SEMANGAT dan MENTAL Galih, kami dengan sabar terus memotivasi Galih untuk bangkit dan melupakan kekalahan tersebut. Lupakan babak sebelumnya dan fokus babak berikutnya! Itulah motto kami dalam membangkitkan semangat Galih.

    “Kamu bisa Galih, fokus dan teliti. Selalu berpikir panjang, jangan terburu-buru melangkah. Dan jangan lupa berdoa” “Kalau kalah gimana”? pertanyaan itu terus diulanginya berkali-kali. “Kalah dan Menang biarlah nanti saja. Nikmatilah pertandinganmu. Berusahalah dan Berdoa, pasti Tuhan akan mendengar-mu Nak”,jawaban itulah yang kami sampaikan kepadanya.

    Dan sepertinya motivasi kami sedikit mengangkat moral dan mental Galih, sehingga dengan penuh keyakinan Galih memasuki arena pertandingan untuk memulai babak ke-3. Walaupun belum sepenuhnya dapat melupakan kekalahannya, di babak ke-3 ini Galih mampu memenangkan pertandingan.

    “Yeeesss…kamu bisa khan…” Itulah kalimat penyemangat kami untuk Galih.

    Kemenangan di babak ke-3 dan motivasi yang terus-menerus kami suntikkan, rupanya mengangkat mental dan semangat Galih. Penampilan Galih semakin hari semakin membaik dan terus mengumpulkan point kemenangan dalam 5 babak berikutnya. Sampai dengan babak ke-8, Galih berhasil mengumpulkan 7 point kemenangan, hasil dari 7 kali menang dan 1 kali kalah. Point ini merupakan point tertinggi di antara lawan-lawannya, sehingga Galih untuk sementara berada di peringkat pertama. Hanya butuh 0.5 point saja di babak terakhir, untuk memastikan juara pertama sekaligus merebut medali emas untuk Jawa Barat.

    Medali emas sudah di depan mata! Tinggal 1 babak lagi! Hanya butuh 0.5 point saja! Ketegangan-pun memuncak!

    Setelah rehat untuk makan siang, pertandingan babak ke-9 dimulai tepat pukul 14.00 WIB. Sesuai dengan perkiraan kami, Galih bertemu dengan lawan yang sudah sering dihadapinya. Dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, Galih selalu menang. Namun Galih harus selau waspada, karena pertandingan olahraga tidak bisa dihitung secara matematika.

    Sebelum memasuki ruang pertandingan, saya hanya berpesan, “Gal, kamu hanya butuh 1/2 point saja. Tidak perlu mengejar kemenangan, draw saja sudah cukup”. “Iya”. “Tetap fokus dan jangan lupa berdoa” “Iya”

    Galih-pun masuk ke ruang pertandingan dan ketegangan segera meliputi saya. Saya, yang biasanya duduk tenang, jadinya mondar-mandir nggak tentu tujuan. Sebentar duduk, berdiri, jalan … duduk, berdiri, jalan … duduk lagi, jalan lagi… Rasanya serba salah.

    1 jam berlalu … belum ada tanda-tanda Galih keluar. Biasanya Galih sudah selesai.

    1 1/2 jam berlalu … belum ada tanda-tanda juga.

    1 3/4 jam berlalu …

    2 jam berlalu …

    Setelah menunggu sekitar 2 jam, akhirnya Galih keluar dari ruang pertandingan. Saya menunggunya di kejauhan dan tidak berani menyambutnya. Ketegangan saya semakin bertambah karena Galih tidak langsung menghampiri saya, namun bercanda terlebih dahulu bersama kawan sekaligus lawannya. Sepertinya Galih tahu kalau saya menunggu dengan harap-harap cemas, sehingga Galih sedikit mempermainkan emosi saya.

    Setelah merasa cukup bercandanya, Galih akhirnya menghampiri saya. Saya tidak berani menanyakannya…tetapi melihat raut wajahnya saya tahu bahwa Galih berhasil merebut 0.5 point yang dibutuhkannya. Dan benar…”Draw”, kata Galih ketika menghampiri saya!

    Saya peluk dia dan berkata ,” Bisa juga khan?” …. Galih-pun menjawab “Iya”… dan tersenyum!!! Plong ….. MEDALI EMAS dan gelar MASTER PERCASI-pun berhasil dibawa pulang.

    Akhirnya…. Dengan KERJA KERAS, KETEKUNAN, DOA dan KEBERUNTUNGAN… Impian Galih untuk menjadi Juara Nasional tercapai sudah. Namun mesti diingat, ini bukan akhir dari segalanya. Ini merupakan awal dari perjalanan panjang untuk menggapai prestasi yang lebih tinggi lagi. Ayo…kamu bisa! Selamat ya Galih Pradnya Master Percasi.

    ===

    Mudah-mudahan pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi orangtua sekalian, bahwa ketekunan dan kerja keras yang disertai dengan doa tentu akan indah pada waktunya. Mohon maaf jika sharing-nya terlalu panjang. SEMANGAT PAGI!

    Agung Hendriyanto

  • Sharing Vivi Savitri Wibisono: Kenali Dirimu, Sayang

    Salam kenal untuk para Ayah dan Bunda…

    Sebetulnya cerita ini pernah saya upload di FB, sebagai note saya. Mengapa? Agar saya selalu ingat bahwa saya pernah punya pengalaman ini dengan putra tunggal saya. Sebagai catatan pribadilah… Ketika Sekolah Orangtua memberi kesempatan kepada kita para orangtua untuk sharing pengalaman kita dengan putra/i kita, maka saya bagi disini melalui Sekolah Orangtua…

    Kenali Dirimu, Sayang…

    Sudah sejak awal Abi masuk SD, aku memutuskan untuk tidak membebaninya dengan target jadi juara di kelas. Alhamdulillah, selama 3 tahun (kelas 1 sampai kelas 3) tidak pernah ada masalah mengenai itu. Nilai -2nya cukup memuaskan.

    Tapi, rupanya waktu berkata lain. Di awal kelas 4, nilai-2nya turun dengan drastis. Aku capek. Pelajarannya susah. Kebetulan gurunya juga punya aturan yg berbeda dibanding guru-2 sebelumnya. Gurunya yg sekarang memutuskan, ulangan baru diberikan ke orangtua setelah 3 bulan. Itulah awalnya…

    Kami punya kebiasaan, setiap kali hasil ulangan diberikan guru, Abi menyerahkannya padaku. Lalu sama-2 kami melihat dimana yg salah, dimana yg kurang, nah di situlah ia membuat perbaikan pada buku belajarnya di rumah. Ulangan yang diberikan setelah 3 bulan berlalu, jelas membuatku lambat mengetahui dimana kekurangan Abi dalam memahami materi pelajarannya. Bayangkan, nilai yg biasanya menari-2 di angka 8 atau 9, merosot sampai ke bawah 5…!!!

    Mau marah, percuma.. semua sudah berlalu. Tapi wajah kecewa, tidak kusembunyikan dari pandangannya. Membuang segala ego, aku ajak ia duduk bersama. Berdua kami membicarakannya.

    “Ibu kecewa nih, Mas. Koq nilai-2nya seperti ini. Aku minta maaf. Kamu tau bagaimana pendapat Ibu tentang hal ini. Nilai di bawah 5 berarti kamu tidak belajar.” Berusaha berkelit, ia menjawab: “Ibu jangan hanya melihat ke atas, ke anak-2 yg nilainya lebih bagus. Lihat juga ke bawah, ke anak-2 yang mendapat nilai rendah. Aku masih mending, Bu. Ada temen yg dapat 1,5. Malah ada yg 0,5…”

    Kutatap wajahnya.. Gak percaya kalimat tadi meluncur dari mulutnya.
    “Kenapa mereka bisa dapet nilai segitu?”. Tanyaku
    “Karena mereka suka ngobrol pas lagi belajar. Males juga anaknya…”, Jawabnya.
    “Dan kamu merasa, Ibu akan bangga kamu membandingkan dirimu dgn The free-credits-report.com is specifically limited to those expenses incurred in the first four years of college. mereka?“. Tangkisku. Sudah akan menjawab, tapi ditahannya dalam mulut. Melihat wajahku yang mulai mengeras, dia merasa lebih aman bila diam.

    “Selama ini Ibu gak pernah menuntutmu ada di atas panggung juara. Yg Ibu minta agar kamu dapat berdiri di atas tanah. Dengan gagah, tegak dada sebagai anak laki-2. Sekali-2 kamu dapat nilai 6, Ibu hanya pikir kamu sedang berjalan terlalu ke pinggir. Jadi Ibu ingatkan, hati-2 Mas. Belajar yg lebih baik lagi.”

    “Sekarang, kamu sedang terperosok ke dalam lubang. Ayo, Ibu akan bantu kamu keluar dari lubang itu. Tapi kamu juga harus bantu diri kamu keluar dari sana. Jangan keenakan tidur di situ. Oke? Kalau kamu tidak setuju dengan cara ini, bilang dari sekarang. Jangan sampai Ibu lelah sendiri menarikmu, padahal kamu merasa nyaman di berkubang di dalamnya.”.

    Dan mulailah, ia menjalani hari-2 dimana ia berusaha keluar dari lubangnya. 30 menit berlatih matematika, 30 menit berlatih memperbaiki tulisannya (salah satu penyebab nilainya mendapat jelek, karena tulisannya sulit dibaca). Ia kusuruh menulis tentang apa saja. IPA, IPS, peribahasa, cerita di majalah, buku, apa aja yg dia suka.

    Proses yg lambat dan panjang. Adakalanya ia bosan. Di hadapannya terletak buku matematika, buku menulis, buku cerita, lego, tapi matanya menghadap ke layar televisi. Kalau lagi kendor seperti itu, aku biarkan dulu selama 1 hari. Esoknya kuajak tukar pikiran lagi.

    “Ada anak yg diberi kelebihan oleh Tuhan, berupa otak yg pandai dimana ia mampu memikirkan segala macam hal di waktu yang bersamaan dan semuanya berhasil dengan baik dengan prestasi belajar yang juga baik.

    Ada juga anak yg diberi kelebihan lain oleh Tuhan, berupa ketekunan. Dimana ia hanya mampu melakukan satu hal saja di satu waktu, tapi bila melakukannya dengan tekun ia akan berhasil dengan baik. Anak-2 yg seperti ini mungkin terlihat lambat karena ia menyelesaikan pekerjaannya satu per satu. Tapi hasil terakhir biasanya jauh lebih baik.

    Luar biasanya, orang-2 yang berhasil adalah orang yang tekun dan sabar dalam menjalani pekerjaannya. Kenali dirimu, Sayang… Mas Abi termasuk dalam kelompok mana dengan kelebihan yang Tuhan kasih.”

    Gaya belajarnya, langsung berubah. Ia mulai belajar memahami dan mengenali dirinya sendiri. Gaya belajarnya pun ia sesuaikan sendiri. Selama tidak aneh-2, aku tidak banyak berkomentar. Tugas seorang Ibu adalah seperti pemain layangan. Tetap memegang tali. Mengatur ke arah mana layangan akan diarahkan. Sesekali membiarkan layangan kendor untuk mencari ruang geraknya sendiri. Kalau telah melenceng terlalu jauh, kembali menarik tali agar layangan kembali dalam arah yang diinginkan.

    Suatu kali, Abi mengeluarkan setumpuk kertas ulangan dari dalam tasnya. Ibu, lihat…! Anak Ibu udah mulai berdiri lagi di atas tanah. Nilai 7 dan 8 tertera di kelima lembar kertas tersebut. Aku rengkuh kepalanya dalam pelukan…

    Terima kasih, Sekolah Orangtua….

    Best wishes,
    Vitri Wibisono

  • Sharing Martha Prisilya

    Saya memiliki anak sulung usia akan genap berusia 9 tahun pada tanggap 14 Nop ini. Sekarang sudah duduk di kelas 4 SD. Ketika ia duduk di bangku TK, ia sempat sedikit ketinggalan dalam membaca hasilnya ia sering terlambat pulang saat kelas 1 SD. Saya memberi dia les privat, dan akhirnya dia mahir. Penyebab keterlambatannya dalam membaca disebabkan kekerasan saya dlm mendidik dan mengajarnya. Ini meningglkan trauma yang dalam baginya. Kelas SD 1-2 prestasinya biasa-biasa saja bahkan rangking 10 dari bawah.

    Saya menyadari andil saya dalam menyebabkan kesulitan anak saya dalam membaca. Saya berusaha memperbaikinya dengan melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengannya. Saya mengakui kesalahan saya kepadanya dan meminta maaf. Saya berjanji akan berusaha memperbaiki kesalahan saya. Janji saya kepadanya, saya buktikan melalui perubahan tingkah laku saya setiap hari. Saya lebih sabar mengajarnya saat belajar dan memberikan waktu saya khusus untuknya. Memeluknya saat dia gagal ketika mendapat nilai 3, 4 bahkan pernah 0.

    Saya katakan, “Ketika kakak mendapat nilai buruk padahal sudah melakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh, kakak perlu menerimanya dengan ucapan syukur apapun hasilnya. Karena Tuhan lebih menghargai usaha daripada hasilnya. Mama tidak akan marah dan menuntut lebih, mama janji.”

    Tapi… ternyata saya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembalikan kepercayaan kakak kepada saya. Terkadang, ketika kondisi saya lelah, kata-kata penyemangat saya tidak sejalan dengan intonasi suara saya yang meninggi. Hal ini menyebabkan ia mengalami trauma kembali dan mulai menyembunyikan nilai buruknya lagi. Ini benar-benar merupakan PR besar buat saya untuk mengendalikan emosi agar tidak terlampiaskan pd anak. Dan, PR saya yang lain adalah mengatur agar energi saya bisa terbagi dengan baik agar tidak kelelahan ketika menghadapi kakak. Karena ketika energi dan kondisi saya lemah, intonasi dan isi perkataan dukungan saya sampaikan kepada kakak tidak sejalan.

    Saat ini Aurora telah kelas 4 dan sedang tes. Saya dan Suami setia menemaninya belajar dan kami membagi tugas. Tiap hari ada 2 mata pelajaran yg diujikan. Aurora masuk pukul 12.30. Jadi 1 pelajaran saya yg mengajarkan dan 1 pelajaran lagi tugas Papanya. Begitulah aturan yg kami lakukan untuk mendampingi Aurora. Kami sebagai orangtua sepakat untuk mendidik anak kami bersama-sama dan seiya sekata, tidak ada yg lebih unggul dan tidak ada yg lebih lemah. Kami tim yg kompak mendidik mereka (anak saya 2 yg bungsu usia 4 thn, dia luar biasa, sgt cerdas utk anak seusianya). Apapun kendalanya kami komunikasikan bersama tanpa didengar anak.

    Saat tes, gurunya memberi lembar isian terpisah, sehingga lembar soal boleh dibawa pulang dan langsung bisa kami koreksi bersama-sama. Ketika kami koreksi bersama-sama Aurora mendapat nilai minimal 7 dan nilai lain rata-rata 9. Ternyata sistem belajar yang kami terapkan pada Aurora mampu membantunya belajar lebih baik. Kami berhenti memberi nasehat, hanya tiap kami mengajarinya, kami menghindari tekanan. Bila pelajaran mulai rumit dan anak kelihatan bete, kami hentikan dan alihkan dengan cemilan atau menonton (film yg lucu-lucu) sebentar dan kembali belajar. Kadang kami hanya mengajarinya 30 menit dan istirahat 20 menit. Aurora tidur pukul 20.30 Wib. Belajar mulai pkl. 18.30. Jadi hanya butuh belajar +/- 1 jam, Puji Tuhan itu sangat efektif.

    Saya harus menyesuaikan diri dengan hal-hal yang dapat membantu anak saya tenang, termasuk kompromi terhadapi keinginan kami sebagai orangtua. Ketika kami menempatkan diri sebagai teman sekaligus ortu, tidak ada beban dan rahasia diantara kami. Tentu ini tidak instan kami membuktikan diri terus menerus dan diperlukan komitmen yg luar biasa. Kami merasa kami perlu menginvestasikan ajaran-ajaran yg mendasar pada anak kami sedini mungkin melalui waktu yang berkualitas dan terus berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal. Seperti kami menginvestasikan uang kami untuk masa tua kelak. Membuat rumah kami berpusat pada anak bukan orang dewasa.

    Intinya dapatkan hati anak, rengkuh hatinya melalui kejujuran dan teladan hidup diri kita sendiri. Tidak ada teori yg dpt menjawab masalah kita selain kesadaran utk mau mengerti dan memeluk hatinya setiap hari. Jangan biarkan anak tertidur sebelum anak yakin semua berjalan indah hari itu.

    Terima kasih utk waktu yg diberikan.

    Best Regards,

    Martha Herwanto

  • Sharing Yusi Setiawan: Dari Anak Bermasalah Menjadi Anak Berprestasi

    Sharing ini ditujukan bagi para orangtua yang merasa memiliki anak yang bermasalah, terutama yang masih balita, yang iri dengan adiknya, dan sering mengganggu temannya.

    Saya ibu 2 orang anak cowok. Anak pertama saya Steven sekarang berusia 8 tahun lebih, duduk di kelas 3, sedangkan adiknya Kevin 7 tahun, duduk di kelas 2. Selisih umur mereka 1,5 tahun.

    Saat ini kalau memandang Steven dan Kevin, saya bisa merasakan rasa sayang dan bangga. Tapi dulu tidak begitu. Masing-masing anak sempat mengalami fase sulit yang membuat saya nyaris putus asa.

    Steven terlahir maju 17 hari dari jadwal karena ketuban pecah dini. Karena belum ada tanda-tanda lahir, akhirnya saya diinduksi. Sakitnya luar biasa. Untuk menghindari infeksi, Steven bayi diinjeksi antibiotik. Kemudian karena kuning, dia juga disinar. 2×24 jam penyinaran hanya mampu menurunkan sedikit kadar bilirubinnya. Akhirnya dia boleh pulang tapi masih harus minum obat dan dijemur setiap pagi.

    Sejak bayi kecil, Steven sudah menunjukkan kalau dia bayi yang berwatak keras, susah diatur. Banyak sekali peristiwa yang membuat saya kewalahan. Sampai-sampai saya berpikir, “Kalau masih bayi kecil seperti ini aja sudah enggak bisa diatur, gimana nanti besarnya. Saya tidak boleh kalah dengan anak ini… “. Tapi ternyata sikap yang saya ambil salah. Semakin saya keras, tingkahnya semakin menjadi.

    Pada umur 3 minggu, saat itu sekitar pukul 10 pagi, Steven sedang ditidurkan di ranjang. Tiba-tiba dia menangis keras sekali, tangisan melengking yang susah sekali dihentikan. Mukanya sampai merah, dia seperti sedang kesakitan. Saat itu saya belum punya pembantu, tapi untunglah ada mama yang langsung bergegas menolong, menggendong dan menenangkan Steven. Butuh waktu lama untuk membuat tangisan Steven berhenti. Akhirnya karena kecapekan dia tertidur.

    Sorenya hal itu terulang lagi. Karena kuatir kami membawanya ke dokter. Ternyata dokter bilang Steven terkena kolik. Penyakit kolik diderita sejak bayi berumur 3 minggu dan akan sembuh sendiri saat bayi berumur 3 bulan. Begitulah sejak hari itu sampai Steven berusia 3 bulan kurang 1 minggu, setiap malam kami tidak dapat tidur nyenyak. Baru saja kami berhasil menidurkannya, 5 menit kemudian tangisan menyayat hati itu kembali terdengar. Kami harus kembali menggendongnya sambil berjalan hilir mudik menenangkannya.

    Setelah kelelahan dia tertidur, karena tidak ingin dia terbangun lagi, seringkali kami biarkan Steven tidur di gendongan. Tak jarang saya atau mama tidur sambil duduk menggendong Steven, kadang meringkuk di sofa. Kalau tiba-tiba dia terbangun dan menangis lagi ya kami harus menenangkannya. Sungguh ini merupakan 2 bulan yang sangat menyiksa dalam hidup saya.

    Selama 1 tahun pertama kehidupan Steven, kami sering sekali membawanya ke dokter. Bahkan karena tidak sabar dan ingin mencari pendapat lain, kami pernah gonta-ganti dokter. Steven kecil pernah mengalami diare, kolik, demam, alergi susu sapi, alergi susu soya, kulit kepala berkerak, pipi bengkak, seluruh tubuh merah-merah, bisulan, rewel, batuk pilek, infeksi perut, dsb.

    Dulu sering Steven dirujuk ke laboratorium untuk periksa darah, akibatnya dia menjadi trauma terhadap jarum suntik. Apalagi saat bayi banyak jadwal imunisasi yang harus dijalani. Saking seringnya ke lab dan dokter, Steven berontak. Pertamanya, dia menolak masuk ke ruang periksa. Lambat laun pemberontakan di mulai dari depan rumah dokter. Begitu mobil berhenti di rumah dokter dia nangis berontak enggak mau turun. Ketiga, saat mobil belok di jalan menuju rumah dokter dia sudah menjerit-jerit nangis. Itu semua terjadi sebelum dia berusia 1 tahun. Ingatan yang sangat hebat untuk ukuran anak usia 1 tahun.

    Untungnya dari sisi tumbuh kembang Steven tidak ada masalah, bahkan dia termasuk anak yang cerdas. Sejak kecil minat belajarnya tinggi. Perkembangan bahasa kurang baik, tapi dia mengerti perintah, bisa diajak komunikasi. Pada umur 2,5 tahun akhirnya dia bisa berbicara normal.

    Permasalahannya pada perilaku dan sikapnya, sejak umur 7 bulan Steven menolak memakai sepatu, sandal, bahkan kaos kaki dan itu terjadi sampai dia berusia 2 tahun lebih.

    Steven termasuk anak yang aktif, tidak bisa diam, banyak maunya, saat marah suka menangis menjerit-jerit. Perilaku Steven ini seringkali membuat saya kehilangan kesabaran. Steven kecil sering sekali saya cubit dan pukul karena saya kewalahan tidak mampu mengendalikannya. Tapi… cara saya yang salah ternyata membuat tingkah Steven semakin sulit diatur, akibatnya saya makin stress, Steven juga makin nakal.

    Hufff… seperti lingkaran setan situasi saat itu. Makin nakal, makin dikerasin, makin menjadi.

    Puncaknya saat Steven masuk playgroup. Saat itu dia berusia 2 tahun lebih. Kevin sudah lahir, berusia 9 bulan. Berbeda dengan Steven, Kevin bayi merupakan bayi yang anteng, tidak banyak tingkah. Tapi mungkin juga karena perbedaan yang mencolok ini tanpa kami sadari kami dan orang-orang sering membanding-bandingkan Steven dan Kevin. Hal itu membuat Steven kecil makin merasa tidak nyaman, tidak dicintai, dan menjadi iri dengan adiknya.

    Hari pertama Steven masuk playgroup saya masih sempat mendampingi. Saat itu dia sudah terlihat tidak nyaman berada di kelas yang tertutup. Tapi karena di hari perkenalan itu dibagikan balon, perhatiannya masih bisa dialihkan. Meskipun ada pemberontakan tapi dia tidak menangis dan hari itu (5 out of 5 based on 356 reviews) Welcome to BubbLe defensive driving SchoolWhere nervous pupils are welcomed with open arms In July 2014, Charlotte R Amazing ! I was very nervous about driving and had very little confidence . bisa dilalui dengan baik.

    Malamnya ayah mertua yang beberapa hari masuk rumah sakit mendadak meninggal dunia. Kami berduka cita dan sibuk mengurusi pemakaman. Steven masih tetap sekolah ditemani oleh pembantu. Sekitar 2 minggu kemudian setelah semua urusan beres, saya baru bisa mendampingi Steven sekolah lagi. Betapa terkejutnya saya karena ternyata Steven bermasalah. Ada orang tua yang melapor kalau anaknya diserang Steven, digigit tangannya, dsb.

    Pagi sebelum kejadian penggigitan itu, kebetulan Steven mengganggu Kevin dan oleh neneknya dia ditegur. Kevin selamat dari gangguan Steven, tapi akibatnya dia mencari pelampiasan ke anak yang lebih kecil dari dia.

    Hari itu saya mendampingi Steven masuk kelas dan saat istirahat masuk ke ruang bermain. Di ruang bermain itu ada castle dan rumah-rumahan. Steven tidak bisa bermain membaur dengan teman lainnya. Tingkahnya susah diatur. Saat dia melihat teman perempuannya yang cantik dan kecil mungil, tiba-tiba Steven menyerang temannya itu sampai leher anak itu merah. Para guru ada yang langsung mengendong anak itu, ada yang berusaha menenangkan Steven. Tak tahu bagaimana perasaan saya saat itu bercampur antara malu, marah, putus asa. Saya sampai sempat bertanya pada wali kelas Steven, bagaimana ini apa Steven masih boleh sekolah di sana…

    Mungkin karena penanganan yang salah, semenjak kejadian itu tingkahnya semakin menjadi. Setiap kali mau berangkat sekolah menjadi masalah baru. Steven berontak tidak mau mandi, tidak mau berangkat sekolah. Kami berusaha membujuk, merayu, dan kerana tidak mempan akhirnya mengancam, memarahi, menghukumnya, dsb. Kalaupun kami berhasil mengantarnya ke sekolah, tetap saja kami harus menahan perasaan karena Steven tidak mau belajar, tidak mau baris, tidak mau masuk kelas, dsb. Semakin lama emosi saya makin meningkat.

    Saya sempat konsultasi dengan kepala sekolah bagaimana sebaiknya menghadapi anak seperti Steven. Sebenarnya kepala sekolah play group saat itu sudah memberi nasehat yang bijaksana. Beliau bilang, “Biarkan saja dulu Bu, jangan dipaksa. Ajak aja Steven main-main ke sekolah, tidak usah pakai seragam. Pagi ajak jalan-jalan, mampir ke sekolah, biarkan dia adaptasi dulu. Kalau hari itu bukan hari dia sekolah pun tidak apa-apa (play group masuk 3 hari dalam seminggu). Dampingi saja, kalau dia tidak mau masuk kelas jangan dipaksa, ajak main-main dulu…”

    Sayangnya nasehat yang bijaksana itu saya lakukan dengan setengah hati. Saya mengajaknya ke sekolah, mendampingi meskipun cuman melihatnya main mobil-mobilan. Kalau Steven sudah bosan ya sudah kami pulang. Tapi melihat kemajuan teman-temannya membuat saya tidak sabar. Dalam pikiran saya saat itu.”Kok enak, si Steven ! Harusnya anak salah ya dihukum biar dia tahu kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi khan.. ?“

    Di rumah Steven saya intimidasi. Saya gemas, kalau seperti itu terus kapan pinternya… Saya lupa kalau saat itu Steven masih berusia 2 tahun lebih…

    Kemudian terjadilah kejadian yang membuat saya berpikir…Sabtu pagi Steven sedang dihukum. Seisi rumah tidak boleh ada yang mengajaknya bermain dan bercakap-cakap. Saya berkata kepadanya,”Karena Steven enggak mau sekolah, ya sudah enggak ada yang mau sama Steven. Kalau Steven pinter, baru papa mama sayang sama Steven. Enggak boleh ada yang ngajak Steven main sampai Steven berjanji mau jadi anak pinter, mau sekolah.”

    Steven kecil berusaha mencari perhatian tapi dilihatnya semua orang cuek. Saya dan papanya membaca koran di ruang tamu. Neneknya membaca koran di ruang keluarga, duduk di lantai sambil koran menutupi wajahnya. Pembantu duduk di sofa sambil menepuk-nepuk Kevin. Akhirnya Steven bilang minta susu. Pembantu membuatkan dan memberikannya tanpa mengucapkan sepatah kata.

    Sambil membawa susu botolnya, Steven mencari tempat yang dirasanya enak untuk minum susu. Dilihatnya box bayi Kevin yang saat itu diletakkan di ruang keluarga. Dia naik ke sana. Box bayi itu lumayan tinggi. Dulu kami membelinya dengan pertimbangan biar bayi aman di dalam box, bahkan saat bayi belajar berdiri. Siapa sangka hal itu malah jadi bumerang saat anak kecil yang membawa botol susu berusaha naik sendiri. Steven kehilangan keseimbangan dan tiba-tiba terdengar gedebug yang sangat keras. Steven terbanting ke lantai dan kepalanya yang terlebih dahulu membentur lantai.

    Setelah itu Steven bilang ngantuk dan pindah ke kamar untuk tidur. Tak lama kemudian dia muntah. Kami menjadi panik, kata orang kalau muntah berarti gegar otak. Steven kami bawa ke rumah sakit untuk dirontgen kepalanya.

    Di rumah sakit Steven berontak, sehingga butuh beberapa orang untuk memeganginya. Waktu menunggu hasil foto, Steven muntah lagi beberapa kali. Ketakutan mulai melanda diri saya. Satu-satunya hal yang membuat saya bangga pada Steven saat itu adalah kecerdasannya. Saat itu ingatan Steven sempat hang saat saya ajukan beberapa pertanyaan. Banyak pertanyaan yang dulunya sudah dikuasainya dijawabnya dengan tidak tahu. Saya menjadi takut. Bagaimana kalau gara-gara jatuh itu terus Steven menjadi bodoh?

    Saya merasa ditegur oleh Tuhan. Apakah begitu tak berharganya Steven sampai saya menyia-nyiakannya seperti itu. Apa saya rela kalau seandainya Tuhan mengambil Steven kembali?

    Sebenarnya yang harus saya lakukan mencintainya dengan sepenuh hati, membantu dan mendampinginya agar bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya, bukannya terus-menerus memarahi dan membuatnya merasa tidak dicintai. Di rumah sakit itu saya berdoa, mohon ampun dan mohon diberi kesempatan lagi. Saya memohon kepada Tuhan agar Steven tetap bisa menjadi anak yang pandai dan mohon supaya kami bisa membesarkan dan mendidiknya dengan baik.

    Singkat cerita dokter bilang tulang kepala Steven tidak ada yang retak, kami boleh pulang dan diberi obat minum. Meski awalnya terasa sulit, saya berusaha keras memenuhi janji saya. Mengubah sikap, tidak lagi marah-marah, berusaha instropeksi diri. Saya berusaha keras tidak memukuli dan mencubitinya lagi. Berusaha lebih dekat, lebih mengerti dia, mengajaknya mengobrol, bercerita,dsb. Semua itu butuh proses dan tidak terjadi secara instan. Tapi pelan tapi pasti semenjak saya berubah, sikap Steven pun berubah menjadi lebih baik.

    Suatu hari saat jalan-jalan ke Gramedia, mata saya seolah terpaku pada buku “Ibu Dengarkan Aku” karangan Dra V. Dwijani. Buku itu masih terbungkus plastik sehingga saya tidak bisa membacanya di sana. Rasanya ada dorongan untuk membeli buku tipis yang berisi kumpulan curahan hati anak-anak pada ibu mereka. Ternyata benar buku itu berhasil membuat hati dan pikiran saya terbuka. Saya jadi tahu kalau jalan pikiran anak-anak seringkali berbeda dengan pemikiran orang dewasa.

    Dalam perjalanan waktu, secara tak sengaja saya menemukan situs sekolahorangtua.com . Kembali saya belajar, ternyata menjadi orang tua yang baik perlu proses pembelajaran.

    Semenjak kejadian itu, keadaan menjadi lebih baik. Hasilnya pun terlihat. Jika di play group A awal Steven sering dirasani orang tua lainnya karena kenakalannya, seiring berjalannya waktu orang mulai melupakan kejadian yang lalu dan memuji kepintarannya. Di play group B Steven berhasil meraih prestasi, menjadi The King (Juara 1 cowok dalam bidang akademis, perkembangan sikap, perilaku, dan aspek-aspek lainnya).

    Di TK dia juga beberapa kali dapat piala karena hal yang berhubungan dengan akademis. Para guru bilang sikapnya baik. Di SD juga perkembangannya bagus. Guru-guru bilang Steven pinter, baik, tidak ada masalah, sikapnya dewasa, mandiri, dan kalimat pujian lainnya.

    Saya bersyukur Tuhan memberi saya kesempatan untuk berubah. Sampai saat ini saya masih terus belajar. Saya belajar bahwa dalam hidup pasti ada permasalahan, yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapinya. Sikap yang salah bisa membawa dampak yang buruk. Sebaliknya bila kita mampu memilih sikap yang benar, permasalahan yang tadinya terasa berat pun bisa terselesaikan dengan baik.

    Saat ini bila melihat antara Steven dan Kevin mulai timbul perselisihan atau rasa iri, saya instropeksi diri. Seringkali hal itu imbas karena perlakuan orang tua yang dirasa tak adil bagi anak. Saat tangki cinta mereka penuh, mereka merasa disayang oleh orang tua dan diperlakukan adil, perilaku mereka pun menjadi baik.

    Hasil instropeksi saya membuahkan hasil yang manis. Bila mereka berselisih, mereka segera minta maaf, langsung bersenda-gurau dan rukun lagi. Sebaliknya, saat tangki cinta mereka kosong, banyak sekali kejadian tidak menyenangkan yang terjadi. Begitu besar peran kita sebagai orang tua…

    Mari kita belajar dari pengalaman orang lain agar mampu menyerap nilai-nilai yang baik dan tidak mengulang kesalahan. Semoga kita semua bisa mengajari anak tekun berjuang mencapai impian, menjadi orang tua yang baik dan memiliki anak yang dapat dibanggakan.

    Nb: Instropeksi dan belajar terus menerus adalah kunci penting menjadi orangtua yang lebih baik lagi.

  • Stop ! Jangan Nilai dan Label Anakku Tersayang !

    “Anak Anda hiperaktif ya ?” Bisik seorang dokter spesialis kulit kepada saya dan suami saya.

    Kaget juga ketika ditanya seperti itu oleh seorang pihak yang kami percaya untuk mengobati kulit anak kami, Kaizen, yang terkena gigitan serangga.

    Hampir 2 tahun, kami membesarkan Kaizen dan tidak sedikitpun kami melihat adanya gejala hiperaktif dalam diri Kaizen. Padahal saya seorang psikolog yang bergerak di dunia anak-anak dan hidup didalamnya. Minat saya dan niat saya adalah ingin membantu orangtua mendidik anak-anak mereka dengan lebih baik lagi. Eee… ada seorang dokter spesialis kulit yang dengan seenaknya sendiri menilai dan melabel anak saya tercinta, hanya dari pertemuan sekali seumur hidup, cuman 5 menit saja.

    Saat itu Kaizen masih berusia 1 tahun 6 bulan. Masa dimana anak-anak ingin memegang segala sesuatu, ingin menaiki segala sesuatu dan ingin semuanya. Pokoknya semua hal adalah baru baginya sehingga menarik untuk dipegang, dilihat dan dinaiki. 

    “Bukan dok, AKTIF bukan hiperaktif.” Demikian jawaban saya sambil sedikit menahan dongkol. Untung saja, dokter itu tidak menanyakan lebih lanjut. Jika iya… mungkin bisa saya kuliahi beliaunya dari A hingga Z tentang anak Hiperaktif.

    Namun… dari pertemuan singkat itu, membuat saya merenung kembali tentang kejadian yang menimpa saya.
    Bagaimana jika pasangan yang ditanya itu bukan kami ?
    Bagaimana jika anak yang dilabel seperti itu bukan Kaizen melainkan anak orang yang lain yang kebetulan memiliki karakteristik aktif seperti Kaizen kemudian di label Hiperaktif oleh dokter spesialis kulit itu ?

    Saya bisa membayangkan orangtua itu pasti akan merasa ada yang salah dengan anaknya. Kemudian segera memeriksakan anaknya kepada pihak-pihak yang dianggap berkompeten. Ketika hasilnya mengatakan bahwa anaknya normal. Orangtua merasa tidak percaya,”Bagaimana bisa normal ? Ini dokter yang mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh dengan anak saya. Dokter spesialis lagi. Anak saya ini tidak bisa diam, pegang sana pegang sini. Kalau diajak ngomong tidak mau liat kearah saya. Diam hanya kalau tidur saja. Kalau sudah bangun tidur, rumah sudah dapat dipastikan berantakan kaya kapal pecah. PERIKSA ULANG ! apa saya perlu bawa ke psikiater atau psikolog lain ?”.

    Ada pengalaman yang terjadi dengan teman saya yang menikah dengan orang asing dan tinggal disana, ikut suami. Anak pertamanya baru berbicara dengan lancar ketika usianya menjelang 3 tahun.

    Apakah ini normal ? Yup… anak ini masih tergolong normal karena sehari-hari ia menggunakan bahasa indonesia dengan ibunya sedangkan jika dengan ayahnya ia menggunakan bahasa mandarin. Saya berani mengatakan anak ini normal karena ia tanggap ketika diminta melakukan sesuatu tapi ia kesulitan untuk mengekspresikan bahasanya. Keadaan ini berarti si anak masih berproses mencerna kata-kata yang ada dikepalanya, antara bahasa indonesia atau bahasa mandarin. Ketika kognitifnya telah mampu mencerna, terbukalah lidah dan bibir si anak, banyak kata yang keluar dari bibir mungilnya.  

    Ada lagi kasus tentang anak usia 2 tahun 4 bulan yang sulit makan, jam tidur yang terbalik antara pagi dan malam, yang jika diajak berbicara tidak mau menatap mata lawan bicaranya, ketika diminta melakukan sesuatu tidak mau tapi ketika tidak diminta, anak ini bisa melakukan dengan benar. Pengasuh barunya sudah merasa ada yang tidak beres dengan anak asuhnya ini dan sudah bingung bagaimana cara membuat anak ini bisa berperilaku normal seperti anak kebanyakan. Tentu saja niat baik pengasuh tidak tepat sasaran karena anak ini sebenarnya adalah anak normal yang berada dalam pengasuhan orangtua yang kurang perhatian. Ayah ibunya sibuk bekerja, sehari-hari ia lebih sering bersama neneknya. Permainannya yang tersering dimainkan adalah playstation. Kondisi keluarga si anak inilah yang menyebabkan anak ini menjadi sedikit terlambat dalam beberapa aspek perkembangannya.

    Orangtua yang baik, terkadang kita ini terlalu mendengarkan orang lain ketimbang anak sendiri. Terkadang pula kita ini tidak mempercayai kemampuan anak kita dan buru-buru menilai anak kita memiliki kekurangan dan bermasalah. Bahkan jika yang melabel anak kita adalah seorang psikolog ataupun psikiater pun, anda harus bersikap tidak percaya dan mencari bukti kebenaran dari label mereka.

    Bagaimana caranya ? BELAJAR !

    Cari tahu tentang perilaku dan ciri anak yang dianggap berkebutuhan khusus. Observasi langsung anak yang memang benar-benar memiliki kebutuhan khusus. Belajar juga ciri anak normal pada umumnya. Terkadang anak normal pun bisa terlihat mirip dengan anak berkebutuhan khusus.
    Jika anda telah memiliki cukup bukti barulah anda bisa mengambil keputusan hendak diasuh dan dididik seperti apa anak kita sesuai dengan kebutuhannya.

    Terakhir ! Refleksikan diri anda. Apakah kita telah menjadi orangtua yang baik bagi anak kita ?

    Fenomena banyaknya anak yang dilabel berkebutuhan khusus mulai meningkat akhir-akhir ini. Ada kemungkinan peningkatan ini bukan disebabkan memang banyak anak lahir dengan kebutuhan khusus melainkan banyak orangtua yang terlalu sibuk untuk bekerja dan sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya, orangtua lupa untuk belajar mengenai perkembangan anak sesuai usianya dan memantaunya.

    Kurangnya pengetahuan ini mengakibatkan orangtua tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh anak usia tertentu tapi mereka menuntut anak-anak mereka mampu berperilaku baik, sopan dan penurut.

    Baik, sopan dan penurut, bukanlah perilaku ajaib yang bisa terjadi dalam sekejap mata. Perilaku ini harus dilatih dan dikembangkan. Ada masanya untuk usia berapa kita sudah mulai bisa mengajarkannya. 

    Perilaku “nakal” yang ditampilkan oleh anak seringkali merupakan akibat dari perilaku kita sendiri. misal anak usia 2 tahun, tidak mau mendengarkan nasihat dari kita, suka melanggar hal-hal yang kita larang untuk dipegang.

    Coba cek ! apakah anda terlalu sering melarang anak kita untuk memegang hal-hal yang sedikit kotor ? Apakah Anda terlalu sering melarang anak untuk tidak naik-naik kursi/meja/jendela ? Apakah Anda terlalu sering untuk meminta anak cuci tangan karena telah memegang tanah ?

    Terlalu seringnya anak usia 1-2 tahun dilarang ini dan itu, bisa menyebabkan anak mengembangkan perilaku membangkang, yang pada akhirnya akan menjadi karakter bandel.

    Masa 1-2 tahun adalah masa eksplorasi bagi anak. Jadi merupakan hal yang wajar jika semua hal adalah baru dan menarik bagi dirinya karena dia memang baru saja melepaskan diri dari sangkarnya. Dari semula yang tidak bisa berjalan kemudian bisa berjalan bebas tanpa harus dipegangi lagi.

    Simpanlah kata larangan Anda hanya untuk hal-hal yang berbahaya dan untuk hal-hal yang memang belum waktunya disentuh. Jika Anda melakukan ini,  niscaya anak akan mendengarkan ketika kita melarang untuk memegang sesuatu.

    Jika kita menerapkan ini maka kita telah menangkal salah satu hukum pikiran manusia (yang aneh) yaitu “Semakin Dilarang Semakin Menarik”.  
    Jadi apa yang harus kita lakukan dengan penilaian orang lain  yang belum tentu benar dan terkadang ngawur itu ?

    Kita tidak bisa menghindari penilaian orang karena penilaian itu adalah hak setiap orang. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana sikap kita dalam menanggapi penilaian mereka yang menurut kita kurang tepat. Kitalah yang paling mengenal diri anak kita bukan orang lain. Kita lah yang paling lama bersama anak kita, jadi jangan biarkan penilaian orang lain membuat kita ragu-ragu terhadap anak kita. Keraguan kita akan sangat jelas terbaca oleh anak kita melalui perilaku kita. Keraguan kita akan berakibat anak pun akan meragukan dirinya sendiri.

    Kita sendiripun sering ragu terhadap diri kita sendiri, mungkin saja hal ini diakibatkan diri kita terlalu sering diragukan  oleh orangtua kita sendiri pada masa lampau.

    Anak-anak itu memiliki perkembangan yang sangat pesat baik fisik maupun psikis. Label yang diberikan secara sembarangan bisa membuat anak kita berhenti berkembang. Apalagi jika label itu menyangkut psikisnya.

    Tahukah Anda bahwa perkembangan yang optimal itu ditopang oleh pondasi psikis yang baik ?
    Tubuh memang boleh cacat tapi pikiran harus tetap prima.
    Pikiran yang prima akan memudahkan kita untuk menangani setiap tantangan kehidupan yang ada.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda Sekeluarga
    Sandra Mungliandi