ArtikelParenting

Kesalahan Fatal Orangtua yang Membuat Anak Malas Belajar dan Kurang Bertanggung Jawab “Bagian (1)”

Suatu hari seorang anak bersama dengan orangtuanya berada klinik konseling saya. Masalah yang dikeluhkan orangtua atas anak ini Aladdin malas belajar, suka membangkang di rumah dan juga di sekolah serta menyendiri tak mau bergaul.

Selain itu juga kurang peduli pada diri sendiri sehingga tak akan makan kalau tidak dipaksa, tidak mau mandi kalau tidak dimarahi sampai suara serak dan juga termasuk malas melakukan hal-hal yang untuk kepentingan peribadinya. dan seakan tak punya tujuan hidup. Anak ini cewek berusia 11 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Anak ini hanya bergaul dengan laptopnya.

Orangtuanya menyatakan pada saya bahwa mereka sudah bosan menasihati si anak. Termasuk menggunakan berbagai macam ancaman dan hukuman yang ujungnya tak mempan juga.

Setelah saya ngobrol dengan kedua orangtuanya (si anak menunggu di luar ruangan) maka saya kemudian meminta waktu untuk berbincang dengan anaknya.

Awalnya si anak diam saja saat saya ajak bercakap-cakap. Hanya menganggukan dan menggelengkan kepala. Dan matanya melihat ke bawah ke arah kakinya. Upppssss … tantangan juga nih kata saya dalam hati.

Lalu saya terpikir untuk membuka laptop karena dari percakapan dengan orangtuanya saya mendapatkan cerita anak ini suka banget dengan laptop.

“Sri (nama samaran), om punya laptop nih. Biasa kamu kalau buka laptop sukanya baca apa atau lihat apa? Kamu punya akun facebook ya ?”, pancing saya membuka percapakan lagi.

Dan kembali lagi saya hanya mendapati jawaban berupa anggukan dan gelengan kepala yang membuat saya bingung.

Lalu saya pancing lagi dengan beberapa pertanyaan seputar laptop dan mengajukan beberapa pernyataan yang intinya saya menjamin bahwa dia boleh cerita apapun pada saya dan saya akan berusaha memahaminya dan berjanji tak akan mengatakan apapun pada kedua orangtuanya.

Tiba-tiba saya dibuat terkejut dengan tatapan matanya yang menatap tajam ke saya dan mengatakan, “ Om janji gak tak akan cerita pada siapapun?”

Wuahhhhh … ini dia yang saya tunggu.

“yup … om janji. Kamu boleh cerita apapun dan aman”, kata saya.

“ Oke, Om saya sebenarnya tidak seperti yang disangka oleh guru-guru saya dan mama papa saya. Saya buka laptop karena saya mengerjakan sesuatu”, kata Sri.
“Maksud kamu apa? Kamu menjalankan bisnis online?”, tanya saya.

“Om janji ya tidak akan cerita pada siapapun juga. Saya akan beritahu Om. Tapi janji ya”, kata Sri sambil menatap tajam pada saya.

Saya kagum juga karena anak ini berani menatap tajam pada saya dan mengatakan sesuatu dengan serius.

Luar biasa sekali, anak ini bukan anak sembarangan. Pasti anak ini punya sesuatu yang tidak diketahui oleh orang-orang dekatnya – kata saya dalam hati.

Dengan menatap tajam dan serius saya menjawab, “Kamu bisa percaya pada Om. Om akan pegang janji untuk tidak bercerita pada siapapun juga. Dan jika Om mau cerita pada mama papamu maka Om akan minta ijin pada kamu. Jika kamu tidak memberikan ijin maka Om tak akan pernah cerita”.

“Om sebenarnya saya membuat sebuah review game dalam blog pribadi saya. Saya sudah menuliskannya sejak 2 tahun lalu. Dan blog saya sekarang mulai dijadikan tolok ukur para gamer yang akan membeli sebuah game. Mereka melihat review saya terlebih dahulu untuk mengambil keputusan membeli sebuah game”, jawab Sri.

Saya hanya terdiam melongo dengan mata terbuka lebar………

Saya tak mampu berkata apapun, hanya menatap tajam pada Sri, bocah 11 tahun yang kurus ceking. Saya hampir meneteskan air mata. Bahkan pada saat saya menuliskan kisah ini, kenangan bercakap-cakap dengan Sri terputar kembali dan mata saya berair.

‘Anak sehebat ini di label dengan berbagai hal negatif seperti yang disampaikan oleh orangtuanya pada saya’ kata saya dalam hati.

Ohhhh … betapa sebagai orangtua seringkali kita kurang mau menggali lebih dalam dan memahami anak-anak kita.

Apakah Anda pernah merasakan seperti yang saya ungkapkan di atas ?

Mau tahu kisah kelanjutan Sri dan mengapa ia menjadi sedemikian tertutupnya pada guru dan kedua orangtuanya ? Apa yang dilakukan orangtuanya selama ini?

Ikuti kisahnya pada artikel berikutnya.

Related Articles

One Comment

Back to top button
Close
Close