Kategori: Parenting

  • Anak Nakal Dilahirkan?

    “Aduh duhh….”. Keluh seorang ibu sambil mengelus dada. “Napa, jeng ?”. Tanya tetangga sebelah rumah dengan nada perlahan. “Jantungnya bermasalah ?”. “E… Bapak Santoso. Nggak pak…”. Jawab ibu tersebut sambil tersenyum malu. “Saya cuman sedang sedih, jengkel dan marah. Campur aduk dah pak. Saya ini kok bisa melahirkan anak yang nakal ? Anak saya ini loh, pak. Bikin saya gemes melihat dan mendengar perilaku anak saya setiap hari. Mulai dari gak mau disuruh belajar, suka bohong, tidak punya semangat kalau ngadepin kesulitan, tidak disiplin ngikutin aturan. Hampir tiap hari saya mendapatkan laporan dari gurunya dan hampir setiap hari saya harus teriak-teriak di dalam rumah untuk mendisiplinkan anak saya. Saya jadi gak tahan ada di rumah, penginnya kerja melulu. Daripada pulang, kemudian ketemu anak saya… terus harus ngadepin kenakalan anak saya.” Cerocos ibu itu tanpa bisa di rem. Benarkah anak nakal dilahirkan ? Setiap anak memang dilahirkan. Tidak ada seorang anak yang hidup di dunia ini tanpa melalui proses kelahiran. Jadi kalimat diatas 50 % tepat tapi 50 % lainnya salah ! Kenakalan ada dalam diri anak bukan karena dilahirkan. Bukan karena takdir. Bukan juga karena turunan / warisan dari kakek nenek moyang. Kenakalan terjadi karena pembentukan dari lingkungan. Karena kenakalan tidak termasuk warisan gen maka tentu saja bisa dicegah agar tidak terbentuk. Bagaimana mencegahnya? Kenakalan pada anak terjadi, hampir selalu diawali dengan satu kesalahan yaitu kesalahan dalam proses komunikasi. Komunikasi sendiri merupakan suatu proses yang membutuhkan kemampuan memahami dan menyampaikan ide/perasaan kepada orang lain. Kesalahan terbesar dan terbanyak yang dilakukan oleh orangtua dalam berkomunikasi adalah kegagalan untuk memahami anak terlebih dahulu (memahami karakter anak, memahami bahasa cinta anak, dan memahami kebutuhan anak). Berapa banyak dari kita yang meminta anak untuk memahami kita terlebih dahulu dan mengerti keinginan kita. Pernahkah kita meminta anak seperti ini : “Ibu yang melahirkan kamu, jadi ibu yang paling mengerti keinginan kamu.“ Atau, “Ayah yang menyekolahkan kamu sampai tinggi. Ayah juga yang memberi kamu makan nasi bukan batu. Jadi sudah sepantasnya kamu berbakti dan taat kepada ayah !”. Ketika kita gagal memahami anak maka anak akan berusaha mencari AKAL agar bisa dipahami oleh kita yaitu dengan melakukan hal yang tidak kita sukai atau sebaliknya. Akal-akal yang nakal inilah yang membuat kita pusing 7 keliling. Apa saja yang perlu kita pahami terlebih dahulu dalam diri anak agar komunikasi bisa berjalan dengan mulus ?

    • Tipe kepribadian anak Anda sehingga Anda bisa mengetahui apa yang disukai atau dibenci oleh anak Anda. Anda juga akan mengerti bagaimana memberikan motivasi sesuai dengan tipe kepribadian anak Anda.
    • Cara salah yang sering digunakan orangtua dalam menasehati anaknya mengakibatkan anak tumbuh menjadi seseorang yang sering ragu-ragu, tidak percaya diri dan sulit mengambil keputusan.
    • Cara berkomunikasi agar anak mau mendengarkan dan fokus dengan apa yang disampaikan orangtua.
    • Mengenali bahasa cinta anak Anda. Berbicara dengan bahasa cinta yang tepat akan membuat anak benar-benar merasa dicintai oleh orangtuanya.

    Jadi, jika ada SATU SKILL PENTING yang harus dimiliki oleh setiap orangtua, skill itu adalah bisa berkomunikasi efektif dengan anak. Anak menjadi merasa dicintai dan dimengerti oleh orangtuanya. Itulah SKILL TERPENTING yang perlu dimiliki oleh semua orangtua. Semoga artikel singkat ini bermanfaat dan memberikan perspektif baru bagi Anda semua dalam berkomunikasi dengan anak Anda. Silakan beri komentar Anda tentang artikel ini di bagian bawah. Kami akan senang sekali mendengar komentar Anda. NB: Oh ya, Sekolah Orangtua memiliki paket Effective Communication in Parenting yang menjelaskan secara detil semua hal yang berhubungan dengan cara komunikasi efektif dengan anak. Lebih dari 6 jam pembelajaran bisa Anda peroleh dari paket DVD dan CD tersebut. Dalam rangka menyambut Ulang Tahun Kota Surabaya tgl 31 Mei nanti, Sekolah Orangtua akan melakukan SALE dan BIG DISCOUNT sebesar 40% untuk Paket Effective Communication in Parenting ini . Jadi dari harga semula Rp 500.000,- menjadi Rp 300.000,- (Hemat Rp 200.000,-). Detil dari paket ini bisa dilihat di halaman paket ini. SALE DISKON 40% HANYA selama 3 hari saja yaitu Selasa tanggal 31 Mei, Rabu 1 Juni dan Kamis 2 Juni. Bagaimana prosedur pembelian? Bisa dibaca di halaman Cara Berbelanja. Semoga bermanfaat! Sukses selalu buat Anda!

  • Mana Model Pengasuhan Sementara yang Cocok untuk Ibu Bekerja ?

    Dunia ini memang sudah sangat berubah, jika dibandingkan dengan keadaan 15 tahun yang lalu. Peran pencari nafkah saat ini, tidak lagi diemban oleh ayah seorang saja. Ibu pun sudah harus ikut turun gunung agar asap dapur tetap mengepul dan gaya hidup bisa terakomodasi. Penghasilan dari 1 pintu saja, tidak cukup untuk digunakan di jaman sekarang.

    Konsekuensi dari perubahan ini paling berdampak pada kehidupan anak. Anak tidak lagi sering bertemu dengan ayah ibunya. Ia lebih sering bergaul dengan pengasuh, nanny, ataupun baby sitternya dibandingkan dengan kita. Bahkan tak jarang, pertemuan keluarga inti yang lengkap, hanya bisa dilakukan di hari sabtu minggu. Itupun jika tidak ada perjanjian bisnis mendadak atau panggilan bos di hari libur. Ironis bukan ?

    Ya…. Ada sisi baiknya sich dari perubahan fenomena ini yaitu munculnya lapangan kerja baru bagi para pengasuh anak. Jadi tidak perlu ke luar negeri menjadi TKI/TKW, cukup di dalam negeri mengasuh (dan kalau bisa mendidik) anak bangsa penentu masa depan negara ini. Atau munculnya Rumah Anak/Tempat Penitipan Anak.

    Nah… permasalahan yang sering muncul dalam pengasuhan modern ini adalah memilih pengasuh yang cocok dan top ! Ketepatan dalam memilih pengasuh akan sangat membantu anak mengembangkan dirinya agar berkembang optimal. Kesalahan memilih pengasuh, tentu saja akan berdampak pada masa depan anak.

    Contoh nyata (dan memang benaran terjadi !) mengenai kesalahan dalam memilih pengasuh terjadi pada Raja Inggris, George VI, ayah dari ratu Elizabeth II sekarang. “Lo kok bisa ? itu kan raja. Bisa juga ya salah memilih pengasuh.”

    Yup. Nanny (panggilan pengasuh di Inggris) yang dipilih untuk mengasuh Raja George VI bukan nanny yang peduli ataupun berkarakter nurturing. Ia bertipe nanny yang keras dan tidak memahami kebutuhan anak. Akibat dari kesalahan dalam memperlakukan George kecil, George tumbuh dewasa dengan mengidap penyakit stutering/gagap. Gangguan bicara ini harus diidap oleh George hingga ia dewasa bahkan ketika ia dilantik menjadi raja. Demikian dahsyatnya kesalahan pengasuhan di masa kecil yang berdampak pada keseluruhan hidup seorang anak.

    Pada dasarnya, pengasuh dan anak merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena keterbatasan seorang anak maka ia membutuhkan orang dewasa untuk mendampinginya sebelum ia menginjak dunia dewasa itu sendiri. Siapapun pengasuhnya, bisa anda sendiri sebagai orangtua maupun seseorang profesional yang anda bayar karena anda tidak memiliki waktu untuk mengasuh, anda perlu cermat dalam mengenali karakteristik yang sesuai.

    Anak dan pengasuhnya itu dapat diibaratkan penari balet berpasangan yang biasa disebut pas de deux. Penari wanita dapat menari dengan bebas, melompat kesana kemari dan berputar ke kanan kiri, hal ini karena kerjasama yang jempolan dengan penari prianya. Coba anda bayangkan jika penari pria tidak memiliki karakter penari balet yang baik yaitu kemampuan menari, kemampuan untuk membaca timing (waktu) kapan si penari wanita akan meloncat, dan kemampuan fisik untuk mengangkat tubuh si penari wanita. tentu penari wanita akan mengalami kesulitan untuk mengekspresikan tariannya.

    Pengasuh itu sama seperti penari pria, ia harus mampu menopang penari wanita tapi juga perlu menjaga keharmonisan gerakannya agar dapat memperindah tarian itu.

    Jadi… pengasuh seperti apa yang akan Anda pilih untuk menemani buah hati Anda sepanjang hari ?

    Saat ini, pilihan pengasuh sudah beragam. Kita bisa memilih memasukkan anak di sebuah Tempat Penitipan Anak (TPA), membayar nanny profesional, baby sitter part time, atau pembantu rumah tangga.

    Rumah Anak

    Dalam artikel ini, saya lebih sreg menggunakan istilah Rumah Anak dibandingkan dengan Tempat Penitipan Anak karena penggunaan kata titip berkesan seperti barang.

    Jadi poin utama untuk memilih RA yang baik adalah apakah mereka memperlakukan anak-anak disana sebagai seorang individu atau sebagai barang yang sekedar dititipkan. Cari tahu mengenai masalah ini dengan melihat program yang ditawarkan oleh mereka. Jangan tergiur dengan fasilitas yang disediakan karena fasilitas tidak menjamin perlakuan terhadap anak.

    Anak-anak itu sangat sederhana (kalau memang tidak dibiasakan bermain dengan barang elektronik). Mainan apapun bisa menjadi mainan bagi mereka. Bahkan bawang merah ataupun peralatan dapur sudah bisa menjadi mainan bagi anak usia toddler (1.5-3 tahun).

    Perlakuan apa yang perlu kita cek ?

    1. Karakter pengasuh/nanny : ramahkah ia ? Strategi apa yang telah ia siapkan untuk menghadapi perilaku rewel anak ?
    2. Person in charge/penanggung jawab tempat
    3. Program kegiatan harian anak.
    4. Kebersihan tempat.
    5. Penanganan emergency

    Keunggulan dari RA ini adalah adanya sistem pengawasan dari Penanggung jawab sehingga kesalahan bisa segera dibetulkan. Anak pun bisa enjoy karena banyak teman dan permainan.

    Nanny Profesional vs Baby Sitter Part Time

    Di Indonesia terjadi kesalahan penggunaan istilah pengasuh ini. Istilah baby sitter lebih banyak digunakan untuk menjelaskan pengasuh yang seharian menjaga dan merawat anak. Padahal pada kenyataannya, istilah yang tepat untuk pengasuh, penjaga dan perawat anak yang bertanggung jawab pada kegiatan sehari-hari anak adalah nanny. Sedangkan baby sitter merupakan pengasuh anak yang hanya bekerja menjaga dan merawat anak beberapa jam sehari sesuai perjanjian dan kebutuhan. Karena bertugas menjaga hanya beberapa jam, biasanya bisa menggunakan tenaga remaja ataupun mahasiswi.

    Untuk nanny, biasanya telah memiliki bekal keterampilan mengasuh anak. Yang kurang dicermati adalah kesehatan, karakter dan pola pikir dari nanny. 2 hal ini biasanya luput dari perhatian orangtua ketika menscrening seorang nanny.

    Kesehatan disini menyangkut kesehatan fisik dan kesehatan mental. Pengetahuannya mengenai kebersihan anak, kesehatan anak dan kemampuannya untuk menjaga kebersihan anak, peralatan yang digunakan anak dan lingkungan tinggal anak.

    Karakter yang sebaiknya dimiliki oleh seorang nanny adalah ceria, sabar dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak.

    Pola pikir yang perlu dimiliki oleh seorang nanny adalah kemauannya untuk belajar hal baru dan beradaptasi dengan aturan baru. Karena setiap rumah pasti memiliki aturan dan cara memperlakukan anak berbeda-beda.

    Selain itu, pola pikir yang perlu dicek dari si nanny adalah apa definisi seorang anak bagi si nanny. Apakah hanya sekedar seorang anak yang perlu diperhatikan kebersihannya saja ? ataukah sekedar seorang manusia yang perlu diperhatikan kesehatan dan perlu diberikan stimulasi kecerdasan ?

    Nilai nilai hidup yang dianut oleh si Nanny juga perlu dicek oleh kita. Jika nanny memiliki nilai hidup : hidup ini harus dinikmati, tidak perlu lah terlalu keras bekerja, nanti bisa stres. Jika ia memiliki nilai hidup seperti ini maukah anda memintanya menjaga si kecil ?

    Di RA, screening ini juga perlu kita lakukan untuk melihat apakah karakter pengasuh yang disediakan oleh RA cocok dan sejalan dengan nilai-nilai hidup kita.

    Pembantu Rumah Tangga

    Mempekerjakan pembantu rumah tangga untuk mengurus rumah sekaligus menjaga anak kita memiliki keuntungan sekaligus kerugian.

    Keuntungan yang bisa kita peroleh adalah harga murah yang kita bayar untuk 2 pekerjaan sekaligus. Keuntungan kedua adalah jika kita mendapatkan PRT yang jempolan, bagus dalam proses berpikirnya maka anakpun akan ketularan kecerdasannya. Bagaimana jika tidak ?

    Kerugiannya adalah biasanya fokus perhatian yang terpecah bisa menyebabkan PRT menggunakan cara menakut-nakuti anak agar anak mau dan menurut kepadanya sehingga PRT pun bisa mengerjakan tugas RT.

    Cara mana yang paling benar ?

    Tidak ada yang paling benar dalam memilihkan pengasuh yang paling cocok dengan kita. Yang ada adalah mencari model pengasuh yang tepat dengan karakter anak, karakter kita, dan situasi kita. Pilihan ada di tangan kita. Karena pengasuhan paling ideal adalah diasuh oleh ayah ibu sendiri. Nanny ataupun RA hanya lah sekedar alat untuk membantu kita. Jadi pilihlah alat yang cocok dan sesuai dengan anak dan diri Anda.

    Alat bantu untuk sreening yang populer saat ini adalah graphologi, deteksi karakter manusia melalui tulisan tangannya. Ada karakter tulisan tangan tertentu yang sebaiknya dihindari ketika mempekerjakan seorang pengasuh. Untuk saat ini, Graphologi adalah cara deteksi yang paling mudah dan sudah terbukti keakuratannya dalam pekerjaan saya mendeteksi pengasuh.

    Semoga apa yang sudah dijelaskan sejauh ini bermanfaat bagi Anda. Tolong beri komentar atau feedback di bawah ini, pendapat Anda tentang artikel ini dan apakah Anda ingin mendapatkan artikel lebih lanjut ttg topik ini atau topik lainnya.

    Salam Hangat Penuh Cinta

  • Pertengkaran Orangtua Menciptakan Hambatan Mental Pada Anak

    Jam menunjukkan pukul 19.00 ketika seorang klien yang sebelumnya telah mengadakan janji temu masuk ke ruang terapi saya. “Selamat malam Pak…., apa kabar, apa yang dapat saya bantu untuk Bapak” sapa saya mengawali pembicaraan. Dengan suasana santai dan nyaman, klien tersebut kemudian menceritakan permasalahan yang tengah dialami seputar usaha pribadi yang dimilikinya.

    “Saya bukan berasal dari keluarga kaya Pak” lanjutnya dalam pembicaraan kami. “Semuanya saya awali dari nol dengan modal usaha yang sangat minim”. “Hingga akhirnya saya dapat terus berkembang membangun usaha sendiri yang saat ini memiliki banyak cabang di Jogjakarta”.

    Dari cerita klien tersebut saya kemudian justru mendapatkan satu inspirasi yang sangat luar biasa. Berawal dari statusnya yang hanya sebagai pegawai biasa di sebuah counter handphone dengan gaji pas-pas an hingga akhirnya memiliki usaha sendiri dengan banyak cabang, ditambah beberapa mobil dan rumah mewah, dengan usia yang relatif masih muda, jauh dibawah saya. Wow menarik bukan?

    “Beberapa waktu ini usaha yang saya jalankan sedikit mengalami hambatan, Pak” ujarnya. “Saya merasa bahwa harusnya saya bisa lebih maju dan berkembang. Namun sekarang ini rasanya kok mandek ya, stuck nggak bergerak. Masa dalam dua tahun terakhir ini tidak ada perkembangan sama sekali?”….. “Memang sih hasilnya masih cukup baik, namun dengan kapasitas modal dan karyawan yang ada, harusnya terjadi peningkatan juga dalam usaha saya ini. Kalau tidak nanti ke depannya akan semakin berat dalam persaingan”
    Pembicaraan terus berlanjut dan saya mencoba menggali informasi lebih banyak lagi. Pada akhirnya saya menemukan suatu penjelasan yang cukup unik yang saya rasakan sebagai sumber penyebab dari tidak berkembangnya usaha yang dijalankan tersebut.

    Begini ceritanya, setelah menempati kantor baru sebagai pusat kegiatan usahanya tiga tahun lalu, banyak rekan dan sahabat yang datang berkunjung hampir setiap hari. Wajar saja bila pada akhirnya mereka sangat kagum dengan perkembangan dan hasil yang telah dicapai oleh klien saya ini. Mengingat bagaimana kondisinya sejak awal merintis usaha, mungkin tidak salah bila saya istilahkan “from zero to hero” he he he… Mau tak mau pujianpun mengalir dari masing-masing teman dan sahabatnya. “Wah anda memang hebat ya Pak”, “Sukses yang luar biasa Pak”, “Bisnis anda sangat besar sekali” adalah beberapa komentar dan pujian yang sering disampaikan padanya.

    Namun bagaimana cara klien saya menanggapinya ternyata justru menjadi bumerang di kemudian hari yang tidak pernah disadarinya. “Ah enggak kok” jawabnya. Atau “Biasa aja lah”, “Jangan terlalu memuji”, “Saya masih belum apa-apa”, “Ah saya nggak ada apa-apanya”, jawaban-jawaban inilah yang sering dan berkali-kali klien saya ucapkan menanggapi pujian-pujian tersebut. Dan itu terus berlanjut hingga saat sebelum bertemu saya.

    Yang menarik adalah mengapa klien mengucapkan itu berkali-kali? Bukankah ini memperkuat atau bahkan bisa menyebabkan mental blok baru? Sebab dengan mengacu pada prinsip kerja pikiran, sesuatu yang dilakukan berulang kali (repetisi) secara konsisten, maka hal tersebut dapat menjadi suatu hal yang diyakini (belief). Dalam konteks bila keyakinan itu bersifat negatif, secara otomatis akan menjadi mental block yang menghambat kemajuan diri kita dan apa yang kita lakukan.

    Nah saya mulai menggali lebih dalam mengapa klien mengucapkan itu berkali-kali. Saya menanyakan beberapa pertanyaan untuk mempertajam analisa dan dugaan saya tentang proses terbentuknya mental blok itu. Saya tanya lebih detail apa perasaannya saat mengucapkan kalimat tersebut sebab bila kita perhatikan jawaban-jawaban yang diberikan klien saya ini dalam menanggapi pujian yang ditujukan kepadanya, semuanya berkonotasi negatif bukan?

    Saya paham bahwa sebagai orang timur dan khususnya karena klien saya ini berasal dari Jogjakarta, mungkin maksud dari jawaban tersebut adalah untuk menunjukkan kerendahan hati dan menghindari kesan sombong atau tinggi hati. Namun intuisi saya sebagai terapis menangkap sesuatu yang sepertinya menjadi petunjuk penting untuk menyelesaikan kasus ini. Lagi pula suatu kalimat yang diulang berkali-kali dapat berubah menjadi belief dan mental blok yang benar-benar diwujudkan secara tidak sadar. Bahwa usahanya itu masih biasa saja, masih belum apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Disinilah terjadi proses sabotase diri yang tidak pernah disadari klien sama sekali.

    Singkat cerita saya kemudian melakukan terapi pada klien saya tersebut untuk menghilangkan belief dan mental blok yang menjadi penghambat kemajuan usahanya.

    Dengan salah satu tehnik terapi yang saya pelajari di kelas Akademi Hipnoterapi Indonesia, saya menemukan root cause atau akar permasalahan yang menyebabkan atau melatar belakangi ucapan-ucapan tersebut.

    Ternyata kejadian yang memicu semua ini dialami oleh klien saya pada saat dia berusia delapan tahun. Klien melihat pertengkaran kedua orangtuanya untuk yang kesekian kalinya. Namun yang online casino kali ini dilihatnya adalah yang paling heboh dan seru hingga akhirnya kedua orangtuanya bercerai dan usaha mereka mengalami kebangkrutan.

    Kejadian ini begitu membekas, memunculkan perasaan tidak berdaya, tidak mampu, tidak percaya diri, tidak dapat berbuat apa-apa atas peristiwa yang terjadi. Sebagai seorang anak ia tentu mengharapkan kedua orangtuanya rukun. Namun apa daya ia tak sanggup membuat itu terjadi. Dan …… bennnnngggggg! Sebuah perasaan tak mampu terbentuk melalui serangkaian self talk pada anak tak berdaya ini. Ditambah dengan emosi negatif yang dirasakan saat itu maka lengkaplah sudah proses terbentuknya citra diri pada si anak. Citra diri – saya tak mampu, saya biasa saja – ini tertanam kuat dalam memori pikiran dan berguna sebagai landasan berpikir dan bertindak saat anak kecil 8 tahun ini beranjak dewasa.

    Citra diri inilah yang kelak akan terwujud dalam kehidupan seseorang. Ini seperti sebuah ramalah yang menjadi kenyataan.

    Akhirnya saya membantu klien melihat kejadian itu dengan sudut pandang berbeda dan kemudian memaknai ulang peristiwa tersebut dengan kesadaran dewasanya. Lalu setelah itu saya minta klien membantuk gambaran mental baru yang ia inginkan dengan teknik tertentu juga yang terlalu teknik diceritakan di sini. Singkat cerita terapi berakhir dan klien merasa plong. Seakan sebuah batu besar yang selama ini digendong kemana-mana telah diletakkan dan tak perlu dibawa lagi.

    Dua bulan setelah sesi terapi berakhir, di awal Juni 2010 saya mendapatkan kabar bahwa usaha yang dijalankan oleh klien saya mulai ada peningkatan dan berjalan sesuai yang diharapkan. Pesanan tiba-tiba saja datang dari pihak-pihak yang tidak pernah berhubungan sama sekali. Bahkan kinerja karyawan pun membaik. Malah pada akhirnya klien saya ini menyampaikan bahwa dia sedang mengatur waktu dan meminta saya untuk memberikan training beserta sesi terapi untuk keseluruhan karyawannya.

    Kasus klien saya ini mengingatkan saya pada cerita Aladin dan lampu wasiat. Dimana Sang Jin akan mewujudkan dan mengabulkan permintaan yang disampaikan. “Your wish is my command”.
    Demikian juga dengan hukum yang ada di alam semesta ini. Bukankah apa yang kita pikirkan dan ucapkan adalah apa yang akan kita dapatkan dan diwujudkan dalam hidup kita? Oleh karenanya berhati-hatilah dengan apa yang Anda pikirkan dan ucapkan, karena semuanya dapat menjadi suatu keyakinan yang akan diwujudkan dalam kehidupan nyata.

    Dan setelah menyadari dampak dari ucapan dan pikiran yang muncul maka carilah dengan kesadaran diri awal mula mengapa itu terjadi. Tak ada sebuah akibat terjadi tanpa sebab, betul?

    Bagaimana jika kesadaran diri kita tak sanggup menjangkau area dimana penyebab itu terjadi? Nah itulah saatnya kita membutuhkan pihak profesional untuk mencari dan melepaskan beban emosional tersebut.

    Salam hangat penuh cinta untuk para orangtua Indonesia
    Andreas S.(Certified Trainer Sekolah Orangtua Jogjakarta dan Champion Mindset Coach)

  • MENYAYANGI DAN MEMPERHATIKAN ANAK TIDAK PENTING…!

    “Bagaimana tidak keterlaluan anak saya ini pak ?! Saya sudah menyekolahkan dia ke Singapura dan semua fasilitas sudah saya sediakan, tapi…apa nyatanya ? Saya tidak minta ke dia yang muluk-muluk, harapan saya supaya ia bisa sukses, berhasil menjadi orang yang terpandang. Namun semua harapan itu lenyap kalo melihat dia seperti sekarang ini. Sia-sia saya mengirim dia ke Singapura sejak kecil.” Cuplikan kasus diatas adalah sebagian kecil keluhan selama 2 jam, seorang ibu yang menterapikan anaknya ke tempat saya. Ini adalah fenomena umum yang sering terjadi dalam sebuah keluarga yang terapi ke tempat kami dan jumlahnya sudah ratusan. Seringkali banyak orangtua menaruh harapan yang tinggi pada anak mereka tanpa melibatkan anak itu sendiri. Dengan bungkusan alasan “Kan’ semua demi masa depan anak, demi kesuksesan anak.” Apakah benar demi anak ? Apa bukan memenuhi ego kita ? Padahal makna sukses bagi setiap orang berbeda-beda, tak terkecuali anak kita. Masalah kebanyakan orangtua adalah selalu merasa lebih tahu mengenai yang terbaik untuk anak kita daripada anak itu sendiri. Dengan dalih, kita lebih berpengalaman karena usia kita lebih tua dibandingkan anak kita yang umurnya masih bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Kita lupa, setiap manusia diciptakan unik. Kita masing-masing memiliki kelebihan, kekurangan dan potensi sendiri. Pengalaman adalah guru, itu benar tapi tidak semua pengalaman kita cocok dengan kondisi anak kita. Pengalaman tidak selalu menjadi guru yang terbaik. Pada kasus di atas, saat kami ngobrol di dalam ruang terapi, Roy ( bukan nama sebenarnya ) justru ia merasa hal yang berbeda dengan pemikiran orangtuanya. Saat ia dikirim ke Singapura, justru ia mengalami TEKANAN HIDUP yang LUAR BIASA !!! Roy sebenarnya tidak siap dilepas untuk hidup mandiri tanpa orangtua. Setiap hari ia menangis namun orangtuanya selalu hanya memberi nasihat dan mendorong ia untuk tetap bertahan. Orangtuanya berdalih bahwa hal itu hanya sementara, nanti toh akan terbiasa (inilah nasihat klasik yang sering orangtua lontarkan saat mereka ingin agar anaknya bisa memenuhi harapannya.) Yang terjadi kemudian, Roy diusianya ke 18 ditarik pulang dengan kondisi sudah hancur mentalnya. Orangtuanya masih beranggapan bahwa Roy menjadi seperti ini karena kesalahannya sendiri. Apakah masalahnya selesai saat Roy ditarik pulang ??? TIDAK !!! Masalah menjadi lebih parah, karena kemudian ia terlibat penggunaan obat penenang sampai akhirnya harus masuk program rehabilitasi. Inikah yang dinamakan MENYAYANGI DAN MEMPERHATIKAN ANAK ??? Kalau seperti ini, mungkin lebih baik tidak menyayangi dan memperhatikan anak. Lho kenapa ? Anda penasaran ? Mari kita mencermati kalimat “Saya menyayangi dan memperhatikan anakku”. Siapa yang menjadi subjek atau fokus utama dalam kalimat itu ? Ya, saya. Saya sebagai orangtua. Sedangkan anak hanyalah sebagai objek atau penerima dari rasa sayang dan perhatian itu. Kata “Menyayangi dan Memperhatikan“ lebih mengandung makna sesungguhnya demi kepentingan kita. Jadi kita perlu berhati-hati karena ada kemungkinan cara/gaya kita mencintai anak kita tidak sesuai dengan kebutuhan anak kita. Padahal keinginan kita yang sesungguhnya adalah membuat anak merasa disayangi dan diperhatikan bukan ? Jadi kalimat yang lebih tepat adalah “ Anak-anak perlu MERASA DISAYANGI DAN DIPERHATIKAN oleh kita, orangtua“ . Di sini anak-anak adalah subyeknya. Jadi menyayangi dan memperhatikan anak dapat menyebabkan kita terjebak pada keinginan kita untuk mencurahkan kasih sayang itu tapi tidak memperhatikan apakah curahan kasih itu telah tepat guna atau belum. Apalah guna kita menyayangi anak tapi ia tidak merasa disayang . Jadi yang terpenting adalah bagaimana membuat anak itu merasa disayangi oleh kita. Selama ini kebanyakan orangtua mengatakan hal sebagai berikut, “Pokoknya, saya sudah merasa menyayangi dan memperhatikan, tidak peduli mereka merasa atau tidak “, sama artinya kita memposisikan anak kita sebagai obyek ego kita, bukan sebagai seseorang yang penting yang perlu kita cari tahu cara untuk membuat dia merasa disayang. Karena itulah, kenapa banyak orangtua mengeluh,”Kenapa ya ? Anak saya merasa bahwa saya belum menyayangi mereka dengan optimal ?”. Demikian pula anak-anak juga mengeluhkan orangtuanya bahwa mereka tidak merasa telah disayangi oleh orangtua mereka. Jika kita mampu menjadikan anak kita sebagai subjek (fokus utama) yang perlu disayangi maka kita akan mencari tahu cara-cara dan hal-hal yang dapat membuat ia merasa dicintai dan diperhatikan. Jika kita merasa bahwa kita telah menyayangi dan memperhatikan anak ada kemungkinan kita mencintai dan menyayangi anak dengan cara/gaya kita (yang belum tentu cocok dengan gaya anak kita). Dengan kata lain anak hanyalah sebagai pihak objek/pasif yang menerima curahan kasih sayang. Karena siapa sih yang mau jadi obyek ? Dulu, kita adalah obyek binaan orangtua, orangtua kita adalah obyek binaan kakek / nenek kita dan seterusnya dan seterusnya. Kita sekarang tanpa sadar melakukannya pada anak-anak kita ( pembalasan nih ye ! ), betul ? Menjadi objek sama seperti sebuah boneka yang selalu mendapatkan curahan kasih sayang dari pemiliknya. Boneka itu selalu dibawa kemana-mana, dimandiin, diberi baju, diajak main. Tapi apakah itu kebutuhan dari si boneka ? Apakah boneka merasa bahagia ? Jika si pemilik proaktif dan si boneka dapat bicara maka si pemilik perlu memperlakukan si boneka sebagai subjek dengan memperhatikan atau menanyakan hal-hal yang dapat membuat boneka itu bahagia. Jadi mana yang lebih penting, mencintai /memperhatikan anak atau anak merasa dicintai dan diperhatikan oleh kita ? Tentunya dicintai dan diperhatikan oleh kita. Mari kita telusuri kembali pemahaman dan tujuan kita membangun keluarga, untuk mencapai kebahagian bukan ?. Kebahagiaan bisa tercipta ketika ada cinta dan perhatian. Berikut ini adalah tips instan untuk mengetahui apakah anda sudah mencintai dan menyayangi anak anda. Tanyakanlah kepada buah hati anda pertanyaan berikut ini, pertama,”Apakah ia sudah merasa dicintai dan disayangi oleh Anda”. Kedua, “Kapan saat kamu merasa sangat disayang dan dicintai oleh mama dan papa”. Atau “Apa yang perlu kami lakukan agar kamu merasa dicintai dan disayangi oleh mama dan papa ?”. Cara lain yang dapat membantu Anda untuk membuat anak merasa disayang dan dicintai adalah BELAJAR mengenai pengasuhan !. Anda dapat belajar pengasuhan melalui program-program yang telah dirancang dengan cermat oleh Tim Sekolah Orangtua untuk membantu orangtua menjalin kedekatan emosi dengan anak-anak mereka. Salah satu program yang dapat diikuti adalah Super Family Class dan Super Parenting. Namun jika anda memiliki keterbatasan waktu maka Sekolah Orangtua juga menyediakan sarana pembelajaran yang dapat bapak dan ibu pelajari dari rumah. Khusus untuk membantu menjalin kedekatan emosi dengan anak, terdapat CD audio Tangki Cinta atau teknik berkomunikasi dengan anak. Silahkan memilih program ataupun produk sekolah orangtua yang paling cocok dengan gaya anda. Salam hangat, Hemmarata, C Ht ( Family Hypnotherapist & Certified Trainer Sekolah Orangtua )

  • HAL YANG BISA ANDA AJARKAN PADA ANAK ANDA SEJAK DINI

    Halo para orangtua Indonesia… Apakah anak anda usianya 0 -3 th? APAKAH ANDA INGIN LEBIH MUDAH MENGURUS ANAK KELAK SAAT DIA BESAR NANTI? Biasanya jawaban kita YA. Yang mau saya bahas disini adalah mengenai usia 0 -3 th. Seperti kita tahu kalau umur 0-3 th disebut sebagai golden age. Kita seringkali memberikan stimulasi bahasa , berikan flash card dll. Nah kali ini saya meninjaunya dari segi penanaman nilai-nilai hidup dan kebiasaan. JIKA ANDA INGIN ANAK ANDA SAAT LEBIH BESAR MENONTON TV DENGAN JARAK NORMAL Lakukan itu mulai sekarang. Yup! Mulai ketika anak anda sebelum 3 th. Biasanya,kebanyakan orang sih…dan saya yakin bukan anda, mengatakan kepada anaknya : “Ayo, nonton tv-nya jangan dekat-dekat” Mulailah sekarang ganti strategi “ayo, nonton tv-nya dari sini ya! (sambil menunjukkan tempatnya)” Ketika anak belum mundur, tarik si anak dan dudukkan di tempat yang anda tunjuk. Ketika dia mencoba maju lagi,ambil dan dudukkan kembali. Anak kemungkinan akan menangis… tak apa, ini lumrah kok….kita kan memberi dia pelajaran. Dampingi saja dan katakan “kamu marah ya? Ayah / Ibu mengerti kok” lalu berikan pengertian “kalau nonton TV dari sini”(sambil tunjuk tempatnya). Biasanya anak akan mulai mengerti, namun jangan anda pikir, anda cukup melakukannya sekali. Anda harus sering2 mengingatkan dia sampai terbentuk kebiasaan itu. Anak kemungkinan masih akan tetap maju, tetap ingatkan…dan beri konsekuensi kalau dia tidak mau mundur -> matikan TV nya. Jika anda konsisten menerapkan ini, dijamin ketika anda mau hidupin TV secara otomatis anak anda akan duduk ditempat yang telah anda tentukan. JIKA ANDA TIDAK INGIN SAAT ANAK ANDA LEBIH BESAR ANDA SELALU MENGINGATKAN UNTUK MEMBERESKAN MAINANNYA…LAKUKAN DI GOLDEN AGE Ketika tangan anak anda sudah mulai kuat untuk memegang suatu benda,gerakan motoriknya sudah bagus, saatnya anda men”training” anak anda untuk mengembalikan mainannya. Tentu saja anda harus melatihnya, tak bisa dengan hanya memerintahkan saja secara verbal ” ayo kembalikan mainannya!” anak tak akan jelas dengan kalimat anda. Anda bisa mulai dengan mengambil mainannya dan menyuruh dia untuk memasukkannya di box yang kosong. Sambil memasukkan, anda beri pelajaran juga, misal yang anda suruh masukkan mainan online casino nederland pisang, katakan: ” Ini pisang warna kuning, ayo masukkan” Disini anak anda belajar bentuk dan warna, sekaligus anak anda secara tidak sadar telah dilatih untuk memasukkan barang2nya. Kalau udah mulai mengerti benda tinggal bilang saja mainan apa yang tertinggal di lantai, misal dia sudah tahu kalo nama benda/mainan itu mobil, anda tinggal bilang -> “mobilnya yang biru mau istirahat dan ketemu temannya dalam kotak!” nah biarkan anak mengambil sendiri Anda juga harus beri penjelasan dulu nih, kapan waktunya membereskan mainan biar anak tak bingung. Beri rutinitas. Anda bisa tetapkan , sebelum minum susu semua mainan harus dikembalikan ke tempatnya/box. Jika dia tidak melakukan itu, susu tidak akan diberikan. Sekali lagi konsistensi anda diuji disini, karena anak ada kemungkinan menangis sekuat-kuatnya…bertahanlah…jika anda tidak ingin ketika anak anda semakin besar, anda akan lebih kewalahan ketika harus meminta anak mengembalikan mainannya AJARKAN KATA “TERIMA KASIH” Yup! Ajarkan sopan santun dengan mengucapkan terimakasih. Anak di golden age mungkin belum mengerti konsep berterimakasih. Jadi andalah yang jadi contoh, setiap kali anak anda memberikan sesuatu pada anda, katakan terima kasih. Diaini anda juga mengenalkan kosa kata baru TERIMA KASIH Misal suatu ketika anak anda diberikan hadiah oleh om atau tantenya, biasanya anak akan langsung mengambilnya dan cenderung lupa untuk mengatakan teima kasih. Mulai sekarang, sebelum mainan diberikan ke anak oleh tantenya, katakan pada tantenya untuk tidak memberikannya sebelum anak anda bilang “Terima Kasih” Kalau anda tidak sempat karena si tante udah memberi lebih dulu kepada anak dan anak juga LUPA untuk mengatakannya, anda bisa bilang “mama ambil dulu mainan yang tadi diberi tante karena tadi kamu belum bilang TERIMAKASIH sama tante. Mama akan kembalikan ke kamu setelah kamu ngomong terima kasih pada tante,” MELATIH KEBIASAAN UNTUK MEMBUANG SENDIRI PAKAIANNYA DAN MENGAMBILNYA(MELATIH TANGGUNG JAWAB) Jika anak anda belum menjalani toilet training, maka ketika anak anda ngompol, mintalah anak anda untuk membawa celana bekas ompolnhya ke tempat cucian. Tentu saja kalau si anak sudah bisa berjalan ya ! Anda juga bisa berikan pelajaran pada anak untuk mengambil sendiri celananya. Anda bisa berikan pelajaran juga disini :” ambilkan celana pendek yang merah” Kalau anak anda belum bisa, anda beri tahu. Kalau ternyata anak anda sudah bisa berarti itu petunjuk anak anda sudah bisa membedakan celana pendek dan celana panjang dan bisa membedakan warna, Jika anda punya baby sitter, ijinkan baby sitter untuk melakukan hal ini pada anak anda. Karena anak anda harus dilatih bertanggung jawab. Jangan berpikiran “keenakan baby sitter dong, ga ada kerjaan” anda lebih mementingkan kerugian anda atau masa depan anak anda.? Saya harap inspirasi ini dapat membuka wawasan, jika anda sudah melakukannya itu lebih baik lagi. Tips ini juga berlaku untuk anak usia diatas 3 th, hanya apabila hal ini diajarkan sejak dini ini akan jauh lebih membantu anda. Semoga membantu, Salam hidup lebih baik Jimmy K Santosa, Certified Trainer Sekolah Orangtua Indonesia

  • Apakah Impian Anda ?

    Apakah anda penggemar film Korea The Great of Seondeok yang sedang di tayangkan di salah satu TV swasta ? Ratu Seondeok merupakan satu dari tiga Raja wanita yang pernah memerintah di Korea. Cerita ini sangat menarik bagi saya, terutama pada salah satu adegan yang menceritakan motivasi sang cikal bakal ratu memimpin negerinya. Seorang panglima menanyakan pertanyaan yang memang seharusnya dijawab oleh setiap pemimpin yang ada di dunia ini, “Apakah dengan kemarahan yang ada dalam diri anda, anda dapat memimpin negeri ini ? Apa yang membedakan anda dengan Misil (saingan untuk menjadi raja) ?”

    Mendapatkan pertanyaan tiba-tiba ini dan tidak pernah terpikirkan, sang putri terdiam sesaat sebelum memberikan jawaban yang menurut saya sangat bagus.

    “Aku memiliki impian, Panglima. Inilah yang membedakan aku dengan Misil. Misil tidak memiliki impian menjadi raja sehingga ia tidak akan pernah bisa menjadi raja. Aku akan menyatukan ketiga dinasti dibawah pemerintahanku”.

    Impian. Inilah satu kata yang dapat membuat seseorang termotivasi melakukan sesuatu bukan ? Memiliki impian berarti memiliki harapan. Adanya harapan menyebabkan seseorang merasa memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu.

    Bayangkanlah, jika anda sedang dihadapkan pada sebuah penyakit misterius. Menurut dokter harapan sembuh anda adalah 100 % jika anda bisa dan mau mengikuti saran dokter mengenai gaya hidup. Jika dalam kasus ini, si pasien tersebut adalah saya. Saya akan berusaha untuk mati-matian menjaga gaya hidup saya supaya saya dapat hidup lebih lama dan mencapai kesembuhan. Karena saya masih punya impian yang belum terwujud yaitu melihat anak saya tumbuh berkembang dan mendidiknya bersama pasangan saya, memberikan hadiah spesial untuk orangtua saya ketika usia mereka memasuki 60 tahun, serta belajar lebih banyak lagi mengenai parenting dan membantu orangtua lainnya menjadi orangtua yang lebih baik lagi. Untuk saat ini, itulah impian saya.

    Bagaimana dengan impian anda di tahun spesial ini ?

    Apakah anda sudah merancang impian anda ?

    Jika anda telah menyusunnya, Selamat bagi anda.

    Namun jika anda belum menyusunnya, ingat untuk selalu melibatkan pasangan anda ketika merancangnya. Jangan sampai impian anda berbenturan dengan orang terdekat anda ini. Ingat pula untuk memprioritaskan anak-anak dalam merancang impian anda. Masa depan mereka sangat mempengaruhi masa depan anda lho !

    Berkaitan dengan pengasuhan anak, impian tiap orangtua terhadap anak-anak mereka pastilah tidak jauh dari kebaikan bukan ? Setiap orangtua memiliki impian melihat anaknya sukses dalam kehidupan dewasanya. Ini merupakan impian umum dan wajar dalam diri tiap orangtua. Nah, yang kurang diperhatikan adalah proses mencapai impian tersebut.

    Ada orangtua yang sangat ambisius sehingga merasa bahwa dirinya yang paling mengetahui kebutuhan anaknya dan tahu yang terbaik bagi anak-anak mereka. Dampaknya, mereka kurang mendengarkan kebutuhan anak meraka. Ketika anak mereka menunjukkan perilaku menyimpang sebagai akibat pemberontakan kecil mereka, anak-anak malang tersebut dituduh telah berubah menjadi anak nakal. Padahal, anak-anak menjadi nakal bukan karena bawaan lahir Ved a spille pa spilleautomater pa mobilen vil du ha adgang til underholdning uansett nar du skulle onske det. namun lebih karena bentukan lingkungan.

    Ada orangtua yang merasa bahwa alamlah yang membentuk anak untuk sukses di masa depan. Orangtua jenis ini menyerahkan sepenuhnya kepada anak untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Bagaimana mungkin anak yang sedang bertumbuh sudah mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya ? Justru, pilihan untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya merupakan proses pendidikan dan pengenalan diri yang intens.

    So, para orangtua pembelajar, dalam membantu anak-anak anda mencapai impian anda dalam diri mereka dan impian diri mereka sendiri, kita perlu belajar bagaimana menangani proses menuju ke sana. Saya memiliki pengalaman tentang pengasuhan anak yang terkadang membuat saya geli jika mengingatnya.

    Sudah menjadi kebiasaan umum, jika seorang anak lahir di tengah sebuah keluarga, tiap anggota keluarga anda tiba-tiba menjadi berlomba-lomba untuk memberikan saran terbaik mengenai pengasuhan anak bahkan terkadang tidak masuk akal. Misalnya : tiap sudut gelap di kamar anak diberi garam, supaya setan-setannya pergi. Atau telapak kaki anak diberi kunir supaya tidak kemasukan roh. Jangan sering digendong, nanti menjadi kebiasaan. Jadwal penyusuan dibentuk ya, supaya anak tidak seenaknya sendiri minta makan terus.

    Sebagai orangtua baru, saya menjadi kebingungan dengan banyaknya informasi yang datang bertubi-tubi tersebut. saya menjadi takut untuk melakukan sesuatu karena takut salah. Sungguh suatu situasi yang tidak mengenakkan ketika kita menghadapi sesuatu yang baru tapi tidak memiliki pengetahuan tentang itu.

    Untunglah, saya diselamatkan oleh suami saya. Beliau mengatakan bahwa sayalah yang harus memutuskan apa yang terbaik bagi anak kami. Oleh sebab itu, saya perlu banyak belajar mengenai perbayian. Beliau mendukung saya dengan menyediakan beragam alat belajar dan buku-buku mengenai parenting, Sekarang, setahun sejak itu, saya menikmati hasil pembelajaran saya. Penanganan anak menjadi sangat mudah untuk saya.

    Nah, para orangtua pembelajar, yuk kita mulai merencanakan impian kita dan belajar bagaimana proses pencapaiannya. Anda dapat belajar melalui website ini. Kami membangun website ini memang untuk membantu para orangtua untuk dapat menjadi orangtua yang lebih baik lagi. Di sini kami menyediakan beragam cara belajar untuk para orangtua yang supersibuk. Mulai dari program audio, buku, newsletter, seminar hingga kursus online melalui internet yang sangat fleksibel tergantung pada waktu dan gaya anda.

    Untuk permulaan, mari kita berbagi impian dan cara anda mencapainya di forum ini. Bagikan impian anda dan cara yang anda tempuh di kolom bawah ini sehingga dapat menginspirasi orangtua lainnya juga.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga.
    Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog.

  • Surga di Telapak Kakimu

    Surga di Telapak Kakimu Penyanyi : Gita Gutawa Kunyanyikan semua lagu untukmu Ibu sebagai wujud terimakasihku kepadamu Tanpa lelah kau berjuang membesarkanku Berikan yang terbaik untukku Izinkanlah tanganmu kucium Dan kubersujud dipangkuanmu Temukan kedamaian dihangat pelukmu Didalam hati kuyakin serta percaya ada kekuatan doa yang engkau titipkan Lewat Tuhan membuat Semangat bila diri ini rapuh dan tiada berdaya Ada surga di telapak kakimu Betapa besar arti dirimu Buka pintu maafmu Saat kulukai hatimu Ada surga di telapak kakimu Lambangkan mulianya dirimu Hanya lewat restumu Terbuka pintu ke surga Kasih sayangmu begitu tulus Kau cahaya dihidupku Tiada seorang pun yang dapat menggantimu Ada surga di telapak kakimu Betapa besar arti dirimu Buka pintu maafmu Saat kulukai hatimu Ada surga di telapak kakimu Lambangkan mulianya dirimu Hanya lewat restumu Terbuka pintu ke surga Hanya lewat restumu Terbuka pintu ke surga Mother and DaughterHalo semua pembaca yang memiliki ibu. Hari ini merupakan hari spesial bagi wanita yang telah melahirkan kita dan hari spesial pula buat wanita yang pernah melahirkan ataupun bagi wanita yang belum dikaruniai anak namun bersedia merawat anak orang lain yang dipercayakan padanya. Rasanya lagu yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa diatas sangat menggambarkan bagaimana indah dan susahnya menjadi ibu dan memiliki ibu bukan ? Berapapun usia anda saat ini, seorang ibulah yang telah merawat dan menjaga anda hingga menjadi manusia dewasa. Dalam kondisi apapun, senang maupun duka, ibu selalu hadir dalam tiap langkah kita. Ijinkan saya berbagi pengalaman saya dengan ibu saya, wanita terhebat sepanjang hidup saya. Hubungan saya dengan ibu bukanlah sebuah hubungan yang manis, apalagi ketika saya memasuki usia remaja. Pemberontakan dan pertengkaran kerap kali mewarnai hubungan kami hingga saya memutuskan untuk memasuki sekolah berasrama demi menjaga jarak dengan beliau. Terkadang saya merasa bersalah karena saya sering membuat ibu menangis karena perilaku pemberontakan saya. Namun, ego saya tidak mau mengalah. Apalagi pada ibu ! uuuh… tak usah lah ya… Pemisahan fisik dan kesendirian ini menyebabkan saya banyak merenung mengenai hubungan saya dengan ibu. Saya mengenang kebaikan beliau ketika saya di rumah. Tak terasa air mata menetes, jika saya mengingatnya. Perasaan rindu, perasaan bersalah dan perasaan sayang bercampur menjadi satu. Satu hal yang membuat saya terheran-heran, walau jarak dan waktu memisahkan kami berdua, entah kenapa, saya masih mampu merasakan doa dan kasih sayang beliau. Mungkin inilah yang dikatakan bahwa kasih sayang seorang ibu mampu menembus dinding baja tebal sekalipun. Koneksitas batin kami juga semakin terbangun dengan bertambahnya usia dan pengalaman saya. Pernah suatu kali, ibu saya mengingatkan saya untuk tabah karena saya akan menghadapi suatu tantangan hidup. Dan ajaibnya, pesan ini, beliau dapat melalui mimpinya. Pesan beliau, benar-benar terjadi ! Hingga saat ini, ibu saya selalu hadir dalam tiap momen kehidupan saya dan membantu saya ketika saya membutuhkan uluran tangan. Sungguh saya sangat bersyukur atas keberuntungan saya ini. Saat ini, saya telah menjadi seorang ibu. Saya menjadi semakin memahami perasaan ibu saya dan pengorbanan-pengorbanan yang telah beliau lakukan untuk membesarkan kami berempat. Saya yakin jika dahulu beliau memilih untuk menekuni karir, saat ini beliau pasti telah terkenal dan memiliki banyak harta. Tapi, beliau memilih kami, keempat anaknya yang seringkali lebih merepotkan daripada menyenangkan. Mari kita ucapkan terima kasih pada setiap wanita yang telah melahirkan diri kita maupun wanita yang melahirkan manusia baru lainnya… serta ucapan terima kasih atas pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran yang diberikan untuk membesarkan kita. Dannnn… jika boleh usul, ibulah yang cocok mendapatkan nobel perdamaian, selain Obama tentunya, terutama di tingkat Rumah Tangga.

    42-20907906

    Hidup ibu, sehat selalu dan bahagia selalu… Terima kasih ibu. Salam hangat penuh cinta untuk setiap ibu yang ada di dunia ini. Sandra Mungliandi

  • Proses Pendidikan Anak merupakan Bentukan dari Lingkungan atau Bawaan Alamiah? – Bagian 2

    cita citaku 2

    Pada artikel sebelumnya, anda telah dijelaskan mengenai bawaan alamiah yang ada dalam diri tiap anak. Sekarang kita akan membahas mengenai hal-hal yang tergolong sebagai bawaan alamiah yang ada dalam diri anak.
    Apakah bawaan alamiah itu ? Bawaan alamiah adalah bekal sejak lahir yang dimiliki oleh tiap anak yang terdiri dari  

    1. Genetik. Tahukah anda bahwa genetik (kromosom) yang diturunkan oleh orangtua kita mempengaruhi perilaku sosial yang kita tampilkan ? Begitulah hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang pakar biologis Harvard, David Haig. Selama ini, kita mengenal bahwa kromosom menurunkan ciri-ciri fisik dari kedua orangtua kepada anaknya namun penelitian terbaru menemukan bahwa sifat-sifat, karakter dan kebiasaan ternyata juga diturunkan dari orangtua kepada anak mereka melalui gen. Anak kembar yang dipisahkan sejak lahir dan mendapatkan pengasuhan yang berbeda pun masih memiliki ciri perilaku yang sama. Penemuan penurunan sifat, karakter dan kebiasaan sosial ini terjadi disebabkan ilmuwan saat ini telah mampu memetakan gen dalam diri manusia dengan lebih detil lagi.     
    2. Jenis kelamin dan hormon. Gender yang berbeda akan mempengaruhi hormon yang produktif di dalam tubuh. Hormon ini mempengaruhi perilaku yang ditampilkan oleh tiap gender. Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh juga dapat mempengaruhi perilaku. Wanita lebih mudah terkena depresi karena ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Anak laki-laki dinilai lebih agresif disebabkan adanya hormon testoteron dalam dirinya. Itu sebabnya mengapa secara instingtif, banyak orangtua telah membedakan cara pengasuhan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan.  
    3. Cara menjalin ikatan emosi dengan orang lain. Ada anak yang dapat online casino canada dengan mudah bergaul dengan orang baru. Namun ada juga anak yang lebih sulit menerima keberadaan hal-hal baru dalam lingkungannya. Ini merupakan faktor bawaan yang telah ada sejak lahir. Tidak berarti anak yang introvert memiliki konsep diri yang rendah. Hanya saja energi yang mereka punyai lebih diarahkan ke dalam diri mereka sendiri daripada keluar diri mereka. Konsep diri rendah dan tidak percaya diri merupakan polusi yang didapat dari pola asuh yang terjadi di lingkungannya.
    4. Perkembangan otak. Otak manusia mengalami perkembangan yang bertahap. Selama berkembang, otak akan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan oleh anak kita. Itulah sebabnya mengapa anak perempuan lebih cepat berbicara dibandingkan dengan anak laki-laki atau mengapa anak perempuan lebih menyukai permainan yang melibatkan perilaku sosial dibandingkan anak laki-laki yang lebih menyukai permainan yang melibatkan aktivitas motorik kasar.  

    Faktor-faktor tersebut diatas hanya dijelaskan secara singkat karena keterbatasan ruang. Jika anda ingin mempelajari lebih detil, anda dapat mengikuti online home course yang diadakan oleh Sekolah Orangtua guna lebih memahami â??Siapa anak kita ?â?. Program ini akan diluncurkan dalam waktu dekat ini di bulan Agustus.

    Seringkali, kita sebagai orangtua kurang memahami bawaan alamiah yang ada dalam diri anak sehingga kita menjadi lebih sering menuntut anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginan kita atau tuntutan sosial/masyarakat. Contohnya : ada seorang anak yang memang memiliki karakter untuk mengobservasi lingkungan sebelum ia terlibat didalamnya. Padahal orangtuanya lebih menyukai anak yang mampu langsung bergaul dengan orang lain. Apa yang terjadi kemudian ? orangtua tersebut langsung memborbardir anak dengan perkataan,â?Ayo, sana main. Tidak perlu malu-malu.â? Atau, â??Anakku ini lohâ?¦ pemalu banget kalau ketemu orang. Gak tahu anaknya siapa ? Padahal papa mamanya supelâ? Perkataan ini dikatakan di depan anak. Itulah asal mula lahirnya kepribadian seorang anak pemalu.

    Mengasuh sesuai dengan bawaan alamiah seorang anak tidak berarti kita serba membiarkan dan membolehkan atau menjadi orangtua permisif. Supaya tidak terjebak menjadi orangtua permisif, anda perlu mengenali bawaan alamiah anak anda dan nilai-nilai hidup apa yang hendak anda tanamkan dalam diri anak. Jika anak berperilaku menyimpang atau tidak sopan, anda tetap perlu mengarahkannya.

    Pengasuhan yang kita terapkan dengan mengikuti bawaan alamiah anak akan membantu anak untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Dengan demikian, kelak anak menjadi nyaman dengan dirinya sendiri dan nyaman pula memutuskan tujuan hidupnya. Pondasi terdasar kebahagiaan adalah bersahabat dan menerima diri sendiri sebagai apa adanya.

    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.
    Sandra Mungliandi, M Psi., Psikolog.

  • Proses Pendidikan Anak merupakan Bentukan dari Lingkungan atau Bawaan Alamiah? – Bagian 1

    cita citaku 1

    Anak kelas 6 di sebuah sekolah swasta diwawancarai oleh seorang reporter TV swasta,”Kenapa kita harus punya cita-cita ?”. Si anak menjawab,”Supaya kita punya tujuan hidup.” Begitu jawaban anak itu dengan percaya diri. Singkat namun dalam maknanya.
    “Apa cita-cita kamu ?”.
    Si anak menjawab,”Menjadi penerbit buku.”
    “Penerbit buku apa ? Komik atau buku pelajaran atau yang lain.?”
    “Buku pelajaran.”
    “Buku pelajaran bidang apa ?”
    “Bahasa Indonesia.”

    Wawancara ini berlangsung dengan sangat lancar. Anak SD ini dapat menjawabnya tanpa ragu-ragu mengenai tujuan yang ingin ia capai dalam hidupnya. Berapa banyak anak yang telah dididik sejak kecil untuk bisa memahami tujuan hidupnya ?

    Bandingkan dengan 2 orang yang telah duduk di bangku SMU ini. Secara tidak sengaja ketika saya sedang berjalan-jalan di daerah sekitar rumah, saya mendengarkan percakapan 2 orang anak SMU mengenai jurusan apa yang akan mereka putuskan setelah mereka lulus. Sebut saja si A dan si B. Si A bertanya pada B,”E… kamu wis mutus’no mau masuk jurusan apa ? Aku kok bingung ya?. Papaku mau aku masuk ekonomi, tapi aku gak suka itung-itungan. Aku pengin masuk psikologi, tapi gak boleh sama mamaku. Kata’e cuman ngurusin orang gila tok. Yak apa ya ?”.

    Si B menjawab,”Lo lo… kamu nek mau masuk Psikologi kudu bisa ngomong sama orang lo. Tapi… gak harus rasanya. Aku punya teman, orang’e pendiam banget. Tapi dia masuk psikologi. Kata’e orang, kalau mau masuk psikologi harus bisa ngomong sama orang. Kamu bisa gak ngomong sama orang ?”.

    Mendengar komentar B yang terakhir itu, saya menjadi tersenyum kecil (maunya sih tertawa terbahak-bahak, tapi nanti dipikir saya orang gila. Ngapain ibu hamil ini, sudah jalan sendiri, eh… pake ketawa-ketiwi sendiri lagi). Dalam pikiran saya terlintas,”Kenapa syarat masuk psikologi harus bisa bicara dengan orang ? Memangnya selama ini kamu bicara dengan siapa ? Apakah selama ini kamu bicara dengan anggota kebun binatang ?”. Namun dibalik rasa geli saya, terlintas juga perasaan sedih. Kenapa anak yang sudah menjelang dewasa ini, tidak mengerti apa casino online tujuan hidupnya ? Hal ini sangat bertolak belakang dengan anak SD yang telah saya ceritakan di atas. Pada usia sangat muda, ia telah tahu apa yang akan ia lakukan ketika dewasa nanti. Sedangkan, kakak yang berusia sangat jauh diatasnya masih kebingungan hendak di kemanakan hidupnya ini.

    Nah… Menurut Anda pemahaman mengenai tujuan hidup dan siapa saya sebenarnya merupakan Bawaan Alamiah atau Bentukan dari lingkungan ?

    Mengapa remaja SMU tersebut belum mampu mengenal siapa saya, apa tujuan hidup saya dan minat saya apa ?

    Mengapa pengenalan karakter diri dan tujuan hidup merupakan kegiatan yang sulit bagi tiap orang ?

    Bahkan ada orang yang telah berumur 27 tahun namun masih belum dapat memutuskan siapa dirinya sebenarnya. Hal ini dikarenakan sejak kecil kita terbiasa di doktrin mengenai perilaku, pikiran dan perasaan yang benar dan salah dengan mengabaikan bawaan alamiah yang ada dalam diri kita masing-masing. Pendidikan diterapkan tidak sesuai dengan tahapan perkembangan diri anak-anak. Perkembangan seorang anak dinilai dari apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan. Lebih cepat atau lebih lambat dari teman sebayanya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kebingungan dalam diri anak, antara keinginan menjadi diri sendiri dan mengikuti doktrin dari orangtua. Ibaratnya seperti sebuah pohon yang tumbuh dibawah atap semen sehingga menyebabkan pertumbuhannya menjadi miring, tidak lagi lurus mengikuti hukum alam. Ketika dewasa berakibat menjadi kebingungan akan identitas diri.       

    Setiap makhluk hidup dilahirkan dengan memiliki bawaan alamiahnya sendiri-sendiri. Bawaan alamiah ini diturunkan dari orangtua pada diri anak masing-masing. Bukti nyata adalah dapat diamati pada saudara kembar yang telah dipisahkan sejak lahir dan diasuh oleh orangtua dan lingkungan berbeda. Ketika diteliti mereka memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya mulai dari cara berjalan, tersenyum, mengambil keputusan dll. Inilah yang membuktikan bahwa ada sejumlah karakteristik yang dibawa oleh tiap manusia sejak ia lahir.

    Tugas kita, sebagai orangtua adalah mengenali karakteristik alamiah yang telah dibawa anak-anak ini. Setelah mengenali, kita perlu untuk membentuknya/mengasuhnya sehingga sesuai dengan kecenderungan yang ada dalam diri si anak. Kesalahan mengenali bawaan alamiah ini yang menjadi penyebab terjadi kesalahpahaman antar anak dan orangtua. Anak merasa tidak dimengerti oleh orangtuanya sedangkan orangtua merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan anaknya karena berperilaku berbeda dengan harapan yang selama ini dimilikinya.

    Apa sajakah bawaan alamiah yang dibawa oleh anak sejak lahir ? Jawaban ini akan anda dapatkan pada artikel kedua.

    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.
    Sandra Mungliandi, M Psi., Psikolog.

  • Memilih Sekolah yang Cocok untuk Buah Hati Tercinta

    â??Ibu, saya minta saran memilih sekolah untuk anak saya. Ada sekolah A yang unggul di abc. Sedangkan sekolah B, unggul di def. Gimana ya bu ? Mestinya saya pilih yang mana ?â?

    Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh para orangtua. Keinginan mereka untuk memberikan yang terbaik untuk putra putri mereka, mendorong mereka untuk menyeleksi sekolah yang akan dimasuki oleh anak-anak.

    Biasanya, ada beberapa fokus perhatian yang dijadikan standar sekolah bagus oleh para orangtua dan yang ajaibnya standar ini dari tahun ke tahun berubah mengikuti perkembangan jaman. 15 tahun yang lalu standar yang digunakan adalah sekolah tersebut haruslah sekolah disiplin (bahkan yang paling sering menghukum siswanya), yang banyak memberikan PR, yang sering memberikan ulangan, sekolah yang mampu meluluskan siswa yang mendapatkan nilai EBTANAS tertinggi atau memenangkan lomba-lomba. 5 tahun berlalu, standarnya kembali berubah, sekolah yang memiliki fasilitas lengkap seperti laboratorium komputer, elektro, fisika, biologi dll merupakan sekolah yang dianggap baik. Ditambah lagi sekolah yang menyeimbangkan IQ dan EQ dianggap sekolah yang bonafit. Era sekarang, standar itu berubah kembali, saat ini sekolah yang bilingual, berkurikulum international atau nasional plus yang dianggap bagus.Sebenarnya, syarat apa sih yang sebaiknya dipenuhi untuk mengatakan sebuah sekolah adalah sekolah yang bagus  ?

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley, yang diterbitkan dalam bukunya Pemikiran Millionaire, dirangking 30 faktor yang mempengaruhi seseorang untuk sukses dalam hidupnya. Sukses disini adalah orang tersebut memiliki sejumlah kekayaan tertentu, kesehatan yang prima dan kebahagiaan yang dirasakan. Hasil perangkingan tersebut adalah bersekolah di sekolah favorit menduduki rangking ke 23, lulus dengan nilai terbaik menduduki rangking ke 30 sedangkan memiliki IQ tinggi menempati urutan no 21. Ternyata banyak dari para millionaire di Amerika yang memiliki skor SAT yang dibawah rata-rata, bahkan banyak diantara mereka lupa berapa skor mereka kala bersekolah.

    Bagi mereka, masa bersekolah adalah masa untuk belajar bagaimana mencapai tujuan yang dalam hal ini adalah lulus, bagaimana mengatur jadwal agar dapat mencapai tujuan tersebut namun tetap menyeimbangkan dengan kehidupan pribadi, bagaimana mengorganisir teman-teman agar dapat membantu mencapai tujuan, dan bagaimana mempraktekkan cara-cara bersosialisasi dengan baik dan benar.

    Ada faktor yang lebih penting daripada bersekolah di tempat favorit, lulus dengan nilai terbaik maupun memiliki IQ tinggi. Faktor yang mendukung mereka untuk sukses menjalani kehidupan setelah masa bersekolah adalah sebagai berikut :

    1. Integritas : menjalankan dan kesesuaian antara hal-hal yang diucapkan dan diyakini dengan kehidupan nyata.
    2. Disiplin : kemampuan untuk mengolah diri sendiri sehingga mampu mencapai tujuan
    3. Keterampilan sosial : kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain
    4. Memiliki pasangan yang mendukung baik dalam suka dan duka.
    5. Bekerja lebih keras dibandingkan dengan orang lain

    Itulah 5 faktor teratas dari 30 faktor yang berhasil didaftar dari para millionaire tersebut.

    Dengan bukti nyata tersebut, masih perlukah kita bingung menyekolahkan anak kita dimana ?
    Sebaiknya, kita tidak perlu membingungkan hal tersebut. Karena ada faktor yang lebih mendasar lagi daripada memikirkan dimana anak kita harus bersekolah. Faktor tersebut adalah kondisi keluarga, tempat anak-anak tersebut bertumbuh dan berproses. Faktor ke 1-5, merupakan faktor yang dibentuk dalam rumah karena sebagian besar hidup seorang anak dihabiskan di dalamnya. Integritas, disiplin, keterampilan sosial, cara memilih pasangan yang tepat, dan kemauan untuk tekun bekerja merupakan hasil dari teladan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Ke 5 faktor tersebut, tidak mungkin diserahkan kepada sekolah untuk membentuknya. Sekolah hanya bisa menempa ke 5 faktor tersebut agar dapat tertanam kuat dan menjadi kebiasaan. Penanaman dari keluarga akan berakar lebih kuat dalam diri anak. Kehidupan di luar keluarga, dalam hal ini adalah sekolah, justru seringkali menguji hal-hal yang telah kita tanam.

    Saya pribadi merupakan lulusan dari sekolah favorit mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Bahkan saya memasuki SMU yang termasuk 5 besar terbaik se-Jawa Timur. Setelah saya renungkan pengalaman bersekolah saya, yang hampir separuh hidup saya, saya menemukan bahwa manfaat terpenting yang dapat saya ambil dari pengalaman bersekolah adalah semangat belajar yang terus menerus. Pernahkah anda bertemu dengan orang yang berhenti belajar setelah mereka di wisuda ? Pernahkan anda mendengar bahwa buku hanya ditujukan bagi mereka yang bersekolah ? Saya sendiri mengamati saudara-saudara saya yang berhenti belajar setelah mereka lulus universitas. Untunglah, lingkungan saya merupakan lingkungan pembelajar yang mendorong saya untuk terus belajar, memperbaharui pengetahuan saya.

    Darimana saya belajar tentang kerja keras, disiplin dan integritas ? Dari orangtua saya. Saya mencontoh dari pengalaman hidup mereka. Ayah saya adalah seorang pria pendiam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Bagi saya, beliau merupakan penanam terbesar kebiasaan untuk tekun bekerja dibandingkan dengan orang lain. Beliau bekerja kira-kira 360 hari dalam setahun, dipotong liburan Idul Fitri. Itu pun hanya 5 hari dalam setahun. Sedapat mungkin, beliau tidak pernah absen dalam bekerja. Tanggung jawab inilah yang dipuji oleh ibu saya pada ayah saya. Walaupun ibu saya terkadang tidak mampu untuk mengikuti pola berpikir ayah saya, beliau menerima dengan lapang dada.

    Dari ibu saya, saya belajar untuk bagaimana disiplin, menjalankan tugas-tugas saya. Belajar artinya bertekun walau menghadapi kesulitan. Dari beliau juga, saya belajar bagaimana berelasi dengan orang lain dan bagaimana mempertahankan diri dalam relasi tersebut.
    Sekarang, kehidupan mereka sudah jauh lebih enak dibandingkan 20 tahun yang lalu. Sekarang mereka tinggal mengembangkan apa yang telah mereka tanam.

    Kembali ke pembicaraan mengenai memilih sekolah. Kita sudah membahas mengenai kurang pentingnya kebingungan dalam memilih sekolah untuk anak kita. â??Namun, anak kita kan masih tetap harus sekolah ! Jadi bagaimana dong memilihnya ?â?. Tentunya pertanyaan ini masih terlintas dalam benak anda.
    Dalam pemilihan sekolah, kita harus menyamakan persepsi dengan pasangan, mengenai tujuan anak disekolahkan. Tentunya, tujuan disekolahkan anak kita adalah untuk mendapatkan pengalaman hidupnya sebelum ia terjun sesungguhnya di masyarakat.

    Sekolah dapat diibaratkan sebagai miniatur masyarakat. Didalamnya ada otoritas yang harus ditaati, ada peraturan yang harus dijalankan, ada tugas yang harus diselesaikan, ada aktivitas-aktivitas yang harus dijadwalkan, ada teman yang harus diorganisir, ada target yang harus dicapai, dan ada ujian yang harus ditempuh.

    Yang terpenting dari semuanya itu adalah melatih tanggung jawab yang harus diemban dan diselesaikan oleh anak. Keberhasilan anak untuk mengatur dan menjalankan tanggung jawab tersebut merupakan bekal bagi anak untuk hidup di masyarakat.

    Sekolah = nilai bagus ? Tidak selalu.
    Yang terpenting daripada nilai bagus adalah kemauan anak untuk belajar dan tahu bagaimana cara mendapatkan informasi. Pengetahuan yang diajarkan disekolah tidak keseluruhannya dapat digunakan di masa sekarang. Ambil contoh di masa sekolah SD-SMU kita, kita diajarkan bermacam-macam pelajaran, namun apakah pelajaran tersebut sekarang kita gunakan dalam keseharian kita ? Nilai yang kita peroleh semasa sekolah, tidak menjamin kita dapat mengerjakan tugas-tugas kita saat ini, bukan ?.

    Inti sari yang perlu dipelajari oleh anak adalah pengalaman menyerap pelajaran tersebut di bangku sekolah.

    Nilai bagus merupakan akibat/hasil dari serangkaian proses yang dijalani. Penyebab dari nilai bagus itu ada banyak faktor. Faktor terpenting adalah apakah anak merasa dicintai atau tidak dan apakah anak merasa hal yang dilakukannya berharga atau tidak dimata orangtua. Jika anak merasa dicintai dan berharga, niscaya nilai baik itu akan mengikuti. Karena rasa dicintai dan dihargai merupakan pondasi dasar terbentuknya konsep diri dan harga diri sehat dalam diri anak.

    Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam bersekolah adalah ke-enjoy-an/rasa nikmat yang dirasakan anak saat bersekolah. Apakah anak anda merasa nyaman bersekolah di tempat tersebut. Perasaan nyaman ini akan memungkinkan anak untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Coba bayangkan jika anda berada dalam kondisi takut dan stres, apakah anda dapat mengeluarkan seluruh kemampuan anda untuk menyelesaikan tantangan di depan ?

    Demikian dengan anak-anak, mereka masih belum mampu untuk berpikir sekompleks kita orang dewasa.
    Anak remaja ?  Yang sudah mampu berpikir lebih kompleks pun masih membutuhkan bimbingan dari kita, orang dewasa.

    Bagaimana dengan guru ?
    Kita tidak perlu tergiur dengan sekolah yang memiliki guru dengan segudang titel : Prof, Doktor, Ir, Psikolog. Yang terpenting dari itu semua adalah mereka memiliki hati untuk mengajar dan mampu menginspirasi anak kita. Bagi orang yang memiliki hati demikian, nilai bukanlah faktor terpenting kesuksesan dalam bersekolah. Mereka akan mencari cara lain jika siswa mereka tidak memahami penjelasan yang mereka sampaikan bukannya menyalahkan kita.

    Saya memiliki 1 orang teman yang memilki latar belakang pendidikan yang jauh berbeda dengan dunia pendidikan. Namun kecintaannya terhadap anak kecil membawanya untuk menekuni dunia pendidikan. Tentu saja, ia membutuhkan beberapa penyesuaian untuk terjun di dunia asing ini. Siswa-siswanya mencintai beliau dan berdasarkan pengamatan saya, tidak ada siswanya yang takut atau stres terhadap beliau. Jika ada siswa yang tidak memahami penjelasannya, ia merelakan waktu istirahatnya sepulang sekolah untuk mengajar ulang siswa tersebut. Dibayar ? Tidak.

    Di antara itu semua yang  terpenting adalah menetapkan tujuan kita. Setelah tujuan terdefinisi dengan jelas barulah kita mencari sekolah yang bisa memenuhi tujuan kita. Memang tidak akan semua tujuan kita bisa dipenuhi oleh satu sekolah. Oleh karena itu carilah sekolah yang bisa memenuhi tujuan kita paling banyak.

    Bagaimana caranya? Sederhana saja. Tanyailah sepuluh sampai lima belas orangtua murid yang anaknya telah bersekolah di sekolah tersebut. Jangan tanya satu atau dua orang saja karena kurang akurat.  Tanyakan pada mereka hal-hal yang berkaitan dengan tujuan kita.

    Bertanya dari orangtua yang anaknya telah bersekolah di sana adalah fakta nyata yang tak bisa dipungkiri. Kepala sekolah atau guru boleh bercerita panjang lebar tentang visi dan misi sekolah namun kenyataan di lapangan adalah bukti nyata yang tak bisa dipungkiri.

    Ingat dalam memilih sekolah yang terpenting adalah sekolah itu cocok untuk anak kita bukan karena sekolah itu favorit atau top karena fasilitasnya atau juga bukan karena didirikan oleh publik figur. Jika anak kita tidak cocok sebagus apapun s

    Semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi para orangtua dalam berdiskusi memilih sekolah bagi anak-anak.

    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.