Kategori: Parenting

  • Orangtua Sering Disalahkan Namun Tidak Dilatih

    “Anak Bapak dan Ibu tak punya inisiatif untuk belajar di kelas, tolong diberitahu ya?” “Anak Anda nilainya jelek, jika ini terjadi ia bisa tidak naik kelas, tolong dinasehati ya!” “Anak Bapak dan Ibu tidak punya motivasi dan kurang bertanggung jawab, tolong dilatih di rumah ya?” “Anak Anda kurang percaya diri dan susah bicara kalau ditanya, perhatikan perkembangannya di rumah, kalau seperti ini terus ia bisa tidak naik kelas?” “Anak itu suka berbohong, siapa sih orangtuanya?” “Anak itu kurang tahu aturan dan sopan santun, apakah orangtuanya tidak pernah mengajarkan hal itu di rumah?”

    Hmmm …… itulah sederet komentar yang membuat orangtua menjadi merasa bersalah dan tak berdaya. Para guru, masyarakat dan mungkin juga para para pejabat sering menyalahkan orangtua atas kenakalan anak dan problem para remaja. Namun apakah mereka yang menyalahkan para orangtua itu memberikan jalan keluar yang memuaskan? Pada akhirnya orangtua menemukan diri mereka sendirian, kebingungan dan tak berdaya atas apa yang terjadi pada anaknya. Mereka merasa telah berbuat banyak untuk anaknya namun hasilnya …… membuat para orangtua semakin bingung apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk mendidik anaknya.

    Yaa …… para orangtua sering disalahkan namun kurang dilatih. Di Indonesia setiap hari ribuan orang tiba-tiba memiliki pekerjaan dan predikat baru sebagai – orangtua – saat bayi pertama mereka lahir.  Para pasangan muda itu menyambut gembira kehadiran buah hati tercinta mereka. Mereka tak menyadari bahwa mereka sedang terseret ke dalam sebuah “badai” yang akan disebabkan oleh si mungil yang tampak tak berdaya itu. Tangisan tengah malam yang akan membangunkan mereka, tanggung jawab penuh atas kesehatan fisik dan emosi sang bayi yang akan beranjak menjadi anak-anak, remaja dan orang dewasa, serta berbagai aturan atau strategi yang harus dipikirkan untuk mendidik “pendatang baru bumi” itu yang bisa memicu pertengkaran atau konflik baru diantara para suami dan istri.

    Pekerjaan menjadi orangtua adalah pekerjaan tersulit di dunia namun tidak pernah ada sebuah informasi holistik untuk melakukan hal itu. Permasalahan yang disebutkan di awal tulisan ini hanyalah sebagian kecil masalah yang bisa menghambat potensi jenius seorang anak.

    Kebanyakan permasalahan seperti di atas berasal dari hilangnya rasa aman yang dibutuhkan seorang anak. Sebagaimana kita ketahui rasa aman adalah kebutuhan mendasar dari setiap manusia. Jika rasa aman terganggu maka kita akan berusaha dengan sekuat tenaga mendapatkannya. Demikian juga dengan anak-anak. Sebagai lambang permintaan akan adanya rasa aman itu mereka “menunjukkan perilaku menyimpang” agar dapat perhatian dari orangtuanya. Bagaimana membuat mereka merasa aman? Di buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” (Ariesandi S. – Gramedia, 2008) saya membahas hal ini sangat detail disertai aplikasi praktis. Namun untuk tulisan ini marilah kita tinjau secara singkat satu aspek penting yaitu jangan terlalu sering mengkritik perilaku anak-anak. Para orangtua sering terjebak dengan sebuah frase “saya tidak ingin kamu terperosok ke lubang yang sama”. Oleh karena itu mereka berusaha mencegah dan mengatur segala perilaku anak agar sang anak “tidak terperosok ke lubang yang sama”.

    Namun cara orangtua melakukan hal ini sangat melukai hati mungil anak-anak mereka. Akhirnya para bayi tak berdosa itu tumbuh menjadi remaja yang mengatakan “mama saya sebenarnya baik namun cerewetnya itu lho …… mana tahan!” , “papa saya itu sebenarnya penuh pengertian walau sering memaksakan pemikirannya sendiri seperti tidak pernah remaja saja” bahkan ada juga komentar dari klien remaja saya seperti ini “mama itu seperti anak kecil, maunya semua keinginannya dituruti, apa dia pikir saya ini masih anak-anak yang harus diatur, saya kan punya pikiran sendiri”

    Yaa …… semua komentar itu sebenarnya adalah perwakilan dari rasa tidak dipercaya seorang anak yang pada gilirannya mengusik rasa aman yang dibutuhkannya. Karena merasa tidak dipercaya oleh orangtuanya maka dalam bertindak mereka menjadi ragu-ragu dan akhirnya pada satu titik sang anak tidak mengambil tindakan apapun karena mereka tahu pada akhirnya pasti ada yang kurang, disalahkan dan dimarahi.

    Mereka tidak merasakan penerimaan yang tulus dari orangtuanya. Penerimaan itu seringkali diukur dari prestasi akademiknya semata. Orangtua – tidak semua –  seringkali sibuk memerhatikan nilai dan nilai dan nilai namun mengabaikan perasaan terdalam seorang anak.

    Cobalah hitung berapa banyak kritikan yang Anda lontarkan dan berapa ucapan terima kasih yang Anda sampaikan dalam sehari pada anak tercinta Anda. Anda akan kaget mengetahui bahwa kita ternyata lebih banyak memberikan kritikan daripada pujian. Tak heran banyak anak-anak tumbuh menjadi dewasa diliputi dengan banyak perasaan bersalah dan perasaan tak mampu. Jika sebagai orangtua kita juga merasa seperti ini cobalah tengok dan ingat kembali bagaimana cara kita dibesarkan dan ………… perbaiki cara itu pada anak-anak tercinta kita sekarang ini!

    Ingin tahu lebih detail tentang semua ini … silakan baca buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia: tips teruji dan praktis melejitkan potensi optimal anak” yang saya tulis dan diterbitkan Gramedia. Buku ini adalah sebuah program pelatihan mandiri bagi para orangtua untuk mendidik dan membesarkan anak-anak tercinta. Orangtua perlu tahu bagaimana memunculkan motivasi internal dalam diri seorang anak. Juga perlu tahu bagaimana melakukan komunikasi efektif serta melakukan koreksi terhadap perilaku dan pemikiran negatif sang anak dengan berbagai teknik terapi yang sederhana namun efektif.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga!

  • Bagaimana Membantu Anak Mengatasi Emosi Negatif? (1)

    confusedkids1.jpgPernahkah anak Anda mengalami stres atau emosi negatif? Apakah itu normal? Bagaimana kita membantu mereka mengatasinya?

    Ya itulah pertanyaan yang sering diajukan pada saya oleh para peserta seminar maupun para orangtua yang datang berkonsultasi. Banyak para orangtua bingung bagaimana harus membantu anak-anak mereka menghadapi hal seperti itu. Berikut adalah wacana untuk memperluas wawasan kita bersama. Artikel ini akan membahas bagaimana membantu anak mengatasi stres  ditinjau dari usianya. Dan agar tak terlalu panjang maka artikel ini akan bersambung pada edisi berikutnya.

    “Siapakah yang pernah mengalami stres?” tanya saya dalam sebuah acara seminar. Peserta agak bingung dan kemudian beberapa dari mereka angkat tangan. Setelah itu saya tertawa dan biasanya saya katakan bahwa pertanyaan itu tak seharusnya saya tanyakan karena semua orang pasti mengalaminya bukan?

    Stres adalah suatu hal yang normal yang merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat terelakkan. Stres mempengaruhi setiap orang, bahkan anak-anak sekalipun. Seorang anak pra-taman kanak-kanak menjadi stres saat jadwal day-care nya diubah. Seorang anak SD menjadi sedih ketika dia tidak dapat mengerjakan tes aritmatika dengan baik. Seorang pra remaja khawatir akan perubahan tubuhnya. Dan seorang remaja merasakan stres saat dia mencoba untuk menetapkan apa yang akan dilakukan dalam hidupnya.

    Orang tua dapat mengurangi stres / emosi negatif yang dirasakan anak-anak dan mengajarkan mereka untuk mengatasi situasi yang sangat stres. Sangatlah penting untuk diingat bahwa stres adalah bagian alami dari  kehidupan anak-anak. Stres hanya akan menjadi membahayakan ketika masalah-masalah dan pertengkaran-pertengkaran dari kehidupan sehari-hari membanjiri anak anda.

    Anak-anak dari segala usia merasakan stres ketika seorang adik bayi baru datang, perpindahan keluarga, sebuah perceraian atau pernikahan kembali dari orangtuanya atau ketika keluarga dalam tekanan hal keuangan. Ketika kita sendiri dalam keadaan stres, yakinlah untuk mengambil waktu yang tepat untuk menjelaskan situasi kepada anak-anak. Seorang anak yang tidak mengerti situasinya sering membayangkan hal-hal yang buruk. Ingatlah bahwa anak-anak belajar dari orangtuanya. Orangtua adalah orang yang paling kuat, yang perfeksionis atau pemecah masalah yang berat yang cenderung memberikan sifat-sifat ini pada anak-anak mereka.

    Akhirnya, terlalu stres juga bisa menjadi gangguan. Kita perlu mengenali tanda-tanda dari stres yang berlebihan sehingga bisa mendapatkan bantuan untuk anak. Mencari bantuan mungkin semudah membicarakan akan situasinya kepada seorang teman, anggota keluarga atau kepala sekolah. Seseorang yang tidak asing dengan situasi keluarga kita mungkin dapat memberikan beberapa jalan keluar, nasehat yang berguna. Bila situasinya ekstrem, kita mungkin perlu untuk membicarakan dengan dokter keluarga, ahli-ahli jiwa atau bimbingan konseling sekolah, atau orang-orang profesional di bidang ini.

    Membantu anak pra-sekolah mengatasi stres Kebutuhan anak-anak pra-sekolah adalah mendapatkan rasa cinta, ketentraman hati dan dukungan. Mereka mempunyai sedikit penguasaan dalam kehidupan mereka sendiri dan terlalu muda untuk menggunakan kemampuan memecahkan masalah dengan baik pada situasi-situasi tertentu. Situasi stres yang umum meliputi: memulai atau perubahan jadwal day-care, memulai pra-sekolah, kedatangan seorang bayi baru atau anggota keluarga, terpisahkan dari orang tua, didisiplinkan dan toilet training. Anak-anak pra sekolah juga khawatir akan ditinggalkan atau kelaparan dan mereka mungkin menjadi takut akan orang-orang asing. Selain itu hal-hal yang menakutkan, rasa sakit dan juga hal-hal yang tidak diketahui akan membuat stres.

    Tanda-tanda bahwa anak pra sekolah kita mengalami tekanan mental yang melebihi kekuatannya adalah : lebih lekas marah, mengalami teror malam atau mimpi buruk, lebih sering bertingkah laku kasar, menjadi lebih keras kepala atau menuntut atau bahkan menangis lebih sering dari biasanya.

    Apa yang dapat kita lakukan? Bantulah anak kita untuk mengerti situasi. Jelaskan apa yang akan terjadi dengan cara yang mudah dimengerti dan  bahasa yang menenangkan hati. Berikanlah keberanian pada anak untuk membicarakan ketakutannya. Dia perlu untuk belajar mengatakan hal-hal seperti, “saya tidak menyukainya bila anjing tetangga menyalak,” atau “saya takut masuk ke dalam ruang yang gelap”

    Jangan katakan pada anak kita bahwa ketakutannya adalah suatu hal yang konyol, ketakutannya sangatlah nyata bagi dia. Jangan pernah katakan “Ah, begitu saja kok takut, dasar anak cengeng!” Kurangilah tekanannya dengan menawarkan pengertian, dukungan dan banyak kasih sayang. Genggaman dan bimbingan pada seorang anak  akan membantunya mengurangi stres. Akhirnya kita dapat menambah rasa aman anak kita dengan tetap tenang pada saat masa sulit.

    Kapankah anda mencari bantuan? Ketika kita tidak berhasil dalam segala usaha untuk membantu anak kita, atau ketika masalah terlalu banyak untuk kita sendiri yang harus diselesaikan, carilah bantuan profesional. Jangan ragu untuk meminta nasehat.

    Membantu anak usia sekolah (6 sampai 12 tahun ) Hidup menjadi berat untuk seorang anak usia antara 6 dan 12 tahun. Seorang anak harus menghadapi tekanan di rumah dan belajar untuk mengatasi dunia yang lebih luas yang melibatkan sekolah dan teman-temannya.

    Situasi yang bisa membuat mereka stres : mempunyai nama yang tak biasa, mengerjakan tes di sekolah, merasa lambat, jelek atau pintar, menjadi tertekan untuk mendapatkan nilai yang bagus, berteman dengan teman baru, merasa cemburu, bersaing dalam permainan dengan saudara perempuan atau laki-laki, beradu argumen dengan orangtua atau teman-teman, tidak dapat bekerjasama dengan seorang guru,menjadi cemoohan ,mengkhawatirkan tentang perubahan badan, menjadi malu, mempunyai banyak tugas, dan dikeluarkan dari kegiatan –kegiatan dan teman-teman.

    Tanda-tanda untuk mengenali stres pada anak kita : dia mungkin menarik diri, mengalami kemunduran, dan bertingkah seperti seorang anak yang lebih muda dari usianya, mengompol, memiliki masalah tidur, menggertakkan giginya, atau memiliki masalah bicara. Anak-anak dalam pengaruh stres juga bisa terlihat berpikir dan bergerak lambat. Tanda-tanda yang lain termasuk: kesulitan di sekolah, mencuri, berbohong, curang, sedih, menangis, bertengkar, sering terjatuh, dan kecelakaan.

    Apa yang dapat kita lakukan? Anak-anak yang sangat baik dalam mengatasi stres adalah yang mendapat dukungan dan pengertian dari orangtua. Orantua yang baik akan selalu ada untuk anaknya pada saat dibutuhkan. Cobalah untuk mengerti apa yang dialaminya. Dukunglah dia untuk membicarakan masalahnya lagi, dan bantulah dia untuk mengatasi masalahnya. Anak kita memang mulai mengembangkan beberapa kemampuan dalam mengatasi masalah namun dia  tetap memerlukan bantuan dalam hal ini.

    Saya sering menjumpai bahwa orangtua sering menambah tekanan pada kehidupan anak mereka dengan menekannya terlalu keras melalui target-target. Bila masalah-masalah berputar sekitar sekolah, duduk dan bekerjasama dengan guru anak kita untuk membuat tujuan yang realistis dan standarisasi untuk mencapai prestasi. Masalahnya bukan hanya dalam hal akademik. Terkadang anak-anak terlibat dalam banyak kegiatan yang berbeda atau mempunyai banyak sekali tugas di rumah. Kita bisa memberikan  lebih banyak kasih sayang, persetujuan dan penguatan yang positif pada mereka. Dengarkan dan bantulah mereka untuk mengatur stres dalam hidupnya.

    Kapankah kita seharusnya mencari bantuan? Ketika masalahnya diluar keahlian mendidik anak yang kita miliki, itulah saat  mencari bantuan.  Bisa juga ini dijadikan momentum yang tepat untuk memperkenalkan anak konsep “dewan keluarga”.  Dewan keluarga mengijinkan sebuah keluarga  untuk berdiskusi tentang sebuah pokok permasalahan. Kepemimpinan diputar dan anak-anak mempunyai peran yang sama dalam pertemuan. Keluarga tersebut bersama-sama mencari jalan keluar atas masalah-masalah tersebut. Ini adalah sebuah latihan kepemimpinan yang bagus. (bersambung)

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Ariesandi

  • Mengajak Anak Menggapai Impiannya


    KUTANTANG PEMIKIRAN MAKA SEMUA MIMPI ADALAH MUNGKIN BAGIKU………

    Seorang anak laki-laki, Ronald, memiliki guru Bahasa Inggris yang hanya menilai karangannya berdasarkan tata bahasa dan ejaannya saja. Namun, Bapak B.J. Frazer, guru Bahasa Inggris Ronald di sekolah yang baru, mengumumkan bahwa isi karangan juga akan dinilai, bahkan Bapak Frazer mengembangkan metode pengajarannya dengan menghidupkan sesi drama dalam kelasnya. Sang guru dengan semangat menantang murid-muridnya untuk membuat tulisan / karangan yang berakar pada ide/topik yang beragam bahkan murid dibiasakan untuk menganalisa karakter yang mereka kisahkan/perankan dalam sesi  drama. Menghayati peran yang bagus tidak hanya sekedar menghafalkan dialog dan tata bahasanya tapi dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat stimulasi seperti “Apakah arti karakter yang engkau mainkan berdasarkan dialog itu?” telah membuat Ronald berusaha untuk benar-benar mendalami karakter dalam karangannya agar mampu mengetahui motivasinya. Ronald tak hanya belajar Bahasa Inggris tapi langsung mencoba untuk mengerti apa yang dirasakan peran tersebut dengan mencoba menempatkan dirinya dalam karakter itu. Skala penilaian yang baru memicu imajinasi Ronald.
    Terkesan dengan kepolosan Ronald yang menyegarkan, Bapak Frazer seringkali memilihnya untuk membacakan karangan kreatifnya di depan kelas. Teman-temannya kagum dan tertawa melihat Ronald membacanya di depan kelas sekelasnya. Ronald dengan sengaja mulai memasukkan unsur hiburan ke dalam tulisannya sampai suatu saat dia sukses dalam audisi untuk sebuah drama yang disutradarai oleh Bapak Frazer.
    Pengalaman unik ketika bersekolah, meninggalkan kesan mendalam di dalam dirinya. Kesan ini yang mengantarkannya ke gerbang Warner Brothers di Burbank, California ketika menginjak usia 29 tahun. Saat Ronald gugup menghadapi casting film pertamanya, ia teringat pengalamannya di sekolah dulu. Keinginannya untuk membuat Bapak Frazer bangga merupakan satu-satunya obat terampuh mengusir kecemasan casting pertamanya. Ronald kemudian membintangi lebih dari 50 film bahkan dia terpilih menjadi Presiden Screen Actors Guild.
    Ada 1 peristiwa yang ternyata tak hanya membuat Ronald menjadi aktor yang cukup disegani dalam dunia perfilman, tapi juga membuat publik Amerika mendukungnya untuk berkiprah dalam dunia politik. Peristiwa itu terjadi saat Ronald berbicara dengan penuh semangat atas nama seorang kandidat nasional yang didukungnya,”Engkau dan saya punya kesamaan nasib. Kita dapat menyiapkan anak-anak kita untuk hal-hal seperti : harapan terbaik, mimpi terindah atau kita dapat mengarahkan mereka untuk melangkahkan kaki ke dalam kegelapan selama beribu-ribu tahun”.
    Bapak Frazer mungkin tidak pernah membayangkan pengaruh dari apa yang telah dia berikan dalam kelasnya terhadap murid-muridnya. Dia juga tidak pernah membayangkan Ronald akan menggunakan banyak cara dalam proses belajarnya yang mencakup tak hanya dari segi akademik saja,”Proses yang dikenal dengan nama empati bukanlah sebuah latihan yang buruk untuk orang yang berkecimpung di dalam dunia politik (atau untuk profesi lain),” Ronald menggambarkan,”Dengan mengembangkan kemampuan untuk menempatkan diri sendiri di posisi orang lain, akan membantu anda dalam menjalin hubungan yang lebih baik terhadap sesama dan mengerti mengapa mereka berpikir seperti yang mereka pikirkan, meskipun mereka berasal dari latar belakang yang cukup berbeda dari anda”.
    Anak itu adalah Ronald Reagan, beliau tak hanya telah berhasil membawa Amerika keluar dari kehancuran ekonomi, namun visi, karakter dan rasa optimisnya menginspirasi sifat dan patriotisme warga Amerika Serikat menjadi lebih tinggi. Ronald Reagan menantang warganya untuk berpikir sehingga jendela-jendela mimpi tiap-tiap individu terbuka.
    Bagaimana dengan kita semua? Apakah kita mengajarkan anak-anak kita untuk bermimpi?
    Sebuah buku yang akan membantu untuk melejitkan potensi anak-anakAnda telah selesai saya tulis dan diterbitkan Gramedia judulnya “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia  : Tips Praktis dan Teruji Melejitkan Potensi Optimal Anak”
    Dapatkan bukunya dan ajak anak-anak menggapai impian-impiannya!
    Salam hangat dari saya, Ariesandi.


  • Ibu, aku mencintaimu!

    Para orangtua tercinta dimana pun Anda berada,

    Ada seorang sahabat mengirimkan sebuah artikel pada saya. Saya tak tahu siapa penulis asli artikel ini. Namun artikel ini sangat bernilai tinggi. Melalui situs ini saya mohon ijin untuk memuat artikel tersebut dan sekaligus mengucapkan beribu terima kasih karena telah menulis sebuah artikel yang inspiratif, sebuah artikel yang menyentuh hidup banyak orang sehingga mereka bisa menghidupkan kehidupan lainnya. Saya yakin kita semua mendapatkan pencerahan, penguatan, kepercayaan, kekuatan dan keyakinan yang lebih teguh lagi untuk dapat menjadi orangtua yang terbaik bagi anak-anak kita.

    moz screenshotMarilah kita renungi bersama setiap kata-kata penuh makna di bawah ini :

    Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah
    Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi
    Bagi para ibu, Anda akan mencintainya

    Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.
    ‘Apakah jalannya jauh?’ tanyanya.
    Pemandunya menjawab: ‘Ya, dan jalannya berat.
    Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini…
    Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.’

    Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik daripada tahun-tahun ini.
    Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka  sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.
    Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru:  ‘Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.’

    Lalu malam tiba bersama badai.
    Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan.
    Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantelnya.
    Anak-anak itu berkata: ‘Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat kami. Tak ada yang dapat menyakiti kami.’

    Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya: ‘Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.’

    Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.
    Saat sampai di puncak, mereka berkata: ‘Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.’

    Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata:
    ‘Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini aku memberi mereka kekuatan.’

    Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.
    Awan perang, kebencian dan kejahatan.
    Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.
    Ibunya berkata: ‘Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.’
    Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi yang menuntun mereka melalui kegelapan.
    Dan malam harinya ibu itu berkata: ‘Ini hari yang terbaik. Karena saya sudah memperlihatkan Sang Pencipta kepada anak-anakku’

    Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.
    Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.
    Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani.
    Saat jalannya sulit, mereka membopongnya; karena ia seringan bulu.
    Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.
    Ibu berkata: ‘Saya sudah sampai pada akhir perjalananku. Dan sekarang aku tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.
    Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak mereka ada di belakang mereka.’

    Dan anak-anaknya menjawab: “Ibu selalu akan berjalan bersama kami… Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.’

    Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri…  dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.
    Dan mereka berkata: “Kita tak dapat melihat ibu lagi. Tetapi dia masih bersama kita. Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan. Ia senantiasa hadir dan hidup.’

    Ibumu selalu bersamamu….
    Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan
    Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci
    Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.
    Ibumu hidup dalam tawa candamu.
    Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.
    Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.
    Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu

    Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.
    Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.

    Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!

    Para orangtua tercinta dimanapun Anda berada, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan mungkin juga Anda.

    Jika  Anda masih bisa menikmati kehadiran ibu di tengah-tengah kita marilah sekarang kita meneleponnya, menjemputnya dan menyapanya untuk menyampaikan terima kasih kita padanya.

    Jika  Anda sudah tidak bersama ibu lagi, marilah panjatkan doa yang tulus untuknya.

    Dan bagi para suami yang membaca artikel ini, marilah  datangi istri kita  dan mengucapkan terima kasih atas cintanya pada kita, atas apapun yang telah ia lakukan untuk kita dan anak-anak.

    Marilah kita mendukung para ibu untuk menjalankan misi mulianya.

    Semoga tulisan sederhana ini mendekatkan kembali para pasangan, mengobarkan kembali semangat para ibu untuk menjadi yang terbaik bagi suami dan anak-anaknya dan menyemangati para suami untuk menjadi yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya.

    Salam hangat penuh cinta dari saya, Ariesandi.

    Informasi workshop “The Secret of Super Parenting” bisa Anda baca selengkapnya di bagian lain situs ini.

  • Bahayanya Keluarga yang Selalu Bersama?

    Suatu saat selepas sebuah seminar yang baru saja selesai saya bawakan seorang ayah datang dan menceritakan keluh kesahnya. Apalagi kalau bukan tentang anaknya.

    Ia memiliki 2 orang anak yang sudah remaja dan satu sama lain saling mengiri. Yang satu mengatakan ,”Ayah selalu sayang adik! Tidak pernah memenangkan aku!” dan yang satu lagi mengatakan, “Ayah selalu saja memerhatikan kakak! Aku tidak pernah diperhatikan dan harus selalu menurut sama kakak!”

    Sang ayah kebingungan karena selama ini, menurutnya, ia dan istri telah memperlakukan kedua anak mereka dengan adil. Bahkan mereka sering keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga.

    Selain itu kedua orang kakak beradik tersebut sering bertengkar dan saling berusaha menonjolkan diri. “Saya harus bertindak bagaimana?” keluh sang ayah dengan wajah kebingungan.

    Masalah seperti ini sering dialami oleh banyak orangtua. Jika tidak ditangani dengan segera maka masalah ini bisa melebar ke berbagai hal. Bisa mempengaruhi motivasi dan semangat hidup seorang anak. Dan selanjutnya hal ini bisa mempengaruhi masalah akademik.

    Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mengatasinya? Marilah kita tinjau apa yang diperlukan seorang anak. Setiap anak, maupun orang dewasa, memerlukan pengakuan. Ketika seorang anak berkembang remaja maka kebutuhannya untuk diakui sebagai individu yang spesial makin membesar. Usia remaja adalah usia dimana seorang anak mencari identitas diri.

    Fase pencarian identitas ini akan berlangsung mulus jika fase sebelumnya berjalan dengan baik. Apa yang diperlukan id fase sebelumnya adalah pengakuan dan penerimaan dari figur yang dipandang memiliki otoritas. Dalam hal ini figur tersebut adalah kedua orangtua.

    Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan tersebut? Sederhana luangkan waktu secara pribadi untuk masing-masing anak. Ajaklah seorang anak keluar atau melakukan suatu aktivitas secara pribadi. Setelah itu selang beberapa hari kemudian ajaklah anak yang lain untuk melakukan suatu aktivitas secara pribadi juga. Jadi secara bergantian pada waktu yang berbeda ajaklah anak Anda satu persatu melakukan sesuatu atau pergi ke tempat kesukaannya.

    Ada banyak hal yang bisa kita lakukan secara pribadi dengan masing-masing anak. Makan es krim favorit bersama sang anak, makan di restoran favorit sang anak, jalan-jalan ke taman kota dan bermain sejenak di sana, menonton film kesukaan sang anak berduaan, main game komputer berduaan, putar-putar kota melihat berbagai tempat, membacakan dongeng favorit sang anak, bermain layang-layang berduaan saja dan lain-lain.

    Yang paling penting diperhatikan saat melakukan aktivitas pribadi dengan seorang anak adalah kualitas perhatian yang kita berikan pada sang anak. Jika kita hanya mengajak dia melakukan sesuatu maka yang terjadi hanyalah kedekatan fisik saja. Oleh karena itu libatkan dia dan tanyai perasaannya serta ingat selalu untuk menjaga kontak mata dan sentuhan fisik dengannya.

    Saat kita melakukan hal ini maka seorang anak akan merasa senang dan diperhatikan. Ia menjadi seorang yang spesial karena tak ada kakak atau adiknya. Ia hanya berduaan dengan sang ayah atau suatu saat dengan sang ibu saja.

    Inilah yang akan membuatnya berani untuk menentukan jati dirinya kelak ketika ia remaja. Ia akan berani menentukan identitas karena secara emosional ia mendapatkan apa yang butuhkan.

    Bagaimana jika anak kita telah remaja dan kita baru menyadarinya sekarang? Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama dengan anak Anda. Pilihlah kegiatan yang mereka suka dan lakukan bersama mereka. Hal ini akan mengembalikan kepercayaan diri mereka.

    Jadi kita sekarang telah sama-sama menyadari bahwa kebersamaan keluarga itu penting namun kita tidak boleh mengabaikan kepentingan personal setiap anak untuk membangun identitasnya secara pribadi. Oleh karena itu sebagai orangtua kita tetap perlu meluangkan waktu secara pribadi dengan setiap anak.

    Ketika kita melakukan aktivitas pribadi dengan seorang anak maka secara tanpa disadari kita telah  mengisi tangki cintanya. Penjelasan detail tentang tangki cinta bisa Anda lihat di DVD Tangki Cinta yang bisa Anda  dapatkan hanya di www.sekolahorangtua.com.

  • Kedekatan Fisik Tidak Sama dengan Kedekatan Emosional

    family2.jpg Ibu Ani, bukan nama sebenarnya, kebingungan menghadapi anaknya yang baru saja kelas 1 SD. Tingkah lakunya menjadi susah dikontrol dan sering dimarahi guru di kelas. Ia dilaporkan sering berjalan-jalan di kelas mengganggu teman-temannya ketika pelajaran berlangsung. Di rumah pun demikian, adiknya tak pernah lolos dari gangguannya. Hal ini terjadi sejak ia mulai masuk kelas 1 SD. Selain itu motivasi belajarnya juga naik turun namun banyak turunnya.

    Sampai suatu saat guru kelasnya angkat tangan dan menyarankan orangtuanya untuk pergi ke psikolog dan melakukan tes IQ. Setelah beberapa hari keluarlah hasil tes yang dimaksud yang menyatakan bahwa si Erik, anak Ibu Ani, normal-normal saja. IQ nya 122 skala Weschler. Saran dari tes tersebut adalah Erik perlu pendampingan yang lebih konsisten dan diperhatikan kebutuhan emosionalnya.

    Saudara Ibu Ani, teman baik saya, menyarankan Ibu Ani pergi menemui saya sekedar untuk mendapatkan wawasan dan bertukar pikiran. Singkat cerita saya pun menemui Ibu Ani, suaminya dan teman saya tersebut, sekaligus melepas rindu karena lama tak ngobrol lagi dengannya sejak kami berpisah sewaktu lulus SMA.

    Setelah membaca hasil tes IQ Erik saya bertanya pada Ibu Ani beberapa hal. Ibu Ani tidak bekerja, ia sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus pekerjaan rumah tangga dan 2 orang anaknya. Ia mengeluh mengapa waktu yang ia curahkan untuk si Erik seakan kurang. Apalagi sejak kelahiran adiknya maka si Erik suka sekali mencari perhatian dengan melakukan berbagai hal yang aneh-aneh.

    Satu hal yang perlu kita sadari tentang kedekatan orangtua dengan anak. Banyak orang mengartikan kedekatan orangtua dengan anak hanyalah kedekatan secara fisik. Seperti suami Ibu Ani, ketika saya tanya berapa banyak waktu yang ia curahkan pada Erik secara rata-rata dalam sehari. Ia mengatakan bahwa setiap pulang kerja ia selalu menemani Erik. Dan itu terjadi hampir tiap hari kecuali kalau ada tamu.

    Kemudian saya menggali lebih dalam lagi untuk tahu apa yang ia lakukan sewaktu bersama Erik. Ia pun menjawab bahwa mereka berdua nonton TV. “Oke saya harap anda berdua menonton film edukasi bagi si Erik, jangan nonton sinetron yang banyak adegan kekerasan, manipulasi, iri dan dengki”, kata saya.

    “Lha mana bisa Pak, Papanya suka nonton sinetron kok!”, sahut Ibu Ani tiba-tiba.

    “Oke Pak, kalau begitu bolehkah saya tahu satu hal lagi? Apakah yang Bapak lakukan sewaktu nonton TV dengan Erik?”, tanya saya lebih spesifik pada suami Ibu Ani.

    “Ehm, ya nonton aja Pak sambil terkadang peluk Erik”, katanya. Dan saya pun segera bisa menebak apa yang kurang pada si Erik. Kedua orangtua Erik hanya dekat secara fisik dengan anak mereka namun tidak ada keterlibatan emosi yang mendalam.

    Kebanyakan orangtua bertindak sebagai “supervisor” bagi anaknya. Ketika sang anak pulang sekolah maka serentetan “pertanyaan rutin” dan bisa ditebak pasti meluncur menyerang si anak. Sambil menggandeng tangan anak maka muncullah pertanyaan semacam ini :

    • “Tadi ulangannya bisa atau tidak?”
    • “Ada PR atau tidak?”
    • “PR mu tadi benar atau tidak?”
    • “Besok ulangan apa?”
    • “Makanannya tadi habis atau tidak?”
    • “Kamu tadi nakal atau tidak?”
    • “Kamu tadi dihukum atau tidak?”

    Dan terjadilah percakapan mekanis yang berulang dari hari ke hari selama anak itu sekolah. Bisa jadi itu pertanyaan yang sama yang akan diucapkan pertama kali saat anak pulang sekolah dari SD sampai SMU. Dan inilah yang sering dimaksud oleh para orangtua dengan “kedekatan dengan anak”. Ya …… memang itu kedekatan tapi lebih banyak kedekatan secara fisik saja.

    Sama juga dengan ketika memandikan anak, mengajaknya nonton VCD bersama atau mengajaknya jalan-jalan. Ada yang melakukannya dengan sepenuh hati sambil bercakap-cakap santai dengan si anak ada juga yang hanya sekedar melakukan hal itu semata-mata karena kita memang harus melakukannya. Bukan dengan sepenuh hati.

    Lalu bagaimana caranya agar kedekatan kita bermakna bagi anak? Pastikan kita mengetahui apa yang ia rasakan. Katakan pada anak sewaktu ia pulang sekolah “Halo Sayang, bagaimana harimu? Apa yang kamu rasakan hari ini? Bersemangat atau gembira atau tak sabar menanti hari esok karena ada suatu kejutan?”

    Setelah ia menanggapi jangan berusaha menasehati apapun, cukup dengarkan saja. Kalau ia mengatakan sesuatu yang positif maka katakan “Wow, Mama/Papa ikut senang mendengarkan pengalamanmu hari ini. Terus … terus apa lagi?”

    Kalau ia mengatakan sesuatu yang negatif cukup katakan,”Oh, Mama/Papa ikut sedih mendengar hal itu. Mama/Papa juga pernah mengalami perasaan seperti itu. Kamu mau mendengar bagaimana Mama/Papa mengatasi perasaan itu?” Dan kemudian ceritakan tanpa bermaksud menggurui. Setelah itu berikan pelukan hangat padanya.

    Ingatlah sewaktu mendengarkan anak bercerita atau mengungkapkan perasaanya maka pastikan kita tak melakukan apapun atau mengerjakan apapun. Tatap matanya dan dengarkan dengan penuh perhatian. Jika ada telepon dan itu bisa ditunda cobalah untuk tidak menanggapinya terlebih dahulu jika memang Anda memandang anak lebih penting. Dalam hati terdalam seorang anak ia ingin dinomorsatukan oleh papa atau mamanya.

    Selain itu perhatikan tangki emosional anak kita. Tangki emosional atau tangki cinta ini kita penuhi melalui bahasa cinta yang tepat. Ada lima bahasa cinta yang bisa kita berikan pada anak tergantung mana yang dominan. Kelimanya adalah layanan, kata-kata pendukung, hadiah, sentuhan fisik, dan waktu berkualitas. Jika tangki emosional seorang anak penuh maka ia mudah diajak kerja sama dan mudah menurut serta memiliki motivasi tinggi.

    Karena keterbatasan ruang maka hal mendetail mengenai bahasa cinta, bagaimana menemukan yang utama dan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan bisa Anda baca di artikel sebelumnya atau bisa juga dengan melihat secara komplit di DVD Tangki Cinta yang berdurasi 3 jam.

  • “Skala Kebijaksanaan” Orangtua

    42_17323729.jpg Devi cemberut setelah dimarahi Papanya. Ia merasa sangat butuh Papanya untuk membantu.Tetapi malah diminta mengerjakan sendiri.

    ”Kalau tahu akhirnya toh diminta mengerjakan sendiri ngapain repot-repot menunggu Papa selesai. Huhhh menyebalkan! Papa menyebalkan!”, gerutunya dalam hati.

    Sementara sang papa kembali melanjutkan aktivitasnya. Tetapi pikirannya tidak bisa fokus pada apa yang dikerjakannya. Ia pun tak tahu apa yang membuatnya punya perasaan seperti itu.

    Siang berganti sore dan dengan cepat sore berganti malam. Seisi penghuni rumah Devi tertidur lelap. Tetapi Papa Devi tak bisa memejamkan mata secara sempurna.

    Tiba-tiba ia mendengar suara halus dari dalam hatinya. Suara itu menegurnya dengan lemah lembut namun penuh ketegasan. ”Engkau marah dengan dirimu sendiri tapi engkau tumpahkan pada anakmu yang tak tahu apa-apa. Sebenarnya kemarahanmu pada Devi tak perlu terjadi. Engkau bingung bagaimana harus menghadapi Devi bukan? Selama ini engkau tak pernah punya waktu untuk memikirkan strategi mendidik dan mengelola anak-anakmu!”

    Semalaman ia tidak dapat tidur nyenyak. Ia merasa telah berbuat banyak untuk anaknya. Ia sudah membiayai sekolah dan kursus Devi. Ia membelikan berbagai keperluannya, mengajaknya berlibur, menemaninya bermain, tapi sepertinya masih ada yang kurang. Seribu pertanyaan lagi masih menggantung di pikiran.

    Apa yang dialami ayah Devi banyak dialami orangtua lain. Mereka semua tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Semua pada bingung harus bagaimana. Ada banyak sekali tawaran tentang konsep pendidikan anak di luar sana. Semuanya laris manis. Mulai dari lagu yang bisa menstimulasi otak bayi sampai pendidikan super yang akan membuat anak kita menonjol dibanding anak lain. Dan semuanya dilatarbelakangi hasil penelitian ilmiah yang mutakhir.

    Lalu apa jadinya? Orangtua menjadi terprovokasi dan laris manislah semuanya. Segala bisnis yang menyangkut anak, mulai dari keperluan bayi, mainan edukatif, buku bergambar, musik edukatif sampai sekolah berbahasa asing yang mempunyai berbagai fasilitas mentereng mulai bermunculan. Semuanya dikarenakan adanya permintaan pasar.

    Lebih tepatnya semua dikarenakan banyaknya orangtua yang bingung bagaimana harus mendidik anaknya. Orangtua kebanyakan ingin semuanya cepat beres. Mereka tak sempat lagi berpikir mana yang esensial bagi anaknya. Ketika teori-teori hasil penelitian ilmiah disampaikan sebagai latar belakang suatu produk atau jasa maka mereka langsung terbuai.

    Para orangtua sendiri tidak mempunyai pengetahuan yang cukup memadai untuk menilai produk yang ada di pasar. Mereka hanya menilai segala sesuatu dari seberapa cepat hasilnya tampak pada anak mereka. Jika itu memakan waktu lama, bertahun-tahun misalnya, maka mereka akan menganggap produk itu tidak bagus.

    Orangtua disibukkan berburu produk yang bagus untuk anaknya. Mereka sibuk menilai berbagai produk dan jasa yang akan digunakan untuk anaknya. Waktu mereka habis untuk hal tersebut.

    Orangtua tidak menyadari bahwa kemampuan mereka menilai produk dan jasa sebanding dengan dalamnya pengetahuan yang mereka miliki tentang psikologi tumbuh kembang anak beserta segala aspeknya. Jadi setiap orang pastilah mendapatkan manfaat dari segala macam produk tersebut tergantung dari seberapa dalam kita mengerti tentang produk tersebut. Kebanyak orangtua lupa untuk mengedukasi dirinya sendiri agar mampu memilih sesuatu yang baik bagi anaknya. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan pengetahuan dari orangtua mereka. Atau informasi sepotong-sepotong dari majalah dan teman yang memilki kasus serupa.

    Orangtua sibuk meminta anak-anaknya belajar segala sesuatu tetapi mereka sendiri lupa untuk belajar. Padahal wawasan luas yang dimiliki orangtua menentukan pendidikan dan pengasuhan seperti apa yang akan diterima anaknya.

    Baiklah mari kita misalkan segala pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak diberi skala dari satu sampai sepuluh. Sepuluh adalah skala terbaik. Orangtua yang memiliki pengetahuan mendidik anak di skala 4 akan memperlakukan anaknya dengan cara yang berbeda sama sekali dibanding orangtua yang memiliki skala 8.

    Anak dengan orangtua skala 4 akan mengalami perlakuan yang berbeda dengan anak yang orangtuanya berskala 8. Di manakah skala anda ?

    Banyak orangtua menanyakan, “Bagaimana caranya menilai kemampuan diri sendiri untuk menangani anak?”

    Mudah sekali. Ada beberapa hal penting yang patut kita kuasai sebagai dasar untuk membimbing anak.

    Inilah beberapa hal penting dan mendasar yang perlu dikuasai dengan mendalam agar bisa mendidik anak kita menjadi sukses dan bahagia : • Mengenali diri sendiri dengan baik dan mampu mengelola emosi sendiri. Jika sebagai orangtua kita tidak mampu mengenali diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik bagaimana kita bisa mengerti dan memahami orang lain (anak kita) • Memiliki persepsi yang benar tentang mendidik dan mengasuh anak. Persepsi yang benar bisa dicapai jika kita mengerti cara berpikir yang benar dan mempunyai pengetahuan luas tentang anak-anak • Mengerti tentang mekanisme pikiran dan fungsi otak sehingga kita mampu mempertimbangkan setiap tindakan dan ucapan • Mengerti bagaimana pikiran memroses informasi dan pengalaman serta dampaknya di masa depan anak • Kemampuan berkomunikasi yang bagus sehingga mampu menyampaikan maksud baik kita kepada anak tanpa distorsi makna. Semua orangtua bermaksud baik terhadap anaknya tetapi seringkali anak memaknainya dengan salah karena cara komunikasi yang tidak tepat • Mengenali tipe kepribadian anak sehingga mampu interaksi anak-orangtua berjalan dengan baik • Mengenali tipe dan gaya belajar anak sehingga kita mampu mengarahkan anak mencapai prestasi opitmal di bidang akademis • Mengerti setiap proses tumbuh kembang anak serta apa yang diperlukan di setiap proses • Kemampuan membantu anak mengatasi trauma sederhana • Kemampuan membantu anak mengatasi masalah emosional dan membantunya memiliki kontrol diri yang baik • Kemampuan membantu anak mengembangkan disiplin yang sehat tanpa merusak harga dirinya

    Itulah beberapa hal mendasar yang perlu dikuasai orangtua agar mampu mendidik anak untuk tumbuh menjadi manusia sukses dan bahagia. . Jika kita umpamakan bisa menguasai semua hal di atas maka kira-kira kita akan berada di skala 6 atau 7 sebagai orangtua yang baik. Karena ada berbagai hal lain yang penting tergantung dari situasi dan kondisi masing-masing. Ingatlah jika kita berada di skala 8 sebagai orangtua maka kita akan memandang segala hal tentang permasalahan anak dengan cara yang sama sekali berbeda dibanding jika kita berada di skala 3 atau 4 atau 5.

    Di angka berapakah skala Anda sebagai orangtua? Kapankah Anda mau meningkatkan diri sebagai orangtua agar bisa menjadi yang terbaik demi anak Anda? Kita tak akan pernah tahu kapan kita akan menjadi sempurna sebagai orangtua bagi anak kita. “Skala kebijaksanaan” ini pun sebenarnya tak berujung, namun satu hal yang pasti bahwa jika kita lebih banyak belajar sehingga tahu lebih banyak maka kita memiliki kecenderungan besar mengambil keputusan yang tepat bagi anak-anak kita. Belajar dan mempraktekkan apa yang dipelajari adalah satu cara yang pasti untuk bisa meningkatkan kapasitas kita menjadi yang terbaik bagi anak-anak kita ……………………

    Saya, Ariesandi beserta keluarga dan team SekolahOrangtua.com menyampaikan salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

  • Apakah Disiplin Sama dengan Hukuman?

    tired_mom.jpg Dalam kegiatan sehari-hari mendidik dan mengasuh anak kita seringkali berhadapan dengan berbagai perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Karena itu sering timbul dalam pemikiran untuk “mendisiplinkan” anak tersebut. Namun sayangnya banyak sekali orangtua tidak memahami benar apa makna disiplin yang sebenarnya. Orangtua dan pihak-pihak lain yang sering berurusan dengan anak gagal membedakan disiplin dengan hukuman.

    Bahkan sejumlah kamus pun gagal melakukan pembedaan ini. Salah satunya adalah The New Oxford American Dictionary, kata dicipline (disiplin) didefinisikan sebagai “praktik melatih orang untuk mematuhi aturan dengan menggunakan hukuman untuk memperbaiki ketidakpatuhan”. Oleh karena itu tak heran dengan definisi semacam ini maka seringkali pendisiplinan dikaitkan dengan alat-alat yang dipakai untuk membuat para pelaku kejahatan jera : penyalahan, membuat malu dan bahkan hukuman fisik.

    Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Anak kita adalah seorang murid bagi orangtuanya. Agar ini dapat terjadi maka sebagai orangtua kita selayaknya menjadi pemimpin yang berharga untuk dipatuhi dan diteladani oleh anak-anak kita.

    Perbedaan mendasar antara disiplin dengan hukuman adalah :
    • Hukuman mengajarkan suatu pelajaran melalui pemaksaan emosional atau kekerasan fisik, hukuman mungkin terlihat bisa menghentikan perilaku yang tidak diinginkan saat ini namun sudah pasti tidak mencegahnya terulang lagi di masa mendatang. Berdasarkan berbagai riset para pakar psikologi hukuman bukan cara yang efektif agar anak bertingkah laku baik untuk jangka panjang.
    • Disiplin menggunakan kebijaksanaan untuk mengajarkan nilai-nilai yang memperlihatkan betapa seorang anak dapat menentukan sendiri pilihannya dengan baik sesuai dengan perkembangan emosinya saat itu. Oleh karena itu tak ada “cara yang benar “ yang bisa berfungsi sepanjang waktu untuk semua situasi

    Saya jadi teringat dengan seorang klien kecil berusia 5 tahun, ia dikeluhkan oleh ayah dan ibunya sebagai anak yang susah diatur, sulit diberitahu, pemarah dan sukanya hanya main boneka dan menonton film.
    Saat pertama kali melihat wajahnya di ruangan saya biasa menerima klien maka saya langsung tertarik dengan gadis kecil ini. Matanya berbinar menandakan kecerdasan dan senyumnya merekah menandakan keceriaan khas anak kecil. Saya tak yakin anak ini susah diatur dan sulit diajak bekerja sama seperti yang dikeluhkan orangtuanya.

    Saya langsung menyapa kedua orangtuanya dan kemudian langsung mengalihkan perhatian padanya. Setelah berbincang santai dengannya beberapa saat saya mengirimnya ke dalam ruangan lain untuk bermain bersama dengan putera saya Fio dan Aldo. Dan sekarang saya hanya bertiga bersama kedua orangtuanya. Tak berapa lama saya mendapati kedua orangtuanya over-expectation (berpengharapan lebih) terhadap anaknya yang baru berusia 5 tahun.

    “Saya ini sakit tenggorokan dan berusaha mencari cara agar sembuh sendiri tanpa ke dokter karena ingin menghemat biaya. Saya berusaha menjaga makanan yang masuk dan banyak minum air putih. Kemarin dia membuat saya jengkel sekali. Sudah tahu dirinya batuk ehhh …… malah makan es krim. Saya berkali-kali mengingatkan untuk menjaga makanannya namun ia tetap saja bandel. Ia harusnya mengerti bagaimana orangtua susah mencari uang. Kami sudah berulang kali menceritakan bagaimana kami bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup ehhhh ……… dia malah seenaknya saja dan tidak mau mengerti kesulitan orangtua. Akhirnya kemarin saya bentak dia dan saya katakan kalau ia lebih baik di luar saja tidak usah pulang rumah kalau hanya bisa menyulitkan orangtua saja” kata sang ayah menceritakan kejadian yang membuatnya sangat jengkel dengan puteri kecilnya.

    Saya hanya bisa terdiam dan berusaha memahami jalan pikiran sang ayah yang lagi frustrasi di depan saya. Kemudian sang istri menanyakan pada sang suami, “Tapi kenapa kamu kemarin menawarkan es krim padanya walaupun sudah tahu bahwa ia batuk?”

    “Lho saya kan berusaha mendisiplinkan dia. Saya mau tahu kalau dia lagi batuk seperti itu apakah dia bisa mengontrol diri atau tidak? Eh …… kok malah tidak mengerti kalau sedang dites!”

    “Lho kamu ini gimana sih, lha si Ellen itu sukanya es krim kok malah kamu tawari. Kamu ini memang cari perkara kok. Kamu sendiri kemarin makan krupuk sama telor goreng walaupun kamu tahu kamu sedang batuk. Terus anakmu tanya kenapa makan gorengan kamu marah!”

    “Lha gimana tidak marah. Ia anak kecil mau tahu urusan orangtua. Kan sudah tidak ada pilihan makanan lain di rumah. Ia harusnya mengerti dong kalau kamu sedang sibuk dan tidak sempat masak. Saya sebenarnya juga tidak ingin makan gorengan tapi terpaksa karena tidak ada makanan lain. Kalau saya sakit lebih parah kan yang susah juga seisi rumah”, kata sang suami menimpali.

    Ketika mendengar jawaban dari ayah ini saya sebenarnya ingin tertawa tapi saya tahu itu tidak boleh. Saya hanya tersenyum kecil saja dan mencegah pertengkaran suami istri tersebut agar tidak meledak menjadi perang dunia di ruangan saya.

    Jika Anda perhatikan sang ayah terlalu egois dan mau menang sendiri. Ia menetapkan peraturan yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Ia tidak memberikan si anak kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran diri sesuai dengan usianya. Itulah “aturan plastis” yang sering dibuat orangtua demi keuntungan dirinya. Aturan plastis itu seperti karet yang lentur. Kalau orangtua yang berbuat maka pasti ada penjelasan masuk akalnya dan anak dituntut mengerti penjelasan tersebut dengan keterbatasan cara berpikirnya tapi kalau anak yang berbuat maka ia pasti disalahkan tanpa mempertimbangkan hal lain.

    Dari percakapan singkat itu saja kita tak perlu kuliah psikologi untuk tahu siapa penyebab masalah Ellen, yang menurut laporan orangtuanya, susah diatur. Bagaimana menurut Anda, pembaca?

    Disiplin positif berarti bekerja dengan komunikasi yang baik, mendengarkan anak, mangamati anak dan menetapkan batasan yang jelas terhadap perilaku anak. Saat membangun sebuah komunikasi perhatikan tipe kepribadian dan bahasa cinta anak agar terhindar dari masalah yang lebih rumit karena pemaknaan yang kurang pas dari pihak anak. Materi detai tentang tipe kepribadian anak dan bahasa cinta bisa Anda pelajari dalam Parents Club Multimedia Course.

    Inilah rencana tindakan umum yang bisa kita lakukan untuk membangun suatu situasi kondusif bagi terlaksananya disiplin positif :
    1. Sosialisasi tindakan
    • Sejak dini sosialisasikan apa yang hendak tuju ketika anak-anak itu bertumbuh dan berkembang. Hal ini tergantung dari persepsi yang dimiliki orangtua tentang berbagai aspek kehidupan. Secara bertahap sesuai dengan perkembangan mereka ajarkan kebaikan, pentingnya menghargai kebutuhan dan pendapat orang lain serta kasih sayang. Jangan menetapkan sesuatu tanpa sosialisasi terlebih dahulu karena akan mengagetkan anak.

    2. Penetapan batas
    • Kunci penting di sini adalah keberanian dan kesadaran diri orangtua. Ingatlah bahwa semua anak itu menguji batasan yang ditetapkan untuk dirinya, terutama pada anak yang masih kecil (ini mungkin terdengar agak menjengkelkan Anda, tapi itulah anak-anak). Hal itu menjadi bagian dari proses perkembangan mereka.
    • Tips yang bisa berguna untuk Anda kembangkan adalah :
    – Batasan yang ditetapkan harus adil
    – Aturan yang dibuat harus beralasan dan sesuai dengan kemampuan anak
    – Perintah yang diberikan harus jelas, positif dan tegas.

    Perintah tidak jelas contohnya, “Mama mau kamu bersikap baik!”. Bagi seorang anak usia 6 tahun pun ini masih membingungkan. Ia tidak tahu maksud dari “baik” itu apa. Kata ini sangat relatif. Anda harus menjelaskan poin- poin yang Anda maksud dengan kata “baik”. Apakah yang Anda maksud meletakkan kembali mainan yang telah selesai digunakan atau mengucapkan terima kasih setiap menerima pemberian atau permisi jika hendak lewat di depan orang yang lebih tua atau apa lagi . ? Hal ini juga berlaku terhadap kata “sopan”. Seringkali orangtua mengatakan pada anaknya “Kamu harus sopan, Nak!” tanpa dibarengi dengan penjelasan dan batasan tentang kesopanan.

    3. Beri kesempatan mereka mengalami akibat alami dari perbuatannya
    • Ijinkan mereka menanggung akibat dari perilakunya jika mereka mencoba melanggarnya. Mereka akan belajar dari pengalaman buruknya. Yang penting setelah mereka mengalami akibatnya jangan diolok-olok. Olokan semacam, “Nah, rasakan sendiri akibatnya kalau tidak mau menurut Papa/Mama!”, malah akan menimbulkan kesedihan mendalam dan bahkan luka batin dalam diri anak kita. Cukup katakan,” Mama / papa ikut sedih kamu mengalami hal ini. Apa yang bisa kamu pelajari dari hal ini agar lain kali kamu bisa lebih baik lagi? Bagaimana Mama/ Papa membantumu agar lain kali tidak terulang lagi?”, setelah itu jika perlu peluklah dirinya untuk membuatnya tetap merasa aman dan diterima apa adanya.

    4. Penghargaan
    • Dekapan dan ciuman selalu merupakan sebuah penghargaan besar bagi seorang anak. Penghargaan berupa hadiah secara perlahan perlu Anda gantikan dengan perhatian positif saat perilakunya mengalami kemajuan. Kita harus waspada terhadap situasi ketika anak-anak hanya akan melakukan sesuatu demi mendapatkan penghargaan. Untuk hal ini Andalah yang tahu batasannya berdasarkan kepekaan yang Anda kembangkan sendiri.

    5. Otoritas
    • Tegakkan otoritas Anda sebagai orangtua pada saat yang tepat. Gunakan bahasa tubuh dan intonasi suara yang tepat pada saat yang tepat pula untuk menunjukkan bahwa Anda serius dengan ucapan Anda. Ingatlah selalu “seorang anak senantiasa menguji batasan terhadap dirinya dengan perilakunya”

  • Menghadapi Ledakan Emosi Anak

    anak_yg_marah.jpg Tingkah laku kemarahan anak Anda yang masih kecil tidak kunjung berhenti juga hari itu. Terdengar jeritan tingginya begitu memekakkan telinga. Dan banyak barang telah menjadi sasaran kemarahannya. Semua tindakan orangtua jadi salah. Secara naluriah, Anda ingin pergi meninggalkan situasi seperti ini bukan?? Namun ini bukanlah pilihan bijaksana. Pastilah ada solusi pemecahannya.

    Hiruk-pikuk si kecil yang sedang berteriak dan menendang ini dapat membuat kita, para orangtua, frustasi. Bagaimana menghadapi situasi ini? Alih-alih melihat kemarahan sebagai suatu bencana, mari kita coba melihat kemarahan sebagai kesempatan untuk belajar.

    Kenapa Emosi Anak-anak Bisa Meledak?

    Ada berbagai perilaku ledakan emosi, mulai dari menangis dan melolong hingga menjerit, menendang, memukul, maupun menahan nafas kuat-kuat. Ledakan emosi biasanya terjadi dari usia 1 hingga 3 tahun, baik anak laki maupun perempuan. Temperamen anak-anak berubah secara dramatis, jadi beberapa anak mungkin mengalami ledakan emosi secara berkala, sedangkan yang lain mungkin hanya jarang-jarang saja.

    Bahkan anak kecil yang baik sekalipun terkadang bisa mengalami ledakan emosi yang sangat kuat. Ini adalah bagian pengembangan diri yang normal dan tidaklah perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Perlu disadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri seperti orang dewasa.

    Bayangkan bagaimana rasanya saat Anda butuh untuk mengoperasikan sebuah DVD Player dan tidak bisa melakukannya, tidak peduli betapa kerasnya Anda mencoba. Hal ini disebabkan karena Anda tidak mengerti cara melakukannya. Sangatlah membuat frustasi, bukan? Beberapa dari kita mungkin mengomel, melemparkan buku petunjuk pengoperasian, membanting pintu dan lain sebagainya. Itu adalah luapan emosi versi orang dewasa. Nah anak-anak juga mencoba menguasai dunia mereka, dan di saat mereka tidak bisa melakukan sesuatu, sering kali mereka menggunakan satu cara untuk melampiaskan kejengkelan mereka, yaitu meluapkan emosinya.

    Beberapa penyebab dasar dari ledakan emosi yang sering dikenali adalah kebutuhan akan perhatian, lelah, lapar, ataupun perasaan tidak nyaman. Sebagai tambahan, ledakan emosi ini adalah akibat frustasinya si anak karena mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu (misalnya suatu benda ataupun perhatian orangtuanya) untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Frustasi merupakan suatu bagian dari hidup mereka yang tidak bisa dihindarkan sembari mereka mempelajari bagaimana manusia, benda, dan tubuh mereka bekerja.

    Ledakan emosi juga umum dialami saat usia 2 tahun, saat di mana anak-anak belajar menguasai bahasa. Mereka mengerti akan sesuatu namun susah untuk mengatakannya karena keterbatasan bahasa. Bayangkan bila kita tidak bisa mengkomunikasikan kebutuhan kita kepada seseorang; ini adalah pengalaman buruk yang bisa memicu emosi. Dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, ledakan emosi ini cenderung menurun.

    Penyebab lain dari ledakan emosi terjadi saat anak harus melewati suatu masa dimana kebutuhan akan otonomi meningkat. Di masa ini mereka ingin mendapatkan suatu kebebasan dan pengendalian. Sebenarnya hal ini adalah kondisi yang bagus untuk memupuk semangat berjuang, di mana seringkali anak berpikir â??aku bisa mengerjakannya sendiriâ? atau â??aku mau itu, berikan itu padakuâ?. Nah, saat mereka merasa bahwa mereka tidak bisa mengerjakan atau tidak bisa memperoleh apa yang mereka inginkan, maka ledakan emosi bisa terpicu.

    Menghindari Ledakan Emosi Kemarahan

    Cara terbaik untuk mengatasi ledakan emosi adalah dengan menghindarinya bilamana memungkinkan. Berikut ini adalah strategi yang bisa membantu:

    • Pastikan anak Anda tidak bersandiwara hanya karena dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Bagi seorang anak, perhatian negatif (reaksi orangtua terhadap ledakan emosi kemarahannya) adalah lebih baik ketimbang tidak ada perhatian sama sekali. Cobalah untuk membiasakan diri mengenali perilaku baik sang anak dan memberikan penghargaan atas perilaku baiknya.
    • Cobalah memberi anak-anak tersebut suatu kontrol atas hal-hal kecil yang mereka sanggup lakukan. Hal ini akan memenuhi kebutuhan mereka akan kebebasan dan mengurangi ledakan emosi kemarahan secara drastis. Tawarkan pilihan kecil seperti â??Apakah kamu mau jus jeruk atau jus apel?â? atau â??Apakah kamu mau menggosok gigi sebelum atau setelah mandi?â?. Dengan cara ini, Anda tidak bertanya â??Apakah kamu mau menggosok gigi sekarang?â? yang tanpa bisa dihindari akan dijawab oleh sang anak dengan â??Tidakâ?.
    • Simpan dengan baik benda-benda berbahaya agar di luar jangkauan anak-anak, jauhkan dari pandangan mata ataupun jangkauan tangan mereka; sehingga mereka tidak perlu berjuang begitu keras untuk mendapatkan benda-benda tersebut. Tentu saja hal ini tidaklah mungkin bisa dilakukan setiap waktu, khususnya di luar rumah di mana lingkungan tersebut tidaklah bisa dikendalikan.
    • Alihkan perhatian sang anak. Manfaatkan rentang perhatian anak yang pendek dengan menawarkan barang pengganti ataupun memulai aktivitas baru untuk menggantikan aktivitas yang berpotensi membuat frustasi ataupun yang dilarang. Atau bisa juga dengan mengganti suasana dengan membawa mereka ke ruang lain.
    • Tatkala anak-anak bermain atau berusaha menguasai suatu tugas baru, aturlah agar mereka bisa mengalami keberhasilan setahap demi setahap. Berikan mainan yang sesuai dengan umurnya. Juga mulailah dengan sesuatu yang sederhana dan mudah sebelum melanjutkannya dengan tugas yang lebih menantang.
    • Pertimbangkan permintaan anak dengan seksama. Apakah permintaan ini terlalu berlebihan atau tidak? Pertimbangkan dengan baik, penuhi permintaan tersebut bilamana tidak berlebihan.
    • Ketahui limit/batasan anak Anda. Jika Anda tahu anak sedang lelah, maka tidaklah tepat untuk mengajaknya berbelanja ataupun memintanya melakukan satu tugas lagi.

    Jika anak masih mengulangi aktivitas yang dilarang padahal membahayakan, peganglah sang anak dengan kuat untuk beberapa menit. Tatap matanya dan katakan Anda tidak mengijinkan tindakannya. Tetaplah konsisten. Anak-anak harus mengerti bahwa Anda serius untuk masalah yang berkaitan dengan keamanan.

    Taktik Menghadapi Ledakan Emosi Kemarahan

    Hal terpenting yang harus diingat tatkala berhadapan dengan seorang anak yang sedang marah, tidak peduli apa sebabnya, adalah tetap bersikap tenang. Jangan memperparah keadaan dengan rasa frustasi Anda. Anak-anak bisa merasakan saat orangtua mereka menjadi frustasi. Hal ini bisa membuat frustasi mereka menjadi lebih parah. Tarik nafas dalam-dalam dan cobalah untuk berpikir lebih jernih. Anak Anda meniru teladan Anda. Memukul anak tidaklah membantu dalam situasi seperti ini; karena anak akan menangkap pesan bahwa kita bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Milikilah kontrol diri yang cukup.

    Pertama, coba pahami apa yang sedang terjadi. Ledakan emosi kemarahan harus ditangani secara tersendiri tergantung dari penyebabnya. Cobalah untuk mengerti penyebabnya. Misalnya ketika anak Anda sedang mengalami kekecewaan besar, Anda perlu berempati dengannya sebelum mengarahkan tindakan dan sikap selanjutnya.

    Situasinya akan berbeda saat menghadapi ledakan emosi dari seorang anak yang mengalami penolakan. Sadarilah bahwa anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu alasan dengan baik, sehingga Anda mungkin tidak menerima penjelasan yang memuaskan. Mengabaikan ledakan amarah mereka adalah satu cara untuk menangani hal ini dengan catatan ledakan emosi ini tidak membahayakan anak Anda ataupun orang lain. Lanjutkan saja aktivitas Anda setelah memberikan perhatian sesaat, biarkan ia berkutat sendiri dengan perasaannya namun masih dalam jarak pandangan Anda. Jangan tinggalkan anak kecil Anda sendirian, bila tidak, dia akan merasa ditinggalkan dengan emosi yang masih belum terkontrol. Ingat cara ini tidak selalu berhasil namun untuk kasus ringan bisa jadi sangat membantu.

    Nah ceritanya akan sangat berbeda jika anak-anak yang sedang marah tersebut berada dalam bahaya karena menyakiti dirinya sendiri atau orang lain. Sebaiknya anak ini dibawa ke tempat yang tenang dan aman untuk ditenangkan. Hal ini juga berlaku untuk ledakan emosi yang terjadi di tempat umum.

    Anak-anak yang lebih besar cenderung memanfaatkan ledakan emosi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apalagi jika mereka telah mengetahui taktik ini berhasil sebelumnya. Jika anak-anak tersebut telah bersekolah, adalah pantas untuk meminta mereka ke kamar mereka untuk menenangkan diri dan memikirkan perilakunya. Ketimbang menggunakan batasan waktu tertentu, orangtua bisa meminta mereka tetap berada di kamar hingga mereka telah bisa mengendalikan diri. Ini adalah pilihan untuk penguasaan di mana anak belajar untuk mengendalikan diri dengan tindakan mereka.

    Setelah Badai Kemarahan

    Terkadang seorang anak mengalami kesulitan menghentikan kemarahannya. Dalam kasus ini, kita bisa bantu mereka dengan berkata â??Saya akan membantu menenangkanmu sekarangâ?. Tapi jangan beri penghargaan kepada anak Anda setelah kemarahannya dengan mengalah. Hal ini hanya akan membuktikan kepada anak Anda bahwa ledakan emosi adalah efektif untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai gantinya, puji anak Anda atas keberhasilannya mengendalikan diri.

    Setelah kemarahan, anak juga menjadi peka ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak lagi berlaku manis. Nah inilah saat yang tepat untuk memeluk mereka dan meyakinkan bahwa mereka tetap dicintai tanpa syarat.

    Penjelasan detail mengenai hal ini bisa juga Anda dapatkan dalam materi Parents Club Multimedia Course dalam bentuk DVD/CD beserta petunjuk pelatihannya.

  • Mengapa Orangtua Kurang Mencintai Anaknya?

    bayi_tercengang.jpgDewasa ini permasalahan anak tampaknya bertambah banyak. Dan celakanya lagi orangtua dari anak-anak “bermasalah” tersebut tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Mereka cenderung mengikuti secara sepotong-sepotong apa yang telah mereka alami sendiri sebagai anak-anak dan mengikuti apa yang disarankan oleh majalah, media cetak maupun elektronik dan mungkin sahabat-sahabat mereka.

    Tentunya permasalahan anak-anak tersebut tak kunjung selesai karena penyelesaian hingga ke akar terdalamnya tak pernah ada. Lalu bagaimana harusnya?

    Marilah kita tinjau akar perilaku anak. Dalam setiap perilakunya anak-anak ingin mendapatkan satu jawaban dari pertanyaan terdalam yang ada pada diri mereka. Karena kemampuan komunikasi yang terbatas dan wawasan yang belum seperti orang dewasa maka anak-anak menanyakan pertanyaan pribadi mereka melalui “perilaku”. Bahkan tak jarang orang dewasapun berkomunikasi melalui perilaku mereka. Hal ini terutama terjadi pada orang dewasa yang susah mengkomunikasikan perasaannya melalui perkataan.

    Apakah yang sebenarnya ditanyakan oleh anak-anak melalui perilakunya? Sederhana saja. Anak-anak tersebut menanyakan “Apakah aku dicintai?”
    Seringkali orangtua gagal memahami hal tersebut. Ataupun jika mereka bisa memahami hal tersebut mereka gagal memberikan cinta yang tulus pada anak-anaknya. Mengapa orangtua gagal mencintai anak-anaknya dengan cukup?

    Alasan utama orangtua gagal cukup mencintai anak-anaknya adalah karena mereka tidak cukup mencintai diri mereka sendiri dan mereka punya pandangan keliru bahwa anak-anak ada untuk memenuhi harapan orangtua.

    Marilah kita tinjau sekilas alasan pertama. Mengapa orangtua tidak mencintai dirinya sendiri? Bukankah itu tidak mungkin? Orangtua tidak mencintai diri sendiri karena alasan harga diri rendah. Tentunya ini juga bermula dari bagaimana mereka dulu dibesarkan. Ada banyak muatan emosional negatif yang tak terselesaikan dalam diri mereka sendiri yang terus terbawa hingga mereka dikaruniai anak. Orangtua dengan harga diri rendah ini kemudian membesarkan anak mereka sendiri dengan pola-pola yang hampir sama dengan cara mereka dulu dibesarkan.
    Akhirnya mereka tidak bisa tulus memberikan cinta pada anak-anaknya. Mereka memberikan cinta bersyarat pada anak-anakknya. Tindakan orangtua ini menyiratkan “Saya akan mencintaimu Nak, kalau engkau berhasil memenuhi syaratku …” Tanpa kesadaran diri yang tinggi maka rantai We have just compiled our statistics for Q3 2013 and we now present an inside view of the failures that we have seen this quarter: Some points to… read more The post Hard Drive Failure Stats Q3 2013 appeared first on best-data-recovery.com Recovery. ini tak mudah diputuskan.

    Alasan kedua mengapa orangtua tidak cukup mencintai adalah karena mereka memiliki pandangan keliru bahwa anak-anak ada untuk memenuhi harapan mereka. Salah satu sebab utama mengapa relasi orangtua – anak memburuk adalah karena persepsi orangtua bahwa anak gagal “memenuhi ukuran” yang dicanangkan orangtua terhadap diri mereka. Ukuran ini biasanya tentang apa yang harus anak lakukan dan tentang apa yang harus anak rasakan.

    Orangtua memandang anak mereka sebagai modal, salah satu bentuk hak milik. Orangtua merasa bahwa anak-anak itu baik kalau mereka melakukan dan mengatakan apa yang sesuai dengan keinginan orangtuanya. Jika perilaku anak berbeda dengan harapan orangtua maka akan ditanggapi dengan kritikan.

    Dengan begitu tanpa sengaja orangtua telah menarik cinta dan persetujuannya dari anak. Padahal inilah yang dibutuhkan anak. Anak butuh merasa aman untuk bisa merasakan cinta dan penerimaan dari orangtuanya. Begitu perasaan ini dilanggar maka landasan perilaku buruk dan berbagai masalah kepribadian di masa depan seorang anak telah dibangun. Segala bentuk perilaku negatif dan antisosial pada orang dewasa  adalah jeritan minta tolong, sebuah upaya  untuk melarikan diri dari rasa bersalah, kemarahan dan kekesalan yang dimulai dengan kritik pedas di masa awal kehidupan mereka.

    Jika kita ingin menolong orang dewasa yang bermasalah dengan kehidupannya maka bantulah “anak kecil” yang bersemayam dalam lubuk hati orang dewasa tersebut.  Sebaliknya jika kita ingin membantu seorang anak kecil berkembang menjadi orang dewasa yang hebat kelak maka bantulah anak kecil ini mengembangkan keunikan dan individualitas mereka sendiri. Untuk itu kita perlu belajar memahami mereka secara lebih mendalam. Sudahkah kita melakukan hal ini pada anak-anak kita?