Ada 3 Tipe Orangtua : Anda tipe yang mana ?

ortucuwek1.jpg”Halo, selamat siang Pak. Saya Indri pembaca buku Hypnoparenting. Saya ingin minta waktu Bapak untuk konsultasi tentang masalah anak saya. Apakah Bapak ada waktu?”, demikian suara di seberang telepon. Setelah saya tanyakan apa masalahnya kemudian kami menyepakati jadwal bertemu.

Masalah Irwan, anak Ibu Indri, adalah masalah motivasi belajar. Irwan duduk di kelas dua sekolah dasar. Karena ”malas” belajar maka nilainya jelek dan akhirnya ia jadi minder di hadapan teman-temannya. Tidak berhenti sampai di situ saja. Ia sering berkelahi dengan temannya dan berselisih dengan guru dan orangtuanya. Ibu Indri sering dipanggil oleh guru Irwan dan sang guru sudah angkat tangan terhadap masalah tersebut.

Pada hari yang telah disepakati saya menemui Ibu Indri dan Irwan. Setelah ngobrol ringan beberapa saat saya mengetahui bahwa Ibu Indri dan suaminya adalah tipe orangtua ketiga. Orangtua tipe pertama adalah orangtua ”pencegah masalah”, orangtua tipe ini sering saya jumpai dalam seminar ataupun pelatihan intensif yang saya berikan. Orangtua tipe kedua adalah orangtua ”pencari solusi”. Mereka mencari solusi atas permasalahan anaknya. Tipe ini juga sering saya jumpai di seminar saya dan tak jarang berlanjut ke janji konsultasi dan terapi. Tipe ketiga adalah orangtua ”tahu beres”. Tipe ini hampir tidak pernah saya temui dalam seminar saya tetapi sering langsung datang ke ruang konsultasi dan terapi.

Orangtua tipe ketiga, seperti Ibu Indri dan suaminya, datang ke ruang terapi dengan harapan bahwa masalah anaknya langsung beres. Mereka berharap saya adalah makhluk ajaib yang langsung bisa menghipnosis anaknya untuk menuruti keinginannya.

Ketika mereka tahu bahwa proses perubahan anaknya menuntut proses perubahan diri mereka sendiri maka mereka jadi terheran-heran. Orangtua tipe ketiga sering tidak menyadari bahwa permasalahan anaknya bersumber dari pendekatan yang salah yang mereka lakukan sejak anak tersebut menjalani proses tumbuh kembangnya. Orangtua tipe ketiga sering menganggap bahwa anaklah yang online casino sepenuhnya bertanggung jawab atas masalahnya. Mereka benar-benar susah untuk menerima kenyataan bahwa merekalah pemicu utama dari tindakan anak-anaknya.

Mengapa bisa begitu? Karena pada awal mulanya anak-anak hanya merespon sikap dan tindakan orangtuanya. Ketika orangtua mengulangi sikap dan tindakannya maka si anak juga mengulang respon yang sama. Dan akhirnya karena sering diulang maka hal ini menjadi kebiasaan dan karakter si anak.

Setelah saya memberikan masukan pada Ibu Indri dan suaminya tentang masalah Irwan kemudian saya mulai membantu Irwan secara pribadi untuk mulai mengubah cara pandangnya. Pada dasarnya ia anak yang sangat baik dan cukup punya pengertian tentang berbagai masalahnya. Ia mulai menyadari bahwa kejengkelan terhadap orangtuanya yang sering menjadi pemicu dari sikapnya. Saya meyakinkan padanya bahwa papa mamanya akan mengubah pendekatan mereka padanya. Setelah itu kami berpisah.

Satu bulan kemudian Ibu Indri menelepon saya untuk minta waktu lagi. Ia mengatakan bahwa perubahan anaknya hanya terjadi dua minggu saja. Setelah itu sikapnya balik lagi seperti semula.

Singkat cerita kami bertemu kembali. Dan saya tahu apa yang harus saya katakan pertama kali untuk memeriksa kembali kasus ini. Pertanyaan saya pertama adalah seberapa konsisten ibu Indri dan suaminya menjalankan apa yang saya minta. Mereka langsung mengatakan bahwa mereka susah sekali untuk mengubah pola pendekatannya ke Irwan. Mereka sering kembali lagi ke pola lama mereka yang menggunakan bentakan, cemoohan dan perkataan yang merendahkan secara tidak langsung. Mereka sering mengambil jalan pintas.

”Lalu saya harus bagaimana lagi. Saya sudah jengkel dan tak sabar melihat sikapnya. Saya kan masih banyak pekerjaan lain. Saya tidak mengurusi dia saja kan?”, demikian Ibu Indri membela dirinya.

”Kalau begitu siapa yang harus mengurusi Irwan yang masih sekecil itu?”, demikian saya ingin tahu jawabannya. ”Lha saya kan sudah sekolahkan dia. Saya sudah panggilkan guru les ke rumah untuk menemaninya belajar. Saya sudah sediakan pengasuh khusus untuknya. Apa lagi yang harus saya lakukan?”, demikian katanya setengah putus asa.

”Hmmmm tapi bukan itu saja yang dibutuhkan Irwan. Mereka semua tidak bisa memenuhi tangki cinta Irwan. Hanya Ibu dan Bapak yang bisa melakukannya. Dan Irwan benar-benar mengharapkan hal itu dari Bapak dan Ibu tetapi ia jarang mendapatkannya. Kedekatan fisik Bapak Ibu tidak berarti kedekatan emosional. Masalah ini hanya bisa diselesaikan jika bapak Ibu berkomitmen pada diri sendiri untuk melakukan perubahan sehingga akhirnya Irwan akan meresponnya dengan cara berbeda pula. Bapak Ibulah yang menjadi terapis utama bagi Irwan bukan saya! Secanggih-canggihnya saya melakukan hipnoterapi pada Irwan tetapi jika Bapak Ibu di rumah, yang jelas lebih banyak berhubungan dengan Irwan, tidak mendukung tumbuhnya kebiasaan baru maka cepat atau lambat hasil terapi akan terkikis habis!” demikian saya menjelaskan.

Dari contoh kasus di atas jelas sekali bahwa peranan orangtua sebagai terapis bagi anaknya sendiri sangat besar. Orangtua adalah akar dari sebuah pohon yang akan menyerap segala nutrisi yang ada di sekitarnya dan kemudian menyalurkannya ke anak sebagai buah yang ada jauh di atas pohon. Untuk menghasilkan buah yang baik maka akarnya yang harus diperhatikan agar bisa menyalurkan nutrisi yang baik dan berguna bagi bakal buah yang akan berkembang. Ketika buah sudah sudah muncul maka perlakuan kita untuk mengubahnya hanya mempunyai pengaruh yang kecil atau bisa jadi terlambat.

Bagaimanakah dengan diri kita sendiri? Termasuk tipe orangtua manakah kita? Saya percaya artikel ini jatuh ke tangan orangtua tipe pertama dan kedua. Orangtua tipe ketiga yang tahu beres tidak akan mau repot membaca artikel ini. Bila Anda punya teman atau kerabat yang tipe ketiga, email atau beritahukan artikel ini pada mereka agar cepat sadar / tobat demi masa depan anak-anaknya. Salam hangat penuh cinta.

 Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !

37 thoughts on “Ada 3 Tipe Orangtua : Anda tipe yang mana ?”

  1. uwwoow…yup…bener deh…aa ndak tau komentar apa, kita atau saya persisnya sbg ortu sring berharap anak2 bisa berlaku baik dengan sendirinya…haha…tinggal pencet tombol kalii.., hingga kadang tergagap kalau mreka bersikap tak sesuai menurut aturan saya. Padahal, bisa jadi mreka sering saya kecewakan tanpa saya (mau) menyadarinya…

    Being parent is a way to to be better person..
    remind me to keep learning ya Pak Aries.

  2. Selamat siang P Aries & P Sukarto

    Mau tanya nih. Bagaimana kalau anak telanjur mencap kita pemarah. Kalo ditiru kan gaswat…

    Terima kasih

    Agus

  3. Pak Agus yg ‘pemarah’ 🙂
    Kalau anak mencap kita sebagai pemarah, saya rasa justru bagus karena anak bisa memberi feedback, daripada dia diam-diam saja trus berperilaku buruk tanpa kita tahu penyebabnya.

    Yang kita perlu lakukan adalah pertama introspeksi diri, apakah betul kita itu pemarah ? kenapa anak kita menganggap kita pemarah ?

    Jika setelah introspeksi, kita merasa memang ada betulnya, cara paling mudah adalah memberi contoh suatu kesabaran saat biasanya pak agus marah dan memberitahu ke anaknya “Papa biasa kalau begini kan marah, tapi sekarang kan gak kan ? Karena papa ingin jadi lebih sabar dan lebih bisa kontrol diri karena papa ingin kamu juga bisa menjadi orang yg sabar dan punya kontrol diri”. Tidak semua orangtua berani berjanji seperti itu pada anaknya. Mengapa ? Karena orangtua kalau sudah berjanji seperti itu mau tidak mau jadi harus konsisten dengan perkataannya sendiri.

    Konsistensi ini penting karena saat ini banyak anak tidak menghormati / respek dengan orangtuanya karena orangtua tidak konsisten dengan perkataannya sendiri.

    Kita sebagai orang dewasa kalau dijanjikan sesuatu oleh orang lain tetapi akhirnya dia tidak menepati janjinya, kita percaya gak dengan orang tersebut ? Setelah 2-3 x kejadian, kita akan mencap orang tersebut tidak bisa dipegang janjinya dan cenderung kita tidak menghormatinya.

    Sama dengan anak kita, saat kita bilang kita akan belajar menjadi lebih sabar dan lebih punya kontrol diri, dan dia benar-benar melihat buktinya, anak kita tidak saja akan juga belajar menjadi lebih sabar, tetapi yang juga akan terjadi adalah anak akan semakin respek dan menghormati orangtuanya. Karena dia tahu, ucapan orangtuanya bisa dipercaya.

    Coba saja.. pasti manjur.
    semoga membantu 🙂

  4. Dear P Agus yang baik,
    Untuk membuktikan bahwa kita bukan pemarah memerlukan waktu. Biasanya lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk membuktikan kita pemarah.
    Coba cek diri sendiri, kebanyakan orangtua marah pada anaknya karena orangtua merasa jengkel dengan diri sendiri. Anak hanyalah pemicu kemarahan itu.
    Buktikan pada anak bahwa kita bukan pemarah dengan cara menanggapi setiap tindakannya dengan senyum yang disertai ketegasan menegakkan aturan dan tata tertib yang kita sepakati bersama anak.
    Salam hangat

  5. Artikel yang sangat bagus. Memang hal tersulit adalah mengalahkan ego pribadi untuk tidak merasa memiliki hak absoute atas anak, sehingga tidak merasa mempunyai kekuasaan mutlak untuk memperlakukan anak menurut cara yang kita anggap paling benar

  6. terimakasih kepada bapak ariesandi atas ditulisnya artikel ini, kini saya jadi semakin sadar dan tahu bagaimana harus bersikap terhadap anak2 saya dan mendidik mereka, terutama sekali karena saya bekerja di luar negeri sehingga jarang bersama mereka dan waktu pertemuan saya dengan mereka menjadi sangat sedikit, saya ingin pertemuan yang sedikit itu menjadi sangat berkualitas terhadap perkembangan anak saya.
    semoga artikel ini dapat membawa manfaat bagi saya dan keluarga serta keluarga lainnya.

  7. Hi,……
    Salam Kenal buat semua yang ada di blog ini, disini saya ingin coba membagi pengalaman saya dalam hal “Menciptakan Kedekatan dengan Anak”.

    Saya dan Anak selalu berusaha untuk selalu dekat, dalam artian selalu mencoba mendekatkan hati kita masing-masing, karena saya sadari waktu saya jarang sekali di rumah maka saya mencoba melakukan pendekatan dengan cara menyempatkan diri untuk bicara pada mereka sebelum mereka berangkat ke sekolah,dengan mengajak mereka bertukar fikiran mengenai tantangan hidup yang selalu kita hadapi, dan saya selalu bertanya pada mereka “Bagaimana keadaan kamu di sekolah,apa bisa menerima pelajaran yang diberikan oleh gurumu?”, ” Apa kegiatan yang kamu jalankan dapat kamu nikmati manfaatnya?”,”Apa Keinginan kamu setelah ini?”, selalu dan selalu itu yang saya tanyakan pada mereka, Setelah mendapat jawaban dari mereka kita akan dapat menganalisa sudah sampai mana perkembangan anak kita tersebut dan langkah apa selanjutnya yang akan kita berikan pada mereka,sehingga kita akan merasa selalu dekat dengan mereka.

  8. Dear Pak Ariesandi

    Setelah saya membaca cerita ini, saya merasa sedih, karena saya termasuk type orangtua yang ke 3. Selama ini saya sering melakukan kesalahan dengan membentak-bentak anak saya, persis dengan cerita yang saya baca hari ini. Kebetulan anak saya tinggal bersama dengan ayah tiri yang selalu banyak aturan yang membuat anak saya bingung. Kami sering ribut, karena beda prinsip, mudah-mudahan dengan membaca cerita ini, kami berdua sadar, bahwa apa yang kami lakukan itu salah. Tapi aku ada kendala, suami saya typenya selalu ingin pendapat dia saja yang didengar. Saya minta solusi bagaimana mengatasi suami seperti ini. Sebelumnya terima kasih.

  9. Pak, apakah ada orangtua yang tipenya, perpaduan dari dua atau ketiga type tersebut? Trus, bagaimana sebaiknya?Makasih…….

  10. sy br prtm x membuka ws ini tp langsung terkesan. artikel ini sungguh sgt” bermanfaat n membantu sy dlm mendidik anak. sy sllu tunggu info terbarunya. thx alot!

  11. Salam bahagia!
    Saya ingin mengomentari artikel yang disampaikan Pak Ariesandi tentang tiga tipe orang tua. Saya berpendapat bahwa setiap orang tua memiliki ketiga tipe tersebut dalam mendidik anaknya. Disadari atau tidak kita telah menerapkan ketiga tipe tersebut. Tentu saja penerapan tipe-tipe itu tergantung pada situasi dan kondisi kesadaran intelektual, moral, psikologis serta emosional masing-masing orang tua.
    Salam!

  12. Wiwin Nuryati

    selamat berjumpa lagi…..
    memang sulit untuk mengendalikan amarah apalagi untuk menghadapi anak, kita para orang tua di buat senewen. Tapi saya selalu berusaha untuk dapat memahami apa sih maunya anak, apalagi sekarang saya sedikit banyak sering baca & dapat artikel2 baru dari bapak. Saya sangat berterimakasih sekali.

  13. dear Pak Aries.
    saya sangat terkesan dengan berbagai artikel tntang mnjadi orang tua yang “baik” dan bijaksana. saya agak bingung juga dengan istilah ‘baik’ ini.
    saya mempunyai seorang putri brumur 3 tahun. dia aktif dan selalu nampak bahagia. yang menjadi problem saya adalah kami tinggal dengan orang tua saya, ayah anak saya tinggal diluar kota dan bertemu kami 1 bulan 1 x.
    aturan yang diberlakukan orangtua saya dengan saya agak berbeda. orang tua saya terutama ayah saya selalu memberikan apapun yang anak saya minta, shingga beliau menjadi ‘dewa’ bg anak saya. saya sudah mengatakan keberatan saya dengan sikap beliau namun saya jg menyadari ini hanyalah bentuk kasih sayang bliau pada anak saya. saya dan ibu saya akhirnya nampak seperti peri jahat bagi anak saya. bagai mana saya harus bersikap pak?
    mohon saran bapak…
    terima kasih

  14. Dear…Pak Aries,
    Puji syukur saya dapat belajar banyak dari artike2 yang Bpk tulis. Sehingga kita sbg Ortu dapat instrokpeksi diri dengan tidak melimpahkan kesalahan kpd siapapun,atas segala kekurangan putraputri kita.Thanks a lot…. Pak

  15. Terimakasih artikelnya semoga Allah membalas untuk semua kebaikannya.
    Oh ya pak Aries aku mau tanya sedikit, begini anak saya 10th sudah mulai berbohong dengan alasan kalau jujur pasti tidak dikabulkan permintaannya
    contohnya apabila pulang sekolah dia menggunakan kesempatan untuk langsung bermain kerumah teman walaupun sudah ada kesepakatan setelah pulang sekolah harus pulang dulu baru bermain. tolong dikasih sedikit pencerahan dong pak Aries, makasih ya. oh ya ngga lama lagi saya akan pindah kantor tolong e-mailnya ke elo_oreiyn@yahoo.com

  16. Terima kasih untuk semua artikel yg pernah dikim ke saya & artikel mengenai peran orang tua ini, saya pernah lalui kurang lebih 2 thn yg lalu pd saat anak kami di nyatakan saat itu spektrum-autis kami coba tenang berpikir sambil mencoba menangani dgn cara pertama tanya kpd teman2x yg pernah mempunyai masalah yang serupa skrg anak kami Yesaya umur 6 thn, stlh di terapi masih blm ada perubahan yang secara siknifikan, stlh saya baca buku “FATHERSONSHIP” mata saya terbuka intinya adalah hubungan antara anak & orang tua yang berkwalitas, walaupun frekwensi pertemuan total 3-5 jam sehari tp berkwalitas & artikel mengenai 3 type orang tua menambah pengatahuan saya dan saya kira saya tipe orang tua ke 2. Dan saya sdh biasa menerima keadaan yang ada & secara tanpa sadar emosional saya yang sering meletup2x lambat laun mulai tergeros dgn membangun komunikasi yang berkwalitas.

  17. Terima kasih pak. Sikap anak adalah refleksi dari sikap kita.Siapa menabur angin dia akan menuai badai.Anak yang baik tidak jadi secara instan.Butuh proses tumbuh kembang ditempat yang baik dan pupuk yang baik, yaitu cara kita mendidiknya.Semoga kita tidak termasuk orang tua yang egois!

  18. sebetulnya saya tidak ada masalah dengan anak-anak saya, karena sulung saya sudah tingkat 3, anak kedua kelas 2 sma dan sekarang menjadi ketua osis disekolahnya, sedang sibungsu kelas 1 sma. yang menjadi masalah adalah sebagian besar murid privat saya punya orangtua tipe ke 3 seperti yang pak aris sampaikan. sampai saat ini sebagian besar dari mereka tidak mau merubah sikap terhadap anaknya, bgmn ini pak aris, saya sangat sayang pada anak-anak itu tapi tidak mampu membantu dari sisi orangtuanya. bgmn kalau buka kelas khusus ortu yang seperti itu dikota saya pak, bogor? bisa kita kerjasama?

  19. ass.wr.wb.
    semua artikel yg aku dpt sangat bermanfaat buat aku sbg ibu muda utk belajar & mjd ortu yg baik utk anak2ku, jujur aku masih sering bertanya, misalnya bgmn caranya menghadapi sikap, perilaku & watak anak2 yg berbeda, bgmn cara mendidik mereka mjd pribadi yg baik utk keluarga atau masyarakat, bgmn aku hrs bersikap sbg ortu yg baik, yg mereka butuhkan di setiap waktu atau sbg teladan dlm hidup mereka, & masih banyak yg lain. terkadang aku merasa anak2 lah yg mengajari aku utk mjd ortu bagi mereka. aku tak bisa menilai aku tipe ortu spt apa, aku hanya berusaha yg terbaik utk mereka. mungkin krn keterbatasan yg aku miliki , terutaman dana, aku jarang mengikuti seminar atau berkonsultasi langsung dg pakar/ahlinya, jadi aku sering mengandalkan informasi dari artikel2 seperti ini, atau info dari media lain utk mengatasi/mencari solusi permasalahan yg aku hadapi. Jadi sekali lagi terima kasih

  20. Kami berdua, saya dan suami, mengaku sebenarnya kami adalah tipe orang tua ketiga. Seperti contoh permasalahan diatas, saya memiliki anak yang tidak mau mendengarkan nasehat yang diberikan kepadanya. Di mata anak saya tersebut, apapun , dari siapapun nasehat yang diberikan tidak didengar, menurutnya hanya dia yang benar atas permasalahannya . Saya dan suami telah putus asa.
    Mohon saran Bapak apa yang harus kami lakukan

  21. Thanks artikelnya bpk Sandy,saya belum memiliki anak,tetapi nanti jika sudah ada anak,saya tidak akan menjadi orang tua tipe”Tahu Beres”,dikelas playgroup tmpt saya mengajar ada 13 anak yang membuat saya harus mengeluarkan energi extra,karena anak2nya sangat aktif dan tidak mau mendengarkan ibu guru, saya sampai bingung hrs menasehati dengan cara apa?apakah tangki cinta anak2 ini jg kosong?krn sulit sekali mengatur mrk,tidak bisa duduk baik,lari2 dikelas,berteriak2,loncat2, bahkan ada yg mukul teman,berebut mainan,pdhl wkt bermain mrk cukup,tetapi pd saat ibu guru menerangkan dan mulailah saat belajar,sungguh membuat saya geleng2 kepala..Mohon saran dari bpk,terimakasih..

  22. Yth. Bapak Arie
    Anak-anak suka sekali nonton film kartun, menurut saya film kartun sangat merusak prilaku anak dan pola pikirnya. Tapi saya bingung bagaimana cara melarang anak-anak untuk tidak menonton film kartun. Jika TV dimatikan, mereka nonton ke rumah tetangga. Sebelumnya terima kasih atas jawaban bapak.

  23. Dear bang Ari..
    Anak saya (Salsa) sangat mengidolakan saya setiap ditanya siapapun selalu menjawab bundaku adalah yang terbaik tetapi hati saya sangat ketakutan,saya takut berbuat salah takut kotor takut takut takut dan takut dll,saya takut tidak sempurna dan ini sangat menyiksa saya. Saya ingin apa adanya sebagai manusia sebagai ibu yang mungkin punya kesalahan dan anak saya memakluminya. Perlu diketahui Salsa sangat pintar dan kadang terkesan dewasa cara pikirnya,malah waktu tes masuk SD,hasilnya dari TK B langsung kelas dua SD. Saya tidak meminta pada gurunya tetapi memang dia mampu,bahkan masih di satu semester kelas dua sudah ditawari lagi naik kelas tiga tetapi saya tidak kasih ijin. Saya katakan biarkan kelas dua smp paham benar dan jika nanti kelas tiga disemester dua harus kembali lompat kelas empat silahkan selama dia enjoy dan stabil. Salsa les piano oke artinya dia sangat menikmati,les menari dan les-les lainnya dia yang meminta kadang justru saya yang kalang kabut mengatur keuangan karena bayar sini bayar sana. normalkah Salsa yang saat ini berusia hampir 7 tahun ini dengan keadaannya skrg? Saat ini Salsa sekolah di international school karena ayahnya orang asing dan saat ini sedang persiapan pindah luar negeri pada saat SMPnya nanti. Ayahnya meminta secepatnya tetapi saya berpikir harus persiapan dulu terutama untuk Salsa.Dari kmrn saya ingin bertanya tetapi saya bingung mulai dari yang mana. Mohon jawaban ya bang. saya tunggu.

  24. dear Ibu Ayu,
    apa yang terjadi pada Salsa adalah sesuatu yang luar biasa, namun saya tidak bisa berkomentar lebih lanjut kalau tidak ada hasil tes yang valid dari ahli yang kompeten (psikolog).
    Lompat kelas adalah sesuatu yang mungkin saja terjadi pada beberapa anak. Yang perlu diperhatikan juga adalah aspek psikologis si anak. Kemampuan kognisi memang bisa sangat tinggi sekali namun apakah ini juga diimbangi dengan perkembangan aspek psikologis juga? Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk lompat kelas. Jika anak masih bisa menikmati di kelasnya yg sekarang biarkan saja namun diberi tugas yang lebih rumit dan mendalam, misalnya menjadi asisten guru saat di kelas. Ini akan membuatnya tidak jenuh namun mendapat skill baru yaitu kepemimpinan. Juga melatih empati si anak.
    Jika ada waktu kunjungi juga akademihipnoterapi.com untuk mendapatkan pengetahuan penting tentang manajemen pikiran.
    Semoga bemanfaat
    salam hangat u Ibu sekeluarga

  25. Ketika membaca artikel ini saya teringat pada kasus saya, ada seorang ibu yang selalu menentukan apa yang harus dilakukan oleh anaknya.Akibatnya sekarang sudah mengekar sampai usia 16 tahun. Menjadikan anak tidak dewasa dan selalu bergantung pada orang tuanya. Jadi bagi para orang tua…harus menanamkanbiasaan dan role model yang baik bagi anak.

  26. Salam hangat
    Pak aries terimaksihya artikelnya menarik sekali.Saya jadi belajar membuat pilihan-pilihan untuk mengedukasi diri saya sendiri menjadi ortu yang lebih baik sebelum menstimulasi anak menemukan dirinya sendiri sesuai fitrah penciptaan Tuhan. Sungguh saya sekarang banyak refleksi dari hal-hal kecil dan ajaib dirumah lewat anak-anak. Ketika mendampingi mereka bertualang mengeksplorasi setiap jengkal pembelajaran dari kehidupan. Kami sekarang jadi belajar saling menyesuaikan dan bekerjasama.
    Semoga arikel ini menjadi pencerah bagi ortu yang lain, sehingga kita berani menerima perbedaan, keunikan anak-anak .
    salam semangat untuk kru sekolah orang tua.

  27. Saya baru bergabung dengan situs ini, hal yang ingin saya tanyakan mengenai putri saya fasha ( 5thn 10 bulan ) saat ini duduk di kelas 1 sebuah SD Plus. Karena kesalahan dari suami yang mudah kecewa pada putri kami misalnya ikut lomba kalah, tidak bisa rangking satu dikelas ( hanya masuk 5 besar ) dll. Saya sering mengingatkan suami untuk tidak berlaku demikian tapi karena sifat “temperamennya” jadi sulit diubah. Yang terjadi sekarang putri kami kadang berbohong dia menang lomba ini, itu padahal kenyataannya tidak. Bagaimana caranya mengembalikan rasa percaya diri anak? Saya sering bicara pada anak bahwa saya bangga apapun yang dia kerjakan selama itu baik. Dan kalah atau menang bukanlah yang terpenting. Apakah cara saya salah??? Mohon saran dari Bpk Aris

  28. Salam sejahtera,
    Artikelnya menarik dan makin menyadarkan kita kalau anak bukan alat pemuas semua opsesi ortunya. Mereka individu yg berdiri sendiri hanya tinggal kita damping dan temani agar mereka tetap d jalan yang benar dan lurus.Karena semua anak itu unik. Termasuk kedua putra saya (bimo dan aby).Saya yakin dengan pelukan dan senyum mereka akan tau kita sayang dan peduli akan mereka.

  29. Pak Aries, saya hanya mau bertanya. Bagaimana menyikapi anaka yang suka marah? Putra pertama saya berumur 8 tahun suka sekali marah marah apabila ada yang tidak berkenan di hatinya. Juga putri saya, kebalikannya sangan sensitif dan suka sekali ngambek. Bagaiman ya pak? Apakah saya harus ikut terapi? Bagaimana caranya? terimakasih

  30. Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog.

    Halo ibu Fitria,
    Pertama-tama, ibu perlu melakukan intropeksi diri dan lingkungan. Sifat pemarah dan sensitif pada anak usia dibawah remaja tidak terbentuk dengan sendirinya. JIka perilaku tersebut memang terbentuk karena lingkungan, ubahlah. Isi juga tangki cinta anak.
    JIka anda kesulitan melakukannya maka anda perlu melakukan terapi pada diri sendiri, Anda dapat mendengar CD audio mengenai emosi negatif atau jika permasalahan anda sangat kompleks, anda dapat menghubungi CS kami untuk menanyakan jadwal terapi.

    salam hangat untuk keluarga ibu Fitria.

  31. Saya kira saya cenderung termasuk tipe 2. Bagi saya perkembangan anak sangat bergantung dari “feedback” yang dia dapati. Feedback itu bisa saja berupa masalah atau bukan masalah (menurut ukuran anak saya). Jadi adalah kurang bijak rasanya menjadi tipe 1 karena akan mempersepsikan masalah menurut kita sendiri dan kemudian kita mencegahnya. Kalau tipe 3 sudah pasti tidak karena saya bertanggung jawab dunia dan akherat terhadap anak saya.

  32. terimakasih kepada bapak ariesandi atas ditulisnya artikel ini,
    Artikel ini sangat bemanfaat untuk saya dan istri saya, Sekalipun saya bukan Orangtua tipe ketiga tetapi terkadang saya membentak atau meremehkan anak saya , sebenarnya saya ingin anak seperti keinginan saya.
    Dari artikal bapak , saya baru mengetahui akibatnya pada anak.
    Sekali lagi saya ucapkan terimakasih

    Salam bahagia & sejahtera untuk bapak sekeluarga

  33. jujur saya akui bahwa saya adalah tipe orang tua ketiga, semenjak saya ikut sekolah orang tua, saya juga sudah banyak berusaha untuk berubah, tapi apakah anakku masih bisa dirubah karena setelah saya amati anakku juga menjadi keras ? anakku sekarang berumur 4 tahun.

  34. Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog.

    Halo bapak Suswanto,

    Terima kasih untuk kesadaran dan pembelajaran baru yang bapak peroleh dari artikel diatas.

    Anak usia 4 tahun masih mungkin untuk berubah mengikuti lingkungannya. Jadi, yang perlu bapak lakukan adalah menumpuk memori anak mengenai tiap masalah harus diselesaikan dengan cara instan dan tanpa memperhatikan perasaan orang lain dengan cara baru yang bapak ingin bentuk dalam diri anak. Memori kurang menyenangkan itu pasti akan tertumpuk kemudian berganti dengan memori dan kebiasaan yang baik. Tentu saja, semuanya harus bermula dari bapak sebagai orangtuanya.

    Selamat mencoba

  35. saya belum tau termasuk tipe yg mana krn terkadang msh jg marah terhadap anak walaupun sebisa mungkin saya kemudian memperbaiki itu dgn pendekatan n penjelasan kpd anak2 knapa sya marah n apa mksudnya kmudian saya akan meminta maaf .jadi tipe yg mana saya?yg jelas saya sangat peduli dgn akhlak n pendidikan mereka bgi saya ahlaklah yg utama.

  36. Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog.

    Halo ibu Reri…

    Betul sekali… akhlak merupakan pondasi yang bagus agar anak bisa menjalani kehidupannya dengan mantap dan stabil’

    Saya hanya memiliki sedikit info tentang keadaan ibu dengan anak. Jadi agak sulit bagi saya langsung menetapkan ibu berada pada di kelompok mana karena keterbatasan info.

    Tapi dari sekilas yang ibu tuliskan, menurut saya, gaya ibu mendekati orangtua yang bertipe mencari solusi. Ketika ada masalah, maka harus segera dicarikan obatnya. Dalam keadaan ibu, ibu menggunakan marah untuk segera membereskan masalah dengan anak.

    Tipe pencegah masalah berusaha untuk menciptakan suatu kondisi yang kondusif sehingga anak-anakpun secara tidak sadar mengikuti ritme kondisi yang telah kita ciptakkan.
    Jadi ibaratnya tubuh manusia. Tipe ini akan berusaha bagaimana menjaga kondisi fisik supaya selalu sehat , prima dan bugar sehingga tidak perlu sakit dan akhirnya minum obat.

    Jika ibu berkenan belajar untuk mengatasi emosi negatif saat pengasuhan, silahkan belajar melalui CD audio MEngatasi EMosi Negatif dalam pengasuhan yang ada dalam produk SO.

    Salam hangat penuh cinta untuk ibu.

  37. ass
    pak bagai mana cara menghadapi orang tua yang selalu membanding”kan anaknya dengan anak temannya yang menurut dy sikap anak itu sangat baik,..
    dan saat si anak yang membanding”kan ortu teman”nya dengan ortunya, ortunya mlah marah dan seakan” mengusir mengatakan “pinda ja kerumah mereka, jdi ank mereka jika mereka lebih baik”.
    dan bagaimana jika anak tersebut mencoba untuk menjadi anak yang diingnkan ortuny, tetapi ad kesalahan sedikit maka ortu itu akan marah dan tidak terima, dan kesalahan sedikit itu dibesar”kannya sampai sampai si anak di diamkan, tidak di tegur atau di perdulikan sama sekali oleh ortunya,…

    itu bagai mana cara mengatasi sikap orang tua yang seperti itu, dan apakah akan berpengaruh dengan psiko atai jiwa anak tersebut karena merasa tertekan dengan sikap ortu yang demikian ????

Comments are closed.