Kategori: Artikel

  • Menyadari dan Mensyukuri Kekurangan

    Bagi yang merayakan, segenap team SekolahOrangtua.com mengucapkan

    “Selamat Memperingati Trisuci Waisak 2553 BE/2009”

    dan sebagai hadiah dari segenap team SekolahOrangtua.com  terimalah suatu renungan yang kami sadur dari buku “Membuka Pintu Hati” karya Ajahn Brahm.

    Seusai upacara sebuah pernikahan ayah mempelai wanita memanggil menantu laki-lakinya yang baru saja diresmikan pernikahannya.

    Ia menyeret sang menantu baru ke pojok ruangan dan mengatakan “Kamu mungkin sangat mencintai anak saya, bukan?” dan si pemuda yang sangat bahagia di hari istimewa tersebut langsung menimpali “Hm, tentu Ayah, saya sangat mencintainya”.

    Lalu si mertua melanjutkan ,”Dan mungkin kamu berpikir bahwa dialah wanita paling hebat di dunia”.

    “Yeaaa, dia begitu sempurna dalam segala hal. Saya telah memutuskan yang terbaik untuk diri saya dan untuk dirinya”, sambung si pemuda yang hatinya sangat berbunga-bunga.

    “Itulah yang kamu rasakan sewaktu baru menikah. Namun setelah beberapa tahun, kamu akan mulai melihat kekurangan-kekurangan anak saya. Saat kamu mulai menyadarinya, saya ingin kamu ingat yang berikut ini, Menantuku : jika dia tidak punya kekurangan-kekurangan itu  maka dia mungkin sudah menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik dari dirimu!”, si mertua mengatakan dengan nada sungguh-sungguh dan penuh casino online kasih sayang.

    Moral dari cerita ini adalah bahwa kita perlu bersyukur atas kekurangan-kekurangan pasangan kita, karena jika sedari awal mereka tidak memiliki kekurangan-kekurangan itu maka mereka sudah pasti akan menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik daripada kita.

    Hal ini juga terjadi pada anak-anak kita. Saat mereka memiliki sikap atau perilaku buruk yang tidak kita harapkan sekarang ini maka sadarilah bahwa kita pun memiliki peran atas terbentuknya hal itu pada dirinya. Introspeksi diri dan perbaikan atas sikap kita akan membantunya mengubah sikap atau perilaku buruk tersebut.

    Jika artikel ini Anda pikir bisa sangat bermanfaat juga bagi rekan, sahabat atau sanak saudara Anda maka tolonglah untuk memberitahukan pada mereka website SekolahOrangtua.com ini.

    salam hangat penuh cinta untuk para orangtua Indonesia,

    Ariesandi dan team SekolahOrangtua.com

  • Memilih Sekolah yang Cocok untuk Buah Hati Tercinta

    â??Ibu, saya minta saran memilih sekolah untuk anak saya. Ada sekolah A yang unggul di abc. Sedangkan sekolah B, unggul di def. Gimana ya bu ? Mestinya saya pilih yang mana ?â?

    Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh para orangtua. Keinginan mereka untuk memberikan yang terbaik untuk putra putri mereka, mendorong mereka untuk menyeleksi sekolah yang akan dimasuki oleh anak-anak.

    Biasanya, ada beberapa fokus perhatian yang dijadikan standar sekolah bagus oleh para orangtua dan yang ajaibnya standar ini dari tahun ke tahun berubah mengikuti perkembangan jaman. 15 tahun yang lalu standar yang digunakan adalah sekolah tersebut haruslah sekolah disiplin (bahkan yang paling sering menghukum siswanya), yang banyak memberikan PR, yang sering memberikan ulangan, sekolah yang mampu meluluskan siswa yang mendapatkan nilai EBTANAS tertinggi atau memenangkan lomba-lomba. 5 tahun berlalu, standarnya kembali berubah, sekolah yang memiliki fasilitas lengkap seperti laboratorium komputer, elektro, fisika, biologi dll merupakan sekolah yang dianggap baik. Ditambah lagi sekolah yang menyeimbangkan IQ dan EQ dianggap sekolah yang bonafit. Era sekarang, standar itu berubah kembali, saat ini sekolah yang bilingual, berkurikulum international atau nasional plus yang dianggap bagus.Sebenarnya, syarat apa sih yang sebaiknya dipenuhi untuk mengatakan sebuah sekolah adalah sekolah yang bagus  ?

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley, yang diterbitkan dalam bukunya Pemikiran Millionaire, dirangking 30 faktor yang mempengaruhi seseorang untuk sukses dalam hidupnya. Sukses disini adalah orang tersebut memiliki sejumlah kekayaan tertentu, kesehatan yang prima dan kebahagiaan yang dirasakan. Hasil perangkingan tersebut adalah bersekolah di sekolah favorit menduduki rangking ke 23, lulus dengan nilai terbaik menduduki rangking ke 30 sedangkan memiliki IQ tinggi menempati urutan no 21. Ternyata banyak dari para millionaire di Amerika yang memiliki skor SAT yang dibawah rata-rata, bahkan banyak diantara mereka lupa berapa skor mereka kala bersekolah.

    Bagi mereka, masa bersekolah adalah masa untuk belajar bagaimana mencapai tujuan yang dalam hal ini adalah lulus, bagaimana mengatur jadwal agar dapat mencapai tujuan tersebut namun tetap menyeimbangkan dengan kehidupan pribadi, bagaimana mengorganisir teman-teman agar dapat membantu mencapai tujuan, dan bagaimana mempraktekkan cara-cara bersosialisasi dengan baik dan benar.

    Ada faktor yang lebih penting daripada bersekolah di tempat favorit, lulus dengan nilai terbaik maupun memiliki IQ tinggi. Faktor yang mendukung mereka untuk sukses menjalani kehidupan setelah masa bersekolah adalah sebagai berikut :

    1. Integritas : menjalankan dan kesesuaian antara hal-hal yang diucapkan dan diyakini dengan kehidupan nyata.
    2. Disiplin : kemampuan untuk mengolah diri sendiri sehingga mampu mencapai tujuan
    3. Keterampilan sosial : kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain
    4. Memiliki pasangan yang mendukung baik dalam suka dan duka.
    5. Bekerja lebih keras dibandingkan dengan orang lain

    Itulah 5 faktor teratas dari 30 faktor yang berhasil didaftar dari para millionaire tersebut.

    Dengan bukti nyata tersebut, masih perlukah kita bingung menyekolahkan anak kita dimana ?
    Sebaiknya, kita tidak perlu membingungkan hal tersebut. Karena ada faktor yang lebih mendasar lagi daripada memikirkan dimana anak kita harus bersekolah. Faktor tersebut adalah kondisi keluarga, tempat anak-anak tersebut bertumbuh dan berproses. Faktor ke 1-5, merupakan faktor yang dibentuk dalam rumah karena sebagian besar hidup seorang anak dihabiskan di dalamnya. Integritas, disiplin, keterampilan sosial, cara memilih pasangan yang tepat, dan kemauan untuk tekun bekerja merupakan hasil dari teladan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Ke 5 faktor tersebut, tidak mungkin diserahkan kepada sekolah untuk membentuknya. Sekolah hanya bisa menempa ke 5 faktor tersebut agar dapat tertanam kuat dan menjadi kebiasaan. Penanaman dari keluarga akan berakar lebih kuat dalam diri anak. Kehidupan di luar keluarga, dalam hal ini adalah sekolah, justru seringkali menguji hal-hal yang telah kita tanam.

    Saya pribadi merupakan lulusan dari sekolah favorit mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Bahkan saya memasuki SMU yang termasuk 5 besar terbaik se-Jawa Timur. Setelah saya renungkan pengalaman bersekolah saya, yang hampir separuh hidup saya, saya menemukan bahwa manfaat terpenting yang dapat saya ambil dari pengalaman bersekolah adalah semangat belajar yang terus menerus. Pernahkah anda bertemu dengan orang yang berhenti belajar setelah mereka di wisuda ? Pernahkan anda mendengar bahwa buku hanya ditujukan bagi mereka yang bersekolah ? Saya sendiri mengamati saudara-saudara saya yang berhenti belajar setelah mereka lulus universitas. Untunglah, lingkungan saya merupakan lingkungan pembelajar yang mendorong saya untuk terus belajar, memperbaharui pengetahuan saya.

    Darimana saya belajar tentang kerja keras, disiplin dan integritas ? Dari orangtua saya. Saya mencontoh dari pengalaman hidup mereka. Ayah saya adalah seorang pria pendiam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Bagi saya, beliau merupakan penanam terbesar kebiasaan untuk tekun bekerja dibandingkan dengan orang lain. Beliau bekerja kira-kira 360 hari dalam setahun, dipotong liburan Idul Fitri. Itu pun hanya 5 hari dalam setahun. Sedapat mungkin, beliau tidak pernah absen dalam bekerja. Tanggung jawab inilah yang dipuji oleh ibu saya pada ayah saya. Walaupun ibu saya terkadang tidak mampu untuk mengikuti pola berpikir ayah saya, beliau menerima dengan lapang dada.

    Dari ibu saya, saya belajar untuk bagaimana disiplin, menjalankan tugas-tugas saya. Belajar artinya bertekun walau menghadapi kesulitan. Dari beliau juga, saya belajar bagaimana berelasi dengan orang lain dan bagaimana mempertahankan diri dalam relasi tersebut.
    Sekarang, kehidupan mereka sudah jauh lebih enak dibandingkan 20 tahun yang lalu. Sekarang mereka tinggal mengembangkan apa yang telah mereka tanam.

    Kembali ke pembicaraan mengenai memilih sekolah. Kita sudah membahas mengenai kurang pentingnya kebingungan dalam memilih sekolah untuk anak kita. â??Namun, anak kita kan masih tetap harus sekolah ! Jadi bagaimana dong memilihnya ?â?. Tentunya pertanyaan ini masih terlintas dalam benak anda.
    Dalam pemilihan sekolah, kita harus menyamakan persepsi dengan pasangan, mengenai tujuan anak disekolahkan. Tentunya, tujuan disekolahkan anak kita adalah untuk mendapatkan pengalaman hidupnya sebelum ia terjun sesungguhnya di masyarakat.

    Sekolah dapat diibaratkan sebagai miniatur masyarakat. Didalamnya ada otoritas yang harus ditaati, ada peraturan yang harus dijalankan, ada tugas yang harus diselesaikan, ada aktivitas-aktivitas yang harus dijadwalkan, ada teman yang harus diorganisir, ada target yang harus dicapai, dan ada ujian yang harus ditempuh.

    Yang terpenting dari semuanya itu adalah melatih tanggung jawab yang harus diemban dan diselesaikan oleh anak. Keberhasilan anak untuk mengatur dan menjalankan tanggung jawab tersebut merupakan bekal bagi anak untuk hidup di masyarakat.

    Sekolah = nilai bagus ? Tidak selalu.
    Yang terpenting daripada nilai bagus adalah kemauan anak untuk belajar dan tahu bagaimana cara mendapatkan informasi. Pengetahuan yang diajarkan disekolah tidak keseluruhannya dapat digunakan di masa sekarang. Ambil contoh di masa sekolah SD-SMU kita, kita diajarkan bermacam-macam pelajaran, namun apakah pelajaran tersebut sekarang kita gunakan dalam keseharian kita ? Nilai yang kita peroleh semasa sekolah, tidak menjamin kita dapat mengerjakan tugas-tugas kita saat ini, bukan ?.

    Inti sari yang perlu dipelajari oleh anak adalah pengalaman menyerap pelajaran tersebut di bangku sekolah.

    Nilai bagus merupakan akibat/hasil dari serangkaian proses yang dijalani. Penyebab dari nilai bagus itu ada banyak faktor. Faktor terpenting adalah apakah anak merasa dicintai atau tidak dan apakah anak merasa hal yang dilakukannya berharga atau tidak dimata orangtua. Jika anak merasa dicintai dan berharga, niscaya nilai baik itu akan mengikuti. Karena rasa dicintai dan dihargai merupakan pondasi dasar terbentuknya konsep diri dan harga diri sehat dalam diri anak.

    Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam bersekolah adalah ke-enjoy-an/rasa nikmat yang dirasakan anak saat bersekolah. Apakah anak anda merasa nyaman bersekolah di tempat tersebut. Perasaan nyaman ini akan memungkinkan anak untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Coba bayangkan jika anda berada dalam kondisi takut dan stres, apakah anda dapat mengeluarkan seluruh kemampuan anda untuk menyelesaikan tantangan di depan ?

    Demikian dengan anak-anak, mereka masih belum mampu untuk berpikir sekompleks kita orang dewasa.
    Anak remaja ?  Yang sudah mampu berpikir lebih kompleks pun masih membutuhkan bimbingan dari kita, orang dewasa.

    Bagaimana dengan guru ?
    Kita tidak perlu tergiur dengan sekolah yang memiliki guru dengan segudang titel : Prof, Doktor, Ir, Psikolog. Yang terpenting dari itu semua adalah mereka memiliki hati untuk mengajar dan mampu menginspirasi anak kita. Bagi orang yang memiliki hati demikian, nilai bukanlah faktor terpenting kesuksesan dalam bersekolah. Mereka akan mencari cara lain jika siswa mereka tidak memahami penjelasan yang mereka sampaikan bukannya menyalahkan kita.

    Saya memiliki 1 orang teman yang memilki latar belakang pendidikan yang jauh berbeda dengan dunia pendidikan. Namun kecintaannya terhadap anak kecil membawanya untuk menekuni dunia pendidikan. Tentu saja, ia membutuhkan beberapa penyesuaian untuk terjun di dunia asing ini. Siswa-siswanya mencintai beliau dan berdasarkan pengamatan saya, tidak ada siswanya yang takut atau stres terhadap beliau. Jika ada siswa yang tidak memahami penjelasannya, ia merelakan waktu istirahatnya sepulang sekolah untuk mengajar ulang siswa tersebut. Dibayar ? Tidak.

    Di antara itu semua yang  terpenting adalah menetapkan tujuan kita. Setelah tujuan terdefinisi dengan jelas barulah kita mencari sekolah yang bisa memenuhi tujuan kita. Memang tidak akan semua tujuan kita bisa dipenuhi oleh satu sekolah. Oleh karena itu carilah sekolah yang bisa memenuhi tujuan kita paling banyak.

    Bagaimana caranya? Sederhana saja. Tanyailah sepuluh sampai lima belas orangtua murid yang anaknya telah bersekolah di sekolah tersebut. Jangan tanya satu atau dua orang saja karena kurang akurat.  Tanyakan pada mereka hal-hal yang berkaitan dengan tujuan kita.

    Bertanya dari orangtua yang anaknya telah bersekolah di sana adalah fakta nyata yang tak bisa dipungkiri. Kepala sekolah atau guru boleh bercerita panjang lebar tentang visi dan misi sekolah namun kenyataan di lapangan adalah bukti nyata yang tak bisa dipungkiri.

    Ingat dalam memilih sekolah yang terpenting adalah sekolah itu cocok untuk anak kita bukan karena sekolah itu favorit atau top karena fasilitasnya atau juga bukan karena didirikan oleh publik figur. Jika anak kita tidak cocok sebagus apapun s

    Semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi para orangtua dalam berdiskusi memilih sekolah bagi anak-anak.

    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.

  • Aduh … Anakku Mogok Sekolah!

    “Kenapa anakku mogok sekolah ?”, tanya sepupu saya.
    “Anak kamu yang mana ? Yang gede ?”, jawab saya.
    “Bukan yang bungsu. Yang 5 tahun.”, sahut sepupu saya.

    Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4 tahun –  saya sudah minta sekolah. Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !

    Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah (belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan  Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa ya ?

    Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal, adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia sekolah.

    Ada beragam penyebab terjadinya mogok sekolah. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari mogok sekolah :

    Ada kejadian yang tidak mengenakkan di rumah atau ada yang ingin dilindungi di rumah

    Penyebab ini tampaknya yang membuat keponakan saya enggan untuk sekolah. Di rumah, orangtuanya sedang dalam keadaan perang dunia ke III. Secara naluriah, seorang anak ingin melindungi keluarganya atau salah satu dari kedua orangtuanya. Naluri ingin melindungi ini yang menyebabkan ia tidak ingin meninggalkan rumah karena takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga atau salah satu dari kedua orangtuanya.

    Jika hal ini yang menjadi penyebab maka tentunya relasi kedua orangtua harus diperbaiki lebih dulu. Atau minimal dilakukan gencatan senjata dulu dan apabila perang akan dilanjutkan, alangkah baiknya jika tidak didepan anak-anak. Bicarakan masalah apapun dengan kepala dingin dan hati dewasa sehingga tidak akan membuat anak-anak kita menjadi terancam. Ingat anak-anak memiliki perasaan yang peka terhadap keadaan orangtuanya.

    Di rumah lebih enak, karena aku bisa lebih bebas, bermain PS atau yang lainnya

    Ada orangtua yang mengijinkan anaknya untuk bermain dengan bebas apabila anaknya tidak sekolah. Ketika saya tanya mengapa anak diijinkan untuk bermain hal yang ia sukai semaunya maka kebanyakan  orangtua menjawab bahwa mereka tidak ingin direpotkan oleh anak yang tidak sekolah. Makanya banyak orangtua meminta anak untuk menyibukkan diri dengan segala aktivitas menyenangkan di rumah. Faktor inilah yang bisa menyebabkan anak lebih memilih untuk dirumah daripada sekolah.

    Hal lain yang bisa menyebabkan keadaan di rumah lebih menyenangkan adalah proses pembelajaran di sekolah membosankan. Apabila hal ini yang terjadi maka kita harus berdiskusi dengan guru untuk membuat suatu proyek atau aktivitas yang dapat menarik minat anak. Namun untuk tingkat prasekolah, penyebab yang satu ini jarang terjadi.

    Ada kejadian yang tidak mengenakkan di sekolah sehingga anak menjadi takut sekolah

    Pengalaman disakiti oleh teman (dipukul, didorong hingga jatuh, dimusuhi—bullying) dapat menyebabkan seorang anak prasekolah menjadi takut untuk sekolah. Apabila hal ini terjadi, kita bisa meminta bantuan pada guru dengan menceritakan penyebab anak takut dan meminta guru untuk memberi perhatian ekstra terhadap proses interaksi di kelas.

    Adanya hal baru di sekolah juga dapat menyebabkan anak enggan untuk sekolah misal adanya guru baru, kepala sekolah baru, atau barang baru yang tidak disukai oleh anak. Kerjasama dengan guru perlu dilakukan apabila penyebab ini yang menyebabkan anak kita tidak mau sekolah. Pendekatan perlahan-lahan dan mengajak anak bermain bersama dengan benda/orang yang ia takuti akan membantunya menimbulkan perasaan berani.

    Perasaan kurang disayang dalam diri anak

    Perasaan diabaikan dalam diri anak akan menyebabkan ia memunculkan perilaku yang mengakibatkan ia diperhatikan oleh orangtua. Jika ia tidak masuk sekolah maka ayah/ibu akan bingung dan (minimal) ia akan diajak berbicara bukan? Proses pembicaraan atau ditemani inilah yang dinantikan oleh anak walau proses ini tidak enak. Bagaimana jika penyebab ini yang terjadi ? Yaa… jawabannya adalah di pengisian tangki cinta. Lihat DVD Tangki Cinta Anak yang telah dikeluarkan oleh SekolahOrangtua.com yang merupakan rekaman 3 jam seminar dari Bapak Ariesandi.

    Ada kalanya, kehadiran adik baru juga dapat menyebabkan anak menjadi enggan untuk sekolah. Perasaan takut kehilangan ibu menyebabkan ia bertingkah seperti bayi lagi dengan harapan ibu akan memperhatikan dirinya seperti ibu memperhatikan adik baru.

    Meluangkan waktu dan melibatkan anak si sulung akan banyak membantu anak dalam beradaptasi dengan adik barunya.

    Apa yang harus kita lakukan saat anak kita tidak mau sekolah ?
    Kunci utama dan paling utama adalah : tenang. Berpikirlah dengan jernih, tiap permasalahan pasti ada penyebab. Hadapi anak kita dengan netral dan bersikap tenang akan sangat membantu anak kita dalam menghadapi permasalahan.

    1. Langkah pertama adalah dekati anak kita dan berbicaralah dari hati ke hati mengenai penyebab ia tidak mau sekolah. Gunakan pertanyaan,”Apa yang terjadi di sekolah yang menyebabkan kamu tidak mau sekolah ?”. Jika anak tidak mau menjawab, kita dapat gunakan pertanyaan “yes no question” untuk memancingnya. “Apakah ada teman baru ?” atau “Ada sesuatu di sekolah yang tidak kamu sukai ?”. Atau “Apakah kamu dimarahi oleh seseorang di sekolah ?”. Gunakan intonasi yang rendah dan bersahabat. Tundukkan mata kita hingga sejajar dengan mata anak kita. Gunakan bahasa tubuh yang bersahabat bukan bahasa tubuh menginterograsi.
    2. Amati perilaku anak sebelum kejadian mogok sekolah. Apakah ia murung, tampak ketakutan, atau menyendiri. Jika  iya, maka dapat diartikan ia baru saja mengalami hal yang tidak mengenakkan dan menakutkan.
    3. Berkomunikasilah dengan guru di sekolah, mungkin beliau mengetahui informasi yang belum diceritakan oleh anak kita.
    4. Doronglah anak untuk menghadapi ketakutannya dan bekali anak dengan cara untuk menghadapinya. Misalnya : dengan berani mengatakan “tidak suka” saat diperlakukan kurang baik oleh temannya. Atau menemani dia ke sekolah untuk menemani anak mendekati benda atau orang yang tidak disukainya. Langkah ini tergantung pada penyebab ia tidak mau sekolah.
    5. Jika anak terpaksa diliburkan pada hari itu karena kita tidak memiliki waktu cukup untuk menggali permasalahan anak atau menemani anak ke sekolah maka yang harus kita lakukan adalah memberikan pekerjaan di rumah (bukan permainan) dan hindarilah aktivitas yang disukai anak untuk mengisi waktunya selama di rumah. Mintalah anak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di rumah atau mengerjakan latihan soal di rumah sebagai pengganti pelajaran di sekolah. Sewaktu pulang sekolah, mintalah anak untuk bertanya dan berkunjung ke rumah teman, guna menyalin materi pelajaran yang tidak ia ikuti.
    6. Bekerjasamalah dengan guru di sekolah dengan meminta pekerjaan sekolah yang harusnya diselesaikan di hari anak tidak masuk sekolah. Atau mintalah guru anak kita berkunjung ke rumah. Cara ini manjur saya terapkan pada salah seorang murid saya yang memang kurang memiliki rasa aman dalam dirinya  (ada masalah ketika di dalam kandungan ibunya). Kunjungan saya ke rumahnya membuat ia merasa bahwa saya adalah salah satu dari teman mama yang baik hati. Jadinya ia mau sekolah keesokan harinya.

    Sumber pembelajaran lain yang bisa Anda dapatkan adalah buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” yang ditulis oleh Bapak Ariesandi S., CHt yang bisa didapatkan di toko buku Gramedia.

    Jika kita sudah menjalankan seluruh langkah diatas namun anak kita tetap memilih tidak mau sekolah, apa yang harus dilakukan ? Ini saatnya kita meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kita dapat meminta bantuan pada psikolog atau tim konselor SekolahOrangtua.com yang terdekat. Mungkin ada penyebab yang tidak kita ketahui yang terekam di bawah sadar anak sehingga ia mengalami keenganan luar biasa untuk datang ke sekolah. Jika hal ini yang terjadi maka bantuan dari pihak yang lebih ahli untuk menetralkan pengalaman emosional tersebut sangat kita butuhkan.

    Semoga artikel ini dapat membantu para orangtua Indonesia menjadi lebih baik lagi.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Sandra M.,MPsi, Psikolog (Partner Konselor SekolahOrangtua.com)

  • Salah Motivasi – Takutlah yang Didapat! Tips Motivasi SekolahOrangtua.com

    Motivasi … kata populer dalam mendidik anak-anak – dan juga karyawan. Mulai dari orangtua hingga kepala sekolah, pasti pernah melontarkan kata ajaib ini. “Anak ibu kurang motivasi. Tolong ya dimotivasi di rumah”. Atau “Motivasinya mudah dipengaruhi teman-temannya, jadinya dia sering ikut-ikutan ulah temannya. Tolong diperhatikan ya”. Pernah mendengar himbauan ini ?

    Apakah motivasi itu? Menurut kamus Merriam-Webster’s 11th, motivasi adalah sesuatu (seperti kebutuhan atau keinginan) yang menyebabkan seseorang mau bertindak atau bereaksi. Definisi yang baik, bukan ? Karena baiknya, banyak orang yang menggunakannya namun seringkali kelebihan dosis, sehingga menjadi kurang tepat guna.

    Ada seorang anak laki-laki yang bernama Brave – lahir di urutan pertama. Pandangan yang beredar di masyarakat menyatakan bahwa seorang anak laki-laki harus mampu tumbuh menjadi anak pemberani dan bisa melindungi adik-adiknya maupun orangtuanya. Namun pada perkembangan anak ini, terjadi penyimpangan. Si anak tumbuh menjadi anak yang takut suasana gelap dan takut suara guntur.

    Sebagai orangtua, penyimpangan ini disikapi dengan pemberian motivasi seperti ini, “Mama aja, dulu waktu masih kecil berani sama gelap. Waktu itu umur mama masih lebih kecil dari kamu loh. Masa kamu sudah SD masih saja takut. Kalau kamu masih bayi, wajar takut sama gelap. Sekarang kan sudah gede. Udah punya adik lagi.”

    Atau ”Ayo… dong kak … masa sama guntur aja takut. Kan ada mama disini.” Atau “Ingat loh… nama kakak kan Brave, artinya itu pemberani. Jadi anak yang pemberani dong”.

    Motivasi yang diberikan sang Bunda, justru membuat Brave menjadi lebih ciut nyalinya menghadapi suara keras dan gelap. Bahkan rasa takutnya ini merembet menjadi takut bertemu orang lain.

    Rasa takut Brave terhadap gelap tentu punya sejarah sebelumnya. Usut punya usut, ternyata ketika Brave masih batita, pernah dikunci di kamar mandi oleh baby sitternya. Pengalaman traumatis ini, yang belum mendapatkan penanganan terbawa hingga sekarang dan diperparah dengan kesalahan memberi motivasi pada Brave. Maksud/niat sang ibu adalah baik yaitu menumbuhkan keberanian dalam diri anaknya namun kurangnya satu langkah dalam pemberian motivasi menyebabkan motivasi tersebut tidak diterima dengan baik oleh bawah sadar si anak. Langkah apakah yang kurang ?

    Berikut langkah-langkah pemberian motivasi agar lebih berhasil dan didengar oleh anak.

    1.    Pahami dan terima semua perasaan dan pikiran anak

    Rasa takut, rasa malas, rasa tidak aman, rasa cemas, pastilah berawal dari pemikiran         yang salah yang tercipta dalam otak anak. Tugas kita pada saat awal ini adalah                    menggali kesalahan-kesalahan pemikiran dari anak yang menyebabkan ia memiliki             rasa takut dan perasaan negatif lainnya. Setelah mendapatkan pemikiran salah yang melatarbelakangi munculnya perasaan             itu, maka tugas selanjutnya adalah menerima dan memahami perasaan dan                         pemikiran tersebut. Kesalahan terbesar orangtua adalah justru menertawakan,                 mengabaikan dan meremehkan perasaan dan pemikiran anak. Akibatnya, anak                 menjadi semakin jauh dengan kita, sebagai orangtua dan ia menjadi tidak berani                 terbuka dan jujur lagi.

    Ada juga anak yang tidak termotivasi dalam belajar lebih dikarenakan ia merasa kurang diperhatikan oleh orangtua. Dampaknya ia menjadi malas belajar supaya mendapatkan perhatian walaupun negatif.

    Dengan dimarahi atau ditemani ketika belajar, anak mendapatkan hal yang diinginkannya yaitu perhatian dan dekat dengan orangtua. Jika hal ini yang terjadi             pada diri anak Anda terimalah perasaan kurang diperhatikan tersebut dan mulailah             memberikan perhatian pada anak dengan memiliki waktu berdua – diluar jam                     belajar.

    2.    Katakan bahwa kita pernah mengalami perasaan serupa saat kecil (Atau jika tidak pernah, tetap katakan pernah mengalami).

    Saat  anak mengetahui bahwa orangtua juga pernah mengalami hal serupa maka ini akan  membantu anak mengerti bahwa perasaannya adalah alami dan wajar. Selain itu, ia juga akan melihat diri kita sebagai seorang manusia yang sama dengan dirinya.

    Perasaan sama ini akan semakin membuat figur kita menjadi mudah untuk dijangkau oleh anak. Apabila ada orangtua yang hanya menceritakan kehebatannya di masa kecil dapat dibayangkan kemungkinan apa yang terjadi.

    Kemungkinan itu adalah anak  akan merasa rendah diri. Hal ini dikarenakan anak merasa orangtuanya adalah manusia yang super hebat. Sedangkan dirinya adalah manusia kecil yang tidak berdaya. Hal ini tentunya akan menciptakan jurang pemisah  yang semakin lebar antara orangtua dan anak secara tidak sadar. Bahkan ada anak yang merasa bahwa dirinya bukanlah anak dari orangtuanya, hanya karena ia merasa tidak sehebat papa atau mamanya. Atau kemungkinan lain, anak akan berusaha mati-matian menjadi diri orangtuanya ketika kecil (dengan bersikap dan berbicara yang mirip). Pada kasus yang ekstrem, anak akan kesulitan menjadi diri sendiri dan mengenal diri sendiri.

    3.    Berikan pemikiran yang benar

    Setelah tahu latar belakang pemikirannya yang membawa pada munculnya perasaan yang negatif, tugas kita selanjutnya adalah meluruskannya. Misalnya jika anak merasa takut dengan ujian yang akan dihadapi besok. Cukup katakan “Terkadang rasa takut itu membuat kita menjadi lebih siaga sehingga lebih waspada terhadap apa  yang akan dihadapi besok. Jadi rasa takut itu sebenarnya pengingat kita untuk menghadapi suatu tantangan”. Atau “Kadang-kadang mama harus menghadapi dulu tantangannya, kerjakan dulu dan selesaikan dulu, baru akhirnya mama sadar bahwa sebenarnya mama itu pintar juga lo.” “Ujian itu memang rasanya menakutkan tapi kalau kita sudah belajar, istirahat yang cukup, mama rasa pasti kita semua akan berhasil melewati. Kalaupun ternyata masih kurang memuaskan ya … tidak masalah         … nanti pasti akan lebih baik lagi.”

    4.    Berikan sugesti bahwa kita percaya pada kemampuan anak.

    Pemberian sugesti ini akan membantu anak untuk mempercayai dirinya sendiri. Kadang kala rasa percaya diri timbul ketika ada satu orang yang percaya bahwa kita memiliki kemampuan untuk menghadapi suatu tantangan. Bagi seorang anak “satu orang” itu adalah kita sebagai orangtuanya, orang terdekatnya. Cukup katakan “Papa  percaya, malam ini kamu akan tidur dengan enak dan besok akan buka mata dengan badan yang segar.” Atau “Mama yakin ujian besok dapat kamu kerjakan dengan teliti dan rapi,  kerjakan saja dan nikmati semuanya, ok!”

    Saya yakin dan percaya bahwa para pembaca sekalian akan mendapatkan hasil yang luar biasa menerapkan hal tersebut di atas karena apa yang saya bagikan ini adalah hal yang mendasar yang kami berikan juga pada para klien SekolahOrangtua dalam ruang terapi dan konseling kami.

    Informasi lebih detail tentang seluruh proses yang holistik dapat Anda pelajari dalam materi Parenting HomeCourse.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga,

    Sandra M.,MPsi.,Psikolog  (Partner Konselor dan Terapis SekolahOrangtua.com)

  • Normalkah perkembangan anakku ?

    Pertanyaan ini sering ditanyakan orangtua yang memiliki anak usia bawah 5 tahun kepada saya. Munculnya pertanyaan ini berkaitan dengan semakin beragamnya informasi tentang perkembangan anak dan penyimpangannya, sehingga semakin banyak orangtua yang merasa khawatir mengenai tumbuh kembang buah hatinya. Ditambah lagi anak usia demikian, masih belum bisa diajak berkomunikasi dengan lancar karena keterbatasan kosa kata. Ada pengalaman nyata seorang teman saya, ia kerapkali menanyakan mengapa anaknya belum bisa bicara dengan lancar. Usut punya usut ternyata anaknya masih belum genap 2 tahun dan jenis kelamin laki-laki. Ya… wajar saja jika bicaranya masih sepatah 2 patah kata dan memang biasanya perkembangan bahasa anak laki-laki memang lebih lambat dibandingkan anak perempuan. Kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti karena sekarang anak itu sudah berusia 4 tahun, tumbuh menjadi anak yang lincah, sehat dan fasih berbicara. Nah.. siapa yang khawatir berlebihan ?

    Ok, mari kita definisikan ulang mengenai normal dan tidak normal. Normal dapat diartikan tumbuh sesuai dengan kebanyakan orang atau rata-rata, tidak mengalami kelebihan atau kekurangan pertumbuhan. Orang yang buta sejak kecil berarti ia mengalami kekurangan sedangkan anak yang mampu mengingat hal-hal yang tidak biasa misalnya nama presiden di dunia, dapat digolongkan kelebihan. Pertumbuhan normal memiliki jumlah populasi yang terbesar. Coba bayangkan sebuah gambar gunung yang dipotong vertikal menjadi 3 bagian, bagian kiri, tengah dan kanan. Yang dikatakan normal adalah bagian yang terbesar dari gunung yaitu bagian tengah. Sedangkan bagian kiri dan kanan yang lebih kecil ukurannya adalah bagian yang tidak normal (karena kelebihan atau kekurangan). Daerah gunung sebelah kiri adalah daerah pertumbuhan anak-anak yang memiliki kekurangan misalnya IQ yang rendah. Sedangkan bagian sebelah kanan adalah bagian yang kelebihan misalnya IQ yang tinggi. Penentuan anak tergolong daerah kiri dan kanan membutuhkan prosedur pengamatan yang lebih panjang sebelum sebuah diagnosis diluncurkan karena hal ini berkaitan dengan kekurangan atau kelebihan yang terjadi di tubuh fisiologis anak. Sedangkan masalah yang terjadi pada anak yang termasuk bagian tengah kebanyakan lebih disebabkan oleh pola asuh dan hubungan orangtua-anak.

    Bagaimana menentukan anak kita termasuk bagian kiri, tengah atau kanan ? Untuk masalah ini, gunakan intuisi. Ingat intuisi adalah gabungan dari pengetahuan dan pengalaman. Dari mana mendapatkan pengetahuan dan pengalaman ? Ya… dengan belajar mengenai perkembangan anak yang normal dari beragam sumber. Intuisi kita sebagai orangtua adalah jurus ampuh dalam membentuk masa depan anak. Coba kita ingat kembali pengalaman Thomas Edison dan Albert Einstein, intuisi orangtuanya terutama ibu, menyelamatkan masa depan kedua anak itu, bukan ? Bagaimana misalnya jika kedua ibu tersebut mendengarkan perkataan guru anak-anak mereka ? Tentunya sekarang kita mungkin tidak akan menikmati benda yang disebut dengan lampu dan mungkin juga kita tidak akan mengetahui mengenai Teori Relativitas Einstein dong.

    Saya bisa memahami posisi para orangtua ketika dihadapkan pada masalah anak yang menurut mereka tidak normal. Reaksi pertama mereka adalah panik. Kemudian mencari informasi, entah bertanya dengan tetangga, orangtua, teman atau profesional. Saran yang paling masuk akal dan diberikan oleh pihak yang dipAndang memiliki otoritas adalah yang dilaksanakan. Eitt… tunggu dulu… saran itu belum tentu benar lho.

    Mari kita runut satu persatu kejadian diatas. Kepanikan terjadi karena kita tidak memiliki data dalam otak kita cara menangani masalah yang terjadi. Karena tidak tahu apa-apa kita bingung kemudian menggunakan cara yang sudah diketahui untuk mengatasinya dan masalah lain muncul karena belum tentu benar. Untuk itu, reaksi yang berikutnya adalah benar yaitu mencari informasi. Nah.. dimana informasi itu didapat ? Kita dapat mencari informasi dengan bertanya kemudian lakukan cek ricek dari sumber lain yang bisa dipercaya misal dari buku, majalah, internet. Jangan dengarkan bisikan malas yang sering terlintas dalam benak kita jika berhubungan dengan BELAJAR karena ini adalah masalah masa depan anak kita.

    Kedua, jika kita meminta bantuan profesional (terutama jika kita curiga masalah anak kita termasuk daerah kiri atau kanan), kita harus mengingat satu hal penting ini. Mintalah pada ahli tersebut untuk mengamati perilaku anak kita dalam suasana dimana anak kita bisa menjadi diri mereka sendiri, nyaman, dan senang. Jika sang ahli menghasilkan diagnosis hanya dengan mendengarkan perkataan kita, seperti dokter badan, maka sebaiknya kita mencari ahli lain yang lebih kompeten. Mendiagnosis kebutuhan khusus seorang anak membutuhkan observasi yang mendalam bukan hanya berdasarkan simptom yang disampaikan oleh orangtua. Hal ini berbeda dengan pergi ke dokter badan, dokter hanya mendengarkan gejala, memeriksa bagian-bagian tubuh yang dinyatakan sakit kemudian memberikan diagnosis dan resep. Mendiagnosis masalah anak (yang tergolong daerah gunung kiri dan kanan) kadang-kadang membutuhkan waktu 1 hari bahkan 2 hari karena hal ini bukanlah masalah mudah. Diagnosis itu harus didasarkan pada nama kebutuhan dari anak, penyebab kebutuhan itu muncul dan perencanaan penanganan yang tepat bagi anak. Rumit kan ? Tidak kok … bagi yang sudah terbiasa dengan dunia anak.

    Ada pengalaman berharga bagi saya sehingga sangat membantu saya lebih berhati-hati dalam mendiagnosis masalah anak. Saya memiliki klien seorang  anak perempuan, cantik dan manis, yang memiliki kebutuhan khusus daerah sebelah kiri. Anak ini berusia 5 tahun menjelang 6 tahun. Mengalami keterlambatan bahasa dan menunjukkan kecemasan yang tinggi terhadap tempat baru. Di kelas ia sering terlambat dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Pernah ketika emosinya memuncak, ia mencakar gurunya untuk melampiaskan emosinya. Ia sangat takut terhadap kata belajar dan dokter. Mamanya telah membawanya untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater di Surabaya. Hasil diagnosis psikiater ini adalah si anak mengalami autisme ringan. Hasil diagonsis ini berbeda dengan saya. Setelah saya berinteraksi dengan si anak, melakukan beberapa tes dan pengamatan, saya menyimpulkan bahwa anak ini tidak mengalami autis, hanya mengalami kecemasan yang berlebihan dan memiliki tingkat kecerdasan yang kurang. Keterbatasannya dalam kecerdasan dan kecemasannya inilah yang menyebabkan ia tidak dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya. Bagaimana mungkin seorang anak autis dapat menyatakan perasaannya mengenai ketakutannya terhadap dokter dan mampu berinteraksi, bermain dan tertawa dengan anak sebayanya ? Kurang tepatnya melakukan diagnosis semacam ini yang menyebabkan saya merasa sedih. Anak-anak jadi tidak mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.

    Nah… jika menemui pengalaman serupa dengan anak kita maka yang pertama harus Anda lakukan adalah tenang, cari informasi, cek ricek, nilailah masalah ini termasuk daerah kiri, tengah atau kanan kemudian lakukan penanganan. Jika termasuk daerah kiri dan kanan maka sebaiknya kita mencari ahli yang kompeten. Jika kita menilai masalah anak hanya masalah normal/rata-rata/semua orang mengalami maka kita dapat menangani sendiri. Semuanya ini akan lebih baik jika sebelumnya kita telah membekali diri  dengan pengetahuan melalui belajar terus menerus. Memenuhi kebutuhan fisik (makanan minum, pakaian, rumah) dan psikis anak (mengisi tangki cinta: mengajaknya bermain, berkomunikasi dengan baik, memberikan kejutan, memberikan waktu spesial pada tiap anak untuk berdua dengan Anda – lihat DVD Tangki Cinta Anak).

    Tapi saya tetap merasa takut kalau-kalau ada pekembangan menyimpang dari anak saya, apalagi jika karena saya tidak tahu kalau itu menyimpang atau tidak ? kemudian saya membiarkannya bla bla bla … gimana donk? Untuk itulah, kita harus tetap belajar mengenai perkembangan yang dikatakan normal dan tidak normal. Saat ini banyak majalah yang membahas mengenai perkembangan balita bahkan terdapat seri yang khusus membahas perkembangan balita dari A hingga Z. Persenjatai diri kita dengan pengetahuan.

    Kita juga harus belajar untuk mengendalikan rasa cemas mengenai pertumbuhan anak kita. Ingat rasa cemas yang berlebihan terhadap perkembangan buah hati dapat mempengaruhi kesehatan psikis anak kita lho. Anak-anak usia demikian ini masih peka terhadap perasaan orang lain yang ada di sekelilingnya. Jika kita, sebagai ibu, sedang stress dan tidak bahagia, anak kita pada saat kondisi itu akan menjadi rewel. Namun jika kita sebagai ibu, sedang dalam kondisi tenang dan nyaman dengan diri sendiri maka dapat dipastikan anak kita akan lebih mudah diajak kerjasama. Kecemasan itu bisa dihilangkan dengan terus belajar mengenai perkembangan anak sehingga kita tidak buta dan memiliki wawasan kemana arah perkembangan anak kita.

    Tentang kepekaan seorang anak, saya pribadi pernah membuktikan hal itu. Waktu itu saya dalam keadaan tertekan karena adanya deadline penyelesaian tesis saya. Perasaan tertekan dan cemas ini ditangkap oleh murid-murid saya yang berusia bervariasi (2,5th ,4th , 5th). Murid saya yang berusia lebih muda menunjukkan empatinya dengan minta dipangku dan saya dipeluk olehnya. Sedangkan murid saya yang paling tua, tiba-tiba duduk disebelah bangku saya, memeluk saya dan berkata,”Siani paling sayang sama Bu Sandra”. Nah lo… bagaimana mata saya tidak berkaca-kaca. Saya yang dalam kondisi sedang kosong tangki cinta terhadap diri saya sendiri mendapatkan siraman embun yang benar-benar membuat saya terharu. Saya ini bukan ibu dari murid-murid saya, tetapi mereka peka terhadap perasaan saya. Apalagi Anda yang menjadi ibu bagi anak-anak Anda. Benar begitu ?

    Masa depan anak kita terletak dari pembentukan yang kita lakukan sekarang. Masa anak-anak adalah masa paling cocok untuk menanamkan hal baik dalam diri anak karena ia masih sangat dekat dengan kita. Setelah ia dewasa, kita hanya bisa mendoakan dia dari kejauhan karena ia sudah memiliki kehidupannya sendiri. Belajarlah terus… karena belajar tidak pernah mati dan belajar bisa mengalahkan rasa cemas. Enjoy aja lagi…

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga, Sandra

  • Gaya Pengasuhan dan Masa Depan Anggota Keluarga(2)

    Para orangtua tercinta yang tergabung dalam sekolahorangtua.com tentunya sudah tak sabar ingin tahu lanjutan dari pembahasan tentang gaya pengasuhan bukan? Nah inilah lanjutan pembahasan hal tersebut.

    withson2.jpg2. Gaya Pengasuhan Authoritative
    Pernahkah Anda mengalami hari pertama masuk kerja? Coba bayangkan jika hari pertama masuk kerja, kita dihadapkan dengan atasan yang ramah menjelaskan segala peraturan serta konsekuensinya, batasan dan harapan kinerja kita di perusahaan tersebut. Selain itu kita juga diberi hak untuk bertanya dan berdiskusi mengenai sumbangan-sumbangan yang dapat kita berikan kepada perusahaan. Bagaimana perasaan dan reaksi kita?

    Saat tahu batasan dan harapan terhadap diri kita, maka kita jadi merasa lebih bebas untuk bertindak dan berani memutuskan. Kita menjadi bebas menjadi diri sendiri dan kreatif menyumbangkan saran-saran bagi perkembangan perusahaan. Dan, yang terpenting kita merasa dihargai dan nyaman tumbuh di dalamnya serta mungkin mempercayakan kehidupan finansial kita pada perusahaan tersebut.

    Apa jadinya jika gaya bos yang ramah, responsif, namun juga tegas, diterapkan di rumah? Tentunya, suasana yang menyenangkan akan tercipta. Hubungan harmonis akan terjalin.

    Beberapa dari kita mungkin agak sedikit bingung dengan istilah yang mirip antara gaya pengasuhan pertama yang authoritarian dengan gaya yang kedua ini yaitu authoritative. Walaupun dari segi nama, gaya yang satu ini mirip dengan authoritarian, namun dari segi makna, keduanya sangatlah berbeda. Kesamaan keduanya adalah sama-sama menaruh harapan tinggi pada anaknya dan menerapkan peraturan dengan tegas. Perbedaan pertama : orangtua authoritative menambahkan peraturannya dengan penjelasan yang masuk akal sesuai usia anak dan plus… pilihan bagi si anak untuk memutuskan.

    Dengan adanya proses ini maka anak menjadi jelas tentang batasan-batasan atau standar yang diterapkan oleh orangtuanya serta memahami hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pembatasan ini sangat membantu anak untuk mengembangkan rasa aman dan percaya diri dalam berhubungan dengan orang lain. Kebiasaan untuk membantu anak membebaskan untuk memilih juga sangat bermanfaat untuk perkembangan jangka panjang anak. Anak terlatih untuk mengambil keputusan dan mempertimbangkan baik buruknya. Tentunya, hal ini juga menjadi bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan sosialisasi mereka.

    Bagaimana perasaan kita sebagai anak jika mengalami hal seperti ini,“Menurut mama, mengganti sprei setiap 1 minggu sekali atau 2 minggu sekali itu penting. Pada kain sprei yang telah dipakai 2 minggu, ada banyak kulit mati kita yang menempel, belum lagi keringat dan mungkin air liur yang menempel … iiihhh. Coba deh bayangkan kalau kotoran itu nempel di kulit kita … kulit kita bisa kena penyakit kulit. Jadi … gimana ? Kamu lebih suka mengganti sprei 1 minggu sekali atau 2 minggu sekali ? Keduanya masih batas aman kok !”. Bedakan dengan perkataan ini,”Kan, sudah mama bilang … ganti sprei 2 minggu sekali. Kamu sekarang sudah besar. Masa, gak bisa ganti sendiri ? Masa harus diingatin terus … dasar jorok … Ingat ya… 2 minggu sekali, sprei harus kamu ganti sendiri tanpa mama ingatin lagi. Ini terakhir kali mama ingatin kamu lho. Kamu kan sudah besar. Sadar sendiri dong!”. Walaupun nasihat kedua disampaikan dengan nada rendah, sopan dan lembut, pasti anak yang mendengarnya tetap merasa tidak dihargai dan diserang habis-habisan.

    Perbedaan kedua dari orangtua authoritative dan authoritatian terletak pada responsivitas orangtua terhadap kebutuhan emosi si anak. Orangtua authoritative responsif terhadap kebutuhan emosi  anak sehingga menciptakan sebuah ikatan emosi yang hangat dan rasa saling percaya. Sikap tanggap dan responsif terhadap kebutuhan anak (karena membantu mengisi tangki cintanya — lihat DVD Tangki Cinta) dapat menjadikan anak lebih bahagia, enjoy dan nyaman dengan diri sendiri. Mari kita perhatikan sebuah komunikasi seperti yang berikut ini: “Papa tahu kamu tidak suka jika diharuskan pulang pukul 08.00 malam karena kamu masih ingin jalan-jalan dengan teman-temanmu malam minggu ini (empati). Dan sesuai dengan kesepakatan yang sudah kita buat sebelumnya, kamu tetap harus pulang sebelum pukul 08.00 tapi jika berkaitan dengan tugas sekolah, kamu boleh pulang pukul 09.00 (peraturan tetap peraturan). Kalau memang masih ada yang harus dilakukan dan kamu butuh waktu lebih, kamu harus ditemani oleh salah satu dari mama atau papa (kesepakatan tetap kesepakatan). Dan maaf, untuk malam ini, mama dan papa sedang ada acara jadi tidak bisa menemani kalian (empati). Soo… kamu harus tetap pulang pukul 08.00 malam ini. Lain kali, jika mama atau papa sedang bisa temani kamu, kamu boleh ajak teman-teman jalan-jalan sampai pukul 09.00… oke?”. Dari komunikasi tersebut si anak akan tetap merasa bahwa perasaannya diperhatikan oleh orangtuanya.

    Dalam bernegosiasi mengenai peraturan, orangtua authoritative tetap konsisten dalam menerapkan kesepakatan yang telah dibuat namun mereka masih mengijinkan anak untuk tetap menikmati masa anak-anaknya dalam pengawasan dan pengendalian mereka. Dengan kata lain, kesepakatan yang dibuat berdasarkan niatan win-win solution.
    Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak yang diasuh dengan orangtua authoritative akan menghasilkan anak yang percaya diri, aman dengan diri sendiri dan lingkungan mereka sehingga mereka dapat menjalin relasi dengan lebih sehat. Mereka juga biasanya memiliki prestasi di sekolah, juga mampu memiliki perkembangan psikis yang sehat di masa mendatang. Selain itu, anak-anak ini juga cenderung memiliki perilaku yang sehat dan dapat diterima oleh masyarakat.

    3. Gaya Orangtua Permisif / permissive / nondirective
    Orangtua yang memiliki gaya permisif  merupakan orangtua yang dianggap “baik” dan “didambakan” oleh semua anak di dunia. Pada dasarnya, orangtua tipe ini merupakan orangtua yang takut mengalami penolakan dari anaknya dan ingin senantiasa disukai/disayangi oleh anak-anak mereka. Rasa takut ini menyebabkan orangtua bersedia memberikan apapun kepada anak-anaknya tanpa menuntut mereka untuk mengikuti keinginan orangtua. Baik kan ?
    Orangtua jenis ini, jarang memberikan peraturan-peraturan dan batasan perilaku. Kalau pun mereka memberikan peraturan seringkali kurang dijalankan dengan tegas dan tidak ada konsekuensi dari pelanggaran. ‘Konflik’ bagi orangtua jenis ini adalah tabu. Mereka merasa lebih baik menurut daripada harus melakukan konfrontasi dan cara ini biasanya lebih mudah bagi mereka untuk dilakukan daripada adu mulut dengan anak mereka.
    Anak-anak ini terbiasa untuk dipenuhi keinginannya oleh orangtua tanpa melewati proses rasa sakit atau perjuangan. Dan ini menyebabkan mereka tumbuh menjadi anak yang kurang matang dan kurang bisa menghormati otoritas. Hal ini terlihat dari ketidak- mampuan mereka dalam mengendalikan keinginan-keinginan mereka serta ketidak- mauan mereka untuk bertanggungjawab terhadap perilaku mereka. Mereka lebih suka untuk menyalahkan orang lain terhadap kesalahan yang telah mereka perbuat. Dampaknya relasi pertemanan yang dirajut dengan orang jenis ini, menjadi timpang karena tidak ada proses take and give. Dalam bahasa sehari-hari, orang jenis ini biasa dicap sebagai orang yang mau menang sendiri, keras kepala dan tidak mau disalahkan. Mereka memang terlihat kuat dimata masyarakat umum namun sebenarnya mereka memiliki emosi yang rapuh.
    Emosi yang rapuh ini menyebabkan mereka tetap tergantung pada orangtua mereka hingga dewasa. Karena seringkali rasa aman dalam berelasi hanya didapat dari orangtua yang tidak pernah menilai dan menyalahkan maka anak-anak produk pengasuhan ini memiliki hubungan yang erat dan dekat dengan orangtua mereka hingga dewasa. Mereka sangat tergantung pada orangtua sebagai sumber dari rasa aman emosional mereka.

    4. Gaya Pengasuhan Neglectful/Uninvolved
    Mari kita lihat sebuah situasi lain dari seorang  bos yang tidak pedulian pada anak buahnya. Bos yang tidak memberikan batasan tapi juga tidak mau diajak diskusi. Anak buahnya pasti mengalami kebingungan tentang apa yang harus dikerjakan, dan tujuan apa yang harus dicapai. Ujung-ujungnya kekacauan di kantor. Sama dengan anak yang memiliki orangtua seperti ini, di akhir perjalanan menuju dewasa akan menciptakan monster yang kebingungan. Tipe orangtua ini lebih berdampak buruk dibandingkan dengan orangtua permisif karena tidak adanya ikatan emosi ditambah dengan penerapan batasan yang kabur. Mereka hanya menyediakan kebutuhan fisik untuk anak saja. Orangtua hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pribadinya daripada berusaha memahami kebutuhan anak.
    Ketika dewasa, biasanya anak-anak ini sering mencari pelarian dari rasa kesepian dan mencari penerimaan dari orang lain. Akibatnya mereka sering terlibat dalam masalah-masalah perilaku dibandingkan dengan anak yang memiliki orangtua authoritative. Masalah perilaku tersebut misalnya seks bebas dan penggunaan obat terlarang ataupun kenakalan remaja lainnya. Hal ini dilakukan hanya untuk mencari penerimaan. Secara  emosi mereka mudah untuk mengalami depresi dan sering merasa ditolak. Dalam banyak kejadian, anak-anak tumbuh dengan perasaan ingin melawan, menentang, dan rasa marah yang bergejolak kepada orangtua karena merasa telah diabaikan dan dikucilkan oleh orangtua.

    So bagaimana dengan kita sendiri? Termasuk tipe apakah kita? Ketika saya menjadi pengajar di sebuah sekolah, beberapa komentar ditujukan kepada saya, seperti “Wah, pasti nakal-nakal ya muridnya ?”, “Gimana… kalau ada anak yang suka nangisan, gak mau sekolah ?”. Ketika menghadapi pertanyaan ini, saya jadi bingung untuk menjawab. Bagi saya, tidak ada anak yang nakal, kenakalan yang ‘diciptakan’ seorang anak  hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya ada di dunia ini. Berikan perhatian dan batasan yang jelas kepadanya maka si anak akan merasa disayang dan akan menjadi normal-lah perilakunya. Senada dengan kutipan dari buku Nanny 911, “Anak nakal bukan dilahirkan namun diciptakan.” Berdasarkan pengalaman saya, orangtua yang menerapkan batasan secara jelas dan menyediakan waktu berkualitas bagi anak-anaknya akan menghasilkan anak yang bahagia, kritis, mudah untuk diajak kerjasama dan ramah. Lihatlah DVD Tangki Cinta dan baca buku Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia untuk memperdalam hal penting yang bisa memengaruhi masa depan Anda dan anak Anda ini.

    salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Sandra M.,MPsi.,Psikolog (Partner Konselor dan Terapis SekolahOrangtua.com)

  • Kebersamaan Dalam Keluarga

    42_18309157.jpgDalam kondisi dunia yang makin banyak memberikan tuntutan, memaksa suami dan istri pergi ke luar rumah untuk bekerja sehingga banyak keluarga kurang memiliki kesempatan untuk menjalin kebersamaan dalam keluarga. Hand phone yang pada awalnya dimaksudkan sebagai sarana untuk memudahkan berkomunikasi sehingga jalinan kebersamaan bisa terjaga, sering berubah menjadi sumber bencana retaknya komunikasi. Padahal, kebersamaan dalam keluarga akan memberikan tambahan energi positif kepada anggotanya.

    Kebersamaan? apakah itu?

    Kebersamaan yang saya maksudkan dalam hal ini tidak sekedar kehadiran fisik belaka, namun adanya keterlibatan emosi pada seluruh anggotanya. Lihat artikel Kedekatan Fisik Tidak Sama dengan Kedekatan Emosional yang telah ditulis oleh Bapak Ariesandi di situs ini juga. Kebersamaan yang terjalin dengan kualitas yang bagus, tidak akan terpengaruh oleh kuantitas waktunya. Waktu yang hanya 1 jam dapat sangat bermanfaat jika seluruh anggota keluarga benar-benar ikut terlibat di dalamnya dibandingnya waktu sepanjang 12 jam yang hanya dimanfaatkan untuk saling diam atau konsentrasi dengan aktivitas masing-masing.

    Sarana Pembangun Kebersamaan

    Ada banyak sarana yang bisa kita manfaatkan untuk membina kebersamaan dalam keluarga, antara lain :

    1.    Bercanda bersama

    Kapankah terakhir kali Anda bercanda dengan pasangan Anda? Ketika saya bertanya demikian kepada sebuah komunitas orangtua dalam acara Family Gathering, saya tidak mendapatkan jawaban kecuali tatapan mata dan senyuman. Masing-masing hanya saling pandang. Setelah beberapa saat barulah ada seorang peserta yang menjawab, “Sudah lama sekali, waktu kami masih berpacaran”. Wauw lama sekali ya?

    Bercanda itu sangat penting karena di dalam bercanda ada kegembiraan. Kegembiraan itu akan membuat pola pandang kita terhadap berbagai masalah yang ada berubah. Kegembiraan mampu menjernihkan pandangan kita terhadap sesama anggota keluarga. Bahkan tidak sedikit peserta Family Gathering yang merasa bahwa dengan bercanda, mereka dimudakan kembali. Relasi antara suami-istri diremajakan kembali.

    2.    Bermain bersama

    Bermain, adalah aktivitas yang tanpa tuntutan. Di dalam bermain tidak ada kalah atau pun menang. Jika toh diciptakan kompetisi, itu bertujuan untuk meramaikan, bukan untuk benar-benar berkompetisi.

    Ingat, bermain bersama butuh keterlibatan semua pihak. Jangan ada yang hanya menjadi penonton. Dalam acara Family Gathering, yang saya sebut di atas, pada sesi dinamika keluarga yang difasilitasi dengan menggunakan sebuah permainan, nampak bahwa ketika bermain, tidak ada batasan antara anak dengan orangtua. Semua anggota keluarga mampu menggali kegembiraannya dengan leluasa, tanpa kekangan. Anak mampu mengoreksi perlakuan orangtua dengan lugas, demikian pula orangtua dapat memberikan masukan tanpa kemarahan.

    3.    Belajar bersama

    Yang dimaksudkan belajar bersama dalam hal ini bukan sekedar duduk bersama dalam satu meja dan masing-masing membawa bahan materi pembelajaran untuk dipelajari. Sekali lagi hal itu hanyalah kebersamaan fisik. Belajar bersama dalam hal ini adalah membahas sebuah kajian bersama-sama. Pilihlah bahan yang ringan dan aktual dan sesuai dengan tingkat kemampuan berfikir anak, misalnya bahasan tentang buah, mainan, pakaian, atau apa saja yang ada di sekitar kita. Dengan catatan : Jika bahan kajian berupa sikap orang, buatlah agar jangan sampai pembahasan berubah menjadi ajang “membiarakan kejelekan orang”.

    4.    Nonton Televisi / Bioskop Bersama

    Tentu, pilihlah tontonan yang bermutu dan menyegarkan, seperti komedi atau film-film yang sepadan dengan usia anak-anak Anda. Tontonan hendaknya disukai oleh semua keluarga. Anda bisa menyesuaikan dengan selera anak, namun, boleh juga Anda mengajak anak menyukai selera Anda, tentu bukan dengan paksaan. Sebab, jika apa yang ditonton ternyata hanya disukai oleh sebagian anggota, yang akan terjadi bukanlah sebuah kebersamaan, tetapi saling ganggu, bahkan bisa terjadi konflik. Anda sekeluarga bisa membahas apa yang telah Anda tonton bersama, meski hanya sekedar menyampaikan perasaan atau kesan.

    5.    Rekreasi Keluar bersama

    Pernahkah ketika Anda bermaksud untuk berlibur bersama ternyata suasana justru berubah menjadi ajang percekcokkan? Itu namanya bukan rekreasi bersama melainkan bertengkar sambil jalan-jalan. Nah, jika Anda ingin berekreasi bersama, sebelumnya Anda harus membuat rancangan yang merupakan keputusan bersama dan harus dijalankan bersama. Oleh karenanya, perlu ada komitmen bersama sebelum Anda beranjak dari rumah. Sesuaikan barang bawaan dengan kapasitas tenaga dan keperluan Anda. Pastikan bahwa barang-barang yang penting sudah Anda kemas, akan lebih baik jika Anda membuat daftar barang yang akan Anda bawa. Mengapa ini penting? Karena banyak terjadi percekcokan dalam perjalanan hanya disebabkan sebuah barang yang tertinggal.

    Rekreasi harus segera dimulai sesaat Anda berangkat, dalam arti bahwa perjalanan Anda pun harus dirancang sebagai sebuah rekreasi. Oleh karenanya Anda dan keluarga harus bisa menikmati perjalanan Anda. Akan lebih baik apabila Anda sekeluarga membuat keputusan untuk menciptakan kebahagiaan sepanjang rekreasi Anda. Gunakan teknik yang dipaparkan dalam dalam buku-bukunya Bapak Ariesandi S., CHt. : “Hypnoparenting” dan “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”. Saya belajar dari Bapak Ariesandi bagaimana caranya membuat afirmasi (self talk) yang sesungguhnya merupakan teknik NLP (Neuro Linguistik Program), yaitu memrogram pikiran kita menggunakan bahasa, seperti “Saya memutuskan untuk mendapatkan rekreasi yang menyenangkan bersama keluarga saya”. Jika Anda bersungguh-sungguh ketika mengucapkan afirmasi tersebut, yakinlah bahwa apa yang Anda ucapkan akan benar-benar terjadi. Saya sudah banyak memanfaatkannya.

    6.    Doa bersama

    Semua agama mengakui bahwa doa bersama dirasa sangat ampuh demi terkabulnya sebuah permohonan. Selain itu, tahukah Anda bahwa doa bersama membuat Anda sekeluarga merasa “menyatu”? Jika Anda belum percaya, silakan Anda coba dan jadikan sebagai sebuah kebiasaan di dalam keluarga Anda.

    Jika Anda mencermati keenam sarana di atas, terlebih jika Anda laksanakan, Anda akan menyadari bahwa:

    1. Kebersamaan dalam keluarga bisa dibangun tanpa harus menyita seluruh waktu Anda
    2. Kebersamaan dalam keluarga akan mendatangkan energi positif yang dapat mendukung aktivitas Anda di luar     rumah, dalam pekerjaan atau bisnis Anda.
    3. Kebersamaan dalam keluarga akan membuat Anda merindukannya, sehingga Anda dapat dengan mudah menghalau godaan dari luar rumah Anda.
    4. Kebersamaan dalam keluarga akan memotivasi keterbukaan dalam keluarga. Dengan demikian, akan muncul sikap saling percaya dan saling menghargai di dalam keluarga Anda.
    5. Kebersamaan menumbuhkan rasa saling memiliki dan kesamaan visi dan misi antara Anda dengan pasangan  dalam rangka mengasuh buah hati Anda.

    Demikian pengalaman saya, semoga bermanfaat bagi seluruh orangtua yang membaca artikel ini. Selamat menikmati anugerah Tuhan sebagai orangtua.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga,

    V.Dwiyani/Ve (Mathemagics Magelang)

    Family Counceloruploads

  • Kasih Ibu Sepanjang Masa!

    “Oh, saya hanya seorang ibu rumah tangga”, demikian kata seorang ibu ketika saya tanya apa pekerjaannya.

    “Hmm, menarik sekali. Mengapa Anda mengatakan “hanya seorang ibu rumah tangga”? Bukankah seharusnya Ibu dengan bangga mengatakan bahwa ibu adalah seorang ibu rumah tangga? Tak ada alasan untuk tidak menjadi bangga karena Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki peran besar mendukung anak-anak dan suami dalam membangun masa depan”, demikian jawab saya.

    “Ah, Bapak bisa saja berbasa-basi. Saya ini kan cuma di rumah. Tidak menghasilkan apa-apa”, kata sang ibu.

    “Janganlah mengukur prestasi Ibu dari banyaknya uang yang dihasilkan. Ibu menghasilkan sesuatu yang tak nampak. Ibu mampu menghasilkan dan menjadi sumber cinta yang akan membuat seorang manusia biasa mampu melakukan hal-hal luar biasa dalam kehidupan. Itulah yang dilakukan oleh ibu saya pada diri saya pribadi. Karena cinta beliaulah maka saya mampu menghadapi tantangan kehidupan dan berkarya untuk kehidupan. Ibu saya menyalakan lentera kehidupan saya dengan cinta kasihnya casino yang tanpa syarat dan begitu tulus. Inilah yang sering dilupakan oleh seorang ibu rumah tangga”, jawab saya dengan penuh kesungguhan.

    Wahai para Ibu dimanapun berada tutuplah mata sejenak dan rasakan bahwa Anda adalah Ibu yang luar biasa yang akan mampu membuat seorang manusia biasa melakukan hal luar biasa dengan cinta kasih Anda.

    Mulai saat ini jika Anda ditanya apa pekerjaan Anda, maka jawablah dengan penuh percaya diri dan penuh kebanggaan bahwa Anda adalah seorang ibu rumah tangga!

    Terima kasih tak terhingga untuk Ibu saya pribadi. Terima kasih untuk seluruh Ibu yang membaca tulisan ini. Sadarilah bahwa cinta kasih dan pengorbanan yang selama ini Anda lakukan layak mendapatkan penghargaan luar biasa  karena nilainya yang tak terukur. Tak ada seorang pun yang dapat melakukan pekerjaan sebanyak yang dapat dilakukan seorang ibu.

    SELAMAT HARI IBU 22 DESEMBER 2008!


    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Ariesandi dan team sekolahorangtua.com

  • Gaya Pengasuhan dan Masa Depan Anggota Keluarga

    angry parents.jpgApa hubungannya masa depan saya dan anak-anak dengan gaya saya mengasuh anak? Sebuah pertanyaan yang wajar, jika kita mencermati pernyataan judul di atas. Jika anak kita menjadi orang yang bahagia, tahu apa tujuan hidupnya, menghasilkan karya yang berguna bagi bangsa, tentunya kita turut menjadi bahagia juga kan di masa depan ? Coba bayangkan apabila anak kita tumbuh menjadi orang yang miskin, pemurung, tidak tahu harus bekerja di bidang apa, tidak tahu cara memilih pasangan hidup, tentunya, kita di masa depan akan ikut menjadi tidak bahagia dan mengalami penyesalan seumur hidup, bukan?

    Memiliki anak yang bahagia, tahu tujuan hidupnya dan mampu berkarya adalah hasil pengasuhan yang kita lakukan sejak anak masih dalam perlindungan kita. Jika kita salah mengasuhnya maka ia akan menjadi apa yang telah kita asuhkan. Ambil contoh Obama, jika Obama tetap diasuh oleh ibunya dan tinggal di Indonesia, ia tentunya akan menjadi Obama yang berbeda dengan Obama sekarang. Pengasuhan yang diterima olehnya, mengharuskan ia untuk bisa mengakomodasi perbedaan yang ada disekelilingnya. Ia yang berkulit hitam harus bisa bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan tempat kakek neneknya tinggal yang jelas-jelas berkulit putih. Hasilnya, bisa dilihat dalam kabinet yang dibentuknya. Ia berencana menyatukan orang-orang hebat yang memiliki pandangan berbeda dengan dirinya menjadi 1 kabinet.

    Saat ini, Obama mengusulkan Hillary Clinton, mantan rivalnya dalam pencalonan presiden dari partai Republik. Bahkan, McCain yang jelas-jelas memiliki pendapat berbeda dengannya, direncanakan akan direkrut sebagai salah satu mentri dalam kabinetnya. Hebat bukan ? Coba imajinasikan, jika Obama tetap tinggal di Indonesia dan menjalani proses pendewasaan di sini. Mungkinkah Obama menjadi pribadi yang berbeda?
    Pernahkah anda mendengarkan orangtua yang menuntut anaknya seperti ini, ”Pokoknya … kamu harus pulang ke rumah sebelum jam 8”. Tanpa ada penjelasan mengenai mengapa anak harus pulang jam 8. Atau tidak memberikan anak pilihan keputusan yang bisa dipilih, ”Papa mau kamu masuk kuliah jurusan ABC. TITIK.” Atau, orangtua yang berkata kepada anak usia SMP,”Ya sudah … terserah kamu! Yang menurut kamu baik, jalankan saja.” Tanpa penjelasan dan batasan mengenai apa yang baik dan jelek. Padahal usia ini masih mencari mengenai hal yang baik dan tidak baik. Ketiga orangtua ini memiliki gaya mengasuh yang berbeda kepada anaknya.

    Untuk lebih menyederhanakan, gaya pengasuhan dapat diibaratkan (namun tidak dapat disamakan) dengan gaya kepemimpinan di kantor. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita sebagai karyawan, kita berjumpa dengan bos atau atasan kita yang memiliki gaya memimpin berbeda. Ada yang otoriter, yang tidak memiliki empati kepada anak buah sehingga setiap tugas atau perintah harus dilaksanakan dengan segera (seperti dalam film The Devils Who Wear Prada).

    Ada juga bos yang bisa memahami anak buahnya sekaligus mampu bertindak tegas, bisa membedakan urusan personal atau urusan profesional. Ada juga bos yang bisa disetir oleh anak buah. Atau bos yang tidak peduli pada hasil kerja anak buah sudah berkualitas atau tidak, yang penting mereka tetap bekerja dan tetap dibayar penuh tiap bulannya. Gaya kepemimpinan ini tentunya akan berpengaruh pada suasana kantor serta berpengaruh pada hasil pekerjaan anak buah yang dipimpin bukan ?

    Nah, gaya pengasuhan adalah cara yang kita gunakan dalam merawat, berkomunikasi, dan mendidik anak kita. Mengapa sampai muncul penelitian tentang gaya pengasuhan ? Karena hal ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan anak ketika dewasa. Penelitian mengenai gaya pengasuhan ini telah dilakukan sejak tahun 1930-an. Salah seorang peneliti yang teorinya banyak digunakan hingga sekarang dan dianggap paling populer adalah Diana Baumrind. Penelitiannya dilakukan pada tahun 1968 dan hingga sekarang, hasil penelitiannya ini masih digunakan oleh masyarakat umum dan dijadikan bahan penelitian oleh mahasiswa.

    Gaya pengasuhan menurut Baumrind, dibedakan menjadi 4 kategori yaitu gaya authoritarian, gaya authoritative, gaya permissive, dan gaya neglectful/uninvolved. Perbedaan dasar ke-empat gaya pengasuhan ini adalah terletak pada harapan orangtua dan kehangatan kasih sayang yang ditunjukkan oleh orangtua.

    1. Gaya Pengasuhan Authoritarian.
    Orangtua yang memiliki gaya pengasuhan ini dapat disamakan dengan bos yang tegas dan kejam. Beliau dengan jelas menerapkan visi perusahaan dan dia dengan tegas menjalankan semua peraturan yang memang harus dilakukan tanpa pandang bulu. Tiap anak buah harus menaati tanpa kecuali. Bos tipe ini tidak dapat diajak diskusi dan tidak boleh ada yang mempertanyakan alasan pemberlakuan peraturan. Ya… bisa dibayangkan, tipe anak buah yang dipimpinnya. Penurut, tidak berani ambil keputusan, hanya berani menentang dibalik punggung bos. Atau melakukan korupsi kecil-kecilan asal tidak ketahuan sebagai tanda melawan bos.

    Gaya bos seperti itu, juga terbawa sampai di rumah dan digunakan untuk memperlakukan istri/suami dan anaknya. Biasanya pemikiran yang melandasi adalah anak tidak tahu yang benar dan baik, jadi harus menuruti keinginan orangtua, menjalankan peraturan yang diberikan tanpa boleh dipertanyakan atau diberikan hak untuk memilih. Selain tegas menerapkan peraturan dan keinginannya orangtua tipe ini juga kurang memiliki hubungan emosional yang hangat dengan anaknya. Mereka cenderung mengabaikan kebutuhan emosi anak, menerapkan kondisi cinta bersyarat dan menggunakan ancaman untuk tidak memberikan cinta atau perhatian jika anak tidak mau menurut. Komunikasi dengan anaknya pun tidak jauh berbeda dengan yang dialami salah seorang klien saya, dibumbui dengan sedikit manipulasi dan ancaman terselubung “Kalau kamu mau disayang sama mama dan papa, kamu harus menjadi anak yang baik dan penurut.”

    Atau “Papa dan mama paling suka lho… sama anak yang mau mendengarkan kata-kata papa mamanya, nggak nakal, sayang sama adiknya/kakaknya.”

    Atau “Papa jadi sayang sama kamu karena kamu bisa mendapatkan nilai 8 untuk ulangan matematika tadi.”

    Tentunya, anak yang terus menerus menerima perlakuan ini berkembang menjadi anak yang kurang memiliki rasa aman, memiliki konsep diri yang kurang sehat, kurang percaya diri, dan cenderung mengkaitkan kepemilikkan materi atau status sebagai simbol rasa amannya.

    Apabila keadaan ini terus berlanjut, anak tumbuh menjadi pribadi penurut, pasif, biasanya tidak bermasalah dalam beradaptasi dengan norma atau kebalikannya cenderung menentang otoritas. Keduanya sama-sama kurang trampil dalam bersosialisasi. Mereka juga biasanya tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak tahu apa yang baik untuk diri mereka ataupun tujuan hidup mereka. Mereka sering mengalami kebingungan mengenai hal yang benar dan salah. Orang yang tumbuh dengan keadaan demikian tentunya tidak akan mengalami kebahagiaan dalam hidupnya.

    Orang yang tumbuh menjadi pribadi yang penurut dan pasif akan lebih senang jika orang lain yang mengambil keputusan untuk dirinya. Akibatnya, hubungan yang dibina oleh orang seperti ini akan menjadi sebuah hubungan yang rapuh, mudah mengalami konflik. Bahkan ketika memasuki pernikahan, mereka cenderung memilih pasangan yang suka mengontrol dan kasar. Atau, kemungkinan kecil, orang yang tumbuh cenderung melawan secara terang-terangan kepada orangtua dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh orangtua. Misalnya kabur dari rumah atau menjalin hubungan dengan pasangan yang jelas-jelas tidak disukai oleh orangtua. Biasanya gaya pengasuhan ini lebih banyak berdampak negatif kepada anak laki-laki daripada anak perempuan. (bersambung)

    Sandra M.,MPsi, Psikolog

  • Tahukah Anda Tidur berpengaruh terhadap Rasa Percaya Diri Anak?

    DSCF2946.JPGTidur adalah waktu yang paling berharga untuk beristirahat. Namun, waktu tidur bisa menjadi waktu terpanjang dan terberat bagi sebagian anak dan orangtua. Bahkan, kualitas tidur bisa menjadi penentu keberhasilan anak di masa-masa berikutnya. Mengapa bisa demikian? Karena aktivitas tidur bisa berpengaruh terhadap rasa percaya diri anak.

    Seorang gadis remaja yang mengalami penurunan prestasi, perubahan temperamen, dan mulai suka mencari hal-hal di luar dirinya untuk disalahkan sebagai pelampiasan ketidakpuasan atas sebuah keadaan, bermula dari permasalahan tidur. Benar! Gadis remaja yang sudah duduk di kelas 3 sebuah SMA berasrama mengalami pemutusan emosi dari orangtuanya karena ia selalu tidur bertemankan dengan sang bunda sampai ia lulus SMP. Bisa dibayangkan betapa beratnya melalui masa tidur yang sangat berbeda dengan kebiasaannya selama hampir 15 tahun ia jalani.

    Penurunan prestasi, perubahan temperamen, hanyalah sebuah proyeksi dari kegelisahan dan kecemasan yang dialaminya selama masa tidurnya. Bagaimana tidak jika setiap malam ia mengalami tidur yang selalu tidak nyenyak, tiba-tiba terbangun dan tidak bisa tidur lagi, ada ketakutan yang tiba-tiba muncul setiap kali ia merasa sendiri, meski ia sekamar dengan 3 orang rekannya. Kualitas tidur yang buruk membuat si gadis menjalani hidupnya dengan energi yang makin berkurang.

    Ketergantungan yang tinggi terhadap sang bunda yang selama ini memberinya rasa aman ketika tidur membuatnya tidak berdaya menghadapi perubahan. Rasa sendirian membuatnya merasa tidak aman dan tidak nyaman, meski sesungguhnya ia masih memiliki teman selama tidurnya, namun, itu tidaklah mampu membuatnya merasa tenang. Perasaan tidak aman dan tidak nyaman menumbuhkan rasa takut, gelisah, cemas, dan berbagai perasaan buruk ketika tidur. Inilah yang membuat kualitas tidurnya menjadi buruk.

    Kualitas tidur yang memburuk membuat energi semakin melemah, berpengaruh terhadap daya tangkap dan konsentrasinya dalam belajar. Akhirnya, prestasi menurun. Penurunan prestasi ini disikapi sebagai hal yang menegaskan bahwa dirinya tidaklah semampu ketika berada dekat dengan orangtuanya. Akibatnya, ia menilai bahwa dirinya tidak berdaya jika harus sendiri. Inilah yang kemudian menggerogoti rasa percaya dirinya.

    Sebuah kasus terjadi pada anak kelas 4 SD yang kesal terhadap dirinya sendiri karena setiap kali mengikuti evaluasi di kelasnya, ia mendapatkan nilai yang tidak sesuai dengan harapannya. Hal itu bukan disebabkan ketidakmampuannya dalam belajar, tetapi lebih disebabkan keraguan yang selalu muncul setiap kali menuliskan jawaban. Banyak soal yang sudah dijawabnya dengan benar, diganti dengan jawaban yang justru salah. Ini terjadi berulang-ulang sehingga bukan hanya anak tersebut yang kesal tetapi juga gurunya.

    Setelah dilakukan analisis terhadap kondisi hidup sehari-hari didapatkan data bahwa masa menjelang tidur adalah masa yang menakutkan bagi si anak dan masa melelahkan bagi sang ibu. Setiap malam sang ibu harus menemaninya, setelah ia tidur barulah sang ibu bisa keluar dari kamar. Itu pun membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai dibantu dengan musik untuk mempercepat tidur si anak. Namun, hampir selalu terjadi, tidak lama kemudian si anak berteriak memanggil ibunya, dan kembali ibunya menemani, demikian seterusnya.

    Kasus di atas menunjukkan bahwa si anak memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sang ibu sehingga ia tidak ingin sang ibu beranjak dari sisinya. Menyadari bahwa setiap kali ia tertidur, sang ibu meninggalkannya, membuatnya berusaha untuk tidak terlelap. Bisa dibayangkan, bagaimana kualitas tidur si anak, juga sang ibu. Sungguh sangat buruk. Bahkan, menurut penuturan si anak, ketika di sekolah atau sedang belajar, ia sering membayangkan saat-saat tidur tanpa ibunya di sisinya. Dan seketika itu pula ia merasakan ketakutan. Tentu saja hal itu akan mengganggu aktivitas kesehariannya. Perasaan takut sungguh-sungguh akan mengganggu perkembangan potensi anak. Terlebih ketika ia bisa membandingkan prestasinya ketika tidur bersama sang ibu dan tanpa sang ibu. Ketika itu pula si anak akan merasa bahwa ia tidak akan menjadi kuat dan mampu tanpa bergantung pada sang ibu. Ini juga akan online casino canada menggerogoti rasa percaya diri anak.
    Rasa percaya diri sangat penting bagi siapa saja. Rasa percaya diri yang baik akan menyebabkan seseorang berani berinovasi, berkreasi, mengemukakan pendapat, bahkan berani sukses. Oleh karenanya, orangtua perlu membantu anak agar tumbuh dengan rasa percaya diri yang memadai. Salah satunya bisa dimulai dengan melatih anak tidur sendiri, semakin dini (setelah anak tidak mendapatkan ASI), tentu semakin mudah.

    Melatih Anak Tidur Sendiri

    Melatih anak tidur sendiri tidak bisa dilakukan dengan “langsung”, pasti harus bertahap. Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan:

    • Pertama-tama anak harus mengetahui bahwa ia akan tidur sendiri tanpa ayah atau ibu di sampingnya. Hal ini penting agar anak tidak selalu berharap bahwa orangtuanya akan selalu ada di sampingnya.
    • Temani ketika anak akan beranjak tidur, disarankan Anda memberikan dongeng atau cerita-cerita keagamaan. Namun, jika anak Anda lebih dari satu dan ingin memberikan dongeng, lakukan bersama-sama dan tidak di tempat tidur (kecuali jika anak tidur satu kamar). Tentukan waktu berapa lama Anda melakukan aktivitas tersebut. Artinya, setelah waktu tersebut terpenuhi, Anda harus berhenti mendongeng dan meminta anak untuk tidur.
    • Anda boleh tetap ada di kamar anak sampai ia tertidur, namun, pastikan bahwa Anda tidak melakukan kontak fisik dan kontak mata dengannya. Anda boleh membelai kepalanya, hanya ketika waktu berinteraksi (waktu mendongeng). Bila perlu, Anda mengambil jarak dari ranjang anak.
    • Jika anak menangis dan mendekati Anda, angkat dan tidurkan di tempat tidur, kemudian Anda kembali pada posisi semula, demikian seterusnya. Jika Anda konsisten dan tegar, maka jeda waktu menemani anak sampai tidur, akan semakin sempit, artinya, anak akan semakin mudah tidur, hingga akhirnya Anda tidak perlu lagi harus menunggui lama di kamarnya.

    Melatih Diri Sendiri

    Ketika kita melatih anak tidur sendiri, sesungguhnya yang kita latih adalah diri sendiri. Sebab, tidak jarang justru orangtua lah yang menghendaki anak untuk terus tidur bersamanya. Sama juga dengan anak, orangtua akan merasa nyaman jika bersanding dengan anaknya. Itulah sebabnya, orangtua juga perlu berlatih untuk bisa tidur berpisah dengan anaknya.
    Kadang, orangtua memberikan beberapa dalih ketika merasa gagal melatih anak tidur sendiri, padahal sesungguhnya, orangtua lah yang berharap latihan tersebut gagal. Namun, dengan perpedoman bahwa kita tidak selamanya akan mendampingi anak-anak kita sehingga perlu memberikan bekal keberanian kepada anak, maka kita akan semakin dimampukan untuk tegar dan berani melatih diri sendiri.

    Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa ketika kita melatih anak tidur sendiri, jangan ciptakan kesan bahwa hal itu kita lakukan karena kita tidak ingin terganggu oleh si anak, namun, ciptakan kesan bahwa Anda sedang menghargai privacy si anak. Kesan bahwa pemisahan tidur sebagai alasan agar orangtua tidak terganggu akan menyebabkan anak merasa “diabaikan”, dan ini akan semakin menyulitkan proses pelatihan.

    Jika Sudah Terlanjur

    Bagaimana jika si anak sudah terlanjur memiliki emosi yang buruk setiap kali tidur sendiri? Masih bisa ditolong, yaitu dengan merelease emosi buruknya. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk merelease emosi buruk. Bisa disugesti menggunakan NLP (Neuro Linguistik Programme), bisa dengan Hypnotherapi, dan bisa juga menggunakan EFT (Emotional Freedom Therapy) yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Anda bisa mempelajarinya di dalam buku berjudul “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”, tulisan Ariesandi Setyono. Pak Aries memberikan teknik-teknik yang mudah dipahami dan dipraktekkanm dalam buku tersebut, klik link berikut : “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”. Saya pribadi sudah membuktikan kehebatan terapi ini baik untuk diri sendiri maupun untuk anak-anak. Jadi sebaiknya Anda segera memelajarinya melalui buku di atas.

    salam hangat penuh kasih untuk Anda sekeluarga,

    Vincentia Dwijani (Mathemagics Magelang) untuk anggota SekolahOrangtua