Kategori: Artikel

  • Bagaimana Membantu Anak Mengatasi Emosi Negatif? (2)

    Tulisan berikut ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya dengan judul yang sama yang telah dimuat di website sekolahorangtua.com juga. Namun kali ini kita akan membahas masalah ini untuk anak berusia 12 tahun sampai 18 tahun atau masa remaja hingga dewasa awal.

    Banyak anak-anak remaja menjadi stres saat mereka berhubungan dengan masalah pertumbuhan. Mereka khawatir tentang perubahan tubuhnya, bergelut dengan seksualitas dan jati diri mereka. Anak-anak remaja ini seharusnya  dapat membicarakan masalah mereka dan seharusnya sudah mengembangkan kemampuan untuk mencari jalan keluar atas suatu permasalahan. Namun dikarenakan emosi yang dapat berubah dengan tiba-tiba dan keraguan akan keputusan yang penting, mereka memerlukan bantuan khusus dan dukungan dari kita – orang dewasa – terutama kedua orangtua. Fase ini biasanya akan terlewati dengan baik jika di fase sebelumnya orangtua mengembangkan sebuah komunikasi yang baik – yang membangun sebuah harga diri – dengan anaknya.

    Pada saat awal masa remaja, anak-anak remaja sangat sensitif akan kritikan. Nasehat yang bermaksud baikpun akan ditangkap sebagai  kritikan dan menjadi penyebab kemarahan atau reaksi pertahanan. Mereka butuh penghargaan dan biasanya yang didapat adalah sebaliknya. Seringkali klien remaja saya tidak bisa menangkap dengan baik apa yang dilakukan orangtuanya terhadap diri mereka. Akhirnya mereka bisa saja mencari pelarian untuk pemecahan masalah di luar rumah.

    Stres yang umum dialami oleh anak-anak remaja adalah mendapatkan tes, tekanan  untuk mendapatkan nilai yang bagus, godaan untuk mencoba sex dan obat-obatan, bermasalah dengan hubungan laki-laki atau perempuan, mempertanyakan benar dan salah, kegugupan saat berpidato dan kompetisi, keragu-raguan akan penampilan fisik, tekanan dari terlalu banyak aktifitas, merawat adik laki-laki dan perempuan, tidak punya cukup waktu, dan tekanan menjadi kakak atau adik yang baik serta kurang percaya diri.

    Apa ciri-ciri bila anak remaja anda di bawah pengaruh  stres? Makan terus menerus sehingga menciptakan masalah berat badan, melamun secara berlebihan, menggunakan obat-obatan terlarang atau mengalami gangguan syaraf seperti kedipan mata yang tak biasa, menggigit kuku, dan kejang otot. Stres secara emosi bisa merupakan sebuah awal bagi pemikiran tentang bunuh diri, tindak kenakalan, tingkah laku perfeksionis, pengasingan diri dan kegagalan akademik di sekolah. Ketidak pedulian akan penampilan fisik,  sifat yang lekas marah dan mudah tersinggung serta mudah mengalami kelelahan adalah tanda-tanda lain dari stres. Anak-anak remaja sering menanggapi stres dengan menarik diri, tidak berbicara, menjadi pemberontak atau pembangkang  dan melibatkan diri dalam masalah kenakalan remaja.

    Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu? Mereka  memerlukan  cara untuk mengatasi situasi yang stres. Saat anak remaja kita belajar bahwa dia dapat mengatasi masalah-masalahnya, dia mendapatkan sikap yang positif tentang dirinya. Jangan tergoda untuk memberikan pemecahan menurut pemikiran kita sendiri. Saat mereka mencapai usia ini peran kita sekarang sedikit bergeser menjadi seorang “konsultan” bagi mereka. Hanya beberapa hal penting yang masih menjadi otoritas kita. Sampai sejauh mana? Diskusikan dengan anak Anda! Hanya Anda dan anak Andalah yang tahu. Ini semua bergantung dari bagaimana kita membesarkan mereka dulu sebelum usia 12 tahun.

    Berikanlah pujian yang tulus ketika dia melakukan pekerjaan yang bagus akan sesuatu. Ingatlah untuk berkata terima kasih. Anak-anak remaja sering merasa tak dihargai. Secara sederhana penuhi Tangki Cinta mereka!  Tangki Cinta seringkali menjadi penyebab masalah remaja stres. Mereka merasa tak dihargai dan disetujui padahal orangtua merasa sudah melakukan semuanya!

    Hal lain yang kita perlu periksa adalah jadwal kegiatan anak kita. Apakah dia terlalu banyak memiliki aktivitas? Atau bekerja terlalu keras memenuhi tuntutan akademik. Beberapa anak remaja menemukan diri mereka sendiri tertimbun dalam kesibukan saat mereka menambahkan pekerjaan setelah sekolah pada jam-jam yang harusnya digunakan untuk istirahat. Apakah dia mengharapkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang terlalu banyak di rumah? Meskipun anak-anak seharusnya mengerjakan tugas-tugas yang biasa saja, beberapa anak remaja menjadi terbebani dengan tugas mereka. Anak-anak remaja masih anak-anak dan mereka memerlukan waktu untuk bersantai dan belajar.

    Mungkin cara yang sangat efektif untuk membantu anak-anak remaja mengatur stresnya adalah tetap membuka garis percakapan. Dia mungkin tidak ingin atau memerlukan nasehat kita, tetapi dia akan menghormati perhatian kita sebagai orangtua. Hampir semua anak-anak remaja menyukai orang-orang dewasa yang hanya mendengarkan mereka. Mereka ingin seseorang mendengarkan apa yang harus mereka katakan.

    Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengutarakan pendapat kita, terutama sekali masalah-masalah penting seperti nilai-nilai hidup. Tetapi bila diskusi berubah menjadi adu argumentasi, kita mungkin memerlukan  waktu yang lebih untuk mendengarkan, dan mengutarakan pendapat kita secara pelan dan tenang. Seni komunikasi diperlukan dalam hal ini.

    Dukunglah anak remaja kita untuk melakukan kegiatan yang bersifat fisik. Anak-anak remaja dapat mengurangi stres dengan aerobik, bersepeda, bersepatu roda, jogging ataupun olahraga lainnya. Ini adalah sebuah cara yang berguna untuk mengatasi stres. Pendekatan positif lainnya meliputi belajar menjadi tegas, menguasai kemarahan dan berkata “tidak”.

    Kapankah kita seharusnya mencari bantuan? Masa remaja adalah waktu yang sulit  untuk anak-anak remaja dan keluarga mereka. Ketika tekanan-tekanan menjadi ekstrem dan ketika tidak ada jalan keluar lagi, ini waktunya berbicara pada orang lain yang lebih profesional menangani hal ini. Ketika melihat bukti bahwa anak kita menggunakan obat-obatan terlarang, atau anak remaja kita membicarakan tentang bunuh diri atau mulai membuang hal-hal yang berharga, mintalah bantuan profesional secepatnya. Cermati peringatan akan tanda-tanda depresi, melakukan sex yang beresiko, perilaku anti sosial yang tidak wajar dan perubahan kepribadian.

    KESIMPULAN Anak-anak tidak dapat melarikan diri dari stres dan tekanan-tekanan yang datang dari lingkungan kehidupan sekarang. Tetapi mereka dapat belajar untuk mengatasinya , sebagai orangtua, kita dapat membantu anak kita dengan beberapa cara: Ajarikan  untuk mencari jalan keluar atas masalah-masalah yang dihadapi. Anak perlu belajar untuk mengenali masalah, jalan keluar yang memungkinkan, yang setuju akan jalan keluar yang memungkinkan dan yang tidak setuju akan jalan keluar  yang memungkinkan, kemudian pilihlah yang terbaik. Dalam hal ini terkadang kita perlu memberikan kepercayaan pada mereka untuk menjalani keputusannya walau kita tahu ke mana arah keputusan itu. Berikanlah  pengalaman pada mereka. Janganlah terjebak dalam paradigma “saya tidak ingin anak saya terperosok ke dalam lubang yang sama dengan saya”Jika hal  itu tidak menyangkut hal yang fatal biarkan mereka mengalaminya sendiri dan kita tetap dukung mereka dengan cara tetap membuka hati kita untuk mereka.

    Bicaralah dengan anak remaja kita, carilah waktu yang khusus untuk berbicara. Cari tahu apa yang terjadi dalam hidupnya. Jujurlah dan terbukalah dengan dia. Ceritakanlah tentang tujuan keluarga dan diskusikan kesulitan-kesulitannya, tanpa membebani mereka dengan masalah-masalah kita. Pujilah anak-anak ketika mereka melakukan hal-hal yang bagus, dan jangan lupa pelukan-pelukan dan ciuman-ciuman atau sentuhan fisik lainnya seperti tepukan di bahu atau belaian di kepala. Salah satu bahan pembicaraan menarik adalah pengalaman hidup kita.

    Pastikanlah anak kita juga mempunyai waktu yang tenang sehingga dia dapat bersantai. Ajarilah dia latihan-latihan fisik seperti bermain bola, skating, berenang, berlari, berjalan, bersepeda. Kegiatan-kegiatan tersebut juga mengurangi stres.

    Jadilah pendukung. Saling menghormati dan berbagilah bantuan yang berharga selama waktu stres. Anak memerlukan kita untuk mengeluarkan energi negatifnya. Dia juga mendapatkan manfaat dengan melihat bagaimana kita berhasil mengatasi stres.

    Tips untuk mendidik anak memahami stres Ajarilah anak kita untuk mengenali situasi stres. Dia seharusnya membicarakan tentang stresnya atau menulisnya. Ajari dia berbagai strategi mengatasi stres.

    Bermainlah suatu peran tentang situasi yang sangat stres dengan anak. Bantulah dia untuk menentukan cara yang berguna untuk mengatasi stres.

    Gunakanlah humor untuk menahan perasaan dan situasi yang tidak mengenakkan. Seorang anak yang belajar menggunakan humornya akan lebih baik untuk memandang segala sesuatunya dengan lebih masuk akal.

    Jangan bebani anak kita dengan terlalu banyak aktifitas setelah sekolah. Bantulah anak-anak untuk belajar melangkah. Jangan mendaftarkan mereka di setiap kursus yang ada, dan jangan menuntut mereka untuk menjadi yang nomor satu dalam segala hal.

    Ketika kita sendiri dalam pengaruh stres yang berlebihan, telitilah untuk lebih yakin bahwa kita pun dapat melewatinya bersama-sama dengan anak kita. Buatlah sebuah contoh yang baik. Lakukanlah pengendalian diri dan kemampuan dalam mengatasi masalah. Doronglah untuk bekerjasama dibandingkan dengan berkompetisi. Dapatkan bantuan profesional ketika masalah-masalah diluar kemampuan kita.

    salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga,

    Ariesandi S.,CHt.

    www.sekolahorangtua.com

    www.ariesandi.com

  • Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar

    Artikel ini sengaja dibuat karena ada begitu banyak email menanyakan kapan seminar dengan judul ini dibuat di beberapa kota besar. Secara pribadi saya harus meminta maaf karena keterbatasan waktu dan tenaga sehingga tidak bisa melayani setiap permintaan. Sebagai gantinya telah ada CD dengan judul yang sama “Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar” yang bisa dipesan melalui sekolahorangtua.com. Dan sekarang saya juga akan membahasnya melalui artikel berikut ini walau hanya intisarinya. Namun semoga intisari ini bisa ditangkap dan diaplikasikan oleh para orangtua terutama yang sudah membaca buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia”. Selamat menjadi orangtua terbaik bagi anak Anda!

    ” RAHASIA MEMBUAT ANAK KETAGIHAN BELAJAR “

    Seorang ibu mengeluh pada temannya “Aduh gimana nih, nilai anakku kok merosot terus dari hari ke hari?” sementara temannya juga mengatakan hal yang mirip “Ia susah banget ya memotivasi anak-anak kita untuk suka belajar, kalau main game saja yang gak perlu diminta?”

    Satu ibu lagi datang dengan muka yang tak kalah masamnya mengatakan “Kalau anakku sih masalahnya lain lagi, ia bisa belajar sih kalau sudah waktunya walau agak cemberut, tapi herannya ya mengapa sewaktu di rumah bersama guru lesnya mengerjakan latihan bisa tapi kok waktu tes hasilnya jelek lagi jelek lagi”.

    Apakah Anda sering mengalami hal-hal seperti itu? Mengapa belajar menjadi sesuatu yang berat – bahkan momok bagi sebagian anak – dan rasanya tak menyenangkan bagi sebagian besar anak-anak kita? Banyak orangtua dan guru meyakini bahwa anak-anak itu sebenarnya tidak bodoh dan harusnya bisa mendapatkan nilai bagus tetapi mengapa belajar jadi begitu berat dan  menyusahkan?

    Sebagai seorang hipnoterapis keluarga saya sering mendapatkan keluhan semacam di atas dari para orangtua. Jika menyangkut anak-anak maka sebagian masalah yang hendak dikonsultasikan adalah motivasi dan inisiatif belajar. Secara pribadi saya mendalami masalah ini sejak 1995 saat berkutat dengan puluhan anak dari SD hingga SMU setiap sore untuk membantu mereka memecahkan masalah pelajarannya di sekolah. Saya pun meyakini bahwa semua anak-anak itu memiliki otak yang encer sampai-sampai saya khawatir karena encernya otak itu bisa meleleh keluar melalui hidung dan telinganya!

    Apa yang saya dapatkan dari pengalaman membantu anak-anak tersebut sebenarnya telah saya tuangkan dalam sebuah kursus yang diberi nama Mathemagics – yang telah tersebar di berbagai kota besar di Indonesia termasuk juga di Jakarta. Namun demikian banyak orangtua yang tetap berusaha mencari saya untuk mengajari anaknya dan menerapi mereka secara langsung.

    Sebenarnya permasalahan yang ada tidaklah terlalu rumit jika kita mau sedikit melihat dan merasakan apa yang dirasakan anak-anak kita. Setiap anak yang normal tentu juga ingin nilai akademiknya bagus. Tak ada seorang anakpun yang ingin nilainya jelek dan mengikuti remidi berkali-kali.

    Justru sikap kita sebagai orangtua yang terkadang kurang mendukung dengan membuat situasi hati anak kita menjadi makin keruh dan tidak kondusif untuk mencapai prestasi bagus di sekolahnya.

    Salah satu hal penting dan mendasar adalah rasa aman. Rasa aman mendasari motivasi setiap anak bahkan setiap orang dewasa. Dengan rasa aman inilah kita akan memiliki motivasi. Jangan mengharapkan adanya motivasi jika rasa aman tak terpenuhi.

    Sebagai pendiri kursus Mathemagics saya sering meminta pengelola kursus bahkan juga instruktur di sana untuk mengingatkan orangtua tentang hal ini. Namun seringkali orangtua hanya menuntut nilai baik tanpa peduli apa yang dirasakan sang anak tercinta. Anak-anak seakan hanya menjadi simbol kebanggaan dari orangtua yang tak mau repot.

    Suatu kasus terjadi saat seorang anak keluar dari ruangan kursus Mathemagics dan langsung disambut orangtuanya dengan serentetan pertanyaan yang diarahkan pada instrukturnya “Bagaimana Miss, dia tidak bisa lagi ya? Dasar memang anak aneh. Ya begitu itu Miss dia ini. Kalau di rumah juga begitu. Lemot dan tak punya gairah!”.

    Sang instruktur yang hilang kesadaran sesaat mengatakan “Lho dia ini anak hebat lho Bu. Tadi dia bisa menjawab semua beste online casino pertanyaan dengan bagus lho!” Dan rupanya sang ibu tidak puas dengan jawaban tadi dan mengatakan “Alaa … jangan digitukan dia Miss. Nanti besar kepala. Kalau memang harus diberi PR yang banyak silakan aja Miss biar tidak malas!”

    Saya tak akan membahas percakapan di atas dari teori yang muluk-muluk, cukup Anda bayangkan bagaimana perasaan Anda jika posisi Anda sebagai sang anak. Terlepas dari maksud baik si orangtua yang ingin memotivasi anaknya – mungkin orangtua si anak diperlakukan begitu juga oleh orangtuanya dan orangtuanya juga diperlakukan begitu oleh orangtuanya lagi – namun cara ini  sungguh sangat melukai hati si anak. Bagaimana motivasi belajar bisa tumbuh jika tak ada penghargaan dan rasa aman untuk bertindak? Mimpi kali ye!

    Terdapat hubungan yang sangat erat antara prestasi akademik dengan motivasi belajar. Dan terdapat hubungan yang sangat erat pula antara motivasi belajar dengan rasa aman dan konsep diri yang baik. Sejak saya memahami hal ini maka setiap instruktur Mathemagics diwajbkan untuk menjaga hal tersebut pada diri seorang anak. Karena itulah esensi dasar sebuah pendidikan. Memberikan bekal pengetahuan yang baik melalui sebuah proses mental dan psikologis  yang benar.

    Ingatlah nilai baik hanya bisa dicapai melalui belajar. Belajar bisa terjadi jika ada motivasi. Dan motivasi bisa muncul jika ada perasaan mampu dalam diri sendiri. Selanjutnya perasaan mampu dalam diri berakar dari harga diri yang sehat dan harga diri yang sehat berawal dari adanya rasa aman dan rasa diterima sebagai seorang individu yang unik.

    Siapakah yang bisa membuat seorang anak merasa aman, merasa dicintai dan merasa diterima? Orangtua. Orangtua memegang peranan terbesar dalam hal ini. Memang guru dan teman juga memiliki pengaruh namun tak sebesar pengaruh orangtua. Karena interaksi anak dengan orangtuanya telah dimulai sejak bayi sebelum adanya teman-teman dan guru si anak.

    Saya mendorong para orangtua melakukan introspeksi terhadap cara berkomunikasi dan bersikap pada anaknya. Dari pengalaman praktek terapi dan konseling yang saya lakukan sebagian besar permasalahan anak terjadi karena ketidaktahuanorangtua harus bersikap bagaimana kepada anaknya. Kebanyakan yang dilakukan adalah menduplikasi apa yang kita terima saat kita dulu masih kecil. Karena itu selain mendirikan Mathemagics sebagai sarana perbaikan konsep diri anak melalui pembelajaran matematika yang menyenangkan saya juga mendirikan sekolahorangtua.com sebagai sarana belajar bagi para orangtua untuk meningkatkan kemampuan sebagai orangtua maupun individu.

    Semoga artikel ini memberikan wawasan baru dalam penanganan masalah belajar anak-anak tercinta kita.

    Jika Anda membutuhkan hal-hal yang lebih mendetail berkaitan dengan artikel di atas silakan baca buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” atau CD yang terkait adalah “Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar” dan “Tangki Cinta Anak”

    salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Ariesandi S.,CHt.

  • Orangtua Sering Disalahkan Namun Tidak Dilatih

    “Anak Bapak dan Ibu tak punya inisiatif untuk belajar di kelas, tolong diberitahu ya?” “Anak Anda nilainya jelek, jika ini terjadi ia bisa tidak naik kelas, tolong dinasehati ya!” “Anak Bapak dan Ibu tidak punya motivasi dan kurang bertanggung jawab, tolong dilatih di rumah ya?” “Anak Anda kurang percaya diri dan susah bicara kalau ditanya, perhatikan perkembangannya di rumah, kalau seperti ini terus ia bisa tidak naik kelas?” “Anak itu suka berbohong, siapa sih orangtuanya?” “Anak itu kurang tahu aturan dan sopan santun, apakah orangtuanya tidak pernah mengajarkan hal itu di rumah?”

    Hmmm …… itulah sederet komentar yang membuat orangtua menjadi merasa bersalah dan tak berdaya. Para guru, masyarakat dan mungkin juga para para pejabat sering menyalahkan orangtua atas kenakalan anak dan problem para remaja. Namun apakah mereka yang menyalahkan para orangtua itu memberikan jalan keluar yang memuaskan? Pada akhirnya orangtua menemukan diri mereka sendirian, kebingungan dan tak berdaya atas apa yang terjadi pada anaknya. Mereka merasa telah berbuat banyak untuk anaknya namun hasilnya …… membuat para orangtua semakin bingung apa yang sebenarnya harus dilakukan untuk mendidik anaknya.

    Yaa …… para orangtua sering disalahkan namun kurang dilatih. Di Indonesia setiap hari ribuan orang tiba-tiba memiliki pekerjaan dan predikat baru sebagai – orangtua – saat bayi pertama mereka lahir.  Para pasangan muda itu menyambut gembira kehadiran buah hati tercinta mereka. Mereka tak menyadari bahwa mereka sedang terseret ke dalam sebuah “badai” yang akan disebabkan oleh si mungil yang tampak tak berdaya itu. Tangisan tengah malam yang akan membangunkan mereka, tanggung jawab penuh atas kesehatan fisik dan emosi sang bayi yang akan beranjak menjadi anak-anak, remaja dan orang dewasa, serta berbagai aturan atau strategi yang harus dipikirkan untuk mendidik “pendatang baru bumi” itu yang bisa memicu pertengkaran atau konflik baru diantara para suami dan istri.

    Pekerjaan menjadi orangtua adalah pekerjaan tersulit di dunia namun tidak pernah ada sebuah informasi holistik untuk melakukan hal itu. Permasalahan yang disebutkan di awal tulisan ini hanyalah sebagian kecil masalah yang bisa menghambat potensi jenius seorang anak.

    Kebanyakan permasalahan seperti di atas berasal dari hilangnya rasa aman yang dibutuhkan seorang anak. Sebagaimana kita ketahui rasa aman adalah kebutuhan mendasar dari setiap manusia. Jika rasa aman terganggu maka kita akan berusaha dengan sekuat tenaga mendapatkannya. Demikian juga dengan anak-anak. Sebagai lambang permintaan akan adanya rasa aman itu mereka “menunjukkan perilaku menyimpang” agar dapat perhatian dari orangtuanya. Bagaimana membuat mereka merasa aman? Di buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” (Ariesandi S. – Gramedia, 2008) saya membahas hal ini sangat detail disertai aplikasi praktis. Namun untuk tulisan ini marilah kita tinjau secara singkat satu aspek penting yaitu jangan terlalu sering mengkritik perilaku anak-anak. Para orangtua sering terjebak dengan sebuah frase “saya tidak ingin kamu terperosok ke lubang yang sama”. Oleh karena itu mereka berusaha mencegah dan mengatur segala perilaku anak agar sang anak “tidak terperosok ke lubang yang sama”.

    Namun cara orangtua melakukan hal ini sangat melukai hati mungil anak-anak mereka. Akhirnya para bayi tak berdosa itu tumbuh menjadi remaja yang mengatakan “mama saya sebenarnya baik namun cerewetnya itu lho …… mana tahan!” , “papa saya itu sebenarnya penuh pengertian walau sering memaksakan pemikirannya sendiri seperti tidak pernah remaja saja” bahkan ada juga komentar dari klien remaja saya seperti ini “mama itu seperti anak kecil, maunya semua keinginannya dituruti, apa dia pikir saya ini masih anak-anak yang harus diatur, saya kan punya pikiran sendiri”

    Yaa …… semua komentar itu sebenarnya adalah perwakilan dari rasa tidak dipercaya seorang anak yang pada gilirannya mengusik rasa aman yang dibutuhkannya. Karena merasa tidak dipercaya oleh orangtuanya maka dalam bertindak mereka menjadi ragu-ragu dan akhirnya pada satu titik sang anak tidak mengambil tindakan apapun karena mereka tahu pada akhirnya pasti ada yang kurang, disalahkan dan dimarahi.

    Mereka tidak merasakan penerimaan yang tulus dari orangtuanya. Penerimaan itu seringkali diukur dari prestasi akademiknya semata. Orangtua – tidak semua –  seringkali sibuk memerhatikan nilai dan nilai dan nilai namun mengabaikan perasaan terdalam seorang anak.

    Cobalah hitung berapa banyak kritikan yang Anda lontarkan dan berapa ucapan terima kasih yang Anda sampaikan dalam sehari pada anak tercinta Anda. Anda akan kaget mengetahui bahwa kita ternyata lebih banyak memberikan kritikan daripada pujian. Tak heran banyak anak-anak tumbuh menjadi dewasa diliputi dengan banyak perasaan bersalah dan perasaan tak mampu. Jika sebagai orangtua kita juga merasa seperti ini cobalah tengok dan ingat kembali bagaimana cara kita dibesarkan dan ………… perbaiki cara itu pada anak-anak tercinta kita sekarang ini!

    Ingin tahu lebih detail tentang semua ini … silakan baca buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia: tips teruji dan praktis melejitkan potensi optimal anak” yang saya tulis dan diterbitkan Gramedia. Buku ini adalah sebuah program pelatihan mandiri bagi para orangtua untuk mendidik dan membesarkan anak-anak tercinta. Orangtua perlu tahu bagaimana memunculkan motivasi internal dalam diri seorang anak. Juga perlu tahu bagaimana melakukan komunikasi efektif serta melakukan koreksi terhadap perilaku dan pemikiran negatif sang anak dengan berbagai teknik terapi yang sederhana namun efektif.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga!

  • Mendaur Ulang Keyakinan Negatif: Membangun Logika Baru untuk Sukses dari Belief Negatif

    SekolahOrangtua.com mengucapkan “Selamat Idul Fitri 1429 H, mohon maaf lahir dan batin”

    Sebagai kado Lebaran kali ini saya menuliskan sebuah artikel yang akan sangat berguna untuk menyongsong lembaran baru kehidupan Anda. Marilah kita sama-sama memanfaatkan momen yang bagus ini untuk mempersiapkan diri mengalami perubahan diri.Menjadi individu yang lebih baik, menjadi pasangan yang lebih baik, dan menjadi orangtua yang lebih baik serta menjadi sahabat yang lebih baik.

    Pernahkah Anda mendengar seseorang mengatakan “Hmmm tampaknya saya tak mampu menjadi agen asuransi yang baik, buktinya sudah dua bulan ini target tak tercapai” atau mungkin sebagai orangtua Anda pernah mengatakan dalam hati “Ahh, mendidik anak memang sulit, buktinya mereka sulit sekali menurut sama saya tapi kalau sama orang lain lebih menurut” dan masih banyak belief negatif lainnya.

    Semua belief negatif tadi seakan-akan sangat logis karena didukung oleh serangkaian bukti nyata yang memperkuat hal tersebut. Dan begitu kita meyakinkan diri kita dengan serangkaian fakta tersebut maka hal tersebut menjadi sebuah program yang makin memperkuat belief negatif kita. Belief tersebut menancap makin dalam di  pikiran bawah sadar kita.
    Satu pertanyaan yang akan menggelitik kita semua : jika pikiran bawah sadar kita bisa diyakinkan menerima belief negatif dengan sebuah fakta nyata yang logis mungkinkah kita melakukan hal yang sama untuk belief positif?

    Jawabannya tentu bisa ! Bagaimana caranya? Sederhana saja. Kita tinggal mengurutkan proses logika berpikir kita dan kemudian dengan kekuatan self talk yang terjadi selama proses mengurutkan belief tersebut maka kita akan menembus homeostasis dan psikosklerosis perlahan namun pasti.

    Kunci sukses untuk melakukan hal ini adalah menuliskannya dengan sungguh-sungguh dan bekerja dengan kejernihan pikiran. Tuliskan saja apa yang muncul di pikiran dalam satu kalimat singkat dan padat dan ikuti saja langkahnya. Saya sering menggunakan teknik ini untuk membantu diri saya sendiri dan ratusan anak beserta orangtuanya dengan sukses dalam ruang terapi maupun dalam sebuah pelatihan. Tentunya settingnya agak berbeda sedikit jika saya melakukannya dalam ruang terapi namun intinya tetaplah sama.

    Baik marilah kita mulai 7 langkah super melogikakan belief  negatif  dan mengubahnya menjadi roket pendorong sukses.
    ?    Langkah 1 : Tuliskan satu impian Anda yang penting dan bayangkan impian tersebut telah tercapai. Tuliskan bagaimana perasaan Anda saat membayangkan impian tersebut telah tercapai.
    Contoh : saya merasa berharga dan gembira luar biasa  dengan keberhasilan saya menjadi seorang terapis keluarga
    Sekarang giliran Anda : Saya merasa …………………………………

    ?    Langkah 2 : Nyatakan keinginan terdalam Anda berkaitan dengan impian tersebut
    Contoh : saya memiliki keinginan terdalam untuk membantu banyak keluarga menjadi lebih baik dengan apa yang saya alami dan pelajari
    Sekarang giliran Anda : saya memiliki keinginan terdalam untuk …………………………

    ?    Langkah 3 : Nyatakan belief negatif yang Anda rasaka menghambat dalam kaitannya untuk mencapai impian tersebut
    Contoh : Belief negatif yang menghambat saya adalah pekerjaan itu  menyita waktu saya dengan keluarga
    Sekarang giliran Anda : Belief negatif yang menghambat saya adalah …………………….

    ?     Langkah 4 : Nyatakan lawan dari belief negatif yang tertulis di langkah 3
    Contoh : Keluarga saya ingin saya bahagia dan mendukung saya mencapai impian saya
    Sekarang giliran Anda : …………………………………….

    ?    Langkah 5 : Nyatakan apa yang membuat Anda merasakan hidup ini akan terisi penuh. Inilah yang akan menjadi tujuan Anda
    Contoh : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya membuat sebuah pelatihan sistematis untuk mengajarkan bagaimana membangun keluarga yang sukses, bahagia dan makmur jasmani dan rohani
    Sekarang giliran Anda : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya ……………………

    ?    Langkah 6 : Nyatakan fakta yang tak bisa dipungkiri yang mendukung tujuan Anda
    Contoh : Suatu fakta nyata bahwa banyak keluarga tak bahagia karena permasalahan yang mereka hadapi  yang membutuhkan bantuan agar menjadi lebih baik
    Sekarang giliran Anda : Suatu fakta nyata bahwa ……………………………….

    ?    Langkah 7 : Inilah langkah penutup yang membangun logika baru untuk hidup Anda. Langkah ini membuat Anda telah menentukan suatu alur baru dalam kehidupan. Dan begitu sebuah alur baru dibuat dalam pikiran bawah sadar  maka ia akan mewujudkannya. Tuliskan alur baru kehidupan Anda dengan mengikuti format berikut :
    Jika : Saya memiliki keinginan terdalam untuk ………………(ambil pernyataan di Langkah 2)
    Dan : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya …………. (ambil pernyataan di Langkah 5)
    Dan : Adalah suatu fakta nyata bahwa ……………… (ambil pernyataan di Langkah 6)
    Maka:  Adalah sangat masuk akal jika ……………….   (ambil pernyataan di Langkah 4)
    Kesimpulan ……………………………………….

    Jika menggunakan contoh di atas maka logikanya menjadi sebagai berikut :
    Jika : Saya memiliki keinginan terdalam untuk membantu banyak keluarga menjadi lebih baik dengan apa yang saya alami dan pelajari
    Dan : Saya merasa hidup ini akan terisi penuh saat saya membuat sebuah pelatihan sistematis untuk mengajarkan bagaimana membangun keluarga yang sukses, bahagia dan makmur jasmani dan rohani
    Dan : Adalah suatu fakta nyata bahwa banyak keluarga tak bahagia karena permasalahan yang mereka hadapi  yang membutuhkan bantuan agar menjadi lebih baik
    Maka:  Adalah sangat masuk akal jika keluarga saya ingin saya bahagia dan mendukung saya mencapai impian saya
    Kesimpulan : Saya memiliki apapun yang perlukan untuk mewujudkan impian saya termasuk juga keluarga yang mendukung penuh.

    Mudah bukan? Saya harap semuanya menjadi sangat jelas  karena saya berusaha menuliskan apa yang saya lakukan dalam sesi terapi dan konseling sedetail mungkin walaupun bahasa tubuh ketika saya menanyakan hal tersebut pada klien tak bisa saya gambarkan dengan detail.  Namun saya percaya bahwa jika Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh maka Anda akan mencapai suatu pencerahan baru dalam satu bagian hidup Anda.

    Terima kasih telah mengijinkan saya menjadi satu bagian dari kesuksesan, kebahagiaan dan kemakmuran hidup Anda. Saya ikut merasakan kebahagiaan Anda.
    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Ariesandi S.

    www.ariesandi.com

  • What is The Greatest Power in Human Behaviour?

    91023_169.jpgSepasang suami istri duduk di ruangan saya dengan raut wajah yang tegang. Mereka telah menikah selama sembilan tahun dan hendak memutuskan untuk melakukan perceraian. Namun masih ada setetes embun di hati mereka yang membuat mereka menemui saya. “Jika tak mengingat dua anak yang menjadi tanggung jawab  maka saya akan langsung putuskan untuk meninggalkan suami saya” demikian istrinya berkata pada saya.

    “Sebenarnya adakah hal positif yang ada pada diri suami Anda?” tanya saya pada sang istri. ”Hmmm ….. ya sebenarnya dia itu sabar dan baik. Dia mengurus banyak hal tanpa pernah mengeluh. Satu-satunya hal yang sering dia keluhkan adalah kecerewetan saya. Namun dia seringkali menyinggung perasaan saya. Saya adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Saya sih tidak masalah dengan hal itu. Marilah kita sama-sama berbagi tugas sembari menunggu usahanya maju. Namun tindakannya yang menyinggung perasaan saya seringkali membuat saya muak dan benar-benar tak tahan. Dia tak pernah menghargai apa pun yang telah saya lakukan. Saya telah membanting tulang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Bagaimanapun  juga saya seorang wanita yang ingin merawat diri saya sendiri, ingin jalan-jalan ke mall dengan santai walaupun tak berbelanja, ataupun ingin bermanja-manja dengannya. Namun setelah semua pekerjaan yang telah saya lakukan saya tak pernah mendapatkan hal yang saya dambakan itu. Saya benci tidak bisa menjadi diri saya sendiri. Setiap kali dia meminta maaf maka saya akan memaafkannya. Namun kata-kata maaf itu seakan menjadi kata kunci untuk kesalahannya. Dia terus mengulanginya lagi. Sampai kapan saya tak tahu. Saya jenuh menunggu perubahan yang ia janjikan. Perubahan dirinya maupun perubahan kondisi finansial kami. Saya bosan dengan janji-janjinya! Lebih baik kami berpisah saja!”, demikian semua kalimat itu meluncur deras tanpa bisa dibendung.

    ”Oke saya mengerti perasaan Anda. Bagaimana dengan anak-anak?” tanya saya. ”Itulah satu hal yang memberatkan saya. Saya tidak ingin anak saya mengalami kejadian yang tak menyenangkan. Saya tak ingin anak-anak saya memiliki orangtua yang bercerai. Tapi saya sudah tak kuat lagi!”, katanya sambil menguraikan air mata.

    Beberapa saat setelah ia mulai bisa menenangkan diri maka saya berbicara dengan suaminya. ”Apa yang bisa saya bantu?” tanya saya pada suaminya. ”Ya itulah saya ini bingung. Saya selama ini tidak melakukan hal-hal yang aneh. Saya tidak main perempuan, saya tidak berjudi, saya tidak pernah keluar dengan teman-teman saya, bahkan merokok saja pun saya tidak suka. Sehari-hari saya hanya mengurus anak-anak. Dari mulai memandikan, memberi makan, mengantarnya sekolah, menjemputnya, mengajaknya main, dan menemani belajar.  Namun setelah itu semua saya lakukan yang saya dapatkan adalah sikap uring-uringan dari istri tanpa sebab yang jelas. Saya pun tak ingin menjalani kondisi finansial seperti ini. Namun apa mau dikata semua usaha yang saya lakukan belum membuahkan hasil seperti yang kami harapkan”, demikian kata suaminya dengan wajah memelas.

    ”Menurut Bapak apakah keluhan istri Anda yang mengatakan bahwa ia sering tersinggung dengan sikap Bapak itu benar?”, tanya saya berusaha mengklarifikasi data yang ada. ”Sejujurnya saya terkadang tak pernah merasa menyinggung perasaannya. Tapi jika meminta maaf bisa meredakan hal itu maka saya akan lakukan. Saya harus bagaimana lagi?”,sambungnya dengan nada masih memelas.

    ”Tapi sikapmu itu memang sering menyinggung perasaanku!”, tiba-tiba istrinya memotong dengan sikap sinis. ”Sebentar Ibu sabar dulu”, demikian saya berusaha menengahi mereka.

    ”Saya sudah sabar bertahun-tahun tanpa hasil. Sikapnya yang merasa tak bersalah inilah yang sering memicu saya untuk marah! Kondisi keuangan kami sudah memprihatinkan namun ia tak pernah melakukan usaha lebih keras demi kemajuan. Setelah mengantar anak sekolah ia pulang ke rumah dan tidur sampai siang!”, kata istrinya benar-benar seperti air bah yang tak bisa dibendung.

    ”Lalu saya harus melakukan apa. Semuanya kan tergantung pelanggan saya. Saya tak bisa memaksa mereka untuk melakukan pesanan jika mereka memang tak membutuhkannya, kan?”, kata suaminya berusaha membela diri. ”Baiklah mulai sekarang Anda berdua hanya boleh bicara jika saya tanya, oke?”, kata saya mengambil kendali situasi yang tak menentu tersebut.

    Setelah melakukan wawancara dengan keduanya saya pun mulai mendapatkan gambaran tentang apa yang bisa saya lakukan untuk membantu keduanya. Singkat cerita saya membantu mereka sebanyak tiga sesi terapi setelah menemukan akar masalahnya.

    Permasalahan mereka sebenarnya adalah muatan emosi masa lalu yang terus dibawa-bawa. Muatan emosi negatif itu terpicu ketika seseorang melakukan hal yang mirip dengan pertama kali muatan emosi itu muncul dari sebuah pemaknaan.

    Sang istri mudah sekali merasa tersinggung jika idenya ditolak. Bahkan untuk ide keluar makan malam yang ditolak pun ia bisa merasa tersinggung berat. Ia merasa harga dirinya direndahkan. Ia tahu bahwa marah tak menyelesaikan masalah. Namun setiap kali ia berusaha menahan rasa marahnya maka ia semakin ingin meledak. Dan akhirnya …….. meledak juga!

    Hal ini bermula dari kejadian ketika sang istri, yang waktu itu masih seorang anak 5 tahun, disalahkan dan dimarahi oleh kakaknya. Rasa jengkel dan marah itu masih mengganjal dan dibawa terus sampai dewasa. Akibatnya ia mudah sekali merasa tersinggung. Jika dengan orang lain maka ia bisa menahan emosi negatif tersebut. Namun ketika sampai di rumah dan suami atau anak-anak . melakukan satu hal kecil saja yang bisa memicu memori tersebut maka tumpukan emosi negatif yang sudah menggunung tersebut akan langsung meledak tanpa ampun.

    Ia tahu bahwa harusnya ia tak boleh seperti itu. Hal itu bisa merugikan perkembangan anak-anaknya. Namun keinginannya untuk berubah tak pernah kunjung kesampaian. Baginya perubahan itu terasa sangat sulit dan memakan waktu cukup lama.

    Masalah yang dialami pasangan di atas adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang bisa kita jumpai sehari-hari. Banyak sekali pasangan yang datang meminta bantuan saya mengalami hal seperti itu. Muatan emosi negatif yang tak terselesaikan di masa kecil menjadi beban yang terus dibawa sampai di kehidupan dewasa. Efek dari muatan emosi negatif tersebut bisa dirasakan di semua aspek kehidupan – aspek relasi dengan pasangan, relasi dengan anak, kondisi finansial, pekerjaan di kantor, bisnis  dan bahkan kesehatan.

    Di samping itu ada sebuah kekuatan / daya lain yang tak kalah kuatnya yang menyebabkan perubahan perilaku susah dilakukan. Daya ini adalah ”homeostasis”. Yes, the greatest power in human behaviour is homeostasis. Homeostasis adalah suatu daya yang berusaha mengembalikan kita pada kondisi semula. Jika kita bicara perilaku manusia maka daya ini adalah musuh nomor satu dari perubahan. Setiap orang yang ingin berubah dan setiap terapis yang membantu kliennya untuk berubah harus bisa menghadapi homeostasis.

    Ini seperti anda menarik sebuah karet gelang. Ada sebuah daya yang kasat mata yang menahan gerakan anda untuk meregangkan karet gelang tersebut. Itulah perubahan. Setiap kali kita ingin berubah maka kita merasa tak nyaman. Kita ingin kembali ke kondisi semula.

    Pernahkah anda menemui seseorang yang mengeluhkan rekan kantornya yang brengsek, sistem manajemen kantor yang tidak bagus dan atasan yang semena-mena? Namun ia tetap bekerja di sana sampai bertahun-tahun kemudian. Ia tak berani keluar dari zona tersebut. Baginya walaupun merasa tak nyaman namun satu hal yang sudah pasti : ketidaknyamanan tersebut sudah bisa diukurnya. Daripada menghadapi resiko ketidaknyamanan yang lebih parah di tempat baru maka lebih baik di tempat lama.

    Itulah homeostasis. Daya ini sangat luar biasa. Bekerja di pikiran bawah sadar. Setiap keinginan sadar kita untuk berubah mendapat tantangan yang besar. Bagaimanapun juga ada satu alasan positif yang didapat jika kita tidak berubah. Karena alasan inilah maka homeostasis ada. Hanya saja ini tidak sinkron dengan keinginan sadar kita.

    Tantangan setiap terapis  adalah membantu kliennya menyinkronkan program pikiran bawah sadar dan pikiran sadar. Jika ini bisa dilakukan maka perubahan adalah hal yang sangat mudah.

    Satu hal yang perlu diingat adalah homeostasis ada di setiap level pencapaian kita. Ketika kita keluar dari sebuah habit lama dan masuk ke habit baru maka segera setelah itu kita masuk dalam sebuah zona kenyamanan yang baru. Zona ini menjadi tantangan lagi bagi perbaikan lebih lanjut.

    Pada anak-anak homeostasis ini tidak terlalu kuat. Semakin kecil usia seorang anak maka semakin lemahlah daya ini. Daya ini berkembang seiring dengam berkembangnya pikiran kritis seorang anak. Saat pikiran kritis berkembang maka setiap perubahan yang akan terjadi harus melalui inspeksi oleh pikiran kritis. Ini seperti saat kita diminta memasukkan barang bawaan kita ke mesin infra merah bila kita ingin check in di bandar udara.

    Saat sesuatu bisa diterima pikiran kritis maka informasi untuk perubahan itu dituntun masuk ke memori jangka panjang dalam pikiran bawah sadar. Jika informasi tak sesuai atau bisa menyakitkan diri kita  maka pikiran kritis akan menolaknya dan perubahan tak akan terjadi. Ingatlah bahwa perubahan ke arah yang baik pun memerlukan usaha dan ini bisa dipandang menyakitkan oleh pikiran bawah sadar yang selalu ingin berniat melindungi kita. Oleh karena itu homeostasis ini begitu kuat.

    Salah satu cara mudah untuk mengatasinya adalah dengan bertanya pada diri kita sendiri ,”Seandainya ada hal yang lebih baik lagi bisa saya lakukan untuk ……………. (menjadi lebih sabar, menjadi lebih bisa memahami diri sendiri, mengerjakan pekerjaan saya lebih baik atau apapaun) bagaimanakah saya bisa melakukannya?” Pertanyaan ini akan menuntun kita mengalami perubahan kecil-kecil yang tak akan terasa menyakitkan sehingga lama-lama perubahan kecil ini pun akan menjadi besar. Ini adalah sebuah prinsip yang terkenal dengan sebutan kaizen di Jepang. Ya betul hal yang sama dialami oleh banyak perusahaan untuk mengajak para karyawannya berubah. Mengetahui rahasia menaklukkan homestasis akan mengakibatkan unjuk kerja tinggi.

    Apakah ada cara lain? Tentu ada. Kita akan membahasnya bersama di artikel berikutnya.

    Semoga inspirasi ini bisa mencerahkan para orangtua di seluruh Indonesia. Menurut Anda siapakah di antara rekan, sahabat atau sanak famili  tercinta yang patut mendapatkan informasi tentang manfaat sekolahorangtua.com? Kapankah Anda bersedia  mereferensikan sekolahorangtua.com pada mereka agar  juga dapat memetik manfaat dari artikel-artikel sekolahorangtua.com demi peningkatan dirinya? Terima kasih atas kebaikan hati Anda mau menjadi sambungan tangan saya untuk menyentuh hidup lebih banyak keluarga di Indonesia.

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Ariesandi (www.sekolahorangtua.com)

  • Bagaimana Membantu Anak Mengatasi Emosi Negatif? (1)

    confusedkids1.jpgPernahkah anak Anda mengalami stres atau emosi negatif? Apakah itu normal? Bagaimana kita membantu mereka mengatasinya?

    Ya itulah pertanyaan yang sering diajukan pada saya oleh para peserta seminar maupun para orangtua yang datang berkonsultasi. Banyak para orangtua bingung bagaimana harus membantu anak-anak mereka menghadapi hal seperti itu. Berikut adalah wacana untuk memperluas wawasan kita bersama. Artikel ini akan membahas bagaimana membantu anak mengatasi stres  ditinjau dari usianya. Dan agar tak terlalu panjang maka artikel ini akan bersambung pada edisi berikutnya.

    “Siapakah yang pernah mengalami stres?” tanya saya dalam sebuah acara seminar. Peserta agak bingung dan kemudian beberapa dari mereka angkat tangan. Setelah itu saya tertawa dan biasanya saya katakan bahwa pertanyaan itu tak seharusnya saya tanyakan karena semua orang pasti mengalaminya bukan?

    Stres adalah suatu hal yang normal yang merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat terelakkan. Stres mempengaruhi setiap orang, bahkan anak-anak sekalipun. Seorang anak pra-taman kanak-kanak menjadi stres saat jadwal day-care nya diubah. Seorang anak SD menjadi sedih ketika dia tidak dapat mengerjakan tes aritmatika dengan baik. Seorang pra remaja khawatir akan perubahan tubuhnya. Dan seorang remaja merasakan stres saat dia mencoba untuk menetapkan apa yang akan dilakukan dalam hidupnya.

    Orang tua dapat mengurangi stres / emosi negatif yang dirasakan anak-anak dan mengajarkan mereka untuk mengatasi situasi yang sangat stres. Sangatlah penting untuk diingat bahwa stres adalah bagian alami dari  kehidupan anak-anak. Stres hanya akan menjadi membahayakan ketika masalah-masalah dan pertengkaran-pertengkaran dari kehidupan sehari-hari membanjiri anak anda.

    Anak-anak dari segala usia merasakan stres ketika seorang adik bayi baru datang, perpindahan keluarga, sebuah perceraian atau pernikahan kembali dari orangtuanya atau ketika keluarga dalam tekanan hal keuangan. Ketika kita sendiri dalam keadaan stres, yakinlah untuk mengambil waktu yang tepat untuk menjelaskan situasi kepada anak-anak. Seorang anak yang tidak mengerti situasinya sering membayangkan hal-hal yang buruk. Ingatlah bahwa anak-anak belajar dari orangtuanya. Orangtua adalah orang yang paling kuat, yang perfeksionis atau pemecah masalah yang berat yang cenderung memberikan sifat-sifat ini pada anak-anak mereka.

    Akhirnya, terlalu stres juga bisa menjadi gangguan. Kita perlu mengenali tanda-tanda dari stres yang berlebihan sehingga bisa mendapatkan bantuan untuk anak. Mencari bantuan mungkin semudah membicarakan akan situasinya kepada seorang teman, anggota keluarga atau kepala sekolah. Seseorang yang tidak asing dengan situasi keluarga kita mungkin dapat memberikan beberapa jalan keluar, nasehat yang berguna. Bila situasinya ekstrem, kita mungkin perlu untuk membicarakan dengan dokter keluarga, ahli-ahli jiwa atau bimbingan konseling sekolah, atau orang-orang profesional di bidang ini.

    Membantu anak pra-sekolah mengatasi stres Kebutuhan anak-anak pra-sekolah adalah mendapatkan rasa cinta, ketentraman hati dan dukungan. Mereka mempunyai sedikit penguasaan dalam kehidupan mereka sendiri dan terlalu muda untuk menggunakan kemampuan memecahkan masalah dengan baik pada situasi-situasi tertentu. Situasi stres yang umum meliputi: memulai atau perubahan jadwal day-care, memulai pra-sekolah, kedatangan seorang bayi baru atau anggota keluarga, terpisahkan dari orang tua, didisiplinkan dan toilet training. Anak-anak pra sekolah juga khawatir akan ditinggalkan atau kelaparan dan mereka mungkin menjadi takut akan orang-orang asing. Selain itu hal-hal yang menakutkan, rasa sakit dan juga hal-hal yang tidak diketahui akan membuat stres.

    Tanda-tanda bahwa anak pra sekolah kita mengalami tekanan mental yang melebihi kekuatannya adalah : lebih lekas marah, mengalami teror malam atau mimpi buruk, lebih sering bertingkah laku kasar, menjadi lebih keras kepala atau menuntut atau bahkan menangis lebih sering dari biasanya.

    Apa yang dapat kita lakukan? Bantulah anak kita untuk mengerti situasi. Jelaskan apa yang akan terjadi dengan cara yang mudah dimengerti dan  bahasa yang menenangkan hati. Berikanlah keberanian pada anak untuk membicarakan ketakutannya. Dia perlu untuk belajar mengatakan hal-hal seperti, “saya tidak menyukainya bila anjing tetangga menyalak,” atau “saya takut masuk ke dalam ruang yang gelap”

    Jangan katakan pada anak kita bahwa ketakutannya adalah suatu hal yang konyol, ketakutannya sangatlah nyata bagi dia. Jangan pernah katakan “Ah, begitu saja kok takut, dasar anak cengeng!” Kurangilah tekanannya dengan menawarkan pengertian, dukungan dan banyak kasih sayang. Genggaman dan bimbingan pada seorang anak  akan membantunya mengurangi stres. Akhirnya kita dapat menambah rasa aman anak kita dengan tetap tenang pada saat masa sulit.

    Kapankah anda mencari bantuan? Ketika kita tidak berhasil dalam segala usaha untuk membantu anak kita, atau ketika masalah terlalu banyak untuk kita sendiri yang harus diselesaikan, carilah bantuan profesional. Jangan ragu untuk meminta nasehat.

    Membantu anak usia sekolah (6 sampai 12 tahun ) Hidup menjadi berat untuk seorang anak usia antara 6 dan 12 tahun. Seorang anak harus menghadapi tekanan di rumah dan belajar untuk mengatasi dunia yang lebih luas yang melibatkan sekolah dan teman-temannya.

    Situasi yang bisa membuat mereka stres : mempunyai nama yang tak biasa, mengerjakan tes di sekolah, merasa lambat, jelek atau pintar, menjadi tertekan untuk mendapatkan nilai yang bagus, berteman dengan teman baru, merasa cemburu, bersaing dalam permainan dengan saudara perempuan atau laki-laki, beradu argumen dengan orangtua atau teman-teman, tidak dapat bekerjasama dengan seorang guru,menjadi cemoohan ,mengkhawatirkan tentang perubahan badan, menjadi malu, mempunyai banyak tugas, dan dikeluarkan dari kegiatan –kegiatan dan teman-teman.

    Tanda-tanda untuk mengenali stres pada anak kita : dia mungkin menarik diri, mengalami kemunduran, dan bertingkah seperti seorang anak yang lebih muda dari usianya, mengompol, memiliki masalah tidur, menggertakkan giginya, atau memiliki masalah bicara. Anak-anak dalam pengaruh stres juga bisa terlihat berpikir dan bergerak lambat. Tanda-tanda yang lain termasuk: kesulitan di sekolah, mencuri, berbohong, curang, sedih, menangis, bertengkar, sering terjatuh, dan kecelakaan.

    Apa yang dapat kita lakukan? Anak-anak yang sangat baik dalam mengatasi stres adalah yang mendapat dukungan dan pengertian dari orangtua. Orantua yang baik akan selalu ada untuk anaknya pada saat dibutuhkan. Cobalah untuk mengerti apa yang dialaminya. Dukunglah dia untuk membicarakan masalahnya lagi, dan bantulah dia untuk mengatasi masalahnya. Anak kita memang mulai mengembangkan beberapa kemampuan dalam mengatasi masalah namun dia  tetap memerlukan bantuan dalam hal ini.

    Saya sering menjumpai bahwa orangtua sering menambah tekanan pada kehidupan anak mereka dengan menekannya terlalu keras melalui target-target. Bila masalah-masalah berputar sekitar sekolah, duduk dan bekerjasama dengan guru anak kita untuk membuat tujuan yang realistis dan standarisasi untuk mencapai prestasi. Masalahnya bukan hanya dalam hal akademik. Terkadang anak-anak terlibat dalam banyak kegiatan yang berbeda atau mempunyai banyak sekali tugas di rumah. Kita bisa memberikan  lebih banyak kasih sayang, persetujuan dan penguatan yang positif pada mereka. Dengarkan dan bantulah mereka untuk mengatur stres dalam hidupnya.

    Kapankah kita seharusnya mencari bantuan? Ketika masalahnya diluar keahlian mendidik anak yang kita miliki, itulah saat  mencari bantuan.  Bisa juga ini dijadikan momentum yang tepat untuk memperkenalkan anak konsep “dewan keluarga”.  Dewan keluarga mengijinkan sebuah keluarga  untuk berdiskusi tentang sebuah pokok permasalahan. Kepemimpinan diputar dan anak-anak mempunyai peran yang sama dalam pertemuan. Keluarga tersebut bersama-sama mencari jalan keluar atas masalah-masalah tersebut. Ini adalah sebuah latihan kepemimpinan yang bagus. (bersambung)

    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

    Ariesandi

  • Mengajak Anak Menggapai Impiannya


    KUTANTANG PEMIKIRAN MAKA SEMUA MIMPI ADALAH MUNGKIN BAGIKU………

    Seorang anak laki-laki, Ronald, memiliki guru Bahasa Inggris yang hanya menilai karangannya berdasarkan tata bahasa dan ejaannya saja. Namun, Bapak B.J. Frazer, guru Bahasa Inggris Ronald di sekolah yang baru, mengumumkan bahwa isi karangan juga akan dinilai, bahkan Bapak Frazer mengembangkan metode pengajarannya dengan menghidupkan sesi drama dalam kelasnya. Sang guru dengan semangat menantang murid-muridnya untuk membuat tulisan / karangan yang berakar pada ide/topik yang beragam bahkan murid dibiasakan untuk menganalisa karakter yang mereka kisahkan/perankan dalam sesi  drama. Menghayati peran yang bagus tidak hanya sekedar menghafalkan dialog dan tata bahasanya tapi dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat stimulasi seperti “Apakah arti karakter yang engkau mainkan berdasarkan dialog itu?” telah membuat Ronald berusaha untuk benar-benar mendalami karakter dalam karangannya agar mampu mengetahui motivasinya. Ronald tak hanya belajar Bahasa Inggris tapi langsung mencoba untuk mengerti apa yang dirasakan peran tersebut dengan mencoba menempatkan dirinya dalam karakter itu. Skala penilaian yang baru memicu imajinasi Ronald.
    Terkesan dengan kepolosan Ronald yang menyegarkan, Bapak Frazer seringkali memilihnya untuk membacakan karangan kreatifnya di depan kelas. Teman-temannya kagum dan tertawa melihat Ronald membacanya di depan kelas sekelasnya. Ronald dengan sengaja mulai memasukkan unsur hiburan ke dalam tulisannya sampai suatu saat dia sukses dalam audisi untuk sebuah drama yang disutradarai oleh Bapak Frazer.
    Pengalaman unik ketika bersekolah, meninggalkan kesan mendalam di dalam dirinya. Kesan ini yang mengantarkannya ke gerbang Warner Brothers di Burbank, California ketika menginjak usia 29 tahun. Saat Ronald gugup menghadapi casting film pertamanya, ia teringat pengalamannya di sekolah dulu. Keinginannya untuk membuat Bapak Frazer bangga merupakan satu-satunya obat terampuh mengusir kecemasan casting pertamanya. Ronald kemudian membintangi lebih dari 50 film bahkan dia terpilih menjadi Presiden Screen Actors Guild.
    Ada 1 peristiwa yang ternyata tak hanya membuat Ronald menjadi aktor yang cukup disegani dalam dunia perfilman, tapi juga membuat publik Amerika mendukungnya untuk berkiprah dalam dunia politik. Peristiwa itu terjadi saat Ronald berbicara dengan penuh semangat atas nama seorang kandidat nasional yang didukungnya,”Engkau dan saya punya kesamaan nasib. Kita dapat menyiapkan anak-anak kita untuk hal-hal seperti : harapan terbaik, mimpi terindah atau kita dapat mengarahkan mereka untuk melangkahkan kaki ke dalam kegelapan selama beribu-ribu tahun”.
    Bapak Frazer mungkin tidak pernah membayangkan pengaruh dari apa yang telah dia berikan dalam kelasnya terhadap murid-muridnya. Dia juga tidak pernah membayangkan Ronald akan menggunakan banyak cara dalam proses belajarnya yang mencakup tak hanya dari segi akademik saja,”Proses yang dikenal dengan nama empati bukanlah sebuah latihan yang buruk untuk orang yang berkecimpung di dalam dunia politik (atau untuk profesi lain),” Ronald menggambarkan,”Dengan mengembangkan kemampuan untuk menempatkan diri sendiri di posisi orang lain, akan membantu anda dalam menjalin hubungan yang lebih baik terhadap sesama dan mengerti mengapa mereka berpikir seperti yang mereka pikirkan, meskipun mereka berasal dari latar belakang yang cukup berbeda dari anda”.
    Anak itu adalah Ronald Reagan, beliau tak hanya telah berhasil membawa Amerika keluar dari kehancuran ekonomi, namun visi, karakter dan rasa optimisnya menginspirasi sifat dan patriotisme warga Amerika Serikat menjadi lebih tinggi. Ronald Reagan menantang warganya untuk berpikir sehingga jendela-jendela mimpi tiap-tiap individu terbuka.
    Bagaimana dengan kita semua? Apakah kita mengajarkan anak-anak kita untuk bermimpi?
    Sebuah buku yang akan membantu untuk melejitkan potensi anak-anakAnda telah selesai saya tulis dan diterbitkan Gramedia judulnya “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia  : Tips Praktis dan Teruji Melejitkan Potensi Optimal Anak”
    Dapatkan bukunya dan ajak anak-anak menggapai impian-impiannya!
    Salam hangat dari saya, Ariesandi.


  • Ibu, aku mencintaimu!

    Para orangtua tercinta dimana pun Anda berada,

    Ada seorang sahabat mengirimkan sebuah artikel pada saya. Saya tak tahu siapa penulis asli artikel ini. Namun artikel ini sangat bernilai tinggi. Melalui situs ini saya mohon ijin untuk memuat artikel tersebut dan sekaligus mengucapkan beribu terima kasih karena telah menulis sebuah artikel yang inspiratif, sebuah artikel yang menyentuh hidup banyak orang sehingga mereka bisa menghidupkan kehidupan lainnya. Saya yakin kita semua mendapatkan pencerahan, penguatan, kepercayaan, kekuatan dan keyakinan yang lebih teguh lagi untuk dapat menjadi orangtua yang terbaik bagi anak-anak kita.

    moz screenshotMarilah kita renungi bersama setiap kata-kata penuh makna di bawah ini :

    Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah
    Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi
    Bagi para ibu, Anda akan mencintainya

    Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.
    ‘Apakah jalannya jauh?’ tanyanya.
    Pemandunya menjawab: ‘Ya, dan jalannya berat.
    Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini…
    Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.’

    Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik daripada tahun-tahun ini.
    Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka  sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.
    Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru:  ‘Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.’

    Lalu malam tiba bersama badai.
    Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan.
    Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantelnya.
    Anak-anak itu berkata: ‘Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat kami. Tak ada yang dapat menyakiti kami.’

    Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya: ‘Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.’

    Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.
    Saat sampai di puncak, mereka berkata: ‘Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.’

    Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata:
    ‘Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini aku memberi mereka kekuatan.’

    Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.
    Awan perang, kebencian dan kejahatan.
    Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.
    Ibunya berkata: ‘Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.’
    Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi yang menuntun mereka melalui kegelapan.
    Dan malam harinya ibu itu berkata: ‘Ini hari yang terbaik. Karena saya sudah memperlihatkan Sang Pencipta kepada anak-anakku’

    Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.
    Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.
    Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani.
    Saat jalannya sulit, mereka membopongnya; karena ia seringan bulu.
    Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.
    Ibu berkata: ‘Saya sudah sampai pada akhir perjalananku. Dan sekarang aku tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.
    Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak mereka ada di belakang mereka.’

    Dan anak-anaknya menjawab: “Ibu selalu akan berjalan bersama kami… Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.’

    Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri…  dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.
    Dan mereka berkata: “Kita tak dapat melihat ibu lagi. Tetapi dia masih bersama kita. Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan. Ia senantiasa hadir dan hidup.’

    Ibumu selalu bersamamu….
    Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan
    Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci
    Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.
    Ibumu hidup dalam tawa candamu.
    Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.
    Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.
    Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu

    Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.
    Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.

    Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!

    Para orangtua tercinta dimanapun Anda berada, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan mungkin juga Anda.

    Jika  Anda masih bisa menikmati kehadiran ibu di tengah-tengah kita marilah sekarang kita meneleponnya, menjemputnya dan menyapanya untuk menyampaikan terima kasih kita padanya.

    Jika  Anda sudah tidak bersama ibu lagi, marilah panjatkan doa yang tulus untuknya.

    Dan bagi para suami yang membaca artikel ini, marilah  datangi istri kita  dan mengucapkan terima kasih atas cintanya pada kita, atas apapun yang telah ia lakukan untuk kita dan anak-anak.

    Marilah kita mendukung para ibu untuk menjalankan misi mulianya.

    Semoga tulisan sederhana ini mendekatkan kembali para pasangan, mengobarkan kembali semangat para ibu untuk menjadi yang terbaik bagi suami dan anak-anaknya dan menyemangati para suami untuk menjadi yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya.

    Salam hangat penuh cinta dari saya, Ariesandi.

    Informasi workshop “The Secret of Super Parenting” bisa Anda baca selengkapnya di bagian lain situs ini.

  • Bahayanya Keluarga yang Selalu Bersama?

    Suatu saat selepas sebuah seminar yang baru saja selesai saya bawakan seorang ayah datang dan menceritakan keluh kesahnya. Apalagi kalau bukan tentang anaknya.

    Ia memiliki 2 orang anak yang sudah remaja dan satu sama lain saling mengiri. Yang satu mengatakan ,”Ayah selalu sayang adik! Tidak pernah memenangkan aku!” dan yang satu lagi mengatakan, “Ayah selalu saja memerhatikan kakak! Aku tidak pernah diperhatikan dan harus selalu menurut sama kakak!”

    Sang ayah kebingungan karena selama ini, menurutnya, ia dan istri telah memperlakukan kedua anak mereka dengan adil. Bahkan mereka sering keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga.

    Selain itu kedua orang kakak beradik tersebut sering bertengkar dan saling berusaha menonjolkan diri. “Saya harus bertindak bagaimana?” keluh sang ayah dengan wajah kebingungan.

    Masalah seperti ini sering dialami oleh banyak orangtua. Jika tidak ditangani dengan segera maka masalah ini bisa melebar ke berbagai hal. Bisa mempengaruhi motivasi dan semangat hidup seorang anak. Dan selanjutnya hal ini bisa mempengaruhi masalah akademik.

    Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mengatasinya? Marilah kita tinjau apa yang diperlukan seorang anak. Setiap anak, maupun orang dewasa, memerlukan pengakuan. Ketika seorang anak berkembang remaja maka kebutuhannya untuk diakui sebagai individu yang spesial makin membesar. Usia remaja adalah usia dimana seorang anak mencari identitas diri.

    Fase pencarian identitas ini akan berlangsung mulus jika fase sebelumnya berjalan dengan baik. Apa yang diperlukan id fase sebelumnya adalah pengakuan dan penerimaan dari figur yang dipandang memiliki otoritas. Dalam hal ini figur tersebut adalah kedua orangtua.

    Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan tersebut? Sederhana luangkan waktu secara pribadi untuk masing-masing anak. Ajaklah seorang anak keluar atau melakukan suatu aktivitas secara pribadi. Setelah itu selang beberapa hari kemudian ajaklah anak yang lain untuk melakukan suatu aktivitas secara pribadi juga. Jadi secara bergantian pada waktu yang berbeda ajaklah anak Anda satu persatu melakukan sesuatu atau pergi ke tempat kesukaannya.

    Ada banyak hal yang bisa kita lakukan secara pribadi dengan masing-masing anak. Makan es krim favorit bersama sang anak, makan di restoran favorit sang anak, jalan-jalan ke taman kota dan bermain sejenak di sana, menonton film kesukaan sang anak berduaan, main game komputer berduaan, putar-putar kota melihat berbagai tempat, membacakan dongeng favorit sang anak, bermain layang-layang berduaan saja dan lain-lain.

    Yang paling penting diperhatikan saat melakukan aktivitas pribadi dengan seorang anak adalah kualitas perhatian yang kita berikan pada sang anak. Jika kita hanya mengajak dia melakukan sesuatu maka yang terjadi hanyalah kedekatan fisik saja. Oleh karena itu libatkan dia dan tanyai perasaannya serta ingat selalu untuk menjaga kontak mata dan sentuhan fisik dengannya.

    Saat kita melakukan hal ini maka seorang anak akan merasa senang dan diperhatikan. Ia menjadi seorang yang spesial karena tak ada kakak atau adiknya. Ia hanya berduaan dengan sang ayah atau suatu saat dengan sang ibu saja.

    Inilah yang akan membuatnya berani untuk menentukan jati dirinya kelak ketika ia remaja. Ia akan berani menentukan identitas karena secara emosional ia mendapatkan apa yang butuhkan.

    Bagaimana jika anak kita telah remaja dan kita baru menyadarinya sekarang? Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama dengan anak Anda. Pilihlah kegiatan yang mereka suka dan lakukan bersama mereka. Hal ini akan mengembalikan kepercayaan diri mereka.

    Jadi kita sekarang telah sama-sama menyadari bahwa kebersamaan keluarga itu penting namun kita tidak boleh mengabaikan kepentingan personal setiap anak untuk membangun identitasnya secara pribadi. Oleh karena itu sebagai orangtua kita tetap perlu meluangkan waktu secara pribadi dengan setiap anak.

    Ketika kita melakukan aktivitas pribadi dengan seorang anak maka secara tanpa disadari kita telah  mengisi tangki cintanya. Penjelasan detail tentang tangki cinta bisa Anda lihat di DVD Tangki Cinta yang bisa Anda  dapatkan hanya di www.sekolahorangtua.com.

  • Kedekatan Fisik Tidak Sama dengan Kedekatan Emosional

    family2.jpg Ibu Ani, bukan nama sebenarnya, kebingungan menghadapi anaknya yang baru saja kelas 1 SD. Tingkah lakunya menjadi susah dikontrol dan sering dimarahi guru di kelas. Ia dilaporkan sering berjalan-jalan di kelas mengganggu teman-temannya ketika pelajaran berlangsung. Di rumah pun demikian, adiknya tak pernah lolos dari gangguannya. Hal ini terjadi sejak ia mulai masuk kelas 1 SD. Selain itu motivasi belajarnya juga naik turun namun banyak turunnya.

    Sampai suatu saat guru kelasnya angkat tangan dan menyarankan orangtuanya untuk pergi ke psikolog dan melakukan tes IQ. Setelah beberapa hari keluarlah hasil tes yang dimaksud yang menyatakan bahwa si Erik, anak Ibu Ani, normal-normal saja. IQ nya 122 skala Weschler. Saran dari tes tersebut adalah Erik perlu pendampingan yang lebih konsisten dan diperhatikan kebutuhan emosionalnya.

    Saudara Ibu Ani, teman baik saya, menyarankan Ibu Ani pergi menemui saya sekedar untuk mendapatkan wawasan dan bertukar pikiran. Singkat cerita saya pun menemui Ibu Ani, suaminya dan teman saya tersebut, sekaligus melepas rindu karena lama tak ngobrol lagi dengannya sejak kami berpisah sewaktu lulus SMA.

    Setelah membaca hasil tes IQ Erik saya bertanya pada Ibu Ani beberapa hal. Ibu Ani tidak bekerja, ia sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus pekerjaan rumah tangga dan 2 orang anaknya. Ia mengeluh mengapa waktu yang ia curahkan untuk si Erik seakan kurang. Apalagi sejak kelahiran adiknya maka si Erik suka sekali mencari perhatian dengan melakukan berbagai hal yang aneh-aneh.

    Satu hal yang perlu kita sadari tentang kedekatan orangtua dengan anak. Banyak orang mengartikan kedekatan orangtua dengan anak hanyalah kedekatan secara fisik. Seperti suami Ibu Ani, ketika saya tanya berapa banyak waktu yang ia curahkan pada Erik secara rata-rata dalam sehari. Ia mengatakan bahwa setiap pulang kerja ia selalu menemani Erik. Dan itu terjadi hampir tiap hari kecuali kalau ada tamu.

    Kemudian saya menggali lebih dalam lagi untuk tahu apa yang ia lakukan sewaktu bersama Erik. Ia pun menjawab bahwa mereka berdua nonton TV. “Oke saya harap anda berdua menonton film edukasi bagi si Erik, jangan nonton sinetron yang banyak adegan kekerasan, manipulasi, iri dan dengki”, kata saya.

    “Lha mana bisa Pak, Papanya suka nonton sinetron kok!”, sahut Ibu Ani tiba-tiba.

    “Oke Pak, kalau begitu bolehkah saya tahu satu hal lagi? Apakah yang Bapak lakukan sewaktu nonton TV dengan Erik?”, tanya saya lebih spesifik pada suami Ibu Ani.

    “Ehm, ya nonton aja Pak sambil terkadang peluk Erik”, katanya. Dan saya pun segera bisa menebak apa yang kurang pada si Erik. Kedua orangtua Erik hanya dekat secara fisik dengan anak mereka namun tidak ada keterlibatan emosi yang mendalam.

    Kebanyakan orangtua bertindak sebagai “supervisor” bagi anaknya. Ketika sang anak pulang sekolah maka serentetan “pertanyaan rutin” dan bisa ditebak pasti meluncur menyerang si anak. Sambil menggandeng tangan anak maka muncullah pertanyaan semacam ini :

    • “Tadi ulangannya bisa atau tidak?”
    • “Ada PR atau tidak?”
    • “PR mu tadi benar atau tidak?”
    • “Besok ulangan apa?”
    • “Makanannya tadi habis atau tidak?”
    • “Kamu tadi nakal atau tidak?”
    • “Kamu tadi dihukum atau tidak?”

    Dan terjadilah percakapan mekanis yang berulang dari hari ke hari selama anak itu sekolah. Bisa jadi itu pertanyaan yang sama yang akan diucapkan pertama kali saat anak pulang sekolah dari SD sampai SMU. Dan inilah yang sering dimaksud oleh para orangtua dengan “kedekatan dengan anak”. Ya …… memang itu kedekatan tapi lebih banyak kedekatan secara fisik saja.

    Sama juga dengan ketika memandikan anak, mengajaknya nonton VCD bersama atau mengajaknya jalan-jalan. Ada yang melakukannya dengan sepenuh hati sambil bercakap-cakap santai dengan si anak ada juga yang hanya sekedar melakukan hal itu semata-mata karena kita memang harus melakukannya. Bukan dengan sepenuh hati.

    Lalu bagaimana caranya agar kedekatan kita bermakna bagi anak? Pastikan kita mengetahui apa yang ia rasakan. Katakan pada anak sewaktu ia pulang sekolah “Halo Sayang, bagaimana harimu? Apa yang kamu rasakan hari ini? Bersemangat atau gembira atau tak sabar menanti hari esok karena ada suatu kejutan?”

    Setelah ia menanggapi jangan berusaha menasehati apapun, cukup dengarkan saja. Kalau ia mengatakan sesuatu yang positif maka katakan “Wow, Mama/Papa ikut senang mendengarkan pengalamanmu hari ini. Terus … terus apa lagi?”

    Kalau ia mengatakan sesuatu yang negatif cukup katakan,”Oh, Mama/Papa ikut sedih mendengar hal itu. Mama/Papa juga pernah mengalami perasaan seperti itu. Kamu mau mendengar bagaimana Mama/Papa mengatasi perasaan itu?” Dan kemudian ceritakan tanpa bermaksud menggurui. Setelah itu berikan pelukan hangat padanya.

    Ingatlah sewaktu mendengarkan anak bercerita atau mengungkapkan perasaanya maka pastikan kita tak melakukan apapun atau mengerjakan apapun. Tatap matanya dan dengarkan dengan penuh perhatian. Jika ada telepon dan itu bisa ditunda cobalah untuk tidak menanggapinya terlebih dahulu jika memang Anda memandang anak lebih penting. Dalam hati terdalam seorang anak ia ingin dinomorsatukan oleh papa atau mamanya.

    Selain itu perhatikan tangki emosional anak kita. Tangki emosional atau tangki cinta ini kita penuhi melalui bahasa cinta yang tepat. Ada lima bahasa cinta yang bisa kita berikan pada anak tergantung mana yang dominan. Kelimanya adalah layanan, kata-kata pendukung, hadiah, sentuhan fisik, dan waktu berkualitas. Jika tangki emosional seorang anak penuh maka ia mudah diajak kerja sama dan mudah menurut serta memiliki motivasi tinggi.

    Karena keterbatasan ruang maka hal mendetail mengenai bahasa cinta, bagaimana menemukan yang utama dan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan bisa Anda baca di artikel sebelumnya atau bisa juga dengan melihat secara komplit di DVD Tangki Cinta yang berdurasi 3 jam.