ArtikelParenting

Aduh … Anakku Mogok Sekolah!

“Kenapa anakku mogok sekolah ?”, tanya sepupu saya.
“Anak kamu yang mana ? Yang gede ?”, jawab saya.
“Bukan yang bungsu. Yang 5 tahun.”, sahut sepupu saya.

Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4 tahun –  saya sudah minta sekolah. Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !

Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah (belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan  Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa ya ?

Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal, adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia sekolah.

Ada beragam penyebab terjadinya mogok sekolah. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari mogok sekolah :

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di rumah atau ada yang ingin dilindungi di rumah

Penyebab ini tampaknya yang membuat keponakan saya enggan untuk sekolah. Di rumah, orangtuanya sedang dalam keadaan perang dunia ke III. Secara naluriah, seorang anak ingin melindungi keluarganya atau salah satu dari kedua orangtuanya. Naluri ingin melindungi ini yang menyebabkan ia tidak ingin meninggalkan rumah karena takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga atau salah satu dari kedua orangtuanya.

Jika hal ini yang menjadi penyebab maka tentunya relasi kedua orangtua harus diperbaiki lebih dulu. Atau minimal dilakukan gencatan senjata dulu dan apabila perang akan dilanjutkan, alangkah baiknya jika tidak didepan anak-anak. Bicarakan masalah apapun dengan kepala dingin dan hati dewasa sehingga tidak akan membuat anak-anak kita menjadi terancam. Ingat anak-anak memiliki perasaan yang peka terhadap keadaan orangtuanya.

Di rumah lebih enak, karena aku bisa lebih bebas, bermain PS atau yang lainnya

Ada orangtua yang mengijinkan anaknya untuk bermain dengan bebas apabila anaknya tidak sekolah. Ketika saya tanya mengapa anak diijinkan untuk bermain hal yang ia sukai semaunya maka kebanyakan  orangtua menjawab bahwa mereka tidak ingin direpotkan oleh anak yang tidak sekolah. Makanya banyak orangtua meminta anak untuk menyibukkan diri dengan segala aktivitas menyenangkan di rumah. Faktor inilah yang bisa menyebabkan anak lebih memilih untuk dirumah daripada sekolah.

Hal lain yang bisa menyebabkan keadaan di rumah lebih menyenangkan adalah proses pembelajaran di sekolah membosankan. Apabila hal ini yang terjadi maka kita harus berdiskusi dengan guru untuk membuat suatu proyek atau aktivitas yang dapat menarik minat anak. Namun untuk tingkat prasekolah, penyebab yang satu ini jarang terjadi.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di sekolah sehingga anak menjadi takut sekolah

Pengalaman disakiti oleh teman (dipukul, didorong hingga jatuh, dimusuhi—bullying) dapat menyebabkan seorang anak prasekolah menjadi takut untuk sekolah. Apabila hal ini terjadi, kita bisa meminta bantuan pada guru dengan menceritakan penyebab anak takut dan meminta guru untuk memberi perhatian ekstra terhadap proses interaksi di kelas.

Adanya hal baru di sekolah juga dapat menyebabkan anak enggan untuk sekolah misal adanya guru baru, kepala sekolah baru, atau barang baru yang tidak disukai oleh anak. Kerjasama dengan guru perlu dilakukan apabila penyebab ini yang menyebabkan anak kita tidak mau sekolah. Pendekatan perlahan-lahan dan mengajak anak bermain bersama dengan benda/orang yang ia takuti akan membantunya menimbulkan perasaan berani.

Perasaan kurang disayang dalam diri anak

Perasaan diabaikan dalam diri anak akan menyebabkan ia memunculkan perilaku yang mengakibatkan ia diperhatikan oleh orangtua. Jika ia tidak masuk sekolah maka ayah/ibu akan bingung dan (minimal) ia akan diajak berbicara bukan? Proses pembicaraan atau ditemani inilah yang dinantikan oleh anak walau proses ini tidak enak. Bagaimana jika penyebab ini yang terjadi ? Yaa… jawabannya adalah di pengisian tangki cinta. Lihat DVD Tangki Cinta Anak yang telah dikeluarkan oleh SekolahOrangtua.com yang merupakan rekaman 3 jam seminar dari Bapak Ariesandi.

Ada kalanya, kehadiran adik baru juga dapat menyebabkan anak menjadi enggan untuk sekolah. Perasaan takut kehilangan ibu menyebabkan ia bertingkah seperti bayi lagi dengan harapan ibu akan memperhatikan dirinya seperti ibu memperhatikan adik baru.

Meluangkan waktu dan melibatkan anak si sulung akan banyak membantu anak dalam beradaptasi dengan adik barunya.

Apa yang harus kita lakukan saat anak kita tidak mau sekolah ?
Kunci utama dan paling utama adalah : tenang. Berpikirlah dengan jernih, tiap permasalahan pasti ada penyebab. Hadapi anak kita dengan netral dan bersikap tenang akan sangat membantu anak kita dalam menghadapi permasalahan.

  1. Langkah pertama adalah dekati anak kita dan berbicaralah dari hati ke hati mengenai penyebab ia tidak mau sekolah. Gunakan pertanyaan,”Apa yang terjadi di sekolah yang menyebabkan kamu tidak mau sekolah ?”. Jika anak tidak mau menjawab, kita dapat gunakan pertanyaan “yes no question” untuk memancingnya. “Apakah ada teman baru ?” atau “Ada sesuatu di sekolah yang tidak kamu sukai ?”. Atau “Apakah kamu dimarahi oleh seseorang di sekolah ?”. Gunakan intonasi yang rendah dan bersahabat. Tundukkan mata kita hingga sejajar dengan mata anak kita. Gunakan bahasa tubuh yang bersahabat bukan bahasa tubuh menginterograsi.
  2. Amati perilaku anak sebelum kejadian mogok sekolah. Apakah ia murung, tampak ketakutan, atau menyendiri. Jika  iya, maka dapat diartikan ia baru saja mengalami hal yang tidak mengenakkan dan menakutkan.
  3. Berkomunikasilah dengan guru di sekolah, mungkin beliau mengetahui informasi yang belum diceritakan oleh anak kita.
  4. Doronglah anak untuk menghadapi ketakutannya dan bekali anak dengan cara untuk menghadapinya. Misalnya : dengan berani mengatakan “tidak suka” saat diperlakukan kurang baik oleh temannya. Atau menemani dia ke sekolah untuk menemani anak mendekati benda atau orang yang tidak disukainya. Langkah ini tergantung pada penyebab ia tidak mau sekolah.
  5. Jika anak terpaksa diliburkan pada hari itu karena kita tidak memiliki waktu cukup untuk menggali permasalahan anak atau menemani anak ke sekolah maka yang harus kita lakukan adalah memberikan pekerjaan di rumah (bukan permainan) dan hindarilah aktivitas yang disukai anak untuk mengisi waktunya selama di rumah. Mintalah anak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di rumah atau mengerjakan latihan soal di rumah sebagai pengganti pelajaran di sekolah. Sewaktu pulang sekolah, mintalah anak untuk bertanya dan berkunjung ke rumah teman, guna menyalin materi pelajaran yang tidak ia ikuti.
  6. Bekerjasamalah dengan guru di sekolah dengan meminta pekerjaan sekolah yang harusnya diselesaikan di hari anak tidak masuk sekolah. Atau mintalah guru anak kita berkunjung ke rumah. Cara ini manjur saya terapkan pada salah seorang murid saya yang memang kurang memiliki rasa aman dalam dirinya  (ada masalah ketika di dalam kandungan ibunya). Kunjungan saya ke rumahnya membuat ia merasa bahwa saya adalah salah satu dari teman mama yang baik hati. Jadinya ia mau sekolah keesokan harinya.

Sumber pembelajaran lain yang bisa Anda dapatkan adalah buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” yang ditulis oleh Bapak Ariesandi S., CHt yang bisa didapatkan di toko buku Gramedia.

Jika kita sudah menjalankan seluruh langkah diatas namun anak kita tetap memilih tidak mau sekolah, apa yang harus dilakukan ? Ini saatnya kita meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kita dapat meminta bantuan pada psikolog atau tim konselor SekolahOrangtua.com yang terdekat. Mungkin ada penyebab yang tidak kita ketahui yang terekam di bawah sadar anak sehingga ia mengalami keenganan luar biasa untuk datang ke sekolah. Jika hal ini yang terjadi maka bantuan dari pihak yang lebih ahli untuk menetralkan pengalaman emosional tersebut sangat kita butuhkan.

Semoga artikel ini dapat membantu para orangtua Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

Sandra M.,MPsi, Psikolog (Partner Konselor SekolahOrangtua.com)

Related Articles

107 Comments

  1. Dear…

    saya sangat berterima kasih dengan adanya artikel tentang school refusal saya jadi faham mengapa anak saya yang berumur 3 tahun tidak mau sekolah. Setelah ditanya, anak saya tidak mau sekolah karena katanya ‘ga nyambung’ entah dengan gurunya entah juga dengan temannya. dia juga mengatakan bahwa sekolahnya tidak mempunyai ‘srodotan’ (papan luncur) yang bagus. apakah memang anak sekecil itu sudah bisa membandingkan ya pak?
    sekarang saya tau bahwa memang kepentingan dan kenyamanan anak adalah yang paling utama.
    terima kasih

  2. Thanks bu SandRa,masukan buat saya agar saya lebih bisa memahami anak2 PG saya pada awal tahun ajaran ataupun setelah libur panjang…ditunggu artikel berikutnya…

  3. Ibu guru Aningati yang saya hormati,
    Saya senang sekali jika ada guru yang mau belajar tentang pendidikan anak seperti ibu. Terus belajar ya bu… jasa baik ibu pasti akan dibalas oleh Yang Diatas dan dikenang oleh murid + orangtuanya.
    Salam hangat penuh cinta untuk keluarga Anda.

  4. artikel yang menarik dan berguna tentunya…
    anak saya, Farhan (5,5 th) juga sering mogok sekolah. Saya tahu alasannya, dia bosan karena di sekolahnya , kls B sekarang anak-anak diforsir untuk memperdalam calistung. Farhan sudah bisa dan merasa bosan, kadang-kadang dia mengganggu temannya. Saya sendiri tidak pernah memaksakan anak saya pergi sekolah. Kalau sedang jenuh, Farhan kan bisa belajar di rumah dengan bundanya seperti saran bu Sandra…

  5. Ibu Rahmi Alia Asri yang baik,
    Jika anak bosan di sekolah karena pelajaran yang disajikan telah dikuasai oleh anak, ada baiknya ibu berdiskusi dengan gurunya supaya anak ibu diberi tugas tambahan atau materi yang lebih sulit. Hal ini perlu dilakukan jika ibu telah berkomitmen dengan suami untuk menyekolahkan anak. Namun jika memang ingin memberikan pelajaran di rumah maka ikutilah kurikulum home schooling. Pilihannya tergantung pada komitmen awal. Jika tidak konsisten, akan membingungkan anak ibu dan yang lebih parah lagi, kemungkinan ia dapat berpikir bahwa tiap komitmen dapat tidak dipenuhi jika tidak sesuai dengan keadaan.
    Salam hangat penuh cinta untuk keluarga Anda.
    Sandra

  6. berbicara tentang masalah ini terus terang saya punya kekhawatiran, sekolah sekarang menjadi suatu ‘beban’, betapa tidak, anak pada dasarnya senang bermain, waktu saya masih di tk (frobel) 58 tahun yang lalu, saya tidak pernah memperoleh pelajaran calistung, bahkan waktu saya kelas 1 SR, maka saya mendapat pelajaran mengeja. saat ini anak tk sudah dapat pelajaran (kognitif). maka sebagai dosen saya menemukan banyak mahasiswa saya sudah mengalami ‘burn-out’. ada sesuatu yang salah, anak-anak menurut pendapat saya sekolah untuk belajar bersosialisasi (afektif), maka pelajaran yang bersifat kognitif sungguh saya ragukan efektifitasnya

  7. Dear Pak StanisNugroho dan para orangtua Indonesia,
    satu hal perlu menjadi wacana kita semua di Finlandia – negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia – mengajarkan baca tulis untuk pertama kalinya ketika anak berumur 7 tahun. Sebelum itu hanya ada stimulasi. Stimulasi tidak menekankan seorang anak harus bisa. stimulasi lebih dititik beratkan pada pengenalan saja dan memberikan kesempatan pada murid untuk eksplorasi.
    Beda dengan sekarang ini murid ditekan harus bisa dan diniliai melalui serangkaian ulangan. Ini membuat murid2 TK tertekan. Pada waktu saya TK tidak mengenal adanya ulangan yang saya ingat hanyalah bermain dan bermain dan bermain.
    Semoga ini menjadikan kita semua menyadari karena lembaga TK seperti ini juga karena permintaan para orangtua – para orangtua senang kalau anaknya yang sudah TK bisa menghitung perkalian dan membaca koran! Mereka lupa dalam perkembangan anak ada prioritas. Baca tulis hitung memang penting tapi ketika seorang anak berusia 3 – 5 tahun itu bukanlah prioritas pertama. Prioritas pertama adalah meletakkan pondasi sikap mental positif dan cara berpikir yang benar melalui serangkaian pengalaman menyenangkan yang membangun harga diri Anak.
    Semoga ini menyadarkan kita semua …
    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga
    ariesandi

  8. Salut dan terima kasih untuk ibu Sandra M.,MPsi, Psikolog, atas artikel yang sangat menarik dan berguna untuk kami para ortu yang anaknya akan sekolah baik PG/TK.
    Sekali lagi terima kasih..

  9. artikel yang sangat menarik sekali bagi saya.saya punya persoalan dengan anak saya, ia kalau disuruh belajar malesnya minta ampun alasannya banyak sekali, ngantuk, capek, pelajarannya susah, pokoknya ada aja.saya jadi binggung menghadapinya. ia mau juga sih diajak belajar tapi asal-asalan, ndak mau serius gitu,lalu apa yang mesti saya perbuat? mohon jawabannya.terima kasih.

  10. Halo Bapak Hidayat.
    Anak menjadi malas belajar tentunya disebabkan suka dan tidak sukanya dia terhadap sesuatu, misalnya dia tidak suka dengan pelajarannya, dia tidak suka dengan gurunya. Jika anak suka pasti, ia akan mengerjakan dengan senang hati. Tampaknya, bapak perlu mencari tahu penyebab dia menjadi malas. Ajak dia untuk berbicara dan berdiskusi mengenai penyebab dia merasa malas. Setelah itu ajak dia untuk mencari solusinya. Terkadang, solusi yang ditawarkan oleh anak tidak dapat kita duga lo. Namun sangat efektif untuk mendongkrak motivasi. Atau bapak bisa lakukan hal-hal yang tidak diduga oleh anak misalnya “Ok.. kamu sedang tidak ingin belajar, kalau begitu tutup bukunya. Papa percaya kalau kamu sudah lebih happy kamu akan belajar dengan lebih cepat dan mudah”. Kemudian ajak dia refreshing bersama atau main bersama.
    Jika bapak ingin tahu lebih detil, bapak bisa memesan DVD Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar.
    Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga.
    Sandra Mungliandi

  11. Bu Sandra dan Pak Ariesandi,
    artikel anda menarik. Anak kami berusia 9.5 thn / kelas 4 dan sekarang sedang sulit2-nya belajar dan menyerap pelajaran. Entah kenapa sekarang nilai akademisnya cenderung menurun, sedang untuk pelajaran seni musik dia tergolong tertinggi. Memang hobinya adalah musik, tapi kadang2 juga tergantung mood. Anak kami didiagnosa mengalami kondisi ADHD dan sedang dalam perawatan (sudah berjalan 1.5 bulan), apakah kondisi ini juga menyebabkan hal ini terjadi? Bagaimana cara mengatasinya, sementara anaknya tidak mau pindah sekolah (mungkin sekolah sekarang kompetensi-nya cukup tinggi), karena kalau kami (orang tua) sudah kelelahan kadang emosi bisa tersulut juga.
    Mohon informasi bagaimana caranya mendapatkan DVD Rahasia Membuat Anak Ketagihan Belajar
    Terimakasih.

  12. selamat malam ibu,
    saya mau menanyakan bagaimana menghadapi anak yang mau sekolah asal minta sesuatu dan harus diturutin,mintany kadang nggak wajar dan memaksa klo tidak diturutin dia akan mengamuk sejadi jadinya,aduh saya sangat bingung menghadapiny,tolong beri saran untuk saya terima kasih

  13. Halo pak Riyantono,
    Anak bapak memiliki perilaku demikian, tampaknya sudah dibiasakan sejak kecil. Yang perlu bapak lakukan adalah memutuskan pola yang biasanya ia mainkan. Jadi yang dapat bapak lakukan adalah mengajaknya bicara bahwa bapak tidak menyukai caranya dalam meminta suatu benda, ancamannya untuk mendapatkan barang yang ia inginkan untuk mau sekolah dan penyebab ia tidak suka sekolah. Untuk tugas-tugasnya yang sudah memang kewajibannya misal sekolah, makan, minum, mandi, anak tidak perlu diberikan hadiah. Tegaskan pada anak bahwa bapak tidak akan menuruti lagi keinginannya jika ia meminta dengan cara yang tidak benar. terakhir, katakan bahwa bapak mencintainya dan rasa cinta itu dilakukan dengan cara bapak bersikap tegas padanya.
    Setelah itu, bapak dan istri bapak harus konsisten menjalankannya. jika anak kembali pada pola lama : meminta dengan paksa, bapak perlu mengabaikannya saja. Untuk itu, bapak dan ibu perlu memiliki keteguhan hati dan ketegasan pada anak bapak. Katakan bahwa anda tidak akan memenuhi permintaannya dan anak diperbolehkan menangis sampai puas, setelah selesai marah/nangisnya, bapak atau ibu akan bicara dengannya.
    setelah anak puas melampiaskan kekesalannya dengan tangisan atau perilaku “mencak-mencaknya”, ajak anak bicara.
    Yang perlu bapak ketahui adalah perilaku yang sedang anak bapak lakukan adalah perilaku wajar jika dilakukan oleh anak usia 2 tahun. itu merupakan tahapan perkembangan yang memang harus ia lalui. sikap orangtua yang tegas dan konsisten akan membantu anak untuk mengurangi perilaku memaksa seperti itu.
    perilaku ini menjadi tidak wajar jika dilakukan oleh anak usia 7 tahun ke atas. Jika bapak sudah bersikap konsisten dan tegas namun anak bapak masih berperilaku demikian, saya sarankan pada bapak untuk meminta bantuan ahli yang terdekat di rumah bapak misalnya psikolog anak.
    Sikap konsisten dan tegas bapak akan menentukan masa depan anak bapak. Jika bapak berkenan, bapak bisa membaca artikel di website ini tentang gaya pengasuhan.

    Selamat mencoba.

  14. Sore, bapak Riyantono,
    MEnyambung dari email terakhir, bapak bisa membaca salah satu artikel kami yang berjudul “Mengatasi ledakan emosi anak” by bapak Hianoto. Di dalamnya, dijelaskan penyebab emosi anak dapat meledak dan bagaimana cara kita untuk mengatasinya.
    JIka bapak membutuhkan penjelasan lebih detil lagi, bapak bisa memesan VCD/DVD pada customer service. Tema-tema mengenai mengatasi emosi negatif yang dapat diatasi dari kedua belah pihak, orangtua dan anak. Untuk lebih detil, bapak bisa meng-klik pada kategori “product” yang ada pada bagian atas website ini.
    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga

  15. Ibu Sandra YSK (Yang Saya Kagumi)….
    saya punya 2 anak lelaki 8 dan 5 tahun. anak pertama sejak kecil antusias sekali kalo pergi sekolah sampe-sampe umur 5 tahun dia minta sendiri masuk ke SD, karena sudah bosan di TK dan memang sudah lancar calistung. sekarang sudah kelas 3 dan masih termasuk 10 besar dikelasnya. Lain dengan si adik, sekarang umur 5 tahun masih TK kecil dan sepertinya dia kalo didalam kelas tidak menikmati. Bila gurunya sedang mengajar sambil duduk melingkar dikarpet, anak saya asyik main sendiri, entah balok bersusun atau apa saja permainan yang ada didalam kelas. sering keluar kelas. emosinya juga sangat tinggi, gampang marah. untuk berhitung sudah sangat lancar termasuk penambahan 1 sampe4 (dulunya ikut kumon tp sudah 8 bulan ini berhenti karena sy lihat mulai bosan). huruf-huruf jg sudah hafal, tinggal membaca aja yang belum lancar. belakangan karena suka nakalin temannya (sebenarnya bukan tipe penyerang, tapi kalo temannya mendahului, anak saya membalasnya dengan sangat agresif) akhirnya saya liburkan sekolahnya selama seminggu ini. saya sempat berfikir apakah anak saya memang tidak cocok dg pola pendidikan yang ada di TKnya skrg ini? tapi kenapa anak-anak yang lain nurut dan tampak menikmatinya? saya sempat ke psykolog (baru wawancara dan menggambar, blm sempat ditest secara detail)dan disarankan agar anak saya dimasukkan ke sekolah alam saja. tapi dimana ya? saya tinggal dilembang jl. maribaya. sempat nyari juga tapi yang saya tau adanya didaerah dago, gak kebayang deh macetnya tiap hari antar jemputnya. ada juga dekat rumah (3KM) TK islam terpadu (full day) tapi tempatnya lebih kecil dari TK sebelumnya. sebenarnya saya tertarik dg Tk ini karena anak saya disitu pasti dpt sekalian belajar mengaji. mohon sarannya ya? anak saya dirumah saya ajari membaca sebentar-sebentar aja.

  16. Selamat pagi Ibu Uty,
    Terima kasih untuk pujiannya, sampai-sampai helm saya tidak muat untuk kepala saya yang agak membesar neh… hehehe…
    Anak kedua biasanya memiliki kecenderungan untuk berperilaku yang berbeda dengan kakaknya. Ada beberapa penyebab dari perilaku yang berbeda ini yaitu anak kedua tidak ingin disamakan dengan kakaknya (ia ingin menjadi individu yang berbeda) dan perlakuan lingkungan yang secara tidak langsung mengharapkan anak kedua supaya berperilaku sama dengan kakaknya. Banyak orangtua yang secara tidak sadar mengatakan demikian,”Coba contoh kakak/adikmu. Liat dia bisa makan sendiri/belajar sendiri/ tidak cengeng kaya kamu.” Walaupun maksudnya baik namun cara yang dilakukan adalah salah.
    Untuk anak ibu, penerimaan bahwa adik adalah individu yang berbeda dengan kakak adalah penting buat adik. Tetap berikan perhatian dan perlakuan yang sesuai dengan karakter masing-masing. Ada anak yang bahasa cintanya senang diajak bermain bersama, ada anak yang bahasa cintanya suka dipeluk, ada anak yang bahasa cintanya senang diajak jalan-jalan. Ibu perlu proaktif untuk mengisi tangki cinta kakak dan adik.
    Mengenai sekolah TK apakah sudah cocok atau belum, ibu bisa menggunakan insting ibu. Ibu yang paham mengenai karakter adik dan suasana di sekolah. Apabila saya baca dari email ibu, tampaknya belum ada masalah yang berat antara adik dengan sekolah.
    Penerimaan apa adanya dari ibu akan sangat membantu kedua jagoan ibu untuk menapaki jalan masa depannya.
    Selamat mencoba.

  17. alhamdulillah….. selama hampir tiga minggu ini saya pegang anak nomer dua nyaris 24jam….. sebelumnya kalo sekolah si adik diantar saya tapi ditunggu oleh pembantu. untuk urusan mandi pagi dan sore, juga belajar dan mengantar tidur mereka selalu dengan saya. urusan anak, pembantu cuma nyuapin siadik, kakak sudah makan sendiri. selama ini saya tidak menunggui di Tk karena saya juga berbagi mengecek kakaknya yang di SD sekaligus mengantar makanan/ snack pada waktu kakaknya istirahat, lalu setelah usai bel masuk, saya jemput si adik ke TK. saya praktekkan untuk mengisi tangki cinta buat si adik… dan perilakunya mulai nyata terlihat berubah kearah yang positif, termasuk adik dan kakak saya yang tinggal sekomplek dg saya juga merasakan perubahan itu. sekarang kalo main bersama sepupu2nya tidak gampang marah, malah pernah mereka bermain sampai 4 jam tanpa diwarnai pertengkaran. pada kesempatan lain masih ada marahnya sih…. tapi tidak brutal seperti sebelum ini. dan disekolah dia sudah mulai terlihat nyaman….. mau mengikuti kegiatan yang diselenggarakan guru dan tidak sering2 keluar kelas lagi. mungkin selama ini si adik merasa bahwa porsi cinta saya kepadanya masih kurang, padahal menurut saya sudah sama antara adik dengan kakak. Terima kasih banyak ya bu Sandra… semoga Tuhan (Alloh SWT) membalas kebaikan Ibu dengan rahmat kesehatan, kebahagiaan dan kesejahteraan untuk Ibu sekeluarga. jangan bosan kalo saya bakal sering menyurati Ibu. wassalam…..

  18. Selamat sore ibu Uty ISA (Ibu Sayang Anak)

    Syukurlah dengan keberhasilah ibu. Saya juga ikut senang dengan usaha dan hasil yang ibu capai.
    Terima kasih sudah berbagi bersama kami, para orangtua pembelajar.
    Saya akan selalu terbuka untuk berbagi pengetahuan yang saya miliki. Saya tunggu email berikutnya.

    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga.

  19. Selamat Pagi Ibu Sandra,

    Saya ingin konsultasi tentang masalah anak saya, Natasya, sudah sejak 25 Maret 2009 yl, Tasya ‘mogok’ sekolah. 1-2 hari pertama alasannya sakit perut, setelah dibawa ke dokter dan sembuh tetap tidak mau sekolah, tanpa alasan yang jelas.

    Sebenarnya kejadian ‘mogok’ sekolah ini pernah terjadi tahun 2006, pada saat kelas 3. Tasya hanya mau pergi ke sekolah jika ditemani dan duduk bersebelahan di kelas. Pihak sekolah mengijinkan, sampai akhirnya naik kelas 4. Setelah kelas 4, dengan teman2 baru ternyata Tasya masih tidak mau sekolah. Akhirnya pada bulan Desember 2007 Tasya mengikuti home schooling, seminggu 3 kali pergi ke sekolah.

    Pada tahun ajaran baru Juli 2008, Tasya mau kembali di sekolah lama, dan mengulang kembali untuk kelas 4. Kegitan di sekolah diikuti secara normal sampai tiba2 minggu lalu Tasya tidak mau ke sekolah. Dan kalau ditanya kenapa, selalu diam.

    Dari hasil pengamatan bersama Ibu guru dan teman-temannya di sekolah, nampaknya Tasya merasa ’sebal’ dengan teman nya yang duduk disebelah belakang, ada 2 orang anak pria. Tasya merasa ’sebal’, karena pernah suatu waktu teman dekat Tasya, Fafa diganggu oleh anak tsb, dan Tasya membelanya, kemudian anak tsb balik menegur Tasya, kenapa ikut campur.

    Kemudian secara tidak sengaja ada tugas kelompok dari salah seorang guru yang mengelompokkan Tasya dengan 2 anak yang dia ’sebal’ tsb. Tugas tsb adalah menyanyi ke depan kelas. Mungkin ini salah satu yang menyebabkan Tasya ’mogok’ sekolah.

    Ibu guru wali kelas dan guru yang memberi tugas tsb sudah memberi tahu Tasya secara langsung tentang perubahan kelompok dan juga akan merubah tempat duduk Tasya. Tetapi hal ini belum bisa membuat Tasya berangkat sekolah.

    Bila sore hari pada kesempatan berkumpul di dalam keluarga, kita merayu agar dia mau berangkat sekolah, dia mengangguk ’ya’ dan dia masih mau belajar untuk persiapan ulangan dan mempersiapkan tugas sekolah di rumah. Tetapi masalah timbul pada pagi hari menjelang bangun tidur, Tasya menolak untuk bangun dan mandi.

    Tasya, adalah dua bersaudara, dia anak ke-2, kakaknya laki2, beda 1 tahun usianya, sekolah di SD yang sama.

    Mohon solusi untuk masalah anak saya tsb, terima kasih banyak sebelumnya. Salam.

  20. Selamat sore Bapak Satrio,
    Yang bapak lakukan sudah benar dengan mencari tahu penyebab Tasya tidak mau sekolah. Namun ada baiknya juga dicari perasaan yang dirasakan Tasya yang menyebabkan ia tidak mau sekolah. perasaan “sebal” pada temannya, mungkin hanya dugaan kita saja. Mungkin dengan meminta bantuan orang lain yang disukai Tasya dapat membantu Tasya untuk terbuka mengenai perasaannya dan penyebab ia tidak mau sekolah lagi.
    Ada kemungkinan juga, Tasya tidak mau sekolah juga disebabkan karena sudah menjadi kebiasaan,”Ah… kalau aku tidak mau sekolah juga gak papa. toh papa mama tidak akan menghukum aku/ tidak ada konsekuensi buat aku.”
    Untuk yang satu ini, bapak perlu membimbing Tasya guna lebih berani menghadapi permasalahan yang ada dalam hidupnya. Karena jika tidak, pola ini akan menjadi kebiasaan Tasya untuk selalu “quit”/lari dari tantangan yang dihadapinya.
    Bapak bisa memasukkan pelajaran moral supaya tetap tegar melalui dongeng atau menunjukkan teladan sehari-hari pada Tasya misalnya tetap memenuhi kewajiban apapun walaupun terhalang suatu kendala. Ada kalanya kita menjadi tidak memenuhi suatu janji hanya dikarenakan adanya halangan. Hal-hal sepele seperti inilah yang akhirnya dipelajari oleh anak.
    Selamat mencoba.

  21. Bu Sandra dan Pak Ariesandi,
    Anak saya, skarang SMA kls 2, saat sedang akan hadapi ujian, dia drop, kejadian ini sudah sering terjadi sejak ia SD, kami sdh kesana sini u/ masalah ini, pskiater maupun psikolog, analisa terakhir yg saya terima ia bipolar, pertanyaan saya :
    1. bagaimana langkah tepat u/ atasi masalah ini
    2. saya baca literatur tt past life terapi / hipnoterapi apakah kiranya dapt mjadi solusi u/ masalah kami?
    3. klinik Bpk bisa u/ hipnoterapi / pastlife terapi ?
    terima kasih

  22. Halo bapak Hendry, Kami belum bisa berkomentar banyak mengenai diagnosis bipolar yang ditujukan pada anak bapak. Dugaan kami, ketika sedang menghadapi ujian, anak bapak mengalami tekanan luar biasa dalam dirinya sehingga menyebabkan ia mengalami perubahan pada perasaan dan perilakunya.
    Banyak hal yang mungkin untuk digunakan dalam terapi dengan tujuan membantu seseorang, termasuk past life therapy.
    Bapak bisa mencoba alternatif terapi ini jika memang tidak ada satupun masalah di masa sekarang yang menjadi akar masalah. Namun ada baiknya, kita menggali terlebih dahulu akar masalah dari kehidupan di masa sekarang daripada ke past life.
    Kami membantu setiap klien kami untuk menyelesaikan konflik ataupun masalah emosi yang biasanya terjadi pada klien kami. Jika dalam terapi hipnosis, kami tidak menemukan akar masalah maka memang akan ada kemungkinan kami akan membawanya ke past life. Jika bapak ingin konfirmasi mengenai jadwal terapi, bapak bisa menghubungi customer service kami di Halo bapak Hendry, Kami belum bisa berkomentar banyak mengenai diagnosis bipolar yang ditujukan pada anak bapak. Dugaan kami, ketika sedang menghadapi ujian, anak bapak mengalami tekanan luar biasa dalam dirinya sehingga menyebabkan ia mengalami perubahan pada perasaan dan perilakunya.
    Banyak hal yang mungkin untuk digunakan dalam terapi dengan tujuan membantu seseorang, termasuk past life therapy.
    Bapak bisa mencoba alternatif terapi ini jika memang tidak ada satupun masalah di masa sekarang yang menjadi akar masalah. Namun ada baiknya, kita menggali terlebih dahulu akar masalah dari kehidupan di masa sekarang daripada ke past life.
    Kami membantu setiap klien kami untuk menyelesaikan konflik ataupun masalah emosi yang biasanya terjadi pada klien kami. Jika dalam terapi hipnosis, kami tidak menemukan akar masalah maka memang akan ada kemungkinan kami akan membawanya ke past life. Jika bapak ingin konfirmasi mengenai jadwal terapi, bapak bisa menghubungi customer service kami di 031 7702 4931
    Semoga bisa membantu

  23. Selamat sore Ibu Sandra……
    Bersyukur anak saya yg dulu saya keluhkan sudah tampak riang dan semangat dengan kegiatan disekolahnya.
    Pada tanggal 15 mei reva (5th 1bl) saya bawa untuk psykotest dan hasilnya tgl 5 juni kmrn diambil tapi karena reva agak badmood (ngantuk) saya tidak bisa konsul dengan lebih lama sehingga pada saat diterangkan saya tdk bisa konsentrasi. Pada saat saya baca kembali hasilnya dirumah, ada beberapa istilah yang belum saya mengerti. Padahal untuk konseling lagi harus menunggu paling cepat 3 minggu, jadi saya tanyakan ke Ibu aja ya? gratis lagi hehehe….. hasilnya saya kutipkan sbb: ” Reva memiliki kecerdasan yang berfungsi pada taraf diatas rata2 (IQ:114 skala wechsler) dibanding teman seusianya dan masih dapat mengembangkan potensi kecerdasannya secara optimal hingga taraf superior (OIQ:129 skala wechsler). Hal ini karena masih ada beberapa aspek kemampuan bahasa konseptual (VIQ:109 skala wechsler) yang lebih rendah dibanding kemampuan praktisnya (PIQ:118 skala wechsler)”.

    Lalu dalam saran2 ada beberapa yang saya belum paham sbb:
    1. Anak perlu mengembangkan kemampuan motorik halus melalui latihan grafomotor agar gerakannya lebih fleksibel.
    2. Guru dan orang tua dapat membimbing anak dengan belajar melalui teknik visual support.

    Pertanyaan saya adalah :
    1. Pengelompokkan jumlah kemampuan IQ ada berapa? misal disebut IQ rendah jika jumlah nilainya berapa, IQ sedang jika jumlah nilainya berapa, IQ rata-rata jika jumlah nilainya berapa, dst. Kecerdasan taraf superior itu apa? dan bagaimana sebaiknya cara saya menstimulasi agar reva dpt mencapai kesana?

    2. Kemampuan bahasa anak saya masih rendah, padahal menurut saya reva sudah sangat cerewet. menurut saran yg tertulis agar reva menambah perbendaharaan kata melalui aktivitas bercerita. Maksudnya saya yang membacakan banyak cerita, atau anak saya yang diminta untuk menceritakan pengalaman2nya?

    3. Latihan grafomotor itu yang seperti apa?

    4. Belajar melalui teknik visual itu yang bagaimana?

    Begitu deh pertanyaannya……. Semoga Ibu Sandra senantiasa dlm Lindungan Tuhan (Alloh SWT), serta diberikan nikmat kesehatan, kebahagiaan dan kemampuan dalam melakukan segala aktifitas sehingga bisa lebih banyak menolong orang-orang yang perlu dibantu, seperti saya ini….
    Wassalam…

  24. Halo ibu Uty,
    Senangnya, mendengar perkembangan positif dari si kecil Reva. Terima kasih juga untuk doa tulus ibu. Saya juga banyak belajar dari ibu Uty yang sudah berpengalaman mengasuh 2 putra.
    Saya akan mencoba membantu ibu melalui email ini, memang tidak bisa maksimal karena tidak bisa tatap muka. Hasil tes IQ sebenarnya hanyalah pemotretan kondisi anak saat itu. Jadi ketika dites kembali ada kemungkinan skornya akan mengalami perubahan namun perubahan tersebut tidaklah jauh dari hasil yang pertama. Skor ini juga masih dapat berkembang kira-kira + 15 poin. Pengembangan ini tergantung pada stimulasi lingkungan dan asupan gizi terhadap anak.
    1. Pengelompokan jumlah IQ tergantung pada alat tes yang digunakan. Jika tes IQ Reva menggunakan Weschler maka pengelompokkannya juga menggunakan skala Weschler. Berikut ini pengelompokkan skor IQ berdasarkan skala Weschler.
    • 128 ? Very superior ? Sangat superior
    Superior artinya kemampuan kognitif anak berada di atas rata-rata anak pada umumnya. Untuk lebih mudahnya, superior berarti Reva memiliki kemampuan untuk memahami suatu materi lebih cepat dibandingkan anak yang memiliki IQ rata-rata.
    Stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara. Cara yang paling saya sukai adalah mengajak anak untuk melihat-lihat lingkungan sebagai upaya menggelitik rasa ingin tahunya. Karena proses belajar terjadi berawal dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang biasanya terpasung oleh sistem pendidikan.
    2. Keduanya bisa ibu lakukan. Dengan membaca cerita maka wawasan si Reva akan berkembang. Kemudian kosa kata Reva akan bertambah dengan sendirinya. Dengan mengajak Reva bercakap-cakap dan berdiskusi juga akan menbantu Reva mengambangkan perbendaharaannya dan logika berpikirnya. Dengan mendorong Reva menceritakan pengalamannya maka juga akan membantu Reva dalam mengembangkan kemampuan berpikir sebab akibat, analisis serta urutan kejadian.
    3. Graphomotor merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Latar belakang terciptanya cara ini adalah adanya peningkatan kebutuhan penggunakan motorik halus di tingkat SD. Padahal banyak anak yang kurang siap dalam hal motorik halusnya dan berakibat pada penurunan prestasi anak. Oleh sebab itu, diciptakanlah metode ini yang bertujuan untuk merangsang kemampuan motorik halus anak. Jika ibu ingin tahu lebih banyak ibu bisa mengunjungi http://www.schriftontwikkeling.nl
    4. Munculnya saran untuk membantu Reva menggunakan teknik visual dalam belajar, mungkin ada salah satu hasil tes yang menunjukkan bahwa kecenderungan gaya belajar Reva adalah menggunakan modalitas visual. Artinya, Reva akan banyak terbantu menyerap suatu info jika terdapat gambar atau tulisan atau objek yang bisa Reva lihat. Dengan demikian, Reva akan langsung dapat mengimajinasikan materi yang akan dipelajari. Misalnya : Reva akan belajar dengan lebih cepat jika ibu menuliskan 5 telur bebek dan gambar 5 telur bebek sehingga Reva akan lebih mudah membayangkan. Pada usia ini, penggunaan alat peraga akan sangat membantu anak dalam menyerap materi-materi pelajarannya.
    Salam hangat penuh cinta untuk Reva dan keluarga ibu Uty

  25. Halo ibu Uty,
    Senangnya, mendengar perkembangan positif dari si kecil Reva. Terima kasih juga untuk doa tulus ibu. Saya juga banyak belajar dari ibu Uty yang sudah berpengalaman mengasuh 2 putra.
    Saya akan mencoba membantu ibu melalui email ini, memang tidak bisa maksimal karena tidak bisa tatap muka. Hasil tes IQ sebenarnya hanyalah pemotretan kondisi anak saat itu. Jadi ketika dites kembali ada kemungkinan skornya akan mengalami perubahan namun perubahan tersebut tidaklah jauh dari hasil yang pertama. Skor ini juga masih dapat berkembang kira-kira + 15 poin. Pengembangan ini tergantung pada stimulasi lingkungan dan asupan gizi terhadap anak.
    1. Pengelompokan jumlah IQ tergantung pada alat tes yang digunakan. Jika tes IQ Reva menggunakan Weschler maka pengelompokkannya juga menggunakan skala Weschler. Berikut ini pengelompokkan skor IQ berdasarkan skala Weschler.
    • 91-110 ? Average ? Rata-rata
    • 111-119 ? Bright normal ? Di atas rata-rata
    • 120-127 ? Superior ? Superior
    • > 128 ? Very superior ? Sangat superior
    Superior artinya kemampuan kognitif anak berada di atas rata-rata anak pada umumnya. Untuk lebih mudahnya, superior berarti Reva memiliki kemampuan untuk memahami suatu materi lebih cepat dibandingkan anak yang memiliki IQ rata-rata.
    Stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara. Cara yang paling saya sukai adalah mengajak anak untuk melihat-lihat lingkungan sebagai upaya menggelitik rasa ingin tahunya. Karena proses belajar terjadi berawal dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang biasanya terpasung oleh sistem pendidikan.
    2. Keduanya bisa ibu lakukan. Dengan membaca cerita maka wawasan si Reva akan berkembang. Kemudian kosa kata Reva akan bertambah dengan sendirinya. Dengan mengajak Reva bercakap-cakap dan berdiskusi juga akan menbantu Reva mengambangkan perbendaharaannya dan logika berpikirnya. Dengan mendorong Reva menceritakan pengalamannya maka juga akan membantu Reva dalam mengembangkan kemampuan berpikir sebab akibat, analisis serta urutan kejadian.
    3. Graphomotor merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Latar belakang terciptanya cara ini adalah adanya peningkatan kebutuhan penggunakan motorik halus di tingkat SD. Padahal banyak anak yang kurang siap dalam hal motorik halusnya dan berakibat pada penurunan prestasi anak. Oleh sebab itu, diciptakanlah metode ini yang bertujuan untuk merangsang kemampuan motorik halus anak. Jika ibu ingin tahu lebih banyak ibu bisa mengunjungi http://www.schriftontwikkeling.nl
    4. Munculnya saran untuk membantu Reva menggunakan teknik visual dalam belajar, mungkin ada salah satu hasil tes yang menunjukkan bahwa kecenderungan gaya belajar Reva adalah menggunakan modalitas visual. Artinya, Reva akan banyak terbantu menyerap suatu info jika terdapat gambar atau tulisan atau objek yang bisa Reva lihat. Dengan demikian, Reva akan langsung dapat mengimajinasikan materi yang akan dipelajari. Misalnya : Reva akan belajar dengan lebih cepat jika ibu menuliskan 5 telur bebek dan gambar 5 telur bebek sehingga Reva akan lebih mudah membayangkan. Pada usia ini, penggunaan alat peraga akan sangat membantu anak dalam menyerap materi-materi pelajarannya.
    Salam hangat penuh cinta untuk Reva dan keluarga Ibu Uty

  26. Selamat Siang Ibu Sandra….
    Terima kasih banyak atas penjelasannya yang panjaaaaang sekali… Sekarang saya sudah lebih mengerti….. (dg Ridho Tuhan YME) Saya akan berusaha semampu saya untuk dapat memberikan yang terbaik bagi anak2 saya….
    Salam hormat untuk Ibu Sandra dan keluarga.

  27. Apakah Ibu juga melayani konsultasi langsung? jika iya Ibu praktek dimana? Boleh dibagi alamatnya? senang sekali jika suatu saat saya bisa menemui langsung. Terimakasih……..

  28. Halo ibu Uty,
    Saya dan tim dari Sekolah Orangtua sangat terbuka untuk membantu orangtua yang membutuhkan terapi dan konseling. Ibu bisa menghubungi customer service SO di 031 7702 4931 atau mengunjungi langsung kantor SO yang alamatnya bisa ibu lihat di fitur Kontak Kami dibagian atas web ini.
    Salam hangat penuh cinta untuk ibu Uty dan keluarga

  29. Dear Ibu Sandra,
    Saya menpunyai 3 org anak, 10 thn (cew), 6 thn (cow) & 3 thn (cow). Selama ini anak 1 tidak pernah bermasalah di sekolah, sedangkan anak ke 2 agak bermasalah yaitu cuek terhadap pelajaran, sehingga saya lebih concern ke anak 2. Masalahnya timbul waktu baru2 ini ambil rapor, anak 1 selalu masuk 10 besar, rapor kali ini rangking 20 (dari 40 siswa) , saya shock sekali bu, karena dia gak menunjukkan tanda2 bermasalah di rumah, saya sudah merasa mengontrol dengan hati2, akhirnya lose juga. Wali kelasnya juga menjelaskan kalo dia baek2 aja di sekolah. Yang ingin saya tanyakan, pada usia anak 10 thn ini, saya sebagai orang tua harus bersikap bagaimana supaya dapat mencegah hal seperti ini, karena saya merasa dia sudah mempunyai pemikiran yang berbeda. Thanks sebelumnya bu.. saya sangat menantikan jawaban ibu.

  30. Halo ibu Anita,
    Penurunan prestasi yang dialami oleh putri ibu mungkin ada hubungannya dengan perhatian ibu yang lebih terfokus pada putra kedua ibu. Secara tidak sadar, ada keinginan di dalam diri putri untuk mendapatkan perhatian seperti yang didapat oleh adik “Kalau aku bermasalah dalam belajar, pasti nanti mama mau nemani aku belajar”. Memang terkadang kita, orang dewasa, merasa heran dengan keinginan putri tersebut. “La wong, gak ada masalah kok malah pengin “diuyel-uyel” sama mama supaya mau belajar”. Untuk lebih pastinya, ibu bisa menanyakan langsung kepada putri mengenai keinginannya supaya belajar menjadi lebih menyenangkan buat putri. Jangan tanyakan mengenai : mengapa prestasinya menjadi menurun, karena putri akan bingung menjawab dan hal ini akan membuat dia merasa bersalah. Untuk saat ini, terima saja adanya penurunan prestasi ini, bukankah hidup ini pun seperti roda yang berputar ?
    Atau alternatif lain, ibu bisa lebih sering meluangkan waktu berdua dengan putri sehingga ia pun merasa diperhatikan dan disayang oleh ibu.
    Kami memiliki sebuah produk bagus yaitu VCD : Rahasia membuat anak ketagihan belajar. Jika ibu tertarik untuk mempelajarinya, ibu dapat menghubungi CS kami untuk pemesanan.
    Selamat mencoba, Ibu Anita.

  31. selamat siang bu sandra…..
    saya punya masalah dengan anak saya Fathur umur 4.5 tahun. anak saya sangat pemalu sekali disekolah nya umur 3 th dia sudah masuk Play Group tetapi selama di playgrou dia harus selalu ditemani di dalam kelas. sekarang dia sudah masuk TK tetapi tetap saja sifat pemalunya belum hilang bahkan dia tetap harus ditemani di dalam kelas , bahkan dia tidak mau mengikuti kegiatan seperti baris, olah raga, bahkan kalau dipanggil sama gurunya harus ditemani sama saya. bagaimana ya bu untuk mengatasi sifat pemalu pada anak saya ……..
    mohon bantuannya…

  32. Selamat pagi Ibu Ida,
    Biasanya, penyesuaian sekolah yang dibutuhkan oleh seorang anak usia prasekolah paling lama adalah 2 minggu. JIka anak memiliki rasa aman yang cukup, penyesuaian hanya diperlukan beberapa hari saja.
    Yang perlu ibu lakukan adalah memberikan rasa aman terlebih dahulu pada anak ibu. cari tahu apa yang menyebabkan anak ibu menjadi enggan untuk berpisah dengan ibu : apakah karena di rumah ada masalah sehingga ia tidak mau bepisah ? atau ada sesuatu yang menakutkan di sekolah. Bisa jadi, keinginan anak ibu untuk ditemani oleh ibu disebabkan keinginannya untuk tetap memanipulasi kedekatan ia dengan ibu tanpa diganggu oleh pihak lain sebagai wujud dari kosongnya tangki cinta. Isi tangki cinta anak juga dapat membantu anak untuk menumbuhkan rasa aman dan percaya diri dalam dirinya, baik dari ibu maupun dari bapak.
    Mintalah salah seorang guru untuk melakukan pendekatan secara intens pada anak ibu. Setelah anak ibu dapat mempercayai salah seorang guru, itulah saatnya ia dapat ditinggal oleh ibu. Memang pada awalnya, ia akan menangis tapi jika ibu dan guru konsisten menjalankannya, pasti anak ibu akan memahami bahwa ada waktunya untuk sekolah dan ada waktunya untuk bermain dengan bunda. Ibu tidak perlu khawatir jika anak menangis sejadi-jadinya ketika ditinggal, berikan kepercayaan pada anak ibu dan guru bahwa mereka bisa menangani perpisahan sementara ini.
    Jika usaha ini tidak dapat dilakukan, ibu perlu meminta bantuan psikolog atau terapis dari SO untuk mencari tahu penyebab kurangnya rasa aman ini.
    Selamat mencoba

  33. makasih ya bu sandra atas sarannya.
    sebenernya kemarin saya udah senang anak saya 2 hari sudah bisa di tinggal di dalam kelas tanpa saya. tapi hari ini dia nangis pingin di temeni lagi dikelas mungkin karena kejadian kemarin dia pingin pipis tapi malu ngomong sama gurunya jadi dia pipis di celana. mungkin untuk kasus ini
    saya akan coba saran bu sandra untuk meminta bu gurunya untuk melakukan pendekatan intens pada anak saya…..
    tapi bu sandra anak saya juga gak mau gabung sama temennya terus duduknya juga pingin sendiri ngak mau berkelompok………walau udah dibujuk sama gurunya……..
    untuk kasus ini gimana ya bu……..
    sekali lagi makasih ya atas sarannya …………

  34. Halo ibu Ida..,
    Saya jadi ikutan senang mendengar si kecil mau berpisah sementara dengan ibu. Ketika si kecil menghadapi rasa malunya karena ngompol, saya jadi sedikit memahami permasalahannya. Si kecil tergolong anak yang sensitif dalam menghadapi tiap perubahan yang terjadi dalam kegiatan sehari-harinya. untuk itu, kita sebagai orang terdekatnya, orangtua dan guru, perlu membimbingnya bahwa perubahan adalah sesuatu yang wajar. Jadi jika si kecil menghadapi kasus serupa seperti ngompol tersebut, ibu dan guru dapat melakukan percakapan ringan dengannya untuk mengurangi rasa malu ataupun rasa bersalah dalam dirinya misalnya : “Adik, merasa malu bilang sama ibu guru, kalau adik mau pipis ? akibatnya karena adik gak tahan jadinya pipisnya keluar duluan. Dulu mama, kalau sekolah juga sama kaya adik. Mama harus ijin dulu sama ibu guru, biar tidak dicariin kemana-mana. awalnya sih mama malu juga sama kaya adik (walaupun kenyataannya tidak) tapi mama beraniin aja. toh gurunya baik.” Dengan demikian, si kecil akan merasa dipahami oleh orang disekelilingnya dan kesalahan adalah hal yang wajar diperbuat oleh manusia asalkan dia mau memperbaikinya.
    kedekatan si kecil dengan guru sangat perlu dilakukan untuk membantunya lebih enjoy dengan suasana kelas. Setelah itu, perlahan-lahan guru baru bisa menggabungkan si kecil dengan teman sekelasnya. itupun biasanya dengan 1/2 orang teman dulu. Setelah itu cukup aman dengan teman barunya, barulah ia akan mulai berani menyapa teman-teman yang lainnya.
    Karakter tiap anak memang berbeda ibu. Kita yang harus jeli mengenali dan membimbingnya supaya bisa terus beradaptasi dengan baik. Tetaplah mengisi tangki cinta sehingga anak menjadi nyaman dengan dirinya sendiri.
    ibu bisa membaca artikel SO mengenai Salah Motivasi, Takutlah yang didapat. Atau ibu bisa mengikuti online home course yang akan dilaunching pada bulan agustus. Atau ibu bisa membeli paket CD/DVD mengenai komunikasi dengan anak.

    Salam hangat penuh cinta untuk anda sekeluarga Ibu Ida.

  35. selamat siang ibu sandra…

    saya merasa mempunyai sedikit masalah komunikasi dengan anak2. (saya mempunyai 3org putri).anak pertama saya berusia 13th sangat pendiam tp mempunyai prestasi yang baik d sekolah nya,anak yang ke 2 10th sangat jauh berbeda cerewet,aktif dan prestasi d sekolah nya biasa2 saja tp dia lebih suka ke aktifitas di luar sekolah(ballet,piano,renang)saya dan suami saya dulu wktu masih tinggal d indonesia
    termasuk org yang di tuntut dengan pekerjaan yang lebih banyak harus di luar rumah jadi pengasuhan mereka kami percayakan sama staf kami di rumah (sabtu dan minggu baru kami bisa main bersama)
    pada awalnya kami merasa biasa aja sampai ketika kami melahirkan anak ke 3 sekarang anak bungsu kami baru berusia 3bulan.anak ke dua mulai berulah mencari perhatian kami kadang mogok sekolah,minta segala sesuatu yang tadinya di lakukan sendiri sekarang harus salah satu d antara kami yang melayani ngk mau orang lain.(misalnya harus nemenin sebelum tidur,nemenin ngerjain PR,nganter sekolah,dan suka minta yang aneh2) dan ad tambahan aktifitas baru paling suka ngangguin adek nya kalau sudah nangis dengan santai nya pergi begitu saja.sampai suatu saat pernah dia ngajak kluar sudah rapi semua tiba2 tanpa sebab batalin ngk mau aj dia lari masuk kamar sambil bergumam huh!!! mama ngk sayang lagi…saya merasa tersentak dengan kata2 nya kok bisa dia ngomong begitu..
    akhirnya suami saya memberikan solusi agar kami pergi berdua saja .
    di balik kemudi sambil kita bercanda saya sesekali melirik dan bisa melihat begitu bahagia dari pancaran mata nya
    1,apakah cara dia mencari perhatian itu masih dalam kondisi yang wajar?
    2,apakah juga karena usia nya yang jauh berbeda antara dia dan adek nya yang baru lahir?
    3,bgmn agar saya bisa memberikan porsi kasih yang sama antara dia dan adek nya di mata dia?
    4,dan bgmn pula saya bisa mendapatkan product2 dr SO karena kami saat ini tidak tinggal d indonesia setidaknya untuk 2th ke depan kami harus tinggal d SH

    saya ucapkan terima kasih atas jawaban dr ibu sandra
    salam sejahtera untuk ibu dan keluarga

  36. Halo ibu Yunita Amaliya,

    1,apakah cara dia mencari perhatian itu masih dalam kondisi yang wajar?
    Ibu, putri ke dua tampaknya sedang mengalami sindrom kecemburuan terhadap adiknya. Ia biasanya menjadi si bungsu, sekarang harus berganti posisi menjadi kakak. Caranya untuk mendapatkan perhatian masih tergolong wajar. Untuk itulah, ibu perlu segera mencari solusi agar kakak tidak terbawa perasaan cemburunya secara terus menerus.

    2,apakah juga karena usia nya yang jauh berbeda antara dia dan adek nya yang baru lahir?
    Penyebab seorang anak cemburu pada saudaranya dapat disebabkan banyak hal, tidak hanya tergantung usia. Untuk itu, ibu perlu mencari tahu apa penyebab ia menjadi cemburu. Apakah disebabkan kakak merasa ada perlakuan berbeda dari orangtua sejak adiknya lahir atau karena kakak merasa posisinya terancam karena takut tidak disayang lagi oleh ortu. Usia 10 tahun sudah dapat diajak untuk bicara dari hati ke hati.

    3,bgmn agar saya bisa memberikan porsi kasih yang sama antara dia dan adek nya di mata dia?
    Mudah sekali ibu. Ibu bisa mengamati bahasa kasih si kakak (termasuk kakak pertama). Isilah tangki cinta melalui bahasa kasih tersebut, tiap anak memiliki bahasa kasih yang berbeda. Salah satunya adalah dengan mengajaknya pergi berdua, seperti yang telah ibu lakukan. Tampaknya, bahasa kasih kakak ke 2 adalah waktu berkualitas. sering-seringlah melakukan aktivitas berdua sehingga kakak tidak jealous lagi. Katakan pula bahwa ibu dan bapak sayang terhadap semua anak ibu dan bapak. Namun untuk saat ini, adik masih membutuhkan perhatian ekstra dari ibu karena usianya yang masih sangat kecil, tapi hal ini tidak menjadi penghambat bagi anda untuk tetap sayang pada kedua anak yang lain. Mintalah maaf jika kakak 2 apabila kakak merasa bahwa ibu terlalu memperhatikan adik. Jelaskan mengapa adik masih membutuhkan perhatian lebih banyak dari anda. Jelaskan pula bahwa ketika ia (kakak 2) lahir pun, ibu juga harus memberikan perhatian ekstra kepada kakak 2 namun ibu tetap sayang pada kakak 1.
    Lakukan ini dengan konsisten, niscaya anak akan mempercayai bahwa ibu dan bapak sayang pada tiap anak.

    4,dan bgmn pula saya bisa mendapatkan product2 dr SO karena kami saat ini tidak tinggal d indonesia setidaknya untuk 2th ke depan kami harus tinggal d SH
    biasanya, kami mengirimkan produk SO ke LN melalui saudara pembeli yang tinggal di indo. Karena biasanya mereka lebih tahu prosedur pengirimannya. Apakah ibu memiliki saudara yang tinggal di Indo ? Jika iya, akan mempermudah SO dalam mengirimkannya.
    Jika tidak, kami tetap bisa untuk mengirimkannya namun dengan biaya yang sesuai dengan tempat ibu berdomisili saat ini. Atau ibu bisa belajar mengenai parenting lewat online home course kami yang akan diadakan bulan depan ini.

    Semoga bermanfaat

  37. Halo Ibu Sandra,
    Saya tertarik sekali dengan masukan-masukan Anda yang sangat bermanfaat. Saya punya masalah yang serupa dengan Ibu Ida di atas, yaitu tentang anak yang baru masuk TK.

    Anak saya, Rangga (5 tahun) baru masuk TK bulan lalu (tanggal 13 Juli). Sampai sekarang masih belum mau ditinggal. Dia memang anak yang introvert, yang perlu waktu lama untuk akrab dengan orang baru.

    Pada minggu pertama saya duduk di dekatnya kemudian dia mau ditinggal (dengan saya berdiri di pintu dan dia duduk dekat pintu). Pada minggu kedua, karena saya harus tugas keluar negeri selama 1 minggu, Rangga mogok sekolah. Alasannya harus diantar Ibu. Baru minggu ke 3 dia kembali ke sekolah. Tetapi, karena saya harus bekerja jam 9 pagi, ayahnya gantian menunggui. Kebetulan suami saya jam kerjanya lebih fleksibel. Tetapi Rangga selalu menangis setiap saya tinggal dan menolak masuk kelas. Kalau dipaksa dia akan menangis keras-keras.

    Di rumah, dia selalu bermain dengan adiknya (4 tahun) dan beberapa orang anak yang orangtuanya kos di rumah saya. Dia selalu menjadi ‘Raja’ kalau di rumah. Saya juga menyediakan banyak mainan di rumah. Kebanyakan permainan di sekolah sudah dia punyai di rumah. Mungkin ini penyebabnya ya, Bu?

    Saya merasa (selama observasi saya di sekolah) kegiatan di sekolah kurang menarik dan terlalu bertele-tele. Saya juga seorang guru, jadi saya bisa merasakan ada sesuatu yang kurang dalam metodologi pengajaran. Saya pikir, saya tidak bisa turut campur dalam cara pengajaran guru terlalu banyak, tapi paling tidak apa yang bisa saya lakukan dengan anak saya?

    Terima kasih sebelumnya.
    Salam,
    Reny

  38. Dear Ibu Sandra,

    Saya sangat tertarik sekali akan artikel2 Ibu, dan saya juga mau berkonsultasi. Anak saya Nada (perempuan 3.6tahun) masuk TK A, anak pertama.

    Sekolah Nada bermetode Sekolah Alam dengan pengajaran ramah otak dan diterapkan sistem kemandirian pada anak, dan juga para gurunya dibekali ilmu psikologi dalam penanganan muridnya.

    Yang jadi permasalahan Nada tidak berani bergaul dengan teman temannya, dia hanya mau sekolah dan beraktifitas apabila ditemani oleh saya, Nenek atau ayahnya, dengan cara duduk atau berdiri disampingnya. Seminggu pertama, Nada kami temani dengan cara tersebut, namun pada minggu ke dua kami mulai tinggal, dengan metode : 2 hari pertama kami tinggal diam diam, 2 hari kedua kami serahkan paksa ke Guru dan kemudian kami langsung tinggal.

    2 hari pertama dengan metode pelan pelan ditingal: Nada menangis dan mencari cari celah agar bisa keluar dari Saung (kelas), lalu ditangani oleh salah satu Guru, kemudian kami diceritakan oleh Guru, bahwa Nada menangis sebentar dan diberi pengertian bahwa Nada bisa bertemu dengan kami, apabila sudah menyelesaikan aktifitasnya, pada saat itu Nada tetap tidak mau mengikuti aktifitas pembelajaran tetapi mengikuti aktifitas guru tersebut.

    2 hari kedua dengan metode ditinggal paksa, reaksi Nada sama dengan 2 hari pertama, hanya saja sudah ada peningkatan dengan Nada mau ikut aktifitas walaupun hanya sebagai pengamat saja (tidak mau berbicara dengan temannya hanya diam dan mengamati)

    Yang jadi permasalahan, setelah kemarin ditinggal paksa, Nada tidak mau sekolah, kami gali permasalahannya dan Nada bilang bahwa “Nada tidak mau ditinggal, Nada takut sama teman teman, bu Guru jahat tidak mau mempertemukan Nada dengan Nenek/Bunda/Ayah”
    dimana sebelumnya kami sudah observasi dan bekerja sama dengan Guru, hal yang Nada utarakan tidak benar adanya.

    Saya sebagai Ibunya berpikir, kalau Nada sepertinya mempunyai bayangan yang menakutkan terhadap teman temannya, yang Nada merasa teman temannya akan nakal terhadapatnya, padahal kenyataannya tidak (takut akan bayangannya sendiri).

    Pola asuh dirumah, kami tinggal beramai ramai (saya, suami, adiknya Nada, Bp & Ibu Mertua, 2 orang adik ipar laki laki) saya dan suami bekerja, sehingga Nada diasuk oleh Bp & Ibu Mertua.

    Waktu Nada masih kecil (kurang dari 2 tahun) ada anak tetangga yang suka main kerumah, Nada umur 2 tahun kami semua pindah rumah dan memang lingkungan baru tidak ada anak kecil, sehingga Nada lebih sering dirumah, tetapi walaupun begitu Nada kadang dibawa ke lapangan yang agak jauh dari rumah agar dia bisa bermain main. Biasanya Nada kalaupun diajak ketempat ramai, dia biasanya menarik diri (contohnya sedang main perosotan, lalu ada beberapa anak kecil ingin main perosotan itu juga, Nada langsung berhenti dan berlari ke arah kami, atau berhenti bermain dan diam sambil memperhatikan anak anak tersebut).

    Nada, apabila ditanya oleh orang lain yang baru dikenalnya selalu diam, atau menjawab pelan sekali, dan setiap saya telpon dan saya tanya “nada udah makan belum?” atau aktifitasnya yang lain dia balik bertanya pada Neneknya yang disampingnya dan kadang si Nenek suka membalikkan pertanyaan tersebut ke Nada.

    Nada, oleh ayahnya waktu kecil agar mau tidur suka ditakuti oleh suara2, dan saat ini oleh Neneknya suka ditakuti oleh ondel ondel agar mau menuruti Neneknya untuk tidur atau agar tidak keluar kalau malam malam.

    Saya sendiri waktu sekolah dulu juga seperti Nada harus ditemani oleh Ibu saya dan Ibu saya harus duduk disamping saya, dan waktu itu saya berumur 6 tahun dan kejadian itu berlangsung hingga 6 bulan. Dalam pergaulan, saya dahulu tidak percaya diri dan cenderung menarik diri pada teman teman yang menurut saya lebih kaya, karena saya selalu merasa saya miskin (hehehe…) dan saya jenis menghindari konflik terhadap orang. Dan, saya juga merasa punya sifat paranoid, tetapi saya merasa hal tersebut saya tidak implementasikan pada anak saya, jadi paranoid saya hanya saya simpan dihati, misalnya : saya takut sekali anak saya kejedot oleh siku meja, dan yang saya lakukan hanya membalut siku meja itu dengan bahan2 baju sehingga tidak tajam, tetapi saya tidak melarang anak2 untuk berlarian menuju siku meja tersebut, atau saya takut sekali anak saya naik naik ke tangga yang tinggi, namun saya tidak melarang atau mengeluarkan kata apapun, hanya saja saya biasanya selalu menemani apabila anak2 naik ke tangga yang tinggi.

    Suami saya juga waktu kecil tidak betah disekolah, selalu diam diam kabur dari sekolah, dan dalam bergaul biasanya dia mencari teman teman yang nyaman untuk diakrabi, apabila situasi ramai dia juga menarik diri.

    Yang saya ingin tanyakan adalah:
    1. Apakah tindakan dengan memaksa Nada diserahkan ke Gurunya adalah benar?
    2. Apakah sifat kami berdua menurun kepada Nada?
    3. Bagaimanakah Nada sebenarnya?
    4. Bagaimana menangani Nada agar tidak seperti itu?

    Terima kasih sebelumnya Bu Sandra^_^

  39. Dear ibu Sandra..

    anak saya amadeus (3thn 8 bln, TK A) kemarin mogok sekolah, setelah beberapa hari sebelumnya minta ditemani di sekolah. hal ini sangat merisaukan saya mengingat sebelumnya (bahkan saat hari pertama sekolah) dia sudah berani bersekolah tanpa saya dampingi.

    Hari pertama ke sekolah amadeus saya dampingi sebentar hingga snack time, kemudian saya menunggu di luar kelas, kemudian hari berikutnya dia sudah berani bersekolah tanpa saya dampingi. ini berlngsung selama satu minggu. hari jumat lalu amadeus terlambat dijemput oleh papanya (biasanya sayalah yang meng-antar jemput) dan ketika bertemu papanya dia langsung menangis sejadi jadinya. kemudia n hari senin dia mulai menolak saya tinggalkan, namun atas saran pihak sekolah dia diam diam saya tinggalkan. puncaknya terjadi pada hari kamis kemarin, dia benar benar panik ketika saya antar ke sekolah sehingga oleh pihak sekolah disarankan untuk pulang menenangkan diri. malam sebelum mogok, tidurnya sangat gelisah, mengigau “mana mama” dan berkali kali terbangun sambil menangis panik mencari saya. bahkan di rumah pun dia benar benar tidak mau “melepaskan” saya… bahkan mandi pun saya digedor gedor dengan panik. padahal sebelumnya dia tidak begitu, bahkan bisa dibilang cuek kepada saya dan lebih dekat dengan pengasuhnya (sebelumnya saya bekerja). Kenapa ya bu sandra? dan bagaimanakah solusinya? terimakasih sebelumnya

  40. Halo ibu Nita, Ibu Reny, dan Ibu Vien,
    Jawaban untuk pertanyaan ibu bertiga saya gabungkan karena memiliki topik yang mirip.
    Pada intinya untuk membantu anak lepas dari kita sebagai orangtua, pertama adalah anak memiliki rasa percaya kepada salah satu guru yang ada di sekolah. Jika guru telah mampu mengambil hati anak dan anak sudah percaya, pemaksaan pemisahan yang dilakukan tidak akan mengalami kesulitan berarti. Mungkin anak akan menangis sebentar kemudian bisa berbaur dengan lingkungan kelas. Namun, jika anak belum siap untuk percaya dan terambil hatinya, akan menyebabkan anak menjadi trauma seperti anak ibu Vien. Jadi, perlu ada tahapan/proses untuk membuat anak percaya kepada guru dan lingkungan sekolah.
    Kedua, ada karakter anak yang memang lebih sulit untuk langsung terlibat dengan lingkungan baru. Untuk itu, memang butuh proses ditemani terlebih dahulu.
    Ketiga, anak juga harus percaya pada anda sebagai orangtua bahwa jika ia ditinggal di sekolah, tidak berarti tidak akan bertemu kembali. Untuk itu, menjaga rasa percaya ini kepada Anda sangatlah penting. Pamitlah jika anda hendak meninggalkannya dan jemputlah tepat waktu sesuai dengan kesepakatan, karena keterlambatan akan membuat anak menjadi panik.
    Keempat, konsisten. Jika ibu-ibu sudah melihat sebenarnya anak ibu-ibu sudah mulai enjoy dengan lingkungan kelas dan gurunya (ketika anda temani), maka sudah saatnya meninggalkannya dalam kelas. Pada awalnya, mungkin akan terjadi perang tangisan, namun ibu harus tega untuk meninggalkannya dan percayakan kepada guru untuk menanganinya. Perasaan tidak tega dapat dimanfaatkan oleh si kecil untuk mencegah anda meninggalkannya.
    Kelima, isilah tangki cintanya sehingga anak menjadi lebih santai dalam menghadapi hari esok.
    Untuk pengisian tangki cinta dan pengenalan karakter anak, ibu-ibu bisa mempelajari melalui produk-produk yang ditawarkan di SO ini.

    Semoga membantu.

  41. selamat sore bu sandra.
    saya mengucapkan banyak terima kasih atas saran- saran bu sandra yang sangat bermanfaat bagi kami sebagai orang tua dan anak kami.
    kini Fathur alhamdullilah sudah mau ditinggal. tinggal sekarang saya berusaha meninggkatkan kepercayaan dirinya. sehingga dia tidak menjadi anak pemalu lagi…

    untuk bu reny, bu nita dan bu vien, sekedar untuk masukan karena kasus kalian sama dengan kasus yg saya alami.
    alhamdulillah sekarang anak saya sudah dapat ditinggal didalam kelas.
    kuncinya adalah jangan memaksa anak, saya ampir 3 minnggu berada di dalam kelas tapi selama di dalam kelas saya selalu berusaha mendekatkan kepada ibu gurunya dan teman-teman dengan ngobrol bersama selama jam istirahat. dan saya selalu menceritakan kepada ibu gurunya mengenai hobi anak saya, memberi info tentang liburan pergi kemana?, kesukaan anak saya apa? pokoknya saya menceritakan kepada ibu guru apa yg tidak disukai dan disukai oleh anak saya. tapi tentunya jangan didepan anaknya ya…….. sehingga ibu gurunya ada topic untuk bahan ngobrol dengan anak saya.
    alhamdullilah dengan begitu anak saya sedikit-sedikit mulai dekat dengan gurunya, mau ngomong sama gurunya dan mulai rada berani untuk mengungkapkan sesuatu.
    trus ibu gurunya selalu memuji kalau dia mau kedepan, atau jawab pertanyyaan, atau mengacungkan tangan waktu di absen.(wah fathur hebat….. )
    trus terang aja ya bu, fathur itu anaknya pemalu sekali dia tidak berani melakukan sesuatu dia selalu bilang mama malu…….

    nah setelah dia mulai nyaman dan dekat dengan gurunya, saya bilang secara bertahap kepada anak saya dengan memberi pengertian kepada dia bahwa mamah tidak akan meninggalkan dia, ( de… mamah berdiri dekat pintu ya…. kan keliatan sama ade.) mamah mah gak akan ninggalin ade kalau ade mau pipis atau mau apa-apa bilang sama bu guru ya, bu guru kan baik & sayang ama ade!. tanpa diduga anak saya menganggukan kepalanya. (anak saya bilang mamah boleh diluar tapi dekat pintu ya…..biar aq liat mama…) duh senangnya hati saya. saya dengan sabar selama 4 hari menunggu dan berdiri di depan pintu biar keliatan sama anak saya, tapi hari kelima bertahap saya tinggal sedikit-sedikit bila dia sedang asik belajar dan tentunya selalu di deketin sama bu gurunya. sekarang alhamdullilah saya sudah gak berdiri di depan pintu….dan duduk agak jauhan dari kelas.

    untuk sosialisasi sama temannya, karena anak saya susah gabungnya, selama jam istiraht sampai sekarang saya suka menemani anak saya bermain dan berusaha mendekatkan kepada teman-temannya itu atas saran bu gurunya. ya lumayan sekarang anak saya sudah mulai bisa gaul dengan temannya.

    mungkin sekian pengalaman saya semoga bermanfaat bagi ibu-ibu yang senasib dengan saya.

    sekali lagi terima kasih ya bu sandra,….

  42. Selamat Malam Ibu Ida,

    Terima kasih atas sharing pengalamannya. Semoga pengalaman ibu dan Fathur bisa bermanfaat untuk orangtua SO lainnya.

    Terima kasih juga untuk kesabarannya dalam menghadapi buah hati ibu.

    Salam hangat penuh cinta untuk Ibu Ida dan Fathur.

  43. Terima kasih atas masukan dan sharing-nya….. sepertinya memang kuncinya adalah kesabaran dan karena setiap anak juga berbeda dalam merespon ‘dunia’ yang baru. Alhamdulilah, sepertinya Rangga mulai menunjukkan tanda-tanda mau ditinggal.

    Sekali lagi terimakasih…

  44. Bu Sandra yang baik, dan bu Nita, Bu Reny, Bu vien, dan Bu Ida yang super!,

    Anak saya, 4 tahun 5 bulan, mempunyai masalah yang sama dengan ibu2, yaitu sangat pemalu. tapi bila di sekolah anak2 ibu, orangtua dapat mendampingi anak di kelas bisa ditoleransi bahkan sampai berbulan-bulan, di sekolah anak saya dibatasi hanya 5 kali pertemuan saja.

    Setahun yl ketika anak saya berumur 3 tahun, dia sudah meminta untuk dimasukkan sekolah. Kami pun mendaftar di Kelompok Bermain di dekat rumah. Namun saya hanya boleh menunggui selama tiga hari saja, hari2 berikutnya saya disuruh pulang oleh Kepsek tanpa sepengetahuan anak saya. Anak saya begitu mengetahui itu langsung menangis menjerit-jerit, dan itu terjadi selama 7 hari. Karena tidak ingin memberikan tekanan kepada anak saya, saya memutuskan untuk tidak mencoba lagi menyekolahkan dia dan menunggu hingga ia meminta untuk sekolah. Dampaknya dari ditinggal paksa itu adalah anak saya menjadi sangat benci kepada sekolah itu dan bahkan membuang baju seragamnya setiap kali dia melihat baju itu di lemari (tentu saja saya pungut kembali baju yang dibuangnya itu).

    Namun tiba-tiba pada waktu usianya 4 tahun 5 bulan, dia minta sekolah. Dan dia tidak masalah diajak ke sekolah lamanya. Tapi anak saya meminta agar saya menemaninya, dan saya bilang saya janji. Sekolah mengatakan bahwa saya dapat menemaninya di kelas selama 2 minggu
    saja. OK saya coba, dan yakin insya Allah ananda bisa dalam 2 minggu berani.

    Hari pertama saya ikut duduk menemani ananda di dalam kelas. Sepulang sekolah dia sangat riang, karena dia merasa senang dengan kegiatan di sekolah. Yang menggembirakan hati saya, di hari kedua anak saya sudah membiarkan saya duduk di perpustakaan, yang mana bersebelahan ruangan dengan tempat ia beraktivitas.

    (Mungkin) kesalahan yang terjadi adalah pada saat itu saya meminta izin untuk pulang sebentar, karena saya menyangka dia sudah merasa nyaman. Yang terjadi adalah dia malah jadi memegang baju saya terus, seperti takut saya akan pulang tanpa memberi tahu dia (mungkin dia teringat sewaktu di Kelompok Bermain dulu, saya pulang tanpa sepengetahuan dia).

    Hari ketiga (Rabu) anak saya terkena flu, sehingga tidak masuk sekolah hingga hari kelima (Jumat). Hari Senin anak saya masuk lagi tapi sudah tidak berani lagi jika tidak ditemani di sebelahnya. Hal ini berlanjut hingga hari Rabu, sampai akhirnya hari Rabu itu Bu Kepala Sekolah menyampaikan bahwa ini adalah hari terakhir saya boleh menemaninya di sekolah. Kebetulan hari Kamis libur karena ada rapat guru, dan hari Jumat adalah Iedul Adha. Sementara anak saya masih menginginkan saya ada di sampingnya. Bu Kepsek berkeras bahwa anak saya sudah 2 minggu ditemani ibunya di kelas, walaupun hari efektif ananda sekolah sebenarnya baru 5 hari (karena sakit dan libur rapat guru dan iedul adha)… Hari Senin depan ini saya hanya boleh mengantarkan ananda ke sekolah dan kemudian saya tinggalkan, dengan segala konsekuensi yang akan terjadi terhadap ananda. Alasan kepsek adalah keberadaan saya di kelas mengganggu guru dan murid2 lainnya.. Padahal saya tidak melihat perubahan atensi murid2 lain dengan keberadaan saya di dalam kelas. Tapi saya tidak tahu dengan gurunya, apakah terganggu atau tidak.

    Bu Sandra dan ibu2 yang mempunyai pengalaman sama dengan saya, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak ingin pengalaman tahun lalu terjadi lagi dengan ananda. Dan tahapan seperti ibu Ida berangsur-angsur meninggalkan anak belum terjadi sama sekali dengan anak saya. Dan kalau melihat kondisi anak saya hari ini yang belum berhasil memerangi rasa malunya, apakah mungkin dia ditinggal dengan ikhlas (tanpa menangis)? Saya khawatir bila ditinggal paksa senin depan ini bisa membuat ananda trauma lagi dengan sekolah? Sementara dia sangat suka dengan semua aktivitas di sekolah itu. Bu Sandra dan ibu2 lain, mohon advis nya ya.. terima kasih.

    O ya, untuk info, ananda Rahma adalah anak ketiga. anak pertama Zahra 8 tahun dan anak kedua Ihsan 6 tahun. Tangki kasih sayang sangat besar tercurah ke rahma, karena dia yang paling lama kuantitas waktunya berada dengan saya, karena kakak2nya usia 2 tahun sudah berani sekolah. Sementara Rahma, hingga usianya kini baru mulai mencoba sekolah.

    Wassalam,
    Evie

  45. Halo ibu Evie,
    Saya merasa prihatin membaca tulisan ibu dan merasa kasihan terhadap ananda Rahma.
    Usia 4 tahun 5 bulan sebenarnya anak sudah dapat merasa aman ditinggal di sekolah. namun tampaknya pengalaman terdahulu sangat berkesan diingatan ananda sehingga ia menjadi takut ditinggal.
    Memang benar, biasanya beberapa sekolah hanya menyediakan waktu 2 minggu untuk pembiasaan anak. Tapi jIka memang waktu efektifnya hanya 5 hari, ada baiknya ditambah, jika diperbolehkan. Karena faktor rasa kepercayaan bahwa ia tidak ditinggal tidak dapat dibiasakan dengan sangat cepat.
    Tapi jika sudah menjadi kebijaksanaan sekolah dan tidak dapat dinego lagi, maka kita yang harus memilih : terus dan memakai strategi lain atau keluar dari sekolah tersebut.
    Untuk pilihan pertama, saya akan membantu dengan saran sebagai berikut. pada dasarnya, anak telah mengalami suatu peristiwa yang menyebabkan ia menjadi tidak percaya dan rasa aman lagi sehingga perlu dilakukan perbaikan pada kedua aspek tsb. jadi yang perlu ibu lakukan adalah mengembalikan rasa aman dan rasa percayanya kembali.
    Selama waktu libur ini, ibu dapat mengajarkan anak bahwa jika ibu tidak ada tidak berarti ibu tidak ada, ibu pasti akan datang untuk menjemput atau menemuimu lagi. berikut ini contoh yang dapat ibu praktekkan, tapi ibu juga bisa mengajarkan dengan cara yang lain tergantung pada situasi ibu.
    Ajak anak di wahana permainan semacam alfazone atau mandi bola atau tempat permainan yang biasanya disediakan di mall untuk tempat anak bermain sembari menunggu orangtua berbelanja. katakan pada anak bahwa orang dewasa tidak dapat ikut masuk jika anak telah mampu bermain sendiri dan katakan bahwa ibu akan menunggu sambil duduk ditempat yang telah ditunjuk. sebelum anak memulai permainan katakan bahwa setelah bermain anak pasti akan merasa haus/lapar. nah, ibu akan pergi membeli makanan kesukaan anak/pesanan anak, tapi tentu saja jika ibu akan pergi membeli, ibu akan pamit dulu dan akan segera kembali.
    Katakan pula, bahwa ibu percaya kepada ananda Rahma bahwa ananda merupakan anak yang pemberani dan pandai karena ananda paham kemana bunda pergi dan mengerti bahwa bunda pasti akan segera kembali.
    ulangi prosedur yang sama untuk kegiatan yang lain. Harapannya, anak dapat memahami prinsip bahwa jika ibu pergi, ibu pasti akan datang menjemput. . .
    kegiatan diatas hanya contoh yang dapat dilakukan, namun saya tidak mengetahui kondisi ibu. jadi ibu perlu melakukan penyesuaian. yang terpenting adalah prinsip bahwa anak paham bahwa janji ibu pasti akan ditepati.

    Salam hangat penuh cinta untuk ibu dan ananda Rahma

  46. Terima kasih Bu Sandra atas sarannya, akan saya coba untuk melatih kepercayaan Rahma..

    Bu Sandra, saya ingin menceritakan apa yang terjadi akhirnya di hari Senin kemarin:

    Pada hari Rabu lalu sewaktu Bu Kepsek berbicara dengan saya ttg batas waktu menemani Rahma, Rahma duduk di pangkuan saya, karena ananda tidak mau diminta bermain dengan bu guru, ataupun bermain bersama teman2nya. Dia mendengar semua pembicaraan mengenai ananda dan peraturan2 sekolah dari Kepsek.

    Hari Senin kemarin, karena sdh tau bahwa saya tidak boleh menemaninya lagi, sesudah mandi, ananda tidak mau menggunakan baju seragam sekolahnya, dan menangis mengatakan tidak mau sekolah. Saya tidak mungkin memaksa Rahma untuk pergi sekolah dalam kondisi seperti itu kan Bu? Wah, wah Bu Sandra,… sekarang saya yang semakin bingung……

    Tampaknya inti masalah Rahma adalah dia belum berani berada sendiri di lingkungan yang banyak orang… Buktinya tadi malam Bu Guru kelasnya (bukan Kepsek) menelepon Rahma, Rahma menjawab semua pertanyaan guru dengan riang. Tapi kalau ditanya guru di sekolah, Rahma hanya menunduk malu2, tidak berani menjawab. Di sekolah dia juga belum punya teman. Tapi di rumah dia sangat suka menyebut2 teman2nya di sekolah kepada kakak2 dan ayahnya. Tampaknya dia bangga dengan teman2nya, tapi tidak mampu untuk bergabung. Kalau bermain di playground di mall, Rahma juga hanya berani bermain jika tidak ada anak2 lain yang bermain di play ground tsb…

    Apa strategi saya dan bu guru supaya Rahma mau saya ajak ke sekolah Bu? O ya, hari Rabu ini Bu Guru akan berkunjung ke rumah. Saran berikutnya dari Bu Sandra sangat saya nantikan. Terima kasih banyak Bu Sandra…

    Evie

  47. Halo ibu Evie,
    Jika hari Rabu guru Rahma hendak berkunjung ke rumah, itu sudah sangat bagus. Berdasarkan pengalaman saya, siswa saya yang juga tidak mau bersekolah, jadi mau bersekolah kembali dengan ceria setelah kami kunjungi di rumahnya. Kita lihat saja, bagaimana reaksi dari Rahma.
    Ibu, tampaknya Rahma sangat merasa tidak aman dengan lingkungan baru. Mungkin ini memang karakter Rahma yaitu butuh waktu agak lama untuk adaptasi atau mungkin juga rasa aman Rahma yang kurang. Saya tidak tahu yang mana. Teruslah mengisi tangki cinta si Rahma sehingga akan membangun rasa amannya.
    Mengenai bermain di mall, jika Rahma ditemani salah seorang kakaknya, apakah ia juga tidak mau ?

    Salam penuh cinta untuk ibu dan Rahma.

  48. Salam kenal Bu RAhma…
    sebenarnya ini masalah saudara saya…, mohon bantuannya…
    sikecil berusia 3,5 tahun dan sudah sekolah di kelompok bermain di kota malang dan beberapa hari ini sikecil menampakkan gejala-gejala yang tidak pernah terjadi seperti sering ngompol dan mogok pergi sekolah, setiap terlihat gerbang sekolah, sikecil selalu ketakutan dan tidak mau keluar dari mobil sampai-sampai harus dipaksa keluar…, dan usut punya usut ternyata sikecil takut sama ibu gurunya, dan memang ibu gurunya itu orang yang keras dan suka ngomong dengan nada tinggi, kata ibu guru pendamping, bahwa sikecil pernah di”beri omongan” dengan nada tinggi, entah itu marah atau apa, dan mama sikecil itu dimohon maklum dengan kondisi ibu guru itu karena memiliki masalah berat, namun bagaimana dengan kondisi sikecil Buk??apa nggak perlu dimaklumi juga???mengingat segala yang terjadi pada masa kecil adalah masa yang akan terekam terus sampai sikecil dewasa…, mohon sarannya Buk…,apa yang harus kita lakukan, apa perlu menghadap kepsek???dan kita udah pernah mencoba bicara dengan ibu guru sikecil tapi tanggapannya sungguh tidak bijaksana dengan mengatakan bahwa sikecil sering diolok-olok temannya karena sering menangis…,mohon tanggapan dan sarannya ya Buk dan terima kasih banyak…

  49. Halo ibu Kristy,
    Anak dari saudara ibu tampaknya sedang mengalami mogok sekolah. Berdasarkan gejala yang ibu sampaikan, anak tersebut telah mengalami ketakutan terhadap ibu gurunya. Masalah ini harus segera diatasi karena jika tidak, permasalahan ini akan mengakibatkan anak menjadi trauma terhadap sekolah. Banyak kasus yang saya tangani mengenai trauma sekolah, hanya berawal dari masalah kecil saja yang berbuntut panjang.
    langkah yang ibu lakukan dengan berbicara langsung dengan guru anak tersebut sudah tepat. namun jika tanggapan ibu guru tersebut demikian, sangatlah tidak bijaksana. Dalam dunia pendidikan, guru harus memiliki kemampuan untuk memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan mengajar, seberat apapun masalah pribadinya, karena masa depan seorang anak sangat terpengaruh oleh pengalaman masa kini. JIka memang sangat terpaksa, ibu dapat berdiskusi dengan kepala sekolah untuk menangani masalah ini.
    Jika ketakutan anak berkelanjutan walaupun guru telah bersikap lebih baik maka sebaiknya anak tersebut menjalani terapi. Ajaklah anak menemui terapis atau psikolog untuk membantu masalah ini.

    Salam hangat penuh cinta untuk anak saudara ibu Kristy

  50. thabks banget ya artikenya…memang kayaknya anak saya banyak masalah jadi mogok sekolah..pertama memang ada adik baru, dua saya lagi sekolah lagi dan taip 3 hari keluar kota, tapi kalo diajak bicara ttg sebab ga mau sekolah selalu diam, kalo ditanya ada yang nakal jawabnya ada ditanya bu guru galak jawabnya iya…. trus alasan perut sakit, pusing n tidak mau mandi pagi karena ga mau sekolah…dan anak saya memang sudah play grup taun kemaren dan sekarang memang dah pinter baca dan nuis itupun karena dia suka bacaan dibanding temannya dia dah pinter mbaca walo saya ga maksa dia pasti tiap hari ambil buku trus dibaca…..
    akhirnya saya mungkin tenangkan anak dulu biarkan ga masuk sekolah dulu mengginggat dia masih 5 tahun…. ga tega kalo dai merasa tertekan tiap kali mo berangkat…. thanks ya….atas smuanya

  51. Bu Sumarni, saya juga punya pengalaman yang hampir sama dengan Anda. Anak laki-laki saya, Rangga (5 th) sempat mogok lagi setelah liburan terlalu lama (lebaran – saya ajal pulang kampung + Galungan/Kuningan – karena kami tinggal di Bali). Kalau ditanya, kadang tidak mau menjawab, atau alasannya selalu berganti-ganti. Saya dan Ayahnya bergantian menunggui di dekat pintu kelas selama hampir 1 bulan karena dia menangis dan tidak mau masuk kelas kalau ditinggal.

    Setelah kami lihat tidak ada perkembangan, kami (saya dan ayahnya, serta guru kelasnya) sepakat untuk ‘memaksa’ meningalkan dia (tapi tetap menunggu di luar sekolah) dengan konsekuensi : Rangga bisa menyesuaikan diri – walau cukup lama, atau malah mogok terus. Saya sempat mengajukan usulan untuk stop dulu sekolah sementara, dan memilih home schooling. Ibu gurunya tidak menyarankan hal itu, karena akan harus mulai penyesuaian dari nol lagi. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan dia dengan sedikit “paksa”. Tapi seminggu sebelum hari “H” tiap hari dan hampir tiap waktu saya ingatkan bahwa mulai hari Senin Ibu atau Ayah tidak boleh lagi menunggui.

    Hari pertama dan kedua dia menangis dan menolak masuk kelas selama sekitar 30 menit pertama (tapi tetap didampingi salah satu ibu gurunya) dan setelah diajak bicara oleh gurunya, dia mau masuk dan beraktifitas.

    Hari ke 3 dan seterusnya sampai sekarang dia sudah biasa, walaupun memang tipe anak saya introvert dan kurang mau berpartisipasi di kelas. Tapi di rumah saya mengejar ‘ketertinggalannya’ dengan memberi latihan-latihan sendiri (kebetulan saya beekrja di bidang pendidikan juga).

    Saya sampai heran, hanya diperlukan kurang dari 1 minggu untuk Rangga untuk menyesuaikan diri… saya jadi berpikir, apakah kadang-kadang anak memang bisa ‘memanfaatkan’ ke-tidak tega-an orang tua (khususnya pada Ibu, karena ibu bekerja dan sibuk) walaupun sebenarnya dia merasa ‘fine’ saja kalau toh harus ditinggal, karena saya pikir usia 5 tahun adalah usia anak harus sekolah. (Apalagi anak saya tidak saya masukkan ke Play group, tapi langsuk TK).

    Semoga pengalaman saya bisa menjadi bahan pertimbangan, walaupun saya tau, setiap anak akan bereaksi berbeda.
    Good luck Ibu Sumarni….

  52. Halo ibu Reny,
    Memang benar, terkadang anak dapat menggunakan ketidaktegaan kita terhadap dirinya, agar ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
    Seperti yang sudah saya tuliskan diatas, tindakan tegas dengan meninggalkan anak dengan paksa, dapat dilakukan jika sebenarnya anak sudah memiliki kepercayaan terhadap salah seorang guru atau lingkungan sekolahnya. Bagaimana kita bisa tahu itu ? Dari pengamatan terhadap perilaku anak. BIasanya guru tahu mana murid yang masih belum percaya dan murid yang “memanfaatkan” ketidaktegaan dari orangtua.

    Terima kasih untuk sharingnya, sangat membantu para orangtua yang memiliki anak mogok sekolah.
    Mari tetap berbagi !

  53. Anak kedua saya mau berumur 4 tahun, tapi dia belum menunjukkan keinginan untuk bersekolah, sedangkan kakaknya 6 tahun sudah punya keinginan bersekolah sejak 2 tahun. Bagaimana ya bu membujuknya agar ia mau bersekolah.

  54. Halo Ibu Lilik Wijaya,

    Keinginan anak untuk bersekolah memang bervariasi antara anak satu dengan lainnya. Untuk membantu anak kedua anda berminat terhadap sekolah, anda dapat mengenalkan beberapa aktivitas yang biasanya dilakukan di sekolah. PEngenalan aktivitas ini dilakukan secara nyata, bukan verbal. Berikut ini contoh yang dapat anda lakukan.
    Kumpulkan seluruh anggota keluarga dan lakukan aktivitas bersama secara diam-diam, tanpa memberitahu anak kedua anda (prakarya untuk anak TK) misalnya menjiplak tangan dengan cat air, mewarnai bersama gambar (mintalah saran kegiatan yang dapat dilakukan di rumah pada guru kakak atau carilah di buku-buku anak). JIka ditengah kegiatan, anak kedua anda tertarik untuk gabung, terimalah. Kemudian di sela-sela kegiatan, katakan : “Kalau disekolah, adik bisa melakukan dengan lebih asyik lagi. Banyak peralatan dan mainan disana. Di rumah hanya terbatas saja.”. Ceritakan hal-hal menyenangkan mengenai kegiatan sekolah (kaitkan dengan kegemaran anak).
    Ajak pula anak anda untuk berkunjung di sekolah. Kenalkan dengan guru dan permainan yang ada disana.

    Selamat mencoba.

  55. Ass….anakku yg kedua (5thn,TK A),sdh beberapa hari jg mogok sekolah.
    tapi yang cukup mengherankan,kalau di sekolah dia terlihat enjoy2 saja,bahkan selalu ingin dijemput telat karena ingin bermain dulu di sekolah.
    Mogok sekarang adalah mogok sekolah yang kedua kalinya,dengan alasan bosan…dia mau sekolah, dengan syarat, tidak mau belajar di kelas,tapi hanya bermain-main saja…
    Gmn ya bu?ada saran?karna hal yang membingungkan saya,dari rumah tidak mau sekolah,tapi setelah dirayu dan berhasil pergi k sekolah, dia terlihat enjoy dengan sekolahnya..
    thx b4…

    Wsslm,
    Santo

  56. Halo ibu Santi,

    Hahaha…. saya jadi tertawa geli membayangkan kejadian sesungguhnya.
    Saya pernah mengalami hal serupa dengan murid saya. Kejadiannya persis sama dengan kasus anak ibu.
    Setelah diusut, memang ada masalah dengan dirinya sehingga ia cenderung enggan untuk belajar. Coba ibu tanyakan mengapa dia tidak mau belajar di sekolah dan mengapa ia lebih suka bermain di sekolah ? Dari jawaban yang diberikan, baru kita bisa mencari solusi untuk dirinya.

    Selamat mencoba ibu.

  57. Ass..Selamat Siang,
    Keponakan saya 10 thn kelas 5 SD, sudah 2 mingguan lebih tidak mau sekolah. Dia tidak pernah mau mengatakan apa masalah sebenarnya.
    Pernah suatu kali dia bilang karena teman2 yang nakal, pernah juga dia bilang karena melihat ‘penampakan’ di kelasnya.
    Tetapi saya pikir itu mungkin hanya 25-35 %, selebihnya mungkin disebabkan ada kejadian yang membuat dia trauma dan tidak berani mengatakannya pada siapapun.
    orangtuanya sudah membawa dan berkonsultasi ke beberapa psikolog dan konselor hipnoparenting, tetapi tetap tidak menemukan penyebab utamanya.Dan sang anak sekarang sepertinya sudah tidak mau untuk diajak berkonsultasi.
    Kedua orang tuanya bekerja sejak dia masih bayi.
    Bgmn ya Bu? Mohon sarannya.
    Terima kasih, wassalam.

  58. Wass…
    Halo Tante Hertri yang sayang pada ponakan.

    Anak mogok sekolah, pasti memiliki penyebabnya. Penyebabnya ini yang perlu diketahui terlebih dahulu sehingga akan lebih mudah untuk mencari solusinya.
    Tapi, jika memang telah diajak untuk berkonsultasi pada beberapa ahli namun belum menemukan penyebab, maka untuk sementara waktu anak dibiarkan terlebih dahulu. Sambil menunggu masa penantian ini, saran saya, ada baiknya orangtua mengambil cuti untuk libur bersama atau jika tidak memungkinkan, ambil waktu untuk melakukan kegiatan bersama. Coba isi tangki cinta si anak. Dengan harapan, anak akan mau lebih terbuka kepada orangtuanya dan melepaskan sedikit rasa tegang yang ada dalam diri anak.
    Ada kemungkinan, si anak takut untuk berterus terang karena khawatir dapat membuat orangtua menjadi lebih cemas, atau sedih dll. Atau mungkin komunikasi antara orangtua dan anak yang perlu diperbaiki sehingga ada rasa saling percaya diantara keduanya.

    Selamat mencoba, tante yang baik hati.

  59. Dear Bu Sandra,

    Saya baru bergabung n kebetulan saya mengalami juga kasus spt ini. Anak saya masih pra-TK umur 4 thn kurang 2bln, jadi tiap pagi anak saya mengeluh tdk mau sekolah, dia katakan ada gurunya yg mukulin dia, pdhal setelah saya cek ternyata kata gurunya dia tdk pernah melakukan hal tsb (sy tdk tau apakah gurunya berbohong atau tdk tp di kelasnya slalu ada 2 guru yg mengajar), pertnyaan sy mungkinkah anak umur segitu sudah bisa berbohong atau mengarang crita misalkan dia menggunakan kejadian yg dia pernah lihat dan menceritakan kembali itu sbg kejadian yg dia alami sbg alasan agar tdk bersekolah?
    krn memang anak sy tidurnya malam sekali shg paginya dia malas bangun.

    Sebelumnya, terima kasih atas perhatian dan jawabannya…

    Salam hangat,
    Vini

  60. Halo ibu Vini,

    Seorang anak mampu berbohong atau tidak tergantung pada kondisi lingkungannya. Pertama, Jika anak merasa tidak aman maka ia akan berusaha untuk berbohong untuk melindungi dirinya sendiri. Kedua, imajinasi anak masih sangat tinggi sehingga terkadang ia tidak dapat membedakan riil dan tidak riil.

    Ada kemungkinan jam tidur yang terlalu malam dapat menyebabkan anak malas bersekolah. Jika demikian, ibu perlu menggeser jadwal tidur malam dia. Jika mogok sekolah bukan disebabkan oleh jam tidur maka kita perlu mencari penyebab lainnya.

    Salam hangat penuh cinta untuk ibu sekeluarga

  61. dear Bu Sandra,

    saya punya 2 anak laki-laki yang beda umur hanya setahun (menjelang 4th dan 3th). awal tahun 2010 ini mereka sempat masuk kelompok bermain di dekat rumah. awalnya berjalan lancar, tapi ketika sudah satu bulan si kakak mogok sementara adiknya masih mau sekolah. satu bulan kemudian adiknya ikutan mogok. tiga bulan yang lalu kami pindah ke komplek baru, mereka masih belum mau sekolah. minggu yang lalu tiba2 mereka minta sekolah dan selama 1 minggu di sekolah yang baru dekat rumah yang baru mereka mau sekolah tanpa ditunggu mamanya atau pembantu. tiba-tiba hari ini mereka begitu sampai di sekolah tidak mau masuk dan minta pulang ke rumah. waktu ditanya alasannya takut bu guru. waktu di sekolah yang lama, si kakak sampai muntah kalau diajak ke sekolah untuk jemput atau antar adiknya, bahkan pernah ibu gurunya mau datang ke rumah, baru dengar di telpon saja langsung muntah. apa yang harus saya lakukan sebagai orang tua ya Bu Sandra, apakah ada trauma yang telah dialami anak saya terutama yang besar,karena kalau adiknya hanya ikut-ikut kakaknya.
    terima kasih sebelumnya…..
    salam,
    rini

  62. Halo ibu Rini,

    Saya menjadi merasa sedih ketika mengetahui ada satu lagi anak yang tidak mau sekolah. Jika membaca gejala yang ibu sampaikan yaitu tidak mau sekolah, takut dan muntah ketika akan ke sekolah tampaknya memang ada kejadian emosional di sekolah yang membuat kakak menjadi tidak mau sekolah.

    Yang dapat ibu lakukan adalah menetralisir emosi negatif itu dengan memberikan kakak pengalaman menyenangkan mengenai sekolah sehingga emosi negatif itu akan bertumpuk dengan emosi positif dan diharapkan akan menghilang. namun usaha ini butuh waktu dan energi. Minta juga kerjasama dengan guru sekolah yang memang peduli dengan kakak.

    atau Ibu dapat menggunakan EFT (emotional Freedom Technique) yang ada di buku Hypnoparenting karangan bapak Ariesandi.

    Apakah ada trauma atau tidak ?
    Ibu dapat menyimpulkan dari cerita kakak mengenai kejadian yang menyebabkan ia takut dan intensitas emosi yang menyertai ceritanya. Jika kakak belum cerita, ibu dapat memancingnya dengan memberikan cerita bergambar yang berkaitan dengan sekolah. Atau ajak kakak menggambar. Biarkan ia cerita mengenai gambar yang ia lihat atau buat. Dari situ biasanya akan keluar hal-hal yang tidak ia sukai atau ia sukai.

    Jika trauma memang benar-benar mengganggu, ibu dapat mendatangi psikolog atau hipnoterapis untuk menetralisir. Ini cara yang lebih cepat

    Semoga kakak dapat menjadi anak yang ceria kembali ya.

    Salam hangat penuh cinta untuk kakak dan ibu

  63. Dear Ibu Sandra yang baik,

    anak saya Faris, (3 th 9 bln) sudah 2 minggu ini mogok sekolah.
    Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat sekolah (sejak berumur 2.5 thn Faris bersekolah di sebuah PAUD dekat rumah dan tergabung di Kelompok Bermain).

    Setelah liburan sekolah tahun ini ternyata teman-teman di KB-nya dulu banyak yang pindah ke TK lain. Sempat saya tawarkan Faris untuk pindah ke TK tempat teman lamanya sekarang bersekolah (kelompok A)tapi ia menolak.

    Sekitar semingguan Faris bersekolah di PAUD yang lama. Tetapi kemudian tiba-tiba ia enggan berangkat ke sekolah. Alasannya kepalanya panas. Karena suhu tubuhnya memang agak tinggi, maka saya ijinkan tidak berangkat. Tetapi 2 hari kemudian setelah sembuh, Faris masih menolak bersekolah. Alasannya sakit perut, dan itu berlanjut sampai keesokan harinya.

    Saya berusaha mengkorek-korek penyebabnya dari Faris, tapi jawabannya tidak jelas. Saya pun sempat berkonsultasi dengan guru di PAUD-nya tentang kemungkinan penyebab Faris jadi enggan sekolah. Tetapi gurunya menjawab tidak tahu.

    Keesokan harinya gurunya mengirim SMS kemungkinan Faris enggan sekolah karena teman-temannya banyak yang pindah, ia pun menyarankan Faris untuk pindah. Tak lama kemudian menyusul SMS lainnya memberitahukan bahwa PAUD-nya ditutup karena kekurangan murid.

    Saya pun mulai mencari TK pengganti untuk Faris. Tetapi Faris tetap menunjukkan keengganan bersekolah. Saya ajak dia untuk melihat TK baru teman-temannya, mungkin dia tertarik. Tapi Faris tetap menolak untuk masuk ke pagar TK baru itu.

    Keesokan harinya, sambil dirayu-rayu saya coba lagi ajak ke TK baru itu. Faris sudah mulai masuk ke halaman TK . Sementara saya bicara dengan guru di situ, Faris mau bermain dengan anak-anak lain. Setelah lonceng berbunyi Faris mau bersalaman dengan ibu gurudan berpamitan.

    Tetapi setiap saya tanya Faris mau bersekolah di situ (saya gunakan istilah “sekolah keren”) atau tidak, dia tetap menjawab tidak mau sekolah. Padahal waktu saya tanya senang tidak bermain di situ, dia jawab senang. Dia juga antusias bercerita tentang mainan yang ada di situ.

    Keesokan harinya saya ajak lagi ke TK itu, Faris mau bermain, tetapi tetap tidak mau sekolah.

    Di rumah sempat saya ajak bermain peran (dengan boneka), waktu saya tanya faris mau kemana, dia jawab “ke sekolah keren”. Dan cerita tentang sekolah keren berlanjut. Saat itu saya pikir Faris antusias untuk bersekolah lagi.

    Tetapi tadi pagi, Faris menolak waktu disuruh sekolah. Waktu saya pakai istilah main di sekolah keren-pun dia menolak. Setelah saya rayu, saya janjikan saya yang akan mengantarnya ke sekolah (sebelum berangkat kerja), akhirnya ia mau berangkat. Tetapi kira-kira 100m dari pagar sekolah dia menangis dia bilang, “aku ga mau sekolah bunda”. Akhirnya kita pulang lagi.

    Saya jadi bingung, apa yang harus saya lakukan? Mau dipaksa, saya kasihan dan takutnya malah jadi trauma sekolah. Sempat kepikiran untuk mengistirahatkannya dari sekolah dulu, tapi ada terbersit takut keterusan tidak mau sekolah.

    Maaf ya Bu, kalau ceritanya kepanjangan… 🙂

    salam,

    sasti

  64. Ibu Sandra yang baik,

    barusan saya dapat info dari pengasuh anak saya, tadi sempat tercetus dari Faris kalau dia tidak mau sekolah karena takut diomelin Ibu guru.
    kesimpulan saya Faris tiba-tiba tidak mau sekolah karena trauma dimarahi guru sekolah lamanya.

    Aduh Ibu, saya makin takut dan bingung…apa yang harus saya lakukan?

    terima kasih banyak ya bu…

    salam,

    sasti

  65. Halo Ibu Sasti,

    Pendekatan yang ibu lakukan kepada Faris sudah sangat baik.

    Jika memang akar masalah Faris enggan untuk sekolah karena Faris mengalami rasa takut diomeli gurunya maka yang perlu kita lakukan adalah mendapatkan kepercayaan dari Faris bahwa tidak semua guru suka mengomel. Guru mengomel pasti memiliki alasan, sama seperti Bunda yang terkadang juga marah kepada Faris.

    Jika memungkinkan, mintalah tolong kepada guru baru Faris untuk membangun kepercayaan Faris kepada dirinya. Cara yang dilakukan bisa dengan mengajak Faris bermain atau bercerita.
    Saya memiliki pengalaman dengan siswa saya yang menangis histeris karena ditinggal orangtuanya di sekolah. Padahal, menurut pengamatan saya, anak ini sebenarnya sudah nyaman dengan lingkungan sekolah namun masih enggan ditinggal orangtuanya. Jadi, saya khususkan 1 hari untuk menemani anak ini bermain, bercerita dan berjalan-jalan di sekolah. Saya pancing-pancing dia supaya dia mau lebih dekat dan percaya kepada saya. kemudian saya mulai baurkan dia dengan teman-temannya. Alhasil, anak ini lebih mudah ditinggal disekolah keesokan harinya dibandingkan hari sebelumnya.

    Semoga kepercayaan Faris cepat pulih ya Bunda.

    Salam hangat penuh cinta untuk Faris

  66. Terima kasih Ibu Sandra atas sarannya.

    Semalam saya ngobrol sama Faris, sambil lalu saya coba korek-korek lagi. Faris bilang katanya habis dicubit bu guru. Haduuuh, saya lemes mendengarnya. Saya yang melahirkannya saja tidak pernah seujung kukupun nyakitin dia (kalau marah biasanya saya beri hukuman seperti tidak memperbolehkannya main mainan favoritnya untuk beberapa saat).

    Akhirnya kami putuskan beberapa hari ini tidak akan menyinggung masalah sekolah dengan Faris. Setelah itu saya akan mencoba meng-approach-nya lagi.

    Mudah-mudahan tak lama lagi Faris semangat lagi sekolah.

    Terima kasih banyak ya bu Sandra… 🙂

  67. Ibu Sandra yang baik,

    Anak saya namanya Raffi baru beberapa minggu memulai sekolah di TK A. Pada hari pertama masuk sekolah di temanin sama saya, pada hari ke dua tidak ditemani dan tidak sedikitpun ada tangisan dan rengean, pada hari ke tiga sampai saat ini raffi tidak mau baris dan tidak mau masuk kelas melainkan dia lari ke depan masjid, kebetulan sekolahnya dekat masjid, setelah di bujuk sama gurunya dia baru mau masuk kelas dan juga mengajak saya masuk.

    Hampir 2 minggu saya menemaninya di kelas, di dalam kelaspun dia tidak mau mengikuti pelajaran seperti mewarnai, menebalkan huruf atau angka, tetapi hanya main dan mondar mandir saja.
    Mulai senin kemarin saya tidak menemaninya saya hanya antar dia smp pintu kelasnya saja, waduh….waduh…bu…nangisnya kedengaran smp semua kelas, dia tendang-tendang pintu sambil teriak – teriak aku…mau….sama…mama…..aku mau mama……..begitu setiap hari selama tidak saya temanin.
    Dan setiap pulang sekolah saya selalu menanyakan pd gurunya tentang perkembangan raffi, ibu gurunya selalu bilang raffi belum mau disuruh masih senang main. Kalau saya tanya atau ayahnya tanya kenapa tidak mau baris? katanya bosen…di tanya kenapa tidak mau masuk kelas? katanya aku mau sama mama……kenapa mau sama mama kata ayahnya…ya aku mau sama mama….jawabannya selalu itu – itu saja.

    Bagaimana ya bu memberi pengertian pd anak saya. oh ya bu dan dia selalu bersemangat kalau mau sekolah.

  68. Selamat malam ibu Yanti,

    Berdasarkan informasi yang ibu berikan tampaknya Raffi memang hanya ingin bersama ibu. Jika memang demikian, kerbersamaan ibu dengan Raffi perlu ditambah. Coba ajak Raffi bermain lebih lama dari biasanya, hanya berdua. Kemudian minta Raffi untuk menceritakan pengalaman bersama ibu kepada gurunya.
    Selain itu, untuk sementara waktu, minta tolonglah kepada ibu guru untuk bersedia memperhatikan Raffi dengan banyak mengajaknya bercakap-cakap atau memberikan Raffi kesempatan untuk membantu ibu guru di kelas sehingga Raffi merasa lebih nyaman.

    Selamat mencoba ibu Yanti

  69. Dear ibu Sandra yang baik..
    anak saya yang bungsu usia 5 tahun 10 bulan sekarang dia sekolah SD. hari pertama masuk sekolah dia tidak ada masalah, tapi satu minggu berikutnya selalu kalo mau berangkat kita harus merayu dulu, dan kalo sudah sampai sekolah dia tidak mau masuk kelas, akhirnya oleh gurunya di paksa masuk ke kelas. tapi anak saya hanya bermasalah waktu pagi saja,kalo kita jemput waktu pulang dia malah asyik bermain dengan teman2nya. dan di rumah pun dia semangat mengerjakan pr dan cerita tentang asyiknya di sekolah. saya tanyakan ke gurunya pun di kelas dia juga tidak ada masalah .saya sampai malu ke wali murid yang lain karena tiap hari dia di oaksa masuk kelas dan nangis {meskipun nangisnya cuma sebentar} terkadang saya terpaksa janjikan dia beli mainan kalo mau masuk kelas,dan ternyata itupun tidak membuat dia berubah.. apa yang harus saya lakukan bu?

  70. Hai ibu Ummu Fatih,

    Coba ibu tanyakan ke anak ibu, mengapa dia enggan masuk kelas di pagi hari. Umur anak ibu sudah sangat memungkinkan untuk ditanya.

    Dugaan saya, ada kemungkinan ia masih terlalu kecil. Suasana kelas yang ia hadapi ketika TK dan SD sangat berbeda. Di TK, masih banyak pelajaran bernyanyi, menggambar dan bercerita + masih tidak ketat dalam pelajaran. Sedangkan di SD, ia diharapkan sudah dapat duduk diam mendengarkan guru. Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, coba ditanya anak ibu.

    Salam hangat penuh cinta untuk Ibu Ummu Fatih

  71. ….Saya senang membaca comment2 para ibu di atas…..karna saya juga pernah mengalami hal yang sama…pada saat anak saya masuk TK-B…tahun lalu…..bahkan anak saya,samapai terkenal dengan suara besarnya…ha..ha..ha..(apalagi anak saya badannya gede,lbh gede dari anak seumurnya).Waktu itu…hampir 2 minggu berturut2 saya tungguin di sekolah…tiap sampai di sekolah, mengalami muntah2..padahal kondisinya sehat…….harus di lihat di depan pintu kelas…..bahkan kalau pintu kelas di tutup sama gurunya…dia akan menjerit histeris…..tapi seiring berjalannya waktu….bisa semua terlewati…dan harus ada kerjasama dari kita orangtua dengan gurunya…..dan harus sabar.Jadi mungkin intinya….hal itu wajar2 saja untuk anak baru masuk sekolah…gak semua anak langsung stand bay, ada kalanya mengalami hal2 seperti yang kita alami……..ok ..untuk para ibu……mg kita dapat menjadi ibu yang sabar…dan boleh melakukan yang terbaik untuk anak2 kita……..Salam…..Ema..

  72. Dear ibu Sandra
    salam kenal…
    Anak saya pertama bernama arya, usianya 3.8 tahun. sekarang ia bersekolah di TK A. Awalnya anak saya berani sekolah. tetapi itu hanya bertahan beberapa hari. setelah itu mogok..saat mulai mogok kami pun sempat tanya ke arya, dia menjawab mau pindah sama ibu guu yang baru. kami pun akhirnya bertemu suster kepala untuk dipindahkan. dan beliau mengabulkan. dia pun mau sekolah. dan itu pun hanya bertahan beberapa hari dan entah kenapa kembali arya mogok sekolah hingga saat ini. Untuk berangkat sekolah arya tidak masalah. artinya dia tetap berangkat sekolah. tetapi saat sudah akan ditinggal ibunya sudah mulai nangis.dan kalau pun sudah di dalam kelas arya tak mengikuti pelajaran atau aktivitas di kelas. hanya diam dan sibuk sendiri. terkadang muntah tanpa sebab. hal ini berbeda saat berada rumah dimana ia gemar beraktivitas dengan adiknya arista. Mulai dari mewarnai, main komputer, dan lain-lain. Untuk mengatasi itu kami coba menanyakan mengapa dia tidak mau sekolah. arya hanya diam dan tak mau menjawab. bahkan sempat kami coba dengan sistem reward ( misalnya, diajak jalan-jalan) and punishment (dikurung di kamar mandi), dibujuk, itu pun tak menyelesaikan masalah. hebatnya lagi, pada saat di rumah,arya bilang mau sekolah dan mau pinter dan nggak nangis. tetapi pas di sekolah dia malah bilang aku nggak mau pinter, mau nangis ajah… dan nangis deh.. Kami coba dengan saat sekolah ditemani ibunya mulai dari dalam kelas, kemudian mundur menjauh sedikit demi sedikit, dan hasilnya makin nangis. mohon pencerahan ibu. karena terkadang saya kasihan dengan ibunya anak-anak. terima kasih ibu. dan GBU

  73. dear, ibu sandra.

    anak saya bernama velicia . saya sudah membaca sebagian cerita ibu-obu yang lain . tetapi saya sendiri masih binggung dengan perilaku anak saya . anak saya berumur 3 tahun dia baru saya masukkan ke playgroup. dihari pertama yang biasanya anak” menangis dia malah enjoy sekali dengan mainan di kelasnya . bahkan sesekali dia melambaikan tanggan kepada saya. dan 4 hari berikutnya dia sudah bisa ditinggal sendiri. tetapi pada hari yang ke-5 saat dia pulang dia mennggis keras sekali. lalu gurunya menanyakan pada saya apakah dia sakit karena setelah 15 menit dia masuk sekolah dia menanggis terus sampai waktu pulang sekolah padahal di kelas dia sama sekali tidak berantem dengan temannya, saya bilang dia tidak sakit .

    sepulang sekolah saya tanya ” kenapa km menanggis ?” dia menjawab klo ” dia mau sama mommy ” saya kasih pengertian sama dia klo mommy tunggu diluar nanti klo sudah selesai sekolah kamu pasti bisa sama mommy lg. dan kejadian ini berlangsung sampai sekarang kurang lebih sudah 5 kali sekolah ( 1 minggu = 3 kali ) tapi dia masih menagis dari awal masuk sampai pulang.

    ibu sandra saya binggung sekali , apalagi yang mesti saya lakukan karena setiap hari pun dia selalu bersama – sama dengan saya, karerna saya yang mengurus dia mulai kecil sendiri . saya selalu mencoba berbagai cara supaya dia mau pergi kesekolah . tapi tidak ada yang berhasil. klo saya ajak dia bicara berdua saat dia sedang bermain mengenai sekolahnya dia selalu terlihat sedih dan mulai mencari percakapan yang lain . dia tidak suka klo saya membicarakan tentang sekolahnya.

    saya dan suami saya sepakat karena dia masih harus sekolah 3 hari kedepan dan setelah ini mau liburan panjang , saya memutuskan klo dia sekolah ditemani grandma nya di kelas , dengan pertimbangan supaya dia tidak ” trauma “. ibu sandra cara apa yang baik untuk saya lakukan karena hal ini benar” membuat saya dan suami sangat tertekan, karena klo dirumah dan diluar rumah dia adalah anak yang ceria dan pemberani….???

    saya dan suami sedang merencanakan untuk mulai membatsi kebersamaan saya bersama anak, dia sekarang tidak lagi tidur dengan saya tapi dia tidur dengan grandma nya … dan setelah liburan nati saya berencana untuk meninggalkan dia di kelasnya sendiri , tidak lagi ditungguin di dalam kelas…. dengan harapan dia akan berhenti menagis dengan sendirinya. bu sandra … mohon masukkanya …. TERIMA KASIH

  74. Halo Pak Bimo, salam kenal juga.

    Berdasarkan cerita bapak, tampaknya bapak sudah melakukan segala upaya yang bisa bapak lakukan. Saya hanya akan menambahi beberapa hal saja.

    Jika bapak menanyai Bimo, gunakan pertanyaan yang dijawab dengan ya atau tidak. Misalnya : Apakah Bimo tidak suka sekolah ? Apakah di sekolah ada teman yang tidak disukai Bimo ? dll
    terkadang anak menjawab tidak tahu bukan karena mereka tidak tahu benaran tapi karena mereka tidak dapat menemukan penyebab yang mereka rasakan. Jadi kita perlu membimbingnya dengan memberikan pertanyaan.

    Selain itu, keengganan Bimo untuk sekolah mungkin juga karena kosongnya tangki cinta Bimo. Coba bapak luangkan waktu untuk bermain atau pergi berdua saja dengan Bimo. Kemudian gantian, ibu dengan Bimo saja. Buat kegiatan bersama yang berkualitas.

    Terakhir, apakah ada sesuatu yang berubah di rumah ? atau salah satu diantara bapak atau ibu sedang mengalami masalah ? Biasanya anak-anak dapat menangkap getaran kegelisahan dari orangtua sehingga mereka agak “rewel”.

    Selamat mencoba.
    Saya tunggu kabar baiknya,

  75. Halo ibu Sienny

    Anak menangis pasti memiliki sebab karena anak-anak masih jujur. Mereka menggunakan tangisan untuk menyatakan perasaan mereka.

    Adakah kemungkinan Velicia mengimitasi perilaku temannya yang menangis karena ditinggal orangtuanya ?
    Karena anak seusia itu, biasanya memiliki kemampuan empati yang tinggi sehingga mudah ikutan menangis.

    Dari jawaban Vellicia yang ingin bersama mommy maka perlu ibu coba tapi bukan menemani di kelas. Ajak Velicia bermain berdua saja dengan ibu atau pergi berdua, tanpa suster ataupun grandma ataupun daddy.
    Atau bermain dengan daddy, hanya berdua saja.

    Selain grandma yang menemani di kelas, coba dekatkan Velicia dengan salah satu guru supaya ia nyaman.

    Kebersamaan ibu dengan Velicia tidak perlu dibatasi. Jika sudah waktunya, ia akan lepas dengan sendirinya karena Velicia masih 3 tahun. Untuk masalah tidur, saya setuju jika memang hendak dibiasakan untuk tidur sendiri atau bersama grandma.

    Setelah libur, ibu perlu melihat kondisi Velicia. Jika ia sudah mampu melupakan “hal” yang membuat ia cemas, silahkan ibu tinggal. tapi jika belum, mungkin masih perlu ditemani dulu.

    Gunakan yes no questions untuk menanyai Velicia mengenai keengganannya sekolah.

    Salam untuk Velicia

  76. Dear ibu2 sekalian,

    Saya mau sharing pengalaman saya juga. Semoga membantu. Anak saya sekarang umur 2 tahun 9 bulan. Juga baru saja masuk sekolah. Saya cuma menemaninya 2 hari, setelah itu tidak pernah menemaninya lagi. Dan tidak ada masalah. Dia tidak menangis. Karena sejak dari usia sebelum 2 tahun, dia selalu saya ikutkan Sekolah Minggu (sekolah khusus untuk anak2 di gereja setiap hari Minggu). Memang di Sekolah MInggu dia selalu ditemani, sampai usia 2 tahun lebih sedikit dia sudah bisa ditinggal. Jadi mungkin bisa cari cara untuk bawa anak2 main dengan teman2 yang lain, mis dengan tetangga atau ke rumah teman lain yang memiliki anak kecil. kalo sdh terbiasa, coba ditinggal sendiri. Situasi ini menyiapkan anak untuk mandiri sebelum dia masuk masa sekolah.

    kebetulan juga, ada 2 teman saya yang senang dengan anak saya dan suka bermain dengan dia. dia pangil teman saya aunty (dia tidak punya anak), dan satunya lagi oma (tidak punya cucu). dan awal2 waktu anak saya ke Sekolah Minggu, mereka bergantian yang membantu saya untuk menjaga anak saya. Dan memang anak saya juga dekat dengan mereka. Selain mereka, dia juga biasa bermain2 dengan guru2 Sekolah Minggu di gereja. Saya pikir hal ini bagus, karena juga menyiapkan anak saya untuk bisa dekat dengan orang lain selain orang tuanya. Ini juga yang mempermudah dia untuk cepat beradaptasi dengan guru2nya di sekolah.

    Mungkin ibu2 bisa usahakan untuk mengenalkan anak dengan orang2 lain yang bisa dekat dengan mereka. Anak saya sendiri sangat dekat dengan saya, dan saya yang menjaga dia sejak dari lahir, tidak ada bantuan orang lain. Kami juga tidak punya pembantu. Tapi situasi2 di atas tadi menolong dia utk cepat mandiri dan tdk terlalu bergantung ke ortunya.

    selamat mencoba.

    salam,
    ibu natalia

  77. Dear Ibu Sandra,

    Saya juga sedang mengalami hal yang sama, anak laki-laki saya sedang mogok sekolah. Umurnya 4.5 th, kelas TK A.
    Awal sekolah secara bertahap ditemani di dalam kelas, lalu di luar kelas, dan akhirnya ditinggal pulang secara sukarela.
    Sesudah beberapa lama masuk sekolah, dan libur lebaran, dia masuk sekolah spt biasa mau ditinggal. Sesudah 3 hari msk sekolah suatu hari ketika menjemputnya pulang sekolah, saya dapati dia sdg menangis, kata bu gurunya tidak ada apa2, hanya mencari mamanya.

    Tetapi besoknya jadi minta ditemani di dalam kelas lagi. Hari itu saya temani, ttp krn saran dari bu guru, besoknya dia dipaksa masuk kelas dg cara digendong ibu guru. Dia meronta2 dan menangis sp muntah dlm kelas. Saya menunggu di luar kelas, ketika Daffa minta buang air kecil sambil menangis sempat tidak diijinkan ibu guru krn menyangka itu hanya alasan utk bertemu mamanya di luar kelas. Ketika mendengar itu, saya minta bu guru utk mengijinkan anak saya pipis, krn anak saya blm pernah berbohong mengenai hal itu. Baru kemudian diijinkan.

    Kalo saya tanyakan kenapa tdk mau masuk kelas sendirian, katanya karena bu gurunya suka marah2 dan dia takut.
    Setelah seminggu ditemani, saya diminta sekolah utk tidak menemani lagi dan menunggu di luar kelas. Tetapi anak saya tetap tdk mau masuk kelas sendirian.
    Saya bingung sekali musti bagaimana lagi. Karena pihak sekolah mendesak saya utk meninggalkannya. Saya kuatur dia jadi trauma sekolah. dan menjadi phobia sekolah

    Terima kasih,
    Tyas

  78. Halo Ibu Tyas,

    Yang paling mengenal anak ibu adalah ibu sendiri karena ibulah, orang selalu berada di dekatnya bukan ?

    Jika anak pada awalnya tidak apa-apa dan happy saja ke sekolah tapi tiba-tiba berubah, berarti memang ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan ia sudah mengalami sesuatu yang tidak ia sukai.

    Coba ibu cek di keadaan rumah terlebih dahulu. Adakah perubahan di rumah ? Apakah ibu sendiri sedang mengalami suatu masalah yang menyebabkan ibu merasa cemas ? Apakah hubungan ibu dan bapak baik-baik saja ?
    Biasanya anak sensitif dengan permasalahan diatas.

    Cek juga keadaan di sekolah.
    Coba ibu tanyakan kepada teman-teman putra tentang yang dikatakan putra bahwa gurunya sering marah.
    Cek juga ke teman-teman putra, apakah putra pernah mengalami sesuatu yang menyakitkan misalnya jatuh, dipukul, dimarahi ?

    Jika memang putra sangat tidak ingin sekolah dan menunjukkan cemas jika harus berangkat sekolah dari rumah, ibu bisa liburkan dahulu beberapa hari, sambil mengorek keterangan dari putra. Minta ia ceritakan sesuatu yang menakutkan di sekolah. Ibu bisa mengorek melalui media buku cerita atau menggambar.

    Saya tunggu kabar dari ibu ya.

  79. Dear ibu sandra,

    Anak sy, Via umur 6 thn sekolah TK B sudah 1,5 bln ini mogok sekolah.Awalnya Via semangat sekali ke sekolah.Tidak pernah ditunggui dalam kelas.Sampai 3 hr setelah libur lebaran pd hr Rabu, 22/10 ada acara menanam padi dr sekolahnya.Di acara itu Via terlihat heppy cm pd saat Via diajak turun kesawah Via sempet memanggil sy minta naik dr sawah.Sy tdk menurutinya.Sy katakan “tdk apa2,mama disini” tp sy sendiri tdk ikut turun kesawah.Sampe akhirnya Via menangis dan naik dr sawah.pulang dr sawah Via terlihat biasa aja,msh main dgn teman2nya n sempet kesekolah dulu.

    Hr kamis, 23/10 Via tdk mau sekolah,sy pkr krn msh cape jd sy ijinkan tdk sekolah.Jum’at, 24/10 msh blm mau sekolah krn sakit (badannya panas).Pd hr senin, 27/10 (sabtu-minggu libur) Via msh blm mau sekolah.pd hal udh mandi dan pakai seragam tp tb2 dibuka lg dan menangis.Sy ttp paksakan kesekolah (walau tdk b’seragam).Di sekolah Via tdk mau msk halaman sekolah cuma duduk dikantin sekolah.Dibujuk gurunya utk msk pun tdk mau.Via malah meluk erat neneknya n terlihat takut sekali (wkt itu neneknya ikut).

    Selasa, 28/10 Via ttp tdk mau sekolah.sy tanya knp dia blng ‘takut” tp sy tdk peduli,ttp sy paksa kesekolah.Sampe disekolah spt hr senin dia tdk mau msk halaman sekolah malah meluk erat neneknya ketakutan.Perlu ibu tau wkt hr senin pd saat Via tdk mau masuk halaman sekolah ada yg bilang Via ‘diikuti’ mahluk halus sejak dr acara menanam padi.Jujur sy percaya krn sy lht perubahan dlm diri Via sejak acara menanam padi.sy sempet melakukan ruqyah utk Via,sy lakukan sendiri dirmh dgn membaca ayat2 Al-Qur’an.

    Hr rabu, 29/10 ada acara santunan anak yatim di panti asuhan. Alhamdulillah Via mau masuk sekolah.Pd saat memasuki halaman sekolah sy bacakan do’a2 perlindungan didekat telinganya. Hr itu berjalan lancar.Via mau baris dan ikut acara santunan anak yatim ke panti asuhan.Hr kamis, 30/10 Via ke sekolah lg tp sy lupa bacakan do’a2 spt yg sy lakukan pd hr rabu.Hr kamis itu Via spt biasa b’main sm teman2nya dgn heppy.Tp begitu bel Via yg sudah lari mau baris tb2 saja brenti dan langsung meluk neneknya dgn erat spt ketakutan,ga mau ikut baris.

    Sampe anak2 masuk kelas pun Via ga mau ikut masuk kelas.Sudah dibujuk ttp ga mau malah main sendiri dihalaman sekolah.Sy lht perubahan pd Via.Dia ga mau ditemani,main sendiri aja di halaman sekolah.ketika dihampiri gurunya dia menghindar.Salah 1 guru bilang Via ‘diganggu’ mahluk halus (jin) sejak dr acara menanam padi. Kebetulan gurunya itu jg melihat jin yg ‘menganggu’ Via di lokasi acara menanam padi.Gurunya itu cerita jenis spt apa jin yg mengganggu Via.

    Perlu ibu tau sejak acara menanam padi itu sy ingat2 terjadi perubahan pd Via.Via yg jarang tdr siang selama 1 minggu kemarin selalu tdr siang sekitar 4-5 jam.Mlm hari Via udh tdr lg pd jam 8 dan br bangun pd wkt alarm berbunyi sktr jam 6 pg.Dr segi makan jg Via lbh suka makan mie ga suka nasi dan porsinya bs habis 1 bungkus mie + telor,makan tiap 4-5 jam.Via jg lebih banyak diam.Kalo diajak ngomong ga ada respon.

    Pada hari itu jg sy langsung bawa anak sy ke ustadz utk di Ruqyah di temani ibu dan bapak sy.Sy makin yakin kalo ada gangguan jin.Pd saat di Ruqyah Via meronta2 dan tenaganya kuat sekali.Secara logika rasanya tdk mungkin anak seumur Via bs ‘melawan’ 4 org yg megang Via.

    Setelah di Ruqyah sy bawa Via liburan.Hr minggu balik lg kerumah.Sy lht Via msh blm ceria spt biasa.Via jg blm mau kesekolah,sy ikuti maunya Via krn sy punya pengalaman adik sy jg pernah ga sekolah krn gangguan jin dan butuh wkt utk pulih.Selama ga sekolah sy cari2 info knp anak sy mogok sekolah secara psikologis.Tiap ada kesempatan tdk lupa sy selalu Ruqyah Via dgn membacakan ayat Al-Qur’an.

    Kurang lbh 1 bln sy terapi Via dgn Ruqyah sambil cari info secara psikologis.Sy hub-i teman2 sy yg pernah kuliah di psikologi.Sy jg sempet datang ke psikolog utk cari tau sebabnya.selama 1 bln itu (bln Okt) Via cm ke sekolah 2 hr (selasa-rabu) dan itupun tidak mau baris dan tidak mau masuk kelas.Anehnya tiap acara diluar sekolah Via selalu mau ikut dan terlihat ceria sekali.

    Keceriaan Via br kembali setelah 1 bln.Sy spt melihat anak sy kembali. Via yg cerewet,suka tanya sesuatu mendetail,ga bs diam dll.Cuma 1 yg blm kembali semangatnya utk sekolah.Sy coba cari tau dr Via knp ga mau sekolah.Sy coba dekati Via dgn teknik yg sy baca dr buku2 karangan Bpk Ariesandi.

    Alhamdulillah dr Via sy tau kalo Via ga mau kesekolah krn bosen dgn pelajarannya.Via ga mau TK mau langsung SD aja.ga ada masalah dgn guru atau teman2nya.Sempet terpikir jg apa Via cm cari2 alasan aja?Akhir2 ini Via lbh suka belajar membaca dan berhitung.Ga mau mewarnai lg.Buku2 yg sy pinjam dr sekolah utk dikerjakan dirumah cm sekilas dilihat.Via lbh suka belajar dr latihan dirumahnya majalah bobo walaupun blm pandai membaca.

    Yg ingin sy tanyakan apa yg harus sy lakukan?Apakah sy hrs turuti maunya Via menunggu thn ajaran baru utk sekolah SD?Apa sy hrs sepenuhnya percaya dgn alasan yg diberikan Via?Sekarang ini Via sama sekali ga mau kesekolah TK nya.Tiap hr sy ajarkan Via membaca dan berhitung dirumah.Kalo sy turuti maunya Via apa nanti Via bisa lancar sekolah di SD ga pake acara mogok sekolah lagi?Yg sy baca dr buku “Rahasia Mendidik Anak Agar sukses dan Bahagia” suatu kejadian yg berulang akan terekam dialam bawah sadar.Perlu Ibu tau wkt Via umur 4 thn Via pernah sy masukan sekolah Playgroup tp ga tuntas.Wkt itu Via lbh suka belajar diruang kepala sekolah dr pd belajar di kelas.Cuma 6 bln Via di playgroup ga dilanjutkan lg krn Via ga mau kesekolah.Sy pkr krn Via ga nyaman disekolahnya krn itu sy ga lanjutkan lagi.Dirmh Via selalu belajar pelajaran TK dr buku2 yg sy beli.Via jg pernah ikut les membaca tp cm 3 hr.Ga mau lanjut lg.Dr buku yg sy baca Via itu termasuk perpaduan type KORELIS dan MELANKOLIS.

    Sy mohon masukan dr ibu apa yg harus sy lakukan?Terima kasih atas jawabannya…

  80. Halo ibu Susiyana,

    Jika penyebab karena VIa merasa sudah bosan dengan materi di TK, ibu bisa melakukan beberapa hal berikut ini.

    Mintalah guru untuk menaikkan tingkat kesulitan pelajaran di kelasnya. Buatlah suatu materi pelajaran yang sekiranya bisa menantang rasa ingin tahu Via.

    Atau mintalah ibu guru untuk menjadikan Via sebagai asistennya di kelas (jika memang Via sudah menguasai materi pelajaran yang diberikan).
    Jika memang Via seorang anak yang koleris maka pendekatan ini akan sangat disukainya.

    Jika ingin lompat kelas maka berikut ini yang perlu dipertimbangkan :
    IQ Via. Coba ibu tes dahulu. Jika memang Via berada di diatas atasnya rata-rata (bukan diatas rata-rata) maka lompat kelas bisa dijadikan pilihan dengan mempertimbangkan
    1. Kesiapan konsentrasi Via mengikuti cara belajar di SD yang lebih banyak duduk (atau ibu bisa mencari sekolah dasar yang tidak terlalu banyak menuntut untuk duduk diam)
    2. Kesiapan emosi Via, jika Via bisa menekuni sesuatu hingga selesai, atau Via bisa beradaptasi dengan cepat pada perubahan atau Via bisa berteman dengan baik dan menyelesaikan konflik dengan baik (Sesuai dengan level usia Via) maka Via siap untuk lompat kelas.

    Lompat kelas perlu dipertimbangkan masak-masak dari segi kognitif anak dan emosi anak.

    Jika ibu memutuskan untuk mengajari Via di rumah, mengapa ibu tidak mencoba untuk homeschooling ?
    Carilah komunitas homeschooling di daerah ibu. Agar ibu memiliki teman untuk berbagi cerita dan materi pelajaran. dan Via juga memiliki teman untuk mengasah kemampuan sosialisasinya.
    Untuk tingkat TK, saya rasa masih memungkinkan untuk diajarkan di rumah karena persyaratan untuk masuk SD (Jika tidak mau melanjutkan homeschooling terus) kebanyakan sekolah hanyalah mensyaratkan baca tulis hitung dan kemampuan anak untuk duduk diam dalam waktu lama.

    Silahkan didiskusikan dengan orang-orang yang menyayangi Via untuk memberikan yang terbaik untuk Via.
    Dan ingat untuk tanya kepada Via, apa yang ia inginkan.

    Salam kenal untuk Via

  81. Bu, saya seorang pendidik yang baru mulai mengajar di KB. Di sekolah kami masih banyak siswa yang ditunggui oleh orang tuanya, padahal sudah berulang kali kami mengingatkan bahwa peraturan di sekolah kami tidak membolehkan hal itu. Tapi masih banyak orang tua beralasan tidak tega atau anaknya tidak mau ditinggal padahal kalau dilihat dari si anak sudah mandiri. Bagaimana ya bu cara agar si orang tua mau meninggalkan anaknya. Oh ya KB kami terdir dari siswa usia 2-3 dan 4-5 tahun.
    Terimakasih.

  82. Ibu Guru Henda yang baik,

    Memang berhadapan dengan orangtua murid merupakan tantangan tersendiri bagi guru sekolah. Terkadang banyak orangtua keras kepala yang merasa dirinya benar padahal belum tentu dan baik bagi perkembangan buah hatinya,

    Untuk orangtua yang membandel tersebut, kita perlu melakukan strategi yang bijak dalam menghadapinya karena hal ini juga akan menyangkut nama baik sekolah. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah yang sistematis dan perlahan. Berikut ini tahapan yang bisa ibu lakukan :

    1. Edukasi orangtua mengenai manfaat yang diperoleh dengan membiarkan anaknya belajar mandiri.
    Edukasi ini bisa dilakukan dengan mengadakan seminar kecil khusus untuk orangtua.
    Ibu bisa juga mencari pentolan dari gerombolan ibu-ibu itu yang dihormati dan memiliki pengaruh besar untuk bisa mempengaruhi ibu yang lainnya. Dekati ibu itu, edukasi, dan pengaruhi. Jika ibu itu berhasil maka ibu-ibu pengikut lainnya pasti akan mengekor.

    2. Sediakan tempat bagi ibu-ibu itu untuk ngerumpi, arisan dll di dekat lingkungan sekolah.
    Salah satu alasan mereka tetap bertahan di sekolah karena mereka tidak memiliki pekerjaan yang bisa mereka urusi. Jadinya mereka nge-pos disekolah.
    Untuk yang satu ini, ibu bisa manfaatkan ibu-ibu untuk membantu guru dalam membuat tugas-tugas untuk murid-muridnya lho. (tapi ini juga tergantung kedekatan guru dan orangtua).

    3. Lakukan woro-woro mulai sekarang bahwa semester depan 2011, orangtua murid sudah tidak boleh menunggui siswanya.
    Pengumuman jauh-jauh hari ini dan diulang setiap minggunya akan mengedukasi mereka secara tidak sadar bahwa ada ultimatum dari pihak sekolah untuk meninggalkan lingkungan sekolah.
    Saya rasa memasuki semester 2, anak-anak sudah sangat terbiasa dan akrab dengan para gurunya bukan ? (Kecuali kalau kena sindrom libur panjang)

    4. Buat sistem di sekolah yang tidak memungkinkan orangtua untuk mendekati kelas anaknya.
    Misalnya pintu penutup, satpam yang mencegah orangtua tidak berkepentingan untuk masuk.

    5. Amati anak-anak yang memang sudah aman secara psikologis untuk berpisah dari orangtua.
    Anak-anak ini sudah bisa ditinggal. memang mungkin bisa menangis tapi kalau sudah percaya dengan gurunya, maka mereka akan mudah untuk ditenangkan.

    Selamat mencoba ibu.
    Saya tunggu kabarnya.

    Semangat !

  83. O iya, ibu Henda. Satu lagi, edukasi siswa-siswa ibu bahwa di sekolah khusus untuk siswa bukan untuk ibu. Jadi yang masuk sekolah hanya murid saja.
    Jadi dengan edukasi 2 arah, diharapkan semua pihak siap untuk memandirikan siswanya.

    Salam.

  84. Ibu Sandra…

    sy sudah lakukan tes IQ Via n hasilnya (menurut klasifikasi IQ skala Wechsler) adalah sbb :
    Verbal IQ 121
    Performance IQ 134
    Full IQ 130
    Original IQ 141

    Menurut Ibu apakah IQ Via diatas atasnya rata-rata atau cuma diatas rata-rata?

    Sampe saat ini Via msh blm mau kesekolah.Sempat terpikir oleh sy utk pindahkan Via kesekolah lain yg lbh menantang tp Via maunya SD.
    Kalo ke SD apa hrs SD dgn pelajaran yg lbh menantang atau cukup ikuti kemauan Via utk 1 sekolah dgn teman main nya yg saat ini sudah kelas 3 (Via ttp mulai dr kelas 1 tentunya).Temannya itu sekolah di SD Negri.

    Jujur sy yg trauma memikirkan kemungkinan Via mogok sekolah lg nantinya.Apa yg harus sy lakukan agar kejadian mogok sekolah tidak terulang lagi?

    Terima kasih atas sarannya..

  85. Halo ibu Susyana,

    Hasil tes Via menunjukkan bahwa Via memiliki kemampuan IQ superior, artinya ia sangat cerdas dibandingkan anak seusiannya.

    Untuk bisa lompat kelas, selain kemampuan IQ yang cukup yaitu superior dibutuhkan juga karakter yang mendukung. untuk yang satu ini, ibu perlu meminta bantuan psikolog yang bisa mengamati Via. Saya tidak bisa memberikan saran banyak mengenai ini karena saya tidak bisa mengamati Via.

    Karkater itu adalah
    1. Kemampuan kreativitas Via
    2. Kematangan emosi Via : kemampuannya untuk berkonsentrasi, bisa bertahan lama pada satu tugas hingga selesai, kemampuan untuk adaptasi.

    Jika syarat diatas telah memenuhi maka Via bisa lompat kelas.

    Agar kejadian mogok sekolah tidak terulang lagi, ibu bisa menghindari 3 hal yang telah saya tuliskan di artikel.

    Salam hangat penuh cinta untuk Via

  86. Ibu Sandra…
    Anak saya umur 4 thn 3 bulan dan saat ini sekolah di TKA. Saat berangkat sekolah dia hapy2 saja tapi sesampai di sekolah dia tidak mau ditinggal “mbaknya” yang harus menunggu di dalam kelas. Sebelumnya dia sudah sekolah di playgroup dan dia anak yang pemberani, tidak perlu ditunggu. Saat ditanya dia tidak mau menjawab. saya sudah coba berbagai cara untuk membujuknya tapi tidak berhasil. Guru sekolahnya juga bingung kenapa ssat TK anak saya jadi berubah cengeng. Saya merasa anak saya takut sesuatu tapi saya tidak tau apa. Bagaimana cara mengetahuinya ya Bu, atau kalo saya bisa konsultasi langsung, dimana ya?
    Terima kasih

  87. Halo ibu Fita,

    Perubahan perilaku anak pasti memiliki sebab karena kalau ada asap pasti ada apinya. Jadi ibu perlu tahu apa penyebab rasa takutnya. Jika kita hanya membujuknya untuk lebih berani akan sulit selama akar masalahnya belum diketahui.
    Untuk mengetahuinya, coba ibu menanyakan kepada adik ketika adik sedang dalam keadaan senang. Ajak adik bermain misalnya menggambar tentang sekolah dan teman-temannya. Atau ajak adik mendongeng mengenai sekolah. Ceritakan masa sekolah ibu, pancing dengan pertanyaan bahwa ibu pernah mengalami rasa enggan untuk sekolah. Kemudian mulai arahkan pertanyaan untuk mencari tahu rasa takut adik berada di kelas.

    Untuk konsultasi langsung, ibu bisa menghubungi CS SO di 594 14 39

    Selamat mencoba ibu Fita.

  88. Halo Bu,
    Anak saya umur 9 taun saat ini dia sekolah kelas 3 SD , beberapa hari ini dia pulang dengan menangis ternayata dia dimusihi teman2nya bahkan sempat dipukul oleh temannya sepulang sekolah.

    Anak perempuan saya bercerita , beberapa hari sebelumnya dia disuruh memukul salah satu teman dikelasnya oleh teman nya yang lain dan anak saya menolaknya , dampaknya kemudian anak saya yg justru dimusuhi dan diintimidasi oleh anak yg menyuruh memukul tersebut dan sejumlah teman teman dikelasnya.
    ketika saya bilang suruh lapor gurunya , gurunya tersebut seperti acuh tak acuh dan hanya bilang “jangan main di luar diam saja dikelas” .

    Lalu apa yang harus saya lakukan soalnya saya jadi emosi nih bu melihat kelakuan teman temannya dan keacuhan gurunya itu ???

  89. Halo juga bapak Kuswardoyo,

    Bullying memang merupakan fenomena yang sering terjadi di kalangan anak sekolahan. Anak yang merasa lebih kuat akan menyerang dan mengintimidasi anak yang dirasanya lebih lemah darinya.

    Respon guru yang seperti itu sangat disayangkan sekali. Guru itu tidak memberikan penanganan yang sebagaimana mestinya. Akibatnya kita sebagai orangtuanya merasa kesal dan marah ketika mengetahui anak kita tidak diperlakukan dengan semestinya dan mendapatkan rasa aman di sekolah.

    Bullying memiliki dampak sangat jelek terhadap pelaku maupun korban. Kepercayaan diri dan konsep diri menjadi taruhan di sini. Sebagai pendidik sebaiknya permasalahan ini harus segera diatasi.

    Berikut ini beberapa saran yang bisa bapak lakukan untuk mengatasi kekerasan di sekolah ini.
    1. Ajarkan kepada anak untuk tidak merespon permintaan si pelaku (untuk yang ini, anak bapak sudah benar dengan menolak). Dan abaikan saja si pelaku dengan meninggalkannya. Jika anak menunjukkan rasa takut, menangis maka si pelaku akan lebih senang untuk menggecet dengan lebih keras. ingat, penggencet sangat suka pada orang yang lebih lemah darinya.

    2. Jika pengabaian tidak berhasil maka anak perlu asertif dengan berani menolak perlakuan pelaku tersebut. Mintalah anak untuk berkata,”Stop. Aku tidak suka memukul orang lain. Jika kamu terus menggangguku aku akan melaporkan kamu ke Kepala sekolah !.”Jadi jika anak bapak dapat menunjukkan sikap bahwa ia tidak takut terhadap ancamannya, maka pelaku juga akan berpikir ulang untuk menekan. Biasanya juga si pelaku akan takut pada pihak otoritas sehingga akan memilih untuk mundur.

    3. Ajarkan anak untuk memiliki teman dekat yang memiliki hubungan kuat. Biasanya teman-teman dekat ini yang akan membela dan melindungi anak terhadap pelaku.

    4. Jika tetap berlanjut maka sudah saatnya bapak bereaksi dengan melaporkan kejadian ini kepada guru dan kepala sekolah. Anak bapak berhak untuk datang ke sekolah dengan rasa aman sehingga ia bisa belajar dengan baik. Kenakalan di sekolah merupakan tanggungjawab pihak sekolah untuk menyelesaikannya.

    Selamat mencoba bapak Kuswardoyo dan Salam cinta untuk buah hati bapak.

  90. Salam hormat Bu Sandra,
    senang rasanya ada tempat untuk berbagi karena saya juga mengalami kesulitan mengajak anak saya azzam ( 3th 3 bl) untuk berangkat ke sekolah lagi di KBIT dekat rumah. Sudah 2 minggu ini mogok sekolah, dengar kata sekolah sudah tidak mau. Sudah saya coba cara :
    a. mengganti istilah sekolah dengan main sama mas fulan atau bayar infaq yuk
    b. pura2 datang ke sekolah untuk hanya minta izin sama gurunya : boleh ga Bu, Azzam ga sekolah…dan setelah itu azzam digendong gurunya untuk masuk kelas lalu saya meninggalkannya
    c. mengkomunikasikan dengan gurunya bahwa azzam sudah bisa membaca huruf a s.d z (dan gurunya cerita kl di kelas baru diajarkan a i u e o) apakah itu yang membuatnya bosan di sekolah ?
    d. menanyakan pada azzam apa ada temannya yang nakalin azzam…

    dan sampai sekarang masih susah diajak sekolah bu.
    Perlu ibu ketahui saya bekerja di luar kota (Batang) dan 2 atau 3 hari sekali pulang. Selama ini papanya yang punya banyak waktu bersama azzam termasuk antar jemput sekolah tapi mulai Maret, suami saya pindah Yogya, bu. Praktis kami bertiga pisah, azzam sama eyangnya di Semarang. Sepertinya azzam ‘diaboti’ eyangnya untuk stay di Semarang. Kalau sama papanya saja sudah mogok, bagaimana dengan sama eyangnya yang cenderung loss ?
    Terima kasih atas kesediaan waktu bu Sandra untuk memberi solusi pada saya.

  91. Halo Ibu Saras,

    Mohon maaf sekali ibu, saya sangat lama membalas email ibu. Email ibu terlewatkan oleh saya.

    Kondisi ibu Saras benar-benar kompleks ya. Anak seusia Azzam memang sedang sangat membutuhkan kehadiran secara fisik kedua orangtuanya. Eyang putri maupun Kangkung, tentu saja tidak dapat menggantikan keberadaan ayah ibunya Azzam. Kondisi perpisahan inilah yang menyebabkan Azzam menjadi mogok sekolah. Jadi bukan karena masalah di sekolahnya.

    Jadi keputusan ada ditangan bapak dan ibu. Hendak dikemanakan biduk rumah tangga ini dan Azzam.

    Salam sayang untuk si kecil Azzam ya bu.

  92. dear ibu sandra yang baik,

    Salam kenal…
    Seperti hal nya dengan ibu2 yang lain, anak saya juga mogok sekolah sejak minggu lalu dengan alasan yang kesannya dibuat2. Dia sekarang duduk di TK A, usianya 4,7 tahun. Sebelumnya dia ok2 saja berangkat ke sekolah, sampai satu hari dia agak demam dan katanya badannya sakit2 karena kecapean berenang dan minta ijin pulang lebih awal, kemudian keesokannya juga masih tidak enak badan sehingga absent lagi sampai weekend.

    Minggu depannya tidak mau sekolah sama sekali alasannya “sakit perut”, keesokan hari nya juga sama. Kemudian papa nya merayu dia spy mau sekolah lagi dengan dijanjikan akan dibelikan kucing (kebetulan teman suami memang berniat memberikan kucingnya karena dia mau kembali ke negara asalnya), akhirnya dia mau sekolah esok harinya. Tetapi hanya satu hari, keesokannya dia mogok lagi dengan alasan “sakit perut”, setiap hari seperti itu. Padahal saat tidak sekolah itu dia seharian main dengan teman2nya. Artinya dia tidak “sakit perut”.

    Kemarin akhirnya saya tetap antar dia ke sekolah, saya bilang nanti kalau sudah bertemu teman2 pasti “sakit perutnya” akan hilang, karena saat saya tanya apakah dia pingin “pup” dia jawab tidak dan tidak mau dibalur minyak kayu putih juga. Sampai di sekolah dia menangis seperti benar2 tidak ingin sekolah dan tetap bilang bahwa perutnya sakit. Sebenarnya saya kasihan melihatnya, seolah2 saya memaksa dia melakukan hal yang dia tidak suka. Bu guru dan teman2nya membujuk supaya mau masuk ke kelas tapi dia tetap tidak mau, akhirnya saya temani dia masuk kelas, kemudian jam belajar dimulai dengan latihan menari, awalnya dia tidak mau ikut tapi setelah dibujuk ibu guru akhirnya dia mau ikutan juga dan kemudian saya tinggal berangkat kerja. Dia baik2 saja. Tetapi hari ini dia absent lagi, saya dengar dia bilang ke neneknya “perutnya sakit”.

    Sebagai info ibu sandra, anak saya juga merasa “perutnya sakit” setiap kali dia naik taxi, tetapi dia baik2 saja kalau naik kendaraan lain (mobil pribadi, motor atau angkot). Setiap masuk taxi perutnya langsung sakit dan minta diusap2, tetapi kalau diajak ngobrol atau menyanyi atau lainnya dia akan lupa sakit perutnya itu. Saya merasa aneh dengan hal itu. Sepertinya sekarang merambat ke keinginan sekolahnya. Saya pikir “sakit perutnya” itu hanya perasaan dia saja, hanya saya tidak mengerti apa penyebabnya.

    Mohon pencerahan dari ibu sandra karena sebenarnya saya tidak mau memaksa anak saya untuk sekolah, saya mau dia melakukannya dengan senang hari, toh usia dia juga masih dibawah 5tahun yang memang seharusnya masih asyik bermain2.

    Terima kasih ibu.

    Salam

  93. Halo ibu Nona Marini,

    Ibu, setiap perilaku yang ditunjukkan anak kita memiliki arti dibalik perilaku itu. Jadi dibalik sakit perut yang dikeluhkan oleh anak ibu, juga memiliki isyarat dibaliknya. Termasuk sakit perut jika naik taxi padahal kalo naik mobil pribadi, tidak ada masalah. Ada kemungkinan, si kecil punya pengalaman tidak enak ketika naik taxi misal mabuk karena sopir nyetirnya kurang enak, atau mendengar bahwa ada beberapa taxi berbahaya untuk dinaiki.

    Demikian pula, dengan sekolah, pengalaman yang tidak menyenangkan mungkin bisa menjadi penyebab dari mogoknya si kecil. Mulai dari pengalaman dipukul teman (yang paling jelas dan terlihat) hingga tuntutan dari guru ataupun kita sendiri (yang paling tidak kentara tapi paling dirasakan oleh anak). Ada pengalaman dari teman yang anaknya mogok sekolah disebabkan oleh gantinya guru pengajar dikelasnya. Guru yang baru kurang mampu memahami si anak dan berbicara dengan bahasa yang kurang sesuai dengan karakter anak. Si anak sendiri adalah tipe perfeksionis yang tidak suka diperintah tapi suka dirayu dengan halus. Alhasil, ketidakcocokan cara menangani karakter si anak ini yang menyebabkan anak stres dan akhirnya tidak mau sekolah.

    Ada juga karena adanya perubahan di rumah menyebabkan anak tidak nyaman misal ayah pindah kerja atau pun malahan berkumpul kembali serumah setelah sekian lama terpisah karena pekerjaan. Perubahan ini bisa menyebabkan si kecil tertekan.
    Atau bisa jadi karena si kecil meminta perhatian kita karena tangki cintanya kosong. Jadi dengan tidak sekolah, dia bisa membuat bingung ibunya atau ayahnya sehingga akhirnya ia mendapatkan perhatian (walau negatif).

    Mungkin di kasus ibu memiliki penyebab yang berbeda, apapun itu perlu dicari dan dicermati. Karena dibalik perilaku yang nampak dalam diri anak, ada perasaan dan maksud, hanya saja ia memiliki keterbatasan untuk menyampaikan maksud dan perasaannya dalam bahasa yang dimengerti.

    Salam hangat untuk keluarga ibu Nona Marini

  94. dear , bu sandra ..

    Salam kenal u/ bu sandra & bunda2 lain ..
    Saya ibu beranak 1 bernama nathan(2,7tahun) , awal nya saya ingin sekolahin dia kelas kelompok bermain , krn nathan anak yg hiperaktif dan ga takut bergaul dgn siapa saja, tapi kalau saya tanya ”nathan sekolah yuk, nanti kan bisa maen sama tmn2 trus ada prosotan” tp dia jawab ”ga mau maahh” dgn nada yg memelas, tp saya pikir apa krn dia masih belom niat sekolah / belum ngerti,karna dia tiap minggu ikut sekolah minggu (gerejaa dgn tmn sebaya) dia berbaur & hepi tapi sering belum nya wkt pulang nathan selalu minta keluar dan ngajak jalan2.. Jd pikir saya karna kasihan anak klo saya cuma mau ikutin mau nya saya u/ melihat lucu nya dia sekolah tapi anaknya sendiri ga nyaman ,,

    tapi kalau di perhatiin , di dekat rumah kan ada skul KB & TK yg di pagarnya itu ada gambar karakter2 hewan , kalau lewat sana , pasti nathan selalu berhenti dan seperti mengajari saya contoh nathan berkata ”ini apa?ini gajah maa”dan seterusnya sampe hewan2 nya habis dia sebutkan.. ^^

    & saya mau tanya pendapat ke bu sandra , sbnrnya saya jg mase bingung , saya punya pertimbangan 2 skul ,
    skul yg Pertama (yg nathan suka berhenti untuk memperkenalkan nama2 hewan) : termasuk KB & TK yg baik secara conversition, krn bahasa yg di pergunakan sehari2 bhs. Inggris setara nasional +, tp minusnya adl anak2 sama sekali tidak di ajarkan berdoa saat msk sekolah , makan, maupun pulang sekolah ..

    Sekolah yang ke 2 :
    ini sekolah karna berhubung sekolah + gereja, otomatis ajaran agamanya lebih terfokus, & sekolahnya tidak bertingkat nasional +, tp masih ada pelajaran bhs inggris di hari2 tertentu..

    lebih baik saya memilih yg mana ya bu sandra?
    Thx atas perhatian nya .. Salam kasih u/ semua .. GBU .. ^^

  95. Halo ibu Vivi yang sedang bingung,

    Sekolah yang mana yang cocok untuk anak ?
    1. Sekolah yang dapat membuat anak merasa nyaman dan kerasan.

    Sekolah favorit perlu diperhatikan favorit menurut siapa ?
    Kebanyakan sekolah favorit adalah sekolah yang disukai oleh orangtua karena banyak memberi PR, banyak menghukum anak, dan banyak Ulangan setiap hari. Sayangnya, sekolah jenis ini hanya baik di satu sisi tapi tidak memperhatikan sisi yang lain yaitu rasa senang anak untuk bersekolah dan mempelajari segala hal yang disediakan.

    Rasa nyaman dan kerasan merupakan rasa yang harus ada agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar tanpa rasa ini, proses belajar hanyalah akan menjadi proses pemaksaan bagi anak.

    Jadi sekolah mana yang baik untuk anak ? Tanyakan kepada buah hati ibu, ia suka sekolah yang mana.

    Selamat bertanya ibu Vivi

  96. Dear,Bu Sandra
    Saya mempunyai seorang anak perempuan berusia 2 th 3bln yg sedang mogok sekolah. namanya josephine.Perlu diketahui josephine sudah bersekolah sejak usia 14 bln dan semuanya baik2 saja meskipun masih ditungguin. skrg josephine sudah duduk di kelas PG1. Awalnya pada minggu2 pertama dia baik2 saja dan sudah tidak ditungguin lagi. Tp minggu berikutnya hingga sekarang dia mogok sekolah. Di sekolah dia happy, asyik bermain tp setelah mau masuk kelas dia lari mau pulang dan mogok tidak mau masuk kelas. Tp meskipun begitu dia tetap dipaksa masuk tanpa didampingi saya orang tuanya. Tp anehnya setelah menangis dan masuk kelas dia bisa beraktivitas di kelas dg baik. Diminta gurunya menyanyi, diberi pertanyaan maupun disuruh menulis dia dpt melakukan dg baik. bahkan jika dia keluar utk kencing di kamar mandi dia bisa masuk kembali ke kelas tanpa acara menangis. Jd dia hanya mogok masuk kelas pada awalnya saja. Selebihnya dia baik2 saja bahkan setelah usai sekolah dia nggak mau diajak pulang ingin main di sekolah. Sudah pernah saya tanyakan kenapa mogok sklh? tp tidak ada jawaban yang jelas. dia hanya senyum2 ketika disinggung masalah tersebut. Saya jd bingung apa yg hrs saya lakukan supaya dia tidak nangis lg ketika masuk kelas. Hanya saja dia pernah bilang nggak mau sekolah modelling. Saat ini dia jg sekolah modelling. pertemuan 1 dan kedua sekolah modelling dia nangis terus. setelah itu dia libur sekolah modelling 1 minggu dan saat yg bersamaan itu jg dia jg mogok sekolah tp kalo ditanya mau ke sekolah. dia mau hanya saja begitu di dpn kelas dia nangis. dan di sekolah modelling dia bener2 nggak mau masuk kelas. di sklh modelling jg tidak boleh ditemenin. Saya minta sarannya bu…saya bingung dengan perilaku anak saya. apakah mogok sekolahnya karena imbas dr sekolah modelling atau karna sebab yg lainnya.

  97. Pak Hadi,

    Tampaknya ada kemungkinan Josephine mengasosiasikan situasi masuk kelas di sekolah modelling dengan sekolah formalnya. Ketidaknyamanan di sekolah modelling terbawa ke sekolah formalnya.

    Untuk sekolah formalnya, dia sebenarnya merasa nyaman ketika sudah beraktivitas. namun, proses masuk ke kelas, mengingatkan ia pada sesuatu yang tidak nyaman. Mohon, bapak amati adakah kesamaan proses masuk kelas antara kelas sekolah modelling dan sekolah formalnya ?

    Jika sudah ditemukan hal yang membuat Josephine enggan masuk kelas maka sementara waktu proses itu dihilangkan dulu. Misalnya (sesuaikan dengan kondisi kelas dan sekolah) : Jika masuk kelas anak-anak dibiasakan untuk berbaris maka diubah setelah bermain di taman bermain, anak-anak diminta untuk membentuk kereta api. Ceritakan bahwa kereta api akan berjalan-jalan kemudian masuk ke stasiun untuk menurunkan penumpang. Keliling keliling dulu di taman bermain kemudian masuk kelas yang diasosiasikan dengan stasiun.

    Cara lainnya adalah menceritakan kegiatan yang akan dilakukan di dalam kelas sejak anak bermain di taman bermain. Biarkan anak mendengarkan dan kemudian tertarik untuk masuk di dalam kelas.

    Cara lainnya adalah minta anak untuk membantu guru mempersiapkan kelas sebelum teman-temannya masuk kelas. Jadi anak masuk dulu baru kemudian teman-temannya menyusul.

    Proses berpikir anak sangat sederhana : hindari hal yang tidak nyaman dan mudah sekali mengkaitkan satu situasi dengan situasi lainnya yang mirip.

    Saya tunggu info selanjutnya, pak Hadi.

    Salam,
    Sandra Mungliandi

  98. Bu Sandra,
    Terima kasih atas sarannya. Memang sih untuk proses masuk ke kelas emang sama sih. hanya saja ketika di sekolah formal sebelum masuk kelas dia bermain di halaman sekolah. main kolam bola,dll. Dia enjoy2 saja main dgn temannya. Tapi ketika mulai masuk kelas. saya bilang ayo masuk kelas dulu,dia lgsg saja nggak mau sekolah mau pulang. Selama ini yg mengantar sekolah mamanya dan pengasuhnya. Tp setelah sekian lama menangis terus,disarankan yg mengantar ke sklh hanya pengasuhnya saja karena menurut gurunya dia manja dg mamanya. kalo yg antar mamanys dia lgsg minta keluar sklh. tp kalo pengasuhnya aja dia hanya bilang nda mau sklh tp tdk berani keluar dr lingk sklh. Dan yg terakhir kali sklh dia tetap menangis di luar kelas. Setelah itu gurunya meminta pengasuhnya untuk menjauh dr anak saya dan gurunya yg mengajak masuk ke kelas dan ternyata dia hanya menangis sebentar setelah diajak masuk dia sama sekali tidak menangis. Tp setelah dia tahu ternyata mamanya sudah menjemputnya di akhir jam sekolah dia lgsg memanggil2 mamanya dan mulai rewel. Dan kalo lagi jelek moodnya di dlm kelas dia minta pangku atau minta gendong sams gurunya, Dan perlu diketahui memang gurunya sangat sayang sama anak saya. Kadang di dlm kelas saya lihat dibanding dg temannya anak saya cenderung dimanja dg gurunya sehingga anak saya menganggap gurunya seperti temannya sendiri. Yg saya lihat dlm minggu2 terakhir ini dia menjadi sangat temperamen. kalo sudah menangis sulit sekali berhenti dan tangisannya menjerit histeris dan kami ortunya biasanya kami diamkan sampai dia berhenti sendiri dan meminta maaf kalo dia merasa salah. lalu kalo dia dihadapkan pd situasi yg byk orang di lingk tertutup seperti contohnya kmrn dia ada kegiatan sklh ke tugu pahlawan. disana yg dtg satu sklh dia ada anak pg sampe tk dan itu semua cabang sekolahnya. temannya baru semua dan byk ortu jg yg mengantar jd memang ramai sekali dia takut dan nempel terus dgn gurunya yg dia kenal. pdhl sebelumnya dia cenderung berani. Saya dan istri sampai bingung kalo berubah jd penakut kenapa kok perubahannya sangat drastis. Pdhl kalo ada ortunya dia enjoy2 aja melakukan apapun. Bahkan kalo ketemu anak sebayanya di mall dia yg ajak kenalan dulu. Selain itu perubahan yg dialami lg seperti kalo marah dia cenderung memukul org yg buat dia marah bahkan sampai melempar barang. itu jg terjadi baru baru ini. Kami bingung kenapa anak kami jd berubah seperti ini pdhl tidak ada perubahan yg signifkan di dlm rumah. Apakah memang anak seumuran dia sedang masanya seperti itu atau memang ada yg menyebabkan dia seperti itu. Saya minta sarannya bu, bagaimana menghadapi anak ini. Yg saya tahu sebenarnya anak ini cenderung anak yg ramah tp kalo sudah marah sangat temperamen. Saya tunggu sarannya ya bu….

  99. salam kenal
    anak saya laki-laki umur 4,6 tahun.. sudah hampir 2 bulan masuk sekolah TK. Waktu minggu pertama sekolah dia baik-baik saja, bahkan tidak rewel sama sekali. tetapi akhir-akhir ini dia tidak mau ditinggal meskipun sudah masuk di kelas, akibatnya bapaknya yang terpaksa menjaganya setiap hari (saya dinas di luar kota). Kami bingung harus bagaimana memperlakukannya agar dia tenang ditinggal belajar dan bermain di sekolah. Pernah sekali bapaknya tinggalkan tapi ternyata dia menangis sampai muntah-muntah di sekolah. Semenjak itu tidak pernah lagi ditinggal. Apa yang harus kami laukan, karena bapaknya juga harus mengerjakan pekerjaannya … Terimakasih saran dan petunjuknya

  100. Halo pak Hadi,

    Maaf agak lama balasnya. Akses internet kurang ramah selama lebaran.

    Pak Hadi :
    Tp setelah sekian lama menangis terus,disarankan yg mengantar ke sklh hanya pengasuhnya saja karena menurut gurunya dia manja dg mamanya.

    Saya :
    Apakah istri bapak bekerja ?
    Menurut bapak, apakah istri bapak tipe ibu yang mudah kasihan sama anak ?

    pak hadi :
    Yg saya lihat dlm minggu2 terakhir ini dia menjadi sangat temperamen. kalo sudah menangis sulit sekali berhenti dan tangisannya menjerit histeris dan kami ortunya biasanya kami diamkan sampai dia berhenti sendiri

    saya:
    sudah benar. anak memang perlu diberi kesempatan untuk mengeluarkan emosinya, bisa dalam bentuk tangisan.
    Nah… setelah berhenti, kita yang perlu bertanya kepada dia. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yes no question. Bukan “Mengapa !”
    misal : Josephine marah ya ? karena mama melarang Josephine keluar rumah ?
    Josephine kecewa ya ? karena papa tidak mau membelikan Josephine balon itu ?
    Josephine boleh kok marah/kecewa/sedih.
    (kalau kita yang salah) Maaf ya mama melarang Josephine keluar rumah. Ini sudah malam, mama khawatir kalau Josephine main diluar. Kalau mau main diluar, Josephine boleh lakukan waktu pagi hari.

    bapak :
    temannya baru semua dan byk ortu jg yg mengantar jd memang ramai sekali dia takut dan nempel terus dgn gurunya yg dia kenal. pdhl sebelumnya dia cenderung berani.

    saya :
    siapa saja akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
    Dan ini adalah pengalaman pertama Josephine berkunjung ke tugu pahlawan. Mungkin saja situasi, bau lingkungan, pencahayaan di sana kurang membuat nyaman Josephine.
    Jadi, jika anak menunjukkan perilaku kurang aman, biarkan saja. Biarkan disini adalah memberi kebebasan pada anak untuk memutuskan kapan dia merasa safe dan nyaman di tempat baru.
    Selama dia belum merasa nyaman dan aman, temani dulu sampai dia memutuskan untuk keluar dari perlindungannya.
    Kebanyakan orangtua adalah memaksa anak untuk segera lepas. “sana gak papa, main sama teman-teman ” terus membandingkan dengan temannya “Lihat si A itu berani. Masak kamu gak berani”. Ini adalah hal yang tabu.
    Rasa aman adalah sebuah keputusan bukan perasaan dibuat. Jadi kalau anak merasa aman pasti dia akan lepas dengan sendirinya.

    Bahkan kalo ketemu anak sebayanya di mall dia yg ajak kenalan dulu.

    saya :
    situasi mall adalah situasi sudah ia kenal sejak bayi (karena pasti sudah sering diajak jalan ke mall). Jadi bagi josephine ini bukan situasi baru lagi.

    pak Hadi :
    Selain itu perubahan yg dialami lg seperti kalo marah dia cenderung memukul org yg buat dia marah bahkan sampai melempar barang.

    saya :
    Nah ini yang tidak boleh.
    Josephine boleh marah, boleh merasa kecewa, boleh merasa takut karena ini adalah bagian dari diri manusia.
    Nah… yang perlu diajarkan kepada Josephine adalah bagaimana cara marah, cara kecewa, cara takut yang tepat.
    Jika Josephine marah dengan cara yang tidak adaptif. Bapak perlu menjelaskan pada Josephine “Papa tidak suka kalau Josephine memukul/melempar barang kalau marah. Dipukul itu sakit. Papa jadi sedih kalau Josephine memukul/melempar”

    Bapak :
    Apakah memang anak seumuran dia sedang masanya seperti itu atau memang ada yg menyebabkan dia seperti itu.

    saya :
    Apa yang terjadi dalam diri Josephine adalah proses. Sekarang Josephine sedang belajar mengenal rasa marah dan ragam melampiaskannya. Tugas kita mengajarkan pada Josephine bagaimana memanage perasaan dan melampiaskan dengan cara yang benar.
    Kebanyakan orangtua justru mengajarkan cara meredam rasa marah “Sudah gitu aja kok nangis / kok marah”. Justru ini salah. Emosi adalah hal yang wajar. Menjadi tidak wajar jika tidak diakui adanya emosi itu.

    Apalagi kalau memang pada dasarnya Josephine adalah anak yang ramah. Jadi emosi negatif yang muncul ini adalah bagian dari proses pembelajaran Josephine.

    Orang dewasa saja kan tidak bisa 24 jam ramah terus… ada masanya dia akan memiliki emosi negatif.
    Ini adalah saat yang tepat untuk mengajarkan Josephine mengenai ragam perasaan positif dan negatif yang ada dalam diri Josephine.

    Salam

  101. Salam kenal juga bu Ancy,

    Ibu :
    anak saya laki-laki umur 4,6 tahun..

    Saya :
    Usia 4 tahun sudah usia yang matang dan paham mengenai arti perpisahan sementara. Jika memang ada perubahan drastis dalam diri ananda… mungkin juga disebabkan oleh sesuatu yang drastis juga. Apalagi pada awalnya, dia fine fine saja.

    ibu :
    (saya dinas di luar kota).

    saya :
    apakah ada kaitan dengan kepergian ibu ?

    ibu : Kami bingung harus bagaimana memperlakukannya agar dia tenang ditinggal belajar dan bermain di sekolah.

    Saya :
    nah… ini yang akan kita cari tahu bersama.

    ibu :
    Semenjak itu tidak pernah lagi ditinggal.

    Saya :
    kalau ada bapaknya, apa yang dilakukan ananda di kelas ?
    apakah nampak tenang dan bisa mengikuti pelajaran ?

    Sudahkan ditanyakan mengenai perasaan ananda tentang kelas, guru, teman, sekolahnya ?
    apa yang disukai dan tidak disukai dari sekolah ?

    Salam,

  102. makasih infonya, cukup membantu buat saya, karena anak saya juga usia 4th mogok sekolah, setelah saya tanya-tanya lewat dia ternyata dia dinakakalin sama teman sekolahnya, dengan membaca artikel ini saya jadi tahu bagaimana mengatasi kejadiaan tersebut

  103. Anak perempuan saya Melsa 13 tahun adalah seorang siswa dari suatu sekolah menengah pertama di Cengkareng. Anak saya termasuk siswa yang cerdas di sekolahnya. Ia selalu masuk dalam peringkat 10 besar. Namun kian hari nilai anak saya kian merosot dan selama 2 minggu terakhir Ia tidak mau masuk sekolah.

    Kami merasa kesulitan untuk membujuk Melsa untuk pergi bersekolah, Melsa lebih senang tinggal dirumah saja dan bermain – main dengan anak tetangga.

    Setelah kami tanyai dan kami bujuk dengan berbagai cara, Melsa akhirnya mengaku ia tidak nyaman dengan teman – teman sekelasnya. Ia sering disuruh – suruh untuk membelikan dan membawakan jajanan temannya di kantin. Melsa kesulitan untuk menolak permintaan teman – temannya. Hal itu yang membuat ia enggan ke sekolah.

    Kami sudah melaporkan hal tersebut ke wali kelasnya. Beliau mengatakan akan mengurus masalah itu dan menyarankan agar Melsa menghadap Guru BK di sekolah untuk menjalani konseling. Namun apa yang dapat kami lakukan sebagai orangtua untuk membangkitkan minat belajarnya kembali?

  104. Faktor-faktor Penyebab Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan
    Kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu:

    Dari Guru
    Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru melakukan kekerasan pada siswanya, yaitu:

    Kurangnya pengetahuan bahwa kekerasan baik fisik maupun psikis tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku, malah beresiko menimbulkan trauma psikologis dan melukai harga diri siswa.
    Persepsi yang parsial dalam menilai siswa. Bagaimana pun juga, setiap anak punya konteks kesejarahan yang tidak bisa dilepaskan dalam setiap kata dan tindakan yang terlihat saat ini, termasuk tindakan siswa yang dianggap “melanggar” batas. Apa yang terlihat di permukaan, merupakan sebuah tanda / sign dari masalah yang tersembunyi di baliknya. Yang terpenting bukan sebatas “menangani” tindakan siswa yang terlihat, tapi mencari tahu apa yang melandasi tindakan / sikap siswa.
    Adanya masalah psikologis yang menyebabkan hambatan dalam mengelola emosi hingga guru ybs menjadi lebih sensitif dan reaktif.
    Adanya tekanan kerja : target yang harus dipenuhi oleh guru, baik dari segi kurikulum, materi maupun prestasi yang harus dicapai siswa didiknya sementara kendala yang dirasakan untuk mencapai hasil yang ideal dan maksimal cukup besar.
    Pola authoritarian masih umum digunakan dalam pola pengajaran di Indonesia. Pola authoritarian mengedepankan faktor kepatuhan dan ketaatan pada figure otoritas sehingga pola belajar mengajar bersifat satu arah (dari guru ke murid). Implikasinya, murid kurang punya kesempatan untuk berpendapat dan berekspresi. Dan, pola ini bisa berdampak negatif jika dalam diri sang guru terdapat insecurity yang berusaha di kompensasi lewat penerapan kekuasaan.
    Muatan kurikulum yang menekankan pada kemampuan kognitif dan cenderung mengabaikan kemampuan afektif (Rini, 2008). Tidak menutup kemungkinan suasana belajar jadi “kering” dan stressful, dan pihak guru pun kesulitan dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang menarik, padahal mereka dituntut mencetak siswa-siswa berprestasi.
    Dari siswa
    Salah satu factor yang bisa ikut mempengaruhi terjadinya kekerasan, adalah dari sikap siswa tersebut. Sikap siswa tidak bisa dilepaskan dari dimensi psikologis dan kepribadian siswa itu sendiri. Kecenderungan sadomasochism tanpa sadar bisa melandasi interaksi antara siswa dengan pihak guru, teman atau kakak kelas atau adik kelas. Perasaan bahwa dirinya lemah, tidak pandai, tidak berguna, tidak berharga, tidak dicintai, kurang diperhatikan, rasa takut diabaikan, bisa saja membuat seorang siswa clinging pada powerful / authority figure dan malah “memancing” orang tersebut untuk actively responding to his / her need meskipun dengan cara yang tidak sehat. Contohnya, tidak heran jika anak berusaha mencari perhatian dengan bertingkah yang memancing amarah, agresifitas,atau pun hukuman. Tapi, dengan demikian, tujuannya tercapai, yakni mendapat perhatian. Sebaliknya, bisa juga perasaan inferioritas dan tidak berharga di kompensasikan dengan menindas pihak lain yang lebih lemah supaya dirinya merasa hebat.

    Dari Keluarga
    Kekerasan yang dilakukan baik oleh guru maupun siswa, perlu juga dilihat dari factor kesejarahan mereka.

  105. Anak saya usia 4 tahun, sudah gagal/ menolak sekolah di 3 sekolah yg berbeda. Kebanyakan karena tidak mau ditinggal oleh saya atau pengasuh.
    Sekarang dia sering sampai terbangun di malam hari menangis dan bilang aku ga mau sekolah. Saya sangat bingung… saya konsultasi dgn gurunya danguru tsb seakan menyalahkan saya karna ktanya saya setengah hati meninggalkan anak saya di sekolah. Jika menangis diamkan saja ktanya… Apakah memang spt itu mendidik anak usia dini? Dibiarkan menagis meraungraung di sekolah?
    Tolong saya….

  106. Salam kenal bu sandra…
    Saya mau konsultasi bu anak saya umur 3th 10 bulan,sebenarnya masih di Paud 1th lg,tetapi setelah seminggu di paud,dia mencari-cari teman-teman nya yg dulu akrab di paud,padahal mereka sudah masuk ke TK A,sampai beberapa hari anak saya merengek minta pindah ke TK biar bisa bareng teman-temannya yg lama,selain itu yg membuat dia tertarik utk ke TK krn ada, Ekstra drumband nya.

    Akhirnya permintaannya kami penuhi,pertengahan juli kmrn anak saya jadi pindah ke TK, masuk di TK A bareng teman2 nya dulu di paud.
    Pertama masuk,dia antusias sekali, bahkan ditinggal langsung pun dia berani.
    Hari kedua dan selanjutnya hampir selama 2 minggu,meskipun gak full,dia minta ditemani di dalam kelas.kadang saya yg menemani,kadang ayahnya,kadang juga eyang nya..
    Minggu ke 3 ,dia sudah berani di dlm kelas sendiri,bahkan menyuruh saya utk duduk di luar..senang sekali rasanya..
    Tapi saya merasa anak saya masih agak bingung dengan suasana sekolah yg baru,dari teman2 nya yg lebih banyak dibandingkan di paud,kantin sekolahnya yg selalu rame,sehingga membuat dia susah untuk jajan,meskipun saya selalu bawain dia bekal sekolah,tetapi pasti pengen ke kantin ,dan guru2 nya yang lebih banyak daripada di paud yang belum dia kenal satu persatu karena tidak mengajar di kelasnya.

    Sempat dia bilang ke saya,bunda kok lila belum pernah di absen ya?
    Lila belum kenal sama bu guru semuanya bunda..
    Menghadapi itu,saya langsung mengenalkan dia satu per satu ke guru nya,krn anak saya masuk TK nya setelah seminggu kbm berlangsung,makanya blm kenalan sama semua gurunya.
    Soal mengabsen,mungkin lila merasa kalo cara mengabsennya tidak dipanggil satu per satu spt di sekolah paud,sehingga anak saya mudah mengingat nama temennya dari mendengar guru yg mengabsen tadi.

    Memasuki awal agustus ini,perubahan mulai terjadi,ada salah satu guru lama yang sudah lama cuti,masuk kembali.
    Guru tsb seminggu masuk 3x,ada 3 kls,sehingga tiap kls mendapat jatah 1x diajar sama guru tsb.
    Karena sakitnya,guru tersbt cacat di bagian kaki nya,sehingga kalo berjalan harus menggunakan tongkat/alat bantu.

    Saat pertama ngajar di kelas anak saya,saya melihat lila biasa saja,mengikuti pelajaran sampai selesai,tak ada yg aneh ataupun apa,memang guru itu agak keras dan lantang suaranya.

    Sampai dirumah,anak saya cuma bertanya,bunda bu guru kakinya knp?saya bilang kalo kakinya bu guru lagi sakit,dia tanya trs bagainana caranya bu guru sampai ke sekolah?terus pulangnya bagaimana?semuanya sudah saya jawab…

    Suatu hari,anak saya demam,panas,dan mencret,mungkin masuk angin,setelah saya bawa ke dokter,istirahat selama 4 hari,sembuh.
    Tapi dia mulai mogok sekolah,saya tanya knp gak mau sekolah?awalnya dia cuma jawab mau dirumah saja,gak mau sekolah…saya belum puas dengan jawabannya,akhirnya dengan duduk dan menatap matanya,saya coba tanya dengan lemah lembut knp kok lila gak mau sekolah??ada apa di sekolah?
    Lila jawab:lila takut bun,takut sama bu guru A
    Saya tanya lg:lho knp takut nak?bu guru kan baik?
    Lila jawab: iya,tapi lila takut sama kakinya (kaki bu guru yg pake tongkat)

    Sampai sekarang alasan itu yg menjadi lila gak mau sekolah bu,padahal saya sdh bicara sama walikelas nya,sudah pendekatan,akhirnya kls nya lila tidak di masuki guru tsb,tp karena ruangannya bersebelahan,lila tetap bisa melihat bu guru tersbt dari jauh,akhirnya ya tetap saja itu yg dijadikan alasan gak mau sekolah.

    Dan sampai saat ini pun lila belum mau sekolah lagi bu,bagaimana bu solusinya?
    Pendekatan apalagi bu biar anak saya mau sekolah lagi?
    Apakah perlu pindah sekolah?
    Mohon bantuannya ya buu..terimakasih

Back to top button