Impian dan Teladan Seorang Ayah

withson2.jpgSumber Cerita : Botol Acar – Buku Chicken Soup for the Parent”s Soul

Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah – Will Rogers

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. “Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu.” Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. “Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku.”.

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. “Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi.”

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. “Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter,” katanya. “Kau pasti bisa kuliah. ayah jamin.”

Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.

Setelah menikah, kuceritakan kepada susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin casino pa natet meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. “Kalau kau sudah tamat kuliah,” katanya dengan mata berkilat-kilat, “kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau.”

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka. Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah. “Mungkin popoknya basah,” kata susan, lalu di bawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.

Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar. “Lihat,” katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin.

Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan . Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

Sukarto: Sebuah cerita yang luar biasa bukan? Inilah sebuah cerita yang menunjukkan besarnya cinta seorang ayah ke anaknya agar anaknya memperoleh nasib yang jauh lebih baik dari dirinya. Tetapi dalam prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah. Saya percaya anaknya belajar semua itu walaupun ayahnya mungkin tidak pernah menjelaskan semua itu karena anak belajar jauh lebih banyak dari melihat tingkah laku orangtuanya dibanding apa yang dikatakan orangtuanya. Semoga cerita ini menginspirasi bagi kita semua.

Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !

9 thoughts on “Impian dan Teladan Seorang Ayah”

  1. widya dewi triyanti

    Ya Allah…saya membaca artikel ini dan langsung menangis walaupun tidak terlalu heboh..:).benar2 bisa menjadi inspirasi. Saya jadi teringat akan perjuanagan bapak saya yang berhasil membesarkan keempat anaknya tanpa istri(ibu saya meninggal ketika saya berumur 5 tahun)…semuanya sekarang sudah menikah dan beliau sudah memiliki 7 orang cucu.
    mengingat beratnya jalan hidup yang harus dilaluinya(disaat saya SMP,bapak jatuh sakit sampai harus diamputasi kakinya sehingga beliau tidak bisa bekerja). Namun dengan segala keterbatasan yang ada beliau berhasil
    What an amazing dad!
    Sempoga artikel ini bisa meningkatkan cinta ayah terhadap anaknya.

  2. Terimakasih. Lebih dari sekali saya pernah membaca artikel ini. Tetap saja menyentuh. Menjadi ayah yang baik melalui tindakan nyata nan sederhana. Ini saya peroleh dari teladan Papi saya yang sudah di Abadi di Sorga. Terimakasih. Marilah senantiasa berjuang menjadi sempurna.

  3. Terima kasih untuk renungannya jadi teringat orang tua-ku sendiri, sampai kapanpun kebaikan orang tua tidak akan pernah hilang dari ingatan, sungguh luar biasa dari perjalanan. beliau sangat tekun sekali bekerja sampai sampai dia mempunyai lemari (laci) yang dia buat khusus untuk mengumpulkan uang khusus recehan dari sisa setoran menarik bus dalam kota setiap hari, karena beliau ingin melihatnya anaknya maju tidak seperti bapaknya yg hanya lulusan st (sekolah teknik) setingkat smp dan ibu yang hanya lulusan sd. alhamdulillah beliau bisa menyekolahkan anak2 nya sampai perguruan tinggi. pelajaran ini akan sangat berguna bagi kita tentang arti hidup dan arti orang tua sebenarnya dalam mendidik anak.
    terima kasih tak terbatas utk ayahku dan ibu yang sudah abadi di surga amin. yuk kita menjadi yang terbaik untuk anak-anak kita

  4. Allahu Akbar. Artikel ini menjadi renungan berarti akan arti “cinta orangtua” kepada anak. Karena seringkali kita banyak bicara untuk memahamkan sesuatu, tetapi tidak diiringi dengan tindakan nyata. Terimakasih, artikel ini sangat menyentuh

  5. Allahu Akbar…..
    cerita yang sangat mengagumkan, menyentuh dan membuat saya untuk lebih menyayangi dan mengajari anak dalam mengarungi bahtera kehidupan…best for our lovely child..
    thanks

  6. Masya Allah…. ini kisah yang luar biasa,
    membuat saya mengingat kembali betapa beratnya perjuangan almarhum bapak saya membesarkan ketiga putra-putrinya, dan ini juga menjadi inspirasi bagi saya dalam mendidik kedua putra-putri saya, terlebih lagi kini saya tinggal dan bekerja di luar negeri, jauh dan sangat jarang bertemu mereka.
    Cerita ini memberikan inspirasi bagaimana mendidik putra-putri saya tanpa harus cerewet,membentak dan menakut-nakuti mereka namun sebagai ayah saya bisa tetap memberikan pendidikan yang berarti bagi kehidupan dan masa depan mereka dengan contoh nyata perilaku dan tindakan saya yang dapat menjadi teladan bagi mereka.
    Dengan cara ini semoga saya dapat lebih memaksimalkan waktu pertemuan saya yang sedkit bersama anak2 dan keluarga.
    Terima kasih.

  7. ceritanya sangat menyentuh hati sy sbg seorang lelaki…tp sy jg punya impian sendiri terhadp anak sy.dia adlh anak bawaan istri,tp bagi sy tdk ada kamus anak tiri,sy sangat menyayanginya,bahkan sy sdh merasa seluruh tangki cinta sdh mulai sy coba penuhi… tp satu hal yg sy msh sedihkan… sdh 2thn lebih sy menikah dg ibunya,.dia tak pernah memanggil nama sy,menyebut sy ayah/bapak,..dia hanya menatap mata saya bila ingin sesuatu / berkata sesuatu..dia menyebut sy ibu juga..Padahal dlm hati terkecil sy ingin di anggap seorang ayah baginya,..sy ingin dia panggil sy ayah/bpk../nama jg gpp.. memang secara usia sy jauh lbh muda dr ibunya,apakah itu yg mmbuat dia malu mengakui sy ayah barunya? bagaimana caranya membuat dia mbs menerima sy..dia berumur14th..dan sy 27th.thx

  8. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menyempurnakan akal manusia. Saya begitu terharu membaca cerita tadi. Saya pun bersyukur memiliki seorang ayah yang ‘fight’. Semoga Allah memberikan kesehatan kepadanya. I love you Papi.

  9. Semoga saya bisa mulai menjadi ayah yang di gambarkan di cerita di atas… Menjadi ayah yang tak cuma bisa menasihati, tapi yang bisa menjadi suri teladan. Amin.

Comments are closed.