Orangtua Pemicu Konflik Diri Anak?

confusedkids1.jpgSony sedang bermain bola di halaman. Tiba-tiba ………. pyaarrrrr! Bolanya mengenai pot tanaman mahal dan membuatnya pecah berkeping-keping. Ia sangat ketakutan karena itu adalah pot tanaman kesayangan mamanya. Ia segera menyembunyikan bolanya dan bergegas masuk ke kamar membaca buku. Tak berapa lama ia mendengar langkah kaki mamanya baru datang dari kantor memasuki rumah sambil berteriak, ”Bibi …….. siapa yang pecahkan pot tanaman di depan?” Bibi pembantu rumah tangga ketakutan melihat pot tanaman tersebut telah pecah berkeping-keping. ”Bibi tidak tahu. Dari tadi Bibi di belakang menyeterika pakaian dan tak mendengar apapun. Maaf Bibi benar-benar tidak tahu hal ini terjadi!” ”Sony! Di mana kamu? Cepat ke sini!”, teriakan mamanya mengejutkan Sony yang sudah gemetaran. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan wajah mamanya muncul seraya mengatakan, ”Sony siapa yang memecahkan pot tanaman Mama di depan ? ” Jantung Sony berdegup kencang. Apa yang harus ia katakan ? Berkata jujur pasti dimarahi juga. Seperti kejadian yang lalu ia berkata jujurpun masih diomeli dan dihukum. Berkata bohong atau pura-pura tidak tahu juga dihukum. Saat itu tak ada yang bisa menolongnya. Orangtua yang menjadi tempatnya berlindung saat ini menjadi musuh yang siap menerkam dirinya. Ia bingung. Ia cemas. Ia ketakutan. Ia tak punya tempat berlindung. Konflik seperti ini yang tak pernah ia mengerti sering terjadi dalam kesehariannya. Harus bagaimanakah ia bersikap ? Anton sedang bermain dengan adiknya dan tiba-tiba saja si adik menangis dengan keras karena mainannya direbut. Anton tidak mau mengalah dan malahan mengejek adiknya. Ibunya melihat hal itu terjadi dan dengan serta merta berteriak dengan suara nyaring nan merdu, “ Ayooo……, teruskan……. ya ganggu adikmu terus. Nanti Mama hukum kamu kalau terus ganggu adikmu. Kan adikmu masih kecil kamu yang lebih tua ngalah dong ? “ Anton terdiam kebingungan, dalam hatinya ia berkata, “ lho tadi katanya disuruh terus, lha kok kalau saya teruskan malah dihukum dan kapan adik akan jadi lebih tua daripada kakak ya ?” Anton mempunyai pikiran seperti itu karena telah sering mendengar ucapan ibunya yang seperti tadi. Setiap kali ia dan adiknya berebut mainan selalu saja adiknya akan menangis untuk menarik perhatian ibunya. Dan anehnya ibunya selalu mengatakan hal yang sama seperti di atas kepadanya. Sejak saat itu Anton selalu mencari makna atas perkataan orangtuanya. Ia sering bingung sendiri, tanpa disadari tentunya, apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Jika ia sendirian seringkali memorinya memunculkan perkataan-perkataan orangtuanya dan orang dewasa di sekitarnya yang membuat ia bingung. Tanpa disadari ia tumbuh dengan sikap penuh keraguan dan susah mengambil keputusan dalam waktu cepat. Ia menjadi tidak berani memutuskan sesuatu dan lambat laun inisiatifnya untuk memulai sesuatu semakin menurun. Cepat atau lambat kita bisa meramalkan apa yang akan terjadi pada diri anak yang sering harus mencari makna atas setiap tindakan atau perlakuan dari orang di sekitarnya. Mereka akan tumbuh dengan sikap penuh keraguan dalam bertindak, takut dikritik, perfeksionis, tidak berani mengambil keputusan besar, kurang berinisiatif dan tergantung pada orang lain. Sampai di sini anda mungkin berpikir, ”Wah susah sekali menjadi orangtua. Kok ini salah dan itu salah ya. Saya dulu juga diperlakukan seperti itu oleh orangtua saya. Tapi kok ya …. tidak apa-apa tuh ? Sekarang hidup saya juga sukses ?!” Oh yaaaa…….. Pernahkah anda merenung dan menggali dalam diri anda apakah ada konflik-konflik kecil yang timbul yang anda abaikan saja karena tidak tahu jawabannya. Dan anda mengabaikan karena anda melihat sepintas tidak ada pengaruh besar bagi kehidupan anda. Sesekali saja muncul tapiiii …. ya tidak perlu diungkit lagi ah. Anda benar. Anda bisa sukses dengan apa yang orangtua anda telah lakukan pada anda. Dan tahukah anda seandainya orangtua kita melakukan sesuatu yang lebih positif lagi dari apa yang telah dilakukannya maka kita bisa jadi lebih sukses daripada sekarang. Bukankah setiap akibat merupakan hasil dari suatu sebab. Dan jika sebabnya berbeda maka akibatnya berbeda juga, betul kan ? Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan kepada anak-anak kita. Jika perkataan dan perbuatan itu sering diulang maka pikiran bawah sadar anak akan menangkapnya dan menyimpannya sebagai fakta kebenaran. Apapun faktanya, positif ataupun negatif, akan dianggap sebagai kebenaran dan diwujudkan dalam realita fisik si anak. Itulah yang disebut hypnosis. Kita sadari atau tidak, kita telah menghypnosis anak-anak dengan perkataan dan perbuatan kita. Kita telah menghypnosis anak-anak kita dengan lakon sehari-hari yang kita pentaskan sebagai drama kehidupan di depan mata mereka. Jika anda ingin mengatakan sesuatu katakan dengan konsisten dan katakan apa yang anda inginkan terjadi, jangan membuat anak mencari-cari sendiri makna dari ucapan atau tindakan anda. Mereka butuh bimbingan dan kasih sayang tulus. Mereka butuh penghargaan. Membiarkan anak mencari-cari makna atas tindakan dan ucapan kita mengandung resiko besar. Jika mereka mendapatkan makna yang benar tidak jadi soal. Tetapi bagaimana jika pemaknaan yang mereka berikan salah dan terpatri dalam pikiran mereka? Marilah kita memikirkan ulang setiap tindakan dan ucapan kita pada anak-anak yang kita sayangiDalam tingkat tertentu orangtua menentukan nasib seorang anak melalui perkataan dan teladan yang diberikannya. Semoga bermanfaat.. Komentar dan masukan tentang artikel ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang. Silakan isi form komentar di bawah ini. Terimakasih sebelumnya !

7 thoughts on “Orangtua Pemicu Konflik Diri Anak?”

  1. Yth. Bp. Ariesandi,

    Artikel tersebut benar2 mencerminkan kebiasaan kami para orang tua.

    Untuk mengatasi berbagai akibat yg dapat terjadi akibat perkataan yg salah tersebut, bagaimana seharusnya perkataan yg benar yang kita lontarkan kepada anak2? mengingat bahwa pada saat peristiwa terjadi, orang tua dalam keadaan emosi.

    Terima kasih atas perhatiannya.

  2. Bu Aling,
    setiap orangtua pasti pernah lepas kontrol dalam menghadapi anaknya. Walaupun ini hal yang wajar, tetapi kita harus mau meningkatkan kontrol diri kita bila ingin mampu mendidik anak dengan baik. Orangtua yang sering lepas kontrol bukanlah contoh yang baik untuk anak bukan ?

    Keinginan orangtua untuk berubah menjadi lebih baik sangatlah penting. Adanya keinginan adalah sebuah awal agar pikiran bawah sadar kita siap untuk menerima solusi.

    Kunci dari sukses mendidik anak adalah orangtua harus mampu meningkatkan kesadaran diri dan kontrol diri terlebih dahulu. Hanya dalam kondisi pikiran yang tenang, maka orangtua mampu bertindak bijaksana dalam menghadapi perilaku anak yang tidak berkenan.

    Untuk meningkatkan kontrol diri dan kesadaran diri orangtua agar lebih mampu mengontrol emosi dalam menghadapi anak, solusinya sudah saya tulis di artikel Pertanyaan yang paling sering ditanyakan anak ke orangtua.

    Semoga jawaban ini bermanfaat.

  3. Orangtua Pemicu Konflik Diri Anak ?

    Waktu demi waktu berjalan terus, begitu pula pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.
    Dimasa kecil anak, dia tumbuh dan berkembangan dalam lingkungan rumha tangga keluarga yang sangat sempit dan terbatas, lambat laun seiring dengan bertambahnya usia si anak, dia akan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang begitu luas, penuh dengan kebohogan, kepura-puraan, komplik dan dinamika kehidupan lainnya yang sarat dengan tantangan.

    Seringkali kita jumpai, tidak jarang orang yang dimasa kecilnya hidup dalam lingkungan keluarga yang teratur(?), sebagian dari mereka dimasa dewasanya banyak mengalami kebingungan, ternyata dalam kehidupan nyata tidak selamanya apa yang dia miliki tentang pembenaran dalam fikiran bawah sadar jauh berbeda dengan kenyataan.

    Pertanyaannya adalah: 1) Apakah dalam kehidupan anak harus selalu bebas dari konflik dengan orang tua. 2) Bagimana tindakan orang tua menanamkan emosional anak agar tumbuh dan berkembang secara baik dengan benar dalam fikiran bawah sadar si anak. 3) Kiat apa yang harus orang tua lakukan untuk mengantarkan anak agar sukses dan selamat memasuki kehidupan nyata yang penuh dengan basa basi, persaingan, konflik, penindasan dan tentunya ada pula kejujuran, kebersamaan dan persamaan serta kebenaran.

    Sekian, terima kasih.

  4. Dear P Taram yang baik hati,
    Pertanyaan bagus ketiga pertanyaan tersebut akan saya jawab dalam satu ringkasan.
    Satu hal yang penting yang harus ditanamkan pada diri anak adalah: ia merasa dicintai dan dihargai serta diterima apa adanya oleh orangtuanya.
    Tidak penting apakah orangtuanya merasa mencintai anaknya atau tidak, selama si anak tidak bisa merasakan dirinya dicintai maka ini akan jadi masalah. Jika anak merasa dicintai orangtuanya maka bisa dipastikan orangtuanya mencintai anak. Namun tidak sebaliknya. Seperti yang kami bahas dalam DVD Tangki Cinta, jika tangki cinta anak penuh maka perlakuan negatif yang diterima anak akan bisa dinetralisir oleh anak. Tangki cinta yang penuh berfungsi seperti sistem kekebalan. Jika tangki cintanya kosong maka ia tidak punya pertahanan diri.
    Tips praktis agar anak sukses dalam hidupnya:
    –> Jaga harga diri anak tetap sehat sampai dewasa, caranya dengan mengisi Tangki Cintanya
    –> Jaga pandangan anak terhadap “kegiatan belajar” adalah sesuatu yang menyenangkan, jika anak membenci “belajar” maka ini akan membuatnya susah ketika dewasa nanti, ingat bagi kita belajar menjadi penting ketika kita memasuki dunia kehidupan nyata
    –> Bantu anak mengembangkan sikap flexible terhadap perubahan dengan cara mengasah mengenali kondisi emosinya.
    Salam hangat

  5. Yth pak Ariesandi saya mau bertanya,bisakah kita menghapus memori buruk di masa lalu anak kita krn pola pengasuhan yg salah,kalau bisa bgm caranya dan sampai usia brp hal itu bs dilakukan?

  6. iya kadang kita sebagai orang tua, merasa dihakimi oleh anak kita sendiri.orang tua tidak bisa menposisikan diri sebagai jaksa dalam domestik keluarga, saya punya mmasalah dengan anak, anak kalau nonoton sampai jam 9 malam padahl besok harus masuk sekolah, persoalan yang dihadapi kalau TV dimaktikan suka nangis terseduh di balik lemari, terpaksa saya nyalakn kembali TVnya, dengan perjanjian setelah kartun selesai harus tidur. persoalannya kartun usai 20.30.tak disangka anak saya tertidur sendiri didepan tv usai flim katun,sekedar informasi anak berumur 6 tahun lebih kelas satu Sd. Apakah perbuatan ini salah ? mohon infonya, Trims

  7. Sandra Mungliandi M Psi., Psikolog.

    Halo bapak Rasmudi,

    Bagian yang salah dari kejadian yang bapak alami adalah ketika bapak tidak konsisten menerapkan peraturan. Tapi sebagai orangtua saya bisa memahami bahwa kita sendiri tidak tega melihat anak kita menangis dengan memilukan seperti itu.

    Jadi, mulai sekarang, jika kita hendak menerapkan suatu peraturan, sebaiknya dipertimbangkan mengenai efek-efek yang akan muncul. Misalnya pada kasus yang bapak hadapi di atas.

    Coba bapak perhatikan apakah dengan jam tidur 20.30 akan membuat anak mengantuk di kelas ? atau sulit bangun di pagi hari ?
    Jika tidak berarti jam tidurnya sudah cukup. Jadi untuk hari dimana film itu ditayangkan, anak bisa menonton dan tidur lebih malam.
    tapi jika terjadi sebaliknya yaitu anak mengantuk maka harus dipikirkan solusi lain. Coba ajak anak berbicara : nak, kamu sangat ingin nonton film kesukaanmu ya ? Tapi kalau kamu tidur setelah film akibatnya besok kamu jadi ngantuk. Kamu ada usul tidak, bagaimana caranya agar kamu tetap bisa nonton tapi tidak ngantuk besoknya ?
    Biarkan anak memilih solusinya sendiri. Kita tinggal memberikan pilihan solusi yang sesuai dengan kondisi anak dan keluarga misal : tidur siang lebih lama atau dibacakan buku cerita oleh ibu/ayah sebagai pengganti film.

    Selamat mencoba bapak

Comments are closed.